Tuesday, 15 July 2025

Bestprofit | Emas Anjlok Usai Laporan IHK Positif

 https://best-profit-futures-malang.com/wp-content/uploads/2024/04/Gold-Emas-1.jpg

Bestprofit (16/7) – Pada hari Selasa yang lalu, harga emas mengalami penurunan tajam lebih dari 0,40%, disebabkan oleh rilis laporan inflasi terbaru dari Amerika Serikat (AS). Inflasi yang lebih tinggi dari yang diperkirakan mendorong penguatan Dolar AS, yang pada gilirannya memberikan tekanan pada harga emas. Harga logam mulia tersebut diperdagangkan pada harga $3.329, setelah sempat menyentuh puncak harian di $3.366.

Fenomena ini menunjukkan bagaimana harga emas sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor makroekonomi, seperti laporan inflasi dan kebijakan moneter yang dikeluarkan oleh Federal Reserve. Kondisi pasar yang berfluktuasi juga mencerminkan ketidakpastian ekonomi yang tengah dihadapi oleh banyak negara, termasuk AS.

Dampak Inflasi terhadap Harga Emas

Inflasi yang lebih tinggi dari ekspektasi pada bulan Juni memicu penguatan Dolar AS, yang dalam banyak kasus akan membebani harga emas. Laporan tersebut menunjukkan bahwa Indeks Harga Konsumen (IHK) baik angka utama maupun inti, mengalami kenaikan secara tahunan. Ini menandakan bahwa tarif yang diberlakukan pada barang-barang impor mulai mendorong harga barang dan jasa lebih tinggi.

Pada umumnya, ketika inflasi meningkat, investor cenderung mencari aset yang lebih aman, seperti emas, untuk melindungi nilai kekayaan mereka. Namun, dalam kasus ini, penguatan Dolar AS justru membebani logam mulia tersebut. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun emas sering dianggap sebagai lindung nilai terhadap inflasi, dalam jangka pendek, fluktuasi nilai tukar dapat memainkan peran yang lebih besar dalam menentukan harganya.


Kunjungi juga : bestprofit futures

Kebijakan Federal Reserve dan Suku Bunga

Salah satu faktor yang sangat mempengaruhi pergerakan harga emas adalah kebijakan suku bunga yang ditetapkan oleh Federal Reserve (The Fed). Setelah rilis data inflasi, para pedagang di pasar memperkirakan bahwa The Fed kemungkinan akan mempertahankan suku bunga untuk saat ini dan menunggu lebih banyak data sebelum membuat keputusan lebih lanjut. Terutama menjelang pertemuan The Fed pada bulan September setelah Simposium Jackson Hole.

Ketika The Fed memutuskan untuk mempertahankan suku bunga pada level yang tinggi atau bahkan menaikkannya, hal ini biasanya akan membuat Dolar AS menguat, yang selanjutnya akan menekan harga emas. Sebaliknya, jika The Fed mengurangi suku bunga, emas biasanya akan lebih menarik sebagai aset alternatif, sehingga harga emas dapat naik.

Reaksi Pasar terhadap Kebijakan Donald Trump

Selain data ekonomi, komentar dan kebijakan dari Presiden AS Donald Trump juga turut mempengaruhi pergerakan harga emas. Baru-baru ini, Trump mengumumkan penerapan tarif sebesar 30% terhadap barang-barang dari Uni Eropa (UE) dan Meksiko. Awalnya, pengumuman ini sempat memicu lonjakan harga emas, karena pasar melihatnya sebagai peningkatan ketegangan perdagangan global yang bisa mengarah pada ketidakstabilan ekonomi.

Namun, pergerakan harga emas tersebut tidak bertahan lama. Pedagang segera meredam lonjakan harga emas tersebut karena mereka memperkirakan bahwa kesepakatan perdagangan antara AS dan negara-negara tersebut mungkin akan tercapai dalam waktu dekat. Hal ini menunjukkan bagaimana pasar dapat dengan cepat menyesuaikan diri dengan informasi baru, dan betapa sentimen perdagangan sangat penting dalam menentukan arah harga emas.

Trump juga kembali mempertegas pendapatnya melalui media sosial, dengan menuntut agar Federal Reserve menurunkan suku bunga. Pernyataan semacam ini dapat memengaruhi kebijakan The Fed dan merangsang pergerakan harga emas, karena penurunan suku bunga akan meningkatkan minat pada emas sebagai instrumen investasi.

Sentimen Penghindaran Risiko di Pasar

Pasar saham AS juga menunjukkan fluktuasi yang signifikan setelah rilis laporan inflasi. Ekuitas AS berfluktuasi antara naik dan turun, mencerminkan ketidakpastian pasar yang tinggi. Ketika investor merasa khawatir tentang ketegangan perdagangan atau prospek ekonomi, mereka cenderung mengalihkan investasi mereka ke aset yang lebih aman seperti emas.

Namun, kali ini, penghindaran risiko yang biasanya mendorong harga emas lebih tinggi justru tidak cukup kuat untuk menahan penurunan harga emas. Ini bisa disebabkan oleh penguatan Dolar AS yang lebih dominan, serta optimisme pasar terkait potensi perjanjian dagang yang lebih baik antara AS dan negara-negara mitra dagangnya.

Pemantauan Data Ekonomi Pekan Ini

Minggu ini, pasar akan memantau berbagai data ekonomi penting yang akan dirilis, termasuk inflasi sisi produsen, penjualan ritel, serta laporan ketenagakerjaan dan sentimen konsumen dari Universitas Michigan. Data-data ini akan memberikan petunjuk lebih lanjut mengenai keadaan ekonomi AS dan dapat memengaruhi keputusan para pelaku pasar dalam menentukan arah investasi mereka.

Secara khusus, inflasi sisi produsen dan penjualan ritel dapat memberikan gambaran mengenai kesehatan sektor konsumen, yang merupakan bagian penting dari perekonomian AS. Sementara itu, laporan ketenagakerjaan dan sentimen konsumen juga akan memberikan petunjuk tentang prospek pertumbuhan ekonomi yang lebih luas, yang bisa mempengaruhi keputusan The Fed mengenai kebijakan suku bunga.

Jika data-data tersebut menunjukkan adanya peningkatan inflasi atau memperlihatkan bahwa konsumen semakin kuat, maka The Fed mungkin akan lebih cenderung mempertahankan kebijakan suku bunga yang lebih tinggi, yang bisa membebani harga emas lebih lanjut.

Kesimpulan

Harga emas yang turun pada hari Selasa setelah rilis laporan inflasi terbaru AS mencerminkan bagaimana berbagai faktor ekonomi, kebijakan pemerintah, dan sentimen pasar dapat mempengaruhi pergerakan harga logam mulia tersebut. Penguatan Dolar AS, kebijakan suku bunga Federal Reserve, serta ketegangan perdagangan global merupakan faktor utama yang memengaruhi harga emas dalam waktu dekat. Oleh karena itu, para pedagang dan investor harus terus memantau perkembangan ekonomi global dan kebijakan yang diambil oleh otoritas moneter, agar dapat mengambil keputusan yang tepat dalam menghadapi volatilitas pasar yang semakin meningkat.

Selain itu, data ekonomi yang akan dirilis dalam beberapa hari mendatang juga akan memberikan gambaran lebih jelas mengenai arah pasar. Oleh karena itu, baik pelaku pasar maupun investor individu perlu tetap waspada terhadap setiap perkembangan yang dapat mempengaruhi harga emas dan aset lainnya.


Jangan lupa jelajahi website kami di demo bestprofit dan temukan beragam informasi menarik yang siap menginspirasi dan memberikan pengetahuan baru! Ayo, kunjungi sekarang untuk pengalaman online yang menyenangkan!


bestprofit futures
 

Monday, 14 July 2025

Bestprofit | Sentimen Positif Emas Menjelang IHK AS

 https://best-profit-futures-malang.com/wp-content/uploads/2023/08/Bestprofit-Emas-3.jpeg

Bestprofit (15/7) – Harga emas mengalami penguatan pada awal sesi perdagangan Asia, mencatatkan kenaikan tipis sebesar 0,1% menjadi $3.345,26 per ons. Peningkatan harga emas ini terjadi di tengah perhatian pasar terhadap data inflasi yang akan dirilis oleh Amerika Serikat, khususnya Indeks Harga Konsumen (IHK) yang diperkirakan akan memberikan gambaran baru mengenai arah kebijakan moneter Federal Reserve (The Fed). Rania Gule, seorang analis pasar senior dari XS.com, menekankan bahwa inflasi tetap menjadi faktor utama yang mempengaruhi kebijakan The Fed, dan dengan demikian memengaruhi sentimen pasar terhadap aset-aset safe haven seperti emas.

Dampak Inflasi terhadap Kebijakan Moneter The Fed

Sejak awal pandemi COVID-19, The Fed telah mengambil langkah-langkah kebijakan yang sangat agresif untuk mendukung perekonomian AS, termasuk penurunan suku bunga dan program pembelian obligasi besar-besaran. Namun, salah satu tujuan utama dari kebijakan moneter ini adalah untuk menjaga inflasi tetap terkendali. Inflasi yang lebih tinggi dari perkiraan dapat memaksa The Fed untuk mempertahankan atau bahkan menaikkan suku bunga lebih lanjut untuk mengatasi tekanan harga yang meningkat.

Sebaliknya, inflasi yang lebih rendah dari yang diharapkan dapat memberikan ruang bagi The Fed untuk melonggarkan kebijakan moneternya, yang berarti penurunan suku bunga. Gule menjelaskan bahwa hasil dari data inflasi yang akan dirilis hari ini dapat memberikan petunjuk tentang kemungkinan perubahan kebijakan ini, yang pada gilirannya dapat memiliki dampak besar pada pasar keuangan, termasuk pasar emas.

Inflasi yang Lebih Tinggi: Potensi Penguatan USD dan Penurunan Harga Emas

Jika data inflasi yang dirilis menunjukkan angka yang lebih tinggi dari perkiraan, maka ini akan memperkuat ekspektasi bahwa The Fed akan lebih lambat dalam menurunkan suku bunga pada bulan September. Hal ini akan meningkatkan daya tarik dolar AS karena suku bunga yang lebih tinggi cenderung membuat aset-denominasi dolar lebih menarik bagi investor. Penguatan dolar AS biasanya menekan harga emas, karena emas lebih mahal bagi pembeli yang menggunakan mata uang lain selain dolar.

Selain itu, ekspektasi bahwa The Fed akan mempertahankan kebijakan suku bunga tinggi untuk waktu yang lebih lama dapat mengurangi permintaan untuk emas sebagai aset safe haven. Meskipun emas sering dianggap sebagai pelindung nilai terhadap inflasi, suku bunga yang lebih tinggi membuat instrumen keuangan lainnya, seperti obligasi, lebih menarik, sehingga mengalihkan perhatian investor dari emas.


Kunjungi juga : bestprofit futures

Inflasi yang Lebih Rendah: Prospek Penurunan Suku Bunga The Fed yang Meningkatkan Harga Emas

Sebaliknya, jika data inflasi menunjukkan hasil yang lebih rendah dari perkiraan, maka ekspektasi pasar mengenai kemungkinan penurunan suku bunga The Fed pada bulan September akan semakin kuat. Penurunan suku bunga sering kali menyebabkan penurunan imbal hasil obligasi dan meningkatkan permintaan untuk aset-aset yang dianggap lebih aman, seperti emas. Dalam kondisi ini, emas dapat memperoleh daya tarik lebih besar sebagai pelindung nilai terhadap ketidakpastian ekonomi.

Rania Gule menekankan bahwa data inflasi yang lemah akan memberikan angin segar bagi harga emas. Ini karena penurunan suku bunga The Fed akan memperburuk daya tarik dolar AS, sekaligus meningkatkan daya tarik emas sebagai alternatif investasi yang lebih aman. Oleh karena itu, investor akan cenderung beralih ke emas untuk melindungi kekayaan mereka dari potensi ketidakstabilan ekonomi yang lebih lanjut.

Keterkaitan Antara Emas dan Aset Safe Haven Lainnya

Emas telah lama dianggap sebagai salah satu aset safe haven utama di pasar keuangan. Ketika pasar saham atau pasar lainnya mengalami gejolak, banyak investor beralih ke emas untuk melindungi nilai investasi mereka. Namun, emas bukan satu-satunya aset yang dianggap aman. Obligasi pemerintah, terutama yang dikeluarkan oleh negara-negara besar seperti AS, juga sering dipilih sebagai tempat parkir uang yang lebih aman.

Namun, meskipun obligasi pemerintah dapat menawarkan pengembalian yang lebih stabil, emas memiliki keunggulan tersendiri. Emas tidak terpengaruh oleh perubahan suku bunga yang langsung, yang membuatnya tetap menarik ketika suku bunga rendah. Selain itu, emas memiliki nilai intrinsik yang telah teruji selama ribuan tahun sebagai sarana penyimpan nilai.

Emas dalam Konteks Global: Faktor Eksternal yang Juga Memengaruhi Harga Emas

Selain faktor inflasi dan kebijakan moneter The Fed, harga emas juga dipengaruhi oleh berbagai faktor eksternal lainnya, termasuk gejolak politik, ketegangan geopolitik, dan krisis ekonomi global. Krisis ekonomi atau ketidakpastian politik dapat mendorong permintaan akan aset safe haven, termasuk emas. Hal ini dapat menyebabkan lonjakan harga emas yang signifikan, meskipun inflasi domestik di AS tetap terkendali.

Contohnya, ketegangan yang meningkat antara negara-negara besar seperti AS dan China, atau ketidakpastian terkait Brexit, dapat membuat investor lebih berhati-hati dan memilih emas sebagai tempat penyimpanan kekayaan mereka. Pada saat-saat tersebut, harga emas seringkali melonjak meskipun inflasi domestik tidak memberikan dampak signifikan.

Prospek Emas ke Depan: Menyimak Rilis Data IHK dan Dampaknya pada Pasar

Seiring dengan dirilisnya data inflasi IHK AS hari ini, pasar akan sangat memperhatikan setiap angka yang keluar, karena ini dapat mempengaruhi arah kebijakan The Fed dan memberikan dampak langsung pada harga emas. Kenaikan inflasi yang signifikan dapat memperkuat dolar AS dan menekan harga emas, sementara inflasi yang lebih rendah dapat memperkuat daya tarik emas sebagai aset safe haven.

Bagi investor, hal ini juga berarti bahwa momen-momen volatilitas pasar, yang dipicu oleh perubahan dalam kebijakan moneter atau pengumuman data ekonomi, dapat menciptakan peluang perdagangan yang menguntungkan di pasar emas. Oleh karena itu, pemantauan terhadap data inflasi dan sinyal dari The Fed akan menjadi hal yang sangat penting dalam beberapa pekan ke depan.

Kesimpulan

Emas, sebagai salah satu aset safe haven utama, terus dipengaruhi oleh dinamika ekonomi global, terutama inflasi dan kebijakan moneter The Fed. Rania Gule dari XS.com menyatakan bahwa inflasi adalah faktor kunci yang mengendalikan kebijakan moneter The Fed dan memengaruhi harga emas. Jika inflasi AS lebih tinggi dari perkiraan, kemungkinan penurunan suku bunga The Fed pada bulan September akan berkurang, yang dapat memperkuat USD dan menekan harga emas. Sebaliknya, inflasi yang lebih rendah dapat memperkuat ekspektasi penurunan suku bunga The Fed dan memberikan dorongan bagi harga emas. Oleh karena itu, rilis data inflasi hari ini akan menjadi momen penting yang dapat memberikan petunjuk lebih lanjut mengenai arah pasar emas.


Jangan lupa jelajahi website kami di demo bestprofit dan temukan beragam informasi menarik yang siap menginspirasi dan memberikan pengetahuan baru! Ayo, kunjungi sekarang untuk pengalaman online yang menyenangkan!


bestprofit futures
 

Sunday, 13 July 2025

Bestprofit | Emas Melonjak, Tarif Trump Mengancam

https://best-profit-futures-malang.com/wp-content/uploads/2023/08/Bestprofit-Emas-4.jpg 

Bestprofit (14/7) – Ketegangan geopolitik dan kebijakan proteksionis dari pemerintahan Amerika Serikat kembali menjadi sorotan pasar global. Kali ini, harga emas melonjak karena lonjakan permintaan akan aset safe haven, menyusul kebijakan tarif baru yang diumumkan oleh Presiden Donald Trump. Para investor global bersiap menghadapi potensi gejolak perdagangan, terutama setelah Trump mengeluarkan ultimatum terhadap mitra dagang utama seperti Uni Eropa dan Meksiko. Dalam suasana yang penuh ketidakpastian ini, emas kembali menunjukkan perannya sebagai pelindung nilai yang andal.

Ketegangan Dagang Memanas: Ultimatum Trump terhadap Mitra Dagang

Presiden Donald Trump pada akhir pekan lalu secara resmi mengumumkan tarif baru sebesar 30% terhadap produk dari Uni Eropa dan Meksiko yang akan diberlakukan mulai bulan depan. Langkah ini merupakan bagian dari strategi agresif Trump dalam menekan mitra dagang AS untuk membuat konsesi yang lebih besar dalam perundingan perdagangan. Tidak hanya itu, surat-surat ultimatum juga dikirimkan kepada pemimpin negara lain seperti Kanada dan Brasil.

Presiden Meksiko Claudia Sheinbaum dan Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen menerima surat ancaman tersebut, yang menyatakan bahwa AS tidak akan segan memberlakukan kebijakan lebih keras jika tidak ada kesepakatan yang dicapai sebelum 1 Agustus. Strategi “maksimum pressure” ini menciptakan ketidakpastian dan ketegangan di pasar global, terutama karena pendekatan Trump yang tidak terduga dalam urusan perdagangan.

Emas Mencapai Level Tinggi: Diperdagangkan Mendekati $3.370 per Ons

Sebagai respons terhadap meningkatnya risiko ekonomi dan geopolitik, harga emas batangan diperdagangkan mendekati $3.370 per ons. Ini menandai kelanjutan dari tren kenaikan harga logam mulia tersebut, yang minggu lalu naik 0,6%. Para investor global mulai memindahkan dana mereka ke emas untuk melindungi portofolio dari potensi guncangan di pasar saham dan nilai tukar.

Harga emas spot naik 0,4% ke $3.367,20 per ons pada perdagangan pagi di Singapura. Ini menunjukkan minat yang konsisten dari investor yang mencari aset safe haven di tengah ketidakpastian. Seiring dengan itu, perak juga mencatat penguatan dan berada di dekat level tertinggi sejak 2011. Sebaliknya, harga platinum dan paladium mengalami tekanan dan mencatatkan penurunan.

Reaksi Pasar: Dolar Menguat, Ketidakpastian Meningkat

Selain logam mulia, mata uang dolar AS juga menunjukkan kekuatan. Indeks Bloomberg Dollar Spot naik 0,1%, menandakan bahwa pasar masih menganggap dolar sebagai aset aman alternatif di samping emas. Meski demikian, kekuatan dolar bisa menjadi hambatan bagi emas karena harga logam mulia tersebut menjadi lebih mahal bagi pemegang mata uang lain. Namun, efek negatif tersebut tampaknya terkompensasi oleh ketakutan investor akan eskalasi perang dagang.

Pasar saham, di sisi lain, menunjukkan volatilitas yang lebih tinggi sejak pengumuman tarif ini. Banyak analis memperkirakan bahwa tekanan terhadap pertumbuhan global akan semakin nyata jika kebijakan proteksionis ini terus dilanjutkan.

Emas Sebagai Aset Safe Haven: Mengapa Tetap Menarik?

Selama dekade terakhir, emas telah terbukti menjadi salah satu aset safe haven paling efektif dalam menghadapi ketidakstabilan ekonomi dan geopolitik. Di tengah ancaman tarif dan perombakan sistem perdagangan global, emas kembali ke panggung utama sebagai pilihan investasi konservatif.

Beberapa alasan utama mengapa emas tetap menarik:

  1. Perlindungan terhadap inflasi – Saat ketidakpastian meningkat, kebijakan moneter longgar dan stimulus fiskal bisa mendorong inflasi. Emas secara historis merupakan lindung nilai terhadap inflasi.

  2. Diversifikasi portofolio – Investor institusi dan ritel beralih ke emas untuk mengurangi eksposur terhadap risiko pasar ekuitas.

  3. Likuiditas tinggi – Emas diperdagangkan secara global dan dapat dengan mudah dikonversi menjadi mata uang apa pun.

  4. Permintaan bank sentral – Beberapa bank sentral dunia, terutama dari negara berkembang, terus menambah cadangan emas mereka untuk memperkuat stabilitas keuangan.

Tren Harga Emas: Telah Naik Lebih dari 25% Tahun Ini

Lonjakan harga emas bukanlah fenomena baru. Sepanjang tahun 2025 ini, harga emas telah mencatat kenaikan lebih dari 25%, dengan mencetak rekor tertinggi di atas $3.500 per ons pada bulan April. Kenaikan tajam ini didorong oleh kombinasi berbagai faktor: mulai dari ketidakpastian kebijakan, perlambatan ekonomi global, hingga kekhawatiran geopolitik.

Aksi beli dari bank sentral juga turut berperan besar. Menurut data terbaru, negara-negara seperti Tiongkok, India, dan Rusia telah meningkatkan pembelian emas sebagai langkah strategis untuk mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS dan memperkuat cadangan devisa.

Ancaman Tarif: Dampak Jangka Panjang terhadap Ekonomi Global

Meskipun emas saat ini menikmati momen positif, investor tetap perlu waspada terhadap dampak jangka panjang dari kebijakan tarif yang diterapkan secara sepihak oleh AS. Tarif 30% terhadap produk dari Uni Eropa dan Meksiko diperkirakan akan memicu balasan serupa dari negara-negara tersebut, memperburuk hubungan perdagangan global.

Jika perang dagang kembali memanas seperti pada 2018-2019, maka kemungkinan resesi global akan meningkat. Produksi, konsumsi, dan ekspor bisa terganggu, dan inflasi bisa melonjak di beberapa negara. Semua skenario ini berpotensi memperkuat permintaan terhadap emas, tetapi juga dapat menciptakan volatilitas yang ekstrem di pasar.

Kesimpulan: Emas Kembali Menjadi Primadona di Tengah Ketidakpastian

Dalam suasana global yang dipenuhi ketegangan perdagangan, ancaman tarif, dan ketidakpastian ekonomi, emas kembali menegaskan perannya sebagai pelindung nilai. Kenaikan harga emas yang stabil mencerminkan sentimen pasar yang waspada terhadap arah kebijakan Presiden Trump dan potensi implikasinya terhadap perdagangan global.

Para investor sebaiknya terus memantau perkembangan kebijakan tarif AS dan reaksi dari mitra dagangnya. Dalam jangka pendek, harga emas kemungkinan akan tetap tinggi jika ketegangan terus meningkat. Namun, seperti biasa, keputusan investasi sebaiknya mempertimbangkan analisis risiko menyeluruh dan diversifikasi portofolio secara bijak.


Jangan lupa jelajahi website kami di demo bestprofit dan temukan beragam informasi menarik yang siap menginspirasi dan memberikan pengetahuan baru! Ayo, kunjungi sekarang untuk pengalaman online yang menyenangkan!


bestprofit futures

Thursday, 10 July 2025

Bestprofit | Emas Stabil di Tengah Tekanan Global

 https://best-profit-futures-malang.com/wp-content/uploads/2023/08/Bestprofit-Emas-12.jpeg

Bestprofit (11/7) – Pada Kamis (10/7), harga emas dunia hanya mencatatkan sedikit perubahan, karena penguatan dolar AS mengimbangi sentimen positif dari meningkatnya ketegangan geopolitik global. Kebijakan tarif baru yang diumumkan oleh Presiden AS Donald Trump mendorong investor mencari perlindungan di aset safe haven seperti emas, namun dampaknya tertahan oleh menguatnya dolar.

Kinerja Harga Emas: Naik Tipis

Emas spot tercatat naik tipis sebesar 0,1% menjadi $3.317,44 per ons pada pukul 13.50 ET (17.50 GMT), sementara emas berjangka AS ditutup pada $3.325,70 per ons, juga naik 0,1%.

Pergerakan harga yang terbatas ini mencerminkan ketegangan antara dua faktor utama yang saling bertolak belakang: di satu sisi, ada peningkatan permintaan emas sebagai lindung nilai terhadap risiko, tetapi di sisi lain, penguatan dolar AS menekan minat beli investor asing.

Dolar AS Menguat, Menekan Emas

Indeks dolar AS naik 0,2%, yang membuat emas menjadi lebih mahal bagi investor yang menggunakan mata uang lain. Karena emas dihargai dalam dolar, setiap penguatan mata uang AS akan secara otomatis mengurangi daya tarik emas bagi pembeli internasional.

“Kecuali jika terjadi eskalasi geopolitik yang besar, saya tidak melihat emas akan menembus di atas $3.400 dalam waktu dekat,” ujar Daniel Pavilonis, ahli strategi pasar senior di RJO Futures. Ia menambahkan bahwa emas kemungkinan akan tetap bergerak dalam kisaran terbatas untuk sementara waktu.


Kunjungi juga : bestprofit futures

Tarif Baru Trump Memicu Ketidakpastian Pasar

Sentimen pasar sempat terpengaruh oleh pengumuman tarif baru dari Presiden Donald Trump pada hari Rabu. Pemerintah AS menyatakan akan memberlakukan tarif 50% terhadap impor tembaga dan barang-barang dari Brasil mulai 1 Agustus.

Langkah ini dinilai sebagai bagian dari strategi proteksionis Trump yang berupaya menekan neraca perdagangan dan mendukung industri domestik. Namun, kebijakan ini juga meningkatkan ketegangan dagang global dan risiko geopolitik yang lebih luas.

Menurut para analis, langkah ini telah mendorong sebagian investor untuk beralih ke emas sebagai aset lindung nilai.

Emas Menarik Minat Negara Berkembang

Paul Wong, ahli strategi pasar di Sprott Asset Management, mencatat bahwa terjadi peningkatan minat terhadap emas dari negara-negara berkembang. Dalam catatannya, ia menyebut emas dipandang sebagai aset bebas dari risiko rekanan, terutama dalam konteks meningkatnya ketidakpastian global.

“Negara-negara berkembang melihat emas sebagai aset yang stabil dan tidak bergantung pada sistem keuangan negara lain, sesuatu yang sangat berharga di tengah dunia yang penuh dengan risiko geopolitik dan ketegangan ekonomi,” ungkap Wong.

Sikap The Fed Masih Berhati-hati

Dari sisi kebijakan moneter, risalah rapat Federal Reserve bulan Juni menunjukkan bahwa hanya “beberapa” pejabat yang mempertimbangkan kemungkinan penurunan suku bunga dalam waktu dekat. Sebagian besar pembuat kebijakan masih khawatir terhadap tekanan inflasi, terutama akibat dampak tarif baru.

Kebijakan suku bunga memiliki pengaruh besar terhadap emas. Suku bunga yang lebih rendah biasanya mendukung harga emas karena menurunkan opportunity cost untuk memegang aset yang tidak memberikan imbal hasil seperti emas.

Namun, ketidakpastian dalam arah kebijakan moneter membuat pasar emas tetap waspada.

Data Ekonomi AS: Klaim Pengangguran Turun

Sementara itu, data ekonomi terbaru dari AS menunjukkan bahwa jumlah klaim tunjangan pengangguran secara tak terduga menurun minggu lalu. Hal ini menandakan bahwa perusahaan-perusahaan masih mempertahankan tenaga kerja mereka, meskipun ada tanda-tanda pelemahan dalam beberapa sektor ekonomi lainnya.

Data tenaga kerja yang kuat cenderung mengurangi kemungkinan penurunan suku bunga, yang pada akhirnya bisa menekan harga emas. Namun, jika pasar tenaga kerja mulai menunjukkan kelemahan yang signifikan, maka tekanan akan meningkat pada The Fed untuk mulai melonggarkan kebijakan moneternya.

Logam Mulia Lainnya: Perak dan Paladium Memimpin Kenaikan

Selain emas, logam mulia lainnya mencatatkan kinerja yang lebih dinamis:

  • Perak spot naik 1,5% menjadi $36,87 per ons. Kenaikan ini menempatkan perak pada jalur menuju target psikologis berikutnya. “Menembus level $35 meningkatkan kemungkinan mencapai target $40,” kata Paul Wong.

  • Platinum naik 0,5% menjadi $1.353,55 per ons, menunjukkan pemulihan moderat di tengah permintaan industri yang tetap stabil.

  • Paladium melonjak 3,9% menjadi $1.148,43 per ons, menyentuh level tertinggi sejak 3 Juli. Kinerja kuat paladium mencerminkan tingginya permintaan untuk logam ini dalam sektor otomotif, khususnya untuk katalis knalpot.

Prospek Jangka Pendek: Masih Dalam Konsolidasi

Meskipun harga emas menunjukkan kecenderungan naik, banyak analis memperkirakan bahwa logam mulia ini masih akan bergerak dalam kisaran yang terbatas dalam jangka pendek. Faktor-faktor seperti penguatan dolar, ketidakpastian kebijakan The Fed, dan perkembangan geopolitik akan terus menjadi penentu arah pasar.

“Jika tidak ada kejutan besar, seperti krisis geopolitik atau pergeseran mendadak dalam kebijakan The Fed, maka harga emas akan tetap stabil dalam rentang $3.300–$3.400,” ujar Pavilonis.

Kesimpulan: Emas Tetap Jadi Safe Haven di Tengah Ketidakpastian

Secara keseluruhan, pergerakan emas pada 10 Juli menunjukkan bagaimana pasar tetap berhati-hati dalam merespons sinyal ekonomi dan geopolitik yang saling bertentangan. Penguatan dolar AS menjadi penghambat utama bagi reli harga emas, meskipun permintaan safe haven tetap kuat menyusul kebijakan perdagangan yang agresif dari pemerintahan Trump dan kekhawatiran akan inflasi global.

Sementara itu, logam mulia lain seperti perak dan paladium tampil lebih kuat, mencerminkan dinamika permintaan yang berbeda di masing-masing sektor.

Investor akan terus memantau perkembangan kebijakan moneter AS, pergerakan dolar, dan ketegangan geopolitik dalam menentukan arah investasi mereka di pasar logam mulia.


Jangan lupa jelajahi website kami di demo bestprofit dan temukan beragam informasi menarik yang siap menginspirasi dan memberikan pengetahuan baru! Ayo, kunjungi sekarang untuk pengalaman online yang menyenangkan!


bestprofit futures
 

Wednesday, 9 July 2025

Bestprofit | Dolar Melemah Usai Isyarat Pemangkasan The Fed

 https://best-profit-futures-malang.com/wp-content/uploads/2023/08/Dolar-2.jpg

Bestprofit (10/7) – Pada hari Rabu (09/7), dolar AS (USD) menunjukkan ketahanan yang signifikan meskipun sedikit kehilangan momentum setelah awal yang menguntungkan. Penguatan yang tercatat pada awal perdagangan tersebut dipengaruhi oleh ketegangan tarif yang terus berlangsung serta sentimen pasar yang sangat berhati-hati. Salah satu faktor utama yang mendukung kekuatan dolar AS adalah sikap pasar yang cemas terkait dengan kebijakan tarif Presiden AS, Donald Trump, serta ketidakpastian yang terus meningkat di bidang perdagangan dan geopolitik. Investor yang mencari tempat aman (safe haven) mengalirkan dana mereka ke dalam USD, meskipun pasar juga mencermati perkembangan terbaru di pasar global.

Kondisi Pasar dan Indeks Dolar AS (DXY)

Indeks Dolar AS (DXY), yang mengukur kekuatan USD terhadap enam mata uang utama dunia, naik sekitar 1,5% dari level terendahnya pada 1 Juli, yaitu 96,38—level terendah dalam lebih dari tiga tahun terakhir. Setelah mencatatkan kenaikan yang signifikan, DXY menyentuh level tertinggi intraday di 97,75, namun sedikit melemah ke angka 97,52 saat pasar merespons hasil Risalah Rapat Federal Open Market Committee (FOMC) terbaru. Meskipun terjadi sedikit penurunan setelah puncaknya, USD tetap bertahan dengan posisi yang cukup kuat dibandingkan dengan banyak mata uang lainnya.

Risalah Rapat FOMC: Pemotongan Suku Bunga dan Ketidakpastian Ekonomi

Risalah rapat FOMC untuk bulan Juni menjadi salah satu sorotan utama bagi para pelaku pasar, karena mengungkapkan pandangan sebagian besar pejabat Federal Reserve mengenai kebijakan moneter di masa depan. Sejumlah pejabat memperkirakan bahwa pemotongan suku bunga mungkin akan terjadi pada akhir tahun ini, terutama dipengaruhi oleh meredanya tekanan inflasi dan kemungkinan pelambatan ekonomi serta pasar tenaga kerja. Hal ini berpotensi memberikan dampak pada daya tarik dolar AS dalam jangka panjang, meskipun beberapa anggota FOMC lainnya menunjukkan keraguan terhadap pemotongan suku bunga pada tahun 2025.

Para pejabat Federal Reserve pada umumnya melihat inflasi yang berkaitan dengan tarif—khususnya tarif yang dikenakan oleh Presiden Trump—cenderung bersifat sementara atau terbatas. Oleh karena itu, meskipun ada ketidakpastian terkait kebijakan perdagangan global dan perkembangan geopolitik, ekspektasi inflasi di AS masih berada dalam kendali yang cukup baik. Dalam risalah tersebut juga dicatat bahwa meskipun beberapa risiko perdagangan dan geopolitik masih ada, ada pula tanda-tanda meredanya ketegangan dibandingkan dengan beberapa bulan sebelumnya. Namun, faktor ketidakpastian ini tetap menjadi perhatian bagi pasar dan dapat mempengaruhi sentimen investasi.


Kunjungi juga : bestprofit futures

Kampanye Tarif Presiden Donald Trump: Ancaman dan Dampaknya

Salah satu faktor yang terus mendominasi dinamika pasar adalah kebijakan tarif yang dipelopori oleh Presiden Donald Trump. Pada hari yang sama, Trump meluncurkan ancaman tarif baru yang ditujukan kepada enam negara tambahan: Aljazair, Irak, Libya, Brunei, Moldova, dan Filipina. Bea masuk baru ini berkisar antara 20% hingga 30% dan dijadwalkan mulai berlaku pada 1 Agustus. Keputusan ini muncul hanya dua hari setelah Trump mengeluarkan pemberitahuan serupa kepada 14 negara lainnya. Langkah ini semakin menegaskan kebijakan “tarif timbal balik” yang menjadi ciri khas pemerintahan Trump.

Menurut Trump, tujuan dari penerapan tarif ini adalah untuk memperbaiki praktik perdagangan yang dianggap tidak adil, dan langkah-langkah tersebut telah memicu kekhawatiran di kalangan investor global. Pasar internasional sangat memperhatikan bagaimana negara-negara sasaran akan merespons kebijakan tersebut, serta kemungkinan tercapainya kesepakatan perdagangan sebelum tenggat waktu yang telah ditentukan.

Strategi Trump dalam Menghadapi Ketegangan Perdagangan Global

Penerapan tarif baru ini menunjukkan bahwa Presiden Trump tetap pada jalur kebijakan proteksionis yang telah dia perkenalkan sejak awal masa kepresidenannya. Salah satu alasan di balik kebijakan ini adalah upaya untuk melindungi industri domestik AS dari persaingan luar negeri, terutama dalam sektor-sektor yang dianggap strategis seperti tembaga dan farmasi. Dalam rapat Kabinet di Gedung Putih pada hari Selasa, Trump juga mengumumkan kebijakan tarif baru untuk impor tembaga sebesar 50%, yang menurutnya penting untuk industri AS. Tidak hanya itu, Trump juga menyampaikan bahwa impor farmasi akan dikenakan tarif yang sangat tinggi, mencapai 200%, yang akan diberlakukan setidaknya satu tahun setelah pengumuman.

Keputusan-keputusan ini semakin memperlihatkan tekad Trump untuk mengubah dinamika perdagangan global demi kepentingan ekonomi domestik AS. Namun, dampaknya terhadap perekonomian global masih menjadi perdebatan. Sementara itu, para pelaku pasar terus memantau dengan cermat setiap langkah yang diambil oleh negara-negara sasaran tarif, serta dampak dari kebijakan tersebut terhadap sentimen investasi dan aliran modal global.

Sentimen Pasar dan Pengaruh Terhadap Dolar AS

Meskipun ada sejumlah faktor yang dapat mempengaruhi pergerakan dolar AS, seperti kebijakan suku bunga Federal Reserve dan ketegangan tarif, salah satu faktor utama yang masih mendukung USD adalah aliran dana yang menuju aset-aset safe haven. Ketidakpastian perdagangan dan geopolitik, yang diperburuk dengan ancaman tarif dan kebijakan proteksionis, telah mendorong investor untuk mengalihkan sebagian besar portofolio mereka ke mata uang yang lebih aman, terutama dolar AS.

Pada saat yang sama, ketidakpastian dalam perkembangan kebijakan perdagangan internasional dan dampaknya terhadap perekonomian global turut menambah volatilitas pasar. Investor menjadi lebih selektif dalam membuat keputusan investasi, mengingat potensi dampak jangka panjang dari kebijakan tarif yang terus berkembang. Oleh karena itu, pasar cenderung berhati-hati dan menunggu perkembangan lebih lanjut mengenai kebijakan perdagangan AS serta respons negara-negara lainnya terhadap langkah-langkah proteksionis yang diambil oleh Trump.

Kesimpulan: Menghadapi Ketidakpastian Ekonomi Global

Dolar AS berhasil mempertahankan posisinya yang kuat meskipun sedikit melemah setelah mencapai level tertinggi intraday, seiring dengan ketegangan tarif yang terus memengaruhi pasar global. Meskipun sebagian besar pejabat Federal Reserve mengharapkan pemotongan suku bunga, faktor ketidakpastian yang timbul dari kebijakan perdagangan dan perkembangan geopolitik tetap memberikan dampak signifikan terhadap pergerakan mata uang. Kampanye tarif yang digencarkan oleh Presiden Trump semakin memperumit situasi, dengan pasar global yang terus memantau respons negara-negara sasaran.

Dengan situasi ekonomi global yang penuh ketidakpastian, investor cenderung mengalihkan dana mereka ke aset-aset yang lebih aman, seperti dolar AS. Namun, pergerakan pasar ke depan masih akan sangat bergantung pada bagaimana kebijakan perdagangan AS dan respons internasional berkembang, serta bagaimana hal tersebut memengaruhi sentimen pasar dan prospek ekonomi global.


Jangan lupa jelajahi website kami di demo bestprofit dan temukan beragam informasi menarik yang siap menginspirasi dan memberikan pengetahuan baru! Ayo, kunjungi sekarang untuk pengalaman online yang menyenangkan!


bestprofit futures
 

Tuesday, 8 July 2025

Bestprofit | Emas Turun Dibebani Imbal Hasil Treasury Tinggi

 https://best-profit-futures-malang.com/wp-content/uploads/2023/08/Bestprofit-Emas-5.jpeg

Bestprofit (9/7) – Harga emas mengalami penurunan tipis pada sesi perdagangan Asia dini hari ini, tertekan oleh lonjakan imbal hasil Treasury yang lebih tinggi. Penurunan ini terjadi di tengah pengumuman data tenaga kerja AS yang lebih kuat dari perkiraan, yang semakin meredam ekspektasi pasar terhadap kemungkinan penurunan suku bunga jangka pendek oleh The Federal Reserve (Fed). Mengapa hal ini terjadi? Dan bagaimana implikasinya terhadap pergerakan harga emas ke depan? Mari kita telaah lebih lanjut.

Dampak Data Tenaga Kerja AS yang Kuat

Pada minggu lalu, data tenaga kerja AS menunjukkan hasil yang lebih baik dari perkiraan. Angka-angka pekerjaan baru yang lebih tinggi ini menandakan bahwa ekonomi AS masih cukup kuat meskipun ada ketidakpastian global dan inflasi yang terus menjadi perhatian. Data ini memberikan sinyal bahwa pasar tenaga kerja di AS tetap tangguh, yang pada gilirannya meredam spekulasi pasar tentang penurunan suku bunga oleh Federal Reserve dalam waktu dekat.

Erkin Kamran, seorang analis dari Traze, dalam emailnya menyatakan, “Data tenaga kerja AS yang lebih kuat dari perkiraan minggu lalu meredam ekspektasi untuk penurunan suku bunga jangka pendek dari Fed.” Penguatan data ini menambah keyakinan bahwa kebijakan moneter yang lebih ketat dari Fed mungkin akan bertahan lebih lama, yang berdampak langsung pada pergerakan harga emas. Ketika prospek penurunan suku bunga semakin kecil, daya tarik emas sebagai aset yang tidak memberikan imbal hasil menjadi berkurang.

Imbal Hasil Treasury yang Lebih Tinggi Meningkatkan Biaya Kesempatan

Salah satu faktor utama yang menyebabkan tekanan pada harga emas adalah imbal hasil Treasury AS yang lebih tinggi. Kamran menjelaskan bahwa imbal hasil Treasury 10 tahun yang tetap tinggi memberikan dampak langsung terhadap keputusan investasi. Imbal hasil Treasury yang tinggi berarti bahwa investor dapat memperoleh pengembalian yang lebih besar dari obligasi pemerintah AS dibandingkan dengan emas yang tidak memberikan imbal hasil.

Imbal hasil yang lebih tinggi meningkatkan “biaya kesempatan” bagi investor yang memilih untuk memegang aset yang tidak memberikan bunga atau dividen, seperti emas. Ketika imbal hasil obligasi pemerintah AS lebih menguntungkan, banyak investor yang beralih ke aset tersebut, yang kemudian menyebabkan penurunan permintaan terhadap emas.


Kunjungi juga : bestprofit futures

Risiko Suku Bunga yang Lebih Tinggi dan Potensi Dampaknya pada Emas

Selama beberapa bulan terakhir, pasar emas sangat dipengaruhi oleh keputusan kebijakan moneter yang diambil oleh The Federal Reserve. Kenaikan suku bunga yang agresif oleh Fed telah membuat investor cemas tentang daya tarik emas sebagai aset perlindungan nilai, mengingat emas tidak memberikan imbal hasil berupa bunga atau dividen. Dengan suku bunga yang tinggi, investor cenderung mengalihkan dana mereka ke instrumen yang lebih menguntungkan, seperti obligasi dan saham.

Namun, meskipun ada tekanan dari imbal hasil Treasury yang lebih tinggi, pasar emas tetap memiliki daya tarik tersendiri sebagai alat lindung nilai terhadap inflasi dan ketidakpastian ekonomi. Bagi investor yang berfokus pada jangka panjang, emas tetap dianggap sebagai aset yang aman dalam situasi ketidakpastian global.

Menunggu Risalah FOMC: Apa yang Diharapkan oleh Pelaku Pasar?

Sementara data tenaga kerja dan imbal hasil Treasury memberikan gambaran yang jelas tentang sentimen pasar saat ini, pelaku pasar tetap berhati-hati menjelang rilis risalah pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) yang akan diumumkan hari ini. Risalah tersebut diharapkan memberikan wawasan lebih lanjut tentang arah kebijakan moneter Fed di masa depan, khususnya mengenai suku bunga dan kebijakan pengendalian inflasi.

Kamran mengingatkan bahwa meskipun banyak ekspektasi pasar yang mengarah pada kemungkinan penurunan suku bunga, risalah FOMC dapat memberikan informasi penting mengenai sikap para pembuat kebijakan Fed terhadap ekonomi AS dan langkah-langkah yang akan diambil dalam beberapa bulan ke depan. Oleh karena itu, risalah ini akan menjadi salah satu faktor yang akan mempengaruhi pergerakan harga emas ke depan.

Pergerakan Harga Emas pada Sesi Asia

Pada sesi perdagangan Asia, harga emas spot tercatat turun 0,1% menjadi $3.297,76 per ounce. Meskipun penurunan ini relatif kecil, hal ini mencerminkan kecenderungan pasar yang lebih luas yang masih dibebani oleh kekuatan imbal hasil Treasury dan kebijakan suku bunga yang lebih ketat dari Fed. Tren ini memperlihatkan bahwa meskipun ada ketidakpastian global dan inflasi yang tinggi, emas belum bisa memperoleh kembali daya tariknya secara signifikan sebagai aset yang memberikan perlindungan nilai.

Prospek Ke Depan: Apakah Emas Akan Kembali Menguat?

Meskipun harga emas menghadapi tekanan saat ini, beberapa faktor dapat mempengaruhi prospek harga emas dalam beberapa minggu ke depan. Berikut adalah beberapa faktor yang perlu diperhatikan oleh para investor:

  1. Kebijakan Suku Bunga Fed: Jika Fed memutuskan untuk memperlambat laju kenaikan suku bunga atau bahkan mulai menurunkannya, harga emas dapat kembali menguat. Penurunan suku bunga akan mengurangi daya tarik obligasi AS, yang akan meningkatkan permintaan terhadap emas sebagai aset safe haven.

  2. Ketidakpastian Ekonomi Global: Ketegangan geopolitik, krisis energi, dan potensi resesi global dapat memperkuat daya tarik emas sebagai alat lindung nilai. Jika kondisi ekonomi global memburuk, emas cenderung mendapatkan dukungan dari investor yang mencari tempat yang lebih aman untuk menyimpan kekayaan mereka.

  3. Inflasi yang Berkelanjutan: Meskipun inflasi di AS mulai menunjukkan tanda-tanda pelonggaran, inflasi global tetap menjadi kekhawatiran. Emas dikenal sebagai aset yang dapat melindungi nilai terhadap inflasi, dan dalam kondisi ini, harga emas bisa naik meskipun suku bunga tetap tinggi.

  4. Fluktuasi Dolar AS: Pergerakan dolar AS juga sangat mempengaruhi harga emas. Jika dolar AS melemah, emas yang diperdagangkan dalam dolar cenderung menjadi lebih murah bagi pembeli asing, yang dapat meningkatkan permintaan dan mendorong harga naik.

Kesimpulan

Harga emas mengalami penurunan tipis pada sesi Asia dini hari ini, didorong oleh imbal hasil Treasury yang lebih tinggi dan data tenaga kerja AS yang lebih kuat dari perkiraan. Meskipun tekanan dari suku bunga yang lebih tinggi dapat membatasi potensi penguatan harga emas dalam waktu dekat, ketidakpastian ekonomi global dan potensi ketegangan geopolitik dapat tetap memberikan dukungan bagi permintaan emas sebagai aset perlindungan nilai.

Pelaku pasar akan terus memperhatikan perkembangan kebijakan moneter The Federal Reserve, terutama risalah FOMC yang akan dirilis hari ini, untuk mendapatkan petunjuk lebih lanjut mengenai arah kebijakan suku bunga dan dampaknya terhadap pasar emas. Dengan berbagai faktor yang saling berinteraksi, prospek harga emas tetap bergantung pada bagaimana ekonomi global dan kebijakan Fed berkembang dalam beberapa bulan ke depan.


Jangan lupa jelajahi website kami di demo bestprofit dan temukan beragam informasi menarik yang siap menginspirasi dan memberikan pengetahuan baru! Ayo, kunjungi sekarang untuk pengalaman online yang menyenangkan!


bestprofit futures 

Monday, 7 July 2025

Bestprofit | Tarif Trump Naik, Emas Tetap Stabil

 https://best-profit-futures-malang.com/wp-content/uploads/2023/08/Bestprofit-Emas-3.jpeg

Bestprofit (8/7) – Harga emas bergerak stabil pada perdagangan Selasa (8/7), setelah sempat membalikkan kerugian tajam yang dialaminya di sesi sebelumnya. Kestabilan harga logam mulia ini terjadi di tengah meningkatnya ketegangan dagang global, menyusul keputusan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, untuk memberlakukan tarif baru sebesar 25% terhadap Jepang dan Korea Selatan.

Langkah proteksionis ini menimbulkan kegelisahan di pasar, mendorong investor kembali pada aset safe haven seperti emas. Meski penguatan dolar AS sempat menekan harga, kekhawatiran akan perlambatan ekonomi global akibat kebijakan perdagangan agresif Amerika membuat emas tetap menjadi pilihan utama.

Kebijakan Tarif Baru Trump: Apa yang Terjadi?

Pada hari Senin (7/7), Presiden Trump mengumumkan rencana untuk mengenakan tarif sebesar 25% terhadap sejumlah barang impor dari Jepang dan Korea Selatan. Langkah ini merupakan bagian dari strategi Trump untuk mengurangi defisit perdagangan AS dan memaksa mitra dagangnya agar membuka pasar mereka secara lebih adil terhadap produk-produk AS.

Tarif ini dijadwalkan mulai berlaku pada 1 Agustus, memberikan waktu tiga minggu kepada negara-negara terkait untuk melakukan negosiasi atau mencari solusi alternatif. Trump juga mengisyaratkan bahwa tarif tambahan terhadap negara-negara mitra dagang lainnya bisa segera diumumkan, meningkatkan ketidakpastian global.


Kunjungi juga : bestprofit futures

Mengapa Ketegangan Dagang Menguntungkan Emas?

Secara historis, emas dipandang sebagai aset perlindungan nilai (safe haven) yang diminati saat terjadi ketidakpastian politik atau ekonomi. Ketika gejolak global meningkat—baik dalam bentuk perang dagang, konflik geopolitik, atau risiko resesi—investor cenderung mengalihkan dana dari aset berisiko seperti saham ke logam mulia.

Pengumuman tarif oleh Trump langsung menimbulkan keresahan di pasar keuangan global. Potensi terganggunya arus perdagangan internasional dan kemungkinan terhambatnya pertumbuhan ekonomi dunia membuat investor lebih waspada. Dalam kondisi seperti ini, permintaan terhadap emas cenderung naik.

Meskipun harga emas sempat turun hingga 1,2% di awal pekan karena penguatan dolar AS, logam mulia tersebut akhirnya kembali stabil di kisaran $3.337,30 per ons pada pukul 07:15 waktu Singapura, menunjukkan adanya permintaan kuat yang mendasari pasar.

Dolar AS yang Kuat: Pedang Bermata Dua

Salah satu faktor yang turut memengaruhi harga emas adalah pergerakan dolar AS. Karena emas diperdagangkan dalam mata uang dolar, penguatan dolar biasanya membuat emas lebih mahal bagi pembeli dari luar Amerika Serikat. Hal ini cenderung menurunkan permintaan dan menekan harga.

Indeks Bloomberg Dollar Spot naik 0,5% pada hari Senin, mencerminkan sentimen positif terhadap dolar setelah pengumuman kebijakan tarif. Namun, pada Selasa, indeks tersebut kembali melemah 0,1%, menandakan adanya volatilitas tinggi di pasar mata uang.

Kondisi ini menunjukkan dinamika yang rumit antara kekuatan dolar dan harga emas. Meskipun penguatan dolar menekan harga emas, kekhawatiran ekonomi global justru meningkatkan daya tarik emas sebagai aset lindung nilai, menciptakan semacam tarik-ulur dalam pergerakan harga.

Dampak pada Logam Mulia Lainnya

Selain emas, logam mulia lain juga merespons situasi pasar yang tidak menentu. Perak dan paladium dilaporkan bergerak stabil sepanjang sesi perdagangan, mencerminkan pola yang serupa dengan emas. Namun, platinum justru mengalami penurunan tipis akibat prospek permintaan industri yang melemah.

Paladium, yang banyak digunakan dalam industri otomotif, masih bertahan berkat ekspektasi pasokan yang ketat, meskipun sektor otomotif juga rentan terhadap ketegangan dagang. Di sisi lain, platinum yang lebih bergantung pada permintaan industri mengalami tekanan karena risiko perlambatan ekonomi global meningkat.

Kondisi ini mencerminkan sensitivitas yang tinggi dari pasar logam mulia terhadap isu-isu ekonomi makro dan perdagangan internasional.

Reaksi Pasar Global: Ketidakpastian Masih Membayangi

Selain pasar logam mulia, ketegangan tarif juga berdampak pada indeks saham dan obligasi global. Investor institusional menunjukkan kecenderungan untuk mengalihkan dana dari aset berisiko ke instrumen yang dianggap lebih aman, seperti emas dan obligasi pemerintah AS.

Pasar saham di Asia dan Eropa mencatat pelemahan, sementara imbal hasil obligasi turun, mencerminkan peningkatan permintaan atas instrumen dengan risiko rendah. Dalam jangka pendek, volatilitas ini kemungkinan akan terus berlangsung, terutama jika negara-negara seperti Jepang dan Korea Selatan gagal mencapai kesepakatan dengan AS sebelum batas waktu yang ditetapkan.

Apa Artinya Bagi Investor?

Bagi investor ritel maupun institusional, stabilitas harga emas di tengah gejolak global ini bisa menjadi sinyal penting. Aset safe haven seperti emas menjadi alat diversifikasi yang andal dalam kondisi tidak pasti. Emas tidak hanya melindungi nilai kekayaan terhadap inflasi dan depresiasi mata uang, tetapi juga dapat berfungsi sebagai lindung nilai terhadap ketegangan geopolitik.

Namun, investor juga harus mewaspadai risiko dari penguatan dolar AS dan potensi perubahan kebijakan suku bunga oleh bank sentral, terutama The Federal Reserve. Kedua faktor tersebut dapat menekan harga emas meskipun permintaan safe haven meningkat.

Prospek Harga Emas ke Depan

Dengan latar belakang kebijakan dagang AS yang masih berubah-ubah dan ketegangan geopolitik yang belum mereda, harga emas diperkirakan tetap mendapat dukungan dalam waktu dekat. Namun, pergerakannya kemungkinan akan tetap volatil, tergantung pada arah kebijakan AS, respons negara-negara mitra dagang, serta dinamika pasar mata uang.

Jika ketegangan tarif semakin memanas, bukan tidak mungkin harga emas bisa menembus level resistance berikutnya. Sebaliknya, jika terjadi kesepakatan dagang yang meredakan kekhawatiran pasar, harga emas bisa mengalami koreksi singkat.

Kesimpulan

Stabilitas harga emas pada perdagangan Selasa mencerminkan peran penting logam mulia ini sebagai pelindung nilai di tengah ketidakpastian global. Keputusan Presiden Trump untuk mengenakan tarif baru terhadap Jepang dan Korea Selatan telah memicu kekhawatiran akan dampak jangka panjang terhadap ekonomi global, mendorong investor untuk kembali pada aset aman.

Meskipun penguatan dolar AS membatasi kenaikan harga emas, sentimen pasar tetap cenderung mendukung logam mulia dalam jangka pendek. Bagi investor, situasi ini menjadi momentum untuk mengevaluasi strategi investasi mereka, terutama dalam menghadapi risiko geopolitik dan makroekonomi yang tinggi.


Jangan lupa jelajahi website kami di demo bestprofit dan temukan beragam informasi menarik yang siap menginspirasi dan memberikan pengetahuan baru! Ayo, kunjungi sekarang untuk pengalaman online yang menyenangkan!


bestprofit futures
 

Sunday, 6 July 2025

Bestprofit | Perang Tarif Dorong Emas

 https://best-profit-futures-malang.com/wp-content/uploads/2024/07/c1_20240630_04500512-768x383-1.jpeg

Bestprofit (7/7) – Harga emas melanjutkan tren kenaikannya pada hari Jumat, 4 Juli 2025, di tengah sentimen pasar yang terdorong oleh melemahnya Dolar AS serta meningkatnya ketegangan perdagangan global. Dalam kondisi likuiditas yang tipis akibat penutupan pasar AS untuk memperingati Hari Kemerdekaan, logam mulia ini tetap menunjukkan performa yang kuat dan siap mencetak keuntungan mingguan lebih dari 1,50%.

Emas Menanjak ke Level $3.333

XAU/USD tercatat diperdagangkan pada level $3.333 per ons troy, naik 0,26% pada hari Jumat. Kenaikan ini mencerminkan meningkatnya permintaan terhadap aset aman (safe haven) di tengah kekhawatiran geopolitik dan ketidakpastian ekonomi global. Kinerja emas selama sepekan juga menunjukkan tren positif, sebagian besar karena tekanan pada Dolar AS serta meningkatnya kekhawatiran akan kebijakan tarif baru yang diluncurkan oleh pemerintah Amerika Serikat.

Dampak Melemahnya Dolar AS

Dolar AS mengalami pelemahan yang signifikan selama minggu pertama bulan Juli. Faktor utamanya adalah ekspektasi pasar bahwa Federal Reserve (The Fed) akan mempertahankan suku bunga dalam waktu dekat, seiring dengan data ekonomi AS yang menunjukkan perlambatan di sektor swasta. Likuiditas pasar yang tipis karena libur nasional di AS turut memperbesar fluktuasi nilai tukar dan memperkuat daya tarik emas sebagai aset lindung nilai terhadap depresiasi mata uang.

Melemahnya dolar membuat emas menjadi lebih murah bagi pemegang mata uang lain, sehingga meningkatkan permintaan global. Hal ini juga mencerminkan pergeseran sentimen investor dari aset berisiko tinggi ke aset yang lebih aman.


Kunjungi juga : bestprofit futures

Ketegangan Perdagangan Dorong Permintaan Safe Haven

Salah satu pendorong utama lonjakan harga emas adalah eskalasi kecil dalam perang dagang yang kembali mencuat. Presiden AS Donald Trump mengumumkan bahwa pada hari Jumat, 4 Juli, pemerintahnya mulai mengirimkan pemberitahuan ke sekitar 100 negara terkait kebijakan tarif baru. Trump menyebutkan bahwa tarif tersebut akan berada dalam kisaran 10% hingga 70% dan mulai diberlakukan pada 1 Agustus 2025.

Langkah ini dianggap sebagai respons terhadap ketidakseimbangan perdagangan global dan bertujuan mendorong perundingan bilateral untuk mencapai kesepakatan dagang yang lebih adil. Namun, kebijakan ini juga meningkatkan ketegangan antara negara-negara dan menimbulkan kekhawatiran akan terhambatnya arus perdagangan internasional.

Menteri Keuangan AS Scott Bessent menyatakan bahwa pihaknya mengharapkan serangkaian kesepakatan perdagangan baru dapat dicapai sebelum batas waktu 9 Juli. Ia memperkirakan bahwa tarif minimum 10% akan dikenakan terhadap lebih dari 100 negara dan menambahkan bahwa pengumuman beberapa kesepakatan akan segera dilakukan. Ketidakpastian ini mendorong investor untuk melirik emas sebagai instrumen lindung nilai terhadap risiko geopolitik dan inflasi.

The Fed Kemungkinan Pertahankan Suku Bunga

Salah satu faktor yang membatasi reli harga emas adalah prospek kebijakan moneter dari The Fed. Data ketenagakerjaan AS yang dirilis Kamis lalu menunjukkan angka yang cukup solid, meskipun sebagian besar pertumbuhan pekerjaan berasal dari sektor pemerintah. Perekrutan di sektor swasta tercatat sebagai yang terendah dalam delapan bulan terakhir.

Kondisi ini memunculkan dugaan bahwa sektor swasta mulai berhati-hati dalam merekrut tenaga kerja, mengantisipasi potensi perlambatan ekonomi. Meskipun begitu, kekuatan pasar tenaga kerja secara keseluruhan mengurangi urgensi bagi The Fed untuk segera menurunkan suku bunga, namun juga memperkuat pandangan bahwa bank sentral tidak akan menaikkan suku bunga dalam waktu dekat.

Stabilnya ekspektasi terhadap suku bunga turut memperkuat daya tarik emas, yang cenderung berkinerja lebih baik saat suku bunga rendah karena tidak menghasilkan imbal hasil (yield) seperti obligasi.

Ketegangan Geopolitik Rusia-Ukraina Kembali Meningkat

Dalam lanskap geopolitik, Presiden Donald Trump menyebutkan bahwa ia telah melakukan komunikasi dengan Presiden Rusia Vladimir Putin. Menurut Trump, tidak ada perkembangan signifikan terkait konflik Rusia-Ukraina. Di sisi lain, Trump juga menyampaikan kepada Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky bahwa AS siap memberikan bantuan untuk pertahanan udara Ukraina sebagai respons terhadap serangan yang terus dilancarkan oleh Rusia.

Ketegangan di kawasan Eropa Timur ini kembali membayangi pasar global. Konflik yang berkepanjangan meningkatkan ketidakpastian politik dan ekonomi, memperkuat posisi emas sebagai aset lindung nilai jangka panjang.

Agenda Ekonomi AS Minggu Depan

Minggu depan, kalender ekonomi AS cenderung ringan. Fokus investor akan tertuju pada risalah rapat Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) yang akan memberikan petunjuk lebih lanjut mengenai arah kebijakan moneter bank sentral AS. Selain itu, data Klaim Pengangguran Awal untuk pekan yang berakhir pada 5 Juli juga akan diperhatikan sebagai indikator terbaru kondisi pasar tenaga kerja.

Pidato dari sejumlah pejabat The Fed juga dijadwalkan dan berpotensi memberikan wawasan mengenai pandangan internal bank sentral terhadap inflasi, pertumbuhan ekonomi, dan kebijakan suku bunga ke depan.

Prospek Jangka Pendek Harga Emas

Dengan berbagai ketidakpastian global yang membayangi—mulai dari perang dagang, konflik geopolitik, hingga perlambatan ekonomi—harga emas diperkirakan masih memiliki ruang untuk bergerak naik. Melemahnya dolar, potensi stimulus fiskal baru, serta kebijakan suku bunga The Fed yang akomodatif menjadi faktor utama yang mendukung tren kenaikan harga logam mulia ini.

Namun demikian, pergerakan harga emas tetap akan bergantung pada data ekonomi dan kebijakan moneter selanjutnya. Jika data tenaga kerja dan inflasi AS menunjukkan penguatan yang konsisten, potensi koreksi harga emas tidak bisa diabaikan.

Kesimpulan

Harga emas telah membukukan kinerja yang impresif pada pekan pertama Juli 2025, mencerminkan kekhawatiran pasar terhadap stabilitas ekonomi global dan ketegangan geopolitik. Kenaikan ini dipicu oleh kombinasi faktor: pelemahan Dolar AS, potensi tarif perdagangan baru, serta kekhawatiran atas ketegangan antara Rusia dan Ukraina.

Dengan latar belakang yang penuh ketidakpastian ini, investor global kemungkinan besar akan terus menjadikan emas sebagai aset lindung nilai yang andal. Sementara itu, perhatian pasar akan tertuju pada risalah FOMC dan data ketenagakerjaan AS minggu depan, yang bisa menjadi kunci untuk menentukan arah selanjutnya harga emas di pasar global.

 
Jangan lupa jelajahi website kami di demo bestprofit dan temukan beragam informasi menarik yang siap menginspirasi dan memberikan pengetahuan baru! Ayo, kunjungi sekarang untuk pengalaman online yang menyenangkan!


bestprofit futures
 

Thursday, 3 July 2025

Bestprofit | Emas Menguat di Tengah Defisit AS

 https://best-profit-futures-malang.com/wp-content/uploads/2023/08/Bestprofit-Emas-13.jpg

Bestprofit (4/7) – Harga emas mengalami kenaikan tipis pada sesi awal perdagangan Asia, Jumat pagi (4/7), di tengah meningkatnya kecemasan pasar atas defisit fiskal Amerika Serikat yang terus melebar. Para investor kembali memburu emas sebagai aset safe haven, mencerminkan kekhawatiran jangka panjang terhadap keberlanjutan kebijakan fiskal dan stabilitas keuangan negara adidaya tersebut.

Emas Menguat di Tengah Ketidakpastian

Hingga pukul 08.00 waktu Singapura, harga spot emas naik sebesar 0,2% ke level $3.330,85 per ons. Kenaikan ini terjadi setelah beberapa hari perdagangan yang relatif stagnan, dan menjadi sinyal bahwa pasar masih waspada terhadap arah kebijakan ekonomi AS, terutama menyangkut pengeluaran pemerintah dan arah suku bunga di masa depan.

Kekhawatiran ini muncul setelah Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Amerika Serikat meloloskan Rancangan Undang-Undang (RUU) pajak dan belanja yang ambisius, yang diajukan oleh Presiden Donald Trump. RUU ini diperkirakan akan mendorong belanja pemerintah dalam jangka pendek, namun juga berpotensi memperlebar defisit anggaran secara signifikan dalam beberapa tahun ke depan.

Defisit Fiskal AS Jadi Sorotan Pasar

Menurut Paul Ashworth, kepala ekonom AS di lembaga riset Capital Economics, meskipun penerimaan negara akan meningkat dari kebijakan tarif dan potensi reformasi perpajakan, defisit anggaran tetap berada pada kisaran 6% dari Produk Domestik Bruto (PDB) selama beberapa tahun mendatang. Ini merupakan angka yang dinilai tidak berkelanjutan untuk jangka panjang.

“Utang pemerintah federal jelas berada di jalur yang tidak berkelanjutan,” ujar Ashworth. Ia menambahkan bahwa kenaikan utang dalam situasi ekonomi global yang tidak menentu akan meningkatkan risiko terhadap stabilitas fiskal AS dan memicu kekhawatiran akan kemungkinan krisis utang di masa depan.

Kondisi tersebut secara historis telah menjadi pemicu meningkatnya permintaan emas, karena logam mulia ini dianggap sebagai lindung nilai terhadap ketidakpastian dan penurunan nilai mata uang fiat.


Kunjungi juga : bestprofit futures

Emas Sebagai Safe Haven Kembali Dilirik

Dalam konteks pasar global yang penuh gejolak, emas kerap kali berperan sebagai “safe haven” atau aset perlindungan. Ketika investor merasa tidak yakin dengan kondisi ekonomi atau politik, mereka cenderung mengalihkan asetnya ke instrumen yang dianggap lebih aman seperti emas, obligasi pemerintah berkualitas tinggi, atau mata uang kuat seperti franc Swiss.

Kekhawatiran terhadap arah kebijakan fiskal AS saat ini menambah tekanan psikologis bagi pelaku pasar. Selain itu, prospek pelonggaran kebijakan moneter oleh bank sentral AS (Federal Reserve) juga memberi dukungan tambahan bagi harga emas. Suku bunga yang rendah biasanya membuat emas lebih menarik karena menurunkan opportunity cost dalam memegang aset yang tidak menghasilkan bunga seperti emas.

Dampak Kebijakan Trump terhadap Stabilitas Ekonomi

RUU belanja dan pajak yang diajukan Presiden Trump adalah bagian dari upaya untuk mendorong pertumbuhan ekonomi domestik melalui investasi infrastruktur dan pemotongan pajak korporasi. Namun, kebijakan ini datang dengan harga yang mahal—yakni peningkatan drastis dalam belanja negara dan, secara otomatis, peningkatan utang nasional.

Analis memperingatkan bahwa langkah ini bisa bersifat kontraproduktif dalam jangka panjang. Jika pasar mulai mempertanyakan kemampuan pemerintah AS untuk mengelola utang dan membayar bunga obligasi, hal ini dapat mengganggu kepercayaan investor terhadap pasar keuangan AS secara keseluruhan.

Kondisi seperti ini sangat mungkin mendorong lonjakan permintaan atas emas dan aset-aset safe haven lainnya.

Pasar Masih Waspada, Volatilitas Bisa Meningkat

Kenaikan harga emas sebesar 0,2% pagi ini mungkin tampak kecil, namun itu adalah refleksi dari kehati-hatian pasar dalam menghadapi ketidakpastian kebijakan ekonomi AS. Seiring berjalannya waktu, jika defisit fiskal terus membengkak dan pasar obligasi mulai menunjukkan tekanan, harga emas berpotensi melonjak lebih tinggi.

Volatilitas pasar kemungkinan akan meningkat, terutama jika data ekonomi menunjukkan perlambatan atau jika Federal Reserve mengubah arah kebijakan moneternya. Dalam skenario seperti itu, logam mulia biasanya mendapatkan momentum lebih lanjut.

Dampak Global: Dolar AS, Inflasi, dan Pasar Berkembang

Meningkatnya defisit fiskal AS juga dapat berdampak pada kekuatan dolar AS dan tekanan inflasi. Jika pasar kehilangan kepercayaan terhadap pengelolaan fiskal AS, dolar berisiko melemah. Dolar yang lebih lemah biasanya mendukung harga emas, karena emas diperdagangkan dalam mata uang tersebut.

Selain itu, meningkatnya defisit dan potensi pembiayaan yang tidak berkelanjutan dapat menyebabkan peningkatan imbal hasil obligasi pemerintah, yang dalam jangka panjang bisa memicu kenaikan biaya pinjaman global dan memperburuk tekanan ekonomi di negara-negara berkembang yang memiliki utang dalam dolar.

Prospek Emas dalam Jangka Menengah hingga Panjang

Melihat ke depan, prospek harga emas masih cukup positif. Dengan latar belakang ketidakpastian fiskal AS, kemungkinan pelonggaran moneter lebih lanjut, dan ketegangan geopolitik di berbagai belahan dunia, permintaan terhadap emas cenderung akan tetap tinggi.

Investor institusi dan individu kemungkinan besar akan terus menempatkan sebagian portofolionya dalam logam mulia, baik melalui pembelian fisik maupun instrumen keuangan seperti ETF berbasis emas.

Namun, para analis juga mengingatkan bahwa harga emas tetap rentan terhadap pergerakan jangka pendek yang dipicu oleh data ekonomi, arah suku bunga, serta perkembangan geopolitik.

Kesimpulan: Emas Tetap Jadi Pilihan di Tengah Ketidakpastian

Kenaikan tipis harga emas pada Jumat pagi (4/7) mencerminkan sentimen kehati-hatian pasar terhadap masa depan fiskal Amerika Serikat. Dengan defisit anggaran yang diperkirakan akan terus meningkat dalam beberapa tahun ke depan, emas kembali menjadi pilihan utama investor untuk melindungi nilai kekayaannya.

Meskipun hanya naik 0,2%, tren ini bisa menjadi awal dari pergerakan yang lebih besar jika ketidakpastian terus berlanjut. Dalam iklim ekonomi global yang dipenuhi risiko dan gejolak, emas tetap mempertahankan posisinya sebagai aset pelindung nilai yang terpercaya.


Jangan lupa jelajahi website kami di demo bestprofit dan temukan beragam informasi menarik yang siap menginspirasi dan memberikan pengetahuan baru! Ayo, kunjungi sekarang untuk pengalaman online yang menyenangkan!
 

bestprofit futures
 

Wednesday, 2 July 2025

Bestprofit | Emas Naik Tipis, Ketegangan Meningkat

 https://best-profit-futures-malang.com/wp-content/uploads/2023/08/Bestprofit-Emas-4.jpg

Bestprofit (3/7) – Harga emas (XAU/USD) mengalami kenaikan yang berhati-hati selama sesi perdagangan Amerika Utara, saat para pelaku pasar menantikan rilis data tenaga kerja Nonfarm Payrolls (NFP) dari Amerika Serikat. Laporan ini dipandang sebagai indikator penting untuk arah kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed). Hingga saat penulisan, harga emas tercatat naik 0,29% dan diperdagangkan di level $3.348 per troy ounce.

Antisipasi Data Nonfarm Payrolls

Para pedagang saat ini sangat menantikan laporan pekerjaan Nonfarm Payrolls yang akan dirilis oleh Biro Statistik Tenaga Kerja AS pada Kamis mendatang. Data ini menjadi krusial karena memberikan gambaran nyata mengenai kondisi pasar tenaga kerja, yang merupakan salah satu fokus utama The Fed dalam menentukan arah suku bunga.

Ekonom memperkirakan bahwa ekonomi AS akan menambahkan sekitar 110.000 pekerjaan selama bulan sebelumnya, lebih rendah dibandingkan dengan 139.000 pekerjaan yang tercipta pada bulan Mei. Selain itu, tingkat pengangguran diperkirakan meningkat tipis dari 4,2% menjadi 4,3%. Meskipun demikian, proyeksi ini masih berada dalam batas toleransi The Fed yang menetapkan target pengangguran sebesar 4,4% dalam Ringkasan Proyeksi Ekonominya.

Sinyal Lemah dari Data ADP dan PHK Microsoft

Sentimen pasar juga dipengaruhi oleh laporan ketenagakerjaan ADP yang menunjukkan bahwa perusahaan-perusahaan di AS mulai menghentikan perekrutan. Laporan ini tidak hanya menunjukkan pelemahan pada sektor tenaga kerja, tetapi juga mencerminkan kehati-hatian pelaku usaha dalam menghadapi kondisi ekonomi yang tidak menentu.

Salah satu contoh terbaru datang dari raksasa teknologi Microsoft, yang memangkas 9.000 pekerja sebagai bagian dari upaya efisiensi dan restrukturisasi bisnis. Langkah ini menandai prospek yang semakin suram bagi pasar tenaga kerja AS dan memperkuat ekspektasi bahwa The Fed mungkin akan mempertimbangkan untuk menahan atau bahkan menurunkan suku bunga dalam waktu dekat.


Kunjungi juga : bestprofit futures

Pengaruh Geopolitik Terhadap Harga Emas

Emas, yang sering dianggap sebagai aset safe haven, biasanya mengalami lonjakan ketika ketidakpastian geopolitik meningkat. Namun, dalam beberapa hari terakhir, ketegangan geopolitik justru mulai mereda, terutama di Timur Tengah.

Berita tentang kemungkinan gencatan senjata selama 60 hari antara Israel dan Gaza, serta perjanjian gencatan senjata antara Israel dan Iran, memberikan angin segar bagi kestabilan global. Meredanya risiko geopolitik ini membatasi kenaikan harga emas dan membuat logam mulia tersebut goyah dalam upayanya untuk menembus kembali level psikologis $3.400.

Fokus Pasar Beralih ke Perdagangan Internasional

Selain data ketenagakerjaan dan geopolitik, pasar juga mengalihkan perhatian mereka pada isu perdagangan internasional, khususnya hubungan dagang antara Amerika Serikat dan negara-negara tetangganya. Presiden AS Donald Trump menegaskan bahwa ia tidak akan memperpanjang tenggat waktu 9 Juli untuk menyelesaikan perundingan, yang dapat menyebabkan penerapan tarif yang lebih tinggi.

Ketidakpastian mengenai kelanjutan kesepakatan perdagangan ini dapat menjadi sumber volatilitas tambahan bagi pasar logam mulia. Jika negosiasi berakhir tanpa kesepakatan, risiko ekonomi meningkat, yang bisa mendorong investor kembali ke aset safe haven seperti emas.

Kalender Ekonomi yang Padat di Minggu Pendek

Minggu ini merupakan minggu perdagangan yang lebih pendek karena Hari Kemerdekaan AS jatuh pada tanggal 4 Juli. Meskipun demikian, sejumlah data penting tetap akan dirilis, termasuk Klaim Pengangguran Awal dan tentu saja, laporan Nonfarm Payrolls pada Kamis.

Klaim pengangguran awal akan menjadi indikator awal dari kekuatan pasar tenaga kerja. Jika angka klaim menunjukkan lonjakan, maka tekanan terhadap The Fed untuk segera melakukan pelonggaran kebijakan moneter akan meningkat. Hal ini bisa menjadi katalis positif bagi harga emas.

Ekspektasi Terhadap The Fed

Pasar saat ini berada dalam ketidakpastian mengenai langkah The Fed selanjutnya. Dengan inflasi yang masih belum sepenuhnya terkendali namun kondisi pasar tenaga kerja mulai menunjukkan pelemahan, bank sentral AS menghadapi dilema kebijakan yang sulit.

Jika laporan NFP menunjukkan pelemahan signifikan dalam penciptaan lapangan kerja atau lonjakan dalam tingkat pengangguran, maka ekspektasi terhadap penurunan suku bunga pada akhir tahun akan semakin menguat. Emas, yang tidak menghasilkan bunga, akan diuntungkan dalam skenario suku bunga rendah karena menjadi lebih menarik dibandingkan aset berbunga.

Outlook Harga Emas Jangka Pendek

Secara teknikal, harga emas saat ini menghadapi resistensi kuat di sekitar level $3.400. Kenaikan saat ini mencerminkan pasar yang masih hati-hati, menunggu kepastian dari data ekonomi yang akan datang. Jika data NFP lemah dan memicu ekspektasi pelonggaran moneter, maka emas bisa dengan cepat menembus level tersebut dan berpotensi menguji zona $3.450.

Namun, jika data ternyata lebih kuat dari ekspektasi, maka dolar AS kemungkinan akan menguat dan menekan harga emas kembali ke bawah $3.300.

Kesimpulan: Hati-Hati Tapi Optimis

Harga emas menunjukkan kenaikan yang hati-hati menjelang rilis data Nonfarm Payrolls AS, mencerminkan suasana pasar yang waspada namun tetap optimis terhadap potensi pelonggaran kebijakan moneter. Dengan berbagai faktor yang memengaruhi pergerakan harga—mulai dari data ketenagakerjaan, tensi geopolitik yang menurun, hingga kebijakan perdagangan—emas tetap menjadi instrumen investasi yang menarik di tengah ketidakpastian ekonomi global.

Investor disarankan untuk terus memantau rilis data ekonomi utama dan pernyataan dari pejabat The Fed dalam beberapa minggu ke depan, karena hal-hal ini akan sangat memengaruhi arah pasar emas.


Jangan lupa jelajahi website kami di demo bestprofit dan temukan beragam informasi menarik yang siap menginspirasi dan memberikan pengetahuan baru! Ayo, kunjungi sekarang untuk pengalaman online yang menyenangkan!


bestprofit futures
 

Tuesday, 1 July 2025

Bestprofit | RUU Trump Picu Lonjakan Emas

 https://best-profit-futures-malang.com/wp-content/uploads/2023/08/Bestprofit-Emas-2.jpg

Bestprofit (2/7) – Harga emas mengalami lonjakan signifikan pada hari Selasa (2 Juli), naik lebih dari 1%, didorong oleh kekhawatiran investor terhadap ketidakpastian ekonomi dan politik yang meningkat di Amerika Serikat. Kenaikan ini terjadi menyusul pengesahan Rancangan Undang-Undang (RUU) besar yang diajukan oleh Presiden Donald Trump dan mendekatnya tenggat waktu tarif perdagangan baru pada 9 Juli.

Lonjakan Harga Emas Spot dan Berjangka

Harga emas spot tercatat naik sebesar 1,1% menjadi $3.338,24 per ons pada pukul 14.25 EDT (18.25 GMT). Ini merupakan level tertinggi yang dicapai sejak 24 Juni lalu. Sementara itu, harga emas berjangka AS juga mencatat kenaikan sebesar 1,3% dan ditutup pada $3.349,8 per ons. Lonjakan harga ini mencerminkan kekhawatiran investor terhadap kondisi makroekonomi dan kebijakan fiskal yang akan datang.

Menurut analis dari Marex, Edward Meir, RUU tersebut akan berkontribusi pada peningkatan defisit sebesar $3 triliun selama dekade mendatang. “Hal ini sampai batas tertentu bersifat inflasioner, dan yang lebih penting, hal ini akan meningkatkan beban utang yang harus kita bayar dengan lebih banyak pembiayaan, lebih banyak pinjaman, dan semua hal ini konstruktif untuk pasar emas yang lebih kuat,” kata Meir.

RUU yang dianggap akan memicu inflasi ini membuat investor berbondong-bondong ke aset-aset safe haven seperti emas, yang secara historis dianggap sebagai penyimpan nilai yang andal saat ketidakpastian meningkat.


Kunjungi juga : bestprofit futures

Ancaman Tarif Perdagangan Baru Bayangi Pasar

Ketidakpastian semakin meningkat menjelang tenggat waktu perdagangan pada 9 Juli, ketika tarif impor AS dijadwalkan untuk kembali ke tingkat semula setelah sempat ditangguhkan. Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengingatkan bahwa negara-negara mitra dagang bisa saja menghadapi tarif yang jauh lebih tinggi, bahkan jika negosiasi berlangsung dengan itikad baik.

Tarif yang sebelumnya ditangguhkan oleh Trump dari kisaran 11% hingga 50% akan kembali berlaku kecuali ada intervensi kebijakan baru. Prospek tarif yang lebih tinggi dapat merugikan perdagangan global dan memperburuk kondisi ekonomi, yang pada gilirannya membuat investor semakin tertarik pada emas sebagai alat lindung nilai.

Emas Sebagai Lindung Nilai dalam Ketidakpastian

Kenaikan harga emas yang tajam ini juga mencerminkan peran tradisional logam mulia tersebut sebagai lindung nilai terhadap ketidakstabilan politik dan ekonomi. Dalam situasi seperti saat ini—ketika kombinasi antara defisit anggaran yang membengkak, potensi inflasi, dan ketidakpastian tarif menjadi nyata—emas menjadi pilihan utama para investor untuk menjaga nilai portofolio mereka.

“Emas cenderung bersinar ketika dunia tampak tidak stabil. Dengan defisit besar di depan mata dan risiko geopolitik yang meningkat, tidak heran jika emas kembali diminati,” ujar Rhona O’Connell, Kepala Analis Pasar EMEA & Asia dari StoneX.

Fokus Investor: Data Ekonomi AS dan Kebijakan The Fed

Selain perkembangan politik, investor juga mencermati data ekonomi AS, termasuk laporan ketenagakerjaan ADP yang dijadwalkan rilis pada hari Rabu, serta data penggajian (non-farm payroll) yang akan dirilis Kamis.

Ketua Federal Reserve Jerome Powell sebelumnya menyatakan bahwa inflasi tetap dalam jalur yang diharapkan, jika tarif tidak diperhitungkan. Namun, pasar saat ini mengantisipasi dua kali pemotongan suku bunga oleh The Fed sebesar total 50 basis poin pada tahun ini, dimulai pada bulan September.

Kebijakan suku bunga yang lebih rendah umumnya menguntungkan bagi harga emas, karena logam mulia ini tidak memberikan imbal hasil seperti obligasi. Dengan bunga yang rendah, biaya peluang memegang emas menjadi lebih rendah, sehingga permintaan meningkat.

Proyeksi Harga Emas ke Depan

Menurut O’Connell dari StoneX, harga emas kemungkinan akan mencapai rata-rata $3.000 per ons pada kuartal keempat tahun ini, dan mungkin bisa turun lebih rendah pada akhir tahun, tergantung pada perkembangan ekonomi global dan arah kebijakan The Fed.

Meskipun saat ini harga emas berada di atas $3.300 per ons, banyak analis percaya bahwa tren naik ini bisa berlanjut jika kondisi makroekonomi tetap tidak menentu. Namun, jika terdapat kepastian dalam kebijakan perdagangan dan fiskal, serta data inflasi dan pekerjaan tetap stabil, harga emas bisa mengalami koreksi.

Kinerja Logam Mulia Lainnya

Selain emas, logam mulia lainnya menunjukkan pergerakan yang beragam:

  • Harga perak spot naik tipis sebesar 0,1% menjadi $36,11 per ons.

  • Paladium relatif stabil di angka $1.097,16 per ons.

  • Platinum justru mengalami penurunan sebesar 0,7% menjadi $1.342,78 per ons.

Kinerja logam mulia lainnya cenderung mengikuti arah pergerakan emas, meskipun faktor penawaran dan permintaan industri juga memainkan peran penting, terutama pada logam seperti paladium dan platinum yang banyak digunakan di sektor otomotif.

Kesimpulan: Ketidakpastian Menjadi Katalis Emas

Kenaikan harga emas lebih dari 1% pada awal Juli ini merupakan cerminan dari meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap kondisi fiskal AS, ketidakpastian tarif perdagangan, dan arah kebijakan suku bunga. Investor global mencari tempat yang aman di tengah potensi guncangan ekonomi, dan emas tetap menjadi pilihan utama.

Dengan prospek defisit besar, kemungkinan inflasi, dan kebijakan moneter yang cenderung akomodatif, banyak analis memprediksi bahwa emas akan tetap berada di jalur bullish dalam jangka menengah. Namun, pergerakan harga emas ke depan akan sangat dipengaruhi oleh data ekonomi kunci dan sikap kebijakan dari Federal Reserve.

 
Jangan lupa jelajahi website kami di demo bestprofit dan temukan beragam informasi menarik yang siap menginspirasi dan memberikan pengetahuan baru! Ayo, kunjungi sekarang untuk pengalaman online yang menyenangkan!


bestprofit futures