Wednesday, 21 December 2016

Pasar Khawatir Minyak dan The Fed Bikin Harga Emas Stabil | Bestprofit

Bestprofit (22/12) – Harga minyak melemah dan kekhawatiran terhadap rencana bank sentral Amerika Serikat (AS) lebih cepat menaikkan suku bunga membuat harga emas stabil.
Harga emas untuk pengiriman Februari berada di level US$ 1.133,20 per troy ounce di divisi Comex, New York Mercantile Exchange. Sebelumnya harga emas sempat di level tertinggi US$ 1.138,80 per troy ounce di awal sesi perdagangan. Harga perak untuk pengiriman Maret turun 0,9 persen ke level US$ 15,97 per troy ounce.
Sementara itu, harga minyak turun 1,5 persen menjadi US$ 52,49 per barel. Harga minyak cenderung bervariasi. Investor juga fokus apa bila harga logam cenderung tertekan lantaran the Federal Reserve akan lebih agresif untuk memperketat kebijakan moneternya.
Harga logam cenderung turun pada pekan lalu ketika bank sentral AS menyatakan akan menaikkan suku bunga sebanyak tiga kali pada 2017. Hal ini lebih agresif dari yang diperkirakan pasar.
Imbal hasil emas cenderung berkompetisi seiring suku bunga meningkat. Harga emas sudah turun hampir 18 persen dari level tertingginya. Tekanan harga emas terjadi ketidakpastian usai pemilihan presiden AS. Pelaku pasar juga lebih optimistis terhadap pemerintahan baru akan mendorong kebijakan memangkas pajak dan meningkatkan fiskal.
“Emas kelihatan defensif. Harga emas mungkin bisa jadi jatuh di bawah US$ 1.100 per troy ounce dalam jangka pendek,” ujar James Steel, Strategist HSBC, seperti dikutip dari lamanWall Street Journal, Kamis (22/12/2016).
Sedangkan, permintaan fisik emas meningkat di tengah kenaikan dolar AS dan bunga meningkat. Ekspor emas ke Indonesia mencapai level tertinggi dalam 12 bulan. Bank sentral Rusia juga mengambil keuntungan dariharga emas rendah. Bank sentral Rusia impor 31 ton emas pada November.
Sumber : Liputan6
Lihat : Bestprofit

Tuesday, 20 December 2016

Harga Emas Tertekan Penguatan Dolar AS | PT Bestprofit

PT Bestprofit (21/12)  Harga emas turun pada penutupan perdagangan Selasa (Rabu pagi waktu Jakarta). Harga emas terbebani penguatan dolar Amerika Serikat (AS) dan juga kenaikan bursa saham.
Mengutip Wall Street Journal, Rabu (21/12/2016), harga emas untuk pengiriman Februari turun 0,8 persen ke angka US$ 1.133,60 per troy ounce di divisi Comex New York Mercantile Exchange. Selama dua hari sebelumnya harga emas terus mengalami penguatan.
Wall Street Journal Dollar Index, sebuah indeks yang mengukur nilai tukar dolar AS terhadap 16 mata uang lainnya, naik 0,2 persen di angka 93,34. Penguatan dolar AS ini memberikan tekanan kepada harga emas pelaku pasar yang bertransaksi dengan menggunakan mata uang lainnya harus mengeluarkan biaya lebih.
Bank Sentral AS atau The Federal Reserve (The Fed) telah menaikkan suku bunga jangka pendek pada pekan lalu sebesar 25 basis poin. Selain itu, the Fed juga memberikan sinyal bahwa suku bunga akan terus mengalami kenaikan pada 2017 nanti.
Kenaikan suku bunga ini memberikan tekanan kepada harga emas karena logam mulia tersebut menjadi insutrumen investasi yang tidak terlalu menarik lagi jika dibandingkan dengan obligasi.
Dalam pidatonya senin kemarin, Gubernur The Fed Janet Yellen memberikan apresiasi kepada pemerintah yang telah mampu memberbaiki angka tenaga kerja dengan mengurangi pengangguran. Pernyataan tersebut mendorong penguatan bursa saham.
“Pelaku pasar terus mendapat sinyal bahwa pertumbuhan ekonomi AS terus membaik atau bakal lebih kuat pada 2017 nanti. Dengan adanya sinyal tersebut maka besar kemungkinan suku bunga akan naik,” jelas Direktur Kitco Metals Peter Hug.
Pembunuhan duta besar Rusia di Turki dan serangan di sebuah pesta natal di Berlin pada Senin kemarin tidak memberikan dampak kepada harga emas. Permintaan akan aset-asetsafe haven normal sehingga harga emas tak melonjak.
“Emas telah melepas statusnya sebagai safe haven untuk saat ini. Ada beberapa sentimen geopolitik yang seharusnya bisa mendorong kenaikan harga emas, tetapi kenyataannya saat ini tidak begitu,” jelas Head of Precious Metals di Marex Spectron, David Govett. (Gdn/Ndw)
Sumber : Liputan6
Lihat : PT Bestprofit

Monday, 19 December 2016

Harga Emas Berkilau di Tengah Ketegangan Politik Dunia | Best Profit

BEST PROFIT (20/12) - Harga emas naik terpicu ketegangan geopolitik yang mengimbangi harapan jika Amerika Serikat (AS) akan menerapkan kebijakan moneter yang ketat dan menguatnya dolar.
Melansir laman Reuters, Selasa (201/2/2016), harga emas di pasar Spot naik 0,31 persen menjadi US$ 1,137.55 per ounce akibat dolar yang melemah di awal perdagangan.
Harga emas mencapai posisi terlemahnya sejak 2 Februari ke posisi US$ 1.122,35 per ounce, pada Kamis pekan lalu. Ini terjadi di bawah tekanan dolar setelah perkiraan tentang kebijakan suku bunga Federal Reserve.
Adapun harga emas berjangka AS yang diperdagangkan paling aktif untuk pengiriman Februari ditutup naik US$ 5,3, atau 0,47 persen menjadi US$ 1.142,70 per ounce.
"Kami sampai pada ketegangan geopolitik," kata Phillip Streible, Brokor Komoditas Senior RJO Futures di Chicago, mencatat aksi fatal penembakan duta besar Rusia di Turki mendorong harga emas yang dianggap sebagai investasi safe haven.
Meski begitu, harga emas tetap dibatasi ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed yang lebih tinggi di tahun depan. The Fed menaikkan suku bunga untuk pertama kalinya dalam satu tahun pekan lalu dan diproyeksikan meningkat kembali pada 2017.
Sementara Dolar menguat terhadap sekeranjang mata uang setelah Federal Reserve Ketua Janet Yellen mengatakan pasar tenaga kerja AS telah meningkat ke level terkuat dalam hampir satu dekade.
Emas sangat sensitif terhadap kenaikan suku bunga. "Suku bunga dan dolar yang tinggi akan membebani emas ke depan," kata analis ETF Securities Martin Arnold.
Di pasar komoditas lain, harga paladium turun 2,79 persen menjadi US$ 675,60 per ounce setelah jatuh ke lebih terendah lebih dari satu bulan di US$ 673,50. Sementara harga perak turun 1 persen di posisi US$ 15,92 per ounce. Platinum susut 1,31 persen menjadi US$ 914,5 per ounce. (Nrm/Ndw)
Sumber : Liputan6

Sunday, 18 December 2016

Harga Minyak Mentah Akhir Pekan Naik 2 Persen Tertinggi 17 Bulan; Mingguan Masih Naik 1 Persen | Bestprofit

BESTPROFIT (19/12) - Harga minyak mentah berakhir naik pada akhir perdagangan akhir pekan hari Sabtu dinihari (17/12), merayap mendekati level tertinggi baru 17-bulan setelah produsen menunjukkan tanda-tanda menjalankan kesepakatan global untuk mengurangi produksi.
Harga minyak mentah berjangka AS West Texas Intermediate (WTI) ditutup naik $ 1, atau 2 persen, di $ 51,90 per barel.
Harga minyak mentah berjangka Brent diperdagangkan pada $ 55,19 per barel hingga $ 1,17, atau 2,2 persen.
Produsen minyak termasuk Kuwait, Arab Saudi, dan Abu Dhabi, yang merupakan anggota dari Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC), telah memberitahu pelanggan bahwa mereka akan memotong pasokan dari Januari sebagai bagian dari upaya oleh OPEC dan produsen lain yang dipimpin oleh Rusia untuk menyeimbangkan pasar yang kelebihan pasokan.
Anggota OPEC telah sepakat untuk mengurangi produksi oleh gabungan 1,2 juta barel per hari (bph) dari 1 Januari, seperti kesepakatan pertama mereka sejak 2008. Rusia dan produsen non-OPEC berencana untuk memotong sekitar setengahnya .
Penawaran mereka, telah dicapai lebih dari dua minggu terakhir, telah meningkatkan ekspektasi di pasar bahwa kelebihan pasokan dua tahun akan menghapus segera dan harga tetap dekat tertinggi terakhir terlihat bulan Juli 2015.
Rusia mengatakan pada hari Jumat bahwa semua perusahaan minyak negara itu, termasuk produsen top Rosneft, telah sepakat untuk mengurangi produksi.
Prospek produksi yang lebih rendah membuat Bank AS Goldman Sachs menaikkan proyeksi harga WTI untuk $ 57,50 per barel dari US $ 55 per barel sebelumnya untuk kuartal kedua 2017.
Untuk Brent, Goldman memperkirakan harga antara $ 55 dan $ 60 per barel setelah paruh pertama 2017.
Meskipun mungkin harga dasar, Goldman mengatakan ada juga ruang terbatas untuk pasar terbalik sebelum pemotongan 2017, dan bahwa prediksi harga Desember WTI adalah $ 50 per barel.
Namun ada beberapa keraguan yang sedang berlangsung tentang kesediaan anggota OPEC lainnya untuk mematuhi.
Irak, produsen terbesar kedua kelompok setelah Arab Saudi, telah menandatangani kesepakatan baru yang akan meningkatkan penjualan kepada pelanggan Asia seperti Tiongkok dan India meskipun komitmennya untuk mengurangi produksi dengan 210.000 barel per hari.
Libya, yang memungkinkan untuk meningkatkan produksi sebagai bagian dari kesepakatan OPEC, dekat dengan peningkatan produksi tertekan oleh kerusuhan setelah sekelompok penjaga minyak mengatakan mereka telah membuka kembali blokade pipa panjang yang menghubungkan beberapa ladang minyak terbesar negara itu.
Libya National Oil Corp mengatakan pihaknya berharap untuk meningkatkan produksi menjadi 900.000 barel per hari dalam waktu dekat, dan menjadi 1,1 juta barel per hari tahun depan.
Baker Hughes melaporkan jumlah mingguan dari kilang minyak AS dalam operasi naik 12 menjadi 510 pada minggu terakhir. Itu adalah level tertinggi sejak akhir Januari, ketika pengebor juga memiliki 510 kilang minyak dalam operasi.
Secara mingguan harga minyak mentah masih positif sekitar 1 persen, setelah harga minyak mentah sempat melonjak 6,5 persen pada perdagangan Senin (12/12) untuk mencapai 18 bulan tertinggi setelah OPEC dan beberapa negara non OPEC mencapai kesepakatan pertama mereka sejak tahun 2001 untuk bersama-sama mengurangi produksi untuk mencoba mengatasi kelebihan pasokan global.
Namun kenaikan dikurangi minggu ini setelah harga minyak mentah anjlok hampir 4 persen pada perdagangan Kamis dinihari (15/12) di tengah kekhawatiran baru tentang kelebihan persediaan minyak mentah dan keputusan The Fed menaikkan suku bunga AS yang memicu lonjakan dollar AS.
Sumber : Vibiznews

Lihat Bestprofit

Thursday, 15 December 2016

Unik, Wanita Ini Kerja Jadi Penjaga Kacamata Patung John Lennon | PT Bestprofit

PT Bestprofit (16/12) - Setiap orang pasti ingin berkarier dan memiliki pekerjaan bergengsi. Namun nampaknya hal berbeda justru dilakukan oleh seorang wanita asal Kuba.
Wanita bernama Aleeda Rodriguez Pedrasa tersebut bekerja sebagai penjaga kacamata patung John Lennon. Melansir CNN, Jumat (16/12/2016), Aleeda telah melakukan pekerjaan ini selama dua tahun lamanya.
Sebuah Patung John Lennon dibangun pemerintah Kuba di tahun 2000. Patung ini dibangun untuk merayakan 20 tahun kematian John Lennon. Sejak dibuat, patung tersebut juga telah menjadi pusat perhatian turis yang berkunjung. Tidak sedikit turis yang ingin berfoto bersama patung John Lennon yang terletak di Havana park tersebut.
Namun sayangnya, beberapa turis tak hanya sekadar berfoto tapi juga mencuri kacamata di patung John Lennon. Kacamata memang bukan dibuat dari semen atau perunggu tapi asli agar menyerupai gaya ikonik sang musisi. Sayangnya tangan-tangan nakal turis tidak bisa dicegah sehingga kacamata seringkali hilang.
Pada awalnya pemerintah mengganti kacamata yang dicuri dengan yang baru tapi tidak bertahan lama. Melihat kacamata tersebut terus hilang, Aleeda datang untuk menggantikannya. Dimulai dari dua tahun lalu, Aleeda mengganti kacamata di patung dengan miliknya sendiri.
Tak lama kacamata yang sudah diganti kembali hilang dan terus berulang tapi Aleeda tidak juga kapok. Ia akan terus menggantinya dengan kacamata bulat miliknya lagi agar gaya John Lennon seperti sedia kala. Sejak saat itu ia dikenal sebagai penjaga kacamata Lennon.
Aleeda mengaku bahwa ia mendapat gaji sebanyak 245 peso Kuba atau Rp 3,3 juta per bulan. Uang yang diterima Aleeda bahkan lebih banyak dibanding gaji dari pekerjaan lain di Kuba.
Sumber : Liputan6

Wednesday, 14 December 2016

Apple Minta Konsumen Setop Pakai Baterai dan Charger Palsu | Best Profit

Best Profit (15/12) - Apple mulai mengingatkan konsumen untuk berhenti menggunakan aksesori, baterai, dan charger palsu di semua produknya. Mengutip informasi laman BGR, Kamis (15/12/2016), perusahaan bermarkas di Cupertino, California, Amerika Serikat itu baru-baru ini memberikan peringatan kepada konsumennya.
Pembesut perangkat iPhone itu meminta konsumen tak lagi memakai baterai dan charger palsu. Sebelumnya, Amazon telah mengumumkan daftar charger yang sering dipalsukan dan charger Apple paling banyak dipalsukan.
Apple, dalam laman dukungannya, menyampaikan peringatan cukup keras. "Hati-hati dengan aksesori dan charger palsu," tulis Apple.
Sementara penjelasan di bagian bawahnya tertulis bahwa sebagian dari baterai dan charger palsu yang berasal dari pihak ketiga kemungkinan besar tidak dirancang dengan baik. "Hal ini bisa menimbulkan risiko keamanan," tulis Apple.
Tak hanya itu, Apple juga menyarankan konsumennya untuk membeli aksesori, charger, dan baterai resmi di Apple Store maupun Apple Authorized Service Provider.
"Jika perangkat Apple Anda membutuhkan penggantian adapter serta charger, kami sarankan membeli adapter resmi Apple," demikian tulis Apple mengingatkan konsumen.
Sebelumnya di Tiongkok sejumlah pemilik iPhone 6 dan 6S melaporkan baterai di perangkatnya meledak. Namun Apple menolak disalahkan dan menyebut hal itu disebabkan oleh faktor eksternal, kemungkinan salah satunya adalah penggunaan charger palsu.
Selain itu, sebuah uji coba yang dilakukan perusahaan independen UL Laboratory mengungkapkan hampir semua charger palsu atau abal-abal dari toko online gagal saat diuji.
"Secara keseluruhan, kami menguji 400 adapter dan hasilnya mengejutkan. Kegagalan pengujian mencapai 99 persen," demikian bunyi laporannya.
Adapun potensi dari penggunaan aksesori, charger, dan baterai palsu adalah bisa membuat rumah mati lampu, membakar ponsel, hingga yang paling ekstrem menyebabkan kebakaran rumah.
Sumber : Liputan6

Lihat : Best Profit

Tuesday, 13 December 2016

Indeks Dow Melonjak Ke Level 20.000, Emas Turun Jelang The Fed | Bestprofit

Bestprofit (14/12) -  Saham global menguat, mengirim Indeks Dow Jones Industrial Average melonjak ke level 20.000 ditengah spekulasi bahwa harapan kenaikan suku bunga oleh Federal Reserve merupakan sinyal dari keyakinan terhadap perekonomian terbesar di dunia adalah membaik. Sementara dolar dan obligasi sedikit berubah.
Intel Corp dan Apple Inc memimpin kenaikan di indeks blue-chip mengirim penutupan hari ketujuh menyentuh rekornya dan naik 43 poin dari level terendahnya. Indeks itu telah melonjak 8,6 persen sejak pemilihan 8 November lalu dan sekarang diperdagangkan hampir 7 persen lebih tinggi dari harga rata-rata selama 50 hari terakhir. Indeks relatif-kekuatannya (RSI) naik menuju level tertinggi dalam dua dekade terakhir, memberikan sinyal kepercayaan terhadap analis teknis.
Saham Eropa mencapai level 11 bulan tertinggi seiring saham pemberi pinjaman terbesar di Italia menyusun rencana untuk meningkatkan modal. Treasuries stabil dengan imbal obligasi dengan tenor 10 tahun di bawah 2,50 persen untuk hari kedua, sementara dolar sedikit berubah terhadap mata uang utama karena The Fed memulai pertemuan kebijakan selama dua hari. Minyak menetap pada level tertinggi dalam 17 bulan terakhir.
Spekulasi bahwa pelonggaran fiskal di AS akan mendorong pertumbuhan memicu para investor kembali ke saham karena pemerintah mendorong dari bank sentral yang mulai kembali skala dalam satu dekade stimulus. Dengan pasar menetapkan 100 persen peluang untuk kenaikan suku bunga The Fed hari Rabu, investor berfokus pada jalur untuk tahun 2017, dan melihat dua hingga tiga kali kesempatan pada pengetatan tambahan di bulan Juni.
Indeks S & P 500 naik 0,7 persen ke semua waktu tertinggi di level 2,271.63 pada pukul 16:00 sore waktu New York, sementara Indeks Dow menguat 112,11 poin ke level 19,908.54. Indeks Nasdaq 100 meningkat ke rekor pertama sejak Oktober, sedangkan saham berskala kecil rebound dari penurunan 1 persen hari Senin. (knc)
Sumber : Bloomberg

Lihat Bestprofit

Monday, 12 December 2016

Bursa Wall Street Berakhir Mixed; Dow Jones Kembali Bukukan Rekor Tertinggi | PT BESTPROFIT

PT BESTPROFIT 13/12 - Bursa Saham AS ditutup mixed pada akhir perdagangan Selasa dinihari (13/12), mengabaikan lonjakan harga minyak mentah dan imbal hasil Treasury melonjak menjelang pertemuan Federal Reserve.
Indeks Dow Jones Industrial Average menguat sekitar 40 poin, ditutup pada rekor tinggi baru, dengan saham Johnson & Johnson memberikan kontribusi paling besar dalam keuntungan.
Indeks S & P 500 turun 0,1 persen, setelah sempat mencapai semua waktu tinggi, dengan penurunan 0,9 persen dalam keuangan mengimbangi keuntungan dalam telekomunikasi.
Indeks komposit Nasdaq jatuh 0,6 persen.
Imbal hasil 10 tahun naik menjadi 2,477 persen, setelah mencapai level tertinggi sejak 2014. Imbal hasil dua tahun maju ke 1,145 persen
Komite kebijakan The Fed akan memulai pertemuan dua hari pada Selasa, di mana bank sentral AS sebagian besar diperkirakan akan menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin. Menurut alat FedWatch CME Group, ekspektasi pasar untuk kenaikan suku bunga pekan ini berada di atas 95 persen.
Saham telah meningkat tajam sejak kemenangan mengejutkan Presiden terpilih AS Donald Trump atas Demokrat Hillary Clinton, sebagai optimisme sekitar prospek pemotongan pajak dan belanja fiskal telah membanjiri pasar. Sejak 8 November, indeks utama telah meningkat setidaknya 4,5 persen, dengan indeks saham kapital kecil Russell 2000 melonjak lebih dari 15 persen. Sedangkan Dow Jones telah membukukan 15 rekor penutupan sejak itu dan keuntungan di 21 dari 25 sesi terakhir.
Investor juga terus mengawasi harga minyak, dengan minyak West Texas Intermediate untuk pengiriman Januari naik 2,58 persen menjadi menetap di $ 52,83 per barel, penutupan terbaik mereka sejak 2015.
Setelah hampir satu tahun perdebatan, Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak setuju pada 30 November untuk memangkas produksi sebesar 1,2 juta barel per hari selama enam bulan dari 1 Januari, dengan eksportir atas Arab Saudi memotong sekitar 486.000 barel per hari untuk mengekang kelebihan pasokan yang telah mantap pasar selama dua tahun.
Pada hari Sabtu, produsen dari luar OPEC, yang dipimpin oleh Rusia, sepakat untuk mengurangi output dengan 558.000 barel per hari, dari target 600.000 barel per hari tetapi masih memberikan kontribusi terbesar yang pernah diberikan oleh non-OPEC.
Dalam mata uang, dolar AS turun 0,59 persen terhadap sekeranjang mata uang, dengan euro dekat $ 1,063 dan yen sekitar 115.
Dalam berita perusahaan, saham Lockheed Martin turun lebih dari 2 persen setelah Trump mengatakan dalam tweet program F-35 itu terlalu mahal. Sementara itu, rencana merger antara CBS dan Viacom ditarik oleh Shari Redstone, wakil ketua dewan untuk kedua perusahaan.
Indeks Dow Jones Industrial Average naik 39,58 poin, atau 0,2 persen, menjadi ditutup pada 19,796.43, dengan kenaikan tertinggi saham Johnson & Johnson dan saham Goldman Sachs yang alami penurunan terbesar.
Indeks S & P 500 turun 2,57 poin, atau 0,11 persen, menjadi berakhir pada 2,256.96, dengan sektor keuangan memimpin lima sektor yang lebih rendah dan sektor telekomunikasi yang naik tertinggi.
Indeks Nasdaq turun 31,96 poin, atau 0,59 persen, menjadi ditutup pada 5,412.54.
Sumber : Vibiznews

Sunday, 11 December 2016

Harga Emas Akhir Pekan Merosot 1 Persen Tertekan Kekuatan Dollar AS; Mingguan Negatif 0,6 Persen | Best Profit

BEST PROFIT (12/12) - Harga Emas beringsut lebih rendah pada akhir perdagangan hari Sabtu dinihari (10/12) dan menuju penurunan mingguan kelima berturut-turut, terbebani oleh kekuatan dolar AS dan ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve minggu depan lebih kuat.
Harga emas spot LLG telah turun 1,02 persen menjadi $ 1,158.66 per ons. Herga emas telah turun sekitar 0,6 persen untuk minggu ini, sebagian besar terganjal penguatan dollar AS setelah keputusan ECB dan ekspektasi kenaikan suku bunga AS minggu mendatang.
Harga minyak mentah berjangka AS menetap untuk pengiriman Februari berakhir di $ 1,161.90 per ons.
Dolar AS terus menguat dengan melemahnya Euro setelah keputusan ECB yang melanjutkan pembelian obligasi namun dalam jumlah yang lebih kecil. Menguatnya ekspektasi kenaikan suku bunga AS minggu depan ini juga menguatkan dollar AS.
The Fed diperkirakan akan menaikkan suku pada pertemuan kebijakan Selasa dan Rabu depan.
Pedagang suku bunga berjangka tersirat melihat kesempatan 98 persen Fed akan menaikkan suku bunga seperempat poin minggu depan, dan sekitar 50 persen kemungkinan akan menaikkan suku setidaknya seperempat poin lagi pada bulan Juni 2017, sesuai dengan program FedWatch CME Group.
Jumlah orang Amerika yang mengajukan tunjangan pengangguran jatuh dari lima bulan pekan lalu, menunjuk kekuatan tenaga kerja yang menggarisbawahi momentum berkelanjutan ekonomi dan memperkuat kesempatan untuk kenaikan tarif Federal Reserve.
Kepemilikan SPDR Gold Trust, emas terbesar di dunia yang didukung exchange-traded fund, turun 0,34 persen menjadi 860,71 ton pada hari Kamis. Kepemilikan SPDR telah jatuh hampir 9 persen sejak November dan berada di jalur untuk minggu kelima berturut-turut dari kerugian.
Di tempat lain, perak turun 0,2 persen pada $ 16,97 per ons dan platinum turun setengah persen ke $ 934,20.
Palladium stabil di $ 736 per ounce, setelah mencapai terendah sejak 18 November di sesi sebelumnya.
Sumber : Vibiznews

Thursday, 8 December 2016

Alphabet Kalah Populer dari Google | BESTPROFIT

BESTPROFIT (9/12) - Sudah lebih dari setahun berdiri, Alphabet sebagai induk usaha Google, nyatanya masih kurang populer. Padahal konglomerat multinasional ini sama-sama didirikan oleh dua pendiri Google, Larry Page dan Sergey Brin.
Alphabet adalah induk usaha Google dan sejumlah bisnis lainnya seperti YouTube, Android, serta fasilitas pengembangan dan riset semi rahasia, X. Meski menaungi serentetan produk ternama, nama Alphabet kalah populer, setidaknya jika dibandingkan dengan Google sendiri.
Seperti dilansir Business Insider, Jumat (9/12/2016), ketimpangan antara keduanya dapat dilihat pada data Google Trends. Jumlah pencarian "Google" diketahui lebih tinggi dibandingkan "Alphabet".
Alphabet Inc didirikan oleh Page dan Brin pada 2 Oktober 2015. Lalu Page menjabat sebagai Chief Executive Officer (CEO), sedangkan Brin sebagai President Alphabet.
Portofolio Alphabet sendiri mencakup beberapa industri termasuk teknologi, life science, penanaman modal dan penelitian. Beberapa anak usahanya adalah Google, Calico, GV, CapitalG, Verily, X dan Google Fiber.
Sejumlah anak usaha Alphabet memiliki nama baru setelah tak lagi berada di bawah naungan Google, seperti Google Ventures menjadi GV, Google Life Secience menjadi Verily dan Google X menjadi X.
Setelah proses restrukturisasi Page menjadi CEO Alphabet, Sundar Pichai menggantikan posisinya sebagai CEO Google. Kemudian saham Google dikonversi menjadi saham Alphabet, yang diperdagangkan dengan "bekas" simbol Google, "GOOG" dan "GOOGL".
Sumber : Liputan6

Lihat Bestprofit

Wednesday, 7 December 2016

Harga Emas Menanjak Menjelang Pertemuan Bank Sentral Eropa | PT BESTPROFIT

PT BESTPROFIT (8/12) - Harga Emas memperpanjang kenaikan pada akhir perdagangan Kamis dinihari (08/12), rebound dari terendah 10 bulan minggu ini karena dolar AS melemah terhadap euro menjelang pertemuan Bank Sentral Eropa.
Harga emas spot LLG naik 0,44 persen pada $ 1,173.99 per ons. Emas tinggal di dekat posisi terendah 10-bulan pada Senin, setelah mengakhiri sesi sebelumnya hampir datar.
Harga emas berjangka AS untuk pengiriman Februari berakhir di $ 1,177.50 per ons.
Pada bulan November, logam mulia ini membukukan penurunan bulanan terbesar dalam lebih dari tiga tahun. Penurunan beruntun berlanjut ke Desember karena kekhawatiran kenaikan suku bunga AS, minat meningkat untuk risiko dan dolar yang lebih kuat semua menekan harga pada saat memudarnya permintaan dari konsumen atas, Tiongkok dan India.
Bank Sentral Eropa diperkirakan akan memperpanjang program pelonggaran kuantitatif ketika bertemu pada hari Kamis, tapi pertanyaan tetap mengenai apakah ia akan kembali pada skala pembelian aset bulanan dan mengirim sinyal resmi di ujung akhir dari program itu.
The Fed diperkirakan akan menaikkan suku bunga pada pertemuan minggu depan, sebuah langkah yang dilihat sebagai negatif untuk emas, karena suku bunga AS lebih tinggi mengangkat biaya kesempatan memegang emas, dan meningkatkan dolar AS.
Di antara logam mulia lainnya, perak naik 2,6 persen pada $ 17,14 per ons, setelah naik ke $ 17,24, tertinggi sejak 14 November.
Paladium turun 0,7 persen pada $ 731,50, sementara platinum adalah 0,7 persen lebih tinggi pada $ 940,80.
Sumber : Vibiznews

Tuesday, 6 December 2016

Harga Emas Terus Tertekan | Best Profit

BEST PROFIT (7/12) - Harga emas kembali tertekan pada penutupan perdagangan Selasa (Rabu pagi waktu Jakarta). Penurunan harga emas ini masih karena penguatan dolar Amerika Serikat (AS) dan harapan kenaikan suku bunga Bank Sentral AS atau The Federal Reserve (the Fed).
Mengutip Wall Street Journal, Rabu (7/12/2016), harga emas untuk pengiriman Februari ditutup turun 0,5 persen ke angka US$ 1.170,10 per troy ounce di divisi Comex New York Mercantile Exchange. Harga pada penutupan Selasa tersebut telah turun sekitar 12 persen dari harga tertinggi yang dibukukan pada November lalu.
The Wall Street Dollar Journal Index, sebuah indeks yang mengukur nilai tukar dolar AS terhadap beberapa mata uang utama dunia, baru-baru ini naik 0,2 persen ke 91,17. Penguatan dolar AS cederung membebani harga emas dan logam mulia tersebut menjadi lebih mahal bagi pembeli yang menggunakan mata uang di luar dolar AS.
Selain itu, harga emas juga terpukul karena penguatan ekonomi AS menjadi pendorong bagi the Fed untuk menaikkan suku bunga pada akhir tahun ini.
Berdasarkan survei yang dilakukan oleh CME, 94 persen investor yakin bahwa the Fed akan kenaikkan suku bunga pada pertemuan terakhir pada tahun ini yang berlangsung pada pertengahan Desember. Investor juga yakin bahwa the Fed akan kenaikan menaikkan suku bunga pada Mei nanti.
"Emas telah bergerak dengan sangat baik sampai enam bulan terakhir. Tapi sekarang imbal hasil obligasi yang lebih tinggi dan tingkat bunga riil menjadi lebih positif, maka emas terlihat kurang menarik," kata analis ICBC Standard Bank Tom Kendall.
"Masih ada banyak ketidakpastian saat ini. Namun, kami mempertahankan bahwa harga emas akan diperdagangkan lebih rendah pada tahun 2017 dibandingkan tahun 2016," menurut Citi Research dalam laporan Outlook 2017. (Gdn/Ndw)
Sumber : Liputan6

Monday, 5 December 2016

Keraguan Kesepakatan OPEC Angkat Harga Minyak | Bestprofit

BESTPROFIT (6/12) - Harga minyak mentah diperdagangkan naik pasca kesepakatan negara-negara anggota pengekspor minyak (OPEC) untuk memangkas produksinya.
Namun, pasar kemudian kehilangan kepercayaan jika pemotongan produksi OPEC akan cukup untuk mengurangi kelebihan pasokan mengingat terjadinya peningkatan pengeboran di Amerika Serikat (AS).
Alhasil, melansir laman Reuters, Selasa (6/12/2016), harga minyak mentah AS West Texas Intermediate sempat naik 11 sen atau 0,21 persen ke posisi US$ 51,79 per barel, sebelum turun ke level U$ 51,11 per barel.
Sementara harga minyak mentah Brent menetap di US$ 54,94 per barel, naik 48 sen atau 0,88 persen sebelum kembali ke US$ 54,22 per barel.
Kondisi harga minyak di awal pekan ini, menjadi pertanda jika reli berpotensi terhenti meski tetap naik, di mana harga naik 19 persen sejak keputusan OPEC pada Rabu pekan lalu sedikit terpukul.
Adanya kenaikan pasokan sebesar 12,2 persen minggu lalu adalah peningkatan satu minggu terbesar sejak Februari 2011.
Investor kini mengalihkan fokus mereka pada adanya kenaikan pengeboran, kata Tariq Zahir dari Tyche Capital Advisors di New York.
"Spread antara Brent-WTI spread telah pecah, dan banyak yang harus dilakukan tidak hanya dengan shale tetapi dengan gagasan bahwa akan ada lebih banyak pengeboran," kata Zahir.
Terlihat, rig pengeboran di AS meningkat pada Jumat. Peningkatan ini mendorong sentimen bahwa shale pengeboran akan mengimbangi pemotongan potensial dari produsen lain.
Usai OPEC setuju untuk mengekang produksi sebesar 1,2 juta barel per hari (bph) sejak Januari, semua mata kini beralih ke rencana pertemuan antara OPEC dan produsen non-OPEC untuk memperluas kesepakatan di akhir pekan ini.
Arab Saudi mengatakan bahwa mereka akan memotong harga jual resminya ke Asia, menunjukkan bahwa hal itu sebagai upaya untuk mempertahankan pangsa pasar.
Sementara produsen non-OPEC diperkirakan akan setuju untuk menambah output potongan 600 ribu bph pada pertemuan di Wina pada 10 Desember.
Transneft, perusahaan Rusia, disarankan untuk memulai pengurangan produksi minyaknya pada Maret.
Sumber : Liputan6

Lihat Bestprofit

Sunday, 4 December 2016

Bursa Wall Street Akhir Pekan Mixed; Dow Mingguan Positif, Nasdaq Anjlok | PT BESTPROFIT

PT BESTPROFIT (5/12) - Bursa Saham AS ditutup sebagian besar datar pada akhir perdagangan akhir pekan hari Sabtu dinihari (03/12), dengan sektor keuangan jatuh sekitar 1 persen, karena investor mencermati referendum konstitusi di Italia juga mencerna laporan pekerjaan yang lebih kuat dari perkiraan.
Indeks Dow Jones Industrial Average turun sekitar 20 poin dalam perdagangan berombak, dengan saham Caterpillar dan Goldman Sachs memberikan kontribusi paling besar dalam kerugian.
Indeks S & P 500 berakhir sekitar garis datar, dengan penurunan tertinggi sektor keuangan.
Indeks komposit Nasdaq juga ditutup sekitar impas.
Referendum Italia dijadwalkan untuk hari Minggu. Perdana Menteri Italia Matteo Renzi ingin mengubah konstitusi sehingga eksekutif membutuhkan persetujuan hanya dari majelis rendah parlemen untuk mengesahkan undang-undang. Renzi berpikir perubahan ini sangat penting untuk membalikkan ekonomi loyo Italia dan bahwa ia telah berjanji untuk mengundurkan diri jika diakalahkan dalam referendum.
Mata uang bersama Eropa diperdagangkan flat terhadap dolar, dekat $ 1,066. Dollar AS, sementara itu diperdagangkan sekitar 0,3 persen lebih rendah terhadap sekeranjang mata uang, dekat 100,7.
Dalam berita ekonomi, ekonomi AS menambahkan 178.000 pekerjaan bulan lalu, Departemen Tenaga Kerja mengatakan, dengan tingkat pengangguran jatuh ke 4,6 persen. Ekonom yang disurvei oleh Reuters memperkirakan kenaikan sebesar 175.000 dengan tingkat pengangguran bertahan stabil pada 4,9 persen. Upah, namun, merosot ke 2,5 persen.
Sebagian besar pelaku pasar memeprkirakan Federal Reserve untuk menaikkan suku bunga pada 14 Desember Menurut alat FedWatch CME Group, ekspektasi pasar untuk kenaikan suku bunga Desember berada di atas 90 persen.
Treasury AS diperdagangkan sedikit lebih tinggi pada hari Jumat, dengan yield benchmark 10-tahun sekitar 2,39 persen dan yield dua tahun dekat 1,12 persen.
Di pasar minyak, minyak mentah AS untuk pengiriman Januari naik 1,2 persen menjadi berakhir di $ 51,68 per barel setelah Gedung Putih mengatakan Presiden Obama diperkirakan akan menandatangani undang-undang yang akan memperluas sanksi terhadap Iran selama 10 tahun. Di tempat lain, data yang Baker Hughes menunjukkan AS pengebor menambahkan tiga rig lebih minggu ini.
Indeks Dow Jones Industrial Average ditutup 21,51 poin lebih rendah, atau 0,11 persen, di 19,170.42, dengan penurunan tertinggi saham Goldman Sachs dan saham Intel yang naik tertinggi. Secara mingguan indeks naik 0,10 persen.
Indeks S & P 500 naik tipis 0,87 poin, atau 0,04 persen, menjadi ditutup pada 2,191.95, dengan sektor keuangan memimpin empat sektor yang lebih rendah dan real estate riser terbesar. Secara mingguan indeks merosot -0,97 persen.
Indeks komposit Nasdaq naik 4,55 poin, atau 0,09 persen, menjadi berakhir pada 5,255.65. Secara mingguan indeks anjlok -2,65 persen.
Malam nanti akan dirilis data ISM Non Manufacturing November yang diindikasikan meningkat.
Sumber : Vibiznews

Thursday, 1 December 2016

Hari AIDS Sedunia Kali Ini Harapan Meningkat | BESTPROFIT

BESTPROFIT (2/12) - Sebuah uji coba vaksin besar-besaran sedang berlangsung di Afrika Selatan. Uji coba itu akan berlangsung selama empat tahun.
Selama hampir 30 tahun, tiap tanggal 1 Desember, kita mendengar tentang tragedi penyakit AIDS. Aktivis di seluruh dunia menyoroti virus AIDS dan mendorong pemeriksaan, membagikan brosur dengan informasi tentang HIV, virus yang menyebabkan AIDS, bagaimana penyebarannya, dan bagaimana menjaga agar tidak terjangkit penyakit itu. Gedung Sekretariat PBB di New York ditandai dengan pita AIDS merah.
AIDS telah membunuh 35 juta orang sejak awal menyebarnya wabah itu. Ini mengakibatkan jutaan anak menjadi yatim. Setiap tahun dua juta orang terkena virus itu, dan PBB memperkirakan lebih dari satu juta orang meninggal akibat virus tersebut setiap tahun.
Tetapi, banyak yang telah terjadi sejak Hari AIDS Sedunia pertama diperingati tahun 1988.
Negara-negara di mana topik itu dulunya tabu sekarang menawarkan pemeriksaan dan pengobatan. Ibu-ibu yang hidup dengan HIV kini dapat mempunyai bayi yang sehat dan hidup untuk membesarkan mereka. Obat dapat mencegah penyebaran virus itu.
Lebih dari 18 juta orang menggunakan obat anti-retroviral yang menyelamatkan nyawa dan mencegah memburuknya penyakit terkait AIDS . Dan sekarang, para ilmuwan berbicara tentang vaksin dan obat untuk mencegah penyakit itu.
Sebuah uji coba vaksin besar-besaran sedang berlangsung di Afrika Selatan. Penelitian ini melibatkan lebih dari 5.400 laki-laki dan perempuan yang aktif secara seksual, usia 18 sampai 35 di Afrika Selatan, sebuah negara di mana lebih dari 1.000 orang per hari terinfeksi HIV. Uji coba itu akan berlangsung selama empat tahun.
Penelitian ini didanai oleh Lembaga Nasional Alergi dan Penyakit Menular pemerintah Amerika, yang dipimpin oleh Dr. Anthony Fauci selama 32 tahun ini.
Source: VOA News

Lihat BESTPROFIT

Wednesday, 30 November 2016

Harga Emas Merosot 1 Persen Tertekan Kekuatan Dollar AS; Bulan November Anjlok 8 Persen | Best Profit

BEST PROFIT (1/12) - Harga Emas tergelincir pada akhir perdagangan hari Kamis dinihari (01/12), menambah kerugian terdalam bulanan di lebih dari tiga tahun tergerus kuatnya data ekonomi AS yang mendukung dolar dan menguatnya ekspektasi kenaikan suku bunga AS pada bulan Desember.
Pengusaha swasta AS mempekerjakan pada bulan November lebih dari yang dipekirakan dan belanja konsumen meningkat bulan lalu, memberi lebih banyak amunisi untuk Federal Reserve untuk kenaikan suku bunga.
Meningkatnya data Adp Employment Change November membantu dolar AS naik setengah persen terhadap sekeranjang mata uang utama setelah pekan lalu menyentuh level tertinggi selama hampir 14 tahun.
Harga emas spot LLG turun 1,1 persen menjadi $ 1,174.96 per ons, sedangkan harga emas berjangka AS untuk pengiriman Desember berakhir di $ 1,170.80.
Emas telah anjlok hampir 8 persen pada November, penurunan bulanan terbesar sejak Juni 2013, tertekan oleh rally dalam dolar AS pada melonjaknya imbal hasil Treasury karena investor percaya kebijakan Presiden terpilih Donald Trump akan meningkatkan inflasi lebih cepat.
Dalam logam lainnya, Perak turun 0,7 persen menjadi $ 16,48 per ons, sementara platinum merosot 0,8 persen menjadi $ 910.
Palladium naik ke intraday tinggi $ 772,70 per ons, terkuat sejak Juni 2015, menahan keuntungan untuk $ 770,25, naik 1,3 persen. Paladium telah meningkat lebih dari 23 persen bulan ini, yang terbaik sejak Februari 2008, mengalahkan logam lainnya.
Sumber : Vibiznews

Tuesday, 29 November 2016

Powell: Kasus untuk kenaikan suku bunga menguat dalam beberapa minggu terakhir | Bestprofit

BESTPROFIT (30/11) - Pasar tenaga kerja menunjukkan ekonomi berada "pada pijakan yang kokoh," sementara inflasi mendekati target 2% bank sentral, menunjukkan bahwa bank sentral AS dapat menarik pelatuk untuk melakukan kenaikan suku bunga pertama tahun ini, kata Gubernur Federal Reserve Jerome Powell pada hari Selasa.
"Dalam pandangan saya, kasus untuk peningkatan suku bunga dana federal telah jelas menguat sejak pertemuan kami sebelumnya awal bulan ini," kata Powell dalam pidato yang dipersiapkan untuk dikirimkan ke The Economic Club of Indiana di Indianapolis.
Powell mengatakan ekonomi telah "jelas menguat" sejak " soft patch " yang terlihat pada semester pertama tahun ini.
The Fed mendorong suku bunga lebih tinggi akhir tahun lalu, namun tetap berdiam diri untuk melakukan pergerkan lainnya terhadap suku bunga tahun ini mengingat gejolak pasar dan lemahnya paruh pertama dari perekonomian SA.
Namun, ekonomi telah menunjukkan semangat baru sejak musim panas. pertumbuhan produk domestik bruto AS menyentuh angka 3,2% pada kuartal ketiga, yang merupakan laju tercepat dalam lebih dari dua tahun.
Powell mengatakan jalur untuk suku bunga di masa mendatang akan tergantung pada perekonomian. The Fed telah mampu bersabar tentang menaikkan suku bunga, kata dia, tetapi ada kekhawatiran bahwa pergerakan yang terlalu lambat mungkin memaksa The Fed untuk mengetatkan kebijakan secara "tiba-tiba" di kemudian hari.
Komentar Powell sesuai dengan speaker Fed lainnya dalam beberapa hari terakhir.
Dalam testimoni kepada Kongres pada pertengahan November, Ketua Fed Janet Yellen mengatakan Fed mungkin menaikkan suku bunga "secara relatif dengan segera".
Sebagai hasil dari pernyataan Yellen, pasar sekarang melihat probabilitas hampir 100% dari kenaikan suku bunga sebesar seperempat poin persentase pada pertemuan Fed berikutnya pada 13-14 Desember nanti, menurut CME Group FedWatch Tool. (sdm)
Sumber: MarketWatch

Lihat Bestprofit

Monday, 28 November 2016

Pelemahan Dolar Bikin Harga Emas Naik | PT BESTPROFIT

PT BESTPROFIT (29/11) - Harga emas naik setelah mengalami pelemahan selama tiga minggu, terpicu melemahnya dolar AS dari posisi tertingginya yang sempat membuat harga emas meredup selama berlangsungnya pemilihan presiden Amerika Serikat (AS).
Melansir laman Wall Street Journal, Selasa (29/11/2016), harga emas untuk pengiriman Desember ditutup naik 1,1 persen menjadi US$ 1.190,80 per troy ounce di divisi Comex New York Mercantile Exchange.
Adapun WSJ Dollar Index baru-baru ini turun 0,3 persen ke posisi 91,56. Emas jatuh ke level terendah sejak Februari pada pekan lalu, terbebani dolar dan euforia kebangkitan pasar saham yang telah melemahkan daya tarik logam mulia ini.
"Dolar kini melemah. Sudah cukup bagi orang untuk melompat dan mencari beberapa penawaran," kata Peter Hug, Direktur Perdagangan Global pada Kitco Metals.
Harga emas juga harus mengalah seiring ekspektasi tentang kenaikan suku bunga acuan AS pada Desember. Memang, tarif yang lebih tinggi cenderung mendukung dolar dan membebani emas, yang tidak memberikan imbal hasil.
"Saya pikir kami telah mencapai puncak bearish emas, atau kami sangat dekat dengan puncaknya," kata Nitesh Shah, Ahli Komoditas Strategi ETF Securities di London.
Investor pada pekan lalu menarik US$ 174 juta dari produk yang diperdagangkan di bursa ETF Securities.
Shah mengatakan emas mungkin memasuki tahap pemulihan setelah berlangsungnya pertemuan Federal Reserve pada Desember.
Analis Deutsche Bank juga mengatakan emas bisa mendapatkan dorongan pasca pertemuan The Fed.
"Sejarah mengajarkan kita bahwa emas dapat reli setelah Fed menaikkan (suku bunga). Sejak tahun 1976, dalam lima kasus dari delapan, harga emas reli usai tarif Fed naik," tulis mereka dalam sebuah catatan kepada klien.
Logam mulia juga mendapatkan beberapa dukungan dari Cina, yang bersaing dengan India untuk menjadi konsumen emas terkemuka di dunia, menurut Commerzbank.
Spekulasi bahwa pemerintah membatasi impor emas mendorong harga di Cina, tulis analis Commerzbank.
Sumber : Liputan6

Sunday, 27 November 2016

Harga Emas Akhir Pekan Anjlok Terendah 9,5 Bulan; Mingguan Tenggelam 7 Persen | PT BESTPROFIT FUTURES

PT BESTPROFIT FUTURES (28/11) - Harga emas jatuh ke 9,5 bulan terendah pada akhir perdagangan akhir pekan hari Sabtu dinihari (26/11), menuju penurunan mingguan ketiga berturut-turut karena aksi jual investor tertekan menguatnya ekspektasi kenaikan suku bunga AS bulan Desember.
Harga emas spot turun 0,04 persen pada $ 1,182.76 per ons, mengambil keuntungan pada posisi pendek, dari sebelumnya $ 1,171.21, terendah sejak 8 Februari. Logam mulia telah jatuh sekitar 7 persen sejauh bulan November, membuat berada di jalur untuk penurunan bulanan terbesar sejak Juni 2013. Penurunan sebagian besar tergerus penguatan dollar AS dan ekspektasi kenaikan suku bunga AS bulan Desember.
Sedangkan harga emas berjangka AS untuk pengiriman Desember menetap di $ 1,178.20.
Federal Reserve AS diperkirakan akan menaikkan suku bunga pada pertemuan bulan Desember. Hasil ini lebih lanjut akan meningkatkan dolar, membuat komoditas lebih mahal bagi pemegang mata uang lainnya.
Pasar sekarang menghargai probabilitas hampir 100 dari kenaikan suku bunga Fed Desember, menurut CME FedWatch.
Dolar AS telah menguat lebih dari enam persen terhadap mata uang utama lainnya sejak awal Oktober.
Namun pada akhir pekan dolar AS melemah. Dolar AS jatuh terhadap rival utama pada hari Jumat karena investor mengambil keuntungan dari mundurnya imbal hasil obligasi AS dan seminggu yang pendek untuk mengkonsolidasikan keuntungan yang telah mendorong mata uang ke puncak hampir 14 tahun.
Kepemilikan keseluruhan emas fisik di exchange traded funds (ETF) telah jatuh lebih dari lima persen menjadi 54.135.000 ons sejak 9 November, sehari setelah pemilu.
Pedagang mengatakan data pekerjaan bulanan AS yang dirilis pada 2 Desember akan menjadi kunci untuk sentimen pasar, tetapi itu mungkin tidak akan menghalangi bank sentral AS untuk menaikkan suku bunga.
Di tempat lain, perak naik 1,1 persen menjadi $ 16,43 per ons dan paladium turun 0,1 persen menjadi $ 728,50.
Platinum menyerahkan 0,5 persen menjadi $ 906,15, setelah sebelumnya mencapai terendah sejak 8 Februari di $ 901,00.
Sumber : Vibiznews

Thursday, 24 November 2016

Harga Emas Tergelincir Prediksi Kenaikan Suku Bunga The Fed | PT BESTPROFIT FUTURES

BESTPROFIT FUTURES (25/11) – Harga emas beringsut lebih rendah seiring menguatnya dolar AS yang mencapai posisi tertingginya dalam hampir 14 tahun.
Penguatan dolar terpicu data ekonomi AS yang positif yang kemudian meningkatkan harapan jika Federal Reserve akan menaikkan suku bunganya pada bulan Desember.
Melansir laman Reuters, Jumat (25/2/2016), harga Spot emas turun 0,4 persen menjadi US$ 1.183,20 per ounce. Harga sempat lebih rendah 2 persen di sesi sebelumnya dan menyentuh posisi terendah sejak 8 Februari di level US$ 1.180,99 per ounce.
Sementara harga emas berjangka AS susut sebesar 0,4 persen menjadi US$ 1.183,20 per ounce. Di sisi lain, Bursa AS tutup terkait momen hari libur Thanksgiving.
Harga emas di pasar spot telah turun hampir 12 persen dari posisi tingginya di US$ 1.337,40 pada 9 November, saat Donald Trump diumumkan sebagai Presiden terpilih AS.
Para pembuat kebijakan Fed tampak percaya diri pada malam pemilihan presiden AS bahwa ekonomi sedang menguat dan cukup untuk menjamin kenaikan suku bunga.
“Harapan bahwa pemilu Trump akan menyebabkan periode risiko-off lagi di pasar keuangan segera disusul oleh persepsi bahwa ia akan mampu mendorong pertumbuhan dan inflasi yang akan disertai dengan kenaikan suku bunga, yang mengangkat skenario bearish untuk emas, “kata analis Julius Baer Carsten Menke. Bestprofit Futures
Dia melanjutkan, setidaknya dalam jangka pendek akan ada beberapa konsolidasi dalam dolar dan hasil Treasury AS. Kondisi ini dinilai sesuatu yang bisa mendukung emas. “Namun, risiko besar akan terus menjual kepemilikan fisik emas,” jelas dia.
Indeks dolar AS naik ke posisi tertinggi dalam hampir 14 tahun, terdorong data yang menunjukkan pesanan baru untuk barang-barang AS modal manufaktur rebound pada bulan Oktober.
Data ekonomi AS yang positif baru-baru ini telah membantu mengangkat dolar namun menekan harga emas.
Di sisi lain, impor emas kepada konsumen China melalui Hong Kong naik 15,8 persen pada bulan Oktober ke level tertinggi dalam tiga bulan.
Sumber : Liputan6