Thursday, 24 September 2026

Bestprofit | Emas Tertekan, The Fed Bayangi Pasar

 https://best-profit-futures-malang.com/wp-content/uploads/2026/08/compressed_Emas-Menguat-Setelah-Yield-Obligasi-AS-Mulai-Stabi.jpg

Bestprofit (25/9) – Harga emas dunia kembali melemah pada perdagangan Jumat (25/9) pagi. Harga emas spot atau XAU/USD bergerak di sekitar US$4.267 per troy ounce. Pelemahan ini terjadi di tengah meningkatnya ekspektasi pasar terhadap kemungkinan kenaikan suku bunga tambahan oleh Federal Reserve atau The Fed pada tahun ini.

Penguatan dolar AS dan kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS menjadi faktor utama yang membatasi ruang penguatan harga emas. Investor kini semakin berhati-hati karena arah kebijakan moneter The Fed diperkirakan masih cenderung ketat untuk menghadapi tekanan inflasi yang belum sepenuhnya mereda.

Ekspektasi Kenaikan Suku Bunga The Fed Menguat

Perhatian pasar emas saat ini tertuju pada peluang kenaikan suku bunga The Fed pada pertemuan Oktober. Pasar memperkirakan peluang kenaikan sebesar 25 basis poin berada di kisaran 67,5%, meningkat dibandingkan pekan sebelumnya.

Ekspektasi tersebut memberikan tekanan terhadap emas karena kenaikan suku bunga biasanya meningkatkan daya tarik aset yang memberikan imbal hasil, seperti obligasi pemerintah AS. Sebaliknya, emas merupakan aset yang tidak memberikan bunga sehingga biaya peluang memegang emas menjadi lebih tinggi ketika tingkat suku bunga dan yield meningkat.

Kondisi ini membuat investor terus mencermati pernyataan para pejabat The Fed. Sejumlah pejabat bank sentral AS memberikan sinyal bahwa tekanan inflasi masih menjadi perhatian dan kebijakan tambahan mungkin diperlukan apabila inflasi belum bergerak menuju target 2%.

Sikap tersebut membuat pasar memperkirakan The Fed belum sepenuhnya menyelesaikan siklus pengetatan kebijakan moneternya.


Kunjungi juga : bestprofit futures

Dolar AS dan Yield Obligasi Menekan Emas

Penguatan dolar AS menjadi salah satu faktor penting yang menekan harga emas. Karena emas diperdagangkan menggunakan denominasi dolar, penguatan mata uang AS cenderung membuat emas menjadi lebih mahal bagi investor yang menggunakan mata uang lain.

Ketika dolar menguat bersamaan dengan kenaikan yield obligasi AS, tekanan terhadap emas biasanya semakin besar. Investor memiliki alternatif aset yang menawarkan imbal hasil lebih tinggi, sementara emas tidak memberikan pendapatan bunga.

Kondisi tersebut semakin terlihat dari kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor panjang. Yield obligasi AS tenor panjang kembali berada pada level tinggi, bahkan mencapai level tertinggi dalam lebih dari dua dekade.

Kenaikan yield mencerminkan meningkatnya perhatian investor terhadap inflasi, prospek suku bunga, serta kebutuhan pembiayaan pemerintah AS. Bagi pasar emas, kondisi tersebut menjadi tantangan karena tingginya yield dapat mengurangi minat terhadap aset tanpa imbal hasil.

Harga Minyak Naik, Risiko Inflasi Kembali Menguat

Tekanan terhadap emas juga datang dari kenaikan harga minyak dunia. Harga minyak kembali menguat karena belum terdapat perkembangan signifikan dalam pembicaraan antara Amerika Serikat dan Iran.

Pergerakan harga minyak menjadi perhatian penting karena energi memiliki pengaruh besar terhadap inflasi. Ketika harga minyak meningkat, biaya transportasi dan produksi dapat ikut terdorong. Kondisi tersebut berpotensi mempertahankan tekanan harga di berbagai sektor ekonomi.

Kenaikan harga energi kemudian dapat memengaruhi ekspektasi terhadap kebijakan The Fed. Apabila inflasi kembali meningkat atau bertahan pada level tinggi, bank sentral AS memiliki alasan untuk mempertahankan kebijakan moneter ketat lebih lama.

Situasi tersebut menciptakan tekanan berlapis bagi emas. Harga minyak yang tinggi meningkatkan risiko inflasi, sedangkan inflasi yang tinggi dapat memperkuat ekspektasi kenaikan suku bunga. Pada akhirnya, kombinasi tersebut dapat mendorong dolar dan yield obligasi lebih tinggi.

Pernyataan Pejabat The Fed Jadi Perhatian

Investor juga mencermati berbagai pernyataan pejabat The Fed setelah keputusan kebijakan moneter terbaru. Pernyataan yang bernada hawkish berpotensi memperkuat ekspektasi bahwa suku bunga akan tetap tinggi.

Para pembuat kebijakan masih menghadapi tantangan untuk menjaga inflasi kembali menuju target 2%. Meskipun terdapat perkembangan positif pada sejumlah indikator ekonomi, tekanan harga masih menjadi faktor yang harus diperhatikan.

Pasar karena itu akan memberikan perhatian besar terhadap setiap pidato pejabat The Fed dalam beberapa hari mendatang. Pernyataan mengenai inflasi, pasar tenaga kerja, pertumbuhan ekonomi, dan prospek suku bunga dapat memicu perubahan cepat pada dolar AS dan yield Treasury.

Bagi emas, perubahan ekspektasi tersebut dapat menciptakan volatilitas yang cukup tinggi. Nada yang semakin hawkish berpotensi memberikan tekanan tambahan, sedangkan indikasi bahwa kenaikan suku bunga mulai mendekati akhir dapat memberikan ruang bagi emas untuk kembali menguat.

Permintaan Emas China Menjadi Penopang

Meskipun menghadapi tekanan dari faktor makroekonomi Amerika Serikat, pasar emas masih mendapatkan dukungan dari permintaan fisik China.

Permintaan emas di China tetap kuat, didorong oleh kebutuhan domestik serta pembelian dari bank sentral. Tingginya permintaan fisik menjadi salah satu faktor yang membantu menahan pelemahan harga emas ketika tekanan dari dolar dan yield meningkat.

China merupakan salah satu pasar emas terbesar dunia. Perubahan permintaan dari negara tersebut dapat memberikan pengaruh terhadap keseimbangan pasar emas global.

Pembelian oleh bank sentral juga menjadi perhatian karena lembaga-lembaga tersebut memiliki horizon investasi yang berbeda dibandingkan investor jangka pendek. Ketika bank sentral terus meningkatkan kepemilikan emas, kondisi tersebut dapat memberikan dukungan struktural terhadap permintaan logam mulia.

Dengan demikian, meskipun investor jangka pendek menghadapi tekanan akibat tingginya suku bunga dan yield, permintaan fisik tetap menjadi faktor penting dalam menentukan arah harga emas.

Risiko Geopolitik Masih Menjadi Penyangga

Selain permintaan China, risiko geopolitik juga menjadi faktor yang dapat menahan pelemahan emas lebih dalam.

Hubungan antara Amerika Serikat dan Iran masih menjadi perhatian pasar. Belum adanya perkembangan signifikan dalam pembicaraan kedua negara turut memengaruhi pasar energi dan meningkatkan ketidakpastian terhadap prospek pasokan minyak.

Dalam kondisi ketidakpastian geopolitik, emas secara historis sering mendapatkan perhatian sebagai aset lindung nilai. Investor dapat meningkatkan permintaan terhadap emas ketika risiko ekonomi dan geopolitik meningkat.

Namun, pengaruh faktor geopolitik terhadap emas dapat berubah dengan cepat. Jika ketegangan mereda, perhatian pasar dapat kembali sepenuhnya kepada faktor ekonomi seperti suku bunga, dolar AS, inflasi, dan yield obligasi.

Pasar Menunggu Data Ekonomi Berikutnya

Pergerakan emas berikutnya akan sangat bergantung pada data ekonomi Amerika Serikat dan komunikasi dari The Fed.

Investor akan mencermati indikator inflasi, kondisi pasar tenaga kerja, pertumbuhan ekonomi, serta berbagai data yang dapat memberikan gambaran mengenai arah kebijakan moneter.

Apabila data menunjukkan inflasi tetap tinggi, ekspektasi kenaikan suku bunga dapat semakin kuat. Kondisi tersebut berpotensi memberikan tekanan terhadap emas melalui penguatan dolar dan kenaikan yield obligasi.

Sebaliknya, apabila tekanan inflasi mulai mereda dan pasar melihat ruang bagi kebijakan moneter yang lebih longgar, emas dapat kembali mendapatkan dukungan.

Analisis Newsmaker

Pergerakan emas pada Jumat (25/9) berada dalam tekanan akibat kombinasi dolar AS yang kuat, kenaikan yield obligasi, dan meningkatnya ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed.

Pasar saat ini memperkirakan peluang kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin pada Oktober berada di sekitar 67,5%. Ekspektasi tersebut menjadi salah satu faktor utama yang membatasi penguatan emas.

Di sisi lain, pasar emas masih memiliki sejumlah faktor pendukung. Permintaan fisik dari China tetap kuat, pembelian bank sentral menjadi sumber permintaan jangka panjang, sementara ketidakpastian geopolitik AS-Iran berpotensi meningkatkan kebutuhan terhadap aset lindung nilai.

Dengan kondisi tersebut, fokus pasar selanjutnya akan tertuju pada pidato pejabat The Fed, data inflasi Amerika Serikat, pergerakan dolar dan yield Treasury, serta perkembangan hubungan AS-Iran. Kombinasi faktor tersebut akan menjadi penentu penting bagi arah emas setelah bergerak di sekitar US$4.267 per troy ounce.


Jangan lupa jelajahi website kami di demo bestprofit dan temukan beragam informasi menarik yang siap menginspirasi dan memberikan pengetahuan baru! Ayo, kunjungi sekarang untuk pengalaman online yang menyenangkan!
bestprofit futures