
Bestprofit (21/1) – Harga emas kembali mencetak rekor tertinggi sepanjang masa, sementara perak bertahan sangat dekat dengan puncak historisnya. Lonjakan harga logam mulia ini bukan sekadar refleksi permintaan musiman atau spekulasi jangka pendek, melainkan sinyal kuat meningkatnya kecemasan global. Dua faktor utama menjadi pemicu: eskalasi krisis geopolitik di Greenland dan guncangan serius di pasar obligasi pemerintah Jepang. Kombinasi keduanya mendorong investor global berbondong-bondong mencari aset aman (safe haven), dengan emas dan perak berada di garis depan.
Pada perdagangan terakhir, harga spot emas sempat menyentuh level fantastis di $4,781.19 per ons, sebuah rekor baru yang menegaskan betapa rapuhnya sentimen pasar saat ini. Perak pun ikut menguat, mencerminkan pola klasik ketika ketidakpastian global meningkat dan kepercayaan terhadap aset keuangan konvensional mulai goyah.
Krisis Greenland: Ketegangan Geopolitik yang Tak Bisa Diabaikan
Ketegangan geopolitik kembali mencuat dari kawasan yang selama ini jarang menjadi pusat perhatian pasar global: Greenland. Dalam pertemuan elit dunia di Davos, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menegaskan bahwa dirinya tidak menunjukkan tanda-tanda mundur dari niat mengambil alih pulau Arktik strategis tersebut. Pernyataan ini sontak memicu kegelisahan, bukan hanya di Eropa, tetapi juga di pasar keuangan global.
Situasi semakin memanas setelah Perdana Menteri Greenland meminta masyarakatnya untuk bersiap menghadapi kemungkinan terburuk, termasuk skenario invasi militer. Meski ia menekankan bahwa peluang tersebut relatif kecil, pasar tidak pernah menunggu kepastian penuh. Dalam dunia investasi, kemungkinan kecil dengan dampak besar sudah cukup untuk mengubah arah arus modal.
Greenland memiliki posisi strategis secara militer, ekonomi, dan geopolitik, terutama di tengah mencairnya es Arktik dan meningkatnya persaingan global atas sumber daya alam. Karena itu, wacana pengambilalihan wilayah ini bukan sekadar isu regional, melainkan potensi pemicu ketegangan global yang lebih luas.
Kunjungi juga : bestprofit futures
Ancaman Tarif AS dan Bayang-Bayang Perang Dagang Baru
Krisis Greenland tidak berdiri sendiri. Amerika Serikat juga melontarkan ancaman untuk mengenakan tarif terhadap delapan negara Eropa—termasuk Jerman, Prancis, dan Inggris—yang menolak rencana pengambilalihan tersebut. Langkah ini menghidupkan kembali trauma lama pasar: perang dagang.
Bagi investor, tarif bukan sekadar soal bea masuk. Tarif berarti gangguan rantai pasok, tekanan inflasi, dan perlambatan pertumbuhan ekonomi. Ketika risiko-risiko tersebut muncul kembali, aset berisiko seperti saham dan mata uang pasar berkembang cenderung ditinggalkan. Sebaliknya, emas dan logam mulia kembali bersinar sebagai penyimpan nilai yang dianggap netral secara politik.
Ancaman tarif ini juga memperburuk hubungan AS–Eropa yang sebenarnya sudah rapuh. Pasar membaca sinyal bahwa ketegangan ini bukan sekadar manuver politik jangka pendek, melainkan berpotensi menjadi konflik ekonomi yang berkepanjangan.
Davos: Perang Kata-Kata yang Mengguncang Kepercayaan
Forum Ekonomi Dunia di Davos tahun ini berubah menjadi panggung konfrontasi verbal. Presiden Prancis Emmanuel Macron secara terbuka mengkritik kebijakan dagang Amerika Serikat, menyerukan agar Eropa memperkuat kedaulatannya. Ia memperingatkan risiko “vassalization dan blood politics”, istilah keras yang mencerminkan kekhawatiran Eropa akan ketergantungan strategis dan tekanan politik dari kekuatan besar.
Sementara itu, Perdana Menteri Kanada Mark Carney bahkan melangkah lebih jauh dengan menyatakan bahwa tatanan internasional berbasis aturan “secara efektif sudah mati”. Pernyataan ini menggema luas di pasar, karena sistem global yang dapat diprediksi adalah fondasi utama stabilitas investasi lintas negara.
Ketika para pemimpin dunia sendiri meragukan kelangsungan sistem internasional, investor menangkap pesan yang jelas: risiko struktural meningkat, dan perlindungan nilai menjadi prioritas.
Guncangan Obligasi Jepang dan Ketakutan Fiskal Global
Selain geopolitik, pasar juga diguncang oleh apa yang disebut sebagai “meltdown” obligasi pemerintah Jepang. Lonjakan imbal hasil dan tekanan jual di pasar obligasi negara tersebut menyoroti kekhawatiran lama tentang keberlanjutan fiskal ekonomi besar dunia.
Jepang, dengan rasio utang terhadap PDB yang sangat tinggi, sering dianggap sebagai anomali yang “aman” karena didukung investor domestik dan bank sentral yang agresif. Namun, ketika kepercayaan mulai retak bahkan di pasar seperti Jepang, dampaknya bersifat global. Investor mulai mempertanyakan keamanan obligasi pemerintah di negara-negara lain.
Fenomena ini memicu apa yang disebut sebagai debasement trade—strategi di mana investor menjauhi mata uang fiat dan surat utang pemerintah, lalu mengalihkan dana ke aset riil seperti emas, perak, dan komoditas lainnya.
Emas sebagai Barometer Kepercayaan Global
Daniel Ghali, ahli strategi komoditas senior di TD Securities, menilai bahwa masalah di Jepang telah memicu “ketakutan debasement yang digerakkan pasar” di berbagai negara. Menurutnya, reli emas saat ini bukan semata-mata soal inflasi atau suku bunga, melainkan soal kepercayaan.
“Untuk saat ini, kepercayaan melengkung tapi belum patah. Namun jika sampai patah, momentum kenaikan emas bisa bertahan jauh lebih lama,” ujarnya. Pernyataan ini menyoroti fungsi emas sebagai barometer psikologis pasar global.
Pada pukul 07:59 waktu Singapura, harga spot emas tercatat naik 0,3% ke $4,775.40 per ons. Perak juga menguat 0,3% ke $94.8940. Sementara itu, Bloomberg Dollar Spot Index turun 0,1% setelah merosot 0,5% dalam dua sesi sebelumnya, menandakan melemahnya daya tarik dolar AS.
Logam Mulia di Tengah Dunia yang Rapuh
Platinum tercatat turun tipis, sementara palladium cenderung datar, menunjukkan bahwa fokus investor masih terkonsentrasi pada emas dan perak sebagai aset lindung nilai utama. Pola ini konsisten dengan fase ketidakpastian tinggi, di mana likuiditas dan kepercayaan menjadi faktor dominan.
Kenaikan tajam harga emas dan perak bukan hanya reaksi sesaat, melainkan refleksi dari dunia yang semakin rapuh—baik secara geopolitik maupun finansial. Ketika konflik wilayah, perang dagang, dan krisis fiskal saling bertemu, logam mulia kembali mengambil peran klasiknya sebagai pelabuhan aman terakhir.
Jika ketegangan global terus berlanjut dan kepercayaan terhadap sistem keuangan makin tergerus, reli emas saat ini bisa menjadi awal dari fase yang lebih panjang. Bagi investor, pesan pasar semakin jelas: di tengah dunia yang penuh ketidakpastian, nilai perlindungan sering kali lebih penting daripada potensi imbal hasil.
Jangan lupa jelajahi website kami di demo bestprofit dan temukan beragam informasi menarik yang siap menginspirasi dan memberikan pengetahuan baru! Ayo, kunjungi sekarang untuk pengalaman online yang menyenangkan!
bestprofit futures