Thursday, 17 September 2026

Bestprofit | Bunga The Fed Naik, Emas Kembali ke US$4.345

 https://best-profit-futures-malang.com/wp-content/uploads/2024/03/Gold-Emas.jpg

Bestprofit (18/9) – Harga emas kembali menguat pada perdagangan Jumat (18/9), melanjutkan pemulihan setelah sebelumnya menyentuh level terendah dalam enam pekan. Harga emas spot (XAU/USD) terbaru diperdagangkan di sekitar US$4.343 per troy ounce pada sesi Asia.

Penguatan tersebut terjadi ketika sejumlah faktor mulai memberikan dukungan terhadap logam mulia. Pelemahan dolar AS dan penurunan harga minyak menjadi dua katalis utama yang membantu mengurangi tekanan terhadap emas. Di saat yang sama, investor masih mencermati perkembangan geopolitik di Timur Tengah serta arah kebijakan moneter Federal Reserve atau The Fed.

Pergerakan emas saat ini menunjukkan tarik-menarik antara faktor yang mendukung permintaan aset safe haven dan tekanan dari kebijakan moneter AS yang masih relatif ketat.

Pelemahan Dolar AS Dukung Harga Emas

Salah satu faktor utama yang membantu emas kembali menguat adalah pelemahan dolar AS. Sebagai komoditas yang dihargai dalam dolar, emas cenderung memperoleh dukungan ketika mata uang AS melemah karena harga emas menjadi relatif lebih murah bagi investor yang menggunakan mata uang lain.

Pergerakan dolar juga menjadi perhatian penting setelah pasar sebelumnya merespons keputusan kebijakan The Fed. Penguatan dolar dan kenaikan imbal hasil Treasury sempat memberikan tekanan terhadap harga emas.

Namun, ketika dolar mulai kehilangan momentum dan imbal hasil obligasi AS bergerak turun dari level tertingginya, tekanan tersebut mulai berkurang. Kondisi ini membuka ruang bagi investor untuk kembali meningkatkan eksposur terhadap emas.

Dalam jangka pendek, arah dolar AS masih akan menjadi salah satu indikator penting bagi pergerakan XAU/USD. Pelemahan dolar dapat memberikan dorongan tambahan, sedangkan penguatan dolar berpotensi kembali membatasi kenaikan harga emas.


Kunjungi juga : bestprofit futures

Harga Minyak Turun, Kekhawatiran Inflasi Mereda

Selain dolar AS, penurunan harga minyak turut memberikan sentimen positif bagi pasar emas. Harga energi melemah setelah muncul tanda-tanda bahwa gangguan pasokan di Timur Tengah berpotensi berkurang.

Arab Saudi disebut tengah berupaya memulihkan sebagian aliran minyak melalui jalur pipa strategis. Perkembangan tersebut membantu meredakan kekhawatiran pasar terhadap gangguan pasokan energi yang berpotensi mendorong harga minyak lebih tinggi.

Penurunan harga energi memiliki implikasi terhadap ekspektasi inflasi global. Kenaikan harga minyak biasanya dapat meningkatkan biaya transportasi, produksi, dan berbagai kebutuhan lainnya sehingga berpotensi menambah tekanan inflasi.

Sebaliknya, apabila harga energi mulai stabil atau turun, tekanan inflasi dapat berkurang. Kondisi tersebut dapat memberikan ruang bagi bank sentral untuk mempertimbangkan kebijakan yang lebih fleksibel apabila data ekonomi mendukung.

Bagi emas, perkembangan tersebut menjadi penting karena ekspektasi inflasi dan kebijakan suku bunga memiliki hubungan erat dengan daya tarik logam mulia sebagai aset lindung nilai.

Risiko Geopolitik Timur Tengah Masih Menjadi Perhatian

Meskipun tekanan dari sisi inflasi mulai mereda, risiko geopolitik di Timur Tengah masih menjadi faktor yang diperhatikan investor.

Presiden AS Donald Trump dijadwalkan bertemu dengan para pemimpin negara-negara Teluk di sela Sidang Majelis Umum PBB di New York. Pertemuan tersebut akan membahas perkembangan konflik yang melibatkan Iran serta upaya mencari solusi terhadap ketegangan di kawasan.

Harapan terhadap tercapainya kesepakatan atau langkah diplomatik dapat membantu meredakan ketidakpastian pasar. Namun, selama risiko konflik masih ada, investor tetap memiliki alasan untuk mempertahankan aset yang dianggap dapat berfungsi sebagai pelindung ketika volatilitas meningkat.

Emas secara historis sering menjadi salah satu aset yang mendapat perhatian ketika ketidakpastian geopolitik meningkat. Karena itu, perkembangan di Timur Tengah masih berpotensi memengaruhi permintaan emas dalam jangka pendek.

Namun, respons harga emas terhadap risiko geopolitik tidak selalu bergerak satu arah. Jika ketegangan mereda secara signifikan, permintaan terhadap aset safe haven dapat berkurang. Sebaliknya, eskalasi konflik dapat meningkatkan kembali perhatian terhadap emas.

Kebijakan The Fed Masih Menjadi Tantangan

Di tengah sejumlah faktor pendukung tersebut, emas masih menghadapi tantangan dari kebijakan moneter Federal Reserve.

The Fed menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin ke kisaran 3,75%–4,00% dan memberikan sinyal bahwa kenaikan tambahan masih mungkin dilakukan pada tahun ini. Ekspektasi pasar terhadap kemungkinan kenaikan suku bunga lanjutan pada pertemuan Oktober juga meningkat.

Suku bunga yang lebih tinggi cenderung menjadi tekanan bagi emas karena logam mulia tidak memberikan imbal hasil seperti obligasi atau instrumen berbasis bunga. Ketika imbal hasil aset berbunga meningkat, sebagian investor dapat mengurangi alokasi terhadap emas.

Inilah yang membuat prospek kenaikan emas masih menghadapi batasan. Meskipun dolar AS melemah dan imbal hasil Treasury turun, perubahan ekspektasi terhadap kebijakan The Fed dapat dengan cepat mengubah arah pasar.

Investor kini akan memperhatikan data ekonomi AS untuk menilai apakah bank sentral masih memiliki ruang untuk mempertahankan kebijakan ketat atau justru perlu mempertimbangkan pendekatan yang lebih longgar.

Emas Berusaha Memulihkan Tekanan Sebelumnya

Setelah keputusan The Fed, harga emas sempat mengalami tekanan. Respons tersebut terjadi seiring penguatan dolar AS dan kenaikan imbal hasil Treasury.

Kondisi tersebut mencerminkan bagaimana pasar emas sangat sensitif terhadap perubahan ekspektasi suku bunga. Ketika investor memperkirakan suku bunga AS akan tetap tinggi dalam waktu lebih lama, biaya peluang memegang emas meningkat.

Namun, tekanan mulai berkurang ketika dolar AS melemah dan imbal hasil Treasury bergerak turun dari level tertingginya. Perubahan tersebut memberikan kesempatan bagi emas untuk kembali mendapatkan momentum.

Pemulihan harga pada perdagangan Jumat menunjukkan bahwa investor mulai menyeimbangkan kembali sejumlah faktor yang memengaruhi pasar. Kebijakan moneter The Fed tetap menjadi sumber tekanan, tetapi pelemahan dolar, penurunan imbal hasil, harga minyak yang lebih rendah, serta risiko geopolitik memberikan dukungan dari sisi lain.

Analisis Newsmaker: Arah Emas Masih Bergantung pada Dolar dan Suku Bunga

Kenaikan emas hari ini menunjukkan bahwa pasar mulai menyeimbangkan dampak kebijakan hawkish The Fed dengan faktor pendukung lainnya. Pelemahan dolar AS dan penurunan imbal hasil Treasury menjadi katalis yang membantu mengurangi tekanan terhadap logam mulia.

Dalam jangka pendek, emas kemungkinan tetap sensitif terhadap perubahan ekspektasi suku bunga AS. Data inflasi, pasar tenaga kerja, aktivitas ekonomi, serta pernyataan pejabat The Fed akan menjadi perhatian investor karena dapat memengaruhi arah kebijakan moneter berikutnya.

Jika The Fed mempertahankan sikap agresif dan pasar semakin memperkirakan kenaikan suku bunga, ruang penguatan emas dapat terbatas. Sebaliknya, apabila data ekonomi AS mulai menunjukkan pelemahan dan tekanan terhadap dolar berlanjut, emas dapat memperoleh dukungan lebih besar.

Dengan demikian, pemulihan harga emas pada perdagangan Jumat belum serta-merta menghilangkan risiko koreksi. Pergerakan selanjutnya akan sangat bergantung pada keseimbangan antara kebijakan moneter AS, arah dolar dan imbal hasil Treasury, kondisi inflasi global, serta perkembangan geopolitik.


Jangan lupa jelajahi website kami di demo bestprofit dan temukan beragam informasi menarik yang siap menginspirasi dan memberikan pengetahuan baru! Ayo, kunjungi sekarang untuk pengalaman online yang menyenangkan!
bestprofit futures