Tuesday, 2 September 2025

Bestprofit | Emas Melemah, Fokus ke Data AS

 https://best-profit-futures-malang.com/wp-content/uploads/2023/08/Bestprofit-Emas-12.jpeg

Bestprofit (3/9) – Rabu (3/9) pagi, harga emas dunia melemah tipis setelah sehari sebelumnya mencetak rekor tertinggi sepanjang masa. Meskipun penurunan yang terjadi relatif kecil, pergerakan ini menjadi cerminan dari meningkatnya kehati-hatian investor global terhadap arah kebijakan moneter Amerika Serikat. Ketidakpastian ini diperparah dengan dinamika politik di Washington serta ekspektasi pasar terhadap data ekonomi penting yang akan dirilis dalam waktu dekat.

Koreksi Tipis Setelah Rekor Baru

Pada sesi perdagangan pagi di pasar Asia, harga emas spot tercatat turun 0,1% menjadi US$3.529,40 per ons troy. Penurunan ini terjadi setelah harga emas mencapai rekor tertinggi baru pada perdagangan sebelumnya, seiring dengan lonjakan permintaan terhadap aset lindung nilai akibat ketidakpastian global.

Kendati mengalami koreksi, emas masih bertahan di dekat level tertingginya sepanjang masa. Hal ini menegaskan bahwa minat investor terhadap logam mulia tetap kuat, terutama sebagai pelindung nilai (hedge) terhadap risiko ekonomi dan politik.


Kunjungi juga : bestprofit futures

Ketidakpastian Kebijakan The Fed

Salah satu faktor utama yang menjadi sorotan pasar adalah ketidakpastian mengenai arah kebijakan moneter Federal Reserve (The Fed). Para analis dari ANZ Research mencatat bahwa investor mulai khawatir atas langkah-langkah pemerintah Amerika Serikat, terutama setelah administrasi Donald Trump mendorong perubahan susunan dewan gubernur The Fed.

Trump dikabarkan tengah mempertimbangkan calon-calon baru yang dinilai lebih sejalan dengan agenda ekonominya, termasuk dorongan terhadap suku bunga rendah dan kebijakan moneter yang lebih longgar. Langkah ini menimbulkan spekulasi di kalangan investor bahwa independensi bank sentral bisa terancam, yang pada akhirnya meningkatkan ketidakpastian pasar.

Fokus Tertuju pada Data Nonfarm Payrolls

Sentimen pasar saat ini juga sangat dipengaruhi oleh antisipasi terhadap rilis data tenaga kerja non-pertanian (nonfarm payrolls) AS untuk bulan Agustus, yang dijadwalkan akan diumumkan pada hari Jumat mendatang. Data ini dipandang sebagai indikator utama kondisi ekonomi AS dan menjadi bahan pertimbangan penting dalam pengambilan keputusan The Fed terkait suku bunga.

Frank Walbaum, analis pasar dari Naga, menyebutkan bahwa jika data tenaga kerja menunjukkan pelemahan, maka emas bisa mendapatkan dorongan tambahan. “Aset tanpa imbal hasil seperti emas cenderung menguat ketika prospek kenaikan suku bunga melemah,” ujarnya.

Pasalnya, suku bunga yang lebih rendah menurunkan opportunity cost untuk memegang emas, sehingga meningkatkan daya tarik logam mulia tersebut di mata investor.

Emas Tetap Jadi Aset Favorit di Tengah Ketidakpastian

Meskipun harga emas mencatat koreksi tipis pagi ini, tren jangka menengah hingga panjang masih menunjukkan kecenderungan naik. Ini mencerminkan status emas sebagai aset safe haven utama ketika investor menghadapi ketidakpastian makroekonomi dan geopolitik.

Selama beberapa bulan terakhir, permintaan terhadap emas terus meningkat, baik dari investor institusional maupun individu. Faktor-faktor seperti perlambatan ekonomi global, ketegangan geopolitik, inflasi yang membandel, serta arah kebijakan moneter yang belum jelas telah mendorong banyak pelaku pasar untuk mengalihkan portofolio mereka ke emas.

Daya Tarik Emas di Era Suku Bunga Rendah

Dalam lingkungan suku bunga rendah atau bahkan negatif, emas semakin menarik karena tidak memiliki imbal hasil tetap seperti obligasi, namun juga tidak tergerus nilainya akibat inflasi. Hal ini menjadikan emas sebagai pilihan utama dalam strategi diversifikasi risiko.

Selain itu, banyak bank sentral di dunia juga meningkatkan cadangan emas mereka sebagai bagian dari upaya menjaga stabilitas nilai tukar dan perlindungan terhadap volatilitas pasar global. Tren ini turut menopang harga emas dalam jangka panjang.

Spekulasi Pasar Meningkat

Pasar saat ini berada dalam kondisi penuh spekulasi. Di satu sisi, investor menanti-nanti sinyal dari The Fed mengenai rencana kebijakan suku bunga ke depan, sementara di sisi lain, mereka juga harus memperhitungkan dinamika politik di AS yang bisa memengaruhi arah kebijakan tersebut.

Kemungkinan bahwa Trump akan menempatkan tokoh-tokoh yang mendukung suku bunga rendah dalam tubuh The Fed menjadi perhatian serius. Jika hal itu terjadi, bisa saja The Fed menjadi lebih dovish (cenderung melonggarkan kebijakan), yang artinya suku bunga akan lebih lama dipertahankan rendah. Ini tentu saja bisa menjadi sentimen positif untuk emas.

Proyeksi Harga Emas ke Depan

Sejumlah analis memperkirakan bahwa harga emas bisa terus naik dalam beberapa bulan ke depan, terutama jika data ekonomi AS melemah dan tekanan terhadap independensi The Fed meningkat. Faktor-faktor seperti ketegangan dagang, pemilu AS, dan gejolak pasar modal juga bisa mendorong permintaan terhadap logam mulia.

Namun, koreksi jangka pendek seperti yang terjadi pagi ini tetap mungkin terjadi. Hal ini merupakan bagian dari dinamika pasar normal di mana investor melakukan aksi ambil untung setelah lonjakan harga yang signifikan.

Kesimpulan: Emas Tetap Menarik, Meski Ada Koreksi

Penurunan harga emas pagi ini sebesar 0,1% menjadi US$3.529,40 per ons troy bukanlah tanda bahwa tren bullish emas telah berakhir. Sebaliknya, ini menunjukkan bahwa pasar masih mencermati berbagai faktor risiko sebelum melanjutkan aksi beli. Ketidakpastian arah kebijakan The Fed, dinamika politik AS, dan data ekonomi yang akan datang akan terus menjadi penggerak utama harga emas.

Dalam iklim global yang sarat dengan ketegangan dan ketidakpastian, emas tetap menjadi aset yang sangat relevan. Investor yang mencari perlindungan nilai dan diversifikasi risiko kemungkinan akan tetap mempertahankan eksposur mereka terhadap logam mulia ini.


Jangan lupa jelajahi website kami di demo bestprofit dan temukan beragam informasi menarik yang siap menginspirasi dan memberikan pengetahuan baru! Ayo, kunjungi sekarang untuk pengalaman online yang menyenangkan!


bestprofit futures
 

Monday, 1 September 2025

Bestprofit | Emas Dekati $4.500, Dukung The Fed & Tarif

 https://best-profit-futures-malang.com/wp-content/uploads/2024/03/Gold-Emas.jpg

Bestprofit (2/9) – Harga emas melonjak ke level tertinggi dalam lebih dari empat bulan pada hari Selasa (2/9), mendekati rekor sepanjang masa, di tengah meningkatnya permintaan terhadap aset aman (safe haven). Lonjakan ini dipicu oleh ketidakpastian global yang meningkat akibat kebijakan tarif perdagangan Presiden Amerika Serikat Donald Trump, serta ekspektasi bahwa Federal Reserve akan memangkas suku bunga dalam waktu dekat.

Permintaan Safe Haven Meningkat di Tengah Ketidakpastian Tarif Perdagangan

Kenaikan terbaru harga emas sebagian besar didorong oleh meningkatnya ketegangan terkait kebijakan tarif yang diberlakukan oleh pemerintahan Trump. Keputusan pengadilan banding yang menyatakan bahwa sebagian dari tarif tersebut ilegal telah menimbulkan keresahan di pasar global.

Meskipun pengadilan masih mengizinkan penerapan tarif hingga pertengahan Oktober, Presiden Trump dengan tegas menolak putusan tersebut dan menyatakan niatnya untuk membawa kasus ini ke Mahkamah Agung. Respons Trump ini memperburuk ketidakpastian mengenai arah kebijakan perdagangan Amerika Serikat ke depan.

Ketidakpastian ini sangat berdampak pada pasar, terutama mengingat banyak dari kebijakan tarif tersebut baru saja mulai berlaku pada bulan Agustus. Jika Mahkamah Agung memutuskan bahwa tarif-tarif tersebut ilegal, maka AS mungkin akan dipaksa untuk meninjau dan menegosiasikan ulang berbagai kesepakatan perdagangan dengan mitra dagangnya, seperti Tiongkok, Kanada, dan Uni Eropa. Ketidakpastian semacam ini sering mendorong investor untuk mencari aset yang lebih aman seperti emas.

Harga Spot dan Berjangka Emas Menguat, Dekati Rekor

Pada perdagangan hari Selasa malam waktu AS, harga spot emas naik 0,2% menjadi $3.483,02 per ons, sementara emas berjangka pengiriman Desember juga naik 0,2% menjadi $3.554,32 per ons. Harga spot kini hanya sekitar $20 di bawah rekor tertinggi yang tercatat pada akhir April, yaitu $3.500 per ons.

Kenaikan ini mencerminkan sentimen pasar yang kuat terhadap emas sebagai instrumen lindung nilai dalam situasi ketidakpastian ekonomi dan geopolitik. Dalam beberapa bulan terakhir, harga emas telah menunjukkan tren naik yang konsisten, seiring dengan meningkatnya kekhawatiran atas prospek ekonomi global.


Kunjungi juga : bestprofit futures

Ekspektasi Pemangkasan Suku Bunga oleh The Fed Mendukung Kenaikan Harga

Selain faktor geopolitik, ekspektasi terhadap kebijakan moneter Federal Reserve (The Fed) turut memberikan dukungan terhadap harga emas. Spekulasi bahwa The Fed akan memangkas suku bunga pada pertemuan bulan September semakin menguat setelah Ketua The Fed Jerome Powell mengisyaratkan potensi pemangkasan sebesar 25 basis poin.

Meskipun data ekonomi terbaru menunjukkan inflasi masih tinggi — dengan indeks harga PCE untuk bulan Juli tetap berada di atas target tahunan 2% — pasar tetap percaya bahwa The Fed akan mengambil langkah pelonggaran moneter.

Menurut CME FedWatch Tool, pasar kini memperkirakan kemungkinan sebesar 85% bahwa The Fed akan menurunkan suku bunga sebesar 25 basis poin. Ekspektasi ini biasanya mendorong harga emas naik, karena suku bunga yang lebih rendah mengurangi opportunity cost dalam memegang aset non-yielding seperti emas.

Pelemahan Dolar AS Turut Mendorong Emas

Salah satu faktor lain yang memberikan dorongan terhadap harga emas adalah pelemahan dolar Amerika Serikat. Mata uang dolar melemah ke level terendah dalam satu bulan terakhir, yang membuat emas menjadi lebih murah bagi investor yang memegang mata uang lain. Ini biasanya meningkatkan permintaan emas di pasar internasional.

Secara historis, harga emas memiliki korelasi terbalik dengan kekuatan dolar AS. Ketika dolar melemah, emas cenderung naik, dan sebaliknya. Oleh karena itu, tren pelemahan dolar saat ini menjadi katalis tambahan bagi penguatan logam mulia ini.

Tantangan Bagi The Fed: Inflasi vs Stabilitas Pasar

Meskipun pasar sangat yakin akan pemangkasan suku bunga, The Fed menghadapi dilema besar: menyeimbangkan antara upaya menurunkan inflasi yang membandel dan menjaga stabilitas pasar serta pertumbuhan ekonomi.

Data inflasi, termasuk indeks harga konsumen (CPI) dan indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi (PCE), menunjukkan bahwa tekanan harga masih tinggi. Namun, tekanan ekonomi global dan ketidakpastian akibat kebijakan perdagangan memberikan alasan kuat bagi The Fed untuk menurunkan suku bunga demi mencegah perlambatan ekonomi yang lebih dalam.

Jerome Powell, dalam pernyataannya bulan Agustus, menegaskan bahwa keputusan pemangkasan suku bunga belum final. Ia masih mempertimbangkan sejumlah faktor, termasuk data tenaga kerja dan inflasi terbaru, sebelum membuat keputusan pada pertemuan FOMC mendatang.

Arah Harga Emas Selanjutnya: Apakah Akan Tembus Rekor?

Dengan harga spot emas kini hanya terpaut sekitar $20 dari rekor tertinggi sepanjang masa, banyak analis memperkirakan bahwa harga emas bisa segera menembus level psikologis $3.500 per ons, terutama jika situasi geopolitik dan kebijakan moneter terus mendukung tren bullish.

Beberapa faktor kunci yang dapat mendorong harga emas lebih tinggi antara lain:

  • Ketidakpastian lanjutan dalam kebijakan tarif AS.

  • Keputusan pemangkasan suku bunga oleh The Fed.

  • Potensi perlambatan ekonomi global.

  • Pelemahan lanjutan dolar AS.

  • Permintaan fisik dari pasar negara berkembang seperti India dan Tiongkok.

Namun demikian, para investor juga disarankan untuk tetap waspada terhadap kemungkinan koreksi harga jika ketegangan perdagangan mereda atau jika The Fed mengambil sikap lebih hawkish terhadap inflasi.

Kesimpulan

Harga emas kembali menunjukkan kekuatannya sebagai aset pelindung nilai di tengah gejolak global. Ketidakpastian yang meningkat akibat kebijakan perdagangan AS dan spekulasi pemangkasan suku bunga oleh The Fed telah mendorong harga logam mulia ini ke level tertinggi dalam lebih dari empat bulan.

Meskipun kondisi saat ini sangat mendukung tren naik harga emas, dinamika pasar global yang sangat cepat berubah tetap menjadi risiko tersendiri. Investor dan pelaku pasar perlu terus memantau kebijakan moneter AS, perkembangan geopolitik, serta arah ekonomi global untuk mengambil keputusan investasi yang tepat.

 


Jangan lupa jelajahi website kami di demo bestprofit dan temukan beragam informasi menarik yang siap menginspirasi dan memberikan pengetahuan baru! Ayo, kunjungi sekarang untuk pengalaman online yang menyenangkan!
 

bestprofit futures
 

Sunday, 31 August 2025

Bestprofit | Emas Tenang, Pasar Menunggu

 https://best-profit-futures-malang.com/wp-content/uploads/2023/08/Bestprofit-Emas-12.jpeg

Bestprofit (1/9) – Harga spot emas tercatat berada di $3.446,70 per ons troy pada perdagangan awal sesi Asia hari ini. Ini menunjukkan bahwa pasar logam mulia tengah berada dalam fase stabil setelah mengalami reli cukup signifikan dalam beberapa bulan terakhir. Kenaikan harga ini sebelumnya banyak dipicu oleh meningkatnya ketidakpastian global, terutama terkait tensi geopolitik dan isu perdagangan antara negara-negara besar.

Namun, menurut catatan terbaru dari ANZ Research, pasar emas kemungkinan besar akan memasuki fase konsolidasi jangka pendek sebelum mengalami reli lanjutan yang bisa membawa harga mendekati $3.600 per ons troy pada akhir tahun 2025.

Konsolidasi Sebelum Reli: Strategi Pasar Menghadapi Volatilitas

Fase konsolidasi yang dimaksud oleh ANZ Research adalah periode di mana harga emas cenderung bergerak sideways (datar) dalam rentang tertentu. Ini biasanya terjadi setelah lonjakan harga signifikan, di mana pelaku pasar mengambil waktu untuk menilai kembali kondisi fundamental dan teknikal sebelum melakukan aksi beli atau jual secara agresif.

Menurut analis ANZ, konsolidasi ini adalah bagian alami dari siklus pasar dan bukan merupakan tanda pelemahan. Mereka berpendapat bahwa kondisi seperti ini justru membuka peluang strategis bagi investor untuk masuk kembali ke pasar sebelum harga bergerak naik lebih lanjut.

Negosiasi Dagang AS-Tiongkok Menahan Momentum

Salah satu penyebab utama dari stabilnya harga emas saat ini adalah dimulainya kembali negosiasi dagang antara Amerika Serikat dan Tiongkok. Ketegangan dagang yang sebelumnya memicu kekhawatiran global telah menjadi salah satu faktor utama pendorong harga emas, karena investor mencari aset aman (safe haven) di tengah ketidakpastian.

Namun dengan dimulainya dialog kembali antara kedua negara ekonomi terbesar di dunia, pasar mulai merespons dengan lebih tenang. Akibatnya, momentum reli emas sedikit tertahan, menandakan bahwa faktor ketidakpastian dagang mulai mereda—setidaknya untuk sementara.

Meskipun demikian, ketidakpastian terkait hasil dari negosiasi tersebut masih menjadi faktor yang harus diperhatikan. Setiap perkembangan signifikan, baik itu positif maupun negatif, bisa langsung memengaruhi arah harga emas secara drastis.


Kunjungi juga : bestprofit futures

Katalis Berikutnya: Data Makroekonomi Global

Dalam pandangan ANZ Research, untuk mendorong harga emas menembus rekor tertinggi baru, diperlukan katalis yang lebih kuat dari sekadar ketegangan geopolitik. Mereka menyebutkan bahwa data makroekonomi akan menjadi faktor penentu utama dalam beberapa bulan ke depan.

Beberapa indikator ekonomi yang kemungkinan besar akan memengaruhi harga emas antara lain:

  • Data inflasi global, terutama di AS dan Eropa

  • Kebijakan suku bunga dari bank sentral utama seperti Federal Reserve (The Fed) dan European Central Bank (ECB)

  • Data ketenagakerjaan dan pertumbuhan ekonomi

  • Nilai tukar dolar AS, yang secara historis memiliki korelasi negatif dengan harga emas

Jika data makro menunjukkan perlambatan ekonomi global atau meningkatnya tekanan inflasi, permintaan terhadap emas sebagai lindung nilai (hedging tool) kemungkinan akan kembali meningkat.

Prediksi Akhir Tahun: Emas Menuju $3.600 per Ons?

Dengan harga saat ini berada di kisaran $3.446,70, target ANZ Research sebesar $3.600 per ons troy mencerminkan kenaikan lebih dari 4% dari level sekarang. Walaupun bukan lonjakan besar, target ini memperlihatkan kepercayaan bahwa tren bullish jangka panjang masih berlanjut.

Beberapa faktor yang mendukung prospek ini antara lain:

  • Potensi penurunan suku bunga oleh The Fed jika data ekonomi memburuk

  • Tingginya permintaan dari bank sentral, yang terus menambah cadangan emas sebagai diversifikasi

  • Ketidakstabilan geopolitik yang terus mengintai, seperti konflik di Timur Tengah atau ketegangan politik domestik di AS menjelang pemilu

  • Ketidakpastian mata uang digital dan aset risiko lain yang membuat investor kembali ke aset konvensional

Namun, perlu dicatat bahwa pasar emas sangat rentan terhadap sentimen dan perubahan arah kebijakan moneter global. Oleh karena itu, investor disarankan untuk tetap waspada dan mengikuti perkembangan makroekonomi secara berkala.

Pandangan Investor dan Strategi Ke Depan

Dalam kondisi pasar yang berpotensi konsolidatif ini, banyak investor institusional maupun ritel mengambil posisi wait and see. Mereka menantikan sinyal yang lebih kuat sebelum kembali melakukan akumulasi besar-besaran.

Strategi yang mungkin digunakan oleh investor jangka menengah hingga panjang termasuk:

  • Dollar-cost averaging (DCA): Membeli emas secara berkala untuk mengurangi risiko fluktuasi harga jangka pendek

  • Mengikuti laporan data ekonomi utama, terutama dari AS dan Tiongkok

  • Diversifikasi portofolio: Tidak hanya fokus pada emas, tetapi juga memasukkan aset lain seperti obligasi, saham pertambangan emas, dan ETF berbasis emas

Kesimpulan: Momentum Masih Ada, Tapi Butuh Katalis

Harga emas yang stabil di awal sesi Asia menunjukkan bahwa pasar saat ini berada dalam fase jeda, menanti arah baru. Pandangan dari ANZ Research bahwa emas akan mengalami konsolidasi sebelum reli menuju $3.600 per ons troy memberi gambaran positif namun realistis bagi investor.

Dengan negosiasi dagang AS-Tiongkok yang meredakan ketegangan sementara, fokus kini beralih ke data makroekonomi global sebagai penggerak utama harga emas dalam beberapa bulan ke depan. Jika kondisi global menunjukkan tanda-tanda ketidakstabilan ekonomi atau inflasi yang sulit dikendalikan, maka peluang emas untuk mencetak rekor tertinggi baru sangat terbuka.

Bagi investor, saat ini bisa menjadi momen tepat untuk mengevaluasi strategi, memperhatikan indikator fundamental, dan bersiap menghadapi pergerakan signifikan berikutnya di pasar logam mulia.

 
Jangan lupa jelajahi website kami di demo bestprofit dan temukan beragam informasi menarik yang siap menginspirasi dan memberikan pengetahuan baru! Ayo, kunjungi sekarang untuk pengalaman online yang menyenangkan!


bestprofit futures

Thursday, 28 August 2025

Bestprofit | Dolar Melemah Terhadap Euro dan Yen

 https://best-profit-futures-malang.com/wp-content/uploads/2023/08/Dolar-3.webp

Bestprofit (29/8) – Dolar AS melemah terhadap mata uang utama seperti euro dan yen pada hari Kamis, seiring meningkatnya spekulasi bahwa Federal Reserve akan segera memangkas suku bunga. Sentimen pasar juga dibayangi oleh ketidakpastian politik di dalam negeri, terutama terkait intervensi Presiden Donald Trump terhadap kebijakan moneter dan upayanya untuk memecat salah satu gubernur The Fed, Lisa Cook.

Spekulasi Pemangkasan Suku Bunga Menguat

Mata uang AS berada di bawah tekanan setelah komentar dari Ketua The Fed New York, John Williams, yang menyiratkan bahwa pemangkasan suku bunga bisa menjadi langkah yang layak dipertimbangkan oleh bank sentral. Dalam wawancara bersama CNBC, Williams mengatakan bahwa kemungkinan penurunan suku bunga masih terbuka, tergantung pada data ekonomi yang akan dirilis menjelang pertemuan The Fed pada 16–17 September mendatang.

Pernyataan Williams langsung memicu reaksi pasar, di mana para pedagang meningkatkan ekspektasi bahwa pemangkasan suku bunga seperempat poin akan dilakukan. Berdasarkan alat FedWatch milik CME Group, probabilitas pemangkasan suku bunga bulan depan mencapai 87,3%.

Ketegangan Politik dan Serangan terhadap The Fed

Di tengah sentimen pasar yang sudah rapuh, dolar semakin ditekan oleh dinamika politik di AS. Presiden Donald Trump kembali mengintensifkan upayanya untuk mempengaruhi arah kebijakan moneter dengan mencoba memecat Lisa Cook, salah satu gubernur The Fed. Cook pun menanggapi langkah tersebut dengan menggugat Trump, menegaskan bahwa presiden tidak memiliki wewenang untuk memecat gubernur The Fed yang masa jabatannya ditetapkan oleh undang-undang.

Gugatan ini menimbulkan kekhawatiran mengenai independensi Federal Reserve, yang merupakan pilar penting dalam menjaga stabilitas ekonomi. Pasar keuangan global pun mencermati ketegangan ini dengan waspada.


Kunjungi juga : bestprofit futures

Euro dan Poundsterling Menguat Meski Diwarnai Ketidakpastian Politik

Menariknya, euro tetap menguat terhadap dolar meskipun Eropa juga diwarnai ketidakstabilan politik. Perdana Menteri Prancis secara tak terduga mengajukan mosi tidak percaya yang dijadwalkan bulan depan, membuka peluang jatuhnya pemerintahan minoritasnya. Namun demikian, euro justru menguat 0,38% ke $1,1682.

Poundsterling juga ikut menguat sebesar 0,19% ke level $1,3525. Penguatan mata uang Eropa ini lebih disebabkan oleh pelemahan dolar, bukan karena fundamental Eropa yang membaik. Hal ini menunjukkan bahwa sentimen terhadap dolar sedang dalam kondisi sangat rapuh.

Data Ekonomi AS Tak Mampu Menopang Dolar

Meskipun dolar berhasil memangkas sebagian kerugiannya setelah rilis data ekonomi pada hari Kamis, pemulihan tersebut tetap terbatas. Data menunjukkan bahwa klaim pengangguran mingguan meningkat, namun di sisi lain, pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) AS sedikit lebih tinggi dari perkiraan.

Data tersebut tidak mampu mengubah pandangan pasar bahwa pelonggaran moneter masih sangat mungkin dilakukan oleh The Fed.

“Saya rasa kami tidak melihat hasil nyata yang mengubah narasi dari data tersebut,” ujarnya. “Kami menantikan angka deflator PCE besok, pembacaan utama The Fed tentang inflasi.”

Data inflasi PCE (Personal Consumption Expenditures), yang akan dirilis pada hari Jumat, serta laporan penggajian bulanan minggu depan, akan menjadi kunci dalam menentukan arah kebijakan The Fed. Jika inflasi tetap lemah dan pasar tenaga kerja menunjukkan pelemahan, peluang pemangkasan suku bunga akan semakin besar.

Intervensi Politik Menekan Imbal Hasil Obligasi

Upaya Trump untuk memasukkan kandidat-kandidat dovish (cenderung mendukung pelonggaran moneter) ke dalam dewan pengambil keputusan The Fed juga turut menurunkan imbal hasil obligasi jangka pendek. Ketidakpastian hukum akibat gugatan Lisa Cook diperkirakan akan menjadi pertempuran berkepanjangan, yang dapat memengaruhi persepsi investor terhadap stabilitas lembaga keuangan AS.

Ketegangan politik ini menambah beban bagi dolar, yang sudah mengalami tekanan dari berbagai sisi.

Indeks Dolar dan Yen Jepang

Indeks dolar, yang mengukur kekuatan dolar terhadap enam mata uang utama dunia, turun 0,31% menjadi 97,862. Ini merupakan penurunan selama dua hari berturut-turut dan mencerminkan kekhawatiran pasar terhadap kondisi makroekonomi dan politik AS.

Terhadap yen Jepang, dolar juga melemah 0,35% menjadi 146,89 yen. Selain faktor domestik AS, nilai tukar ini juga dipengaruhi oleh pembatalan kunjungan mendadak dari Kepala Negosiator Perdagangan Jepang, Ryosei Akazawa, ke Washington. Penundaan ini menunda pengumuman penting terkait janji investasi Jepang senilai $550 miliar di Amerika Serikat sebagai bagian dari kesepakatan tarif.

Ketidakpastian Masih Akan Membayangi Pasar

Pasar keuangan global memasuki periode penuh ketidakpastian, di mana arah kebijakan moneter, dinamika politik, dan data ekonomi akan menjadi faktor penentu utama. Dolar AS, yang selama ini menjadi mata uang safe haven, kini justru dilanda tekanan internal yang memperlemah posisinya.

Ke depan, setiap data ekonomi dan pernyataan resmi dari pejabat bank sentral akan sangat menentukan pergerakan dolar.

Kesimpulan

Pelemahan dolar AS terhadap euro dan yen pada hari Kamis mencerminkan tekanan berlapis yang tengah dihadapi ekonomi Amerika. Dari ekspektasi pelonggaran kebijakan moneter hingga ketegangan politik domestik, pasar terus memantau setiap perkembangan dengan seksama. Dalam waktu dekat, data inflasi PCE dan laporan penggajian akan menjadi indikator penting bagi arah kebijakan The Fed.

 


Jangan lupa jelajahi website kami di demo bestprofit dan temukan beragam informasi menarik yang siap menginspirasi dan memberikan pengetahuan baru! Ayo, kunjungi sekarang untuk pengalaman online yang menyenangkan!


bestprofit futures
 

Wednesday, 27 August 2025

Bestprofit | Emas Melemah Jelang Data PCE

 https://best-profit-futures-malang.com/wp-content/uploads/2023/08/Bestprofit-Emas-13.jpg

Bestprofit (28/8) – Harga emas mengalami sedikit penurunan dalam perdagangan Asia pada Kamis, 28 Agustus, di tengah ketidakpastian geopolitik dan ekonomi yang terus membayangi pasar. Meski demikian, permintaan emas fisik di kawasan Asia tetap kuat, menunjukkan bahwa komoditas ini masih menjadi pilihan utama investor di tengah gejolak global.

Perdagangan Emas: Koreksi Ringan di Tengah Ketidakpastian

Pada pukul 08.00 WIB, harga spot emas tercatat melemah tipis sebesar 0,1% ke level $3.396,56 per ons. Pergerakan ini mencerminkan sikap hati-hati para pelaku pasar, yang saat ini tengah mencermati perkembangan terbaru dalam politik Amerika Serikat.

Pelemahan harga ini terjadi setelah beberapa hari sebelumnya logam mulia tersebut sempat menguat pasca pernyataan dovish dari Ketua The Fed Jerome Powell di simposium Jackson Hole. Namun, fokus investor kini beralih ke ketegangan politik yang melibatkan mantan Presiden Donald Trump dan Gubernur The Fed, Lisa Cook, yang menimbulkan ketidakpastian baru di pasar.

Perseteruan Hukum Trump dan Lisa Cook: Bayang-bayang Tekanan Politik

Ketegangan politik antara Donald Trump dan Lisa Cook menjadi perhatian utama pasar global. Trump diketahui melontarkan kritik keras terhadap kebijakan moneter The Fed dan secara terbuka menyalahkan Lisa Cook atas sejumlah kebijakan yang dinilainya merugikan ekonomi AS.

Saat ini, perseteruan tersebut memasuki ranah hukum setelah Trump menggugat Cook atas dugaan penyalahgunaan wewenang dalam kebijakan suku bunga dan stimulus moneter. Cook, yang baru menjabat sebagai gubernur The Fed sejak 2022, dianggap oleh pendukung Trump terlalu dovish dalam menangani inflasi yang melonjak pasca-pandemi.

Situasi ini menciptakan ketidakpastian atas independensi The Fed dan memperkuat kekhawatiran pasar bahwa kebijakan moneter bisa menjadi alat politik, terutama menjelang pemilihan presiden AS 2026. Ketidakpastian ini, meski belum berdampak signifikan pada harga emas hari ini, berpotensi menjadi katalis volatilitas dalam beberapa minggu mendatang.


Kunjungi juga : bestprofit futures

Permintaan Fisik Tetap Kuat di Asia

Di sisi lain, permintaan emas fisik di Asia menunjukkan tren positif. Menurut analis Traze.com, Osama Al Saifi, data impor bersih emas Tiongkok melalui Hong Kong pada Juli melonjak lebih dari dua kali lipat dibandingkan bulan sebelumnya.

“Kami melihat lonjakan signifikan dalam impor bersih emas ke Tiongkok via Hong Kong. Ini menunjukkan bahwa permintaan domestik, terutama dari sektor perhiasan dan bank sentral, tetap solid meskipun harga sempat menguat,” jelas Al Saifi.

Tiongkok merupakan konsumen emas terbesar di dunia, dan pergerakan permintaan di negara tersebut sering dijadikan indikator penting bagi arah harga emas global. Lonjakan impor ini menunjukkan bahwa emas tetap dipandang sebagai aset lindung nilai utama, terutama dalam menghadapi volatilitas yuan dan ketidakpastian ekonomi domestik Tiongkok.

Menanti Data Indeks PCE AS

Fokus investor kini bergeser ke rilis data Indeks Personal Consumption Expenditures (PCE) yang dijadwalkan pada Jumat waktu setempat. PCE merupakan indikator inflasi yang menjadi acuan utama bagi The Fed dalam menentukan arah kebijakan suku bunga.

Setelah pernyataan dovish dari Jerome Powell di Jackson Hole pekan lalu, pasar akan mencermati apakah data PCE akan mengonfirmasi tren inflasi yang melandai. Jika PCE menunjukkan penurunan inflasi, maka peluang The Fed untuk mempertahankan atau bahkan menurunkan suku bunga semakin terbuka.

Sebaliknya, jika data PCE masih menunjukkan tekanan inflasi yang tinggi, maka The Fed bisa kembali ke sikap hawkish, yang akan memperkuat dolar dan menekan harga emas lebih jauh.

Faktor Lain yang Mempengaruhi Harga Emas

Selain ketegangan politik dan data ekonomi, ada beberapa faktor lain yang turut memengaruhi harga emas saat ini:

1. Kinerja Dolar AS

Dolar AS cenderung menguat dalam beberapa hari terakhir, seiring kekhawatiran investor terhadap ketegangan di dalam negeri AS dan ketidakpastian arah kebijakan The Fed. Dolar yang kuat membuat emas lebih mahal bagi pemegang mata uang lain, sehingga menekan permintaan.

2. Imbal Hasil Obligasi AS

Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun juga menjadi perhatian. Kenaikan yield membuat investasi berbasis bunga menjadi lebih menarik dibanding emas yang tidak memberikan imbal hasil tetap. Saat ini, yield bergerak fluktuatif karena ekspektasi pasar terhadap arah suku bunga belum solid.

3. Ketegangan Geopolitik Global

Ketegangan di berbagai kawasan, seperti konflik Rusia-Ukraina yang belum mereda dan meningkatnya ketegangan di Laut China Selatan, menjadi pendorong permintaan safe haven. Namun, dampaknya terhadap emas belum terlalu signifikan karena pelaku pasar lebih fokus pada kondisi makroekonomi AS.

Prospek Harga Emas dalam Jangka Pendek

Dalam jangka pendek, pergerakan harga emas diperkirakan masih akan fluktuatif, dengan rentang perdagangan yang ketat menjelang rilis data inflasi PCE. Sentimen investor akan sangat dipengaruhi oleh apakah The Fed tetap pada jalur dovish atau justru kembali agresif.

Menurut analis teknikal dari Commerzbank, jika emas mampu bertahan di atas support kunci $3.380 per ons, maka ada peluang rebound menuju $3.420–$3.450 per ons. Namun, jika tekanan jual meningkat dan harga turun di bawah $3.380, maka potensi koreksi lebih dalam terbuka lebar.

Kesimpulan: Emas Masih Jadi Pilihan, Meski Tekanan Jangka Pendek Mengintai

Harga emas tergelincir tipis pada perdagangan Kamis pagi, dipengaruhi oleh ketidakpastian politik dalam negeri AS dan kehati-hatian investor menjelang rilis data penting. Meski demikian, permintaan emas fisik di Asia—khususnya di Tiongkok—masih menunjukkan kekuatan yang signifikan.

Ke depan, harga emas akan sangat bergantung pada data inflasi AS dan reaksi pasar terhadap ketegangan antara Donald Trump dan Gubernur The Fed Lisa Cook. Di tengah banyaknya ketidakpastian ini, emas tetap mempertahankan statusnya sebagai aset safe haven, meskipun pergerakannya mungkin tidak seagresif tahun-tahun sebelumnya.


Jangan lupa jelajahi website kami di demo bestprofit dan temukan beragam informasi menarik yang siap menginspirasi dan memberikan pengetahuan baru! Ayo, kunjungi sekarang untuk pengalaman online yang menyenangkan!


bestprofit futures
 

Tuesday, 26 August 2025

Bestprofit | Harga Emas Tertekan Ketidakpastian

 https://best-profit-futures-malang.com/wp-content/uploads/2023/08/Bestprofit-Emas-3.jpeg

Bestprofit (27/8) – Harga emas bergerak melemah tipis di awal perdagangan Asia pada Selasa (27/8), seiring dengan aksi penyesuaian posisi oleh investor. Meskipun demikian, pelemahan harga logam mulia ini tampaknya bersifat terbatas karena kekhawatiran pasar terhadap independensi bank sentral Amerika Serikat (The Fed) serta meningkatnya ketegangan politik di Eropa, terutama Prancis. Kombinasi faktor fundamental ini mendorong permintaan terhadap aset safe haven seperti emas.

Aksi Penyesuaian Posisi Investor Tekan Harga Emas

Di awal sesi perdagangan Asia, harga spot emas tercatat turun 0,1% menjadi $3.390,64 per ons. Penurunan ini terutama disebabkan oleh aksi ambil untung dan penyesuaian posisi yang dilakukan oleh investor menjelang rilis sejumlah data ekonomi penting serta perkembangan geopolitik global.

Aksi semacam ini adalah hal yang lazim dalam dunia investasi, terutama ketika harga emas telah mencatatkan reli dalam beberapa pekan terakhir. Investor cenderung mengambil langkah berhati-hati dengan mengamankan keuntungan mereka sebelum masuknya katalis pasar yang baru.

Namun, para analis menyebut bahwa pelemahan emas kali ini bersifat sementara. Di tengah meningkatnya ketidakpastian ekonomi dan politik global, permintaan terhadap emas sebagai instrumen lindung nilai (hedging) tetap kuat.

Ketidakpastian di The Fed: Pemecatan Lisa Cook Memicu Kekhawatiran

Salah satu faktor utama yang menjaga daya tarik emas adalah ketidakpastian yang meningkat terhadap independensi kebijakan moneter AS. Langkah kontroversial Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, yang secara mendadak mencopot Gubernur The Fed, Lisa Cook, telah memicu kekhawatiran luas di pasar keuangan.

Tindakan ini memunculkan pertanyaan serius terkait apakah The Fed masih memiliki keleluasaan dalam menentukan arah kebijakan moneternya secara independen, ataukah bank sentral tersebut akan berada di bawah tekanan politik. Para pelaku pasar khawatir bahwa pencopotan Lisa Cook bisa menjadi preseden berbahaya, yang membuka pintu campur tangan lebih lanjut dari pihak eksekutif terhadap lembaga moneter yang seharusnya bersifat netral.

Kekhawatiran ini secara otomatis meningkatkan daya tarik emas sebagai aset safe haven. Ketika pelaku pasar kehilangan kepercayaan terhadap stabilitas kebijakan ekonomi, mereka cenderung beralih ke aset yang dianggap lebih stabil seperti logam mulia.


Kunjungi juga : bestprofit futures

Risiko Politik di Eropa: Ketidakstabilan Pemerintahan Prancis

Selain dari sisi AS, pasar global juga sedang mencermati perkembangan politik di Eropa, khususnya di Prancis. Ketegangan meningkat setelah Perdana Menteri Prancis mengusulkan langkah-langkah penghematan anggaran yang kontroversial. Langkah ini tidak hanya menimbulkan penolakan di parlemen, tetapi juga memicu rencana mosi tidak percaya yang dijadwalkan akan berlangsung pada 8 September mendatang.

Ketidakpastian politik di negara ekonomi terbesar kedua di Uni Eropa ini meningkatkan kekhawatiran investor terhadap stabilitas kawasan euro secara keseluruhan. Jika pemerintahan Prancis gagal melewati mosi percaya, maka risiko keruntuhan pemerintahan semakin nyata, yang pada akhirnya dapat mengganggu pasar keuangan regional dan global.

Sebagai respons terhadap risiko ini, investor global menunjukkan peningkatan permintaan terhadap aset lindung nilai seperti emas. Logam mulia ini telah lama dipandang sebagai pelindung nilai ketika kondisi politik dan ekonomi mengalami guncangan.

Kombinasi Faktor Fundamental Topang Harga Emas

Meskipun secara teknikal emas mencatat penurunan tipis, kekuatan fundamental yang menopangnya cukup solid. Kombinasi dari risiko politik, gejolak kebijakan moneter, dan potensi melambatnya pertumbuhan ekonomi global, semua berkontribusi terhadap permintaan yang stabil terhadap emas.

Kondisi saat ini menunjukkan bahwa emas tetap berada di jalur kuat sebagai aset pelindung nilai. Setiap pelemahan jangka pendek lebih dipandang sebagai peluang beli oleh sebagian besar investor institusional.

Perspektif Analis: Apakah Emas Akan Kembali Menguat?

Banyak analis pasar melihat pelemahan harga emas saat ini sebagai fase konsolidasi. Menurut mereka, selama ketidakpastian tetap tinggi di pasar, harga emas memiliki potensi untuk kembali menguat dalam beberapa hari atau pekan ke depan.

“Ketika pasar mulai meragukan independensi The Fed, itu menciptakan ketidakpastian yang jauh lebih besar daripada sekadar data ekonomi yang fluktuatif. Ini adalah sinyal kuat bagi investor untuk berlindung pada aset yang netral secara politik, seperti emas,” ujar Analis Komoditas Senior dari Global Metals Research.

Sementara itu, dari sisi teknikal, emas masih berada di atas level support pentingnya, dan pelemahan sebesar 0,1% dianggap belum cukup signifikan untuk mengubah tren jangka menengah.

Dampak Terhadap Pasar Keuangan Lainnya

Ketidakpastian yang terjadi saat ini juga memberikan dampak terhadap pasar keuangan lainnya. Indeks dolar AS sempat mengalami volatilitas tinggi seiring dengan kekhawatiran pasar terhadap intervensi politik dalam kebijakan moneter.

Sementara itu, imbal hasil obligasi pemerintah AS juga mengalami pergerakan fluktuatif, dengan investor mulai melakukan rebalancing portofolio mereka ke instrumen yang dianggap lebih aman.

Pasar saham global pun menunjukkan pergerakan yang hati-hati. Investor cenderung wait and see sambil mencermati perkembangan baik dari AS maupun Eropa. Dalam kondisi seperti ini, peran emas sebagai aset diversifikasi menjadi semakin penting.

Kesimpulan: Emas Tetap Jadi Pilihan Utama di Tengah Ketidakpastian

Meskipun harga emas mengalami pelemahan tipis di awal perdagangan Asia, faktor-faktor fundamental yang menopang permintaan terhadap logam mulia tetap kuat. Ketidakpastian terhadap independensi The Fed, ditambah risiko politik di Eropa—terutama Prancis—menjadi alasan utama mengapa investor masih melirik emas sebagai aset pelindung nilai.

Dengan meningkatnya risiko global, investor disarankan untuk tetap memperhatikan pergerakan harga emas dan menjadikannya bagian dari strategi diversifikasi portofolio. Dalam jangka pendek, fluktuasi harga masih mungkin terjadi, tetapi dalam jangka menengah hingga panjang, prospek emas tetap positif di tengah ketidakpastian global yang berkelanjutan.


Jangan lupa jelajahi website kami di demo bestprofit dan temukan beragam informasi menarik yang siap menginspirasi dan memberikan pengetahuan baru! Ayo, kunjungi sekarang untuk pengalaman online yang menyenangkan!


bestprofit futures
 

Monday, 25 August 2025

Bestprofit | Emas Melemah Akibat Ambil Untung

 https://best-profit-futures-malang.com/wp-content/uploads/2023/08/Bestprofit-Emas-12.jpeg

Bestprofit (26/8) – Harga emas mengalami penurunan pada awal perdagangan Asia hari ini, dipicu oleh aksi ambil untung dari para investor. Meski demikian, analis pasar menekankan bahwa pelemahan ini bersifat sementara dan tidak mencerminkan perubahan mendasar dalam tren jangka panjang logam mulia.

Pelemahan Emas: Koreksi Sementara, Bukan Perubahan Tren

Harga emas spot turun 0,4% ke level $3.353,14 per ons troy pada awal perdagangan Asia, menandai koreksi ringan setelah reli yang cukup kuat dalam beberapa sesi sebelumnya. Rania Gule, analis pasar senior dari perusahaan finansial global XS.com, menjelaskan bahwa penurunan ini lebih dipicu oleh aksi profit-taking ketimbang perubahan struktural dalam pasar emas itu sendiri.

“Penurunan ini bersifat korektif terkait aksi ambil untung, bukan perubahan struktural pada tren emas yang lebih luas,” tulis Gule dalam sebuah email kepada media.

Pernyataan ini menekankan bahwa para pelaku pasar mengambil kesempatan dari kenaikan harga emas sebelumnya untuk merealisasikan keuntungan mereka. Aksi semacam ini lazim terjadi di pasar keuangan, terutama setelah periode penguatan harga yang signifikan.

Fundamental Emas Masih Kuat: Daya Tarik sebagai Safe Haven Tak Berubah

Meskipun terjadi penurunan harga, latar belakang fundamental yang menopang emas tetap kuat. Dalam pandangan Gule, faktor-faktor seperti kebijakan moneter Amerika Serikat dan ketidakpastian geopolitik global masih menjadi katalis utama bagi permintaan emas dalam jangka menengah hingga panjang.

“Latar belakang fundamental yang mendukung logam mulia tetap utuh, baik dari perspektif kebijakan moneter AS maupun risiko geopolitik global yang berlanjut,” jelasnya lebih lanjut.

Ketika pasar dihadapkan pada ketidakpastian—baik akibat konflik geopolitik, ketegangan antarnegara, maupun ketidakpastian ekonomi global—emas kerap menjadi aset pelindung nilai (safe haven). Dalam kondisi seperti ini, investor cenderung mengalihkan dana mereka ke aset-aset yang dianggap lebih aman, seperti logam mulia.


Kunjungi juga : bestprofit futures

Kebijakan The Fed dan Dampaknya terhadap Harga Emas

Salah satu pilar utama yang mendukung tren positif emas dalam beberapa bulan terakhir adalah sikap dovish dari Federal Reserve (The Fed) Amerika Serikat. Meskipun The Fed belum secara resmi memangkas suku bunga, sinyal-sinyal penundaan kenaikan suku bunga atau potensi pemangkasan di masa depan telah memberikan angin segar bagi harga emas.

Emas cenderung sensitif terhadap pergerakan suku bunga karena logam mulia tidak memberikan imbal hasil (yield). Ketika suku bunga turun, opportunity cost memegang emas menjadi lebih rendah, sehingga meningkatkan daya tariknya.

Risiko Geopolitik dan Ketegangan Global: Faktor Pendukung Lainnya

Selain kebijakan moneter, situasi geopolitik global juga memainkan peran penting dalam mendongkrak permintaan emas. Konflik yang berkepanjangan di berbagai kawasan seperti Timur Tengah, ketegangan antara Tiongkok dan Amerika Serikat, serta situasi yang tidak stabil di beberapa negara berkembang telah menciptakan lingkungan global yang tidak pasti.

Ketidakpastian inilah yang menjadi alasan kuat bagi investor untuk mencari perlindungan melalui aset safe haven seperti emas. Dalam sejarahnya, emas selalu menjadi pelabuhan aman saat krisis ekonomi atau konflik internasional memuncak.

Aksi Ambil Untung: Strategi Investor yang Wajar

Koreksi harga emas saat ini dilihat oleh banyak analis sebagai bagian alami dari dinamika pasar. Ketika harga mencapai titik tertentu setelah mengalami kenaikan tajam, wajar jika sebagian pelaku pasar memutuskan untuk mengamankan keuntungan mereka.

Aksi ambil untung bukanlah sinyal negatif dalam jangka panjang, melainkan bagian dari siklus perdagangan yang sehat. Setelah koreksi ini, banyak investor justru melihat kesempatan untuk membeli kembali emas dengan harga yang lebih rendah.

Tren Jangka Panjang Masih Bullish

Meskipun terjadi penurunan jangka pendek, banyak analis sepakat bahwa tren jangka panjang emas masih tetap naik (bullish). Permintaan global terhadap emas, baik dari investor institusional maupun individu, tetap tinggi.

Selain itu, bank sentral di banyak negara juga terus menambah cadangan emas mereka sebagai bagian dari strategi diversifikasi cadangan devisa. Fenomena ini turut memberikan dukungan fundamental yang kuat terhadap harga emas dalam jangka panjang.

Tekanan Teknis: Koreksi dalam Pola Kenaikan

Dari perspektif teknikal, koreksi emas ini bisa dilihat sebagai penurunan wajar setelah mengalami kenaikan tajam dalam beberapa minggu terakhir. Biasanya, dalam pola tren naik, harga akan mengalami beberapa kali konsolidasi atau retracement sebelum melanjutkan perjalanan ke atas.

Beberapa analis teknikal menyebutkan bahwa zona $3.300 hingga $3.350 per ons bisa menjadi support kuat, di mana harga berpotensi memantul kembali jika sentimen positif tetap bertahan.

Pandangan Jangka Pendek: Waspadai Volatilitas

Meskipun tren jangka panjang tetap positif, dalam jangka pendek investor tetap perlu mewaspadai volatilitas. Faktor-faktor seperti rilis data ekonomi AS (seperti inflasi dan pengangguran), pernyataan pejabat The Fed, serta perkembangan geopolitik bisa memicu fluktuasi tajam harga emas dalam hitungan jam.

Untuk itu, pendekatan manajemen risiko sangat penting, terutama bagi investor yang aktif di pasar komoditas.

Kesimpulan: Koreksi Sehat dalam Tren yang Masih Positif

Pelemahan harga emas pada awal perdagangan Asia ini lebih mencerminkan koreksi teknikal yang sehat ketimbang perubahan fundamental. Aksi ambil untung oleh investor setelah kenaikan harga yang signifikan merupakan hal yang wajar dalam pasar keuangan.

Didukung oleh kebijakan moneter global yang akomodatif dan meningkatnya ketidakpastian geopolitik, daya tarik emas sebagai aset safe haven masih tetap kuat. Oleh karena itu, banyak pihak menilai bahwa koreksi ini justru membuka peluang beli bagi investor yang masih optimis terhadap logam mulia ini dalam jangka menengah hingga panjang.


Jangan lupa jelajahi website kami di demo bestprofit dan temukan beragam informasi menarik yang siap menginspirasi dan memberikan pengetahuan baru! Ayo, kunjungi sekarang untuk pengalaman online yang menyenangkan!


bestprofit futures
 

Sunday, 24 August 2025

Bestprofit | Pemangkasan Suku Bunga Angkat Emas

 https://best-profit-futures-malang.com/wp-content/uploads/2023/08/Bestprofit-Emas-5.jpeg

Bestprofit (25/8) – Harga emas kembali menunjukkan kekuatannya di tengah sentimen pasar yang mengarah pada kemungkinan pemangkasan suku bunga oleh Federal Reserve pada bulan September. Ketidakpastian ekonomi, sinyal dovish dari Ketua The Fed Jerome Powell, serta penurunan imbal hasil obligasi mendukung pergerakan harga emas mendekati level tertingginya. Berikut ulasan lengkap tentang perkembangan terbaru pasar emas.

Pernyataan Powell Menjadi Katalis Positif bagi Emas

Pada simposium tahunan Jackson Hole yang dihadiri para pembuat kebijakan ekonomi dunia, Ketua The Fed Jerome Powell menyampaikan pandangan yang lebih lunak terhadap kebijakan moneter ke depan. Dalam pidatonya, Powell menyebut bahwa perekonomian Amerika Serikat tengah menghadapi situasi yang menantang, terutama dari sisi pasar tenaga kerja. Ia juga mengisyaratkan bahwa jika kondisi pasar tenaga kerja terus melemah, pemangkasan suku bunga bisa menjadi langkah yang layak pada pertemuan FOMC berikutnya.

Pernyataan tersebut langsung disambut positif oleh pasar emas. Harga emas spot mencapai hampir $3.370 per troy ounce pada Senin pagi waktu Asia, memperpanjang kenaikan 1,1% dari hari Jumat sebelumnya. Pasar melihat sinyal dari Powell sebagai indikasi kuat bahwa The Fed mungkin akan mulai menurunkan suku bunga acuan pada bulan September, sesuatu yang secara historis mendukung penguatan logam mulia.

Penurunan Imbal Hasil Obligasi dan Pelemahan Dolar AS

Salah satu faktor utama yang memperkuat harga emas adalah penurunan imbal hasil obligasi pemerintah AS, terutama tenor 2 tahun yang sensitif terhadap ekspektasi suku bunga. Imbal hasil obligasi tenor pendek tersebut turun setelah pernyataan Powell, mencerminkan ekspektasi pasar bahwa kebijakan moneter yang lebih longgar akan segera diterapkan.

Selain itu, indeks kekuatan dolar AS (DXY) juga melemah sebagai respons atas sinyal dovish dari The Fed. Karena emas dihargai dalam dolar AS dan tidak memberikan imbal hasil tetap, pelemahan dolar dan turunnya yield obligasi membuat emas menjadi lebih menarik dibandingkan aset berbunga lainnya. Kombinasi kedua faktor ini mendorong permintaan emas, baik dari investor institusional maupun individu.


Kunjungi juga : bestprofit futures

Pasar Derivatif: Probabilitas Pemangkasan Suku Bunga Meningkat

Data dari pasar derivatif menunjukkan bahwa probabilitas pemangkasan suku bunga pada bulan September kini diperkirakan lebih dari 85%. Ini merupakan lonjakan signifikan dibandingkan beberapa minggu sebelumnya ketika The Fed masih menunjukkan sikap yang lebih hati-hati.

Namun, arah kebijakan setelah pemangkasan pertama masih belum jelas. The Fed tetap berhati-hati karena inflasi inti masih berada di atas target 2% yang ditetapkan bank sentral. Di sisi lain, data ketenagakerjaan mulai menunjukkan tanda-tanda pelemahan, dengan pertumbuhan pekerjaan melambat dan tingkat partisipasi tenaga kerja menurun.

Ketidakseimbangan antara tekanan inflasi dan perlambatan pasar tenaga kerja menjadi dilema tersendiri bagi The Fed. Dalam konteks ini, emas dipandang sebagai aset lindung nilai yang menarik, karena dapat melindungi nilai kekayaan investor dalam kondisi ketidakpastian ekonomi dan kebijakan moneter yang fluktuatif.

Kekhawatiran Inflasi Masih Membayangi

Meski ekspektasi pasar terhadap pelonggaran kebijakan moneter meningkat, kekhawatiran soal inflasi belum sepenuhnya hilang. Dalam pidatonya, Powell menyinggung bahwa kebijakan tarif impor, seperti yang diterapkan di masa pemerintahan Presiden Donald Trump, berpotensi memicu inflasi lebih sistematis di masa depan jika kembali diberlakukan.

Hal ini menunjukkan bahwa The Fed masih mempertimbangkan berbagai skenario yang bisa mempengaruhi arah inflasi. Jika tekanan inflasi kembali meningkat akibat faktor eksternal seperti perang dagang atau gangguan rantai pasok, maka ruang untuk penurunan suku bunga bisa kembali tertutup. Ini membuat arah kebijakan The Fed ke depan menjadi lebih kompleks dan data-dependent.

Kinerja Emas Sepanjang Tahun: Naik Lebih dari 25%

Sejak awal tahun 2025, harga emas telah meningkat lebih dari 25%, mencerminkan kekhawatiran pasar terhadap berbagai risiko ekonomi global. Tidak hanya faktor suku bunga dan inflasi, ketegangan geopolitik seperti konflik di Timur Tengah, ketegangan antara Tiongkok dan Taiwan, serta ketidakpastian politik menjelang pemilihan presiden AS juga berkontribusi terhadap naiknya permintaan akan aset safe haven seperti emas.

Selain itu, pembelian emas oleh bank sentral, khususnya dari negara-negara berkembang seperti Tiongkok, India, dan Rusia, juga menjadi pendorong utama harga. Bank sentral cenderung menambah cadangan emas sebagai diversifikasi dari dolar AS dan lindung nilai terhadap ketidakstabilan ekonomi global.

Hedge Fund Justru Kurangi Posisi Bullish

Meskipun harga emas mengalami kenaikan signifikan, data dari Commodity Futures Trading Commission (CFTC) menunjukkan bahwa posisi bullish dari hedge fund justru mengalami penurunan ke level terendah dalam enam minggu terakhir. Hal ini mengindikasikan bahwa sebagian investor besar mulai mengambil sikap lebih hati-hati, mungkin karena mengantisipasi aksi ambil untung atau volatilitas pasar dalam waktu dekat.

Namun, pengurangan posisi tersebut belum menunjukkan pembalikan tren secara menyeluruh. Banyak analis percaya bahwa koreksi harga dalam jangka pendek justru bisa menjadi peluang akumulasi, terutama jika The Fed benar-benar mulai memangkas suku bunga dan ketidakpastian ekonomi berlanjut.

Logam Mulia Lainnya Bergerak Datar

Di samping emas, logam mulia lainnya seperti perak, platinum, dan palladium juga menunjukkan pergerakan yang relatif stabil. Perak dan platinum diperdagangkan mendatar pada Senin pagi, sementara palladium sedikit menguat.

Meskipun logam-logam ini juga dipengaruhi oleh faktor makroekonomi global, pergerakan harganya cenderung lebih volatil dan dipengaruhi oleh permintaan industri. Perak misalnya, digunakan dalam sektor elektronik dan energi surya, sedangkan platinum dan palladium banyak digunakan di industri otomotif untuk katalisator.

Kesimpulan: Emas Masih Menjadi Pilihan Favorit di Tengah Ketidakpastian

Harga emas tetap kokoh di tengah ekspektasi pelonggaran kebijakan moneter AS dan melemahnya kekuatan dolar. Meskipun ada kekhawatiran mengenai inflasi dan sikap hati-hati dari investor institusional, tren jangka menengah hingga panjang masih mendukung penguatan harga emas.

Dengan meningkatnya ketegangan geopolitik, perlambatan ekonomi global, dan kemungkinan pemangkasan suku bunga oleh The Fed, logam mulia ini tetap menjadi aset safe haven pilihan di tengah ketidakpastian. Bagi investor, emas bisa menjadi bagian penting dari strategi diversifikasi portofolio dalam menghadapi kondisi pasar yang terus berubah.


Jangan lupa jelajahi website kami di demo bestprofit dan temukan beragam informasi menarik yang siap menginspirasi dan memberikan pengetahuan baru! Ayo, kunjungi sekarang untuk pengalaman online yang menyenangkan!


bestprofit futures
 

Thursday, 21 August 2025

Bestprofit | Emas Stabil Jelang Powell

 https://best-profit-futures-malang.com/wp-content/uploads/2023/08/Bestprofit-Emas-9.jpg

Bestprofit (22/8) – Para pelaku pasar global saat ini tengah menahan napas menjelang pidato penting Ketua Federal Reserve (The Fed) Jerome Powell yang dijadwalkan berlangsung pada Jumat mendatang di simposium Jackson Hole. Dalam situasi yang penuh ketidakpastian ini, harga emas cenderung bergerak mendatar, dengan emas spot tercatat di level $3.338,31 per ounce.

Fadi Al Kurdi, pendiri dan CEO FFA Kings, mengatakan bahwa pasar tengah berada dalam posisi “menunggu dan melihat”. Menurutnya, sinyal kebijakan moneter yang akan disampaikan oleh Powell — apakah akan bersifat dovish (cenderung longgar) atau hawkish (ketat) — dapat menjadi katalis besar bagi arah pasar keuangan dalam waktu dekat.

Jackson Hole: Momen Krusial bagi Kebijakan The Fed

Simposium Jackson Hole merupakan salah satu ajang paling ditunggu oleh pelaku pasar, ekonom, dan pembuat kebijakan di seluruh dunia. Dalam forum ini, pejabat tinggi bank sentral, termasuk Ketua The Fed, biasanya memberikan wawasan mengenai arah kebijakan moneter AS ke depan.

Jerome Powell dijadwalkan akan menyampaikan pidato utama pada Jumat pagi waktu setempat, dan spekulasi pun bermunculan. Apakah ia akan menunjukkan komitmen untuk menjaga pertumbuhan lapangan kerja di tengah perlambatan ekonomi global? Ataukah ia justru akan tetap fokus dalam perjuangan menekan inflasi, yang meskipun telah mereda dari puncaknya, masih berada di atas target jangka panjang Fed sebesar 2%?

“Ketidakpastian apakah Powell akan memberi sinyal komitmen yang lebih kuat untuk mendukung lapangan kerja atau menegaskan kembali perjuangan melawan inflasi dapat memengaruhi arah pasar,” jelas Fadi Al Kurdi. Ia menambahkan bahwa sikap yang lebih dovish bisa menjadi sentimen positif bagi logam mulia seperti emas.

Dovish vs. Hawkish: Dampaknya terhadap Harga Emas

Harga emas sangat sensitif terhadap arah kebijakan suku bunga The Fed. Dalam konteks ini, istilah dovish merujuk pada kebijakan yang cenderung longgar atau akomodatif, seperti penurunan suku bunga atau penghentian kenaikan suku bunga. Sebaliknya, kebijakan hawkish menandakan sikap yang lebih ketat, seperti menaikkan suku bunga untuk menekan inflasi.

Jika Powell mengisyaratkan pendekatan dovish — misalnya, dengan menyatakan bahwa The Fed mempertimbangkan pelonggaran moneter untuk mendukung pasar tenaga kerja — maka kemungkinan besar akan terjadi penurunan imbal hasil obligasi AS, serta pelemahan dolar AS. Kedua kondisi ini ideal bagi kenaikan harga emas, yang tidak memberikan bunga dan dihargai dalam dolar.

Namun jika Powell menegaskan kembali komitmen The Fed terhadap pengendalian inflasi, termasuk kemungkinan kenaikan suku bunga lanjutan, maka harga emas bisa tertekan.


Kunjungi juga : bestprofit futures

Emas Spot Bergerak Mendatar, Pasar Menahan Diri

Hingga Kamis pagi, harga emas spot tercatat stabil di $3.338,31 per ounce, menurut data Bloomberg. Pergerakan ini mencerminkan sikap hati-hati investor yang enggan mengambil posisi besar sebelum mendengar pidato Powell.

Dalam beberapa pekan terakhir, harga emas sempat mengalami volatilitas akibat data ekonomi AS yang beragam. Data ketenagakerjaan yang solid mendukung ekspektasi suku bunga tinggi lebih lama, sementara laporan inflasi yang lebih jinak menghidupkan harapan akan jeda dalam kenaikan suku bunga.

“Pasar emas saat ini berada dalam fase konsolidasi,” kata analis komoditas dari FXStreet. “Kondisi teknikal menunjukkan ada potensi breakout setelah pidato Powell, tergantung pada arah kebijakan moneter yang akan diambil.”

Strategi Investor: Lindung Nilai di Tengah Ketidakpastian

Emas telah lama dikenal sebagai aset safe haven — yaitu aset yang dicari saat ketidakpastian meningkat. Dalam situasi seperti sekarang, emas bukan hanya menjadi alat lindung nilai terhadap inflasi, tetapi juga terhadap ketidakpastian arah kebijakan The Fed dan potensi perlambatan ekonomi global.

“Investor institusional cenderung menambah posisi pada emas saat risiko geopolitik meningkat atau saat bank sentral diperkirakan akan mengubah arah kebijakan,” ujar Fadi Al Kurdi. “Jika Powell memberi sinyal bahwa The Fed akan lebih toleran terhadap inflasi demi mendukung pertumbuhan lapangan kerja, emas kemungkinan akan mendapat dorongan besar.”

Di sisi lain, banyak analis juga mengingatkan bahwa harga emas telah naik cukup signifikan sejak awal tahun, dan koreksi jangka pendek bisa terjadi jika ekspektasi pasar tidak sejalan dengan kenyataan.

Prospek Jangka Menengah: Emas di Tengah Transisi Ekonomi Global

Terlepas dari hasil pidato Powell, banyak pihak percaya bahwa kita sedang memasuki fase baru dalam siklus ekonomi global. Ketidakpastian geopolitik, perlambatan pertumbuhan di Tiongkok, serta transisi energi global turut menjadi faktor yang mendorong permintaan terhadap emas.

Beberapa bank investasi besar, seperti UBS dan Goldman Sachs, memperkirakan bahwa harga emas bisa menembus $3.500 per ounce pada akhir tahun jika The Fed mulai melonggarkan kebijakan dan data inflasi terus menurun.

Namun, semua itu tetap bergantung pada arah komunikasi The Fed, dan Jackson Hole menjadi titik penting untuk membaca sinyal tersebut.

Penutup: Semua Mata Tertuju pada Powell

Dengan pasar yang cenderung datar dan volatilitas yang rendah menjelang simposium Jackson Hole, tampaknya pelaku pasar global memilih untuk menunggu kepastian daripada berspekulasi.

Pidato Jerome Powell akan menjadi penentu arah pasar dalam beberapa minggu ke depan, terutama bagi pasar obligasi, mata uang, dan komoditas seperti emas. Satu pernyataan saja bisa mengubah persepsi pasar secara drastis.

Jika pidato tersebut bernada dovish, emas berpotensi untuk kembali menguat dan menembus level resistensi baru. Namun jika nada hawkish yang dominan, maka tekanan pada harga emas bisa terjadi, setidaknya dalam jangka pendek.

Untuk saat ini, satu hal yang pasti: ketidakpastian adalah satu-satunya kepastian, dan emas tetap menjadi aset utama bagi mereka yang mencari perlindungan dalam dunia yang penuh gejolak.


Jangan lupa jelajahi website kami di demo bestprofit dan temukan beragam informasi menarik yang siap menginspirasi dan memberikan pengetahuan baru! Ayo, kunjungi sekarang untuk pengalaman online yang menyenangkan!


bestprofit futures
 

Wednesday, 20 August 2025

Bestprofit | Emas Melemah Jelang Jackson Hole

 https://best-profit-futures-malang.com/wp-content/uploads/2024/07/c1_20240630_04500512-768x383-1.jpeg

Bestprofit (21/8) – Harga emas melemah tipis pada awal perdagangan Asia menjelang simposium Jackson Hole tiga hari yang dimulai Kamis. Analis memperkirakan bahwa pidato Ketua The Fed Jerome Powell akan memberikan arah baru bagi kebijakan moneter Amerika Serikat, terutama terkait potensi penurunan suku bunga.

Melemahnya Harga Emas di Awal Pekan

Pada perdagangan hari Kamis pagi waktu Asia, harga emas spot turun sebesar 0,2% menjadi $3.343,43 per ons. Pelemahan ini terjadi menjelang dimulainya simposium ekonomi tahunan yang diadakan oleh Federal Reserve Kansas City di Jackson Hole, Wyoming, yang berlangsung selama tiga hari.

Simposium ini dikenal sebagai salah satu forum utama bagi para bankir sentral, ekonom, dan pelaku pasar global untuk berdiskusi mengenai arah kebijakan ekonomi dan moneter dunia. Karena itu, pelaku pasar kerap menanti-nanti pidato utama dari para pemimpin bank sentral dunia, termasuk Ketua The Fed, Jerome Powell.

Jackson Hole: Pusat Perhatian Pasar Global

Simposium Jackson Hole bukan sekadar pertemuan akademik biasa. Dalam beberapa tahun terakhir, forum ini telah menjadi ajang penting bagi Federal Reserve dalam menyampaikan sinyal-sinyal kebijakan utama kepada pasar. Pidato-pidato di Jackson Hole kadang kala menjadi katalis pergerakan besar di pasar finansial global, termasuk pasar emas.

Analis senior Kitco.com, Jim Wyckoff, mengatakan bahwa pasar menanti pidato Powell yang dijadwalkan pada hari Jumat. Menurutnya, pidato tersebut “diperkirakan akan menjadi pembaruan kerangka kebijakan moneter bank sentral.”

Ia menambahkan, “Pidato Powell bisa memberi pasar perspektif baru tentang seberapa besar dukungan FOMC untuk menurunkan suku bunga AS pada September.”


Kunjungi juga : bestprofit futures

Hubungan Antara Suku Bunga dan Harga Emas

Salah satu alasan utama mengapa pidato Powell menjadi sangat penting bagi pasar emas adalah hubungan erat antara suku bunga dan harga emas. Emas merupakan aset yang tidak memberikan imbal hasil (non-yielding asset) seperti bunga atau dividen. Karena itu, ketika suku bunga tinggi, investor cenderung lebih memilih aset berbunga seperti obligasi karena memberikan return yang lebih baik daripada menyimpan emas.

Sebaliknya, jika The Fed memberikan sinyal untuk menurunkan suku bunga, maka daya tarik emas bisa meningkat karena kesempatan return dari aset lain menjadi lebih kecil. Oleh karena itu, jika Powell mengindikasikan bahwa Federal Reserve mulai mempertimbangkan pemangkasan suku bunga, maka harga emas bisa kembali menguat.

Skenario yang Ditunggu Pasar: Dovish atau Hawkish?

Dalam konteks kebijakan moneter, pasar kini sedang berusaha membaca apakah The Fed akan bersikap dovish (mendukung pelonggaran kebijakan) atau tetap hawkish (menjaga suku bunga tinggi dalam jangka panjang). Pidato Powell akan menjadi penentu arah pasar untuk jangka menengah.

Jika pidato Powell cenderung dovish — misalnya dengan menyampaikan kekhawatiran atas perlambatan ekonomi atau inflasi yang semakin terkendali — maka pelaku pasar akan menafsirkan hal tersebut sebagai sinyal kemungkinan penurunan suku bunga dalam waktu dekat. Ini bisa menjadi sentimen positif untuk emas.

Sebaliknya, jika Powell menyatakan bahwa inflasi masih jauh dari target 2% dan membutuhkan kebijakan suku bunga tinggi lebih lama lagi, maka harga emas berpotensi melanjutkan tekanan turun.

Faktor Global yang Mempengaruhi Emas

Selain fokus utama pada The Fed, pasar emas juga dipengaruhi oleh berbagai faktor global lain, seperti:

  • Kondisi ekonomi Tiongkok yang saat ini menghadapi tantangan perlambatan pertumbuhan, yang bisa berdampak pada permintaan emas fisik.

  • Ketegangan geopolitik, seperti konflik di Timur Tengah atau ketegangan antara Tiongkok dan Amerika Serikat, yang biasanya meningkatkan permintaan emas sebagai aset safe haven.

  • Nilai tukar dolar AS, yang memiliki korelasi terbalik dengan harga emas. Ketika dolar menguat, harga emas cenderung turun karena menjadi lebih mahal bagi pembeli non-dolar.

Data Inflasi dan Ekonomi AS Menjadi Pertimbangan

Menjelang simposium ini, pasar juga mencermati data-data ekonomi Amerika Serikat seperti:

  • Data inflasi (CPI dan PCE), yang menjadi indikator utama bagi kebijakan The Fed.

  • Data ketenagakerjaan, termasuk tingkat pengangguran dan pertumbuhan upah.

  • Data konsumsi dan pertumbuhan ekonomi (PDB), yang menunjukkan daya beli masyarakat.

Jika data-data tersebut menunjukkan perlambatan, maka kemungkinan besar The Fed akan mulai mempertimbangkan pelonggaran kebijakan. Ini tentu menjadi dukungan tambahan bagi harga emas dalam beberapa bulan mendatang.

Strategi Investor Menjelang Pidato Powell

Banyak investor cenderung wait and see menjelang pidato Powell. Volume perdagangan biasanya menurun karena pelaku pasar menghindari risiko spekulatif. Namun, beberapa investor jangka panjang justru melihat kondisi ini sebagai kesempatan untuk akumulasi emas di level harga yang lebih rendah.

Emas masih dianggap sebagai aset lindung nilai terhadap ketidakpastian ekonomi dan inflasi. Oleh karena itu, meskipun harga emas mengalami pelemahan jangka pendek, prospeknya tetap menarik bagi investor yang mencari stabilitas jangka panjang.

Proyeksi Harga Emas ke Depan

Dengan harga saat ini di kisaran $3.343,43 per ons, analis memperkirakan bahwa pergerakan selanjutnya akan sangat tergantung pada:

  1. Nada pidato Powell di Jackson Hole

  2. Data inflasi AS pada bulan September

  3. Keputusan suku bunga The Fed pada FOMC bulan depan

  4. Sentimen global dan permintaan emas fisik

Jika Powell memberikan sinyal dovish, maka harga emas bisa menguji kembali level resistance di kisaran $3.400 hingga $3.450. Namun, jika sinyal hawkish yang muncul, maka emas bisa turun menuju support kuat di bawah $3.300.

Kesimpulan: Menanti Kejelasan dari The Fed

Pelemahan tipis harga emas pada awal perdagangan Asia merupakan cerminan dari ketidakpastian pasar menjelang simposium Jackson Hole. Semua mata tertuju pada pidato Jerome Powell yang bisa menjadi sinyal arah suku bunga ke depan.

Dengan hubungan yang erat antara suku bunga dan harga emas, pidato ini diperkirakan akan menjadi pemicu utama pergerakan emas dalam jangka pendek hingga menengah. Bagi investor, saat-saat seperti ini menjadi waktu yang krusial untuk mengamati, mengevaluasi, dan menyusun strategi berdasarkan arah kebijakan moneter The Fed yang akan segera terungkap.


Jangan lupa jelajahi website kami di demo bestprofit dan temukan beragam informasi menarik yang siap menginspirasi dan memberikan pengetahuan baru! Ayo, kunjungi sekarang untuk pengalaman online yang menyenangkan!


bestprofit futures