Thursday, 5 February 2026

Bestprofit | Bitcoin Jatuh, Emas Tertekan

 https://best-profit-futures-malang.com/wp-content/uploads/2026/02/compressed_Emas-Lanjutkan-Penurunan-Pasca-Reli-Besar-Perak-Ju-2.jpg

Bestprofit (6/2) – Harga emas dibuka melemah pada awal sesi Asia hari Kamis, terseret arus jual global yang bermula dari pasar kripto. Spot gold turun ke kisaran $4.707 per ounce, atau melemah sekitar 1,4%, mencerminkan meluasnya sentimen risk-off lintas aset. Pergerakan ini terjadi bukan karena perubahan besar pada fundamental emas, melainkan sebagai efek rambatan dari tekanan ekstrem di aset berisiko—terutama Bitcoin.

Fenomena ini kembali menegaskan satu pelajaran klasik di pasar keuangan: dalam kondisi panik, korelasi antar aset bisa berubah drastis. Aset yang biasanya dianggap aman pun tidak selalu kebal dari tekanan jual.

Kejatuhan Bitcoin Jadi Pemicu Utama Sentimen Risk-Off

Akar tekanan pagi ini berasal dari pergerakan tajam di pasar kripto. Bitcoin mengalami penurunan signifikan hingga ke area $61.350, atau turun sekitar 15,7% dalam waktu relatif singkat. Volatilitas melonjak tajam setelah pergerakan ekstrem intraday, memicu kekhawatiran lanjutan soal stabilitas pasar kripto secara keseluruhan.

Menurut analis pasar IG, Chris Beauchamp, pelemahan kripto yang sebelumnya terlihat seperti fase bear market biasa dengan cepat berubah menjadi rout—penurunan tajam yang bersifat panik dan menular. Ketika kripto mulai jatuh tanpa banyak penyangga likuiditas, efeknya jarang berhenti di satu kelas aset saja.

Pasar global pun merespons dengan sikap defensif. Investor mulai mengurangi eksposur risiko, menutup posisi spekulatif, dan memindahkan fokus pada pengelolaan likuiditas.


Kunjungi juga : bestprofit futures

Dari Kripto ke Komoditas: Efek Domino yang Tak Terhindarkan

Emas, meskipun sering dilabeli sebagai safe-haven, tidak sepenuhnya imun terhadap gelombang jual berbasis likuiditas. Dalam situasi di mana pasar dilanda kepanikan, investor sering kali menjual apa pun yang masih bisa dijual dengan cepat dan efisien—termasuk emas.

Banyak pelaku pasar saat ini berada dalam mode “lock positions”, yakni menutup posisi untuk mengamankan margin dan mengurangi risiko lanjutan. Tekanan seperti margin call, stop-loss, dan deleveraging terjadi hampir bersamaan, menciptakan arus keluar dana yang serentak di berbagai aset.

Dalam konteks ini, pelemahan emas lebih mencerminkan kebutuhan pasar akan cash cepat, bukan sinyal bahwa daya tarik emas sebagai lindung nilai telah memudar secara struktural.

Likuiditas Lebih Penting dari Narasi Safe-Haven

Dalam fase panic selling, logika pasar sering kali berbalik. Narasi fundamental dan jangka panjang sementara dikesampingkan, digantikan oleh satu prioritas utama: likuiditas. Aset dengan pasar dalam dan mudah diperjualbelikan—seperti emas—justru menjadi sumber dana yang “paling mudah” dicairkan.

Hal ini menjelaskan mengapa emas bisa ikut tertekan meskipun secara teori seharusnya diuntungkan oleh ketidakpastian global. Ini bukan pertama kalinya pola tersebut terjadi. Dalam banyak krisis sebelumnya, emas kerap mengalami penurunan awal sebelum akhirnya kembali menguat setelah tekanan likuiditas mereda.

Dengan kata lain, penurunan emas saat ini lebih bersifat taktis ketimbang fundamental.

Peran Dolar AS dan Yield dalam Memperkuat Tekanan

Tekanan pada emas juga diperparah oleh dinamika makro yang tidak bersahabat. Dalam lingkungan risk-off, dolar AS dan imbal hasil obligasi pemerintah (yield) sering kali menguat seiring meningkatnya permintaan terhadap aset yang dianggap paling aman dan likuid.

Penguatan dolar membuat harga emas—yang dihargakan dalam USD—menjadi relatif lebih mahal bagi pembeli non-dolar. Sementara itu, kenaikan yield meningkatkan biaya peluang memegang emas, karena emas tidak memberikan imbal hasil bunga.

Kombinasi dolar yang lebih kuat dan yield yang naik menciptakan tekanan ganda bagi emas, terutama dalam jangka pendek, meskipun narasi jangka panjangnya masih tetap solid.

Sensitivitas Pasar Emas dalam Jangka Pendek

Untuk jangka pendek, pergerakan emas sangat sensitif terhadap dua faktor utama. Pertama, kelanjutan tekanan di pasar kripto. Jika Bitcoin dan aset digital lain masih melanjutkan penurunan tajam, efek domino ke pasar lain—termasuk emas—berpotensi berlanjut.

Kedua, arah pergerakan dolar AS dan yield obligasi. Jika keduanya terus menguat, ruang bagi emas untuk rebound akan semakin terbatas. Namun, jika tekanan mulai mereda dan volatilitas turun, emas berpeluang mengalami rebound cepat, mengingat posisinya yang sudah tertekan dalam waktu singkat.

Pasar saat ini bergerak sangat reaktif terhadap headline dan perubahan sentimen, membuat volatilitas tetap tinggi di hampir semua kelas aset.

Antara Tekanan Jangka Pendek dan Cerita Jangka Panjang

Penting untuk membedakan antara tekanan jangka pendek akibat sentimen dan cerita jangka panjang emas. Secara fundamental, emas masih didukung oleh berbagai faktor struktural, seperti ketidakpastian geopolitik, fragmentasi ekonomi global, dan kebijakan moneter yang tetap ketat namun penuh risiko.

Namun, dalam fase awal sesi Asia hari ini, faktor-faktor tersebut sementara kalah oleh dinamika likuiditas dan risk management. Pasar belum sepenuhnya kembali ke mode “mencari perlindungan”, melainkan masih berada di fase “menghindari risiko”.

Kesimpulan: Spillover Risk-Off, Bukan Perubahan Fundamental

Pelemahan emas di awal sesi Asia hari ini lebih tepat dipandang sebagai spillover risk-off dari gejolak kripto dan sentimen global yang sedang rapuh. Tekanan tersebut dipicu oleh kebutuhan likuiditas dan penyesuaian risiko, bukan oleh perubahan besar pada fundamental emas itu sendiri.

Selama volatilitas kripto dan ketegangan pasar masih tinggi, emas berpotensi tetap berfluktuasi. Namun, begitu tekanan mereda dan pasar kembali rasional, emas memiliki ruang untuk memulihkan diri dengan cepat.


Jangan lupa jelajahi website kami di demo bestprofit dan temukan beragam informasi menarik yang siap menginspirasi dan memberikan pengetahuan baru! Ayo, kunjungi sekarang untuk pengalaman online yang menyenangkan!
bestprofit futures