
Bestprofit (9/1) – Harga emas global kembali mengalami tekanan pada perdagangan Kamis (8/1) seiring investor bersiap menghadapi penjualan berjangka besar yang terkait dengan penyeimbangan ulang indeks komoditas tahunan. Faktor eksternal lain yang turut memperberat pergerakan emas adalah penguatan dolar Amerika Serikat (AS), yang membuat logam mulia ini menjadi lebih mahal bagi pembeli dari luar negeri.
Pada pukul 09.21 GMT, harga emas spot tercatat turun 0,6% menjadi USD 4.427,48 per ons. Sementara itu, kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Februari juga melemah 0,6% ke level USD 4.435,40 per ons. Penurunan ini mencerminkan tekanan jangka pendek yang dialami pasar emas, meskipun prospek jangka panjang logam mulia tersebut masih dinilai positif oleh sejumlah analis.
Dampak Penyeimbangan Ulang Indeks Komoditas Bloomberg
Salah satu faktor utama yang menekan harga emas adalah proses penyeimbangan ulang tahunan Indeks Komoditas Bloomberg. Proses ini bertujuan menjaga komposisi indeks agar tetap mencerminkan kondisi terbaru pasar komoditas global. Penyeimbangan ulang tahun ini berlangsung selama periode 9–15 Januari, dan biasanya memicu pergeseran besar dalam posisi investor institusional.
Ole Hansen, Kepala Strategi Komoditas di Saxo Bank, menjelaskan bahwa emas dan perak saat ini berada di bawah tekanan akibat proses tersebut. Ia memperkirakan bahwa selama lima hari ke depan, kontrak berjangka COMEX berpotensi mengalami penjualan senilai USD 6 hingga USD 7 miliar untuk masing-masing logam. Tekanan jual dalam skala besar ini menciptakan volatilitas yang signifikan dan membatasi ruang penguatan harga emas dalam jangka pendek.
Kunjungi juga : bestprofit futures
Dolar AS yang Lebih Kuat Menambah Beban Pasar Emas
Selain faktor teknikal dari indeks komoditas, penguatan dolar AS juga menjadi penghambat bagi pergerakan emas. Dolar AS tercatat bergerak di dekat level tertinggi satu bulan terakhir, mencerminkan kehati-hatian investor dalam menilai kondisi ekonomi AS yang beragam.
Karena emas diperdagangkan dalam dolar AS, penguatan mata uang tersebut membuat harga emas menjadi relatif lebih mahal bagi investor yang menggunakan mata uang lain. Akibatnya, permintaan emas dari luar negeri cenderung melemah, sehingga menambah tekanan pada harga.
Data Tenaga Kerja AS Jadi Sorotan Investor
Perhatian investor kini tertuju pada rilis data ketenagakerjaan AS, khususnya laporan penggajian non-pertanian (non-farm payrolls) yang dijadwalkan pada hari Jumat. Data ini dianggap krusial karena dapat memberikan petunjuk lebih lanjut mengenai arah kebijakan moneter Federal Reserve (The Fed).
Data yang dirilis pada hari Rabu menunjukkan bahwa jumlah lowongan pekerjaan di AS turun ke level terendah dalam 14 bulan pada November. Selain itu, laju perekrutan juga tercatat lesu, mengindikasikan melemahnya permintaan tenaga kerja. Kondisi ini memicu spekulasi bahwa ekonomi AS mulai mendingin, meskipun belum menunjukkan tanda-tanda perlambatan tajam.
Pasar saat ini memperkirakan bahwa Federal Reserve akan melakukan dua kali pemotongan suku bunga sepanjang tahun ini. Jika ekspektasi tersebut terkonfirmasi, emas berpotensi kembali menguat karena suku bunga yang lebih rendah biasanya mengurangi biaya peluang memegang aset tanpa imbal hasil seperti emas.
Meredanya Premi Risiko Geopolitik
Dari sisi geopolitik, ketegangan antara AS dan Venezuela sempat menambah premi risiko geopolitik (georisk premium) di awal pekan. AS dilaporkan menyita dua kapal tanker minyak yang terkait dengan Venezuela di Samudra Atlantik pada hari Rabu, memicu kekhawatiran pasar terhadap stabilitas pasokan energi global.
Namun menurut Ole Hansen, premi risiko tersebut kini mulai mereda seiring fokus pasar beralih ke penyeimbangan ulang indeks komoditas. Meredanya ketegangan geopolitik dalam jangka pendek turut mengurangi daya tarik emas sebagai aset lindung nilai, setidaknya untuk sementara waktu.
Perak Mengalami Koreksi Tajam Usai Rekor Tertinggi
Tidak hanya emas, harga perak juga mengalami tekanan signifikan. Harga perak spot turun tajam sebesar 3,1% menjadi USD 75,73 per ons. Penurunan ini terjadi setelah perak sempat menyentuh rekor tertinggi sepanjang masa di USD 83,62 per ons pada 29 Desember lalu.
Koreksi ini dinilai sebagai aksi ambil untung (profit taking) setelah reli kuat yang terjadi dalam beberapa bulan terakhir. Meski demikian, sejumlah analis menilai bahwa fundamental perak masih cukup solid, terutama karena defisit pasokan dan permintaan industri yang tetap tinggi.
Proyeksi Jangka Panjang: Emas Menuju USD 5.000?
Meski harga emas sedang tertekan dalam jangka pendek, prospek jangka panjangnya tetap menarik. HSBC, salah satu bank global terbesar, memperkirakan bahwa harga emas berpotensi mencapai USD 5.000 per ons pada paruh pertama tahun 2026.
Proyeksi ini didasarkan pada sejumlah faktor struktural, termasuk meningkatnya risiko geopolitik global dan lonjakan utang fiskal di berbagai negara. Kondisi tersebut diperkirakan akan meningkatkan permintaan emas sebagai aset lindung nilai terhadap ketidakpastian ekonomi dan keuangan.
HSBC juga memperkirakan harga perak akan diperdagangkan dalam kisaran USD 58 hingga USD 88 per ons pada tahun 2026. Namun, bank tersebut mengingatkan adanya potensi koreksi pasar di akhir tahun seiring perubahan sentimen investor dan kondisi makroekonomi global.
Logam Mulia Lain Ikut Tertekan
Tekanan di pasar logam mulia tidak hanya terjadi pada emas dan perak. Harga platinum spot tercatat turun 4,2% menjadi USD 2.209,50 per ons, sementara paladium melemah 4,4% ke level USD 1.687 per ons.
Penurunan ini mencerminkan sentimen kehati-hatian investor terhadap permintaan industri, terutama dari sektor otomotif yang merupakan konsumen utama platinum dan paladium. Ketidakpastian pertumbuhan ekonomi global turut memengaruhi prospek permintaan kedua logam tersebut.
Kesimpulan: Tekanan Jangka Pendek, Optimisme Jangka Panjang
Secara keseluruhan, pasar emas dan logam mulia saat ini berada dalam fase tekanan jangka pendek yang dipicu oleh faktor teknikal, penguatan dolar AS, serta penyeimbangan ulang indeks komoditas. Namun, fundamental jangka panjang emas masih tetap kuat, didukung oleh risiko geopolitik, potensi pelonggaran kebijakan moneter, dan meningkatnya ketidakpastian ekonomi global.
Bagi investor, kondisi ini dapat menjadi pengingat bahwa volatilitas merupakan bagian tak terpisahkan dari pasar komoditas. Strategi investasi yang mempertimbangkan horizon jangka panjang dan manajemen risiko yang matang tetap menjadi kunci dalam menghadapi dinamika pasar emas yang terus berubah.
Jangan lupa jelajahi website kami di demo bestprofit dan temukan beragam informasi menarik yang siap menginspirasi dan memberikan pengetahuan baru! Ayo, kunjungi sekarang untuk pengalaman online yang menyenangkan!
bestprofit futures