Wednesday, 8 October 2025

Bestprofit | Emas Tembus Rekor, Lalu Terkoreksi

 https://best-profit-futures-malang.com/wp-content/uploads/2024/03/Gold-Emas.jpg

Bestprofit (9/10) – Emas turun ±0,7% pada awal sesi Asia Kamis (9/10), setelah reli empat hari beruntun. Koreksi ini terjadi usai harga emas mencetak rekor baru di atas $4.000 per ons troy. Meskipun mengalami penurunan, logam mulia ini masih mencatatkan kenaikan lebih dari 50% sepanjang tahun 2025.

Rekor Baru dan Aksi Ambil Untung

Pada Rabu (8/10), harga emas mencatatkan kenaikan harian sebesar 1,4% hingga menembus rekor di atas $4.040/oz, memperpanjang reli empat hari berturut-turut yang telah mengangkat harga ke level tertinggi dalam sejarah. Namun, memasuki awal sesi Asia pada Kamis pagi (9/10), harga spot emas turun tipis sekitar 0,7% ke level $4.014,24.

Penurunan ini sebagian besar disebabkan oleh aksi taking profit atau ambil untung dari para investor, yang melihat potensi koreksi teknikal setelah emas berada dalam kondisi overbought (jenuh beli) hampir sepanjang satu bulan terakhir. Beberapa indikator teknikal seperti RSI (Relative Strength Index) menunjukkan level yang ekstrem, yang secara historis kerap diikuti oleh koreksi harga.

“Pasar emas telah mengalami reli luar biasa selama beberapa minggu terakhir. Koreksi kecil ini sangat wajar secara teknikal,” ujar analis komoditas dari Asia Futures Capital.


Kunjungi juga : bestprofit futures

Faktor-Faktor yang Menggerakkan Harga Emas

1. Ketidakpastian Geopolitik dan Ekonomi Global

Lonjakan harga emas tahun ini terutama didorong oleh ketidakpastian global yang belum mereda. Ketegangan geopolitik, isu perdagangan internasional, dan kekhawatiran terhadap resesi global menjadi faktor utama yang mendorong investor beralih ke aset safe haven seperti emas.

Di sepanjang 2025, pasar global telah dihantui oleh konflik dagang antara AS dan Tiongkok, krisis utang di beberapa negara berkembang, serta gejolak politik dalam negeri di sejumlah negara maju.

2. Debat soal Independensi The Fed dan Stabilitas Fiskal AS

Polemik seputar independensi Federal Reserve dari tekanan politik juga turut memberikan dorongan ke pasar emas. Beberapa pejabat tinggi AS sempat melontarkan kritik terbuka terhadap arah kebijakan moneter, yang dinilai terlalu longgar dan berpotensi memicu inflasi jangka panjang.

Selain itu, kekhawatiran terhadap stabilitas fiskal AS, terutama terkait dengan besarnya defisit anggaran dan utang nasional, turut membuat investor meragukan daya tahan dolar AS sebagai penyimpan nilai jangka panjang. Hal ini menyebabkan banyak pihak melirik emas sebagai alternatif pelindung nilai (hedge).

3. Pembelian Agresif oleh Bank Sentral

Bank sentral di berbagai belahan dunia, terutama negara-negara berkembang, mencatatkan pembelian emas dalam jumlah besar sepanjang 2025. Langkah ini dilakukan sebagai strategi diversifikasi cadangan devisa dan perlindungan terhadap risiko nilai tukar serta inflasi global.

Menurut data dari World Gold Council, beberapa negara Asia dan Timur Tengah menjadi pembeli emas terbesar tahun ini. Pembelian agresif dari institusi resmi ini telah menciptakan permintaan struktural yang menopang harga emas di tengah fluktuasi pasar.

Faktor Geopolitik Mereda, Daya Tarik Safe Haven Menurun

Meskipun harga emas masih berada di level tinggi, sebagian daya tarik sebagai safe haven mulai menurun. Pernyataan Presiden AS Donald Trump yang menyebut bahwa kesepakatan damai di Timur Tengah “sangat dekat” menjadi salah satu katalis yang menenangkan pasar.

Pernyataan ini didukung oleh sinyal positif dari pejabat Israel dan Hamas, yang mengindikasikan adanya kemajuan dalam negosiasi damai yang dimediasi oleh Mesir. Jika perundingan ini benar-benar membuahkan hasil, maka ketegangan di wilayah tersebut—yang sebelumnya menjadi faktor pendorong harga emas—berpotensi mereda.

Meski begitu, analis tetap berhati-hati. “Ketegangan geopolitik bisa berubah sangat cepat. Walau ada sinyal positif saat ini, belum ada kepastian final. Investor tetap waspada dan menahan sebagian alokasi asetnya di emas,” kata seorang analis dari Global Macro Insight.

Pasar Logam Lain Ikut Melemah

Bukan hanya emas yang mengalami koreksi. Logam mulia lainnya seperti platinum dan paladium juga mencatatkan penurunan harga tipis setelah sebelumnya mengalami reli. Meski demikian, pasar kedua logam ini tetap ketat karena permintaan industri dan dukungan dari arus dana ETF (Exchange Traded Funds).

  • Platinum turun sekitar 0,5% dalam perdagangan pagi, meskipun permintaan dari sektor otomotif dan energi hijau masih kuat.

  • Paladium juga terkoreksi tipis, namun tetap dalam tren positif akibat pasokan yang terbatas dari produsen utama seperti Rusia dan Afrika Selatan.

Sementara itu, perak juga ikut turun, tetapi tetap bertahan dekat level tertingginya dalam beberapa dekade terakhir. Perak kerap mengikuti tren harga emas, tetapi juga mendapat dukungan dari permintaan industri, khususnya sektor elektronik dan energi terbarukan.

Stabilitas Dolar dan Pengaruh Terhadap Harga Emas

Pada saat harga emas terkoreksi, Bloomberg Dollar Spot Index tercatat nyaris tidak berubah. Stabilnya dolar AS di pasar global menahan laju emas untuk rebound lebih tinggi. Secara historis, ada hubungan terbalik antara dolar dan emas: ketika dolar menguat, harga emas cenderung turun karena menjadi lebih mahal bagi pemegang mata uang lain.

Namun, stabilitas dolar saat ini dinilai lebih disebabkan oleh posisi wait and see dari investor menjelang data ekonomi utama AS yang akan dirilis dalam beberapa hari mendatang, termasuk data inflasi dan tenaga kerja.

Prospek Harga Emas ke Depan

Meskipun mengalami koreksi tipis, prospek jangka menengah hingga panjang emas masih dianggap positif oleh banyak analis. Kombinasi dari ketidakpastian global, potensi pelemahan dolar, dan permintaan institusional tetap menjadi fondasi kuat bagi harga logam mulia ini.

Beberapa proyeksi bahkan menyebutkan bahwa harga emas bisa menembus $4.200–$4.300/oz dalam beberapa bulan ke depan, terutama jika terjadi eskalasi baru dalam konflik geopolitik atau pelemahan tajam di pasar keuangan global.

Namun, investor juga diingatkan bahwa volatilitas akan tetap tinggi, dan koreksi seperti saat ini dapat terjadi sewaktu-waktu sebagai bagian dari konsolidasi pasar.

Kesimpulan

Emas mengalami koreksi tipis setelah menembus rekor harga sepanjang masa di atas $4.000/oz. Koreksi ini wajar terjadi karena kondisi teknikal yang jenuh beli dan aksi ambil untung dari investor. Meskipun terjadi pelemahan, fundamental jangka panjang emas tetap solid berkat ketidakpastian global, kebijakan moneter longgar, serta pembelian dari bank sentral.

Sementara sebagian daya tarik safe haven sempat mereda karena perkembangan positif di Timur Tengah, pasar tetap waspada terhadap potensi perubahan situasi geopolitik. Logam mulia lain seperti platinum, paladium, dan perak juga ikut terkoreksi namun masih dalam tren kuat.

Ke depan, prospek emas masih positif, dengan potensi mencetak rekor-rekor baru jika sentimen pasar kembali memburuk. Investor disarankan tetap mencermati kondisi makro global dan tidak terlalu terpaku pada pergerakan harian yang fluktuatif.

 
Jangan lupa jelajahi website kami di demo bestprofit dan temukan beragam informasi menarik yang siap menginspirasi dan memberikan pengetahuan baru! Ayo, kunjungi sekarang untuk pengalaman online yang menyenangkan!


bestprofit futures
 

Tuesday, 7 October 2025

Bestprofit | Shutdown Dorong Emas

 https://best-profit-futures-malang.com/wp-content/uploads/2024/07/c1_20240630_04500512-768x383-1.jpeg

Bestprofit (8/10) – Rabu, 8 Oktober 2025 menjadi hari yang bersejarah bagi pasar komoditas global. Harga emas spot kembali mendekati level psikologis penting di $4.000 per ons troy, menyentuh rekor intraday sekitar $3.990, sebelum akhirnya ditutup sedikit di bawahnya. Sementara itu, kontrak berjangka emas Desember di New York yang paling aktif kembali menembus angka $4.000, mengukuhkan tren bullish yang telah berlangsung sejak kuartal ketiga tahun ini.

Reli ini memperpanjang status emas sebagai aset safe haven utama di tengah ketidakpastian ekonomi dan politik global, dengan kombinasi faktor teknikal dan fundamental yang mendukung lonjakan harga.

Tekanan di Pasar Saham dan Ketidakpastian Politik Dorong Permintaan Emas

Salah satu pemicu kuat dalam reli harga emas minggu ini adalah tekanan signifikan yang dialami oleh sektor teknologi, khususnya setelah laporan margin cloud Oracle yang lebih rendah dari ekspektasi. Kinerja buruk saham Oracle menular ke saham teknologi lain, memicu rotasi portofolio dari ekuitas ke aset safe haven seperti emas.

Selain itu, penutupan pemerintahan AS yang berkepanjangan turut memperkuat ketidakpastian pasar. Penutupan ini tidak hanya mengganggu layanan publik, tetapi juga menunda rilis sejumlah data ekonomi penting, termasuk laporan ketenagakerjaan dan inflasi yang biasa dijadikan acuan oleh Federal Reserve untuk kebijakan suku bunga.

Dengan ketidakjelasan arah kebijakan moneter, pelaku pasar memilih untuk melakukan lindung nilai melalui kepemilikan emas dan obligasi. Hal ini menciptakan lonjakan permintaan, terutama di tengah ketidakpastian arah ekonomi jangka pendek.


Kunjungi juga : bestprofit futures

Faktor ETF dan Bank Sentral Perkuat Bias Bullish

Salah satu pendorong utama reli harga emas adalah arus masuk yang kuat dari investor institusional dan bank sentral. Data terbaru menunjukkan bahwa meskipun terjadi arus keluar bulanan terbesar dari ETF emas global pada bulan September, namun kuartal ketiga secara keseluruhan mencatat arus masuk terbesar yang pernah tercatat.

Hal ini menunjukkan bahwa meskipun ada volatilitas jangka pendek, kepercayaan investor terhadap emas dalam jangka menengah hingga panjang tetap tinggi. Bank sentral di berbagai belahan dunia, khususnya dari negara-negara berkembang, juga terus meningkatkan cadangan emas mereka sebagai bagian dari strategi diversifikasi cadangan devisa.

Tak hanya itu, Goldman Sachs meningkatkan proyeksi harga emas untuk Desember 2026 dari sebelumnya $4.300 menjadi $4.900 per ons, dengan menyebut arus masuk dari ETF Barat dan pembelian bank sentral sebagai alasan utama dari revisi tersebut.

Dolar AS dan Ketegangan Geopolitik Menjadi Hambatan Jangka Pendek

Meski outlook jangka menengah untuk emas tampak menjanjikan, bukan berarti perjalanan menuju level $4.000 bersih akan mulus. Salah satu hambatan utama saat ini adalah penguatan Dolar AS (USD) yang membuat emas—yang dihargai dalam dolar—menjadi lebih mahal bagi pemegang mata uang lainnya, sehingga menekan permintaan internasional.

Selain itu, ketidakpastian politik di negara-negara besar seperti Prancis dan Jepang turut memicu flight to safety ke aset berdenominasi dolar, alih-alih langsung ke emas. Akibatnya, terjadi arus balik ke USD dan kenaikan imbal hasil obligasi AS, yang secara historis menjadi kompetitor langsung bagi emas sebagai aset tanpa imbal hasil.

Kombinasi dua faktor ini menciptakan hambatan jangka pendek yang bisa membatasi potensi kenaikan emas secara cepat, meskipun tren jangka menengah masih condong bullish.

Suku Bunga The Fed: Katalis atau Risiko?

Ketidakpastian kebijakan suku bunga The Fed menjadi titik krusial yang bisa menentukan arah harga emas dalam beberapa bulan ke depan. Dengan absennya data ekonomi resmi akibat penutupan pemerintah, pasar kini bergantung pada komentar dari pejabat The Fed dan sinyal-sinyal verbal lainnya untuk menilai kemungkinan pemangkasan suku bunga dalam waktu dekat.

Jika The Fed memberikan sinyal dovish yang lebih kuat, emas kemungkinan besar akan mendapatkan dorongan tambahan. Sebaliknya, jika komentar dari Fed menunjukkan sikap hawkish yang masih bertahan—terlepas dari kurangnya data—maka harga emas bisa mengalami koreksi teknikal sebelum kembali naik.

Ekspektasi pemangkasan suku bunga yang lebih cepat cenderung menurunkan imbal hasil obligasi dan melemahkan dolar, keduanya merupakan kondisi yang sangat kondusif bagi penguatan emas.

Harga Emas Spot dan Berjangka Semakin Sinkron

Harga emas spot yang tetap mendekati rekor tertinggi dan harga berjangka Desember yang berhasil menembus $4.000 menandakan adanya konvergensi sentimen pasar jangka pendek dan menengah. Ini menunjukkan bahwa pelaku pasar kini tidak hanya berspekulasi, tetapi juga menaruh kepercayaan struktural pada nilai emas di tengah iklim ketidakpastian yang berkepanjangan.

Harga emas spot yang berada di kisaran $3.990 mencerminkan kekuatan permintaan riil, sementara posisi kontrak berjangka yang positif menunjukkan keyakinan terhadap potensi kenaikan lebih lanjut dalam beberapa bulan ke depan.

Tren Logam Mulia Lain: Perak, Platinum, dan Paladium

Reli emas juga turut mempengaruhi pasar logam mulia lainnya. Harga perak, meskipun sempat terkoreksi sebelumnya, menunjukkan tren sedikit menguat, sejalan dengan pemulihan sektor industri ringan dan permintaan safe haven alternatif.

Sementara itu, platinum terlihat relatif stabil, dipengaruhi oleh kombinasi faktor permintaan otomotif dan industri. Paladium, yang sempat tertekan pada kuartal sebelumnya, menunjukkan penguatan, didorong oleh harapan pemulihan sektor otomotif global.

Namun demikian, emas tetap menjadi bintang utama dalam lanskap logam mulia, berkat kombinasi kekuatan teknikal dan dukungan makroekonomi global.

Kesimpulan: Emas di Ambang Era Baru?

Level $4.000 per ons tidak hanya menjadi angka psikologis, tapi juga menjadi simbol dari perubahan lanskap keuangan global. Dari tekanan geopolitik, inflasi, suku bunga, hingga krisis fiskal, semua faktor tampaknya mengarah pada peningkatan permintaan terhadap aset aman seperti emas.

Meskipun hambatan jangka pendek seperti penguatan dolar dan ketidakpastian politik masih bisa menahan laju emas, bias jangka menengah dan panjang tetap bullish, terutama jika The Fed benar-benar bergerak ke arah pelonggaran kebijakan moneter.

Dengan bank sentral global terus membeli emas, ETF menunjukkan arus masuk yang solid, dan prospek fundamental yang mendukung, harga emas berpotensi menembus rekor-rekor baru dalam beberapa tahun mendatang. Seperti yang disinyalir oleh Goldman Sachs, target $4.900/oz pada 2026 kini bukan lagi angan-angan, tetapi skenario yang semakin realistis.

 
Jangan lupa jelajahi website kami di demo bestprofit dan temukan beragam informasi menarik yang siap menginspirasi dan memberikan pengetahuan baru! Ayo, kunjungi sekarang untuk pengalaman online yang menyenangkan!


bestprofit futures

Monday, 6 October 2025

Bestprofit | Emas Uji $4000 di Tengah Ketidakpastian

 https://best-profit-futures-malang.com/wp-content/uploads/2023/08/Bestprofit-Emas-3.jpeg

Bestprofit (7/10) – Pasar komoditas global kembali diramaikan oleh pergerakan harga emas yang signifikan. Di awal perdagangan Asia, harga emas melonjak ke rekor tertinggi baru, memperkuat tren bullish yang telah terbentuk dalam beberapa bulan terakhir. Didukung oleh berbagai faktor seperti ketidakpastian makroekonomi, pelemahan dolar AS, dan meningkatnya permintaan terhadap aset keras, emas kembali menunjukkan daya tariknya sebagai safe haven utama.

Kenaikan Emas di Tengah Ketidakpastian Makroekonomi

Emas spot tercatat naik 0,3% menjadi $3.969,75 per ons setelah sempat menyentuh rekor tertinggi intraday di $3.976,18/oz, menurut data ICE. Kenaikan ini bukan sekadar fluktuasi teknikal, melainkan cerminan dari meningkatnya kecemasan pasar terhadap kondisi ekonomi global.

Fawad Razaqzada, analis pasar di City Index dan FOREX.com, dalam sebuah email menyebutkan bahwa tren kenaikan harga emas saat ini didorong oleh ketidakpastian makro yang luas. Ketidakpastian tersebut mencakup berbagai aspek — dari perlambatan pertumbuhan ekonomi global, ketegangan geopolitik, hingga arah kebijakan moneter dari bank sentral utama dunia.

Kondisi global yang tidak menentu membuat para investor mencari perlindungan pada aset yang lebih stabil, dan emas — sebagai komoditas yang telah terbukti nilainya selama ribuan tahun — menjadi pilihan utama.

Dolar Melemah, Emas Menguat

Salah satu pendorong utama dari kenaikan harga emas adalah pelemahan dolar AS. Hubungan antara emas dan dolar bersifat invers — ketika dolar melemah, emas menjadi lebih murah bagi investor yang memegang mata uang lain, sehingga permintaan meningkat dan harga terdorong naik.

Pelemahan dolar saat ini terjadi di tengah spekulasi bahwa Federal Reserve mungkin akan mengadopsi sikap moneter yang lebih dovish dalam beberapa bulan ke depan. Suku bunga yang lebih rendah akan menurunkan imbal hasil obligasi, membuat aset non-yielding seperti emas menjadi lebih menarik.

Ketidakpastian terhadap masa depan ekonomi AS, serta ketegangan fiskal yang belum mereda, turut memberi tekanan pada dolar. Dalam konteks ini, emas kembali menguat sebagai lindung nilai terhadap kemungkinan inflasi dan devaluasi mata uang.


Kunjungi juga : bestprofit futures

Permintaan Terus Berlanjut untuk Aset Keras

Dalam beberapa tahun terakhir, terjadi pergeseran tren investasi global dari aset berbasis fiat ke aset keras. Investor institusional maupun ritel kini lebih tertarik untuk menempatkan dananya di aset fisik seperti emas dan logam mulia lainnya.

Menurut Razaqzada, permintaan terhadap “aset keras” seperti emas tetap kuat. Ini bukan hanya karena faktor ketakutan pasar, tetapi juga karena adanya perubahan dalam strategi diversifikasi portofolio. Di tengah volatilitas pasar saham dan kripto, serta ancaman terhadap stabilitas keuangan global, emas menjadi simbol ketahanan nilai yang konsisten.

Bank-bank sentral dunia juga tercatat terus menambah cadangan emas mereka dalam beberapa tahun terakhir, sebagai bagian dari strategi untuk memperkuat stabilitas moneter di tengah ketidakpastian ekonomi.

Level Teknis Kritis: Potensi Menuju $4.000/oz

Dalam analisis teknikal, penembusan terhadap level resistensi penting seringkali menandakan kelanjutan tren. Dalam hal ini, emas telah berhasil menembus level $3.900/oz — sebuah level psikologis dan teknikal yang penting. Menurut Razaqzada, hal ini hanya memperkuat momentum bullish karena tidak ada aksi jual signifikan yang terlihat setelah penembusan tersebut.

“Penembusan emas di atas level bulat lainnya hanya memicu momentum bullish mengingat kurangnya aktivitas jual yang signifikan,” katanya. Artinya, pasar masih memiliki potensi naik lebih lanjut tanpa tekanan jual besar yang biasanya menandai titik pembalikan harga.

Dengan $3.900 telah dilewati, target selanjutnya berada di $4.000/oz. Jika level tersebut tercapai dan bertahan, maka akan membuka potensi reli emas yang lebih panjang dalam jangka menengah hingga panjang.

Apa yang Mendorong Target $4.000/oz Menjadi Realistis?

Beberapa faktor fundamental mendukung skenario harga emas mencapai atau bahkan melampaui $4.000/oz:

  1. Inflasi Global yang Tetap Tinggi
    Meskipun inflasi di beberapa negara telah melambat, namun tetap berada di atas target bank sentral. Emas secara historis dianggap sebagai pelindung nilai terhadap inflasi.

  2. Ketidakpastian Geopolitik dan Perang Dagang
    Konflik di berbagai kawasan — termasuk Eropa Timur, Timur Tengah, dan ketegangan AS-China — menciptakan ketidakpastian global yang mendorong permintaan emas.

  3. Ketergantungan pada Bank Sentral
    Ketiadaan arah kebijakan yang jelas dari bank sentral utama membuat pasar rentan terhadap kejutan. Dalam situasi ini, emas menawarkan kestabilan nilai jangka panjang.

  4. Diversifikasi Portofolio oleh Investor Besar
    Hedge fund, manajer kekayaan institusi, dan bahkan perusahaan teknologi mulai menambah eksposur mereka ke emas, sebagai pelindung nilai terhadap volatilitas pasar.

Apa Risiko dari Tren Kenaikan Ini?

Meski saat ini harga emas menunjukkan kekuatan teknikal dan fundamental, tetap ada beberapa risiko yang perlu diperhatikan:

  • Kebijakan Suku Bunga yang Lebih Ketat dari Perkiraan
    Jika bank sentral seperti The Fed kembali mengadopsi kebijakan hawkish, maka emas bisa menghadapi tekanan karena kenaikan suku bunga meningkatkan opportunity cost dari memegang emas.

  • Penguatan Kembali Dolar AS
    Jika dolar kembali menguat karena perbaikan ekonomi atau arus masuk modal, maka harga emas bisa mengalami koreksi.

  • Profit Taking dan Volatilitas Teknis
    Setelah mencapai rekor tertinggi, tidak menutup kemungkinan terjadinya aksi ambil untung yang bisa menekan harga emas dalam jangka pendek.

Kesimpulan: Emas Kembali Menjadi Primadona

Kenaikan harga emas hingga mendekati $4.000/oz mencerminkan bukan hanya faktor teknikal, tetapi juga sentimen pasar terhadap ketidakpastian global. Dalam konteks ekonomi yang penuh risiko, emas kembali menegaskan posisinya sebagai aset safe haven utama.

Dengan permintaan yang terus meningkat, pelemahan dolar, dan ketegangan geopolitik yang belum mereda, tren bullish ini berpotensi berlanjut. Namun, investor juga perlu waspada terhadap potensi koreksi jangka pendek akibat faktor eksternal.

Bagi para pelaku pasar, baik trader maupun investor jangka panjang, saat ini merupakan waktu yang krusial untuk memperhatikan perkembangan emas secara aktif. Level psikologis $4.000/oz akan menjadi titik penting yang menentukan arah harga emas dalam beberapa bulan ke depan.


Jangan lupa jelajahi website kami di demo bestprofit dan temukan beragam informasi menarik yang siap menginspirasi dan memberikan pengetahuan baru! Ayo, kunjungi sekarang untuk pengalaman online yang menyenangkan!


bestprofit futures
 

Sunday, 5 October 2025

Bestprofit | Rekor Emas Terpecahkan

 https://best-profit-futures-malang.com/wp-content/uploads/2023/08/Bestprofit-Emas-12.jpeg

Bestprofit (6/10) – Senin, 6 Oktober 2025, pasar keuangan global dikejutkan oleh lonjakan harga emas yang menembus level $3.920 per ons, level tertinggi sepanjang sejarah. Lonjakan harga emas ini mencerminkan meningkatnya ketidakpastian ekonomi dan politik, terutama di Amerika Serikat, yang tengah menghadapi penutupan pemerintahan (government shutdown) berkepanjangan. Sementara logam kuning menjadi primadona, mata uang dolar AS justru menunjukkan penguatan moderat, menandakan kompleksitas sentimen pasar saat ini.

Penutupan Pemerintah AS: Sumber Ketidakpastian Global

Penutupan pemerintahan AS yang sedang berlangsung telah menjadi salah satu faktor utama pemicu reli harga emas. Ketika pemerintah federal berhenti beroperasi sebagian karena kebuntuan anggaran, banyak sektor publik lumpuh, dan kepercayaan terhadap stabilitas ekonomi AS mulai luntur.

Penutupan ini juga berdampak langsung pada penundaan rilis data ekonomi penting, seperti data ketenagakerjaan bulanan yang seharusnya dirilis pada Jumat lalu. Bagi investor, ketiadaan data ini berarti hilangnya indikator penting untuk menilai arah perekonomian AS, membuat pasar cenderung mencari aset safe haven seperti emas untuk perlindungan nilai.

Ketidakpastian fiskal dan ketidakmampuan pemerintah menjalankan fungsinya secara normal memunculkan kekhawatiran bahwa krisis politik di Washington akan berdampak sistemik pada pasar global. Di tengah ketidakpastian tersebut, permintaan terhadap emas meningkat tajam sebagai bentuk antisipasi atas potensi gejolak lanjutan.

Emas sebagai Aset Safe Haven: Kembali Jadi Pilihan Utama

Sejak dahulu, emas dikenal sebagai aset lindung nilai yang efektif terhadap ketidakpastian ekonomi dan politik. Dalam konteks saat ini, emas kembali menjadi pilihan utama investor, seiring meningkatnya risiko sistemik.

Tidak hanya investor institusional, investor ritel juga mulai memborong emas fisik dan derivatifnya. Lonjakan ini bahkan menular ke logam mulia lainnya seperti perak, platinum, dan paladium yang turut mencatat kenaikan harga signifikan. Pagi ini, emas diperdagangkan di kisaran $3.908 per ons, sedikit terkoreksi dari puncaknya namun tetap menguat 0,6% dibanding hari sebelumnya.

Sentimen bullish ini didorong oleh perpaduan antara permintaan tinggi dan pasokan yang relatif terbatas, serta meningkatnya ekspektasi bahwa ketidakpastian global tidak akan mereda dalam waktu dekat.

Faktor Lain Pendorong Kenaikan: Trump, Geopolitik, dan Suku Bunga

Lonjakan harga emas sepanjang 2025 tidak terjadi dalam ruang hampa. Sejak awal tahun, harga emas telah melonjak hampir 50%, sebuah peningkatan dramatis yang dipicu oleh kombinasi beberapa faktor makroekonomi dan geopolitik:

  1. Kebijakan Presiden Donald Trump
    Kembalinya Trump ke Gedung Putih membawa serta kebijakan ekonomi yang kontroversial. Meski pro-bisnis, kebijakan fiskal dan perdagangan Trump kerap menciptakan volatilitas. Pendekatannya yang keras terhadap beberapa negara mitra dagang dan strategi proteksionis telah meningkatkan kekhawatiran investor global.

  2. Gejolak Geopolitik
    Ketegangan antara AS dan Tiongkok, konflik di Timur Tengah, serta krisis diplomatik di beberapa kawasan turut menciptakan atmosfer global yang tidak stabil. Dalam situasi seperti ini, investor cenderung mencari perlindungan dalam bentuk emas dan logam mulia lainnya.

  3. Kebijakan Moneter The Fed
    Federal Reserve telah memangkas suku bunga beberapa kali tahun ini dalam upaya menopang pertumbuhan ekonomi yang melambat. Pemangkasan suku bunga ini menyebabkan imbal hasil obligasi turun, menjadikan emas yang tidak memberikan bunga lebih menarik secara relatif. Emas pun menjadi pilihan rasional di tengah rendahnya return dari instrumen pendapatan tetap.

Dolar AS dan Emas: Hubungan yang Rumit

Menariknya, di tengah reli harga emas, indeks dolar AS juga menunjukkan penguatan sebesar 0,3%. Biasanya, harga emas dan dolar bergerak berlawanan arah—ketika dolar menguat, emas cenderung melemah, dan sebaliknya. Namun, situasi kali ini menunjukkan anomali pasar, di mana kedua aset safe haven tersebut justru sama-sama menguat.

Fenomena ini bisa dijelaskan oleh meningkatnya permintaan global atas aset aman dalam berbagai bentuk. Investor asing mungkin tetap membeli dolar sebagai bentuk perlindungan sementara, namun juga mengalihkan sebagian besar portofolio mereka ke emas untuk perlindungan nilai jangka panjang.

Dampak ke Pasar Global dan Domestik

Lonjakan harga emas ini tidak hanya berdampak pada pasar global, tetapi juga mengguncang pasar domestik di banyak negara:

  • Bank Sentral di berbagai negara mulai meninjau kembali kebijakan moneter mereka untuk mengantisipasi potensi volatilitas lebih lanjut.

  • Pasar saham di negara berkembang mengalami tekanan, karena arus dana keluar ke instrumen safe haven.

  • Harga emas domestik di negara seperti Indonesia, India, dan China mencatat rekor baru, memicu minat masyarakat terhadap investasi logam mulia.

Beberapa analis memprediksi bahwa jika ketidakpastian global tidak mereda, harga emas bisa terus menanjak dan menembus level $4.000 per ons dalam waktu dekat.

Apa yang Bisa Diharapkan Selanjutnya?

Melihat dinamika saat ini, pasar emas tampaknya akan tetap volatil, namun berada dalam tren naik (bullish) untuk jangka pendek hingga menengah. Beberapa faktor yang harus terus diawasi oleh investor meliputi:

  • Apakah penutupan pemerintahan AS akan segera diakhiri, atau justru berlarut-larut?

  • Akankah The Fed kembali memangkas suku bunga atau mempertahankan sikap dovish?

  • Sejauh mana ketegangan geopolitik akan terus bereskalasi?

  • Dan apakah inflasi global akan tetap tinggi atau mulai melandai?

Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut akan sangat menentukan arah pergerakan emas dan pasar keuangan global dalam beberapa bulan ke depan.

Kesimpulan: Emas di Puncak, Dunia di Persimpangan

Harga emas yang mencapai $3.920 per ons bukan sekadar angka, melainkan cerminan dari keresahan global yang mendalam. Ketika pemerintah AS tidak mampu menjalankan fungsinya, ketika data ekonomi terhenti, dan ketika pasar kehilangan arah, investor kembali ke logam mulia yang selama ribuan tahun dipercaya sebagai pelindung kekayaan.

Dalam dunia yang penuh ketidakpastian, emas kembali memainkan peran sentral sebagai simbol keamanan dan stabilitas. Namun, seperti biasa, pasar tidak bergerak dalam garis lurus. Koreksi bisa terjadi kapan saja, dan investor harus tetap waspada serta berpikir jangka panjang.


Jangan lupa jelajahi website kami di demo bestprofit dan temukan beragam informasi menarik yang siap menginspirasi dan memberikan pengetahuan baru! Ayo, kunjungi sekarang untuk pengalaman online yang menyenangkan!


bestprofit futures
 

Thursday, 2 October 2025

Bestprofit | Emas Naik karena Shutdown AS

 https://best-profit-futures-malang.com/wp-content/uploads/2023/08/Bestprofit-Emas-13.jpg

Bestprofit (3/10) – Harga emas mengalami kenaikan tipis pada awal perdagangan Asia, ditopang oleh kekhawatiran akan dampak ekonomi dari potensi penutupan pemerintah Amerika Serikat (AS). Kondisi ini memperkuat ekspektasi pasar terhadap kebijakan moneter yang lebih longgar dari Federal Reserve (The Fed), yang pada akhirnya mendukung kenaikan harga logam mulia tersebut.

Dalam kondisi ekonomi global yang penuh ketidakpastian, investor kembali melirik emas sebagai aset safe haven. Selain didorong oleh potensi pelonggaran suku bunga, logam mulia ini juga memperoleh dukungan dari permintaan bank sentral dan pelemahan dolar AS.

Risiko Penutupan Pemerintah AS dan Dampaknya terhadap Ekonomi

Ancaman penutupan pemerintah AS menjadi salah satu sentimen utama yang menggerakkan pasar saat ini. Penutupan pemerintah, atau government shutdown, terjadi ketika Kongres gagal menyetujui anggaran federal, yang menyebabkan sebagian layanan pemerintah berhenti beroperasi.

Menteri Keuangan AS, Janet Yellen, melalui pernyataan yang disampaikan oleh Deputi Menteri Keuangan, Bessent, menyatakan bahwa penutupan semacam itu dapat “menggerogoti pertumbuhan ekonomi AS secara signifikan.” Ketidakpastian ini menambah tekanan pada ekonomi yang sudah menghadapi berbagai tantangan global, mulai dari inflasi tinggi, konflik geopolitik, hingga ketidakpastian pasar tenaga kerja.

Jika ekonomi AS menunjukkan tanda-tanda pelambatan akibat penutupan tersebut, maka tekanan terhadap The Fed untuk memangkas suku bunga akan semakin besar. Hal ini membuat pasar mulai memperhitungkan kemungkinan kebijakan moneter yang lebih akomodatif dalam waktu dekat.


Kunjungi juga : bestprofit futures

Daya Tarik Emas di Tengah Ekspektasi Pemangkasan Suku Bunga

Emas dikenal sebagai aset lindung nilai terhadap ketidakpastian ekonomi dan inflasi. Dalam kondisi normal, kenaikan suku bunga cenderung membebani emas karena logam mulia ini tidak memberikan imbal hasil atau bunga. Namun, ketika pasar memperkirakan suku bunga akan turun, maka daya tarik emas meningkat karena opportunity cost untuk memegangnya menjadi lebih rendah.

Menurut analis pasar senior di City Index dan FOREX.com, Fawad Razaqzada, harga emas saat ini mendapat dukungan dari beberapa faktor utama: ekspektasi terhadap kebijakan moneter yang lebih longgar, permintaan yang stabil dari bank sentral, serta pelemahan dolar AS.

“Pasar mulai berspekulasi bahwa The Fed mungkin akan segera menyesuaikan suku bunga mereka untuk mengimbangi dampak negatif dari penutupan pemerintah. Ini memberikan ruang bagi emas untuk menguat,” ujar Razaqzada dalam sebuah email kepada media.

Pergerakan Harga Emas Terbaru

Dalam sesi perdagangan Asia pada Kamis pagi, harga emas spot tercatat naik tipis sebesar 0,1% menjadi $3.861,22 per ons. Walau kenaikannya relatif kecil, namun pergerakan ini mencerminkan sentimen hati-hati investor yang menanti kejelasan arah kebijakan fiskal dan moneter AS dalam beberapa minggu ke depan.

Kenaikan harga emas juga tidak terlepas dari fluktuasi dolar AS. Mata uang AS melemah terhadap sebagian besar mata uang utama dunia, terutama setelah muncul ekspektasi bahwa The Fed tidak akan melanjutkan kebijakan pengetatan yang agresif. Dolar yang lebih lemah membuat harga emas dalam denominasi dolar menjadi lebih murah bagi investor luar negeri, sehingga mendorong permintaan.

Permintaan Bank Sentral Global Terhadap Emas

Selain faktor makroekonomi, harga emas juga didukung oleh permintaan dari bank sentral di berbagai negara. Dalam beberapa tahun terakhir, tren pembelian emas oleh bank sentral terus meningkat sebagai bagian dari diversifikasi cadangan devisa.

Negara-negara seperti China, Rusia, India, dan beberapa negara Timur Tengah secara aktif meningkatkan kepemilikan emas mereka. Alasan utamanya adalah untuk mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS, serta meningkatkan stabilitas cadangan devisa di tengah volatilitas geopolitik dan keuangan global.

Permintaan jangka panjang yang kuat dari sektor institusional ini menjadi penopang fundamental bagi harga emas, bahkan ketika terjadi volatilitas jangka pendek akibat sentimen pasar.

Ketidakpastian Geopolitik Tambah Dorongan ke Emas

Ketegangan geopolitik yang terus berkembang di berbagai wilayah dunia turut menambah dorongan ke arah aset-aset safe haven seperti emas. Konflik di Timur Tengah, ketegangan antara China dan Taiwan, serta perang yang masih berlangsung di Ukraina menjadi faktor-faktor eksternal yang mendukung harga emas.

Investor global cenderung mengalihkan sebagian portofolionya ke aset yang dianggap lebih aman ketika situasi politik dan ekonomi dunia memburuk. Dalam konteks ini, emas tetap menjadi pilihan utama karena likuiditasnya yang tinggi dan statusnya sebagai penyimpan nilai universal.

Outlook Emas di Sisa Tahun 2025

Melihat kondisi pasar saat ini, prospek emas untuk sisa tahun 2025 terlihat cukup positif, terutama jika The Fed benar-benar mengambil langkah dovish dalam beberapa bulan mendatang. Ekspektasi pelonggaran suku bunga, ketidakpastian fiskal AS, serta melemahnya dolar AS dapat menjadi kombinasi yang menguntungkan bagi logam mulia ini.

Namun, para analis juga mengingatkan bahwa volatilitas tetap tinggi, terutama jika data ekonomi AS menunjukkan ketahanan yang mengejutkan atau jika inflasi kembali meningkat. Dalam skenario tersebut, The Fed bisa saja menunda pemangkasan suku bunga, yang tentu saja akan membebani harga emas.

Kesimpulan

Kenaikan tipis harga emas pada awal perdagangan Asia mencerminkan kehati-hatian investor di tengah ketidakpastian kebijakan fiskal AS dan prospek ekonomi global. Penutupan pemerintah AS menjadi katalis penting yang dapat memicu perubahan arah kebijakan moneter The Fed, yang pada gilirannya memperkuat daya tarik emas.

Dengan permintaan yang kuat dari bank sentral, dukungan teknikal dari pelemahan dolar AS, serta tekanan geopolitik global, emas diperkirakan tetap akan menjadi aset penting dalam portofolio lindung nilai. Namun, investor tetap perlu mencermati perkembangan ekonomi AS dan arah kebijakan The Fed dalam menentukan strategi investasi ke depan.


Jangan lupa jelajahi website kami di demo bestprofit dan temukan beragam informasi menarik yang siap menginspirasi dan memberikan pengetahuan baru! Ayo, kunjungi sekarang untuk pengalaman online yang menyenangkan!


bestprofit futures
 

Wednesday, 1 October 2025

Bestprofit | Emas Melemah Sementara

 https://best-profit-futures-malang.com/wp-content/uploads/2024/04/Gold-Emas.jpg

Bestprofit (2/10) – Harga emas mengalami pelemahan pada sesi perdagangan Asia di pagi hari, menyusul lonjakan tajam yang terjadi sebelumnya. Meskipun emas berjangka Comex bulan depan mencatat kenaikan sebesar 0,7% dan ditutup pada $3.867,50 per ounce pada hari Rabu — level tertinggi baru — pergerakan harga saat ini menunjukkan potensi koreksi teknis jangka pendek. Namun, dukungan fundamental dari data ekonomi Amerika Serikat yang lemah bisa menjadi bantalan penurunan harga logam mulia ini.

Kenaikan Tajam dan Level Psikologis Baru

Emas berjangka Comex bulan depan mencatat lonjakan signifikan pada Rabu, naik 0,7% dan mencapai $3.867,50 per ounce — sebuah pencapaian level tertinggi baru. Kenaikan ini dipicu oleh kekhawatiran pasar terhadap melambatnya pertumbuhan ekonomi global serta meningkatnya ekspektasi penurunan suku bunga oleh Federal Reserve (The Fed) di masa mendatang.

Kenaikan harga ini membawa emas mendekati level psikologis penting, yang sering kali menjadi area resistensi teknikal dan menjadi fokus perhatian para trader dan analis. Level psikologis adalah titik harga yang dianggap signifikan secara emosional dan teknikal, seperti $3.900 atau $4.000 per ounce. Saat harga mendekati angka-angka tersebut, volatilitas cenderung meningkat, sebagaimana disampaikan oleh analis pasar Linh Tran dari XS.com.

Koreksi Teknis di Sesi Asia: Sementara atau Awal Tren Turun?

Meski sebelumnya menunjukkan penguatan, emas spot turun tipis sebesar 0,2% menjadi $3.858,66 per ounce pada sesi Asia pagi ini. Penurunan ini dipandang oleh banyak pelaku pasar sebagai koreksi teknis yang wajar, mengingat kenaikan harga yang cukup tajam dalam beberapa hari terakhir.

Koreksi teknis adalah fenomena umum di pasar keuangan ketika harga aset mengalami penurunan sementara setelah mengalami kenaikan signifikan. Hal ini biasanya tidak disebabkan oleh perubahan fundamental, melainkan lebih karena aksi ambil untung (profit-taking) oleh para pelaku pasar.

Menurut Linh Tran, koreksi seperti ini tidak serta merta mengubah tren utama emas yang masih condong ke atas. “Emas akan terus menguat tetapi dengan fluktuasi berkala di sekitar level psikologis utama, mengingat latar belakang data AS yang beragam,” jelasnya dalam sebuah email.


Kunjungi juga : bestprofit futures

Dampak Laporan ADP: Sinyal Lemahnya Ketenagakerjaan AS

Faktor fundamental yang mendukung harga emas adalah laporan ketenagakerjaan dari ADP (Automatic Data Processing) yang dirilis semalam. Laporan ini menunjukkan penurunan tak terduga dalam jumlah pekerjaan sektor swasta di AS pada bulan September.

Menurut data ADP, penciptaan lapangan kerja hanya mencapai 89.000, jauh di bawah ekspektasi pasar yang berkisar di angka 150.000. Angka ini mengindikasikan melambatnya pertumbuhan ekonomi, dan bisa menjadi salah satu alasan bagi The Fed untuk mempertimbangkan pelonggaran kebijakan moneternya.

Lemahnya data ini mendorong ekspektasi pasar bahwa The Fed kemungkinan besar akan mulai menurunkan suku bunga lebih awal dari perkiraan sebelumnya. Suku bunga yang lebih rendah akan membuat aset non-yielding seperti emas menjadi lebih menarik dibandingkan obligasi atau instrumen keuangan berbunga lainnya.

The Fed dan Ekspektasi Penurunan Suku Bunga

Pasar kini memantau dengan ketat langkah-langkah yang akan diambil oleh Federal Reserve menyusul serangkaian data ekonomi yang melemah. Selain data ADP, indikator ekonomi lainnya seperti indeks manufaktur, belanja konsumen, dan inflasi juga menunjukkan tanda-tanda pelambatan.

Jika tren ini berlanjut, The Fed kemungkinan besar akan mengubah arah kebijakan moneternya. Penurunan suku bunga akan melemahkan dolar AS dan menurunkan imbal hasil obligasi, dua faktor yang sangat mendukung penguatan harga emas.

Linh Tran menekankan bahwa “serangkaian data yang lemah akan semakin mendekatkan ekspektasi penurunan suku bunga The Fed, mendukung pergerakan emas menuju level psikologis yang lebih tinggi.” Hal ini menunjukkan bahwa meskipun harga emas saat ini sedang terkoreksi, fundamental jangka menengah hingga panjang tetap positif.

Ketidakpastian Global dan Permintaan Safe Haven

Selain faktor ekonomi AS, ketidakpastian global juga terus menjadi pendorong utama permintaan terhadap emas. Ketegangan geopolitik di beberapa kawasan, seperti konflik di Eropa Timur dan Timur Tengah, serta kekhawatiran terhadap perlambatan ekonomi Tiongkok, membuat investor beralih ke aset yang dianggap aman seperti emas.

Investor institusional dan bank sentral global juga meningkatkan kepemilikan emas mereka sebagai langkah diversifikasi cadangan devisa dan perlindungan terhadap risiko sistemik. Permintaan dari sektor ritel pun meningkat, terutama di negara-negara seperti India dan Tiongkok yang memiliki tradisi kuat terhadap investasi emas.

Analisis Teknikal: Titik Kritis di Depan Mata

Secara teknikal, harga emas saat ini berada di area resistance kuat. Jika harga berhasil menembus dan bertahan di atas $3.870–$3.880 per ounce, maka level $3.900 bahkan $4.000 per ounce dapat dicapai dalam waktu dekat. Namun, jika koreksi berlanjut dan harga turun di bawah $3.830, maka potensi konsolidasi jangka pendek menjadi semakin besar.

Indikator RSI (Relative Strength Index) pada grafik harian menunjukkan kondisi overbought, mendukung kemungkinan terjadinya penurunan dalam jangka pendek. Namun, tren jangka menengah masih tetap bullish selama harga tidak menembus support kritis.

Kesimpulan: Fluktuasi Sementara, Tren Masih Positif

Pelemahan harga emas di sesi Asia pagi ini kemungkinan besar merupakan koreksi teknis jangka pendek setelah kenaikan tajam sebelumnya. Dukungan dari data ekonomi AS yang lemah, khususnya laporan ketenagakerjaan ADP, memperkuat ekspektasi penurunan suku bunga The Fed yang akan mendukung harga emas dalam jangka menengah.

Dengan latar belakang ketidakpastian global dan permintaan terhadap aset safe haven yang tetap tinggi, tren harga emas secara keseluruhan masih menunjukkan arah kenaikan. Namun, fluktuasi di sekitar level psikologis seperti $3.850 hingga $3.900 harus diwaspadai oleh para trader dan investor.

Sebagaimana dikatakan oleh Linh Tran dari XS.com, pasar emas saat ini berada dalam fase dinamis dengan potensi naik yang signifikan, namun disertai dengan volatilitas jangka pendek yang tidak bisa diabaikan.


Jangan lupa jelajahi website kami di demo bestprofit dan temukan beragam informasi menarik yang siap menginspirasi dan memberikan pengetahuan baru! Ayo, kunjungi sekarang untuk pengalaman online yang menyenangkan!


bestprofit futures
 

Tuesday, 30 September 2025

Bestprofit | Emas Meroket, AS Terancam

 https://best-profit-futures-malang.com/wp-content/uploads/2024/07/c1_20240630_04500512-768x383-1.jpeg

Bestprofit (1/10) – Emas menguat di sesi Asia pada pagi hari ini, mencerminkan meningkatnya kekhawatiran global terhadap stabilitas ekonomi dan politik Amerika Serikat. Pemerintah federal AS berada di ambang penutupan karena Kongres diperkirakan akan melewatkan tenggat waktu penting untuk mendanai badan-badan federal. Dalam konteks ini, para investor berbondong-bondong mengalihkan dana mereka ke aset safe haven seperti emas, mendorong harga logam mulia ini ke level yang lebih tinggi.

Ketegangan Politik AS Memicu Kekhawatiran Pasar

Situasi di Washington semakin memanas setelah pembicaraan antara Presiden Trump dan para pemimpin Kongres berakhir tanpa mencapai kesepakatan mengenai pendanaan pemerintah. Ketegangan ini meningkatkan kekhawatiran akan kemungkinan shutdown pemerintah federal, yang akan berdampak langsung pada berbagai sektor pelayanan publik dan perekonomian domestik.

Penutupan pemerintahan (government shutdown) adalah situasi di mana badan-badan federal terpaksa menghentikan operasional mereka karena tidak adanya dana operasional yang sah. Dalam sejarah AS, shutdown telah terbukti menimbulkan ketidakpastian ekonomi, mengganggu pasar keuangan, dan memperlemah kepercayaan investor.

Harga Emas Spot dan Berjangka Melonjak

Merespons kekhawatiran ini, harga emas spot naik 0,1% menjadi $3.860,88 per ons (oz). Ini merupakan sinyal bahwa investor sedang mencari perlindungan dari volatilitas pasar yang mungkin timbul akibat kebuntuan politik di Washington.

Lebih mencolok lagi, harga emas berjangka Comex untuk bulan depan mencatat lonjakan signifikan, berakhir 16,59% lebih tinggi di kuartal ketiga. Ini menjadi rekor kenaikan bersih kuartalan tertinggi dalam beberapa tahun terakhir. Kinerja ini mencerminkan sentimen kuat terhadap logam mulia sebagai aset pelindung nilai di tengah ketidakpastian geopolitik dan ekonomi.


Kunjungi juga : bestprofit futures

Permintaan Aset Safe Haven Meningkat

Agustina Patti, ahli strategi pasar dari Exness, menjelaskan dalam sebuah pernyataan email bahwa penguatan harga emas ini didorong oleh meningkatnya permintaan global terhadap aset safe haven. Emas, bersama dengan aset lain seperti obligasi pemerintah AS dan franc Swiss, secara tradisional dianggap sebagai instrumen yang relatif aman di tengah gejolak pasar.

“Ketika ketidakpastian meningkat—baik karena faktor politik, ekonomi, maupun geopolitik—investor cenderung menarik dana mereka dari aset berisiko tinggi seperti saham dan beralih ke logam mulia,” ujar Patti.

Fokus Global Tertuju pada Washington

Selama beberapa minggu ke depan, fokus pasar kemungkinan besar akan tetap tertuju pada perkembangan di Washington. Ketidakpastian mengenai nasib anggaran federal AS dapat menjadi pemicu volatilitas yang lebih besar di pasar global. Jika kesepakatan pendanaan tidak tercapai, shutdown bisa berlangsung dalam waktu yang lama, memperburuk sentimen konsumen dan memperlambat pertumbuhan ekonomi AS.

Hal ini pada gilirannya akan memperkuat narasi bahwa emas merupakan pilihan investasi yang bijaksana di tengah turbulensi politik dan ekonomi.

Kondisi Global Mendukung Tren Kenaikan Emas

Selain faktor domestik di AS, ada juga elemen global yang memperkuat tren kenaikan emas. Ketegangan geopolitik di beberapa wilayah, seperti konflik di Timur Tengah dan ketidakpastian terkait hubungan dagang antara AS dan mitra dagangnya, juga mendorong permintaan terhadap emas.

Selain itu, pelonggaran kebijakan moneter oleh beberapa bank sentral besar, termasuk Federal Reserve, mendorong imbal hasil obligasi ke level rendah. Ini membuat emas, yang tidak memberikan bunga atau dividen, menjadi lebih menarik secara relatif.

Arah Kebijakan The Fed dan Pengaruhnya pada Harga Emas

Meski fokus saat ini tertuju pada dinamika politik AS, arah kebijakan moneter Federal Reserve juga akan memainkan peran penting dalam menentukan arah harga emas ke depan. Jika The Fed memutuskan untuk menahan atau memangkas suku bunga dalam beberapa bulan mendatang, hal ini akan semakin mendukung harga emas.

Suku bunga yang lebih rendah menurunkan opportunity cost untuk memegang emas dan biasanya mendorong pelemahan dolar AS, dua faktor yang mendukung kenaikan harga logam mulia.

Prospek Harga Emas di Kuartal Keempat

Dengan mencatatkan lonjakan 16,59% selama kuartal ketiga, pelaku pasar kini menantikan apakah momentum tersebut akan berlanjut di kuartal keempat. Banyak analis memperkirakan bahwa selama ketidakpastian tetap tinggi, permintaan terhadap emas akan tetap solid.

Namun, potensi koreksi teknikal juga harus diperhitungkan, terutama jika terjadi terobosan dalam negosiasi anggaran di Kongres AS atau munculnya sentimen positif yang meredam permintaan safe haven.

Beberapa lembaga riset memperkirakan bahwa harga emas dapat mencapai kisaran $4.000/oz jika krisis politik di AS terus berlanjut dan ekonomi global mengalami perlambatan.

Investasi Emas: Antara Perlindungan dan Spekulasi

Lonjakan harga emas ini memicu diskusi mengenai peran emas dalam portofolio investasi modern. Di satu sisi, emas dikenal sebagai instrumen lindung nilai terhadap inflasi dan ketidakpastian. Namun, fluktuasi harga yang tajam juga membuka peluang spekulasi, terutama bagi investor jangka pendek.

Para analis menyarankan agar investor tetap berhati-hati dan tidak terburu-buru mengikuti euforia pasar. Diversifikasi aset dan manajemen risiko yang cermat tetap menjadi kunci, terutama di tengah kondisi global yang sangat dinamis.

Kesimpulan: Ketidakpastian adalah Bahan Bakar Emas

Secara keseluruhan, penguatan emas di sesi Asia merupakan refleksi dari kekhawatiran global terhadap stabilitas politik dan ekonomi AS. Dengan Kongres yang kemungkinan besar gagal mencapai kesepakatan anggaran dan ancaman shutdown federal semakin nyata, investor memilih untuk mengamankan aset mereka di logam mulia.

Kinerja kuat emas selama kuartal ketiga—ditandai oleh kenaikan lebih dari 16%—menggambarkan bagaimana logam ini tetap menjadi pilihan utama dalam menghadapi ketidakpastian. Apakah tren ini akan berlanjut atau tidak akan sangat tergantung pada langkah-langkah yang diambil oleh para pembuat kebijakan di Washington dan arah kebijakan moneter global.


Jangan lupa jelajahi website kami di demo bestprofit dan temukan beragam informasi menarik yang siap menginspirasi dan memberikan pengetahuan baru! Ayo, kunjungi sekarang untuk pengalaman online yang menyenangkan!


bestprofit futures
 

Monday, 29 September 2025

Bestprofit | Emas Loyo di Awal Perdagangan

 https://best-profit-futures-malang.com/wp-content/uploads/2023/08/Bestprofit-Emas-4.jpg

Bestprofit (30/9) – Harga emas sedikit terkoreksi pada awal perdagangan Asia setelah mencatat rekor tertinggi. Namun, ketidakpastian politik dan faktor fundamental lainnya membuat logam mulia ini tetap menarik bagi investor.

1. Emas Menguat ke Rekor Baru, Lalu Melemah Tipis

Emas berjangka Comex untuk pengiriman Oktober ditutup 1,2% lebih tinggi pada hari Senin, mencetak rekor tertinggi baru di tengah sentimen pasar yang positif terhadap logam mulia. Kenaikan tersebut mencerminkan kepercayaan investor terhadap emas sebagai aset lindung nilai, terutama di tengah ketidakpastian ekonomi dan geopolitik global.

Namun, pada awal perdagangan Asia hari Selasa, emas mengalami pelemahan tipis. Emas spot tercatat turun 0,1% menjadi $3.828,26 per ons. Penurunan ini dinilai sebagai bentuk koreksi teknis setelah lonjakan tajam pada sesi sebelumnya.

Koreksi teknis semacam ini merupakan bagian wajar dari pergerakan harga di pasar komoditas, di mana para pelaku pasar cenderung melakukan aksi ambil untung (profit-taking) setelah reli signifikan.

2. Kegagalan Perundingan Pemerintah AS Meningkatkan Ketidakpastian

Salah satu faktor yang menjaga daya tarik emas meski terjadi pelemahan harga adalah ketidakpastian politik di Amerika Serikat. Perundingan antara pihak legislatif dan eksekutif di Gedung Putih semalam gagal menghasilkan kesepakatan yang bisa mencegah potensi penutupan pemerintahan (government shutdown).

Potensi penutupan pemerintah AS biasanya memicu kekhawatiran pasar, yang pada gilirannya mendorong permintaan terhadap aset safe haven seperti emas. Investor cenderung mengalihkan dana mereka dari aset berisiko seperti saham ke aset yang dianggap lebih stabil, seperti emas, dolar AS, dan obligasi pemerintah.

Menurut Hani Abuagla, analis pasar senior di XTB MENA, “Ketidakpastian politik di Washington menambah daya tarik emas.” Hal ini menegaskan bahwa sentimen pasar saat ini sangat sensitif terhadap perkembangan politik, khususnya di ekonomi terbesar dunia.


Kunjungi juga : bestprofit futures

3. Safe Haven: Mengapa Emas Tetap Menarik di Tengah Volatilitas?

Dalam situasi ketidakpastian, emas selalu menjadi pilihan utama investor sebagai safe haven. Aset ini telah lama dianggap sebagai pelindung nilai terhadap inflasi, krisis keuangan, serta gejolak politik dan ekonomi global.

Faktor-faktor berikut ini berkontribusi terhadap daya tarik emas saat ini:

  • Inflasi global yang masih tinggi di banyak negara, meski bank sentral telah menaikkan suku bunga secara agresif.

  • Krisis geopolitik di berbagai kawasan, seperti konflik di Timur Tengah dan ketegangan antara AS dan Tiongkok.

  • Ketidakstabilan ekonomi global, termasuk kekhawatiran terhadap pertumbuhan ekonomi Tiongkok yang melambat.

Dalam konteks ini, permintaan terhadap emas tetap tinggi meskipun terjadi koreksi teknis jangka pendek.

4. Dukungan dari Bank Sentral dan Arus Masuk Investasi

Selain ketidakpastian politik, harga emas juga mendapat dukungan dari arus masuk investasi dan pembelian emas oleh bank sentral di berbagai negara.

Hani Abuagla mencatat bahwa arus masuk yang konsisten ke dalam produk investasi berbasis emas, serta pembelian stabil oleh bank sentral, telah memperkuat reli emas dalam beberapa bulan terakhir.

Beberapa alasan mengapa bank sentral terus membeli emas meliputi:

  • Diversifikasi cadangan devisa, menjauh dari ketergantungan terhadap dolar AS.

  • Perlindungan terhadap risiko geopolitik dan ketidakpastian makroekonomi.

  • Penguatan posisi mata uang lokal, dengan menjadikan emas sebagai aset cadangan yang relatif stabil.

Menurut data World Gold Council, sejumlah bank sentral besar seperti Tiongkok, India, dan Turki telah menambah cadangan emas mereka secara signifikan dalam dua tahun terakhir.

5. Analisis Teknikal: Apakah Koreksi Akan Berlanjut?

Secara teknikal, harga emas yang sempat mencetak rekor tertinggi dan kemudian turun tipis dapat menandakan beberapa hal:

  • Koreksi sehat setelah reli yang terlalu cepat.

  • Konsolidasi harga sebelum melanjutkan tren naik.

  • Awal potensi pembalikan tren, jika pelemahan berlanjut dan menembus level support penting.

Analis teknikal memperhatikan level-level kunci seperti:

  • Resistance: $3.850–$3.880 per ons (level tertinggi baru).

  • Support: $3.780–$3.800 per ons (area konsolidasi sebelumnya).

Jika harga emas bertahan di atas level support tersebut, maka kemungkinan besar tren bullish masih akan berlanjut dalam waktu dekat. Sebaliknya, jika terjadi penembusan ke bawah, bisa memicu tekanan jual lebih lanjut.

6. Outlook Jangka Pendek dan Faktor yang Perlu Diperhatikan

Meski saat ini emas mengalami sedikit tekanan, outlook jangka pendek tetap positif dengan mempertimbangkan beberapa faktor:

  1. Ketidakpastian politik di AS masih berlanjut, terutama menjelang pemilu presiden tahun depan dan kemungkinan penutupan pemerintah.

  2. Data ekonomi AS yang akan dirilis minggu ini—seperti PCE Inflation dan laporan tenaga kerja—akan memengaruhi ekspektasi pasar terhadap kebijakan suku bunga Federal Reserve.

  3. Kebijakan bank sentral global, terutama apakah mereka akan mulai melonggarkan kebijakan moneter atau tetap hawkish.

  4. Sentimen pasar terhadap risiko, di mana ketegangan geopolitik atau kejadian tak terduga bisa meningkatkan permintaan terhadap safe haven.

7. Kesimpulan: Koreksi Emas Bersifat Sementara?

Meskipun emas mencatat sedikit penurunan di awal perdagangan Asia, banyak analis menilai bahwa pelemahan ini bersifat sementara dan merupakan bagian dari dinamika pasar normal. Koreksi teknis setelah reli besar adalah hal yang wajar, terutama ketika investor mengambil untung dari lonjakan harga.

Namun, faktor-faktor fundamental seperti ketidakpastian politik di AS, pembelian emas oleh bank sentral, dan tekanan ekonomi global memberikan dukungan yang kuat bagi harga emas dalam jangka menengah hingga panjang.

Dengan kombinasi antara sentimen risiko global dan dorongan permintaan institusional, emas kemungkinan besar akan tetap menjadi aset yang sangat diminati, terutama jika kondisi geopolitik dan ekonomi tidak menunjukkan tanda-tanda stabil dalam waktu dekat.


Jangan lupa jelajahi website kami di demo bestprofit dan temukan beragam informasi menarik yang siap menginspirasi dan memberikan pengetahuan baru! Ayo, kunjungi sekarang untuk pengalaman online yang menyenangkan!


bestprofit futures
 

Sunday, 28 September 2025

Bestprofit | Emas Menguat, Pasar Nantikan Fed

 https://best-profit-futures-malang.com/wp-content/uploads/2023/08/Bestprofit-Emas-3.jpeg

Bestprofit (29/9) – Harga emas kembali menunjukkan penguatan pada awal perdagangan Asia. Kenaikan ini terjadi seiring dengan meningkatnya harapan bahwa Federal Reserve (The Fed) akan segera memangkas suku bunga acuannya. Harapan ini memberikan dorongan pada daya tarik emas, yang dikenal sebagai logam mulia tanpa bunga (non-yielding asset).

Kondisi ini dipertegas oleh data ekonomi Amerika Serikat yang dirilis pada Jumat lalu, menunjukkan bahwa pengukur inflasi pilihan The Fed—yaitu indeks harga PCE (Personal Consumption Expenditures)—berada sesuai dengan ekspektasi pasar. Reaksi pasar atas data ini pun cukup signifikan, dengan harga emas spot naik sebesar 0,3% menjadi $3.769,37 per ounce.

Stabilitas Inflasi AS Jadi Sinyal Pelonggaran

Data PCE bulan Agustus menunjukkan bahwa inflasi tahunan naik menjadi 2,7% dari sebelumnya 2,6%, sementara inflasi inti (core PCE) tetap stabil di angka 2,9%. Core PCE sendiri tidak memasukkan harga makanan dan energi yang cenderung fluktuatif, dan merupakan indikator inflasi yang paling diperhatikan oleh The Fed.

Menurut tim riset dari Sucden Financial, data ini memberikan gambaran bahwa tekanan inflasi di Amerika Serikat cukup terkendali. “Data menunjukkan gambaran inflasi yang stabil,” ungkap tim tersebut dalam laporannya. Mereka juga menambahkan bahwa situasi ini memperkuat ekspektasi bahwa The Fed dapat melonggarkan kebijakan moneternya dalam waktu dekat.


Kunjungi juga : bestprofit futures

Mengapa Suku Bunga Penting bagi Emas?

Emas adalah aset yang tidak menghasilkan bunga atau imbal hasil. Oleh karena itu, ketika suku bunga tinggi, investor cenderung lebih memilih instrumen investasi seperti obligasi atau deposito yang memberikan return tetap. Sebaliknya, saat suku bunga turun atau ekspektasi terhadap suku bunga melemah, emas menjadi lebih menarik karena opportunity cost untuk memegang emas menjadi lebih rendah.

Dalam konteks saat ini, jika The Fed memutuskan untuk menurunkan suku bunga dalam beberapa bulan ke depan, maka hal ini akan menjadi katalis kuat bagi harga emas untuk terus menguat. Investor global cenderung melakukan rotasi aset dari instrumen pendapatan tetap ke aset lindung nilai (safe haven) seperti emas.

Prospek The Fed dan Sikap Pasar

Pasar saat ini sedang memantau dengan cermat setiap pernyataan dari pejabat The Fed. Beberapa pernyataan dovish (bernuansa pelonggaran) dari anggota Federal Reserve selama dua pekan terakhir telah memicu spekulasi bahwa suku bunga bisa dipangkas lebih awal dari perkiraan sebelumnya, bahkan mungkin pada kuartal pertama tahun depan.

Menurut FedWatch Tool dari CME Group, probabilitas pemangkasan suku bunga sebesar 25 basis poin pada pertemuan The Fed bulan Maret kini telah naik menjadi lebih dari 40%. Ekspektasi ini tentu akan memengaruhi keputusan investor dalam memilih alokasi aset mereka.

Faktor Global yang Mendukung Kenaikan Harga Emas

Selain faktor suku bunga AS, sejumlah kondisi global juga berperan dalam mendukung kenaikan harga emas:

  1. Ketidakpastian Geopolitik: Konflik yang masih berlangsung di beberapa wilayah seperti Timur Tengah, serta tensi antara AS dan Tiongkok, membuat emas tetap menarik sebagai aset safe haven.

  2. Kondisi Ekonomi Global yang Rentan: Meskipun beberapa negara telah menunjukkan pemulihan pasca pandemi, ketidakpastian ekonomi global tetap tinggi. Pertumbuhan ekonomi yang melambat di Eropa dan Asia meningkatkan permintaan terhadap aset aman.

  3. Meningkatnya Cadangan Emas oleh Bank Sentral: Dalam beberapa tahun terakhir, banyak bank sentral dunia, terutama dari negara berkembang, terus menambah cadangan emas mereka sebagai langkah diversifikasi.

Sentimen Pasar terhadap Emas: Masih Positif

Meski telah mengalami reli yang cukup panjang sejak awal tahun, sentimen terhadap emas di kalangan investor institusi maupun ritel masih relatif positif. Banyak analis memperkirakan bahwa jika The Fed benar-benar mulai memangkas suku bunga, maka harga emas bisa menembus level resistance berikutnya.

Beberapa analis bahkan memprediksi bahwa emas dapat mencapai level $3.800/oz atau lebih tinggi dalam beberapa bulan mendatang, dengan asumsi bahwa tekanan inflasi tetap terkendali dan The Fed memulai siklus pelonggaran moneter.

Perbandingan dengan Aset Lain

Di tengah ketidakpastian pasar, emas mulai kembali bersaing dengan aset lainnya seperti dolar AS dan obligasi pemerintah. Biasanya, dolar AS dan emas memiliki hubungan yang berlawanan. Ketika dolar menguat, emas cenderung melemah karena harga emas menjadi lebih mahal bagi pembeli luar negeri. Namun, dalam beberapa kasus seperti saat ini, keduanya bisa bergerak searah jika pelonggaran kebijakan moneter menjadi narasi dominan.

Obligasi pemerintah AS juga mengalami tekanan karena ekspektasi penurunan suku bunga. Yield obligasi 10 tahun yang sebelumnya sempat mendekati 5% kini mulai menurun, seiring dengan turunnya permintaan terhadap aset pendapatan tetap dan meningkatnya ekspektasi suku bunga rendah.

Tantangan yang Bisa Membatasi Penguatan Emas

Meskipun prospek jangka pendek terlihat positif, penguatan harga emas tetap menghadapi beberapa tantangan, di antaranya:

  • Kebijakan The Fed yang Bisa Berubah Cepat: Jika data inflasi atau tenaga kerja di bulan-bulan mendatang menunjukkan kenaikan tajam, The Fed bisa saja membatalkan rencana pelonggaran.

  • Kuatnya Dolar AS: Jika dolar kembali menguat akibat aliran modal masuk ke AS, maka harga emas bisa kembali mengalami tekanan.

  • Volatilitas Pasar Saham: Jika pasar saham kembali mencatat reli, sebagian investor bisa keluar dari emas untuk mencari keuntungan di pasar ekuitas.

Kesimpulan: Emas Masih Jadi Pilihan Menarik

Dengan ekspektasi pemangkasan suku bunga oleh The Fed, harga emas mendapatkan dukungan kuat sebagai aset lindung nilai. Data inflasi yang stabil di AS memberikan sinyal positif bahwa The Fed memiliki ruang untuk melakukan pelonggaran kebijakan tanpa khawatir memicu lonjakan inflasi.

Namun, investor perlu tetap waspada terhadap perkembangan data ekonomi selanjutnya, karena arah kebijakan The Fed sangat bergantung pada dinamika inflasi dan pasar tenaga kerja.

Dalam jangka pendek hingga menengah, selama ketidakpastian global tetap tinggi dan suku bunga berada dalam tekanan turun, emas diperkirakan masih akan mempertahankan daya tariknya di mata investor global.


Jangan lupa jelajahi website kami di demo bestprofit dan temukan beragam informasi menarik yang siap menginspirasi dan memberikan pengetahuan baru! Ayo, kunjungi sekarang untuk pengalaman online yang menyenangkan!
bestprofit futures