
Bestprofit (3/2) – Harga emas spot melemah signifikan pada perdagangan Senin (2/2), meski sempat memangkas sebagian penurunan tajamnya di tengah sesi. Tekanan jual yang kuat muncul setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump menominasikan Kevin Warsh sebagai calon Ketua Federal Reserve berikutnya. Kabar tersebut menjadi katalis utama yang mengguncang pasar keuangan global, menyeret aset berisiko sekaligus menekan logam mulia yang selama ini diuntungkan oleh ketidakpastian.
Pada pukul 13:50 waktu timur AS (18:50 GMT), emas spot tercatat turun 4,2% ke level $4.660,22 per ons. Sebelumnya, harga sempat anjlok lebih dalam hingga menyentuh $4.402,38 per ons. Sementara itu, kontrak emas berjangka April juga bergerak melemah, turun 1,3% ke $4.682,86 per ons.
Pelemahan ini memperpanjang koreksi tajam yang sudah terjadi sejak akhir pekan lalu. Pada perdagangan Jumat, emas spot “menghapus” hampir 10% nilainya setelah jatuh drastis dari rekor tertinggi sepanjang masa di kisaran hampir $5.600 per ons yang tercetak pekan sebelumnya.
Tekanan Jual Menguat Usai Nominasi Kevin Warsh
Aksi jual emas yang agresif terutama dipicu oleh keputusan Trump menominasikan Kevin Warsh sebagai Ketua Federal Reserve, menggantikan Jerome Powell yang masa jabatannya berakhir pada Mei mendatang. Langkah ini dipandang pasar sebagai faktor yang mengurangi ketidakpastian kebijakan moneter, sehingga sebagian permintaan safe haven terhadap emas mulai memudar.
Selama beberapa bulan terakhir, emas diuntungkan oleh ketidakjelasan arah kebijakan The Fed, terutama terkait waktu dan besaran penurunan suku bunga. Dengan munculnya nama Warsh, pasar mulai melakukan reposisi, termasuk aksi ambil untung (profit taking) di area harga yang dinilai sudah terlalu tinggi setelah reli ekstrem.
Kevin Warsh bukanlah figur asing di dunia kebijakan moneter. Ia pernah menjabat sebagai Gubernur The Fed dan dikenal memiliki pandangan yang relatif tegas terhadap inflasi. Meski ia kerap sejalan dengan dorongan Trump untuk suku bunga yang lebih rendah guna mendukung pertumbuhan ekonomi, Warsh juga pernah melontarkan kritik terhadap kebijakan pembelian aset skala besar (quantitative easing) yang diterapkan The Fed pascakrisis.
Ketidakpastian terkait sikap Warsh—apakah akan cenderung hawkish atau dovish—membuat pasar bersikap defensif. Namun, dalam jangka pendek, nominasi ini cukup untuk memicu koreksi tajam di pasar emas yang sebelumnya berada di zona spekulatif.
Kunjungi juga : bestprofit futures
Penguatan Dolar AS Menambah Beban Emas
Selain faktor kebijakan moneter, penguatan dolar AS turut memberikan tekanan tambahan pada harga emas. Indeks dolar AS bangkit dari level terendah empat tahun setelah kabar nominasi Warsh mencuat. Secara historis, penguatan dolar kerap menjadi sentimen negatif bagi emas, karena membuat logam mulia tersebut lebih mahal bagi pemegang mata uang lain.
Meski mengalami koreksi tajam dalam beberapa hari terakhir, emas sejatinya masih mencatat kinerja yang sangat kuat secara bulanan. Sepanjang Januari, harga emas tetap menutup perdagangan dengan kenaikan hampir 15%, didorong oleh kombinasi ketidakpastian geopolitik, ekspektasi pelonggaran moneter global, serta pembelian agresif dari bank sentral.
Redanya Ketegangan Geopolitik Kurangi Permintaan Safe Haven
Faktor geopolitik yang sebelumnya menjadi penopang utama harga emas juga menunjukkan tanda-tanda mereda. Dorongan safe haven melemah setelah muncul laporan bahwa Amerika Serikat dan Iran terbuka untuk menggelar putaran negosiasi baru, di tengah ketegangan Timur Tengah yang sempat memanas.
Menurut laporan Axios, mediator internasional tengah mengupayakan pertemuan antara pejabat AS dan Iran di Turki dalam waktu dekat. Informasi ini diperkuat oleh pernyataan Trump pada akhir pekan lalu yang menyebut bahwa AS dan Iran sedang bernegosiasi “secara serius” terkait ambisi nuklir Iran.
Sebelumnya, eskalasi ketegangan geopolitik—termasuk keputusan Trump mengerahkan armada laut ke kawasan Timur Tengah—telah mendorong lonjakan harga emas sepanjang Januari. Harapan akan deeskalasi konflik kini membuat sebagian investor mengurangi eksposur mereka terhadap aset safe haven.
Koreksi Sudah Terjadi Sebelum Berita Warsh
Thierry Wizman, analis dari Macquarie, menilai bahwa pelemahan emas sebenarnya sudah mulai terjadi setelah harga mencapai level spekulatif yang ekstrem. Menurutnya, koreksi tersebut bahkan telah berlangsung sebelum rumor dan berita mengenai nominasi Kevin Warsh menyebar luas di pasar.
Wizman juga menambahkan bahwa prospek tercapainya “kesepakatan” antara AS dan Iran berpotensi memperparah pelemahan emas dalam jangka pendek. Di sisi lain, pelaku pasar masih belum sepakat mengenai arah kebijakan moneter di bawah kepemimpinan Warsh, sehingga volatilitas diperkirakan tetap tinggi.
Target Jangka Panjang Tetap Optimistis
Meski mengalami koreksi tajam, sejumlah lembaga keuangan besar tetap mempertahankan pandangan bullish terhadap emas dalam jangka panjang. Deutsche Bank pada Senin menegaskan kembali target harga emas di level $6.000 per ons. Bank tersebut menilai masih terdapat bukti aktivitas spekulatif yang kuat, serta keyakinan bahwa pendorong fundamental tren emas belum berubah.
JPMorgan bahkan menaikkan proyeksi harga emas akhir 2026 menjadi $6.300 per ons. Proyeksi ini didasarkan pada permintaan yang tetap solid dari bank sentral global dan investor institusional, meskipun volatilitas harga diperkirakan akan meningkat seiring perubahan dinamika kebijakan moneter dan geopolitik.
Perak dan Logam Mulia Lain Ikut Tertekan
Koreksi tidak hanya terjadi pada emas, tetapi juga melanda logam mulia lainnya. Harga perak spot anjlok 6,7% ke $78,96 per ons. Dalam sesi yang sama, perak sempat merosot hingga sekitar 12%, menambah penurunan tajam sebesar 27% yang terjadi pada Jumat. Penurunan tersebut bahkan disebut sebagai salah satu penurunan harian terbesar dalam catatan sejarah.
Sementara itu, harga platina spot bergerak lebih stabil. Platina diperdagangkan sedikit lebih tinggi di level $2.124,40 per ons, setelah sebelumnya sempat turun tajam hingga $1.882,00 per ons. Pergerakan platina yang relatif lebih tahan banting mencerminkan perbedaan faktor fundamental dan permintaan industri dibandingkan emas dan perak.
Volatilitas Masih Membayangi Pasar
Dengan kombinasi faktor kebijakan moneter, pergerakan dolar AS, serta dinamika geopolitik global, pasar emas diperkirakan masih akan diwarnai volatilitas tinggi dalam waktu dekat. Koreksi tajam yang terjadi saat ini menjadi pengingat bahwa reli ekstrem kerap diikuti oleh fase penyesuaian yang agresif.
Meski demikian, bagi investor jangka panjang, prospek emas masih dinilai menarik, terutama jika ketidakpastian global kembali meningkat dan kebijakan moneter dunia bergerak ke arah yang lebih akomodatif.
Jangan lupa jelajahi website kami di demo bestprofit dan temukan beragam informasi menarik yang siap menginspirasi dan memberikan pengetahuan baru! Ayo, kunjungi sekarang untuk pengalaman online yang menyenangkan!
bestprofit futures