Tuesday, 3 February 2026

Bestprofit | Crash Usai, Emas Bertahan

 https://best-profit-futures-malang.com/wp-content/uploads/2026/02/compressed_Ketegangan-Naik-Emas-Tetap-Kokoh-Dekat-ATH-1.jpg

Bestprofit (4/2) – Harga emas menunjukkan pergerakan yang relatif stabil pada awal perdagangan Asia, setelah sebelumnya mencatat rebound kuat dari kejatuhan tajam pasca-menyentuh rekor tertinggi. Bullion bertahan di atas level US$4.920 per ons, menandai konsolidasi pasar setelah lonjakan lebih dari 6% pada sesi sebelumnya. Rebound ini terjadi seiring membaiknya sentimen risk-on global dan melemahnya dolar Amerika Serikat, dua faktor yang secara historis mendukung pergerakan harga emas.

Meski volatilitas masih terasa, pasar mulai menemukan pijakan baru setelah aksi jual ekstrem yang mengguncang logam mulia akhir pekan lalu. Investor kini berada dalam mode “menimbang ulang”, mencoba menentukan apakah reli emas masih memiliki tenaga lanjutan atau justru sedang memasuki fase koreksi yang lebih dalam.

Jarak Emas dari Rekor Masih Terbilang Jauh

Walaupun rebound terbilang impresif, posisi emas saat ini masih cukup jauh dari level puncaknya. Pada penutupan perdagangan Selasa, harga emas tercatat sekitar 12% di bawah rekor tertinggi yang dicapai pada 29 Januari. Fakta ini menunjukkan bahwa koreksi yang terjadi sebelumnya bukanlah pergerakan kecil, melainkan penyesuaian signifikan setelah reli agresif.

Namun, jika dilihat dari perspektif yang lebih luas, performa emas sepanjang tahun berjalan masih sangat solid. Hingga saat ini, harga emas telah naik hampir 15% secara year-to-date, menjadikannya salah satu aset dengan kinerja terbaik di tengah ketidakpastian global. Ini memperkuat pandangan bahwa tren jangka menengah hingga panjang emas masih cenderung positif, meski jalannya tidak lagi mulus.


Kunjungi juga : bestprofit futures

Reli Bulan Lalu: Kombinasi Spekulasi dan Safe Haven

Lonjakan harga emas yang terjadi bulan lalu tidak datang tanpa alasan. Reli tersebut dipacu oleh kombinasi momentum spekulatif, meningkatnya permintaan safe haven akibat tensi geopolitik global, serta kekhawatiran pasar terhadap independensi bank sentral, terutama di negara-negara utama.

Di sisi spekulatif, posisi beli di pasar derivatif meningkat tajam, mencerminkan keyakinan bahwa emas akan terus menanjak. Sementara itu, ketidakpastian geopolitik mendorong investor institusional dan ritel untuk kembali memarkir dana pada aset lindung nilai. Narasi mengenai potensi tekanan politik terhadap kebijakan moneter juga memperkuat daya tarik emas sebagai penyimpan nilai yang “bebas dari risiko kebijakan”.

Koreksi Mendadak: Alarm bahwa Kenaikan Terlalu Cepat

Namun, euforia tersebut tidak bertahan lama. Akhir pekan lalu, pasar emas mengalami koreksi keras setelah muncul peringatan bahwa kenaikan harga telah berlangsung terlalu cepat dan terlalu tinggi. Banyak pelaku pasar mulai menyadari bahwa reli tersebut tidak sepenuhnya ditopang oleh fundamental jangka pendek, melainkan oleh ekspektasi dan positioning yang terlalu padat.

Hasilnya, emas mencatat penurunan harian terburuk sejak 2013, sebuah sinyal kuat bahwa pasar sedang melakukan reset. Aksi ambil untung besar-besaran (profit taking) mempercepat tekanan jual, sementara likuidasi posisi spekulatif memperparah volatilitas. Momen ini menjadi pengingat bahwa bahkan aset safe haven sekalipun tidak kebal terhadap koreksi tajam.

Pergerakan Pagi Ini: Emas Melemah Tipis, Logam Lain Ikut Terkoreksi

Pada perdagangan pagi ini, harga emas tercatat turun tipis sekitar 0,4% ke US$4.929,48 per ons pada pukul 07.10 waktu Singapura. Pelemahan ini relatif moderat dan lebih mencerminkan fase konsolidasi ketimbang pembalikan tren.

Logam mulia lain menunjukkan tekanan yang lebih jelas. Perak turun sekitar 1,3% ke US$84,09 per ons, sementara platinum dan paladium juga mengalami koreksi. Pergerakan serempak ini mengindikasikan bahwa pasar logam masih berada dalam fase penyesuaian risiko, dengan investor cenderung lebih berhati-hati setelah gejolak tajam sebelumnya.

Peran Dolar AS dalam Menahan Tekanan Emas

Salah satu faktor penyeimbang penting bagi emas adalah pergerakan dolar AS. Bloomberg Dollar Spot Index menutup sesi sebelumnya turun sekitar 0,3%, memberikan ruang bagi emas untuk tetap bertahan di level tinggi meski volatilitas belum sepenuhnya mereda.

Secara historis, hubungan terbalik antara dolar AS dan emas menjadi penopang utama bagi logam mulia. Pelemahan dolar membuat emas lebih murah bagi pemegang mata uang lain, sehingga permintaan global cenderung meningkat. Dalam konteks saat ini, melemahnya dolar membantu meredam tekanan jual yang seharusnya lebih besar pasca-koreksi tajam.

Sentimen Risk-On Mulai Kembali, Tapi Hati-Hati

Membaiknya sentimen risk-on global turut berkontribusi pada stabilisasi harga emas. Pasar saham yang mulai pulih dan berkurangnya kepanikan ekstrem mendorong investor untuk kembali melakukan rebalancing portofolio secara lebih rasional.

Namun demikian, kehati-hatian masih mendominasi. Investor kini lebih selektif dan tidak lagi mengejar harga secara agresif seperti beberapa minggu lalu. Fokus pasar mulai bergeser ke pertanyaan besar: apakah faktor-faktor fundamental yang mendorong reli emas masih cukup kuat untuk menopang kenaikan lanjutan, atau justru pasar akan bergerak sideways dalam waktu dekat.

Prospek Ke Depan: Volatilitas Masih Membayangi

Ke depan, volatilitas diperkirakan masih akan membayangi pergerakan emas. Pasar masih mencerna dampak dari koreksi tajam sekaligus menunggu katalis baru yang dapat memberikan arah lebih jelas. Data ekonomi AS, arah kebijakan moneter global, serta perkembangan geopolitik akan menjadi penentu utama.

Meski demikian, selama emas mampu bertahan di atas level psikologis kunci dan dolar AS tidak kembali menguat tajam, logam mulia ini berpotensi mempertahankan posisinya sebagai aset lindung nilai utama. Untuk saat ini, stabilisasi di awal perdagangan Asia menjadi sinyal bahwa pasar mulai menemukan keseimbangan baru—meski jalan ke depan masih penuh liku.


Jangan lupa jelajahi website kami di demo bestprofit dan temukan beragam informasi menarik yang siap menginspirasi dan memberikan pengetahuan baru! Ayo, kunjungi sekarang untuk pengalaman online yang menyenangkan!
bestprofit futures 

Monday, 2 February 2026

Bestprofit | Emas Terkoreksi dari Level Tertinggi

 https://best-profit-futures-malang.com/wp-content/uploads/2026/02/compressed_Emas-Cetak-Rekor-Dolar-AS-Melemah.jpg

Bestprofit (3/2) – Harga emas spot melemah signifikan pada perdagangan Senin (2/2), meski sempat memangkas sebagian penurunan tajamnya di tengah sesi. Tekanan jual yang kuat muncul setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump menominasikan Kevin Warsh sebagai calon Ketua Federal Reserve berikutnya. Kabar tersebut menjadi katalis utama yang mengguncang pasar keuangan global, menyeret aset berisiko sekaligus menekan logam mulia yang selama ini diuntungkan oleh ketidakpastian.

Pada pukul 13:50 waktu timur AS (18:50 GMT), emas spot tercatat turun 4,2% ke level $4.660,22 per ons. Sebelumnya, harga sempat anjlok lebih dalam hingga menyentuh $4.402,38 per ons. Sementara itu, kontrak emas berjangka April juga bergerak melemah, turun 1,3% ke $4.682,86 per ons.

Pelemahan ini memperpanjang koreksi tajam yang sudah terjadi sejak akhir pekan lalu. Pada perdagangan Jumat, emas spot “menghapus” hampir 10% nilainya setelah jatuh drastis dari rekor tertinggi sepanjang masa di kisaran hampir $5.600 per ons yang tercetak pekan sebelumnya.

Tekanan Jual Menguat Usai Nominasi Kevin Warsh

Aksi jual emas yang agresif terutama dipicu oleh keputusan Trump menominasikan Kevin Warsh sebagai Ketua Federal Reserve, menggantikan Jerome Powell yang masa jabatannya berakhir pada Mei mendatang. Langkah ini dipandang pasar sebagai faktor yang mengurangi ketidakpastian kebijakan moneter, sehingga sebagian permintaan safe haven terhadap emas mulai memudar.

Selama beberapa bulan terakhir, emas diuntungkan oleh ketidakjelasan arah kebijakan The Fed, terutama terkait waktu dan besaran penurunan suku bunga. Dengan munculnya nama Warsh, pasar mulai melakukan reposisi, termasuk aksi ambil untung (profit taking) di area harga yang dinilai sudah terlalu tinggi setelah reli ekstrem.

Kevin Warsh bukanlah figur asing di dunia kebijakan moneter. Ia pernah menjabat sebagai Gubernur The Fed dan dikenal memiliki pandangan yang relatif tegas terhadap inflasi. Meski ia kerap sejalan dengan dorongan Trump untuk suku bunga yang lebih rendah guna mendukung pertumbuhan ekonomi, Warsh juga pernah melontarkan kritik terhadap kebijakan pembelian aset skala besar (quantitative easing) yang diterapkan The Fed pascakrisis.

Ketidakpastian terkait sikap Warsh—apakah akan cenderung hawkish atau dovish—membuat pasar bersikap defensif. Namun, dalam jangka pendek, nominasi ini cukup untuk memicu koreksi tajam di pasar emas yang sebelumnya berada di zona spekulatif.


Kunjungi juga : bestprofit futures

Penguatan Dolar AS Menambah Beban Emas

Selain faktor kebijakan moneter, penguatan dolar AS turut memberikan tekanan tambahan pada harga emas. Indeks dolar AS bangkit dari level terendah empat tahun setelah kabar nominasi Warsh mencuat. Secara historis, penguatan dolar kerap menjadi sentimen negatif bagi emas, karena membuat logam mulia tersebut lebih mahal bagi pemegang mata uang lain.

Meski mengalami koreksi tajam dalam beberapa hari terakhir, emas sejatinya masih mencatat kinerja yang sangat kuat secara bulanan. Sepanjang Januari, harga emas tetap menutup perdagangan dengan kenaikan hampir 15%, didorong oleh kombinasi ketidakpastian geopolitik, ekspektasi pelonggaran moneter global, serta pembelian agresif dari bank sentral.

Redanya Ketegangan Geopolitik Kurangi Permintaan Safe Haven

Faktor geopolitik yang sebelumnya menjadi penopang utama harga emas juga menunjukkan tanda-tanda mereda. Dorongan safe haven melemah setelah muncul laporan bahwa Amerika Serikat dan Iran terbuka untuk menggelar putaran negosiasi baru, di tengah ketegangan Timur Tengah yang sempat memanas.

Menurut laporan Axios, mediator internasional tengah mengupayakan pertemuan antara pejabat AS dan Iran di Turki dalam waktu dekat. Informasi ini diperkuat oleh pernyataan Trump pada akhir pekan lalu yang menyebut bahwa AS dan Iran sedang bernegosiasi “secara serius” terkait ambisi nuklir Iran.

Sebelumnya, eskalasi ketegangan geopolitik—termasuk keputusan Trump mengerahkan armada laut ke kawasan Timur Tengah—telah mendorong lonjakan harga emas sepanjang Januari. Harapan akan deeskalasi konflik kini membuat sebagian investor mengurangi eksposur mereka terhadap aset safe haven.

Koreksi Sudah Terjadi Sebelum Berita Warsh

Thierry Wizman, analis dari Macquarie, menilai bahwa pelemahan emas sebenarnya sudah mulai terjadi setelah harga mencapai level spekulatif yang ekstrem. Menurutnya, koreksi tersebut bahkan telah berlangsung sebelum rumor dan berita mengenai nominasi Kevin Warsh menyebar luas di pasar.

Wizman juga menambahkan bahwa prospek tercapainya “kesepakatan” antara AS dan Iran berpotensi memperparah pelemahan emas dalam jangka pendek. Di sisi lain, pelaku pasar masih belum sepakat mengenai arah kebijakan moneter di bawah kepemimpinan Warsh, sehingga volatilitas diperkirakan tetap tinggi.

Target Jangka Panjang Tetap Optimistis

Meski mengalami koreksi tajam, sejumlah lembaga keuangan besar tetap mempertahankan pandangan bullish terhadap emas dalam jangka panjang. Deutsche Bank pada Senin menegaskan kembali target harga emas di level $6.000 per ons. Bank tersebut menilai masih terdapat bukti aktivitas spekulatif yang kuat, serta keyakinan bahwa pendorong fundamental tren emas belum berubah.

JPMorgan bahkan menaikkan proyeksi harga emas akhir 2026 menjadi $6.300 per ons. Proyeksi ini didasarkan pada permintaan yang tetap solid dari bank sentral global dan investor institusional, meskipun volatilitas harga diperkirakan akan meningkat seiring perubahan dinamika kebijakan moneter dan geopolitik.

Perak dan Logam Mulia Lain Ikut Tertekan

Koreksi tidak hanya terjadi pada emas, tetapi juga melanda logam mulia lainnya. Harga perak spot anjlok 6,7% ke $78,96 per ons. Dalam sesi yang sama, perak sempat merosot hingga sekitar 12%, menambah penurunan tajam sebesar 27% yang terjadi pada Jumat. Penurunan tersebut bahkan disebut sebagai salah satu penurunan harian terbesar dalam catatan sejarah.

Sementara itu, harga platina spot bergerak lebih stabil. Platina diperdagangkan sedikit lebih tinggi di level $2.124,40 per ons, setelah sebelumnya sempat turun tajam hingga $1.882,00 per ons. Pergerakan platina yang relatif lebih tahan banting mencerminkan perbedaan faktor fundamental dan permintaan industri dibandingkan emas dan perak.

Volatilitas Masih Membayangi Pasar

Dengan kombinasi faktor kebijakan moneter, pergerakan dolar AS, serta dinamika geopolitik global, pasar emas diperkirakan masih akan diwarnai volatilitas tinggi dalam waktu dekat. Koreksi tajam yang terjadi saat ini menjadi pengingat bahwa reli ekstrem kerap diikuti oleh fase penyesuaian yang agresif.

Meski demikian, bagi investor jangka panjang, prospek emas masih dinilai menarik, terutama jika ketidakpastian global kembali meningkat dan kebijakan moneter dunia bergerak ke arah yang lebih akomodatif.


Jangan lupa jelajahi website kami di demo bestprofit dan temukan beragam informasi menarik yang siap menginspirasi dan memberikan pengetahuan baru! Ayo, kunjungi sekarang untuk pengalaman online yang menyenangkan!
bestprofit futures

Sunday, 1 February 2026

Bestprofit | Minyak Berbalik Turun Usai Reli 16%

 https://best-profit-futures-malang.com/wp-content/uploads/2026/01/compressed_Minyak-Melemah-Risiko-Gangguan-Kazakhstan-Mereda-1.jpg

Bestprofit (2/2) – Harga minyak mentah global jatuh tajam setelah sebelumnya mencatat kenaikan bulanan terbesar sejak 2022. Pasar yang dalam beberapa pekan terakhir “ngegas” karena ketegangan geopolitik kini mendadak mengerem. Pelaku pasar mulai menilai bahwa risiko gangguan pasokan yang sempat dikhawatirkan ternyata tidak terjadi dalam waktu dekat, sehingga premi risiko yang telanjur menempel di harga mulai dilepas.

Minyak Brent bergerak di kisaran US$68 per barel setelah melonjak sekitar 16% sepanjang bulan lalu, sementara WTI bertahan di atas US$63 per barel. Koreksi ini menandai perubahan sentimen yang cukup cepat: dari pasar yang digerakkan ketakutan geopolitik, kembali ke mode perhitungan ulang fundamental dan positioning.

Dari Euforia Geopolitik ke Mode Rem Mendadak

Reli minyak sebelumnya sebagian besar dipicu oleh kekhawatiran eskalasi konflik di Timur Tengah. Ancaman retorik, pergerakan militer, dan ketegangan diplomatik mendorong pasar mempricing skenario terburuk—yakni terganggunya pasokan dari kawasan yang menyumbang sekitar sepertiga produksi minyak dunia.

Namun, ketika skenario ekstrem tersebut tak kunjung terwujud, pasar mulai kehabisan alasan untuk mempertahankan harga tinggi. Alhasil, koreksi tajam pun terjadi. Pergerakan ini mencerminkan karakter pasar minyak yang sangat reaktif terhadap headline geopolitik, tetapi juga cepat berbalik arah ketika realisasi tidak sejalan dengan ketakutan awal.


Kunjungi juga : bestprofit futures

Nada Lebih Lunak Trump Redakan Premi Risiko

Salah satu pemicu utama perubahan sentimen datang dari pernyataan Donald Trump terkait Timur Tengah. Trump mengecilkan ancaman perang regional yang sebelumnya disuarakan oleh Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei. Ia juga kembali menegaskan harapannya bahwa kesepakatan dengan Iran masih memungkinkan untuk dicapai.

Nada yang lebih “soft” ini langsung ditangkap pasar sebagai sinyal de-eskalasi. Investor yang sebelumnya membeli minyak sebagai lindung nilai terhadap risiko konflik mulai melepas posisi. Premi risiko geopolitik yang sempat membengkak perlahan menguap, menekan harga kembali ke level yang lebih mencerminkan kondisi pasokan dan permintaan aktual.

Reset Positioning, Bukan Perubahan Fundamental

Menurut Haris Khurshid dari Karobaar Capital LP, penurunan harga minyak kali ini lebih menyerupai reset positioning ketimbang perubahan fundamental yang signifikan. Logikanya cukup sederhana: tanpa kejutan pasokan baru, harga minyak hanya mengoreksi premi risiko yang sebelumnya dipasang terlalu agresif.

Banyak trader dan fund manager sebelumnya mengambil posisi long untuk mengantisipasi skenario gangguan pasokan. Ketika skenario itu tak terjadi, posisi-posisi tersebut menjadi rentan untuk dibalik. Penurunan harga yang terjadi pun lebih mencerminkan arus keluar posisi spekulatif ketimbang perubahan drastis dalam keseimbangan pasar fisik.

Diplomasi Eropa Timur Masih Jadi Variabel Penting

Selain Timur Tengah, pasar juga mencermati perkembangan konflik di Eropa Timur. Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskiy menyebutkan bahwa pertemuan trilateral berikutnya antara Amerika Serikat, Rusia, dan Ukraina dijadwalkan berlangsung pada 4–5 Februari di Abu Dhabi.

Meski demikian, pasar belum melihat adanya terobosan signifikan. Perang yang kini mendekati tahun kelima tetap menjadi faktor struktural penting, terutama karena sanksi terhadap perdagangan minyak Rusia masih membayangi. Selama sanksi tersebut belum sepenuhnya dicabut, pasokan global tetap berada dalam kondisi “setengah normal”—cukup untuk mencegah lonjakan ekstrem, tetapi tidak cukup longgar untuk menghilangkan sensitivitas harga.

Dari Ketakutan Gangguan Pasokan ke Cerita Surplus Global

Menariknya, reli minyak sebelumnya terjadi di tengah narasi yang bertolak belakang. Di satu sisi, pasar takut pasokan terganggu akibat konflik geopolitik. Di sisi lain, dunia juga sedang menghadapi potensi surplus pasokan global, terutama dari produksi non-OPEC yang masih kuat.

Amerika Serikat, Brasil, dan Guyana terus menambah kapasitas produksi, sementara pertumbuhan permintaan global menunjukkan tanda-tanda melambat, khususnya dari China. Ketika ketegangan geopolitik mereda, perhatian pasar otomatis kembali ke cerita lama ini: apakah dunia sebenarnya kelebihan minyak?

Sikap OPEC+ Tetap Jadi Penopang, Tapi Bukan Pendorong

Di luar faktor geopolitik, sentimen pasar juga dipengaruhi oleh keputusan OPEC+ yang mempertahankan rencana produksi tetap pada Maret, sebagai bagian terakhir dari kebijakan “freeze” tiga bulan. Meski harga sempat naik tajam, kartel memilih tidak mengubah strategi dalam waktu dekat.

Keputusan ini memberikan stabilitas, tetapi tidak cukup kuat untuk menopang harga di tengah arus jual spekulatif. Bagi trader, sikap OPEC+ lebih berfungsi sebagai “lantai” harga jangka menengah, bukan katalis untuk reli lanjutan.

Efek Domino dari Koreksi Aset Lain

Koreksi tajam di pasar logam mulia—terutama emas dan perak—juga ikut memengaruhi sentimen di pasar energi. Penurunan tajam tersebut memicu mode recalibrate risk di berbagai kelas aset. Investor mulai menurunkan eksposur terhadap posisi yang sebelumnya terlalu padat dan sensitif terhadap volatilitas.

Dalam konteks ini, minyak tidak berdiri sendiri. Ia menjadi bagian dari gelombang penyesuaian risiko yang lebih luas, di mana pelaku pasar berusaha menyeimbangkan kembali portofolio setelah periode pergerakan ekstrem.

Pasar Kembali ke Mode Hitung-Hitungan

Pada pukul 08:07 waktu Singapura, harga Brent tercatat turun sekitar 2,4% ke US$67,64 per barel, sementara WTI melemah 2,6% ke US$63,54 per barel. Angka ini menjadi sinyal bahwa pasar mulai membuang premi risiko dan kembali ke mode perhitungan rasional.

Ke depan, arah harga minyak akan sangat bergantung pada dua hal utama: apakah ketegangan geopolitik kembali memanas, dan bagaimana realisasi keseimbangan pasokan-permintaan global. Tanpa kejutan baru, pasar cenderung bergerak lebih datar dengan volatilitas yang tetap tinggi, tetapi tanpa bias naik yang sekuat bulan lalu.

Kesimpulan: Dari Emosi ke Realitas Pasar

Koreksi harga minyak saat ini menegaskan satu hal penting: reli berbasis ketakutan jarang bertahan lama tanpa konfirmasi nyata. Ketika emosi pasar mereda, realitas fundamental kembali mengambil alih. Dalam kondisi seperti ini, harga minyak tidak lagi digerakkan oleh headline semata, melainkan oleh perhitungan ulang risiko, suplai, dan permintaan global.

Bagi pelaku pasar, fase ini menuntut disiplin dan kehati-hatian. Volatilitas masih akan menjadi ciri utama, tetapi arah pergerakan kemungkinan lebih ditentukan oleh data dan kebijakan nyata ketimbang retorika geopolitik.


Jangan lupa jelajahi website kami di demo bestprofit dan temukan beragam informasi menarik yang siap menginspirasi dan memberikan pengetahuan baru! Ayo, kunjungi sekarang untuk pengalaman online yang menyenangkan!
bestprofit futures

Thursday, 29 January 2026

Bestprofit | Pasar Bergetar, Modal Masuk Aset Safe-Haven

 https://best-profit-futures-malang.com/wp-content/uploads/2026/01/compressed_Emas-Ngerem-Dekat-ATH-Dolar-Menguat-1.jpg

Bestprofit (30/1) – Harga emas menguat pada sesi perdagangan Asia pagi ini, seiring ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran yang belum menunjukkan tanda-tanda mereda. Kondisi geopolitik yang memanas tersebut kembali mendorong pelaku pasar masuk ke mode safe-haven, di mana investor cenderung mengalihkan dana ke aset yang dianggap lebih aman untuk melindungi nilai investasinya.

Emas, yang selama ini dikenal sebagai aset lindung nilai klasik, kembali menjadi pilihan utama. Ketidakpastian arah konflik dan risiko eskalasi militer membuat pasar global berada dalam suasana waspada, sehingga permintaan terhadap logam mulia ini meningkat signifikan sejak awal sesi Asia.

Upaya Diplomasi Timur Tengah Belum Membuahkan Hasil

Sejumlah pemerintah di kawasan Timur Tengah dilaporkan tengah berupaya mendorong Amerika Serikat dan Iran untuk kembali ke meja perundingan. Negara-negara tersebut khawatir bahwa konflik terbuka antara dua kekuatan besar itu akan membawa dampak luas, tidak hanya bagi stabilitas regional, tetapi juga terhadap perekonomian global dan pasar energi dunia.

Namun demikian, upaya diplomasi tersebut sejauh ini belum menunjukkan hasil konkret. Baik Washington maupun Teheran masih bertahan pada posisi dan tuntutan masing-masing. Iran menegaskan penolakannya terhadap tekanan dan sanksi tambahan, sementara Amerika Serikat menuntut kesepakatan baru yang dinilai lebih menguntungkan dan membatasi aktivitas Iran di kawasan.

Kebuntuan ini membuat pasar sulit melihat jalan keluar dalam waktu dekat, sehingga ketidakpastian terus membayangi pergerakan aset keuangan global.


Kunjungi juga : bestprofit futures

Peningkatan Kehadiran Militer AS Menambah Kekhawatiran Pasar

Di sisi lain, Amerika Serikat dilaporkan kembali menambah pengerahan kekuatan militernya ke kawasan Timur Tengah. Langkah ini dipandang sebagai sinyal kesiapan menghadapi kemungkinan terburuk apabila jalur diplomasi gagal mencapai kesepakatan.

Presiden Donald Trump juga kembali melontarkan pernyataan keras, termasuk ancaman serangan militer jika negosiasi tidak mencapai titik temu. Retorika tersebut langsung direspons pasar dengan peningkatan volatilitas, terutama pada aset-aset berisiko seperti saham dan mata uang negara berkembang.

Bagi investor, kombinasi antara ancaman militer dan ketidakpastian diplomatik menciptakan lingkungan investasi yang sarat risiko. Dalam kondisi seperti ini, emas kerap menjadi tujuan utama untuk mengamankan nilai portofolio.

Permintaan Safe-Haven Dorong Minat Beli Emas

Situasi geopolitik yang memanas otomatis mengangkat permintaan terhadap aset safe-haven. Emas menjadi salah satu instrumen yang paling diuntungkan, karena secara historis mampu mempertahankan nilai di tengah krisis dan gejolak global.

Abdelaziz Albogdady dari FXEM menyatakan bahwa ketegangan yang terus berlangsung memperkuat minat beli emas. Menurutnya, investor cenderung mengurangi eksposur pada aset berisiko dan memilih berlindung pada instrumen yang lebih stabil hingga situasi menjadi lebih jelas.

Perilaku ini terlihat dari meningkatnya volume transaksi emas, baik di pasar fisik maupun derivatif, sejak kabar eskalasi konflik kembali mencuat.

Arus Investasi dan Pembelian Bank Sentral Jadi Penopang Tambahan

Selain faktor geopolitik, penguatan harga emas juga ditopang oleh arus investasi yang masih kuat. Minat investor institusional terhadap emas tetap terjaga, seiring meningkatnya kekhawatiran terhadap ketahanan ekonomi global dan arah kebijakan moneter ke depan.

Di samping itu, pembelian emas oleh bank sentral di berbagai negara juga terus berlanjut. Banyak bank sentral memandang emas sebagai aset strategis untuk diversifikasi cadangan devisa dan mengurangi ketergantungan terhadap mata uang tertentu. Tren ini memberikan dukungan struktural terhadap harga emas dalam jangka menengah hingga panjang.

Kombinasi antara permintaan investor dan akumulasi oleh bank sentral membuat pasar emas memiliki fondasi yang relatif kuat, meskipun dihadapkan pada fluktuasi jangka pendek.

Harga Emas Sentuh Level Tinggi di Pasar Spot

Seiring meningkatnya permintaan, harga emas spot tercatat naik sekitar 1,1% dan mencapai level $5.438,75 per ons. Kenaikan ini mencerminkan respons pasar terhadap meningkatnya risiko geopolitik serta sentimen kehati-hatian yang mendominasi perdagangan global.

Analis menilai bahwa selama ketegangan AS–Iran belum mereda, harga emas berpotensi tetap berada di jalur penguatan. Setiap perkembangan baru terkait konflik atau pernyataan pejabat tinggi dari kedua negara diperkirakan akan langsung memengaruhi pergerakan harga.

Prospek Emas di Tengah Ketidakpastian Global

Ke depan, prospek emas masih sangat bergantung pada dinamika geopolitik dan arah kebijakan global. Jika konflik berlanjut atau bahkan meningkat, permintaan safe-haven kemungkinan akan tetap tinggi. Sebaliknya, jika tercapai terobosan diplomatik yang signifikan, tekanan terhadap harga emas bisa muncul seiring kembalinya minat investor ke aset berisiko.

Namun, dengan masih kuatnya arus investasi dan pembelian bank sentral, banyak pelaku pasar menilai bahwa koreksi harga emas berpotensi bersifat terbatas. Dalam lingkungan global yang penuh ketidakpastian, emas tetap dipandang sebagai salah satu instrumen penting untuk menjaga stabilitas portofolio.

Bagi investor, perkembangan ini menjadi pengingat bahwa faktor geopolitik masih memainkan peran besar dalam membentuk arah pasar keuangan dunia, dan emas kembali membuktikan posisinya sebagai aset perlindungan di saat risiko meningkat.


Jangan lupa jelajahi website kami di demo bestprofit dan temukan beragam informasi menarik yang siap menginspirasi dan memberikan pengetahuan baru! Ayo, kunjungi sekarang untuk pengalaman online yang menyenangkan!


bestprofit futures
 

Wednesday, 28 January 2026

Bestprofit | Emas Tembus $5.500, Fed Jadi Penentu Arah

 https://best-profit-futures-malang.com/wp-content/uploads/2026/01/compressed_Emas-Mundur-Tipis-dari-4900-Tren-Naik-Masih-Aman-2.jpg

Bestprofit (29/1) – Harga emas kembali menjadi pusat perhatian pasar global setelah melonjak ke rekor baru di atas US$5.500 per ons. Reli ini bukan sekadar lonjakan sesaat, melainkan kelanjutan dari tren kenaikan yang sudah berlangsung sangat agresif sejak awal tahun. Pada sesi Asia, emas bahkan sempat mencetak puncak intraday sebelum terkoreksi tipis. Sekitar pukul 08.02 waktu Singapura, harga emas tercatat berada di kisaran US$5.461,98 per ons, turun sedikit dari level tertingginya namun tetap berada di area historis.

Lonjakan ini terjadi di tengah pelemahan dolar AS dan meningkatnya minat investor terhadap aset penyimpan nilai alternatif. Ketika ketidakpastian meningkat, emas kembali memainkan peran klasiknya sebagai pelindung nilai—namun kali ini dengan skala dan kecepatan yang jauh lebih ekstrem dibanding siklus sebelumnya.

Bukan Sekadar Inflasi, Tapi Krisis Kepercayaan

Berbeda dengan reli emas pada periode inflasi tinggi sebelumnya, kenaikan kali ini didorong oleh faktor yang lebih dalam: krisis kepercayaan. Investor global mulai mempertanyakan status obligasi pemerintah dan mata uang utama sebagai safe haven yang benar-benar aman.

Dalam kondisi normal, obligasi pemerintah AS dan dolar dianggap sebagai tempat berlindung utama saat gejolak. Namun meningkatnya beban fiskal, defisit anggaran, serta dinamika geopolitik membuat sebagian investor merasa bahwa “aset aman tradisional” tidak lagi seaman dulu. Akibatnya, arus dana mulai bergeser ke emas—aset yang tidak bergantung pada kebijakan satu negara atau kredibilitas satu bank sentral.

Reuters mencatat bahwa reli emas kali ini ditopang oleh kombinasi permintaan safe-haven, ketidakpastian ekonomi dan geopolitik, serta momentum pembelian yang terus menguat. Dengan kata lain, emas tidak hanya dibeli karena mahalnya harga akan naik, tetapi karena investor ingin keluar dari risiko sistemik.


Kunjungi juga : bestprofit futures

Dolar AS Melemah, Emas Dapat Angin Segar

Salah satu katalis paling langsung dari reli emas adalah pelemahan dolar AS. Secara historis, hubungan emas dan dolar cenderung berlawanan arah. Ketika dolar melemah, emas menjadi lebih murah bagi pemegang mata uang lain, sehingga permintaan global meningkat.

Pelemahan dolar kali ini tidak berdiri sendiri. Ia berkaitan erat dengan ekspektasi kebijakan moneter AS, dinamika politik, serta kekhawatiran terhadap posisi fiskal jangka panjang Amerika Serikat. Ditambah lagi, komentar-komentar politik yang mempertanyakan kekuatan dolar turut memperburuk sentimen.

Dalam kondisi seperti ini, emas muncul sebagai “mata uang netral”—tidak bisa dicetak, tidak bisa didevaluasi oleh kebijakan, dan tidak bergantung pada stabilitas satu rezim ekonomi.

Pasar Menatap The Fed dan Kepemimpinan Berikutnya

Pasar saat ini tidak hanya bereaksi terhadap keputusan The Fed yang menahan suku bunga, tetapi juga melihat jauh ke depan. Fokus investor telah bergeser dari “apa yang dilakukan The Fed sekarang” ke “apa yang akan terjadi berikutnya”.

Isu mengenai ketua The Fed selanjutnya ikut memanaskan spekulasi. Jika kepemimpinan baru cenderung lebih dovish—lebih lunak terhadap inflasi dan lebih terbuka pada penurunan suku bunga—maka peluang pelonggaran moneter akan semakin besar. Kondisi ini hampir selalu menjadi bahan bakar tambahan bagi harga emas.

Alasannya sederhana: emas tidak memberikan imbal hasil. Ketika suku bunga tinggi, opportunity cost memegang emas meningkat. Namun ketika pasar mulai mengantisipasi penurunan suku bunga, hambatan itu menghilang—dan emas kembali menjadi primadona.

Tekanan Global: Dari Pasar Obligasi hingga Yen

Dorongan terhadap emas juga datang dari luar Amerika Serikat. Gejolak di pasar obligasi global, termasuk kekhawatiran fiskal di beberapa negara maju, membuat investor semakin defensif. Ketika imbal hasil obligasi naik karena risiko, bukan karena pertumbuhan, maka daya tariknya justru menurun.

Di Asia, dinamika yen–dolar ikut memperkuat narasi “lari dari mata uang”. Pelemahan yen yang berkepanjangan mencerminkan tekanan struktural dalam sistem keuangan global, sekaligus mempertegas alasan investor mencari aset yang tidak terikat pada kebijakan domestik mana pun.

Ketegangan geopolitik di berbagai kawasan juga memperburuk suasana. Dalam kondisi volatilitas tinggi dan ketidakpastian arah ekonomi global, emas sering menjadi tujuan paling mudah dan paling likuid untuk berlindung.

Efek Domino ke Logam Mulia Lain

Reli emas tidak terjadi sendirian. Efeknya merembet ke logam mulia lain. Reuters melaporkan bahwa perak juga berada dekat rekor—bahkan menyentuh rekor baru dalam rangkaian reli ini. Platinum dan palladium pun ikut bergerak searah, meski dengan volatilitas yang berbeda.

Perak, selain sebagai aset safe-haven, juga memiliki komponen permintaan industri, sehingga mendapat dorongan ganda. Sementara platinum dan palladium lebih sensitif terhadap prospek ekonomi dan sektor otomotif, sentimen pelemahan dolar tetap memberi dukungan harga.

Fenomena ini menunjukkan bahwa pasar tidak hanya bertaruh pada satu komoditas, tetapi pada tema besar: perlindungan nilai terhadap ketidakpastian sistemik.

Reli Parabolik dan Risiko Koreksi Jangka Pendek

Dengan kenaikan yang begitu cepat dan tajam, banyak pelaku pasar mulai menyebut reli emas sebagai “parabolik”. Dalam sejarah pasar, pergerakan semacam ini hampir selalu disertai risiko koreksi jangka pendek, baik karena aksi ambil untung maupun perubahan sentimen sementara.

Namun, sejauh faktor fundamental belum berubah—dolar tetap lemah, risiko global tetap tinggi, dan ekspektasi suku bunga tetap condong turun—bias jangka menengah hingga panjang emas masih cenderung ke atas.

Investor kini berada di persimpangan antara kewaspadaan teknikal dan keyakinan fundamental. Koreksi bisa saja terjadi, tetapi setiap penurunan justru berpotensi dipandang sebagai peluang beli selama narasi besar belum runtuh.

Emas dan Pergeseran Narasi Pasar Global

Kenaikan emas ke atas US$5.500 per ons bukan hanya soal harga, tetapi soal pergeseran cara pasar memandang risiko dan kepercayaan. Dunia sedang bergerak menuju fase di mana aset konvensional dipertanyakan, dan instrumen klasik seperti emas kembali mendapatkan peran sentral.

Apakah reli ini akan berlanjut tanpa hambatan? Tidak ada pasar yang bergerak lurus ke atas. Namun satu hal jelas: selama ketidakpastian mendominasi dan kepercayaan terhadap sistem keuangan global terus diuji, emas akan tetap berada di panggung utama—bukan sekadar sebagai komoditas, melainkan sebagai simbol perlindungan terakhir.


Jangan lupa jelajahi website kami di demo bestprofit dan temukan beragam informasi menarik yang siap menginspirasi dan memberikan pengetahuan baru! Ayo, kunjungi sekarang untuk pengalaman online yang menyenangkan!
bestprofit futures 

Tuesday, 27 January 2026

Bestprofit | Greenback Turun, Emas Stabil

 https://best-profit-futures-malang.com/wp-content/uploads/2026/01/compressed_Emas-Ngegas-Dekat-5000Dunia-Mulai-Cari-Pelindung-B.jpg

Bestprofit (28/1) – Emas bergerak relatif stabil setelah mencatat penguatan selama tujuh hari berturut-turut. Logam mulia ini kini berada di area harga tinggi, mencerminkan kombinasi faktor klasik yang kembali bekerja: pelemahan dolar AS dan meningkatnya sikap defensif investor global. Di tengah gejolak pasar obligasi dan tekanan pada sejumlah mata uang utama, emas kembali menegaskan perannya sebagai aset lindung nilai.

Harga emas batangan bertahan di sekitar $5.180 per ons, setelah melonjak tajam 3,4% pada Selasa, yang menjadi kenaikan harian terbesar sejak April. Lonjakan tersebut bukan hanya reaksi sesaat, tetapi hasil dari perubahan sentimen pasar yang makin berhati-hati terhadap aset berisiko.

Pelemahan Dolar AS Jadi Bahan Bakar Utama

Salah satu pendorong terkuat reli emas kali ini adalah melemahnya dolar AS. Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, secara terbuka menyatakan bahwa ia “tidak khawatir” terhadap pelemahan dolar—pernyataan yang justru mempertebal tekanan terhadap greenback. Dolar AS kini berada di posisi terlemahnya dalam hampir empat tahun, memicu pergeseran portofolio investor global.

Bloomberg Dollar Spot Index tercatat anjlok 1,1% dalam satu sesi, penurunan harian terbesar sejak April. Dampaknya terhadap emas relatif langsung dan mudah dipahami: ketika dolar melemah, harga emas menjadi lebih terjangkau bagi pembeli yang menggunakan mata uang lain, sehingga permintaan cenderung meningkat.

Kondisi ini kembali menegaskan hubungan terbalik klasik antara dolar AS dan harga emas—sebuah korelasi yang telah lama menjadi pegangan pelaku pasar.


Kunjungi juga : bestprofit futures

Aksi Jual Obligasi Mendorong Sikap Defensif Investor

Selain faktor mata uang, tekanan juga datang dari pasar obligasi pemerintah. Aksi jual yang terjadi pada obligasi AS dan sejumlah negara lain menimbulkan kekhawatiran soal stabilitas suku bunga jangka panjang dan keberlanjutan kebijakan fiskal global. Yield obligasi yang bergejolak membuat investor kembali mempertanyakan daya tarik aset pendapatan tetap.

Dalam situasi seperti ini, emas sering kali menjadi tujuan alternatif. Tidak memberikan imbal hasil memang, tetapi emas menawarkan sesuatu yang lain: perlindungan nilai di tengah ketidakpastian. Ketika pasar obligasi goyah dan mata uang melemah, emas sering tampil sebagai “jangkar psikologis” bagi investor.

Lonjakan Terbesar Sejak April, Apa Artinya?

Kenaikan 3,4% dalam satu hari bukanlah pergerakan kecil untuk emas. Lonjakan tersebut menjadi sinyal bahwa pasar sedang mengalami reposisi yang cukup signifikan. Banyak analis melihat reli ini bukan sekadar technical rebound, melainkan refleksi dari meningkatnya permintaan lindung nilai jangka menengah.

Meski setelah lonjakan tajam tersebut harga emas cenderung bergerak datar, stabilitas di level tinggi justru dianggap positif. Pasar menunjukkan bahwa kenaikan sebelumnya tidak langsung diikuti aksi ambil untung besar-besaran, menandakan keyakinan investor masih cukup kuat.

Harga Terbaru: Konsolidasi di Asia

Pada perdagangan Asia pagi hari, tepatnya pukul 7:10 waktu Singapura, harga emas nyaris tidak berubah di $5.177,64 per ons. Pergerakan yang datar ini mencerminkan fase konsolidasi setelah reli agresif sebelumnya.

Sementara itu, logam mulia lainnya tidak sekuat emas. Perak turun 1,2% ke $110,76 per ons, sedangkan platinum dan paladium juga mengalami pelemahan. Perbedaan kinerja ini menunjukkan bahwa dorongan utama pasar saat ini lebih bersifat lindung nilai ketimbang kebutuhan industri, di mana emas lebih unggul dibandingkan logam mulia lain.

Emas vs Logam Mulia Lain: Cerita yang Berbeda

Pelemahan perak, platinum, dan paladium menggarisbawahi karakter unik emas. Perak dan platinum memiliki keterkaitan kuat dengan aktivitas industri, sehingga lebih sensitif terhadap prospek pertumbuhan ekonomi global. Ketika kekhawatiran ekonomi meningkat, logam-logam tersebut cenderung tertekan.

Sebaliknya, emas justru diuntungkan oleh meningkatnya ketidakpastian. Dalam kondisi pasar seperti sekarang—diwarnai volatilitas mata uang, tekanan obligasi, dan sinyal kebijakan yang tidak konsisten—emas lebih diperlakukan sebagai “asuransi” ketimbang komoditas biasa.

Sikap Bank Sentral dan Bayang-Bayang Kebijakan

Ke depan, perhatian pelaku pasar akan tertuju pada langkah bank sentral utama, khususnya Federal Reserve. Jika tekanan pada dolar terus berlanjut dan suku bunga riil tetap rendah atau bahkan negatif, ruang bagi emas untuk bertahan di level tinggi masih terbuka.

Selain itu, kebijakan fiskal AS dan dinamika politik global juga akan menjadi faktor penting. Pernyataan Presiden Trump yang terkesan santai terhadap pelemahan dolar menimbulkan spekulasi bahwa pemerintah AS tidak akan terlalu agresif dalam menopang nilai tukar, setidaknya dalam jangka pendek.

Prospek Jangka Pendek: Stabil, Tapi Rentan

Meski tren jangka pendek masih cenderung positif, emas tetap rentan terhadap perubahan sentimen yang cepat. Data ekonomi AS yang lebih kuat dari perkiraan atau pergeseran mendadak di pasar obligasi bisa memicu koreksi harga. Namun selama dolar AS berada dalam tekanan dan ketidakpastian global belum mereda, emas memiliki fondasi yang cukup kuat.

Banyak pelaku pasar kini melihat fase saat ini sebagai periode penyeimbangan—bukan akhir dari tren. Konsolidasi di level tinggi justru sering menjadi pijakan bagi pergerakan selanjutnya.

Kesimpulan: Emas Kembali ke Peran Alaminya

Pergerakan emas dalam beberapa hari terakhir menegaskan satu hal: di saat kepercayaan terhadap mata uang dan obligasi terguncang, emas hampir selalu menemukan momentumnya. Stabil di kisaran $5.180 per ons setelah reli tajam menunjukkan bahwa pasar masih memberi kepercayaan pada logam mulia ini.

Dengan dolar AS melemah, pasar obligasi bergejolak, dan investor cenderung defensif, emas kembali memainkan peran klasiknya sebagai aset lindung nilai. Bukan mustahil, selama kombinasi faktor ini bertahan, emas akan tetap menjadi pusat perhatian pasar global dalam waktu dekat.


Jangan lupa jelajahi website kami di demo bestprofit dan temukan beragam informasi menarik yang siap menginspirasi dan memberikan pengetahuan baru! Ayo, kunjungi sekarang untuk pengalaman online yang menyenangkan!
bestprofit futures
 

Monday, 26 January 2026

Bestprofit | Emas Tetap Ngeyel di Zona Rekor

 https://best-profit-futures-malang.com/wp-content/uploads/2026/01/compressed_Emas-Stabil-Pasca-Lonjakan-Akibat-Kekhawatiran-ata-3.jpg

Bestprofit (27/1) – Harga emas kembali menunjukkan kekuatannya dan bertahan kokoh di atas level psikologis utama, melanjutkan reli yang telah berlangsung dalam beberapa waktu terakhir. Penguatan ini tidak terjadi dalam ruang hampa. Ada dua faktor besar yang menopang pergerakan emas: pelemahan dolar Amerika Serikat dan meningkatnya kebutuhan investor terhadap aset aman di tengah naiknya kembali risiko global.

Dalam kondisi pasar yang sarat ketidakpastian, emas sekali lagi membuktikan statusnya sebagai aset lindung nilai. Ketika sentimen risiko meningkat dan kepercayaan terhadap aset keuangan tertentu goyah, logam mulia ini cenderung menjadi tujuan pelarian modal.

Pelemahan Dolar Jadi Bahan Bakar Reli Emas

Salah satu pendorong utama kenaikan harga emas datang dari melemahnya dolar AS. Dolar yang lebih lemah secara langsung membuat emas—yang diperdagangkan dalam denominasi dolar—menjadi relatif lebih murah bagi pembeli di luar Amerika Serikat. Kondisi ini meningkatkan permintaan global dan memberikan dukungan tambahan bagi harga.

Dalam beberapa sesi terakhir, indeks dolar memang menunjukkan kecenderungan melemah setelah sebelumnya mencatat penguatan. Tekanan terhadap dolar muncul seiring meningkatnya spekulasi pasar mengenai arah kebijakan moneter dan kekhawatiran terhadap kondisi fiskal di sejumlah negara maju. Ketika daya tarik dolar berkurang, emas kembali mendapatkan momentumnya.


Kunjungi juga : bestprofit futures

Ketegangan Dagang AS–Korea Selatan Naikkan Risiko Global

Di sisi geopolitik dan perdagangan, pasar kembali dihadapkan pada meningkatnya tensi dagang. Presiden AS Donald Trump melontarkan ancaman kenaikan tarif besar terhadap barang-barang asal Korea Selatan, memicu kekhawatiran akan potensi eskalasi konflik dagang baru.

Ancaman tersebut langsung berdampak pada sentimen global. Investor menjadi lebih waspada terhadap potensi gangguan perdagangan, tekanan terhadap pertumbuhan ekonomi, serta risiko lanjutan terhadap stabilitas pasar keuangan. Dalam situasi seperti ini, emas kembali tampil sebagai pilihan defensif yang menarik.

Ketegangan dagang tidak hanya berdampak pada negara yang terlibat langsung, tetapi juga pada rantai pasok global. Ketidakpastian inilah yang membuat pelaku pasar cenderung mengurangi eksposur terhadap aset berisiko dan beralih ke instrumen yang dianggap lebih aman.

Kembalinya “Perdagangan Pelemahan Mata Uang”

Kenaikan emas belakangan ini juga dibaca sebagai tanda kembalinya apa yang sering disebut sebagai “perdagangan pelemahan mata uang”. Dalam skenario ini, investor mulai menjauh dari mata uang dan obligasi pemerintah, lalu mengalihkan dana ke aset riil seperti emas.

Fenomena ini biasanya muncul ketika kepercayaan terhadap kebijakan fiskal dan moneter mulai terkikis. Ketika utang pemerintah membengkak dan imbal hasil obligasi bergejolak, emas kembali mendapatkan daya tarik sebagai penyimpan nilai jangka panjang.

Pergerakan ini menunjukkan bahwa reli emas saat ini bukan sekadar reaksi jangka pendek, melainkan bagian dari pergeseran sentimen yang lebih luas di pasar global.

Gejolak Obligasi Jepang Perkuat Narasi Risiko Fiskal

Narasi meningkatnya sensitivitas investor terhadap risiko fiskal semakin menguat setelah gejolak di pasar obligasi Jepang. Pergerakan tidak biasa pada imbal hasil obligasi pemerintah Jepang memicu kekhawatiran tentang keberlanjutan kebijakan moneter ultra-longgar dan beban fiskal jangka panjang.

Meski Jepang selama ini dikenal dengan stabilitas pasar obligasinya, perubahan kecil saja sudah cukup untuk mengguncang kepercayaan investor global. Gejolak ini menjadi pengingat bahwa bahkan pasar yang dianggap paling aman pun tidak sepenuhnya kebal dari risiko.

Situasi tersebut turut memperkuat alasan investor untuk kembali melirik emas sebagai alternatif, terutama ketika obligasi pemerintah tidak lagi memberikan rasa aman yang sama seperti sebelumnya.

Logam Mulia Lain Ikut Menguat

Tidak hanya emas yang menikmati sentimen positif. Logam mulia lain juga bergerak searah, meski dengan dinamika yang berbeda. Perak masih mencatat penguatan meskipun sempat mundur dari puncak terbarunya. Pergerakan perak mencerminkan kombinasi antara perannya sebagai aset lindung nilai dan kebutuhan industri.

Platinum dan paladium juga ikut naik, didukung oleh sentimen pasar yang lebih luas serta harapan terhadap permintaan industri. Kenaikan serempak ini menunjukkan bahwa minat terhadap logam mulia tidak terbatas pada emas semata, melainkan meluas ke seluruh sektor.

Di sisi lain, indeks dolar cenderung stabil setelah sebelumnya melemah. Stabilitas ini belum cukup kuat untuk menekan harga emas secara signifikan, terutama selama sentimen risiko global masih mendominasi.

Analisis Teknikal: Arah Masih Condong ke Atas

Dari sisi teknikal, analis menilai jalur termudah emas masih mengarah ke atas selama harga mampu bertahan di atas level psikologis utama. Level ini kini berfungsi sebagai fondasi penting bagi reli lanjutan.

Fokus pasar saat ini mengarah ke area target berikutnya, yang menjadi perhatian utama pelaku pasar jangka pendek maupun menengah. Selama tidak terjadi penembusan ke bawah level penopang terdekat, peluang penguatan lanjutan masih terbuka.

Namun, analis juga mengingatkan bahwa jika level penopang tersebut goyah, ruang koreksi bisa melebar. Dalam kondisi pasar yang sensitif terhadap berita dan sentimen, volatilitas tetap perlu diwaspadai.

Menanti Arah Selanjutnya

Ke depan, pergerakan emas akan sangat bergantung pada kombinasi faktor makro: arah dolar, perkembangan tensi dagang, kondisi pasar obligasi global, serta perubahan selera risiko investor. Selama ketidakpastian global masih tinggi, emas berpotensi tetap menjadi aset favorit.

Bagi pelaku pasar, level psikologis yang saat ini dipertahankan emas akan menjadi penentu arah jangka pendek. Bertahan di atasnya membuka peluang reli lanjutan, sementara kegagalan mempertahankannya bisa memicu fase konsolidasi atau koreksi.

Yang jelas, emas kembali membuktikan perannya sebagai barometer ketidakpastian global—dan selama risiko masih membayangi, kilau logam mulia ini tampaknya belum akan meredup.


Jangan lupa jelajahi website kami di demo bestprofit dan temukan beragam informasi menarik yang siap menginspirasi dan memberikan pengetahuan baru! Ayo, kunjungi sekarang untuk pengalaman online yang menyenangkan!
bestprofit futures 

Sunday, 25 January 2026

Bestprofit | Emas Tembus $5.000, Apa Pemicunya?

 https://best-profit-futures-malang.com/wp-content/uploads/2026/01/compressed_Emas-Koreksi-NFP-Jadi-Penentu-3.jpg

Bestprofit (26/1) – Harga emas mencetak sejarah baru dengan menembus level US$5.000 per ons untuk pertama kalinya. Lonjakan ini bukan sekadar rekor angka, tetapi juga cerminan kegelisahan mendalam di pasar keuangan global. Saat investor ramai-ramai meninggalkan obligasi pemerintah dan mata uang utama, emas kembali mengukuhkan posisinya sebagai aset “safe haven” paling dipercaya di tengah ketidakpastian.

Kenaikan tajam ini terjadi pada awal perdagangan Senin, melanjutkan reli kuat pekan sebelumnya ketika emas melonjak hingga 8,5%. Pergerakan ini menandai fase baru dalam tren jangka panjang emas yang dalam dua tahun terakhir telah mengalami kenaikan lebih dari dua kali lipat.

Pelemahan Dolar Jadi Bahan Bakar Utama Reli

Salah satu pemicu terbesar lonjakan harga emas adalah melemahnya dolar Amerika Serikat. Indikator dolar Bloomberg tercatat turun 1,6% dalam sepekan, menjadi penurunan mingguan terbesar sejak Mei. Pelemahan ini membuat emas — yang diperdagangkan dalam dolar — menjadi relatif lebih murah bagi pembeli di luar AS, sehingga permintaan global meningkat signifikan.

Secara historis, hubungan antara dolar dan emas memang cenderung berlawanan arah. Ketika dolar melemah, investor global lebih mudah mengakumulasi emas tanpa harus menanggung beban nilai tukar yang tinggi. Kondisi inilah yang saat ini dimanfaatkan pelaku pasar, terutama dari Asia dan Timur Tengah, yang dikenal sebagai konsumen emas terbesar dunia.


Kunjungi juga : bestprofit futures

Investor Tinggalkan Obligasi dan Mata Uang

Kenaikan emas kali ini juga mencerminkan pergeseran besar dalam preferensi investasi. Obligasi pemerintah — yang biasanya dianggap aset aman — mulai kehilangan daya tarik. Imbal hasil riil yang tergerus inflasi serta kekhawatiran terhadap beban utang negara membuat investor mempertanyakan kembali status “bebas risiko” instrumen tersebut.

Di saat yang sama, mata uang utama juga berada di bawah tekanan. Ketidakpastian kebijakan moneter, defisit fiskal, serta potensi intervensi politik membuat kepercayaan terhadap mata uang fiat menurun. Dalam kondisi seperti ini, emas kembali dipilih karena tidak bergantung pada kebijakan satu negara atau institusi tertentu.

Emas sebagai “Termometer Ketakutan” Pasar

Reli emas yang agresif mempertegas perannya sebagai “termometer ketakutan” di pasar keuangan. Ketika ketidakpastian meningkat, harga emas cenderung naik, mencerminkan meningkatnya permintaan perlindungan nilai (hedging).

Dalam dua tahun terakhir, lonjakan harga emas mencerminkan akumulasi berbagai risiko global: mulai dari konflik geopolitik yang berkepanjangan, fragmentasi ekonomi dunia, hingga kekhawatiran terhadap stabilitas lembaga keuangan. Setelah mencatat performa tahunan terbaik sejak 1979, emas masih mampu mencatat kenaikan sekitar 15% sepanjang tahun ini — sebuah sinyal bahwa kekhawatiran pasar belum mereda.

Campuran Risiko Global yang Sulit Diabaikan

Pemicu utama reli ini adalah kombinasi risiko yang saling tumpang tindih. Ketegangan geopolitik yang meningkat di berbagai kawasan dunia menciptakan ketidakpastian jangka panjang terhadap perdagangan dan stabilitas ekonomi global. Konflik regional yang berlarut-larut meningkatkan risiko gangguan pasokan energi dan komoditas, yang pada akhirnya memicu inflasi dan volatilitas pasar.

Di sisi lain, arah kebijakan ekonomi global juga semakin sulit diprediksi. Bank sentral dihadapkan pada dilema antara menjaga stabilitas harga dan mendukung pertumbuhan ekonomi. Ketidakjelasan ini membuat investor memilih strategi “jaga-jaga” dengan meningkatkan porsi aset lindung nilai, termasuk emas.

Lonjakan Tak Hanya Terjadi pada Emas

Kenaikan harga tidak hanya terbatas pada emas. Perak juga menyentuh rekor baru pada perdagangan Senin, naik 1,7% ke level US$104,9148. Kenaikan perak menunjukkan bahwa permintaan logam mulia tidak semata didorong oleh faktor investasi, tetapi juga oleh kebutuhan industri yang tetap kuat.

Sementara itu, palladium tercatat ikut menguat, meskipun kenaikannya lebih terbatas. Sebaliknya, platinum justru mengalami penurunan, menunjukkan bahwa setiap logam mulia memiliki dinamika penawaran dan permintaan yang berbeda. Namun secara umum, tren ini menegaskan bahwa investor sedang meningkatkan eksposur ke aset berwujud (hard assets).

Asia Jadi Pusat Perhatian Perdagangan

Pada pukul 7:22 pagi waktu Singapura, emas diperdagangkan naik 0,8% ke US$5.029,05 per ons. Pergerakan di jam Asia ini menegaskan pentingnya kawasan tersebut dalam menentukan arah harga emas global. Permintaan dari Asia, baik dari investor institusi maupun ritel, sering kali menjadi pendorong utama reli harga.

Selain itu, bank sentral di sejumlah negara berkembang juga terus menambah cadangan emas mereka. Langkah ini dilakukan untuk mengurangi ketergantungan pada dolar AS dan memperkuat stabilitas cadangan devisa di tengah ketidakpastian global.

Apakah Reli Emas Masih Akan Berlanjut?

Pertanyaan besar berikutnya adalah apakah reli emas masih memiliki ruang untuk berlanjut. Sebagian analis menilai harga emas saat ini sudah mencerminkan banyak risiko, sehingga rawan mengalami koreksi jangka pendek. Namun, selama ketidakpastian global masih tinggi dan kepercayaan terhadap aset keuangan tradisional belum sepenuhnya pulih, emas diperkirakan tetap menjadi pilihan utama investor.

Dalam jangka menengah hingga panjang, peran emas sebagai pelindung nilai dan aset diversifikasi tampaknya masih sangat relevan. Rekor US$5.000 per ons bukan hanya angka psikologis, tetapi simbol perubahan besar dalam cara pasar memandang risiko dan keamanan.

Penutup: Cerminan Dunia yang Gelisah

Lonjakan emas ke level tertinggi sepanjang sejarah mencerminkan dunia yang sedang gelisah. Di tengah kombinasi risiko geopolitik, ekonomi, dan kebijakan, investor memilih kembali ke aset yang telah dipercaya selama ribuan tahun. Emas, dengan segala simbolisme dan fungsinya, sekali lagi menjadi jangkar stabilitas di lautan pasar global yang bergelombang.

Jika tren ini berlanjut, reli emas bukan hanya cerita tentang harga, tetapi juga tentang perubahan kepercayaan dan strategi bertahan hidup di era ketidakpastian global.


Jangan lupa jelajahi website kami di demo bestprofit dan temukan beragam informasi menarik yang siap menginspirasi dan memberikan pengetahuan baru! Ayo, kunjungi sekarang untuk pengalaman online yang menyenangkan!
bestprofit futures 

Thursday, 22 January 2026

Bestprofit | Emas Rekor, Dolar AS Tertekan

 https://best-profit-futures-malang.com/wp-content/uploads/2026/01/compressed_Emas-Tembus-4700-Lagi-Drama-Greenland-Picu-Safe-Ha-2.jpg

Bestprofit (23/1) – Harga emas kembali mencuri perhatian pasar global setelah mencetak level tertinggi sepanjang masa. Lonjakan ini terjadi seiring melemahnya dolar Amerika Serikat pasca rilis data ekonomi terbaru Negeri Paman Sam. Kombinasi antara pasar tenaga kerja yang masih solid, belanja konsumen yang tetap kuat, serta spekulasi arah kebijakan suku bunga membuat investor kembali melirik emas sebagai aset lindung nilai utama.

Pada perdagangan awal, emas batangan sempat menembus US$4.955 per ons, menandai reli tajam yang membawa logam mulia ini ke jalur kenaikan mingguan hampir 8%. Kenaikan signifikan tersebut mempertegas peran emas sebagai instrumen perlindungan nilai di tengah ketidakpastian arah ekonomi dan kebijakan moneter global.

Reli Tajam Emas Didorong Sentimen Global

Kenaikan harga emas kali ini bukan sekadar lonjakan sesaat. Reli yang terjadi menunjukkan adanya perubahan sentimen pasar yang cukup kuat. Investor global terlihat semakin berhati-hati terhadap prospek ekonomi AS, khususnya terkait arah suku bunga acuan Federal Reserve (The Fed).

Ketika ketidakpastian meningkat, emas kerap menjadi tujuan utama aliran dana karena dianggap sebagai aset aman (safe haven). Lonjakan hampir 8% dalam sepekan menandakan permintaan yang kuat, baik dari investor institusional maupun ritel, yang mencari perlindungan dari potensi gejolak pasar keuangan.

Selain itu, faktor geopolitik dan ketidakpastian ekonomi global turut memperkuat daya tarik emas, meskipun fokus utama pasar saat ini tetap tertuju pada data ekonomi AS.


Kunjungi juga : bestprofit futures

Data Ekonomi AS: Tumbuh, Tapi Tidak Cukup Kuat

Pelemahan dolar AS dipicu oleh rilis data ekonomi terbaru yang menunjukkan pertumbuhan ekonomi kuartal ketiga sedikit lebih tinggi dari perkiraan sebelumnya. Meski demikian, data tersebut tidak cukup kuat untuk mengubah pandangan pasar secara signifikan terkait kebijakan suku bunga.

Di sisi lain, permohonan tunjangan pengangguran di AS tercatat meningkat, meskipun kenaikannya lebih kecil dari yang diperkirakan. Kondisi ini mencerminkan pasar tenaga kerja yang masih relatif kuat, tetapi mulai menunjukkan tanda-tanda pelonggaran.

Kombinasi data tersebut menciptakan sinyal yang ambigu: ekonomi AS belum melemah drastis, namun juga tidak cukup panas untuk mendorong kebijakan moneter yang lebih ketat dalam waktu dekat.

Fokus Pasar Kembali ke Arah Suku Bunga The Fed

Dengan data ekonomi yang cenderung beragam, perhatian investor kini kembali tertuju pada arah kebijakan suku bunga The Fed. Pasar menilai bahwa bank sentral AS kemungkinan akan bersikap lebih hati-hati dalam menentukan langkah berikutnya.

Ekspektasi bahwa suku bunga akan bertahan lebih lama atau bahkan berpotensi turun di masa depan menjadi faktor pendukung bagi harga emas. Logam mulia ini tidak memberikan imbal hasil bunga, sehingga biasanya lebih menarik ketika suku bunga rendah atau dolar melemah.

Ketidakpastian waktu dan besaran penyesuaian suku bunga membuat investor memilih bersikap defensif, dan emas menjadi salah satu pilihan utama dalam strategi tersebut.

Pelemahan Dolar AS Perkuat Daya Tarik Emas

Tekanan terhadap dolar AS terlihat jelas dari Indeks Spot Dolar Bloomberg yang ditutup melemah 0,3% pada sesi perdagangan sebelumnya. Pelemahan ini menjadi katalis penting bagi kenaikan harga emas.

Secara historis, terdapat hubungan terbalik antara dolar AS dan harga emas. Ketika dolar melemah, emas menjadi lebih murah bagi pembeli yang menggunakan mata uang lain, sehingga permintaan global cenderung meningkat.

Kondisi ini membuat emas semakin kompetitif di pasar internasional, terutama di tengah meningkatnya ketidakpastian ekonomi dan volatilitas pasar keuangan.

Pergerakan Harga di Pasar Asia

Di kawasan Asia, tren penguatan emas juga terlihat jelas. Pada pukul 07.10 waktu Singapura, harga emas tercatat naik 0,4% menjadi US$4.955,14 per ons. Kenaikan ini mencerminkan respons positif pasar Asia terhadap pelemahan dolar dan reli yang terjadi di pasar global.

Tidak hanya emas, logam mulia lainnya juga mengalami penguatan. Perak naik 0,6% ke level US$96,80 per ons, sekaligus mencetak rekor tertinggi baru. Sementara itu, platinum dan paladium turut mencatatkan kenaikan, menunjukkan sentimen positif yang meluas di sektor logam mulia.

Perak, Platinum, dan Paladium Ikut Bersinar

Kenaikan harga perak yang menembus rekor tertinggi menandakan bahwa minat investor tidak hanya terfokus pada emas. Perak, yang memiliki karakteristik sebagai aset lindung nilai sekaligus bahan industri, ikut diuntungkan oleh optimisme pasar.

Platinum dan paladium juga bergerak naik seiring membaiknya sentimen terhadap permintaan industri dan harapan stabilitas ekonomi global. Meski tidak sepopuler emas sebagai safe haven, kedua logam ini tetap menjadi bagian penting dalam portofolio diversifikasi investor.

Prospek Emas ke Depan: Masih Berpotensi Menguat

Ke depan, pergerakan harga emas diperkirakan masih akan sangat bergantung pada data ekonomi AS dan sinyal kebijakan The Fed. Selama dolar AS berada di bawah tekanan dan ketidakpastian suku bunga masih tinggi, emas berpeluang mempertahankan tren positifnya.

Namun demikian, volatilitas tetap perlu diwaspadai. Perubahan mendadak dalam ekspektasi pasar, terutama terkait inflasi dan kebijakan moneter, dapat memicu koreksi harga dalam jangka pendek.

Bagi investor, kondisi ini menegaskan pentingnya strategi yang terukur dan diversifikasi portofolio, dengan emas tetap menjadi salah satu instrumen kunci dalam menghadapi dinamika ekonomi global yang terus berubah.


Jangan lupa jelajahi website kami di demo bestprofit dan temukan beragam informasi menarik yang siap menginspirasi dan memberikan pengetahuan baru! Ayo, kunjungi sekarang untuk pengalaman online yang menyenangkan!
bestprofit futures 

Wednesday, 21 January 2026

Bestprofit | Pasar Tenang, Emas Alami Koreksi

 https://best-profit-futures-malang.com/wp-content/uploads/2026/01/compressed_Tarif-Ditahan-Emas-Pangkas-Kenaikan.jpg

Bestprofit (22/1) – Harga emas mengalami penurunan pada awal perdagangan global setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump secara mengejutkan membatalkan rencana penerapan tarif terhadap negara-negara Eropa. Keputusan ini langsung memengaruhi sentimen pasar keuangan dunia, khususnya pasar logam mulia, yang selama ini sangat sensitif terhadap isu geopolitik dan kebijakan perdagangan internasional.

Emas, yang dikenal sebagai aset lindung nilai (safe haven), cenderung menguat saat ketidakpastian global meningkat. Namun, ketika risiko geopolitik mereda, investor biasanya mulai mengalihkan dana mereka ke aset berisiko seperti saham atau mata uang, sehingga menekan harga emas.

Kesepakatan Greenland Redakan Ketegangan AS–Eropa

Pembatalan rencana tarif tersebut diumumkan Trump setelah ia menyatakan telah tercapai sebuah “kerangka kesepakatan masa depan” terkait Greenland. Pernyataan ini disampaikan melalui media sosial usai pertemuannya dengan Sekretaris Jenderal NATO, Mark Rutte.

Meski Trump tidak mengungkapkan detail konkret mengenai isi kesepakatan tersebut, pasar menilai langkah ini sebagai sinyal positif yang cukup kuat. Selama beberapa waktu terakhir, hubungan antara Amerika Serikat dan negara-negara Eropa berada dalam ketegangan akibat wacana tarif baru yang berpotensi memicu perang dagang lanjutan. Kesepakatan awal terkait Greenland dipandang mampu meredam eskalasi konflik politik dan ekonomi di kawasan Atlantik.


Kunjungi juga : bestprofit futures

Perubahan Sentimen Pasar yang Terjadi Cepat

Sebelum pernyataan Trump tersebut, harga emas justru berada dalam tren kenaikan tajam. Selama tiga hari perdagangan berturut-turut, emas mencatatkan reli signifikan hingga menembus rekor tertinggi sepanjang masa di atas USD 4.888 per ons. Lonjakan ini didorong oleh kekhawatiran investor terhadap ketidakpastian geopolitik, risiko kebijakan proteksionisme, serta spekulasi arah suku bunga global.

Namun, pasar keuangan dikenal sangat dinamis. Begitu sentimen berubah, reaksi investor pun terjadi dengan cepat. Pernyataan Trump yang bernada menenangkan langsung memicu aksi ambil untung (profit taking) di pasar emas. Investor mulai mengurangi eksposur terhadap aset aman dan kembali mempertimbangkan peluang di instrumen lain yang menawarkan imbal hasil lebih tinggi.

Penguatan Dolar AS Tekan Harga Emas

Meredanya ketegangan global juga memberikan dampak langsung terhadap nilai tukar dolar Amerika Serikat. Indeks Spot Dolar Bloomberg tercatat naik sekitar 0,1%. Penguatan dolar ini menjadi faktor tambahan yang menekan harga emas.

Secara umum, terdapat hubungan terbalik antara dolar AS dan harga emas. Karena emas diperdagangkan dalam denominasi dolar, penguatan mata uang AS membuat harga emas menjadi lebih mahal bagi investor yang menggunakan mata uang lain. Akibatnya, permintaan global terhadap emas cenderung menurun, sehingga harga pun tertekan.

Pergerakan Harga Emas di Pasar Asia

Pada perdagangan pagi hari di kawasan Asia, tepatnya pukul 7.36 waktu Singapura, harga emas tercatat turun 0,8% ke level USD 4.793,96 per ons. Penurunan ini menandai koreksi signifikan setelah reli tajam yang terjadi dalam beberapa hari sebelumnya.

Pelaku pasar di Asia terlihat berhati-hati sambil menunggu perkembangan lebih lanjut terkait kebijakan Amerika Serikat serta respons dari negara-negara Eropa. Banyak investor memilih untuk bersikap wait and see sebelum mengambil posisi baru di pasar logam mulia.

Logam Mulia Lain Ikut Tertekan

Tidak hanya emas, tekanan jual juga terjadi pada logam mulia lainnya. Harga perak tercatat turun 1,3% menjadi USD 91,86 per ons. Sementara itu, platinum dan paladium juga mengalami pelemahan seiring dengan perubahan sentimen pasar global.

Perak, yang memiliki karakteristik ganda sebagai logam industri dan aset lindung nilai, sering kali bergerak lebih volatil dibanding emas. Ketika risiko global mereda, permintaan spekulatif terhadap perak biasanya ikut berkurang. Hal yang sama berlaku bagi platinum dan paladium yang sangat bergantung pada prospek industri otomotif dan manufaktur global.

Dampak Kebijakan Politik terhadap Pasar Keuangan

Peristiwa ini kembali menunjukkan betapa besar pengaruh pernyataan dan kebijakan politik terhadap pasar keuangan global. Satu pernyataan dari kepala negara, terutama dari Amerika Serikat sebagai ekonomi terbesar dunia, dapat langsung mengubah arah pergerakan aset dalam hitungan jam.

Investor global kini semakin memperhatikan faktor geopolitik sebagai bagian penting dalam pengambilan keputusan investasi. Risiko perang dagang, konflik diplomatik, hingga kesepakatan internasional menjadi variabel utama yang memengaruhi pergerakan harga komoditas, mata uang, dan saham.

Prospek Harga Emas ke Depan

Ke depan, pergerakan harga emas diperkirakan akan tetap volatil. Di satu sisi, meredanya ketegangan antara AS dan Eropa dapat membatasi potensi kenaikan harga emas dalam jangka pendek. Namun di sisi lain, ketidakpastian global belum sepenuhnya hilang, termasuk terkait kebijakan moneter, inflasi, serta dinamika politik internasional lainnya.

Jika muncul kembali sentimen negatif atau ketegangan baru di panggung global, emas berpeluang kembali diminati sebagai aset lindung nilai. Sebaliknya, jika stabilitas ekonomi dan politik global terus membaik, harga emas bisa menghadapi tekanan lanjutan akibat berkurangnya minat investor.

Kesimpulan

Penurunan harga emas pada awal perdagangan ini mencerminkan perubahan cepat dalam sentimen pasar global setelah Presiden Donald Trump membatalkan rencana tarif terhadap Eropa dan mengumumkan kerangka kesepakatan terkait Greenland. Meredanya ketegangan geopolitik mendorong penguatan dolar AS dan mengurangi daya tarik emas sebagai aset aman.

Meski demikian, pasar masih akan terus mencermati perkembangan kebijakan dan hubungan internasional dalam beberapa waktu ke depan. Bagi investor, kondisi ini menjadi pengingat bahwa pasar logam mulia sangat dipengaruhi oleh faktor geopolitik dan makroekonomi, sehingga strategi investasi yang fleksibel dan waspada tetap menjadi kunci utama.


Jangan lupa jelajahi website kami di demo bestprofit dan temukan beragam informasi menarik yang siap menginspirasi dan memberikan pengetahuan baru! Ayo, kunjungi sekarang untuk pengalaman online yang menyenangkan!
bestprofit futures
 

Tuesday, 20 January 2026

Bestprofit | Ketakutan Pasar Dorong Emas Melonjak

 https://best-profit-futures-malang.com/wp-content/uploads/2026/01/compressed_Emas-Buka-2026-Dengan-Penguatan-Dolar-Melemah-2.jpg

Bestprofit (21/1) – Harga emas kembali mencetak rekor tertinggi sepanjang masa, sementara perak bertahan sangat dekat dengan puncak historisnya. Lonjakan harga logam mulia ini bukan sekadar refleksi permintaan musiman atau spekulasi jangka pendek, melainkan sinyal kuat meningkatnya kecemasan global. Dua faktor utama menjadi pemicu: eskalasi krisis geopolitik di Greenland dan guncangan serius di pasar obligasi pemerintah Jepang. Kombinasi keduanya mendorong investor global berbondong-bondong mencari aset aman (safe haven), dengan emas dan perak berada di garis depan.

Pada perdagangan terakhir, harga spot emas sempat menyentuh level fantastis di $4,781.19 per ons, sebuah rekor baru yang menegaskan betapa rapuhnya sentimen pasar saat ini. Perak pun ikut menguat, mencerminkan pola klasik ketika ketidakpastian global meningkat dan kepercayaan terhadap aset keuangan konvensional mulai goyah.

Krisis Greenland: Ketegangan Geopolitik yang Tak Bisa Diabaikan

Ketegangan geopolitik kembali mencuat dari kawasan yang selama ini jarang menjadi pusat perhatian pasar global: Greenland. Dalam pertemuan elit dunia di Davos, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menegaskan bahwa dirinya tidak menunjukkan tanda-tanda mundur dari niat mengambil alih pulau Arktik strategis tersebut. Pernyataan ini sontak memicu kegelisahan, bukan hanya di Eropa, tetapi juga di pasar keuangan global.

Situasi semakin memanas setelah Perdana Menteri Greenland meminta masyarakatnya untuk bersiap menghadapi kemungkinan terburuk, termasuk skenario invasi militer. Meski ia menekankan bahwa peluang tersebut relatif kecil, pasar tidak pernah menunggu kepastian penuh. Dalam dunia investasi, kemungkinan kecil dengan dampak besar sudah cukup untuk mengubah arah arus modal.

Greenland memiliki posisi strategis secara militer, ekonomi, dan geopolitik, terutama di tengah mencairnya es Arktik dan meningkatnya persaingan global atas sumber daya alam. Karena itu, wacana pengambilalihan wilayah ini bukan sekadar isu regional, melainkan potensi pemicu ketegangan global yang lebih luas.


Kunjungi juga : bestprofit futures

Ancaman Tarif AS dan Bayang-Bayang Perang Dagang Baru

Krisis Greenland tidak berdiri sendiri. Amerika Serikat juga melontarkan ancaman untuk mengenakan tarif terhadap delapan negara Eropa—termasuk Jerman, Prancis, dan Inggris—yang menolak rencana pengambilalihan tersebut. Langkah ini menghidupkan kembali trauma lama pasar: perang dagang.

Bagi investor, tarif bukan sekadar soal bea masuk. Tarif berarti gangguan rantai pasok, tekanan inflasi, dan perlambatan pertumbuhan ekonomi. Ketika risiko-risiko tersebut muncul kembali, aset berisiko seperti saham dan mata uang pasar berkembang cenderung ditinggalkan. Sebaliknya, emas dan logam mulia kembali bersinar sebagai penyimpan nilai yang dianggap netral secara politik.

Ancaman tarif ini juga memperburuk hubungan AS–Eropa yang sebenarnya sudah rapuh. Pasar membaca sinyal bahwa ketegangan ini bukan sekadar manuver politik jangka pendek, melainkan berpotensi menjadi konflik ekonomi yang berkepanjangan.

Davos: Perang Kata-Kata yang Mengguncang Kepercayaan

Forum Ekonomi Dunia di Davos tahun ini berubah menjadi panggung konfrontasi verbal. Presiden Prancis Emmanuel Macron secara terbuka mengkritik kebijakan dagang Amerika Serikat, menyerukan agar Eropa memperkuat kedaulatannya. Ia memperingatkan risiko “vassalization dan blood politics”, istilah keras yang mencerminkan kekhawatiran Eropa akan ketergantungan strategis dan tekanan politik dari kekuatan besar.

Sementara itu, Perdana Menteri Kanada Mark Carney bahkan melangkah lebih jauh dengan menyatakan bahwa tatanan internasional berbasis aturan “secara efektif sudah mati”. Pernyataan ini menggema luas di pasar, karena sistem global yang dapat diprediksi adalah fondasi utama stabilitas investasi lintas negara.

Ketika para pemimpin dunia sendiri meragukan kelangsungan sistem internasional, investor menangkap pesan yang jelas: risiko struktural meningkat, dan perlindungan nilai menjadi prioritas.

Guncangan Obligasi Jepang dan Ketakutan Fiskal Global

Selain geopolitik, pasar juga diguncang oleh apa yang disebut sebagai “meltdown” obligasi pemerintah Jepang. Lonjakan imbal hasil dan tekanan jual di pasar obligasi negara tersebut menyoroti kekhawatiran lama tentang keberlanjutan fiskal ekonomi besar dunia.

Jepang, dengan rasio utang terhadap PDB yang sangat tinggi, sering dianggap sebagai anomali yang “aman” karena didukung investor domestik dan bank sentral yang agresif. Namun, ketika kepercayaan mulai retak bahkan di pasar seperti Jepang, dampaknya bersifat global. Investor mulai mempertanyakan keamanan obligasi pemerintah di negara-negara lain.

Fenomena ini memicu apa yang disebut sebagai debasement trade—strategi di mana investor menjauhi mata uang fiat dan surat utang pemerintah, lalu mengalihkan dana ke aset riil seperti emas, perak, dan komoditas lainnya.

Emas sebagai Barometer Kepercayaan Global

Daniel Ghali, ahli strategi komoditas senior di TD Securities, menilai bahwa masalah di Jepang telah memicu “ketakutan debasement yang digerakkan pasar” di berbagai negara. Menurutnya, reli emas saat ini bukan semata-mata soal inflasi atau suku bunga, melainkan soal kepercayaan.

“Untuk saat ini, kepercayaan melengkung tapi belum patah. Namun jika sampai patah, momentum kenaikan emas bisa bertahan jauh lebih lama,” ujarnya. Pernyataan ini menyoroti fungsi emas sebagai barometer psikologis pasar global.

Pada pukul 07:59 waktu Singapura, harga spot emas tercatat naik 0,3% ke $4,775.40 per ons. Perak juga menguat 0,3% ke $94.8940. Sementara itu, Bloomberg Dollar Spot Index turun 0,1% setelah merosot 0,5% dalam dua sesi sebelumnya, menandakan melemahnya daya tarik dolar AS.

Logam Mulia di Tengah Dunia yang Rapuh

Platinum tercatat turun tipis, sementara palladium cenderung datar, menunjukkan bahwa fokus investor masih terkonsentrasi pada emas dan perak sebagai aset lindung nilai utama. Pola ini konsisten dengan fase ketidakpastian tinggi, di mana likuiditas dan kepercayaan menjadi faktor dominan.

Kenaikan tajam harga emas dan perak bukan hanya reaksi sesaat, melainkan refleksi dari dunia yang semakin rapuh—baik secara geopolitik maupun finansial. Ketika konflik wilayah, perang dagang, dan krisis fiskal saling bertemu, logam mulia kembali mengambil peran klasiknya sebagai pelabuhan aman terakhir.

Jika ketegangan global terus berlanjut dan kepercayaan terhadap sistem keuangan makin tergerus, reli emas saat ini bisa menjadi awal dari fase yang lebih panjang. Bagi investor, pesan pasar semakin jelas: di tengah dunia yang penuh ketidakpastian, nilai perlindungan sering kali lebih penting daripada potensi imbal hasil.


Jangan lupa jelajahi website kami di demo bestprofit dan temukan beragam informasi menarik yang siap menginspirasi dan memberikan pengetahuan baru! Ayo, kunjungi sekarang untuk pengalaman online yang menyenangkan!
bestprofit futures