BESTPROFIT FUTURES MALANG (12/1) - Sepanjang 2015, harga emas diprediksi anjlok hingga menyentuh US$ 1.000 per ounce. Itu lantaran penguatan dolar yang diprediksi akan terus menjadi tekanan bagi logam mulia tersebut.
Sebanyak tujuh dari 10 analis yang mengikuti Kitco Gold Survey juga memprediksi harga emas akan merosot hingga US$ 1.000 per ounce.
Mengutip laman International Business Times, Senin (12/1/2015), sebagian besar partisipan mengatakan, kemungkinan ambruknya harga emas juga disebabkan analisis pergerakannya belakangan ini. Logam mulia tersebut terus diperdagangkan di bawah rata-rata perdagangannya dalam 200 hari di level US$ 1.268 per ounce.
CEO US Global Investor Frank Holmes mengatakan prediksi ekonom Nouriel Roubini pada 2013 bahwa harga emas akan jatuh hingga US$ 1.000 per ounce sebelum akhir 2015 kemungkinan besar akan menjadi kenyataan. Sebabnya, harga emas kini berada di level yang rentan dan tingkat volatilitas yang cukup tinggi.
Dolar AS yang terus menguat akan menyebabkan tekanan berkelanjutan pada emas di 2015.
"Permintaan akan komoditas berdenominasi dolar seperti emas tampak melemah di tengah penguatan mata uang tersebut. Penguatan dolar membuat logam mulia tersebut menjadi lebih mahal bagi para investor di negata lain, mengurangi cahaya labanya," terang Holmes.
Namun Axel Merk dari Merk Investments mengatakan, satu-satunya skenario di mana prediksi Roubini menjadi kenyataan adalah saat para investor menjadi sangat cemas saat menghadapi The Fed yang tengah berencana menaikkan suku bunganya.
"Saya rasa, adalah Goldman Sachs yang dulu pernah mengatakan bahwa mereka merasa emas akan anjlok ke harga US$ 1.000 per ounce," ujarnya.
Dia menjelaskan, bahkan jika harga emas benar menyentuh level tersebut, kondisi itu tak akan bertahan lama.
Sumber : Liputan6
Sunday, 11 January 2015
IHSG Tertekan Rupiah dan Minyak Dunia
BESTPROFIT FUTURES MALANG (12/1) - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bakal cenderung melemah selama
sepekan. Minim sentimen positif membuat IHSG cenderung tak bertenaga.
Analis PT MNC Securities, Edwin Sebayang mengatakan ada dua faktor utama yang patut dicermati dan berpengaruh ke IHSG.
"Ada dua hal yakni pergerakan rupiah, lalu harga minyak bumi. Dua faktor perlu kita perhatikan," kata dia kepada Liputan6.com, Jakarta, Senin (12/1/2015).
Dia menerangkan, kondisi rupiah sampai saat ini belum stabil. Dia bilang, rupiah masih mudah melemah karena memang kondisi perekonomian RI belum membaik. Lalu harga minyak dunia jatuh akan menghantam sisi penerimaan negara dari ekpor migas.
"Kalau harga minyak US$40, US$ 45 pendapatan negara turun," papar Edwin.
Pada perdagangan saham pekan ini dia memprediksi IHSG ada pada level support 5.175 dan resistance pada level 5.250.
Senada, Analis PT Investa Saran Mandiri Hans Kwee mengatakan, IHSG cenderung melemah sepekan ke depan. Penyebabnya, para pemodal memanfaatkan aksi ambil untung dari penguatan pekan lalu.
Kemudian, indeks saham cenderung tertekan karena pelaku pasar sedang fokus pada pelaksanaan pemilihan umum (Pemilu) di Yunani. "Bisa menyebabkan krisis zona Eropa memburuk," ujar Hans.
Hans memprediksi IHSG berada pada level support 5.200-5.169 dan resistance pada 5.250-5.262. "Tapi IHSG masih berpeluang turun 5.113," ujar Hans.
Sumber : Liputan6
Analis PT MNC Securities, Edwin Sebayang mengatakan ada dua faktor utama yang patut dicermati dan berpengaruh ke IHSG.
"Ada dua hal yakni pergerakan rupiah, lalu harga minyak bumi. Dua faktor perlu kita perhatikan," kata dia kepada Liputan6.com, Jakarta, Senin (12/1/2015).
Dia menerangkan, kondisi rupiah sampai saat ini belum stabil. Dia bilang, rupiah masih mudah melemah karena memang kondisi perekonomian RI belum membaik. Lalu harga minyak dunia jatuh akan menghantam sisi penerimaan negara dari ekpor migas.
"Kalau harga minyak US$40, US$ 45 pendapatan negara turun," papar Edwin.
Pada perdagangan saham pekan ini dia memprediksi IHSG ada pada level support 5.175 dan resistance pada level 5.250.
Senada, Analis PT Investa Saran Mandiri Hans Kwee mengatakan, IHSG cenderung melemah sepekan ke depan. Penyebabnya, para pemodal memanfaatkan aksi ambil untung dari penguatan pekan lalu.
Kemudian, indeks saham cenderung tertekan karena pelaku pasar sedang fokus pada pelaksanaan pemilihan umum (Pemilu) di Yunani. "Bisa menyebabkan krisis zona Eropa memburuk," ujar Hans.
Hans memprediksi IHSG berada pada level support 5.200-5.169 dan resistance pada 5.250-5.262. "Tapi IHSG masih berpeluang turun 5.113," ujar Hans.
Sumber : Liputan6
Dolar Jatuh Terkait Penurunan Upah di AS
BESTPROFIT FUTURES MALANG (12/1) - Dolar memperpanjang penurunan,sementara Bursa Saham Australia dan minyak mentah menurun setelah secara mengejutkan upah di AS merosot yang membebani outlook suku bunga dan memicu kekhawatiran laju inflasi. Sementara itu, obligasi regional dan emas naik.
Dolar melemah sebesar 0.2% terhadap yen pukul 8:28 pagi ini waktu Tokyo dan euro menguat terhadap mata uang Australia dan Selandia Baru. Indeks S&P/ASX 200 Australia melemah 0.5%, sementara Kontrak Berjangka pada Indeks Standard & Poor 500 menguat 0.1% mengikuti pelemahan 0.8% pada Bursa Saham AS yang ditutup pada 9 Januari lalu. Minyak mentah di New York dan London memperpanjang penurunan setelah diakhir pekan lalu ditutup pada level terendahnya dalam 5 ½ tahun terakhir. Sementara imbal hasil obligasi Australia dan Selandia Baru dengan tenor 10 tahun turun 2 basis poin. Emas naik 0.3% pada di spot market kedua negara tersebut.
Penurunan tertajam pada pendapatan perjam di AS sejak mencapai rekornya pada 2006 silam telah membayangi kenaikan lebih besar dari yang diperkriakan sebelumnya mengenai payroll yang dirilis 9 Januari lalu dengan kekhwatiran bahwa penurunan ekonomi Eropa tidak dapat diatasi dengan menambah stimulus yang juga memicu permintaan akan aset safe haven. Bursa Saham AS dan Eropa memebrikan tekanan kepada penurunan ekuitas global, hal itu merupakan yang pertama kalinya dalam 3 hari terkahir. Sementara Australia hari ini dijadwalkan akan merilis data pembelian kartu dan kredit rumah.
Di lain pihak Federal Reserve menyepakati untuk tidak menaikkan suku bunga sebelum akhir April tahun ini, sedangkan beberapa anggota The Fed merasa khawatir laju inflasi masih dibawah target seiring dengan turunnya harga minyak mentah, menurut hasil pertemuan The Fed bulan Desember yang dirilis pekan lalu. (bgs)
Sumber : Bloomberg
Dolar melemah sebesar 0.2% terhadap yen pukul 8:28 pagi ini waktu Tokyo dan euro menguat terhadap mata uang Australia dan Selandia Baru. Indeks S&P/ASX 200 Australia melemah 0.5%, sementara Kontrak Berjangka pada Indeks Standard & Poor 500 menguat 0.1% mengikuti pelemahan 0.8% pada Bursa Saham AS yang ditutup pada 9 Januari lalu. Minyak mentah di New York dan London memperpanjang penurunan setelah diakhir pekan lalu ditutup pada level terendahnya dalam 5 ½ tahun terakhir. Sementara imbal hasil obligasi Australia dan Selandia Baru dengan tenor 10 tahun turun 2 basis poin. Emas naik 0.3% pada di spot market kedua negara tersebut.
Penurunan tertajam pada pendapatan perjam di AS sejak mencapai rekornya pada 2006 silam telah membayangi kenaikan lebih besar dari yang diperkriakan sebelumnya mengenai payroll yang dirilis 9 Januari lalu dengan kekhwatiran bahwa penurunan ekonomi Eropa tidak dapat diatasi dengan menambah stimulus yang juga memicu permintaan akan aset safe haven. Bursa Saham AS dan Eropa memebrikan tekanan kepada penurunan ekuitas global, hal itu merupakan yang pertama kalinya dalam 3 hari terkahir. Sementara Australia hari ini dijadwalkan akan merilis data pembelian kartu dan kredit rumah.
Di lain pihak Federal Reserve menyepakati untuk tidak menaikkan suku bunga sebelum akhir April tahun ini, sedangkan beberapa anggota The Fed merasa khawatir laju inflasi masih dibawah target seiring dengan turunnya harga minyak mentah, menurut hasil pertemuan The Fed bulan Desember yang dirilis pekan lalu. (bgs)
Sumber : Bloomberg
Thursday, 8 January 2015
Harga Minyak Terperosok ke Titik Terendah Sejak 2009
BESTPROFIT FUTURES MALANG (9/1) - Harga minyak tergelincir ke level terendah dalam lebih dari lima tahun merespons pernyataan analis yang memperkirakan membanjirnya pasokan minyak global bakal bertahan lebih dari semester I 2015.
Dilansir dari Bloomberg, Jumat (9/1/2015), harga minyak jenis Brent yang menjadi patokan harga internasional untuk pengiriman Februari turun US$ 19 sen menjadi US$ 50,96 per barel di London berbasis ICE Futures Europe exchange, atau berada pada level terendah sejak April 2009.
Berbeda dengan Brent, harga minyak West Texas Intermediate (WTI), yang jadi patokan minyak AS, untuk pengiriman Februari justru naik US$ 14 sen menjadi US$ 48,79 per barel di New York Mercantile Exchange.
Harga minyak telah turun lebih dari setengah sejak Juni akibat melonjaknya produksi di AS dan Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) memutuskan untuk mempertahankan kuota produksinya.
Arab Saudi tidak akan menurunkan produksinya, meskipun produsen di luar kelompok OPEC dipersilakan untuk melakukannya, kata Ali Al-Naimi, Menteri Perminyakan Arab Saudi dalam sebuah konferensi di Abu Dhabi bulan lalu.
"Sepertinya mereka akan membiarkan harga terus turun," kata Kepala Strategi Komoditas di RBC Capital Helima Croft di New York melalui sambungan telepon.
Runtuhnya harga minyak yang begitu cepat juga didorong ramalan Bank of America Corp yang mengatakan tidak ada tanda-tanda yang jelas tentang kapan pelemahan harga minyak akan berakhir.
AS memompa minyak mentah paling terbesar dalam lebih dari tiga dekade, menambah tingginya pasokan global yang diperkuat tambahan 2 juta barel minyak per hari dari Qatar. (Ndw)
Sumber : Liputan6
Dilansir dari Bloomberg, Jumat (9/1/2015), harga minyak jenis Brent yang menjadi patokan harga internasional untuk pengiriman Februari turun US$ 19 sen menjadi US$ 50,96 per barel di London berbasis ICE Futures Europe exchange, atau berada pada level terendah sejak April 2009.
Berbeda dengan Brent, harga minyak West Texas Intermediate (WTI), yang jadi patokan minyak AS, untuk pengiriman Februari justru naik US$ 14 sen menjadi US$ 48,79 per barel di New York Mercantile Exchange.
Harga minyak telah turun lebih dari setengah sejak Juni akibat melonjaknya produksi di AS dan Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) memutuskan untuk mempertahankan kuota produksinya.
Arab Saudi tidak akan menurunkan produksinya, meskipun produsen di luar kelompok OPEC dipersilakan untuk melakukannya, kata Ali Al-Naimi, Menteri Perminyakan Arab Saudi dalam sebuah konferensi di Abu Dhabi bulan lalu.
"Sepertinya mereka akan membiarkan harga terus turun," kata Kepala Strategi Komoditas di RBC Capital Helima Croft di New York melalui sambungan telepon.
Runtuhnya harga minyak yang begitu cepat juga didorong ramalan Bank of America Corp yang mengatakan tidak ada tanda-tanda yang jelas tentang kapan pelemahan harga minyak akan berakhir.
AS memompa minyak mentah paling terbesar dalam lebih dari tiga dekade, menambah tingginya pasokan global yang diperkuat tambahan 2 juta barel minyak per hari dari Qatar. (Ndw)
Sumber : Liputan6
Emas Ditutup Naik Ditengah Stimulus AS & Eropa yang Divergen
BESTPROFIT FUTURES MALANG (9/1) - Divergen outlook ekonomi antara AS dan
Eropa memicu harga emas berayun tajam dalam setahun terakhir akibat para
investor menilai prospek kenaikan suku bunga Amerika terhadap outlook
akan stimulus global.
Volatilitas emas selama 60 hari mendekati 18.8, level tertinggi sejak Januari 2014 lalu. Kontrak berjangka emas berakhir turun setelah berayun diantara gain dan loss akibat pelambatan pesanan pabrik Jerman telah memicu penurunan euro, sementara klaim pengangguran AS pekan lalu turun.
Bullion selama tahun 2014 lalu mencatat penurunan tahunan secara berturut-turut yang pertama kalinya sejak 1998 silam akibat penguatan perekonomian AS memberikan sinyal prospek akan kenaikan suku bunga, sehingga hal itu menurunkan permintaan emas sebagai tempat lindung nilai. Harga emas telah reli sekitar 7% setelah sempat turun ke level 4 tahun terendah pada November tahun lalu ditengah gejolak politik di Yunani dan perkiraan akan kenaikan stimulus ekonomi di Eropa dan China.
Emas berjangka untuk pengiriman Februari turun 0.2% dan ditutup pada level $1,208.50 per ounce pukul 1:47 siang di Comex, New York, setelah sempat naik sebesar 0.5 %. Sementara tahun lalu emas mengalami penurunan 1.5%. (bgs)
Sumber : Bloomberg
Volatilitas emas selama 60 hari mendekati 18.8, level tertinggi sejak Januari 2014 lalu. Kontrak berjangka emas berakhir turun setelah berayun diantara gain dan loss akibat pelambatan pesanan pabrik Jerman telah memicu penurunan euro, sementara klaim pengangguran AS pekan lalu turun.
Bullion selama tahun 2014 lalu mencatat penurunan tahunan secara berturut-turut yang pertama kalinya sejak 1998 silam akibat penguatan perekonomian AS memberikan sinyal prospek akan kenaikan suku bunga, sehingga hal itu menurunkan permintaan emas sebagai tempat lindung nilai. Harga emas telah reli sekitar 7% setelah sempat turun ke level 4 tahun terendah pada November tahun lalu ditengah gejolak politik di Yunani dan perkiraan akan kenaikan stimulus ekonomi di Eropa dan China.
Emas berjangka untuk pengiriman Februari turun 0.2% dan ditutup pada level $1,208.50 per ounce pukul 1:47 siang di Comex, New York, setelah sempat naik sebesar 0.5 %. Sementara tahun lalu emas mengalami penurunan 1.5%. (bgs)
Sumber : Bloomberg
Bursa AS Reli Untuk Hari Kedua, S&P 500 Menghapus Penurunan Tahun Ini
BESTPROFIT FUTURES MALANG (9/1) - Indeks
Standard & Poor 500 catat penguatan di hari kedua, sehingga
menghapus penurunan untuk tahun ini, terkait spekulasi bank sentral yang
akan mendukung pertumbuhan bahkan ketika perekonomian AS menunjukkan
tanda-tanda penguatan.
Indeks
S&P 500 naik 1,8 % ke level 2,062.03 pukul 16:00 sore di New York,
pasca reli sebesar 1,2 % kemarin untuk menghentikan aksi jual selama
lima hari terakhir. Indeks Dow Jones Industrial Average naik 320,27
poin, atau 1,8 %, ke level 17,904.79, sehingga menghapus penurunan untuk
tahun 2015. Sementara saham perusahaan yang di perdagangan di S&P
500 sebesar 19 % di atas RSI 30-hari untuk hari ini.
Indeks
S&P 500 telah naik 3 % selama dua hari terakhir, setelah melakukan
start tahunan terburuk sejak 2008 lalu. Sementara indeks acuan telah
rebound dari setengah penurunan setelah turun sebesar 4,2 % selama lima
hari terakhir karena minyak mentah yang turun di bawah level $ 48 per
barel untuk pertama kalinya sejak 2009 lalu.
Kemarin
ekuitas reli mendorong risalah Federal Reserve yang mengisyaratkan
adanya perubahan dalam kebijakan suku bunga dan optimisme atas
pertumbuhan lapangan pekerjaan. Sebagian besar pejabat bank sentral
sepakat dalam kebijakan baru mereka yang tidak mungkin untuk menaikkan
suku bunga sebelum akhir April mendatang dan angka inflasi menyatakan
kekhawatiran yang terlalu rendah.
Hasil
pertemuan juga menunjukkan beberapa anggota The Fed prihatin terhadap
risiko yang ditimbulkan oleh perekonomian di luar negeri. Langkah
kebijakan bank sentral asing dapat membantu. (vck)
Sumber: Bloomberg
S&P 500 Hapus Penurunan Thn Ini Seiring Bursa AS Reli Untuk Hari Kedua
BESTPROFIT FUTURES MALANG (9/1) - Indeks
Standard & Poor 500 menguat di hari kedua, menghapus penurunan
untuk tahun ini, terkait spekulasi bank sentral akan mendukung
pertumbuhan ekonomi bahkan ketika perekonomian AS menunjukkan
tanda-tanda penguatan.
Indeks
S&P 500 naik 1,6 % ke level 2,058.84 pukul 12:03 siang di New York,
setelah reli sebesar 1,2 % kemarin untuk menghentikan aksi jual selama
lima hari terakhir. Indeks Dow Jones Industrial Average menguat 285,04
poin, atau 1,6 %, ke level 17,869.56, juga menghapus penurunan untuk
tahun 2015. Sementara saham perusahaan yang diperdagangan di S&P 500
sebesar 17 % di atas RSI 30-hari untuk hari ini.
Indeks
S&P 500 telah naik sebesar 2,8 % selama dua hari, setelah start
terburuk tahunan mereka sejak 2008 lalu. Indeks acuan tersebut rebound
lebih dari setengah penurunan setelah turun sebesar 4,2 % selama lima
hari terakhir karena pelemahan minyak mentah di bawah level $ 48 per
barel untuk pertama kalinya sejak 2009 lalu.
Kemarin
ekuitas reli mendorong risalah Federal Reserve yang mengisyaratkan
adanya perubahan dalam kebijakan suku bunga dan optimisme atas
pertumbuhan lapangan pekerjaan. Sebagian besar pejabat bank sentral
sepakat dalam kebijakan baru mereka yang tidak mungkin untuk menaikkan
suku bunga sebelum akhir April mendatang dan angka inflasi menyatakan
kekhawatiran yang terlalu rendah.
Hasil
pertemuan juga menunjukkan beberapa anggita The Fed prihatin terhadap
risiko yang ditimbulkan oleh perekonomian did luar negeri. Langkah
kebijakan bank sentral asing dapat membantu. (vck)
Sumber: Bloomberg
Bursa Saham Eropa Ditutup Pada Zona Hijau Terkait Optimisme Stimulus Bank Sentral
BESTPROFIT FUTURES MALANG (9/1) - Bursa Saham Eropa menguat tajam dalam 3
pekan terakhir, menghapus penurunannya selama tahun 2015 ini ditengah
optimisme kebijakan moneter oleh bank sentral yang akan mendukung
perekonomian.
Indeks Stoxx Europe 600 reli 2.8% ke level 342.35 pada sesi penutupan perdagangan saham, memperpanjang gain setelah Presiden ECB Mario Draghi menyatakan bahwa kebijakan bank sentral diperkirakan akan mencakup pembelian obligasi pemerintah. Sementara rilis data hari ini menunjukkan pesanan pabrik Jerman bulan November turun melebihi dari proyeksi sebelumnya, sehingga menambah penurunan data inflasi yang dirilis kemarin yang akan mendorong spekulasi ECB akan memulai pelonggaran kuantitatif pada pertemuan 22 Januari mendatang.
Indeks PSI 20 Portugal melonjak 3%, sementara Indeks FTSE MIB Italy menguat 3.7% dan Indeks IBEX 35 Spain naik 2.3%. Indeks ASE Yunani membalikkan gain sebesar 2% dan mengalami pelemahan 2.1%, itu merupakan level penutupan terendah sejak November 2012 lalu.
Indeks Stoxx 600 mengauat tajam sejak 18 Desember lalu setelah kemarin rebound dari 3 hari penurunan. Acuan saham tersebut telah mengalami penurunan 5.5% dari level tertingginya pada 5 Desember hingga 6 Januari lalu akibat saham perusahaan energy yang menurun dan adanya kekhawatiran mengenai Yunani setelah Perdana Menteri Antonis Samaras menyatakan bahwa pemilu bulan ini akan mendorong Yunani keluar dari Zona Eropa.
Sementara itu, di Madrid, Saham Santander SA menguat 3.3% menjelang badan pengatur pasar saham Spanyol menangguhkan sahamnya. Bank terbesar di Spanyol tersebut mengalami kenaikan dana sebesar 7.5 miliar euro ($8.83 miliar). (bgs)
Sumber : Bloomberg
Indeks Stoxx Europe 600 reli 2.8% ke level 342.35 pada sesi penutupan perdagangan saham, memperpanjang gain setelah Presiden ECB Mario Draghi menyatakan bahwa kebijakan bank sentral diperkirakan akan mencakup pembelian obligasi pemerintah. Sementara rilis data hari ini menunjukkan pesanan pabrik Jerman bulan November turun melebihi dari proyeksi sebelumnya, sehingga menambah penurunan data inflasi yang dirilis kemarin yang akan mendorong spekulasi ECB akan memulai pelonggaran kuantitatif pada pertemuan 22 Januari mendatang.
Indeks PSI 20 Portugal melonjak 3%, sementara Indeks FTSE MIB Italy menguat 3.7% dan Indeks IBEX 35 Spain naik 2.3%. Indeks ASE Yunani membalikkan gain sebesar 2% dan mengalami pelemahan 2.1%, itu merupakan level penutupan terendah sejak November 2012 lalu.
Indeks Stoxx 600 mengauat tajam sejak 18 Desember lalu setelah kemarin rebound dari 3 hari penurunan. Acuan saham tersebut telah mengalami penurunan 5.5% dari level tertingginya pada 5 Desember hingga 6 Januari lalu akibat saham perusahaan energy yang menurun dan adanya kekhawatiran mengenai Yunani setelah Perdana Menteri Antonis Samaras menyatakan bahwa pemilu bulan ini akan mendorong Yunani keluar dari Zona Eropa.
Sementara itu, di Madrid, Saham Santander SA menguat 3.3% menjelang badan pengatur pasar saham Spanyol menangguhkan sahamnya. Bank terbesar di Spanyol tersebut mengalami kenaikan dana sebesar 7.5 miliar euro ($8.83 miliar). (bgs)
Sumber : Bloomberg
Wednesday, 7 January 2015
The Fed Menunda Kenaikan Suku Bunga
BESTPROFIT FUTURES MALANG (8/1) - Mayoritas anggota Federal Reserve telah
menyetujui pedoman kebijakan baru yang memiliki arti bahwa mereka
kemungkinan tidak akan menaikkan suku bunga sebelum akhir April tahun
ini dan sejumlah anggota The Fed menunjukkan kekhawatiran inflasi yang
masih akan rendah, hal tersebut menurut hasil pertemuan The Fed bulan
Desember lalu.
œMayoritas anggota berpikir terkait acuan menunda kenaikan suku bunga mengindikasikan bahwa The Fed kemungkinan tidak akan memulai proses normalisasi setidaknya pada beberapa pertemuan berikutnya, menurut hasil pertemuan pada 16-17 Desember lalu (Federal Open Market Committee) yang dirilis hari ini di Washington.
Hasil pertemuan The Fed mengindikasikan dukungan yang luas terhadap komite penilaian Janet Yellen terkait kemungkinan waktu kenaikan suku bunga yang dia katakan saat konferensi pers pasca pertemuan.
Dengan menguatnya perekonomian AS dan tingkat pengangguran menyentuh level 6 tahun terendah, FOMC bulan Desember tahun lalu menurunkan komitmen untuk mempertahankan suku bunga rendah pada œwaktu yang belum ditentukan. Sebaliknya The Fed menaytakan akan œmenunda setelah mengkaji waktu untuk menaikkan suku bunga yang pertama kalinya sejak 2006 silam.
Beberapa anggota The Fed pada bulan lalu menunjukkan kekhawatiran terkait outlook inflasi yang masih dibawah target bank sentral selama 31 bulan beturut-turut.
œSejumlah anggota The Fed melihat adanya resiko bahwa inflasi yang masih berada dibawah target sebesar 2% dengan beberapa anggota The Fed menunjukkan kekhawatiran bahwa outcome tersebut dapat menurunkan kredibilitas komitmen The Fed terhadap targetnya, menurut rilis hasil pertemuan The Fed. (bgs)
Sumber : Bloomberg
œMayoritas anggota berpikir terkait acuan menunda kenaikan suku bunga mengindikasikan bahwa The Fed kemungkinan tidak akan memulai proses normalisasi setidaknya pada beberapa pertemuan berikutnya, menurut hasil pertemuan pada 16-17 Desember lalu (Federal Open Market Committee) yang dirilis hari ini di Washington.
Hasil pertemuan The Fed mengindikasikan dukungan yang luas terhadap komite penilaian Janet Yellen terkait kemungkinan waktu kenaikan suku bunga yang dia katakan saat konferensi pers pasca pertemuan.
Dengan menguatnya perekonomian AS dan tingkat pengangguran menyentuh level 6 tahun terendah, FOMC bulan Desember tahun lalu menurunkan komitmen untuk mempertahankan suku bunga rendah pada œwaktu yang belum ditentukan. Sebaliknya The Fed menaytakan akan œmenunda setelah mengkaji waktu untuk menaikkan suku bunga yang pertama kalinya sejak 2006 silam.
Beberapa anggota The Fed pada bulan lalu menunjukkan kekhawatiran terkait outlook inflasi yang masih dibawah target bank sentral selama 31 bulan beturut-turut.
œSejumlah anggota The Fed melihat adanya resiko bahwa inflasi yang masih berada dibawah target sebesar 2% dengan beberapa anggota The Fed menunjukkan kekhawatiran bahwa outcome tersebut dapat menurunkan kredibilitas komitmen The Fed terhadap targetnya, menurut rilis hasil pertemuan The Fed. (bgs)
Sumber : Bloomberg
Emas Turun Seiring The Fed Mendukung Spekulasi Kenaikan Suku Bunga
BESTPROFIT FUTURES MALANG (8/1) - Harga
emas catat penurunan setelah Federal Reserve mengisyaratkan di jalur
untuk kenaikan suku bunga pertama sejak 2006 silam, sehingga
meningkatkan mata uang dolar dan memangkas permintaan terhadap logam
sebagai aset alternatif.
Pelemahan
harga minyak dan reli dolar terhadap mata uang utama lainnya dalam enam
bulan terakhir memangkas permintaan terhadap emas. Pada tahun 2014,
logam mulia membukukan penurunan tahunan secara berturut-turut untuk
pertama kalinya sejak tahun 1998 silam karena keuntungan dalam
perekonomian AS mengisyaratkan prospek kenaikan suku bunga di tengah
peredaman inflasi.
Emas
untuk pengiriman segera turun 0,3 % ke level $ 1,214.78 per ounce pukul
14:50 siang di New York, menurut harga Bloomberg. Sementara logam naik
3,1 % pada tiga sesi sebelumnya karena kekhawatiran perekonomian Eropa.
Emas
berjangka untuk pengiriman Februari turun 0,7 % ke level $ 1,210.70 per
ounce pada pukul 13:37 siang di Comex New York, sebelum pengumuman The
Fed. Sementara keseluruhan perdagangan sebesar 22 % di bawah RSI
100-hari untuk hari ini, menurut data yang dikumpulkan oleh Bloomberg.
(vck)
Sumber: Bloomberg
Bursa Saham AS Ditutup Menguat 1.2% Pasca Rilis Hasil Pertemuan The Fed
BESTPROFIT FUTURES MALANG (8/1) - Indeks Standard & Poor 500 reli tajam dalam 3 pekan terakhir, menghentikan aksi jual saham pada 5 hari terakhir setelah rilis data memicu optimisme terkait pekonomian dan hasil pertemuan Federal Reserve mengubah sedikit perkiraan investor terhadap suku bunga.
Indeks S&P 500 melonjak 1.2% ke level 2,025.76 pukul 4 sore waktu New York, setelah 5 hari sebelumnya mengalmai penurunan 4.2%. Sementara Indeks Dow Jones Industrial Average menguat 211.02 poin atau 1.2% ke level 17,582.66.
Kemarin, ekuitas AS mengawali awal tahun ini dengan keterpurukan sejak 2008 lalu,dengan Indeks S&P 500 melemah 2.7% pada 3 sesi pertama tahun 2015 ini. Penurunan tersebut memangkas kenaikan indeks sejak bullish yang telah mulai sejak Maret 2009 lalu sebesar 196% dan mengikuti kenaikan 11.4% pada 2014 lalu.
Saham-saham reli pada saat pembukaan bursa setelah rilis data terkait pasar tenaga kerja dan defisit neraca perdagangan AS telah mendorong kepercayaan pada penguatan perekonomian. Ekuitas AS memperpanjang gain pada sesi 1 akibat pemerintah di koalisi Kanselir Angela Merkel menyatakan bahwa Jerman menutup untuk dilakukannya pembicaraan utang bantuan dengan pemerintah Yunani yang akan datang, sehingga memberikan sinyal tentang pendirian yang lebih fleksible dari kepengurusannya yang terbuka. (bgs)
Sumber: Bloomberg
Indeks S&P 500 melonjak 1.2% ke level 2,025.76 pukul 4 sore waktu New York, setelah 5 hari sebelumnya mengalmai penurunan 4.2%. Sementara Indeks Dow Jones Industrial Average menguat 211.02 poin atau 1.2% ke level 17,582.66.
Kemarin, ekuitas AS mengawali awal tahun ini dengan keterpurukan sejak 2008 lalu,dengan Indeks S&P 500 melemah 2.7% pada 3 sesi pertama tahun 2015 ini. Penurunan tersebut memangkas kenaikan indeks sejak bullish yang telah mulai sejak Maret 2009 lalu sebesar 196% dan mengikuti kenaikan 11.4% pada 2014 lalu.
Saham-saham reli pada saat pembukaan bursa setelah rilis data terkait pasar tenaga kerja dan defisit neraca perdagangan AS telah mendorong kepercayaan pada penguatan perekonomian. Ekuitas AS memperpanjang gain pada sesi 1 akibat pemerintah di koalisi Kanselir Angela Merkel menyatakan bahwa Jerman menutup untuk dilakukannya pembicaraan utang bantuan dengan pemerintah Yunani yang akan datang, sehingga memberikan sinyal tentang pendirian yang lebih fleksible dari kepengurusannya yang terbuka. (bgs)
Sumber: Bloomberg
Bursa AS Rebound Dari 5-Hari Penurunan Jelang Pertemuan The Fed
BESTPROFIT FUTURES MALANG (8/1) - Indeks
Standard & Poor 500 naik ke level tertinggi dalam tiga pekan
terakhir, menghentikan penurunan selama lima hari terakhir, karena data
menunjukkan perekonomian AS terus menguat jelang rilis risalah pertemuan
terakhir Federal Reserve.
Mayoritas
saham memperpanjang kenaikan karena anggota parlemen dalam koalisi
Kanselir Angela Merkel mengatakan Jerman akan meninggalkan tempat untuk
pembicaraan bantuan utang dengan pemerintah Yunani berikutnya, sehingga
menandakan sikap yang lebih fleksibel sibandingkan pemerintahannya telah
melakukan secara publik.
Indeks
Standard & Poor 500 naik 1,1 % ke level 2,024.03 pukul 12:14 siang
di New York. Indeks acuan turun 4,2 % dalam lima hari terakhir dan turun
2,7 % menurpakan start terburuk dari tahun ke tahun sejak 2008 lalu.
Sementara Indeks Dow Jones Industrial Average naik 175,19 poin, atau 1
%, ke level 17,546.83. Perdagangan saham perusahaan di S&P 500
sebesar 14 % di atas RSI 30-hari untuk hari ini.
Risalah
pertemuan Federal Open Market Committee pada 16-17 Desember pukul 2
siang waktu Washington dapat memberikan petunjuk terhadap waktu kenaikan
suku bunga. Sementara The Fed berjanji untuk bersabar dalam pendekatan
untuk menaikkan suku bunga, sedangkan Ketua The Fed Janet Yellen
mengatakan setelah pertemuan nanti bank sentral mungkin akan
mempertahankan suku mendekati nol setidaknya untuk kuartal pertama.
(vck)
Sumber: Bloomberg
Bursa Saham Eropa Ditutup Menguat 0.5% Ditengah Spekulasi Stimulus
BESTPROFIT FUTURES MALANG (8/1) - Bursa Saham Eropa ditutup menguat dengan
sempat memangkas gain diakhir sesi perdagangan saham ditengah optimisme
investor bahwa rilis laporan inflasi kurang dari perkiraan sebelumnya
sehingga akan mendorong ECB (European Central Bank) untuk memulai
pelongggaran kuantitatif (stimulus).
Indeks Stoxx Europe 600 menguat 0.5% ke level 333.2 pada sesi penutupan, setelah sempat menguat sebesar 1.2%. Indeks acuan tersebut didorong oleh rilis data yang menunjukkan bahwa tingkat inflasi zona Eropa dibawah 0 untuk pertama kalinya dalam lebih dari 5 tahun terakhir. Inflasi bulan Desember turun 0.2%, menurut rilis data dari kantor statistik Uni Eropa. Para ekonom sebelumnya telah memprediksi inflasi turun 0.1%.
Acuan ekuitas Eropa mengalami penurunan 5.1% dari level hampir 7 tahun tertingginya yang tercatat bulan lalu ditengah penurunan saham minyak dan gas dan munculnya kekhawatiran mengenai Yunani setelah Perdana Menteri Antonis Samaras menyatakan bahwa pemilu bulan ini akan mendorong Yunani keluar dari Zona Eropa. Hari ini Indeks ASE melemah 1.5%, memperpanjang level penutupan terendahnya sejak 2012 silam.
Indeks FTSE 100 London menguat tajam diantara 18 Bursa Saham di Eropa Barat. Indeks OMX Swedia melemah 2.3% yang merupakan penurunan tertajamnya setelah dibuka kembali dari hari libur kemarin. (bgs)
Sumber : Bloomberg
Indeks Stoxx Europe 600 menguat 0.5% ke level 333.2 pada sesi penutupan, setelah sempat menguat sebesar 1.2%. Indeks acuan tersebut didorong oleh rilis data yang menunjukkan bahwa tingkat inflasi zona Eropa dibawah 0 untuk pertama kalinya dalam lebih dari 5 tahun terakhir. Inflasi bulan Desember turun 0.2%, menurut rilis data dari kantor statistik Uni Eropa. Para ekonom sebelumnya telah memprediksi inflasi turun 0.1%.
Acuan ekuitas Eropa mengalami penurunan 5.1% dari level hampir 7 tahun tertingginya yang tercatat bulan lalu ditengah penurunan saham minyak dan gas dan munculnya kekhawatiran mengenai Yunani setelah Perdana Menteri Antonis Samaras menyatakan bahwa pemilu bulan ini akan mendorong Yunani keluar dari Zona Eropa. Hari ini Indeks ASE melemah 1.5%, memperpanjang level penutupan terendahnya sejak 2012 silam.
Indeks FTSE 100 London menguat tajam diantara 18 Bursa Saham di Eropa Barat. Indeks OMX Swedia melemah 2.3% yang merupakan penurunan tertajamnya setelah dibuka kembali dari hari libur kemarin. (bgs)
Sumber : Bloomberg
Tuesday, 6 January 2015
IHSG Rawan Koreksi, Lirik Enam Saham Pilihan
BESTPROFIT FUTURES MALANG (7/1) - Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih berpotensi melemah meski terbatas. Hal itu dinilai dapat dimanfaatkan pelaku pasar untuk mengakumulasi saham pada perdagangan Rabu (7/1/2015).
Analis PT Asjaya Indosurya Securities, William Suryawijaya menuturkan, IHSG masih dalam jalur uptren, bila terjadi tekanan lanjutan maka sifatnya sudah sangat terbatas. Level IHSG diperkirakan bergerak di kisaran support 5.151 dan resistance 5.247.
"Hari ini IHSG berpotensi mengalami technical rebound," kata William dalam ulasannya, Rabu (7/1/2015).
William menuturkan, IHSG telah menguji level support 5.174, dan berhasil dijebol hingga penutupan perdagangan saham. Penurunan IHSG itu didorong efek global, regional dan harga minyak kembali melemah.
"Awal tahun adalah wajar bila investor mencari saham dengan harga yang dianggapnya murah. Tekanan terjadi maka kesempatan investor untuk akumulasi beli," kata William.
Sementara itu, Analis PT HD Capital Tbk, Yuganur Widjanarko mengatakan, nilai tukar rupiah melemah menjadi hambatan sementara untuk mendorong kenaikan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dengan resistance all time high 5.251.
Selain itu, harga minyak turun yang sempat bermain di level US$ 50 per barel baik untuk sektor konstruksi BUMN yang sempat terkoreksi karena membuka ruang lebih untuk anggaran dana infrastruktur yang tidak terpakai untuk subsidi BBM.
"IHSG akan berada di level support 5.165-5.125-5.080 dan resistance di kisaran 5.205-5.251-5.350," kata Yuganur.
Dalam riset PT Sinarmas Sekuritas, IHSG bergerak melemah di kisaran level 5.150-5.186 pada perdagangan saham Rabu pekan ini. Sejumlah sentimen yang pengaruhi IHSG antara lain data factory orders Amerika Serikat naik ke level 0,5 persen MoM dibandingkan sebelumnya di -0,7 persen.
Amerika Serikat (AS) juga akan merilis data ISM Non-Manufacturing PMI yang diperkirakan ke level 59,06 dibandingkan sebelumnya di 59,3.
Analis PT Asjaya Indosurya Securities, William Suryawijaya menuturkan, IHSG masih dalam jalur uptren, bila terjadi tekanan lanjutan maka sifatnya sudah sangat terbatas. Level IHSG diperkirakan bergerak di kisaran support 5.151 dan resistance 5.247.
"Hari ini IHSG berpotensi mengalami technical rebound," kata William dalam ulasannya, Rabu (7/1/2015).
William menuturkan, IHSG telah menguji level support 5.174, dan berhasil dijebol hingga penutupan perdagangan saham. Penurunan IHSG itu didorong efek global, regional dan harga minyak kembali melemah.
"Awal tahun adalah wajar bila investor mencari saham dengan harga yang dianggapnya murah. Tekanan terjadi maka kesempatan investor untuk akumulasi beli," kata William.
Sementara itu, Analis PT HD Capital Tbk, Yuganur Widjanarko mengatakan, nilai tukar rupiah melemah menjadi hambatan sementara untuk mendorong kenaikan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dengan resistance all time high 5.251.
Selain itu, harga minyak turun yang sempat bermain di level US$ 50 per barel baik untuk sektor konstruksi BUMN yang sempat terkoreksi karena membuka ruang lebih untuk anggaran dana infrastruktur yang tidak terpakai untuk subsidi BBM.
"IHSG akan berada di level support 5.165-5.125-5.080 dan resistance di kisaran 5.205-5.251-5.350," kata Yuganur.
Dalam riset PT Sinarmas Sekuritas, IHSG bergerak melemah di kisaran level 5.150-5.186 pada perdagangan saham Rabu pekan ini. Sejumlah sentimen yang pengaruhi IHSG antara lain data factory orders Amerika Serikat naik ke level 0,5 persen MoM dibandingkan sebelumnya di -0,7 persen.
Amerika Serikat (AS) juga akan merilis data ISM Non-Manufacturing PMI yang diperkirakan ke level 59,06 dibandingkan sebelumnya di 59,3.
Emas Catat Kenaikan Ke Level 3-Pekan Tertinggi Bersama Perak
BESTPROFIT FUTURES MALANG (7/1) - Emas dan perak berjangka naik ke level tiga pekan tertinggi setelah kekhawatiran ekonomi Eropa meningkat, sehingga memicu peningkatan permintaan untuk logam mulia sebagai aset safe haven.
Indeks jasa dan manufaktur zona euro menandakan perlambatan pertumbuhan pada kuartal akhir 2014, dan mata uang euro memperpanjang penurunan terhadap dolar AS di tengah oposisi Yunani untuk tindakan penghematan yang dapat mendorong negara itu keluar dari blok mata uang euro. Sementara manajer keuangan mengangkat taruhan bullish pada emas untuk pertama kalinya dalam tiga pekan terakhir, menurut data pemerintah AS.
Logam telah naik sebesar 7,9 % dari level terendah dalam empat tahun terakhir pada bulan November lalu terkait kekacauan politik di Yunani dan spekulasi bahwa pemerintah dari Eropa sampai China akan meningkatkan stimulus ekonomi mereka. Sementara kemarin US Mint menjual sebesar 42.000 ons koin emas, lebih tinggi dibandingkan pada Desember lalu sebesar 18.000 ons.
Emas berjangka untuk pengiriman Februari naik 1,3 % untuk menetap di level $ 1,219.40 per ounce pada pukul 1:54 siang di Comex New York. Sebelumnya, harga emas mencapai level $ 1,223.30, merupakan level tertinggi untuk kontrak teraktif sejak 16 Desember lalu. Sementara logam naik untuk sesi ketiga secara berturut-turut, merupakan reli terpanjang sejak 19 Desember lalu. Keseluruhan perdagangan adalah 36 % lebih dari RSI 100-hari, menurut data yang dikumpulkan oleh Bloomberg. (vck)
Sumber: Bloomberg
Indeks jasa dan manufaktur zona euro menandakan perlambatan pertumbuhan pada kuartal akhir 2014, dan mata uang euro memperpanjang penurunan terhadap dolar AS di tengah oposisi Yunani untuk tindakan penghematan yang dapat mendorong negara itu keluar dari blok mata uang euro. Sementara manajer keuangan mengangkat taruhan bullish pada emas untuk pertama kalinya dalam tiga pekan terakhir, menurut data pemerintah AS.
Logam telah naik sebesar 7,9 % dari level terendah dalam empat tahun terakhir pada bulan November lalu terkait kekacauan politik di Yunani dan spekulasi bahwa pemerintah dari Eropa sampai China akan meningkatkan stimulus ekonomi mereka. Sementara kemarin US Mint menjual sebesar 42.000 ons koin emas, lebih tinggi dibandingkan pada Desember lalu sebesar 18.000 ons.
Emas berjangka untuk pengiriman Februari naik 1,3 % untuk menetap di level $ 1,219.40 per ounce pada pukul 1:54 siang di Comex New York. Sebelumnya, harga emas mencapai level $ 1,223.30, merupakan level tertinggi untuk kontrak teraktif sejak 16 Desember lalu. Sementara logam naik untuk sesi ketiga secara berturut-turut, merupakan reli terpanjang sejak 19 Desember lalu. Keseluruhan perdagangan adalah 36 % lebih dari RSI 100-hari, menurut data yang dikumpulkan oleh Bloomberg. (vck)
Sumber: Bloomberg
Bursa Saham AS Ditutup Pada Zona Merah Ditengah Penurunan Harga Minyak
BESTPROFIT FUTURES MALANG (7/1) - Bursa Saham AS melemah, memperpanjang
penurunan terlama secara berturut-turut pada Indeks Standard & Poor
500 dalam 13 bulan terakhir seiring menurunnya saham-saham small-cap dan
saham-saham perusahaan energi pasca merosotnya harga minyak mentah
dibawah $50 per barel.
Indeks S&P 500 melemah 0.9% ke level 2,002.50 pukul 4 sore waktu New York yang merupakan penurunan pada hari ke-5 secara berturut-turut. Indeks Russell 2000 tergelincir 1.7%, setelah sempat menurun 2.4%. Dow Jones turun 131.36 poin atau 0.8% ke level 17,370.29. Perdagangan saham pada Indeks S&P 500 sebesar 47% diatas 30 hari rata-rata pada saat ini.
Kemarin Indeks S&P 500 melemah 1.8%, penurunan tertajam sejak Oktober tahun lalu yang melengkapi penurunan pertama dalam 4 hari terakhir sejak 2013 lalu. Indeks acuan saham tersebut telah mengalami penurunan 4.2% sejak mencatat level tertingginya sepanjang sejarah pada 29 Desember lalu. Hari ini Indeks S&P 500 turun dibawah harga rata-ratanya dalam 100 hari terakhir setelah kemarin turun dalam pergerakan rata-rata selama 50 hari terakhir. (bgs)
Sumber: Bloomberg
Indeks S&P 500 melemah 0.9% ke level 2,002.50 pukul 4 sore waktu New York yang merupakan penurunan pada hari ke-5 secara berturut-turut. Indeks Russell 2000 tergelincir 1.7%, setelah sempat menurun 2.4%. Dow Jones turun 131.36 poin atau 0.8% ke level 17,370.29. Perdagangan saham pada Indeks S&P 500 sebesar 47% diatas 30 hari rata-rata pada saat ini.
Kemarin Indeks S&P 500 melemah 1.8%, penurunan tertajam sejak Oktober tahun lalu yang melengkapi penurunan pertama dalam 4 hari terakhir sejak 2013 lalu. Indeks acuan saham tersebut telah mengalami penurunan 4.2% sejak mencatat level tertingginya sepanjang sejarah pada 29 Desember lalu. Hari ini Indeks S&P 500 turun dibawah harga rata-ratanya dalam 100 hari terakhir setelah kemarin turun dalam pergerakan rata-rata selama 50 hari terakhir. (bgs)
Sumber: Bloomberg
Saham AS Sesi 1 Berada Pada Zona Merah Ditengah Penurunan Minyak
BESTPROFIT FUTURES MALANG (7/1) - Bursa Saham AS memperpanjnag penurunan secara berturut-turut dalam 13 bulan terakhir setelah minyak kembali turun di bawah level $50 per barel dan rilis data yang menunjukkan industri sektor jasa tumbuh melambat. Sementara itu, obligasi global reli dan yen dan emas kembali naik setelah para investor beralih ke aset safe haven.
Indeks Standard & Poor 500 melemah 1.2% pukul 12:23 siang waktu New York yang merupakan penurunan pada hari ke-5 akibat saham-saham perusahaan energy kembali melakukan aksi jual. Sementara Indeks Stoxx Europe 600 melemah 0.7%. Imbal hasil obligasi Treasury dengan tenor 10 tahun turun 13 basis poin atau 1.90%, penurunan dibawah 2% yang pertama kali sejak Oktober lalu. Selain itu yen naik ke level tertingginya dalam 2 bulan terakhir terhadap euro dan emas melonjak 1.3%. Minyak mentah WTI (West Texas Intermediate) turun 4.2% ke level $47.95.
Aksi jual saham perusahaan minyak telah mengantarkan perusahaan energy kedalam penurunan tertajam pada pelemahan ekuitas yang telah menyapu dana lebih dari $1 triliun dari nilainya pada tahun ini ditengah kekhawatiran bahwa pertumbuhan ekonomi global sedang melambat. Rilis data di AS menunjukkan industri sektor jasa bulan Desember tumbuh pada laju terendah dalam 6 bulan terakhir, sementara pesanan-pesanan pabrik turun melebihi dari perkiraan sebelumnya. Bill Gross menyatakan bahwa harga-harga untuk aset-aset pada tahun ini akan mengalami penurunan setelah suku bunga dengan rekor rendah gagal untuk mengembalikan pertumbuhan ekonomi. Indeks sektor jasa dan manufaktur Zona Eropa berada di bawah angka pembacaan awal. (bgs)
Sumber: Bloomberg
Indeks Standard & Poor 500 melemah 1.2% pukul 12:23 siang waktu New York yang merupakan penurunan pada hari ke-5 akibat saham-saham perusahaan energy kembali melakukan aksi jual. Sementara Indeks Stoxx Europe 600 melemah 0.7%. Imbal hasil obligasi Treasury dengan tenor 10 tahun turun 13 basis poin atau 1.90%, penurunan dibawah 2% yang pertama kali sejak Oktober lalu. Selain itu yen naik ke level tertingginya dalam 2 bulan terakhir terhadap euro dan emas melonjak 1.3%. Minyak mentah WTI (West Texas Intermediate) turun 4.2% ke level $47.95.
Aksi jual saham perusahaan minyak telah mengantarkan perusahaan energy kedalam penurunan tertajam pada pelemahan ekuitas yang telah menyapu dana lebih dari $1 triliun dari nilainya pada tahun ini ditengah kekhawatiran bahwa pertumbuhan ekonomi global sedang melambat. Rilis data di AS menunjukkan industri sektor jasa bulan Desember tumbuh pada laju terendah dalam 6 bulan terakhir, sementara pesanan-pesanan pabrik turun melebihi dari perkiraan sebelumnya. Bill Gross menyatakan bahwa harga-harga untuk aset-aset pada tahun ini akan mengalami penurunan setelah suku bunga dengan rekor rendah gagal untuk mengembalikan pertumbuhan ekonomi. Indeks sektor jasa dan manufaktur Zona Eropa berada di bawah angka pembacaan awal. (bgs)
Sumber: Bloomberg
Bursa Eropa Di Tutup Turun 0,7 % Untuk Hari Ketiga
BESTPROFIT FUTURES MALANG (7/1) - Saham Eropa menghapus keuntungan di jam terakhir perdagangan, turun ke level terendahnya hampir tiga pekan terakhir.
Indeks Stoxx Europe 600 turun 0,7 % ke level 331,61 pada penutupan perdagangan di London hari ini setelah
naik sebesar 0,6 % di tengah reboundnya saham energi. Sebelumnya indeks
tersebut turun sebesar 0,9 %, karena data menunjukkan layanan dan
manufaktur zona euro turun dari pembacaan awal.
Indeks Stoxx Europe 600 melemah 0,7 % ke level 331,61 pada penutupan perdagangan di London hari ini setelah
naik sebesar 0,6 % di tengah rebound saham energi. Mengukur turun
sebanyak 0,9 persen sebelumnya, sebagai data menunjukkan layanan
euro-area dan manufaktur jatuh pendek dari pembacaan awal.
Indeks
Stoxx 600 ditutup turun 5,5 % dari bulan lalu hampir mencapai level
tertinggi dalam tujuh tahun terakhir, di tengah penurunan saham
perusahaan minyak dan gas dan kekhawatiran atas Yunani terkait Perdana
Menteri Antonis Samaras mengatakan pemilihan bulan ini dapat menyebabkan
negara tersebut keluar dari zona euro. Sementara Indeks Euro Stoxx 50
dari perusahaan terbesar di wilayah tersebut turun 3,7 % kemarin,
merupakan penurunan terbesar sejak November 2011 lalu. Indeks tersebut
turun 0,5 % hari ini. (vck)
Sumber: Bloomberg
Monday, 5 January 2015
Krisis Yunani, Angkat Emas Ditutup Naik
BESTPROFIT FUTURES MALANG (6/1) - Emas berjangka naik pada sesi ke-2 secara
berturut-turut setelah krisis politik Yunani dan penurunan ekuitas telah
memicu permintaan akan logam mulia sebagai sebuah aset alternatif.
Euro turun ke level terendah sejak Maret 2006 silam ditengah perdebatan terkait keanggotaan Yunani di Uni Eropa. Kekhawatiran tersebut telah mendorong Indeks Standard & Poor 500 bergerak kearah penurunan pertama selama 4 hari terakhir ini dalam 12 bulan terakhir. Tahun lalu emas mengalami penurunan 1.5% setelah ekuitas AS menguat pada rekornya.
Di Comex, New York emas berangka untuk pengiriman Februari naik 1.5% dengan ditutup pada level $1,204 per ounce pukul 1:48 sore waktu setempat. Pada 2 Januari lalu emas naik 0.2%.
Spekulasi bahwa ECB (European Central Bank) akan melakukan pembelian obligasi pemerintah dalam skala besar telah menekan pelemahan euro, sehingga mendongkrak harga emas naik ke level tertinggi sejak September 2013 lalu. (bgs)
Sumber : Bloomberg
Euro turun ke level terendah sejak Maret 2006 silam ditengah perdebatan terkait keanggotaan Yunani di Uni Eropa. Kekhawatiran tersebut telah mendorong Indeks Standard & Poor 500 bergerak kearah penurunan pertama selama 4 hari terakhir ini dalam 12 bulan terakhir. Tahun lalu emas mengalami penurunan 1.5% setelah ekuitas AS menguat pada rekornya.
Di Comex, New York emas berangka untuk pengiriman Februari naik 1.5% dengan ditutup pada level $1,204 per ounce pukul 1:48 sore waktu setempat. Pada 2 Januari lalu emas naik 0.2%.
Spekulasi bahwa ECB (European Central Bank) akan melakukan pembelian obligasi pemerintah dalam skala besar telah menekan pelemahan euro, sehingga mendongkrak harga emas naik ke level tertinggi sejak September 2013 lalu. (bgs)
Sumber : Bloomberg
Pendapatan Xiaomi berlipat ganda pada 2014
BESTPROFIT FUTURES MALANG (6/1) - Perusahaan pembuat telepon genggam Cina, Xiaomi, mengatakan berhasil melipatgandakan penghasilannya di tahun 2014, hanya seminggu setelah perusahaan itu dinamai sebagai perusahaan rintisan paling berharga di dunia.
Perusahaan itu mendapatkan 74,3 miliar yuan atau sekitar US$11,97 miliar dalam hasil penjualan sebelum pajak tahun lalu, atau naik 135% dari tahun 2013.
Minggu lalu, Xiaomi mendapatkan dana US$1,1 miliar yang membuat perusahaan kini bernilai US$45 miliar.
Angka ini melampaui nilai US$40 yang diberikan kepada aplikasi pemesanan taksi Uber yang sebelumnya memegang gelas perusahaan teknologi swasta paling bernilai.
Perusahaan ini juga berhasil melampaui target penjualannya untuk menjual 60 juta pesawat telepon genggam di tahun 2014, yang artinya meningkat hampir 20 juta dari tahun sebelumnya.
Sumber : BBC
Perusahaan itu mendapatkan 74,3 miliar yuan atau sekitar US$11,97 miliar dalam hasil penjualan sebelum pajak tahun lalu, atau naik 135% dari tahun 2013.
Minggu lalu, Xiaomi mendapatkan dana US$1,1 miliar yang membuat perusahaan kini bernilai US$45 miliar.
Angka ini melampaui nilai US$40 yang diberikan kepada aplikasi pemesanan taksi Uber yang sebelumnya memegang gelas perusahaan teknologi swasta paling bernilai.
Perusahaan ini juga berhasil melampaui target penjualannya untuk menjual 60 juta pesawat telepon genggam di tahun 2014, yang artinya meningkat hampir 20 juta dari tahun sebelumnya.
Sumber : BBC
Subscribe to:
Comments (Atom)
