Monday, 21 July 2025

Bestprofit | Powell Diselidiki, Dolar Melemah

 https://best-profit-futures-malang.com/wp-content/uploads/2023/08/Dolar-4.webp

Bestprofit (22/7) – Dolar Amerika Serikat (USD) memulai pekan ini dengan catatan negatif, melemah terhadap mayoritas mata uang utama lainnya dalam perdagangan hari Senin, 22 Juli 2025. Para pelaku pasar menunjukkan sikap hati-hati seiring dengan meningkatnya ketegangan perdagangan global serta gejolak politik dalam negeri yang menambah ketidakpastian terhadap arah kebijakan moneter Federal Reserve (The Fed).

Tekanan Geopolitik dan Batas Waktu Tarif 1 Agustus

Salah satu faktor utama yang membebani dolar AS adalah kekhawatiran yang kembali mencuat terkait kemungkinan kenaikan tarif perdagangan internasional. Pemerintahan Presiden AS, Donald Trump, kembali mengisyaratkan bahwa tenggat waktu 1 Agustus bisa menjadi titik balik dalam strategi tarif, yang berpotensi melibatkan mitra dagang utama seperti Tiongkok dan Uni Eropa.

Investor pun bereaksi dengan menjual dolar dan mencari aset yang lebih aman seperti emas dan yen Jepang. Kecenderungan risk-off ini memperkuat mata uang safe haven, sementara Greenback kehilangan sebagian kekuatannya karena dinilai rentan terhadap dampak langsung dari kebijakan dagang yang agresif.

Data Ekonomi Solid, Tapi Tidak Cukup

Di tengah gejolak politik dan ketegangan tarif, data ekonomi AS secara umum menunjukkan kinerja yang masih kuat. Penjualan ritel yang lebih tinggi dari perkiraan dan pasar tenaga kerja yang tetap solid seharusnya memberikan dorongan pada dolar. Namun, kekhawatiran akan potensi intervensi politik terhadap The Fed membuat investor waspada.

Indeks Dolar AS (DXY), yang mengukur kekuatan USD terhadap enam mata uang utama, sempat turun ke level 97,90 pada sesi perdagangan Amerika. Ini terjadi setelah dua minggu berturut-turut mencatatkan kenaikan, menunjukkan bahwa faktor non-ekonomi kini mulai mendominasi arah pasar.


Kunjungi juga : bestprofit futures

Krisis Kepercayaan terhadap Independensi The Fed

Tekanan terhadap Federal Reserve datang tidak hanya dari Gedung Putih, tetapi juga dari dalam Kongres AS. Anggota Dewan Perwakilan Rakyat dari Partai Republik, Anna Paulina Luna, secara resmi melaporkan Ketua The Fed, Jerome Powell, ke Departemen Kehakiman atas dugaan memberikan kesaksian palsu. Tuduhan tersebut berkaitan dengan renovasi kantor pusat Fed senilai $2,5 miliar, yang disebut-sebut dilakukan dengan pengelolaan dana yang tidak transparan.

Meskipun belum jelas apakah tuntutan hukum ini akan berlanjut, langkah politik ini memperburuk kekhawatiran pasar mengenai independensi lembaga moneter tertinggi di AS. Jika The Fed dinilai tidak lagi independen dari tekanan politik, kredibilitasnya dalam menetapkan suku bunga bisa diragukan, yang berdampak langsung terhadap daya tarik dolar di mata investor global.

Kritik Terbuka dari Menteri Keuangan

Menambah kekacauan adalah pernyataan pedas dari Menteri Keuangan AS, Scott Bessent. Dalam wawancaranya di CNBC pada Senin pagi, Bessent menyebut bahwa sudah waktunya untuk mengevaluasi ulang peran dan kinerja The Fed secara menyeluruh. Ia juga menuding bank sentral menyebarkan ketakutan yang tidak berdasar mengenai inflasi dan dampak tarif.

Pernyataan Bessent menambah tekanan politik terhadap Fed, memperkuat narasi bahwa lembaga ini kini berada di bawah pengawasan ketat pemerintah, yang menambah ketidakpastian terhadap masa depan kebijakan moneter AS.

Sinyal Beragam dari Pejabat The Fed

Sementara itu, pernyataan yang datang dari pejabat The Fed sendiri juga tidak memberikan kejelasan. Beberapa pejabat memberi sinyal kemungkinan pemangkasan suku bunga dalam pertemuan kebijakan akhir bulan Juli, sementara yang lain masih mengedepankan pendekatan wait and see. Hal ini menciptakan ketidakpastian tambahan bagi pasar yang tengah mencari arah yang lebih jelas.

Pasar saat ini menilai kemungkinan pemangkasan suku bunga sebesar 25 basis poin sebagai langkah untuk merespons tekanan ekonomi global, sekaligus sebagai sinyal bahwa The Fed tidak kebal terhadap desakan politik. Namun, masih ada keraguan apakah pemangkasan ini benar-benar berdasar pada data atau lebih karena tekanan eksternal.

Performa DXY: Resisten Tapi Rentan

Meski sempat melemah di awal pekan, DXY masih mencatatkan kenaikan 0,62% pada pekan sebelumnya. Hal ini menunjukkan bahwa dolar tetap mampu bertahan di tengah kekacauan politik dan kebisingan kebijakan, setidaknya dalam jangka pendek. Namun demikian, tren jangka menengah menunjukkan kecenderungan pelemahan yang lebih dalam.

Kombinasi dari ketegangan politik domestik, ancaman tarif, dan ekspektasi penurunan suku bunga membuat prospek jangka panjang dolar menjadi lebih rapuh. Banyak analis kini mempertanyakan apakah reli dolar bisa berlanjut tanpa adanya kejelasan arah kebijakan moneter dan fiskal.

Kalender Ekonomi yang Sepi, Pasar Fokus pada Data PMI dan Durable Goods

Seiring mendekatnya pertemuan FOMC pada 30 Juli, The Fed memasuki periode “blackout”, di mana para pejabat tidak diizinkan memberikan komentar publik tentang kebijakan moneter. Ini berarti pasar harus mengandalkan indikator ekonomi lain untuk membaca arah kebijakan selanjutnya.

Dua data utama yang akan menjadi fokus pasar minggu ini adalah Indeks Manajer Pembelian (PMI) Global S&P pada hari Kamis dan laporan pesanan Barang Tahan Lama pada hari Jumat. Kedua data ini akan memberi gambaran lebih jelas tentang daya tahan ekonomi AS dalam menghadapi tekanan global dan domestik.

Jika data PMI menunjukkan pelemahan aktivitas manufaktur dan jasa, atau jika pesanan barang tahan lama turun signifikan, maka ekspektasi pemangkasan suku bunga oleh The Fed kemungkinan akan menguat, dan ini bisa memperpanjang pelemahan dolar.

Arah Dolar di Tengah Badai Ketidakpastian

Melihat kondisi saat ini, jelas bahwa dolar AS berada di bawah tekanan dari berbagai arah: tekanan geopolitik, gangguan politik domestik, serta ketidakpastian arah kebijakan moneter. Meski masih didukung oleh data ekonomi yang relatif solid, investor mulai mempertanyakan apakah ini cukup untuk menahan dampak dari intervensi politik terhadap The Fed.

Dengan pasar yang semakin mengantisipasi pemangkasan suku bunga dan potensi eskalasi tarif internasional, dolar bisa saja memasuki fase konsolidasi atau bahkan tren penurunan baru jika tidak ada sinyal positif dari pejabat kebijakan.

Kesimpulan: Investor Bersikap Hati-Hati

Dolar AS memulai pekan ini dengan catatan lemah, dan itu bisa menjadi indikasi dari meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap stabilitas ekonomi dan politik AS. Sementara data ekonomi memberi secercah harapan, ketegangan politik dan ancaman terhadap independensi The Fed berpotensi lebih dominan dalam memengaruhi arah mata uang ke depan.

Investor tampaknya memilih untuk bersikap hati-hati, menunggu sinyal lebih jelas dari data ekonomi mendatang dan hasil pertemuan kebijakan The Fed pada akhir bulan. Sampai saat itu, volatilitas kemungkinan akan tetap tinggi, dan dolar akan terus bergerak dalam ketidakpastian yang belum mereda.


Jangan lupa jelajahi website kami di demo bestprofit dan temukan beragam informasi menarik yang siap menginspirasi dan memberikan pengetahuan baru! Ayo, kunjungi sekarang untuk pengalaman online yang menyenangkan!


bestprofit futures
 

Sunday, 20 July 2025

Bestprofit | Emas Naik karena Komentar Waller

 https://best-profit-futures-malang.com/wp-content/uploads/2023/08/Bestprofit-Emas-6.jpg

Bestprofit (21/7) – Harga emas menguat selama sesi perdagangan Amerika Utara pada hari Jumat, ditopang oleh pelemahan Dolar AS serta komentar dovish dari salah satu Gubernur Federal Reserve. Di tengah ketidakpastian kebijakan moneter dan menjelang akhir pekan, para pelaku pasar tampak melakukan aksi ambil untung (profit taking), namun logam mulia tetap berhasil mencatatkan kenaikan yang solid.

Pada saat penulisan, harga emas spot (XAU/USD) berada di kisaran $3.353 per ons troy, naik 0,43% dibandingkan sesi sebelumnya. Pergerakan ini mencerminkan meningkatnya minat investor terhadap aset safe haven, terutama ketika dolar dan imbal hasil obligasi AS mengalami tekanan.

Pelemahan Dolar AS Dorong Permintaan Emas

Salah satu faktor utama penguatan harga emas kali ini adalah pelemahan Dolar AS. Indeks Dolar AS (DXY), yang mengukur kekuatan dolar terhadap enam mata uang utama dunia, turun sebesar 0,13% ke level 98,48.

Penurunan ini menguntungkan komoditas seperti emas yang dihargakan dalam dolar. Ketika dolar melemah, logam mulia menjadi lebih murah bagi pembeli asing, sehingga permintaan emas cenderung meningkat di pasar global. Ini adalah hubungan klasik yang telah lama diamati di antara pelaku pasar.

Selain itu, kondisi saat ini memperlihatkan dolar berada di bawah tekanan akibat ekspektasi bahwa Federal Reserve akan segera memangkas suku bunga, sesuatu yang secara historis membuat dolar kehilangan daya tariknya.


Kunjungi juga : bestprofit futures

Komentar Dovish The Fed Picu Harapan Penurunan Suku Bunga

Pasar juga merespons positif pernyataan Gubernur The Fed, Christopher Waller, yang dianggap lebih dovish dari perkiraan. Waller menyatakan bahwa bank sentral mungkin perlu melonggarkan kebijakan moneter dalam waktu dekat, dan bahkan menyebut kemungkinan penurunan suku bunga pada pertemuan bulan Juli.

Pernyataan ini berdampak langsung terhadap ekspektasi pasar. Menurut kontrak berjangka suku bunga Fed untuk Desember 2025, pelaku pasar kini memperkirakan total pemangkasan suku bunga sebesar 45 basis poin (bps) hingga akhir tahun, naik dari 42 bps sehari sebelumnya.

Penurunan suku bunga biasanya membuat emas menjadi lebih menarik karena menurunkan opportunity cost (biaya peluang) dalam memegang aset yang tidak memberikan imbal hasil seperti emas.

Optimisme Konsumen Dorong Sentimen Positif

Data terbaru dari Universitas Michigan (UoM) juga turut menyumbang pada penguatan harga emas, meskipun secara tidak langsung. Indeks Sentimen Konsumen menunjukkan bahwa masyarakat Amerika semakin optimis terhadap kondisi ekonomi dan memperkirakan penurunan inflasi dalam beberapa bulan mendatang.

Meskipun data ini umumnya memperkuat pasar saham, di sisi lain, penurunan ekspektasi inflasi membuka ruang bagi The Fed untuk lebih leluasa memangkas suku bunga. Ini sekali lagi menjadi angin segar bagi pasar emas, yang selama ini cenderung menguat ketika kebijakan moneter menjadi lebih longgar.

Isu Politik: Rumor Pemecatan Jerome Powell

Di tengah dinamika pasar, muncul pula isu politik yang sempat memicu volatilitas. Beberapa media melaporkan bahwa mantan Presiden AS Donald Trump mempertimbangkan untuk memecat Ketua The Fed, Jerome Powell, jika ia kembali menjabat pada pemilu berikutnya.

Meskipun Trump kemudian membantah rumor tersebut, spekulasi ini tetap menimbulkan ketidakpastian di pasar. Banyak investor khawatir bahwa tekanan politik terhadap bank sentral dapat mengganggu independensinya, yang pada gilirannya bisa merusak kredibilitas kebijakan moneter AS. Momen ini sempat membuat harga emas batangan gagal menembus level tertinggi mingguan pada hari Rabu, meskipun sentimen dovish The Fed mendominasi.

Tekanan Imbal Hasil Obligasi Turut Menopang

Harga emas juga mendapat dukungan dari penurunan imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS, yang terjadi bersamaan dengan ekspektasi pemangkasan suku bunga. Ketika imbal hasil turun, investor cenderung beralih ke aset alternatif yang lebih stabil seperti emas.

Hal ini terjadi karena emas, sebagai aset yang tidak memberikan bunga atau kupon, menjadi relatif lebih kompetitif ketika imbal hasil dari surat utang negara jatuh. Fenomena ini memperkuat daya tarik emas sebagai instrumen lindung nilai terhadap ketidakpastian pasar dan penurunan nilai tukar.

Prospek Minggu Depan: Fokus pada Data Ekonomi

Pasar kini mengalihkan fokus ke data ekonomi AS yang akan dirilis minggu depan. Beberapa laporan penting yang dinantikan investor antara lain:

  • Data Perumahan: Memberikan gambaran mengenai daya beli konsumen dan kesehatan pasar properti.

  • PMI Flash Global S&P: Indikator awal pertumbuhan ekonomi sektor manufaktur dan jasa.

  • Klaim Pengangguran Mingguan: Barometer penting untuk kondisi pasar tenaga kerja.

  • Pesanan Barang Tahan Lama: Mengindikasikan permintaan atas barang-barang bernilai tinggi.

Jika data-data tersebut menunjukkan pelemahan ekonomi, maka ekspektasi penurunan suku bunga akan semakin menguat, dan harga emas kemungkinan besar akan terus naik. Sebaliknya, data yang kuat bisa menunda pemangkasan suku bunga, yang akan menekan harga emas.

Kesimpulan: Emas Semakin Menarik di Tengah Ketidakpastian

Secara keseluruhan, kombinasi pelemahan dolar, penurunan imbal hasil obligasi, komentar dovish dari pejabat The Fed, dan optimisme pasar terhadap pelonggaran moneter telah menciptakan kondisi yang ideal bagi kenaikan harga emas.

Meskipun emas sempat tertahan di bawah level tertinggi mingguan, prospek jangka menengah hingga panjang tetap positif, terutama jika The Fed benar-benar mulai memangkas suku bunga dalam waktu dekat.

Dengan latar belakang fundamental yang mendukung, investor dan trader akan terus mengamati sinyal dari bank sentral serta data ekonomi utama sebagai panduan untuk pergerakan harga selanjutnya. Sementara itu, emas tetap menjadi salah satu instrumen paling dicari dalam menghadapi ketidakpastian global dan perubahan arah kebijakan moneter Amerika Serikat.


Jangan lupa jelajahi website kami di demo bestprofit dan temukan beragam informasi menarik yang siap menginspirasi dan memberikan pengetahuan baru! Ayo, kunjungi sekarang untuk pengalaman online yang menyenangkan!


bestprofit futures
 

Thursday, 17 July 2025

Bestprofit | Emas Stabil, Fokus ke Arah Suku Bunga

 https://best-profit-futures-malang.com/wp-content/uploads/2024/03/Gold-Emas.jpg

Bestprofit (18/7) – Harga emas mengalami stabilisasi namun diperkirakan akan mencatatkan penurunan mingguan moderat. Hal ini terjadi di tengah penguatan data ekonomi Amerika Serikat yang meredakan kekhawatiran terhadap perlambatan ekonomi, serta spekulasi pasar terhadap arah kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed).

Kinerja Emas: Stabil di Tengah Tekanan Ekonomi

Pada awal sesi perdagangan Asia, harga emas batangan diperdagangkan sedikit di bawah $3.340 per ons, menandai penurunan sekitar 0,5% dalam sepekan terakhir. Kinerja ini mencerminkan kondisi pasar yang menunggu kejelasan arah kebijakan moneter, terutama setelah rilis data tenaga kerja dan penjualan ritel AS yang lebih baik dari ekspektasi.

Kekuatan data ekonomi terbaru memberi sinyal bahwa perekonomian AS tetap tangguh, yang pada gilirannya menurunkan ekspektasi pasar terhadap pemangkasan suku bunga dalam waktu dekat. Sebagaimana diketahui, harga emas sangat sensitif terhadap perubahan kebijakan suku bunga karena logam mulia ini tidak menghasilkan bunga, sehingga kehilangan daya tarik relatifnya di tengah suku bunga tinggi.

Data Ekonomi AS Menopang Dolar, Menekan Emas

Data yang menjadi fokus pasar dalam beberapa hari terakhir adalah turunnya jumlah klaim pengangguran di AS selama lima pekan berturut-turut. Ini merupakan sinyal kuat bahwa pasar tenaga kerja masih solid. Selain itu, penjualan ritel AS naik pada bulan Juni, mengindikasikan permintaan konsumen yang tetap tinggi.

Kedua indikator ini memberi dorongan terhadap kekuatan dolar AS dan menekan permintaan terhadap emas. Dolar yang kuat biasanya membuat emas lebih mahal bagi pembeli yang menggunakan mata uang lain, sehingga menurunkan daya tarik investasi pada logam mulia tersebut.


Kunjungi juga : bestprofit futures

Pernyataan Pejabat The Fed: Dua Pemangkasan Masih Dimungkinkan

Presiden Federal Reserve San Francisco, Mary Daly, menyatakan bahwa ia masih melihat kemungkinan dilakukannya dua kali pemangkasan suku bunga tahun ini. Namun, ia juga menekankan pentingnya waktu dalam pengambilan keputusan tersebut agar The Fed tidak tertinggal dalam merespons kondisi ekonomi yang berubah cepat.

Komentar Daly memberikan harapan bagi investor emas, karena pemangkasan suku bunga biasanya akan mendukung harga logam mulia. Namun, pasar saat ini masih menilai sinyal tersebut dengan hati-hati, menunggu kepastian dari pertemuan kebijakan moneter The Fed pada akhir bulan ini.

Tekanan Politik dan Ketidakpastian Internal The Fed

Selain faktor ekonomi, The Fed juga menghadapi tekanan politik. Presiden AS Donald Trump kembali mendesak bank sentral untuk melonggarkan kebijakan moneternya guna mendukung pertumbuhan ekonomi dan pasar tenaga kerja menjelang pemilu. Selain itu, isu renovasi kantor pusat The Fed yang dianggap terlalu mahal turut menjadi sorotan, menciptakan dinamika politik tambahan bagi pembuat kebijakan.

Tekanan semacam ini tidak hanya menimbulkan perdebatan di internal bank sentral, tetapi juga menambah lapisan ketidakpastian di pasar keuangan. Investor emas biasanya merespons ketidakpastian geopolitik dan politik domestik dengan meningkatkan kepemilikan aset safe haven seperti logam mulia.

Emas: Safe Haven yang Masih Dicari di Tengah Ketidakpastian Global

Walau mengalami pelemahan dalam beberapa pekan terakhir, emas secara umum telah mengalami kenaikan lebih dari 25% sepanjang tahun ini. Ketegangan geopolitik di berbagai belahan dunia, seperti konflik perdagangan, ketidakpastian politik, dan risiko dari pasar berkembang, telah meningkatkan permintaan terhadap emas sebagai aset pelindung nilai.

Kondisi ini menunjukkan bahwa sentimen terhadap emas secara jangka menengah hingga panjang masih positif, meskipun pergerakan harga jangka pendek akan sangat bergantung pada sinyal dari The Fed dan arah pergerakan dolar AS.

Rentang Perdagangan yang Ketat: Investor Masih Menunggu

Selama beberapa bulan terakhir, harga emas diperdagangkan dalam kisaran yang relatif sempit. Hal ini mencerminkan sikap wait and see para investor, yang menanti kejelasan dari negosiasi perdagangan AS dengan mitra dagangnya, termasuk Tiongkok dan Uni Eropa. Selain itu, ketidakpastian mengenai laju pemangkasan suku bunga The Fed serta dampak tarif terhadap pertumbuhan ekonomi global menahan pergerakan emas dalam kisaran terbatas.

Situasi ini memperlihatkan bahwa pasar masih berada dalam fase konsolidasi, dan kemungkinan breakout bisa terjadi jika ada kejutan besar dari kebijakan moneter atau perkembangan geopolitik.

Logam Mulia Lain: Perak Stabil, Platinum dan Paladium Menguat

Selain emas, pergerakan logam mulia lainnya juga mencerminkan suasana pasar yang hati-hati namun tetap waspada terhadap potensi volatilitas. Perak dilaporkan bergerak stabil, sedangkan platinum dan paladium mengalami sedikit penguatan. Hal ini menunjukkan bahwa investor tetap menjaga eksposur terhadap sektor logam mulia, meskipun belum ada dorongan kuat yang memicu reli besar.

Permintaan industri terhadap logam-logam tersebut, terutama paladium yang banyak digunakan dalam industri otomotif untuk catalytic converter, juga turut menopang harga di tengah fluktuasi global.

Outlook Mingguan: Fokus pada The Fed dan Data Ekonomi Tambahan

Melihat ke depan, pelaku pasar akan fokus pada hasil pertemuan kebijakan The Fed yang dijadwalkan pada akhir bulan ini. Keputusan dan pernyataan resmi dari bank sentral akan sangat menentukan arah harga emas dalam beberapa pekan ke depan.

Selain itu, data ekonomi tambahan seperti inflasi, indeks manufaktur, dan indikator sektor perumahan akan menjadi pertimbangan penting dalam menilai kemungkinan perubahan suku bunga.

Jika data-data tersebut tetap kuat dan tidak memberi sinyal perlambatan, maka harapan akan pemangkasan suku bunga bisa semakin memudar — yang berpotensi menekan harga emas lebih lanjut.

Kesimpulan: Momentum Emas Tertahan, Tapi Potensi Masih Ada

Harga emas saat ini menghadapi fase penyesuaian setelah reli yang kuat selama paruh pertama tahun ini. Momentum jangka pendek mungkin melemah akibat data ekonomi AS yang kokoh dan ketidakpastian arah kebijakan The Fed. Namun demikian, logam mulia ini tetap memiliki prospek positif dalam jangka menengah hingga panjang, terutama sebagai lindung nilai terhadap ketidakpastian global dan risiko geopolitik.

Investor disarankan untuk tetap mencermati dinamika pasar dan perkembangan dari bank sentral utama dunia sebelum mengambil keputusan investasi yang besar. Emas tetap menjadi bagian penting dalam strategi diversifikasi portofolio di tengah kondisi global yang terus berubah.


Jangan lupa jelajahi website kami di demo bestprofit dan temukan beragam informasi menarik yang siap menginspirasi dan memberikan pengetahuan baru! Ayo, kunjungi sekarang untuk pengalaman online yang menyenangkan!


bestprofit futures
 

Wednesday, 16 July 2025

Bestprofit | Drama Fed-Trump Dongkrak Emas

https://best-profit-futures-malang.com/wp-content/uploads/2023/08/Bestprofit-Emas-10.jpg

Bestprofit (17/7) – Harga emas mengalami lonjakan sebesar 0,78% selama sesi perdagangan Amerika Utara, didorong oleh ketidakpastian politik di Amerika Serikat dan perkembangan geopolitik global. Salah satu pemicu utama kenaikan ini adalah pernyataan mengejutkan dari mantan Presiden AS, Donald Trump, terkait kemungkinan pemecatan Ketua Federal Reserve (The Fed), Jerome Powell. Meskipun Trump kemudian membantah niat tersebut, pasar sudah bereaksi terhadap ketidakpastian yang ditimbulkan.

Kenaikan Harga Emas: Reaksi Terhadap Ketidakpastian Politik

Pada saat penulisan, XAU/USD diperdagangkan di level $3.348 per ons, setelah sempat menyentuh puncak harian $3.377. Lonjakan harga ini terjadi menyusul pemberitaan dari Bloomberg yang mengungkap bahwa Trump sempat membahas pemecatan Jerome Powell dalam sebuah pertemuan dengan anggota parlemen dari Partai Republik di Gedung Putih. Pertemuan tersebut awalnya bertujuan untuk membahas undang-undang mengenai mata uang kripto, namun perhatian pasar justru tertuju pada pernyataan politis yang tidak biasa.

Menurut laporan Bloomberg, Trump mengatakan bahwa “hampir semua” anggota parlemen yang hadir dalam pertemuan tersebut menyetujui gagasan untuk mencopot Powell dari jabatannya. Meskipun Trump kemudian melunakkan pernyataannya dengan mengatakan bahwa sangat kecil kemungkinan ia akan memecat Powell kecuali ada indikasi kecurangan, pernyataan awal sudah cukup untuk menimbulkan gejolak di pasar keuangan, termasuk pasar emas.

Pasar Emas: Aset Aman di Tengah Ketidakpastian

Emas dikenal sebagai aset safe haven, yaitu aset yang dicari oleh investor ketika kondisi pasar tidak menentu atau penuh risiko. Komentar Trump memicu kekhawatiran tentang potensi ketidakstabilan kebijakan moneter AS jika terjadi intervensi politik terhadap The Fed, yang seharusnya independen.

Ketakutan bahwa pemimpin negara dapat memengaruhi atau bahkan mengganti pimpinan bank sentral untuk tujuan politik menyebabkan para investor beralih ke aset yang lebih aman, termasuk emas. Hal ini menjelaskan mengapa harga XAU/USD melonjak tajam tak lama setelah berita tersebut mencuat.


Kunjungi juga : bestprofit futures

Inflasi Produsen AS: Turun, Tapi Masih Tinggi

Faktor lain yang memperkuat harga emas adalah rilis data Indeks Harga Produsen (IHP) di AS. Meskipun angka tersebut turun dan berada di bawah ekspektasi pasar, ia tetap berada di atas target inflasi 2% yang ditetapkan oleh The Fed. Ini menunjukkan bahwa tekanan inflasi masih menjadi perhatian utama.

Inflasi yang tinggi membuat emas menjadi pilihan menarik karena sifatnya yang tahan terhadap depresiasi nilai mata uang. Dalam kondisi inflasi yang belum sepenuhnya terkendali, emas dianggap sebagai pelindung nilai (hedge) yang efektif.

Ketegangan Geopolitik: Serangan Israel ke Suriah

Di luar ranah politik dan ekonomi domestik AS, ketegangan geopolitik di Timur Tengah juga memainkan peran dalam mendongkrak harga emas. Serangan udara Israel terhadap Suriah menjadi sorotan global dan menambah sentimen risiko di pasar keuangan.

Geopolitik selalu menjadi pendorong utama harga emas. Ketika terjadi konflik, ketegangan militer, atau ketidakpastian regional, permintaan terhadap emas meningkat karena investor mencari perlindungan dari potensi dampak ekonomi dan keamanan global. Serangan terbaru ini memperkuat narasi bahwa emas adalah aset yang harus dimiliki dalam portofolio ketika dunia berada dalam situasi yang tidak stabil.

Laporan Inflasi Konsumen: Menahan Euforia Emas

Meskipun banyak faktor mendorong harga emas naik, euforia ini dibatasi oleh laporan terbaru mengenai inflasi konsumen di AS. Data menunjukkan bahwa inflasi konsumen tidak naik secepat yang dikhawatirkan, sehingga sebagian pelaku pasar menilai bahwa The Fed mungkin tidak akan terlalu agresif dalam menaikkan suku bunga di masa mendatang.

Tingkat suku bunga sangat berpengaruh terhadap harga emas. Jika suku bunga tinggi, maka emas menjadi kurang menarik karena tidak memberikan imbal hasil, berbeda dengan obligasi atau instrumen keuangan lain. Sebaliknya, jika suku bunga rendah atau tetap, emas kembali menjadi favorit. Oleh karena itu, laporan inflasi ini menjadi penyeimbang terhadap kenaikan harga emas yang terlalu agresif.

Keseimbangan Sentimen: Antara Risiko Politik dan Data Ekonomi

Secara keseluruhan, pergerakan harga emas dalam beberapa hari terakhir menunjukkan adanya keseimbangan yang rumit antara sentimen risiko dan data fundamental ekonomi. Di satu sisi, komentar Trump dan ketegangan geopolitik mendorong harga emas ke atas. Di sisi lain, data ekonomi yang tidak terlalu mengejutkan membuat para investor berhati-hati dalam mendorong harga melewati level psikologis $3.400 per ons.

Fakta bahwa harga tertinggi harian berada di $3.377, namun berakhir di bawahnya, mencerminkan adanya tekanan jual ketika harga mendekati level resistance yang kuat. Ini bisa menjadi sinyal bahwa pasar masih menunggu konfirmasi lebih lanjut sebelum melanjutkan tren naik lebih jauh.

Outlook Jangka Pendek: Ketidakpastian Masih Menghantui

Dalam jangka pendek, pasar emas kemungkinan masih akan bergerak dalam kisaran yang sensitif terhadap berita-berita politik dan ekonomi. Kekuatan dolar AS, kebijakan The Fed, data inflasi, serta dinamika geopolitik akan terus menjadi katalis utama.

Investor dan analis perlu mencermati perkembangan selanjutnya, terutama apakah komentar Trump akan menimbulkan dampak jangka panjang terhadap persepsi independensi The Fed. Selain itu, ketegangan antara Israel dan negara-negara di Timur Tengah juga patut dipantau, karena potensi eskalasi bisa menjadi dorongan tambahan bagi harga emas.

Kesimpulan: Emas Tetap Jadi Pilihan Saat Dunia Tak Pasti

Kenaikan harga emas sebesar 0,78% mencerminkan bagaimana pasar global merespons ketidakpastian dengan mencari perlindungan di aset yang stabil. Meskipun Trump telah membantah niat memecat Jerome Powell, fakta bahwa isu ini sempat dibahas di level tertinggi pemerintahan sudah cukup untuk menimbulkan kegelisahan pasar.

Di tengah data ekonomi yang beragam dan geopolitik yang memanas, emas terus menunjukkan perannya sebagai aset strategis. Selama ketidakpastian masih membayangi arah kebijakan moneter AS dan situasi global tetap rapuh, logam mulia ini kemungkinan akan tetap menjadi bintang dalam portofolio investor global.

 


Jangan lupa jelajahi website kami di demo bestprofit dan temukan beragam informasi menarik yang siap menginspirasi dan memberikan pengetahuan baru! Ayo, kunjungi sekarang untuk pengalaman online yang menyenangkan!


bestprofit futures
 

Tuesday, 15 July 2025

Bestprofit | Emas Anjlok Usai Laporan IHK Positif

 https://best-profit-futures-malang.com/wp-content/uploads/2024/04/Gold-Emas-1.jpg

Bestprofit (16/7) – Pada hari Selasa yang lalu, harga emas mengalami penurunan tajam lebih dari 0,40%, disebabkan oleh rilis laporan inflasi terbaru dari Amerika Serikat (AS). Inflasi yang lebih tinggi dari yang diperkirakan mendorong penguatan Dolar AS, yang pada gilirannya memberikan tekanan pada harga emas. Harga logam mulia tersebut diperdagangkan pada harga $3.329, setelah sempat menyentuh puncak harian di $3.366.

Fenomena ini menunjukkan bagaimana harga emas sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor makroekonomi, seperti laporan inflasi dan kebijakan moneter yang dikeluarkan oleh Federal Reserve. Kondisi pasar yang berfluktuasi juga mencerminkan ketidakpastian ekonomi yang tengah dihadapi oleh banyak negara, termasuk AS.

Dampak Inflasi terhadap Harga Emas

Inflasi yang lebih tinggi dari ekspektasi pada bulan Juni memicu penguatan Dolar AS, yang dalam banyak kasus akan membebani harga emas. Laporan tersebut menunjukkan bahwa Indeks Harga Konsumen (IHK) baik angka utama maupun inti, mengalami kenaikan secara tahunan. Ini menandakan bahwa tarif yang diberlakukan pada barang-barang impor mulai mendorong harga barang dan jasa lebih tinggi.

Pada umumnya, ketika inflasi meningkat, investor cenderung mencari aset yang lebih aman, seperti emas, untuk melindungi nilai kekayaan mereka. Namun, dalam kasus ini, penguatan Dolar AS justru membebani logam mulia tersebut. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun emas sering dianggap sebagai lindung nilai terhadap inflasi, dalam jangka pendek, fluktuasi nilai tukar dapat memainkan peran yang lebih besar dalam menentukan harganya.


Kunjungi juga : bestprofit futures

Kebijakan Federal Reserve dan Suku Bunga

Salah satu faktor yang sangat mempengaruhi pergerakan harga emas adalah kebijakan suku bunga yang ditetapkan oleh Federal Reserve (The Fed). Setelah rilis data inflasi, para pedagang di pasar memperkirakan bahwa The Fed kemungkinan akan mempertahankan suku bunga untuk saat ini dan menunggu lebih banyak data sebelum membuat keputusan lebih lanjut. Terutama menjelang pertemuan The Fed pada bulan September setelah Simposium Jackson Hole.

Ketika The Fed memutuskan untuk mempertahankan suku bunga pada level yang tinggi atau bahkan menaikkannya, hal ini biasanya akan membuat Dolar AS menguat, yang selanjutnya akan menekan harga emas. Sebaliknya, jika The Fed mengurangi suku bunga, emas biasanya akan lebih menarik sebagai aset alternatif, sehingga harga emas dapat naik.

Reaksi Pasar terhadap Kebijakan Donald Trump

Selain data ekonomi, komentar dan kebijakan dari Presiden AS Donald Trump juga turut mempengaruhi pergerakan harga emas. Baru-baru ini, Trump mengumumkan penerapan tarif sebesar 30% terhadap barang-barang dari Uni Eropa (UE) dan Meksiko. Awalnya, pengumuman ini sempat memicu lonjakan harga emas, karena pasar melihatnya sebagai peningkatan ketegangan perdagangan global yang bisa mengarah pada ketidakstabilan ekonomi.

Namun, pergerakan harga emas tersebut tidak bertahan lama. Pedagang segera meredam lonjakan harga emas tersebut karena mereka memperkirakan bahwa kesepakatan perdagangan antara AS dan negara-negara tersebut mungkin akan tercapai dalam waktu dekat. Hal ini menunjukkan bagaimana pasar dapat dengan cepat menyesuaikan diri dengan informasi baru, dan betapa sentimen perdagangan sangat penting dalam menentukan arah harga emas.

Trump juga kembali mempertegas pendapatnya melalui media sosial, dengan menuntut agar Federal Reserve menurunkan suku bunga. Pernyataan semacam ini dapat memengaruhi kebijakan The Fed dan merangsang pergerakan harga emas, karena penurunan suku bunga akan meningkatkan minat pada emas sebagai instrumen investasi.

Sentimen Penghindaran Risiko di Pasar

Pasar saham AS juga menunjukkan fluktuasi yang signifikan setelah rilis laporan inflasi. Ekuitas AS berfluktuasi antara naik dan turun, mencerminkan ketidakpastian pasar yang tinggi. Ketika investor merasa khawatir tentang ketegangan perdagangan atau prospek ekonomi, mereka cenderung mengalihkan investasi mereka ke aset yang lebih aman seperti emas.

Namun, kali ini, penghindaran risiko yang biasanya mendorong harga emas lebih tinggi justru tidak cukup kuat untuk menahan penurunan harga emas. Ini bisa disebabkan oleh penguatan Dolar AS yang lebih dominan, serta optimisme pasar terkait potensi perjanjian dagang yang lebih baik antara AS dan negara-negara mitra dagangnya.

Pemantauan Data Ekonomi Pekan Ini

Minggu ini, pasar akan memantau berbagai data ekonomi penting yang akan dirilis, termasuk inflasi sisi produsen, penjualan ritel, serta laporan ketenagakerjaan dan sentimen konsumen dari Universitas Michigan. Data-data ini akan memberikan petunjuk lebih lanjut mengenai keadaan ekonomi AS dan dapat memengaruhi keputusan para pelaku pasar dalam menentukan arah investasi mereka.

Secara khusus, inflasi sisi produsen dan penjualan ritel dapat memberikan gambaran mengenai kesehatan sektor konsumen, yang merupakan bagian penting dari perekonomian AS. Sementara itu, laporan ketenagakerjaan dan sentimen konsumen juga akan memberikan petunjuk tentang prospek pertumbuhan ekonomi yang lebih luas, yang bisa mempengaruhi keputusan The Fed mengenai kebijakan suku bunga.

Jika data-data tersebut menunjukkan adanya peningkatan inflasi atau memperlihatkan bahwa konsumen semakin kuat, maka The Fed mungkin akan lebih cenderung mempertahankan kebijakan suku bunga yang lebih tinggi, yang bisa membebani harga emas lebih lanjut.

Kesimpulan

Harga emas yang turun pada hari Selasa setelah rilis laporan inflasi terbaru AS mencerminkan bagaimana berbagai faktor ekonomi, kebijakan pemerintah, dan sentimen pasar dapat mempengaruhi pergerakan harga logam mulia tersebut. Penguatan Dolar AS, kebijakan suku bunga Federal Reserve, serta ketegangan perdagangan global merupakan faktor utama yang memengaruhi harga emas dalam waktu dekat. Oleh karena itu, para pedagang dan investor harus terus memantau perkembangan ekonomi global dan kebijakan yang diambil oleh otoritas moneter, agar dapat mengambil keputusan yang tepat dalam menghadapi volatilitas pasar yang semakin meningkat.

Selain itu, data ekonomi yang akan dirilis dalam beberapa hari mendatang juga akan memberikan gambaran lebih jelas mengenai arah pasar. Oleh karena itu, baik pelaku pasar maupun investor individu perlu tetap waspada terhadap setiap perkembangan yang dapat mempengaruhi harga emas dan aset lainnya.


Jangan lupa jelajahi website kami di demo bestprofit dan temukan beragam informasi menarik yang siap menginspirasi dan memberikan pengetahuan baru! Ayo, kunjungi sekarang untuk pengalaman online yang menyenangkan!


bestprofit futures
 

Monday, 14 July 2025

Bestprofit | Sentimen Positif Emas Menjelang IHK AS

 https://best-profit-futures-malang.com/wp-content/uploads/2023/08/Bestprofit-Emas-3.jpeg

Bestprofit (15/7) – Harga emas mengalami penguatan pada awal sesi perdagangan Asia, mencatatkan kenaikan tipis sebesar 0,1% menjadi $3.345,26 per ons. Peningkatan harga emas ini terjadi di tengah perhatian pasar terhadap data inflasi yang akan dirilis oleh Amerika Serikat, khususnya Indeks Harga Konsumen (IHK) yang diperkirakan akan memberikan gambaran baru mengenai arah kebijakan moneter Federal Reserve (The Fed). Rania Gule, seorang analis pasar senior dari XS.com, menekankan bahwa inflasi tetap menjadi faktor utama yang mempengaruhi kebijakan The Fed, dan dengan demikian memengaruhi sentimen pasar terhadap aset-aset safe haven seperti emas.

Dampak Inflasi terhadap Kebijakan Moneter The Fed

Sejak awal pandemi COVID-19, The Fed telah mengambil langkah-langkah kebijakan yang sangat agresif untuk mendukung perekonomian AS, termasuk penurunan suku bunga dan program pembelian obligasi besar-besaran. Namun, salah satu tujuan utama dari kebijakan moneter ini adalah untuk menjaga inflasi tetap terkendali. Inflasi yang lebih tinggi dari perkiraan dapat memaksa The Fed untuk mempertahankan atau bahkan menaikkan suku bunga lebih lanjut untuk mengatasi tekanan harga yang meningkat.

Sebaliknya, inflasi yang lebih rendah dari yang diharapkan dapat memberikan ruang bagi The Fed untuk melonggarkan kebijakan moneternya, yang berarti penurunan suku bunga. Gule menjelaskan bahwa hasil dari data inflasi yang akan dirilis hari ini dapat memberikan petunjuk tentang kemungkinan perubahan kebijakan ini, yang pada gilirannya dapat memiliki dampak besar pada pasar keuangan, termasuk pasar emas.

Inflasi yang Lebih Tinggi: Potensi Penguatan USD dan Penurunan Harga Emas

Jika data inflasi yang dirilis menunjukkan angka yang lebih tinggi dari perkiraan, maka ini akan memperkuat ekspektasi bahwa The Fed akan lebih lambat dalam menurunkan suku bunga pada bulan September. Hal ini akan meningkatkan daya tarik dolar AS karena suku bunga yang lebih tinggi cenderung membuat aset-denominasi dolar lebih menarik bagi investor. Penguatan dolar AS biasanya menekan harga emas, karena emas lebih mahal bagi pembeli yang menggunakan mata uang lain selain dolar.

Selain itu, ekspektasi bahwa The Fed akan mempertahankan kebijakan suku bunga tinggi untuk waktu yang lebih lama dapat mengurangi permintaan untuk emas sebagai aset safe haven. Meskipun emas sering dianggap sebagai pelindung nilai terhadap inflasi, suku bunga yang lebih tinggi membuat instrumen keuangan lainnya, seperti obligasi, lebih menarik, sehingga mengalihkan perhatian investor dari emas.


Kunjungi juga : bestprofit futures

Inflasi yang Lebih Rendah: Prospek Penurunan Suku Bunga The Fed yang Meningkatkan Harga Emas

Sebaliknya, jika data inflasi menunjukkan hasil yang lebih rendah dari perkiraan, maka ekspektasi pasar mengenai kemungkinan penurunan suku bunga The Fed pada bulan September akan semakin kuat. Penurunan suku bunga sering kali menyebabkan penurunan imbal hasil obligasi dan meningkatkan permintaan untuk aset-aset yang dianggap lebih aman, seperti emas. Dalam kondisi ini, emas dapat memperoleh daya tarik lebih besar sebagai pelindung nilai terhadap ketidakpastian ekonomi.

Rania Gule menekankan bahwa data inflasi yang lemah akan memberikan angin segar bagi harga emas. Ini karena penurunan suku bunga The Fed akan memperburuk daya tarik dolar AS, sekaligus meningkatkan daya tarik emas sebagai alternatif investasi yang lebih aman. Oleh karena itu, investor akan cenderung beralih ke emas untuk melindungi kekayaan mereka dari potensi ketidakstabilan ekonomi yang lebih lanjut.

Keterkaitan Antara Emas dan Aset Safe Haven Lainnya

Emas telah lama dianggap sebagai salah satu aset safe haven utama di pasar keuangan. Ketika pasar saham atau pasar lainnya mengalami gejolak, banyak investor beralih ke emas untuk melindungi nilai investasi mereka. Namun, emas bukan satu-satunya aset yang dianggap aman. Obligasi pemerintah, terutama yang dikeluarkan oleh negara-negara besar seperti AS, juga sering dipilih sebagai tempat parkir uang yang lebih aman.

Namun, meskipun obligasi pemerintah dapat menawarkan pengembalian yang lebih stabil, emas memiliki keunggulan tersendiri. Emas tidak terpengaruh oleh perubahan suku bunga yang langsung, yang membuatnya tetap menarik ketika suku bunga rendah. Selain itu, emas memiliki nilai intrinsik yang telah teruji selama ribuan tahun sebagai sarana penyimpan nilai.

Emas dalam Konteks Global: Faktor Eksternal yang Juga Memengaruhi Harga Emas

Selain faktor inflasi dan kebijakan moneter The Fed, harga emas juga dipengaruhi oleh berbagai faktor eksternal lainnya, termasuk gejolak politik, ketegangan geopolitik, dan krisis ekonomi global. Krisis ekonomi atau ketidakpastian politik dapat mendorong permintaan akan aset safe haven, termasuk emas. Hal ini dapat menyebabkan lonjakan harga emas yang signifikan, meskipun inflasi domestik di AS tetap terkendali.

Contohnya, ketegangan yang meningkat antara negara-negara besar seperti AS dan China, atau ketidakpastian terkait Brexit, dapat membuat investor lebih berhati-hati dan memilih emas sebagai tempat penyimpanan kekayaan mereka. Pada saat-saat tersebut, harga emas seringkali melonjak meskipun inflasi domestik tidak memberikan dampak signifikan.

Prospek Emas ke Depan: Menyimak Rilis Data IHK dan Dampaknya pada Pasar

Seiring dengan dirilisnya data inflasi IHK AS hari ini, pasar akan sangat memperhatikan setiap angka yang keluar, karena ini dapat mempengaruhi arah kebijakan The Fed dan memberikan dampak langsung pada harga emas. Kenaikan inflasi yang signifikan dapat memperkuat dolar AS dan menekan harga emas, sementara inflasi yang lebih rendah dapat memperkuat daya tarik emas sebagai aset safe haven.

Bagi investor, hal ini juga berarti bahwa momen-momen volatilitas pasar, yang dipicu oleh perubahan dalam kebijakan moneter atau pengumuman data ekonomi, dapat menciptakan peluang perdagangan yang menguntungkan di pasar emas. Oleh karena itu, pemantauan terhadap data inflasi dan sinyal dari The Fed akan menjadi hal yang sangat penting dalam beberapa pekan ke depan.

Kesimpulan

Emas, sebagai salah satu aset safe haven utama, terus dipengaruhi oleh dinamika ekonomi global, terutama inflasi dan kebijakan moneter The Fed. Rania Gule dari XS.com menyatakan bahwa inflasi adalah faktor kunci yang mengendalikan kebijakan moneter The Fed dan memengaruhi harga emas. Jika inflasi AS lebih tinggi dari perkiraan, kemungkinan penurunan suku bunga The Fed pada bulan September akan berkurang, yang dapat memperkuat USD dan menekan harga emas. Sebaliknya, inflasi yang lebih rendah dapat memperkuat ekspektasi penurunan suku bunga The Fed dan memberikan dorongan bagi harga emas. Oleh karena itu, rilis data inflasi hari ini akan menjadi momen penting yang dapat memberikan petunjuk lebih lanjut mengenai arah pasar emas.


Jangan lupa jelajahi website kami di demo bestprofit dan temukan beragam informasi menarik yang siap menginspirasi dan memberikan pengetahuan baru! Ayo, kunjungi sekarang untuk pengalaman online yang menyenangkan!


bestprofit futures
 

Sunday, 13 July 2025

Bestprofit | Emas Melonjak, Tarif Trump Mengancam

https://best-profit-futures-malang.com/wp-content/uploads/2023/08/Bestprofit-Emas-4.jpg 

Bestprofit (14/7) – Ketegangan geopolitik dan kebijakan proteksionis dari pemerintahan Amerika Serikat kembali menjadi sorotan pasar global. Kali ini, harga emas melonjak karena lonjakan permintaan akan aset safe haven, menyusul kebijakan tarif baru yang diumumkan oleh Presiden Donald Trump. Para investor global bersiap menghadapi potensi gejolak perdagangan, terutama setelah Trump mengeluarkan ultimatum terhadap mitra dagang utama seperti Uni Eropa dan Meksiko. Dalam suasana yang penuh ketidakpastian ini, emas kembali menunjukkan perannya sebagai pelindung nilai yang andal.

Ketegangan Dagang Memanas: Ultimatum Trump terhadap Mitra Dagang

Presiden Donald Trump pada akhir pekan lalu secara resmi mengumumkan tarif baru sebesar 30% terhadap produk dari Uni Eropa dan Meksiko yang akan diberlakukan mulai bulan depan. Langkah ini merupakan bagian dari strategi agresif Trump dalam menekan mitra dagang AS untuk membuat konsesi yang lebih besar dalam perundingan perdagangan. Tidak hanya itu, surat-surat ultimatum juga dikirimkan kepada pemimpin negara lain seperti Kanada dan Brasil.

Presiden Meksiko Claudia Sheinbaum dan Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen menerima surat ancaman tersebut, yang menyatakan bahwa AS tidak akan segan memberlakukan kebijakan lebih keras jika tidak ada kesepakatan yang dicapai sebelum 1 Agustus. Strategi “maksimum pressure” ini menciptakan ketidakpastian dan ketegangan di pasar global, terutama karena pendekatan Trump yang tidak terduga dalam urusan perdagangan.

Emas Mencapai Level Tinggi: Diperdagangkan Mendekati $3.370 per Ons

Sebagai respons terhadap meningkatnya risiko ekonomi dan geopolitik, harga emas batangan diperdagangkan mendekati $3.370 per ons. Ini menandai kelanjutan dari tren kenaikan harga logam mulia tersebut, yang minggu lalu naik 0,6%. Para investor global mulai memindahkan dana mereka ke emas untuk melindungi portofolio dari potensi guncangan di pasar saham dan nilai tukar.

Harga emas spot naik 0,4% ke $3.367,20 per ons pada perdagangan pagi di Singapura. Ini menunjukkan minat yang konsisten dari investor yang mencari aset safe haven di tengah ketidakpastian. Seiring dengan itu, perak juga mencatat penguatan dan berada di dekat level tertinggi sejak 2011. Sebaliknya, harga platinum dan paladium mengalami tekanan dan mencatatkan penurunan.

Reaksi Pasar: Dolar Menguat, Ketidakpastian Meningkat

Selain logam mulia, mata uang dolar AS juga menunjukkan kekuatan. Indeks Bloomberg Dollar Spot naik 0,1%, menandakan bahwa pasar masih menganggap dolar sebagai aset aman alternatif di samping emas. Meski demikian, kekuatan dolar bisa menjadi hambatan bagi emas karena harga logam mulia tersebut menjadi lebih mahal bagi pemegang mata uang lain. Namun, efek negatif tersebut tampaknya terkompensasi oleh ketakutan investor akan eskalasi perang dagang.

Pasar saham, di sisi lain, menunjukkan volatilitas yang lebih tinggi sejak pengumuman tarif ini. Banyak analis memperkirakan bahwa tekanan terhadap pertumbuhan global akan semakin nyata jika kebijakan proteksionis ini terus dilanjutkan.

Emas Sebagai Aset Safe Haven: Mengapa Tetap Menarik?

Selama dekade terakhir, emas telah terbukti menjadi salah satu aset safe haven paling efektif dalam menghadapi ketidakstabilan ekonomi dan geopolitik. Di tengah ancaman tarif dan perombakan sistem perdagangan global, emas kembali ke panggung utama sebagai pilihan investasi konservatif.

Beberapa alasan utama mengapa emas tetap menarik:

  1. Perlindungan terhadap inflasi – Saat ketidakpastian meningkat, kebijakan moneter longgar dan stimulus fiskal bisa mendorong inflasi. Emas secara historis merupakan lindung nilai terhadap inflasi.

  2. Diversifikasi portofolio – Investor institusi dan ritel beralih ke emas untuk mengurangi eksposur terhadap risiko pasar ekuitas.

  3. Likuiditas tinggi – Emas diperdagangkan secara global dan dapat dengan mudah dikonversi menjadi mata uang apa pun.

  4. Permintaan bank sentral – Beberapa bank sentral dunia, terutama dari negara berkembang, terus menambah cadangan emas mereka untuk memperkuat stabilitas keuangan.

Tren Harga Emas: Telah Naik Lebih dari 25% Tahun Ini

Lonjakan harga emas bukanlah fenomena baru. Sepanjang tahun 2025 ini, harga emas telah mencatat kenaikan lebih dari 25%, dengan mencetak rekor tertinggi di atas $3.500 per ons pada bulan April. Kenaikan tajam ini didorong oleh kombinasi berbagai faktor: mulai dari ketidakpastian kebijakan, perlambatan ekonomi global, hingga kekhawatiran geopolitik.

Aksi beli dari bank sentral juga turut berperan besar. Menurut data terbaru, negara-negara seperti Tiongkok, India, dan Rusia telah meningkatkan pembelian emas sebagai langkah strategis untuk mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS dan memperkuat cadangan devisa.

Ancaman Tarif: Dampak Jangka Panjang terhadap Ekonomi Global

Meskipun emas saat ini menikmati momen positif, investor tetap perlu waspada terhadap dampak jangka panjang dari kebijakan tarif yang diterapkan secara sepihak oleh AS. Tarif 30% terhadap produk dari Uni Eropa dan Meksiko diperkirakan akan memicu balasan serupa dari negara-negara tersebut, memperburuk hubungan perdagangan global.

Jika perang dagang kembali memanas seperti pada 2018-2019, maka kemungkinan resesi global akan meningkat. Produksi, konsumsi, dan ekspor bisa terganggu, dan inflasi bisa melonjak di beberapa negara. Semua skenario ini berpotensi memperkuat permintaan terhadap emas, tetapi juga dapat menciptakan volatilitas yang ekstrem di pasar.

Kesimpulan: Emas Kembali Menjadi Primadona di Tengah Ketidakpastian

Dalam suasana global yang dipenuhi ketegangan perdagangan, ancaman tarif, dan ketidakpastian ekonomi, emas kembali menegaskan perannya sebagai pelindung nilai. Kenaikan harga emas yang stabil mencerminkan sentimen pasar yang waspada terhadap arah kebijakan Presiden Trump dan potensi implikasinya terhadap perdagangan global.

Para investor sebaiknya terus memantau perkembangan kebijakan tarif AS dan reaksi dari mitra dagangnya. Dalam jangka pendek, harga emas kemungkinan akan tetap tinggi jika ketegangan terus meningkat. Namun, seperti biasa, keputusan investasi sebaiknya mempertimbangkan analisis risiko menyeluruh dan diversifikasi portofolio secara bijak.


Jangan lupa jelajahi website kami di demo bestprofit dan temukan beragam informasi menarik yang siap menginspirasi dan memberikan pengetahuan baru! Ayo, kunjungi sekarang untuk pengalaman online yang menyenangkan!


bestprofit futures

Thursday, 10 July 2025

Bestprofit | Emas Stabil di Tengah Tekanan Global

 https://best-profit-futures-malang.com/wp-content/uploads/2023/08/Bestprofit-Emas-12.jpeg

Bestprofit (11/7) – Pada Kamis (10/7), harga emas dunia hanya mencatatkan sedikit perubahan, karena penguatan dolar AS mengimbangi sentimen positif dari meningkatnya ketegangan geopolitik global. Kebijakan tarif baru yang diumumkan oleh Presiden AS Donald Trump mendorong investor mencari perlindungan di aset safe haven seperti emas, namun dampaknya tertahan oleh menguatnya dolar.

Kinerja Harga Emas: Naik Tipis

Emas spot tercatat naik tipis sebesar 0,1% menjadi $3.317,44 per ons pada pukul 13.50 ET (17.50 GMT), sementara emas berjangka AS ditutup pada $3.325,70 per ons, juga naik 0,1%.

Pergerakan harga yang terbatas ini mencerminkan ketegangan antara dua faktor utama yang saling bertolak belakang: di satu sisi, ada peningkatan permintaan emas sebagai lindung nilai terhadap risiko, tetapi di sisi lain, penguatan dolar AS menekan minat beli investor asing.

Dolar AS Menguat, Menekan Emas

Indeks dolar AS naik 0,2%, yang membuat emas menjadi lebih mahal bagi investor yang menggunakan mata uang lain. Karena emas dihargai dalam dolar, setiap penguatan mata uang AS akan secara otomatis mengurangi daya tarik emas bagi pembeli internasional.

“Kecuali jika terjadi eskalasi geopolitik yang besar, saya tidak melihat emas akan menembus di atas $3.400 dalam waktu dekat,” ujar Daniel Pavilonis, ahli strategi pasar senior di RJO Futures. Ia menambahkan bahwa emas kemungkinan akan tetap bergerak dalam kisaran terbatas untuk sementara waktu.


Kunjungi juga : bestprofit futures

Tarif Baru Trump Memicu Ketidakpastian Pasar

Sentimen pasar sempat terpengaruh oleh pengumuman tarif baru dari Presiden Donald Trump pada hari Rabu. Pemerintah AS menyatakan akan memberlakukan tarif 50% terhadap impor tembaga dan barang-barang dari Brasil mulai 1 Agustus.

Langkah ini dinilai sebagai bagian dari strategi proteksionis Trump yang berupaya menekan neraca perdagangan dan mendukung industri domestik. Namun, kebijakan ini juga meningkatkan ketegangan dagang global dan risiko geopolitik yang lebih luas.

Menurut para analis, langkah ini telah mendorong sebagian investor untuk beralih ke emas sebagai aset lindung nilai.

Emas Menarik Minat Negara Berkembang

Paul Wong, ahli strategi pasar di Sprott Asset Management, mencatat bahwa terjadi peningkatan minat terhadap emas dari negara-negara berkembang. Dalam catatannya, ia menyebut emas dipandang sebagai aset bebas dari risiko rekanan, terutama dalam konteks meningkatnya ketidakpastian global.

“Negara-negara berkembang melihat emas sebagai aset yang stabil dan tidak bergantung pada sistem keuangan negara lain, sesuatu yang sangat berharga di tengah dunia yang penuh dengan risiko geopolitik dan ketegangan ekonomi,” ungkap Wong.

Sikap The Fed Masih Berhati-hati

Dari sisi kebijakan moneter, risalah rapat Federal Reserve bulan Juni menunjukkan bahwa hanya “beberapa” pejabat yang mempertimbangkan kemungkinan penurunan suku bunga dalam waktu dekat. Sebagian besar pembuat kebijakan masih khawatir terhadap tekanan inflasi, terutama akibat dampak tarif baru.

Kebijakan suku bunga memiliki pengaruh besar terhadap emas. Suku bunga yang lebih rendah biasanya mendukung harga emas karena menurunkan opportunity cost untuk memegang aset yang tidak memberikan imbal hasil seperti emas.

Namun, ketidakpastian dalam arah kebijakan moneter membuat pasar emas tetap waspada.

Data Ekonomi AS: Klaim Pengangguran Turun

Sementara itu, data ekonomi terbaru dari AS menunjukkan bahwa jumlah klaim tunjangan pengangguran secara tak terduga menurun minggu lalu. Hal ini menandakan bahwa perusahaan-perusahaan masih mempertahankan tenaga kerja mereka, meskipun ada tanda-tanda pelemahan dalam beberapa sektor ekonomi lainnya.

Data tenaga kerja yang kuat cenderung mengurangi kemungkinan penurunan suku bunga, yang pada akhirnya bisa menekan harga emas. Namun, jika pasar tenaga kerja mulai menunjukkan kelemahan yang signifikan, maka tekanan akan meningkat pada The Fed untuk mulai melonggarkan kebijakan moneternya.

Logam Mulia Lainnya: Perak dan Paladium Memimpin Kenaikan

Selain emas, logam mulia lainnya mencatatkan kinerja yang lebih dinamis:

  • Perak spot naik 1,5% menjadi $36,87 per ons. Kenaikan ini menempatkan perak pada jalur menuju target psikologis berikutnya. “Menembus level $35 meningkatkan kemungkinan mencapai target $40,” kata Paul Wong.

  • Platinum naik 0,5% menjadi $1.353,55 per ons, menunjukkan pemulihan moderat di tengah permintaan industri yang tetap stabil.

  • Paladium melonjak 3,9% menjadi $1.148,43 per ons, menyentuh level tertinggi sejak 3 Juli. Kinerja kuat paladium mencerminkan tingginya permintaan untuk logam ini dalam sektor otomotif, khususnya untuk katalis knalpot.

Prospek Jangka Pendek: Masih Dalam Konsolidasi

Meskipun harga emas menunjukkan kecenderungan naik, banyak analis memperkirakan bahwa logam mulia ini masih akan bergerak dalam kisaran yang terbatas dalam jangka pendek. Faktor-faktor seperti penguatan dolar, ketidakpastian kebijakan The Fed, dan perkembangan geopolitik akan terus menjadi penentu arah pasar.

“Jika tidak ada kejutan besar, seperti krisis geopolitik atau pergeseran mendadak dalam kebijakan The Fed, maka harga emas akan tetap stabil dalam rentang $3.300–$3.400,” ujar Pavilonis.

Kesimpulan: Emas Tetap Jadi Safe Haven di Tengah Ketidakpastian

Secara keseluruhan, pergerakan emas pada 10 Juli menunjukkan bagaimana pasar tetap berhati-hati dalam merespons sinyal ekonomi dan geopolitik yang saling bertentangan. Penguatan dolar AS menjadi penghambat utama bagi reli harga emas, meskipun permintaan safe haven tetap kuat menyusul kebijakan perdagangan yang agresif dari pemerintahan Trump dan kekhawatiran akan inflasi global.

Sementara itu, logam mulia lain seperti perak dan paladium tampil lebih kuat, mencerminkan dinamika permintaan yang berbeda di masing-masing sektor.

Investor akan terus memantau perkembangan kebijakan moneter AS, pergerakan dolar, dan ketegangan geopolitik dalam menentukan arah investasi mereka di pasar logam mulia.


Jangan lupa jelajahi website kami di demo bestprofit dan temukan beragam informasi menarik yang siap menginspirasi dan memberikan pengetahuan baru! Ayo, kunjungi sekarang untuk pengalaman online yang menyenangkan!


bestprofit futures
 

Wednesday, 9 July 2025

Bestprofit | Dolar Melemah Usai Isyarat Pemangkasan The Fed

 https://best-profit-futures-malang.com/wp-content/uploads/2023/08/Dolar-2.jpg

Bestprofit (10/7) – Pada hari Rabu (09/7), dolar AS (USD) menunjukkan ketahanan yang signifikan meskipun sedikit kehilangan momentum setelah awal yang menguntungkan. Penguatan yang tercatat pada awal perdagangan tersebut dipengaruhi oleh ketegangan tarif yang terus berlangsung serta sentimen pasar yang sangat berhati-hati. Salah satu faktor utama yang mendukung kekuatan dolar AS adalah sikap pasar yang cemas terkait dengan kebijakan tarif Presiden AS, Donald Trump, serta ketidakpastian yang terus meningkat di bidang perdagangan dan geopolitik. Investor yang mencari tempat aman (safe haven) mengalirkan dana mereka ke dalam USD, meskipun pasar juga mencermati perkembangan terbaru di pasar global.

Kondisi Pasar dan Indeks Dolar AS (DXY)

Indeks Dolar AS (DXY), yang mengukur kekuatan USD terhadap enam mata uang utama dunia, naik sekitar 1,5% dari level terendahnya pada 1 Juli, yaitu 96,38—level terendah dalam lebih dari tiga tahun terakhir. Setelah mencatatkan kenaikan yang signifikan, DXY menyentuh level tertinggi intraday di 97,75, namun sedikit melemah ke angka 97,52 saat pasar merespons hasil Risalah Rapat Federal Open Market Committee (FOMC) terbaru. Meskipun terjadi sedikit penurunan setelah puncaknya, USD tetap bertahan dengan posisi yang cukup kuat dibandingkan dengan banyak mata uang lainnya.

Risalah Rapat FOMC: Pemotongan Suku Bunga dan Ketidakpastian Ekonomi

Risalah rapat FOMC untuk bulan Juni menjadi salah satu sorotan utama bagi para pelaku pasar, karena mengungkapkan pandangan sebagian besar pejabat Federal Reserve mengenai kebijakan moneter di masa depan. Sejumlah pejabat memperkirakan bahwa pemotongan suku bunga mungkin akan terjadi pada akhir tahun ini, terutama dipengaruhi oleh meredanya tekanan inflasi dan kemungkinan pelambatan ekonomi serta pasar tenaga kerja. Hal ini berpotensi memberikan dampak pada daya tarik dolar AS dalam jangka panjang, meskipun beberapa anggota FOMC lainnya menunjukkan keraguan terhadap pemotongan suku bunga pada tahun 2025.

Para pejabat Federal Reserve pada umumnya melihat inflasi yang berkaitan dengan tarif—khususnya tarif yang dikenakan oleh Presiden Trump—cenderung bersifat sementara atau terbatas. Oleh karena itu, meskipun ada ketidakpastian terkait kebijakan perdagangan global dan perkembangan geopolitik, ekspektasi inflasi di AS masih berada dalam kendali yang cukup baik. Dalam risalah tersebut juga dicatat bahwa meskipun beberapa risiko perdagangan dan geopolitik masih ada, ada pula tanda-tanda meredanya ketegangan dibandingkan dengan beberapa bulan sebelumnya. Namun, faktor ketidakpastian ini tetap menjadi perhatian bagi pasar dan dapat mempengaruhi sentimen investasi.


Kunjungi juga : bestprofit futures

Kampanye Tarif Presiden Donald Trump: Ancaman dan Dampaknya

Salah satu faktor yang terus mendominasi dinamika pasar adalah kebijakan tarif yang dipelopori oleh Presiden Donald Trump. Pada hari yang sama, Trump meluncurkan ancaman tarif baru yang ditujukan kepada enam negara tambahan: Aljazair, Irak, Libya, Brunei, Moldova, dan Filipina. Bea masuk baru ini berkisar antara 20% hingga 30% dan dijadwalkan mulai berlaku pada 1 Agustus. Keputusan ini muncul hanya dua hari setelah Trump mengeluarkan pemberitahuan serupa kepada 14 negara lainnya. Langkah ini semakin menegaskan kebijakan “tarif timbal balik” yang menjadi ciri khas pemerintahan Trump.

Menurut Trump, tujuan dari penerapan tarif ini adalah untuk memperbaiki praktik perdagangan yang dianggap tidak adil, dan langkah-langkah tersebut telah memicu kekhawatiran di kalangan investor global. Pasar internasional sangat memperhatikan bagaimana negara-negara sasaran akan merespons kebijakan tersebut, serta kemungkinan tercapainya kesepakatan perdagangan sebelum tenggat waktu yang telah ditentukan.

Strategi Trump dalam Menghadapi Ketegangan Perdagangan Global

Penerapan tarif baru ini menunjukkan bahwa Presiden Trump tetap pada jalur kebijakan proteksionis yang telah dia perkenalkan sejak awal masa kepresidenannya. Salah satu alasan di balik kebijakan ini adalah upaya untuk melindungi industri domestik AS dari persaingan luar negeri, terutama dalam sektor-sektor yang dianggap strategis seperti tembaga dan farmasi. Dalam rapat Kabinet di Gedung Putih pada hari Selasa, Trump juga mengumumkan kebijakan tarif baru untuk impor tembaga sebesar 50%, yang menurutnya penting untuk industri AS. Tidak hanya itu, Trump juga menyampaikan bahwa impor farmasi akan dikenakan tarif yang sangat tinggi, mencapai 200%, yang akan diberlakukan setidaknya satu tahun setelah pengumuman.

Keputusan-keputusan ini semakin memperlihatkan tekad Trump untuk mengubah dinamika perdagangan global demi kepentingan ekonomi domestik AS. Namun, dampaknya terhadap perekonomian global masih menjadi perdebatan. Sementara itu, para pelaku pasar terus memantau dengan cermat setiap langkah yang diambil oleh negara-negara sasaran tarif, serta dampak dari kebijakan tersebut terhadap sentimen investasi dan aliran modal global.

Sentimen Pasar dan Pengaruh Terhadap Dolar AS

Meskipun ada sejumlah faktor yang dapat mempengaruhi pergerakan dolar AS, seperti kebijakan suku bunga Federal Reserve dan ketegangan tarif, salah satu faktor utama yang masih mendukung USD adalah aliran dana yang menuju aset-aset safe haven. Ketidakpastian perdagangan dan geopolitik, yang diperburuk dengan ancaman tarif dan kebijakan proteksionis, telah mendorong investor untuk mengalihkan sebagian besar portofolio mereka ke mata uang yang lebih aman, terutama dolar AS.

Pada saat yang sama, ketidakpastian dalam perkembangan kebijakan perdagangan internasional dan dampaknya terhadap perekonomian global turut menambah volatilitas pasar. Investor menjadi lebih selektif dalam membuat keputusan investasi, mengingat potensi dampak jangka panjang dari kebijakan tarif yang terus berkembang. Oleh karena itu, pasar cenderung berhati-hati dan menunggu perkembangan lebih lanjut mengenai kebijakan perdagangan AS serta respons negara-negara lainnya terhadap langkah-langkah proteksionis yang diambil oleh Trump.

Kesimpulan: Menghadapi Ketidakpastian Ekonomi Global

Dolar AS berhasil mempertahankan posisinya yang kuat meskipun sedikit melemah setelah mencapai level tertinggi intraday, seiring dengan ketegangan tarif yang terus memengaruhi pasar global. Meskipun sebagian besar pejabat Federal Reserve mengharapkan pemotongan suku bunga, faktor ketidakpastian yang timbul dari kebijakan perdagangan dan perkembangan geopolitik tetap memberikan dampak signifikan terhadap pergerakan mata uang. Kampanye tarif yang digencarkan oleh Presiden Trump semakin memperumit situasi, dengan pasar global yang terus memantau respons negara-negara sasaran.

Dengan situasi ekonomi global yang penuh ketidakpastian, investor cenderung mengalihkan dana mereka ke aset-aset yang lebih aman, seperti dolar AS. Namun, pergerakan pasar ke depan masih akan sangat bergantung pada bagaimana kebijakan perdagangan AS dan respons internasional berkembang, serta bagaimana hal tersebut memengaruhi sentimen pasar dan prospek ekonomi global.


Jangan lupa jelajahi website kami di demo bestprofit dan temukan beragam informasi menarik yang siap menginspirasi dan memberikan pengetahuan baru! Ayo, kunjungi sekarang untuk pengalaman online yang menyenangkan!


bestprofit futures
 

Tuesday, 8 July 2025

Bestprofit | Emas Turun Dibebani Imbal Hasil Treasury Tinggi

 https://best-profit-futures-malang.com/wp-content/uploads/2023/08/Bestprofit-Emas-5.jpeg

Bestprofit (9/7) – Harga emas mengalami penurunan tipis pada sesi perdagangan Asia dini hari ini, tertekan oleh lonjakan imbal hasil Treasury yang lebih tinggi. Penurunan ini terjadi di tengah pengumuman data tenaga kerja AS yang lebih kuat dari perkiraan, yang semakin meredam ekspektasi pasar terhadap kemungkinan penurunan suku bunga jangka pendek oleh The Federal Reserve (Fed). Mengapa hal ini terjadi? Dan bagaimana implikasinya terhadap pergerakan harga emas ke depan? Mari kita telaah lebih lanjut.

Dampak Data Tenaga Kerja AS yang Kuat

Pada minggu lalu, data tenaga kerja AS menunjukkan hasil yang lebih baik dari perkiraan. Angka-angka pekerjaan baru yang lebih tinggi ini menandakan bahwa ekonomi AS masih cukup kuat meskipun ada ketidakpastian global dan inflasi yang terus menjadi perhatian. Data ini memberikan sinyal bahwa pasar tenaga kerja di AS tetap tangguh, yang pada gilirannya meredam spekulasi pasar tentang penurunan suku bunga oleh Federal Reserve dalam waktu dekat.

Erkin Kamran, seorang analis dari Traze, dalam emailnya menyatakan, “Data tenaga kerja AS yang lebih kuat dari perkiraan minggu lalu meredam ekspektasi untuk penurunan suku bunga jangka pendek dari Fed.” Penguatan data ini menambah keyakinan bahwa kebijakan moneter yang lebih ketat dari Fed mungkin akan bertahan lebih lama, yang berdampak langsung pada pergerakan harga emas. Ketika prospek penurunan suku bunga semakin kecil, daya tarik emas sebagai aset yang tidak memberikan imbal hasil menjadi berkurang.

Imbal Hasil Treasury yang Lebih Tinggi Meningkatkan Biaya Kesempatan

Salah satu faktor utama yang menyebabkan tekanan pada harga emas adalah imbal hasil Treasury AS yang lebih tinggi. Kamran menjelaskan bahwa imbal hasil Treasury 10 tahun yang tetap tinggi memberikan dampak langsung terhadap keputusan investasi. Imbal hasil Treasury yang tinggi berarti bahwa investor dapat memperoleh pengembalian yang lebih besar dari obligasi pemerintah AS dibandingkan dengan emas yang tidak memberikan imbal hasil.

Imbal hasil yang lebih tinggi meningkatkan “biaya kesempatan” bagi investor yang memilih untuk memegang aset yang tidak memberikan bunga atau dividen, seperti emas. Ketika imbal hasil obligasi pemerintah AS lebih menguntungkan, banyak investor yang beralih ke aset tersebut, yang kemudian menyebabkan penurunan permintaan terhadap emas.


Kunjungi juga : bestprofit futures

Risiko Suku Bunga yang Lebih Tinggi dan Potensi Dampaknya pada Emas

Selama beberapa bulan terakhir, pasar emas sangat dipengaruhi oleh keputusan kebijakan moneter yang diambil oleh The Federal Reserve. Kenaikan suku bunga yang agresif oleh Fed telah membuat investor cemas tentang daya tarik emas sebagai aset perlindungan nilai, mengingat emas tidak memberikan imbal hasil berupa bunga atau dividen. Dengan suku bunga yang tinggi, investor cenderung mengalihkan dana mereka ke instrumen yang lebih menguntungkan, seperti obligasi dan saham.

Namun, meskipun ada tekanan dari imbal hasil Treasury yang lebih tinggi, pasar emas tetap memiliki daya tarik tersendiri sebagai alat lindung nilai terhadap inflasi dan ketidakpastian ekonomi. Bagi investor yang berfokus pada jangka panjang, emas tetap dianggap sebagai aset yang aman dalam situasi ketidakpastian global.

Menunggu Risalah FOMC: Apa yang Diharapkan oleh Pelaku Pasar?

Sementara data tenaga kerja dan imbal hasil Treasury memberikan gambaran yang jelas tentang sentimen pasar saat ini, pelaku pasar tetap berhati-hati menjelang rilis risalah pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) yang akan diumumkan hari ini. Risalah tersebut diharapkan memberikan wawasan lebih lanjut tentang arah kebijakan moneter Fed di masa depan, khususnya mengenai suku bunga dan kebijakan pengendalian inflasi.

Kamran mengingatkan bahwa meskipun banyak ekspektasi pasar yang mengarah pada kemungkinan penurunan suku bunga, risalah FOMC dapat memberikan informasi penting mengenai sikap para pembuat kebijakan Fed terhadap ekonomi AS dan langkah-langkah yang akan diambil dalam beberapa bulan ke depan. Oleh karena itu, risalah ini akan menjadi salah satu faktor yang akan mempengaruhi pergerakan harga emas ke depan.

Pergerakan Harga Emas pada Sesi Asia

Pada sesi perdagangan Asia, harga emas spot tercatat turun 0,1% menjadi $3.297,76 per ounce. Meskipun penurunan ini relatif kecil, hal ini mencerminkan kecenderungan pasar yang lebih luas yang masih dibebani oleh kekuatan imbal hasil Treasury dan kebijakan suku bunga yang lebih ketat dari Fed. Tren ini memperlihatkan bahwa meskipun ada ketidakpastian global dan inflasi yang tinggi, emas belum bisa memperoleh kembali daya tariknya secara signifikan sebagai aset yang memberikan perlindungan nilai.

Prospek Ke Depan: Apakah Emas Akan Kembali Menguat?

Meskipun harga emas menghadapi tekanan saat ini, beberapa faktor dapat mempengaruhi prospek harga emas dalam beberapa minggu ke depan. Berikut adalah beberapa faktor yang perlu diperhatikan oleh para investor:

  1. Kebijakan Suku Bunga Fed: Jika Fed memutuskan untuk memperlambat laju kenaikan suku bunga atau bahkan mulai menurunkannya, harga emas dapat kembali menguat. Penurunan suku bunga akan mengurangi daya tarik obligasi AS, yang akan meningkatkan permintaan terhadap emas sebagai aset safe haven.

  2. Ketidakpastian Ekonomi Global: Ketegangan geopolitik, krisis energi, dan potensi resesi global dapat memperkuat daya tarik emas sebagai alat lindung nilai. Jika kondisi ekonomi global memburuk, emas cenderung mendapatkan dukungan dari investor yang mencari tempat yang lebih aman untuk menyimpan kekayaan mereka.

  3. Inflasi yang Berkelanjutan: Meskipun inflasi di AS mulai menunjukkan tanda-tanda pelonggaran, inflasi global tetap menjadi kekhawatiran. Emas dikenal sebagai aset yang dapat melindungi nilai terhadap inflasi, dan dalam kondisi ini, harga emas bisa naik meskipun suku bunga tetap tinggi.

  4. Fluktuasi Dolar AS: Pergerakan dolar AS juga sangat mempengaruhi harga emas. Jika dolar AS melemah, emas yang diperdagangkan dalam dolar cenderung menjadi lebih murah bagi pembeli asing, yang dapat meningkatkan permintaan dan mendorong harga naik.

Kesimpulan

Harga emas mengalami penurunan tipis pada sesi Asia dini hari ini, didorong oleh imbal hasil Treasury yang lebih tinggi dan data tenaga kerja AS yang lebih kuat dari perkiraan. Meskipun tekanan dari suku bunga yang lebih tinggi dapat membatasi potensi penguatan harga emas dalam waktu dekat, ketidakpastian ekonomi global dan potensi ketegangan geopolitik dapat tetap memberikan dukungan bagi permintaan emas sebagai aset perlindungan nilai.

Pelaku pasar akan terus memperhatikan perkembangan kebijakan moneter The Federal Reserve, terutama risalah FOMC yang akan dirilis hari ini, untuk mendapatkan petunjuk lebih lanjut mengenai arah kebijakan suku bunga dan dampaknya terhadap pasar emas. Dengan berbagai faktor yang saling berinteraksi, prospek harga emas tetap bergantung pada bagaimana ekonomi global dan kebijakan Fed berkembang dalam beberapa bulan ke depan.


Jangan lupa jelajahi website kami di demo bestprofit dan temukan beragam informasi menarik yang siap menginspirasi dan memberikan pengetahuan baru! Ayo, kunjungi sekarang untuk pengalaman online yang menyenangkan!


bestprofit futures