
Bestprofit (10/8) – Harga emas masih mampu bertahan di atas level US$4.300 per troy ons pada perdagangan Senin, 10 Agustus 2026. Setelah mencatat lonjakan lebih dari 7% sepanjang pekan lalu—kenaikan mingguan terbesar sejak akhir Januari—pergerakan emas kini mulai lebih tenang karena sebagian investor memilih merealisasikan keuntungan.
Harga emas spot sempat berada di sekitar US$4.330 per troy ons pada Senin, turun sekitar 0,3% dari sesi sebelumnya. Sementara itu, kontrak berjangka emas AS melemah sekitar 0,2% menjadi US$4.390,60 per troy ons. Penurunan tersebut dinilai lebih sebagai aksi ambil untung setelah reli tajam, bukan tanda bahwa tren bullish emas telah berakhir.
Reli Emas Mulai Terhenti Setelah Kenaikan Tajam
Kenaikan emas sepanjang pekan lalu terutama dipicu oleh perubahan besar dalam ekspektasi pasar terhadap kebijakan moneter Amerika Serikat. Data ketenagakerjaan AS yang lebih lemah dari perkiraan membuat investor kembali memperhitungkan kemungkinan kebijakan suku bunga yang lebih longgar dari Federal Reserve atau The Fed.
Setelah reli lebih dari 7%, wajar apabila sebagian pelaku pasar melakukan aksi ambil untung. Kenaikan harga yang sangat cepat biasanya diikuti periode konsolidasi ketika investor mengamankan sebagian keuntungan sambil menunggu katalis baru.
Kondisi tersebut terlihat pada perdagangan Senin. Meskipun emas mengalami koreksi, harga masih bertahan di atas US$4.300 per troy ons. Reuters mencatat analis melihat pelemahan tersebut sebagai stabilisasi alami setelah reli, dengan level US$4.300 masih menjadi area penting bagi harga emas.
Kunjungi juga : bestprofit futures
Data Tenaga Kerja AS Jadi Pemicu Utama
Faktor terbesar di balik penguatan emas adalah memburuknya indikator pasar tenaga kerja Amerika Serikat.
Data nonfarm payrolls atau NFP Juli menunjukkan jumlah pekerjaan di AS mengalami penurunan. Pada saat yang sama, data dua bulan sebelumnya juga mengalami revisi ke bawah. Kombinasi tersebut memberikan sinyal bahwa kondisi pasar tenaga kerja AS mulai kehilangan momentum.
Bagi pasar keuangan, perkembangan ini penting karena kekuatan pasar tenaga kerja merupakan salah satu pertimbangan utama The Fed dalam menentukan kebijakan suku bunga. Ketika pertumbuhan lapangan kerja melemah, tekanan bagi bank sentral untuk mempertahankan kebijakan moneter ketat juga dapat berkurang.
Pasar kemudian mengurangi ekspektasi terhadap kemungkinan kenaikan suku bunga dalam waktu dekat. Perubahan ekspektasi tersebut langsung memberikan dukungan bagi aset seperti emas.
Sebelumnya, data pekerjaan yang lebih lemah pada Juni juga menunjukkan pola serupa. NFP Juni hanya bertambah 57.000 pekerjaan, jauh di bawah perkiraan 110.000, sementara angka Mei direvisi turun dari 172.000 menjadi 129.000.
Suku Bunga dan Dolar AS Menjadi Penopang Emas
Hubungan antara suku bunga dan harga emas menjadi salah satu kunci untuk memahami reli terbaru.
Emas tidak menghasilkan bunga atau dividen. Karena itu, ketika suku bunga tinggi, investor mempunyai insentif lebih besar untuk menempatkan dana pada aset yang memberikan imbal hasil. Sebaliknya, ketika ekspektasi suku bunga turun, biaya peluang memegang emas ikut berkurang.
Pelemahan dolar AS juga menjadi faktor pendukung. Setelah data tenaga kerja keluar, dolar mengalami tekanan sehingga emas menjadi relatif lebih murah bagi pemegang mata uang selain dolar. Kondisi tersebut dapat meningkatkan permintaan terhadap logam mulia di pasar global.
Dengan demikian, kombinasi dolar yang melemah dan ekspektasi kebijakan moneter yang lebih longgar menciptakan lingkungan yang positif bagi emas.
Namun, pasar belum sepenuhnya menentukan arah kebijakan The Fed. Perhatian kini beralih ke serangkaian data inflasi AS yang akan dirilis pekan ini. Data CPI dan PPI akan menjadi indikator penting untuk menilai apakah tekanan harga masih cukup tinggi untuk membuat The Fed mempertahankan kebijakan ketat.
Investor Institusi Masih Mempertahankan Sentimen Bullish
Selain faktor makroekonomi, permintaan investasi terhadap emas juga masih menunjukkan kekuatan.
Hedge fund dan manajer investasi meningkatkan posisi bullish mereka di emas ke level tertinggi dalam lebih dari enam bulan. Perkembangan ini menunjukkan bahwa kenaikan harga emas belum sepenuhnya dianggap sebagai reli jangka pendek.
Di China, minat terhadap emas juga tetap tinggi. Arus dana ke ETF berbasis emas kembali meningkat, menandakan investor memanfaatkan koreksi harga untuk melakukan pembelian.
Pola buy the dip tersebut menjadi sinyal penting. Ketika investor bersedia membeli emas setiap kali harga mengalami penurunan, tekanan jual dari aksi ambil untung dapat lebih mudah diserap oleh permintaan baru.
Bank Sentral China Terus Menambah Cadangan Emas
Permintaan emas dari sektor resmi juga menjadi salah satu fondasi penting pasar dalam jangka panjang.
Bank sentral China atau People’s Bank of China (PBOC) melanjutkan pembelian emas pada Juli. Berdasarkan laporan terbaru, cadangan emas China bertambah sekitar 19,9 ton atau hampir 640 ribu troy ons. Pembelian tersebut memperpanjang tren akumulasi emas menjadi 21 bulan berturut-turut.
Sebelumnya, pada Juni, PBOC menambah sekitar 15 ton emas dan memperpanjang pembelian selama 20 bulan berturut-turut. Pada akhir Juni, kepemilikan emas China mencapai sekitar 75,44 juta troy ons atau 2.346 ton.
Konsistensi pembelian tersebut menunjukkan bahwa bank sentral China tidak terlalu terpengaruh oleh fluktuasi harga jangka pendek. Bagi bank sentral, emas memiliki fungsi strategis sebagai diversifikasi cadangan devisa dan aset yang dapat mengurangi ketergantungan pada aset berbasis dolar.
Tren pembelian bank sentral juga menjadi salah satu faktor yang membantu menopang pasar emas dalam jangka panjang. World Gold Council mencatat bank sentral global tetap aktif membeli emas, dengan pembelian bersih mencapai 41 ton pada Mei 2026.
Risiko Geopolitik Masih Menjadi Penopang Permintaan Safe Haven
Selain suku bunga dan permintaan investasi, ketidakpastian geopolitik masih memberikan dukungan terhadap emas sebagai aset safe haven.
Situasi di Timur Tengah belum sepenuhnya stabil. Iran dan Oman masih berupaya mencapai kesepakatan mengenai jalur pelayaran di Selat Hormuz, tetapi pembukaan kembali jalur tersebut belum mendapatkan kepastian penuh. Iran bahkan mengaitkan pembukaan kembali selat dengan sejumlah tuntutan kepada Amerika Serikat.
Pada saat yang sama, kelompok Houthi yang bersekutu dengan Iran kembali meningkatkan ancaman terhadap infrastruktur dan jalur perdagangan di kawasan. Perkembangan tersebut meningkatkan kekhawatiran mengenai keamanan pasokan energi dan perdagangan global.
Bagi emas, ketegangan geopolitik seperti ini dapat meningkatkan permintaan karena investor mencari aset yang dianggap mampu menjadi pelindung ketika risiko ekonomi dan politik meningkat.
Data Inflasi AS Jadi Penentu Arah Berikutnya
Setelah reli besar pekan lalu, pasar emas kini menghadapi ujian berikutnya. Data inflasi AS akan menjadi perhatian utama karena dapat mengubah kembali ekspektasi terhadap kebijakan The Fed.
Jika inflasi menunjukkan tanda-tanda mereda, peluang kebijakan moneter yang lebih longgar dapat semakin besar. Skenario tersebut berpotensi menekan dolar dan imbal hasil obligasi sekaligus meningkatkan daya tarik emas.
Sebaliknya, jika inflasi kembali lebih tinggi dari perkiraan, investor dapat mengurangi ekspektasi terhadap pelonggaran kebijakan The Fed. Kondisi tersebut berpotensi memberikan tekanan terhadap emas setelah kenaikan tajam sebelumnya.
Untuk sementara, posisi emas di atas US$4.300 menunjukkan bahwa pasar masih memiliki keyakinan terhadap prospek logam mulia. Koreksi pada Senin lebih mencerminkan aksi ambil untung daripada perubahan fundamental yang signifikan.
Jangan lupa jelajahi website kami di demo bestprofit dan temukan beragam informasi menarik yang siap menginspirasi dan memberikan pengetahuan baru! Ayo, kunjungi sekarang untuk pengalaman online yang menyenangkan!
bestprofit futures