
Bestprofit (13/1) – Harga emas global kembali menjadi sorotan utama pasar keuangan dunia. Logam mulia ini diperdagangkan di kisaran US$4.588 per ons, setelah sebelumnya mencatat kenaikan sekitar 2%. Pergerakan ini menegaskan posisi emas sebagai salah satu aset paling diminati di tengah meningkatnya ketidakpastian ekonomi, tekanan politik terhadap bank sentral Amerika Serikat, serta memanasnya situasi geopolitik global.
Meskipun pada perdagangan terbaru harga emas mengalami koreksi tipis, sentimen fundamental yang menopang reli jangka panjang dinilai masih sangat kuat.
Tekanan Politik terhadap The Fed Picu Kekhawatiran Pasar
Ketua Federal Reserve (The Fed), Jerome Powell, dalam pernyataan tertulis dan tayangan video terbaru, menegaskan bahwa berbagai ancaman dan kritik yang ditujukan kepada bank sentral harus dilihat sebagai bagian dari tekanan politik yang terus berlanjut. Pernyataan ini muncul di tengah meningkatnya serangan verbal mantan Presiden AS, Donald Trump, terhadap kebijakan moneter The Fed.
Trump secara terbuka menuding The Fed terlalu ketat dalam menjaga suku bunga dan menghambat pertumbuhan ekonomi. Tekanan politik semacam ini memicu kekhawatiran pelaku pasar terhadap independensi bank sentral AS, yang selama ini menjadi pilar utama stabilitas kebijakan moneter global.
Bagi investor, campur tangan politik terhadap The Fed berpotensi melemahkan kredibilitas pengendalian inflasi. Jika kepercayaan terhadap bank sentral menurun, volatilitas pasar keuangan dapat meningkat, mendorong investor mencari aset lindung nilai seperti emas.
Kunjungi juga : bestprofit futures
Peran Sentral Serangan Trump dalam Reli Emas
Serangan berulang Trump terhadap The Fed dinilai sebagai salah satu pendorong utama lonjakan harga emas yang mencetak rekor tertinggi sepanjang tahun lalu. Retorika politik tersebut meningkatkan spekulasi bahwa kebijakan moneter AS bisa menjadi lebih longgar demi kepentingan politik jangka pendek.
Dalam skenario seperti ini, dolar AS cenderung melemah, sementara imbal hasil obligasi pemerintah berada di bawah tekanan. Kondisi tersebut secara historis sangat menguntungkan bagi emas, karena logam mulia tidak memberikan imbal hasil bunga, namun nilainya cenderung naik ketika mata uang utama tertekan.
Emas kembali diposisikan sebagai penyimpan nilai jangka panjang yang relatif aman dari risiko kebijakan dan inflasi, terutama ketika stabilitas institusional dipertanyakan.
Koreksi Tipis di Pasar Asia: Profit Taking atau Sinyal Pelemahan?
Pada perdagangan Selasa pagi di Asia, harga emas spot tercatat turun tipis 0,2% ke level US$4.587,96 per ons. Pergerakan ini terjadi setelah reli kuat dalam beberapa sesi sebelumnya, yang mendorong sebagian investor melakukan aksi ambil untung (profit taking).
Sementara itu, Indeks Spot Dolar Bloomberg bergerak relatif datar, menunjukkan belum adanya penguatan signifikan dolar yang dapat menekan emas lebih dalam. Di sisi lain, harga perak mengalami koreksi lebih tajam, turun 1,2%, setelah sehari sebelumnya melonjak lebih dari 6%.
Analis menilai penurunan emas kali ini lebih bersifat koreksi teknis dibandingkan perubahan tren. Selama sentimen makro global tetap mendukung, pelemahan harga emas diperkirakan hanya bersifat sementara.
Ketegangan Timur Tengah Jaga Daya Tarik Safe-Haven
Selain faktor domestik AS, ketegangan geopolitik di Timur Tengah menjadi penopang utama harga emas. Presiden Trump kembali meningkatkan tekanan terhadap Iran dengan menyatakan bahwa Amerika Serikat akan mengenakan tarif 25% terhadap negara-negara yang masih menjalin hubungan bisnis dengan Teheran.
Langkah tersebut memperbesar risiko eskalasi konflik, terutama di tengah meningkatnya gelombang protes domestik di Iran serta spekulasi mengenai opsi militer AS. Ketidakpastian ini mendorong investor global untuk meningkatkan eksposur pada aset safe-haven.
Dalam situasi geopolitik yang memanas, emas hampir selalu menjadi pilihan utama karena nilainya cenderung stabil bahkan meningkat ketika risiko global melonjak.
Dolar dan Obligasi di Bawah Tekanan
Tekanan politik terhadap The Fed dan meningkatnya risiko geopolitik secara tidak langsung menekan pasar obligasi pemerintah AS. Jika independensi bank sentral dipertanyakan, investor akan meminta premi risiko yang lebih tinggi untuk memegang surat utang pemerintah.
Di saat yang sama, dolar AS kehilangan sebagian daya tariknya sebagai mata uang cadangan global, membuka ruang bagi emas untuk mengambil peran lebih besar sebagai alat lindung nilai lintas negara. Hubungan terbalik antara dolar dan emas kembali terlihat jelas dalam beberapa bulan terakhir.
Prospek Harga Emas ke Depan
Ke depan, prospek harga emas masih dinilai positif, meskipun volatilitas jangka pendek tidak dapat dihindari. Selama tekanan politik terhadap The Fed belum mereda, risiko inflasi masih membayangi, dan ketegangan geopolitik belum menemukan titik terang, emas diperkirakan tetap bertahan di level tinggi.
Analis pasar memperkirakan setiap koreksi harga akan dimanfaatkan investor jangka menengah dan panjang untuk melakukan akumulasi. Dengan semakin kompleksnya lanskap risiko global, peran emas sebagai aset lindung nilai kembali menguat.
Kesimpulan: Emas Tetap Menjadi Pilar Keamanan Investor
Pergerakan harga emas saat ini mencerminkan kombinasi antara ketidakpastian kebijakan moneter, tekanan politik, dan risiko geopolitik global. Meskipun terjadi koreksi tipis dalam perdagangan Asia, fundamental yang menopang harga emas masih sangat solid.
Dengan dolar dan obligasi pemerintah AS menghadapi tantangan, serta konflik geopolitik yang berpotensi meluas, emas tetap menjadi salah satu instrumen utama bagi investor yang mencari perlindungan nilai dan stabilitas jangka panjang di tengah dunia yang semakin tidak pasti.
Jangan lupa jelajahi website kami di demo bestprofit dan temukan beragam informasi menarik yang siap menginspirasi dan memberikan pengetahuan baru! Ayo, kunjungi sekarang untuk pengalaman online yang menyenangkan!
bestprofit futures