Sunday, 1 February 2026

Bestprofit | Minyak Berbalik Turun Usai Reli 16%

 https://best-profit-futures-malang.com/wp-content/uploads/2026/01/compressed_Minyak-Melemah-Risiko-Gangguan-Kazakhstan-Mereda-1.jpg

Bestprofit (2/2) – Harga minyak mentah global jatuh tajam setelah sebelumnya mencatat kenaikan bulanan terbesar sejak 2022. Pasar yang dalam beberapa pekan terakhir “ngegas” karena ketegangan geopolitik kini mendadak mengerem. Pelaku pasar mulai menilai bahwa risiko gangguan pasokan yang sempat dikhawatirkan ternyata tidak terjadi dalam waktu dekat, sehingga premi risiko yang telanjur menempel di harga mulai dilepas.

Minyak Brent bergerak di kisaran US$68 per barel setelah melonjak sekitar 16% sepanjang bulan lalu, sementara WTI bertahan di atas US$63 per barel. Koreksi ini menandai perubahan sentimen yang cukup cepat: dari pasar yang digerakkan ketakutan geopolitik, kembali ke mode perhitungan ulang fundamental dan positioning.

Dari Euforia Geopolitik ke Mode Rem Mendadak

Reli minyak sebelumnya sebagian besar dipicu oleh kekhawatiran eskalasi konflik di Timur Tengah. Ancaman retorik, pergerakan militer, dan ketegangan diplomatik mendorong pasar mempricing skenario terburuk—yakni terganggunya pasokan dari kawasan yang menyumbang sekitar sepertiga produksi minyak dunia.

Namun, ketika skenario ekstrem tersebut tak kunjung terwujud, pasar mulai kehabisan alasan untuk mempertahankan harga tinggi. Alhasil, koreksi tajam pun terjadi. Pergerakan ini mencerminkan karakter pasar minyak yang sangat reaktif terhadap headline geopolitik, tetapi juga cepat berbalik arah ketika realisasi tidak sejalan dengan ketakutan awal.


Kunjungi juga : bestprofit futures

Nada Lebih Lunak Trump Redakan Premi Risiko

Salah satu pemicu utama perubahan sentimen datang dari pernyataan Donald Trump terkait Timur Tengah. Trump mengecilkan ancaman perang regional yang sebelumnya disuarakan oleh Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei. Ia juga kembali menegaskan harapannya bahwa kesepakatan dengan Iran masih memungkinkan untuk dicapai.

Nada yang lebih “soft” ini langsung ditangkap pasar sebagai sinyal de-eskalasi. Investor yang sebelumnya membeli minyak sebagai lindung nilai terhadap risiko konflik mulai melepas posisi. Premi risiko geopolitik yang sempat membengkak perlahan menguap, menekan harga kembali ke level yang lebih mencerminkan kondisi pasokan dan permintaan aktual.

Reset Positioning, Bukan Perubahan Fundamental

Menurut Haris Khurshid dari Karobaar Capital LP, penurunan harga minyak kali ini lebih menyerupai reset positioning ketimbang perubahan fundamental yang signifikan. Logikanya cukup sederhana: tanpa kejutan pasokan baru, harga minyak hanya mengoreksi premi risiko yang sebelumnya dipasang terlalu agresif.

Banyak trader dan fund manager sebelumnya mengambil posisi long untuk mengantisipasi skenario gangguan pasokan. Ketika skenario itu tak terjadi, posisi-posisi tersebut menjadi rentan untuk dibalik. Penurunan harga yang terjadi pun lebih mencerminkan arus keluar posisi spekulatif ketimbang perubahan drastis dalam keseimbangan pasar fisik.

Diplomasi Eropa Timur Masih Jadi Variabel Penting

Selain Timur Tengah, pasar juga mencermati perkembangan konflik di Eropa Timur. Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskiy menyebutkan bahwa pertemuan trilateral berikutnya antara Amerika Serikat, Rusia, dan Ukraina dijadwalkan berlangsung pada 4–5 Februari di Abu Dhabi.

Meski demikian, pasar belum melihat adanya terobosan signifikan. Perang yang kini mendekati tahun kelima tetap menjadi faktor struktural penting, terutama karena sanksi terhadap perdagangan minyak Rusia masih membayangi. Selama sanksi tersebut belum sepenuhnya dicabut, pasokan global tetap berada dalam kondisi “setengah normal”—cukup untuk mencegah lonjakan ekstrem, tetapi tidak cukup longgar untuk menghilangkan sensitivitas harga.

Dari Ketakutan Gangguan Pasokan ke Cerita Surplus Global

Menariknya, reli minyak sebelumnya terjadi di tengah narasi yang bertolak belakang. Di satu sisi, pasar takut pasokan terganggu akibat konflik geopolitik. Di sisi lain, dunia juga sedang menghadapi potensi surplus pasokan global, terutama dari produksi non-OPEC yang masih kuat.

Amerika Serikat, Brasil, dan Guyana terus menambah kapasitas produksi, sementara pertumbuhan permintaan global menunjukkan tanda-tanda melambat, khususnya dari China. Ketika ketegangan geopolitik mereda, perhatian pasar otomatis kembali ke cerita lama ini: apakah dunia sebenarnya kelebihan minyak?

Sikap OPEC+ Tetap Jadi Penopang, Tapi Bukan Pendorong

Di luar faktor geopolitik, sentimen pasar juga dipengaruhi oleh keputusan OPEC+ yang mempertahankan rencana produksi tetap pada Maret, sebagai bagian terakhir dari kebijakan “freeze” tiga bulan. Meski harga sempat naik tajam, kartel memilih tidak mengubah strategi dalam waktu dekat.

Keputusan ini memberikan stabilitas, tetapi tidak cukup kuat untuk menopang harga di tengah arus jual spekulatif. Bagi trader, sikap OPEC+ lebih berfungsi sebagai “lantai” harga jangka menengah, bukan katalis untuk reli lanjutan.

Efek Domino dari Koreksi Aset Lain

Koreksi tajam di pasar logam mulia—terutama emas dan perak—juga ikut memengaruhi sentimen di pasar energi. Penurunan tajam tersebut memicu mode recalibrate risk di berbagai kelas aset. Investor mulai menurunkan eksposur terhadap posisi yang sebelumnya terlalu padat dan sensitif terhadap volatilitas.

Dalam konteks ini, minyak tidak berdiri sendiri. Ia menjadi bagian dari gelombang penyesuaian risiko yang lebih luas, di mana pelaku pasar berusaha menyeimbangkan kembali portofolio setelah periode pergerakan ekstrem.

Pasar Kembali ke Mode Hitung-Hitungan

Pada pukul 08:07 waktu Singapura, harga Brent tercatat turun sekitar 2,4% ke US$67,64 per barel, sementara WTI melemah 2,6% ke US$63,54 per barel. Angka ini menjadi sinyal bahwa pasar mulai membuang premi risiko dan kembali ke mode perhitungan rasional.

Ke depan, arah harga minyak akan sangat bergantung pada dua hal utama: apakah ketegangan geopolitik kembali memanas, dan bagaimana realisasi keseimbangan pasokan-permintaan global. Tanpa kejutan baru, pasar cenderung bergerak lebih datar dengan volatilitas yang tetap tinggi, tetapi tanpa bias naik yang sekuat bulan lalu.

Kesimpulan: Dari Emosi ke Realitas Pasar

Koreksi harga minyak saat ini menegaskan satu hal penting: reli berbasis ketakutan jarang bertahan lama tanpa konfirmasi nyata. Ketika emosi pasar mereda, realitas fundamental kembali mengambil alih. Dalam kondisi seperti ini, harga minyak tidak lagi digerakkan oleh headline semata, melainkan oleh perhitungan ulang risiko, suplai, dan permintaan global.

Bagi pelaku pasar, fase ini menuntut disiplin dan kehati-hatian. Volatilitas masih akan menjadi ciri utama, tetapi arah pergerakan kemungkinan lebih ditentukan oleh data dan kebijakan nyata ketimbang retorika geopolitik.


Jangan lupa jelajahi website kami di demo bestprofit dan temukan beragam informasi menarik yang siap menginspirasi dan memberikan pengetahuan baru! Ayo, kunjungi sekarang untuk pengalaman online yang menyenangkan!
bestprofit futures