Monday, 4 May 2015

Reli Perbankan Angkat Saham AS Di Sesi Penutupan

BESTPROFIT FUTURES MALANG (5/5) - Saham AS ditutup naik, setelah kenaikan tertajam dalam lebih dari sebulan terakhir untuk Indeks Standard & Poor 500, karena reli saham perbankan ditengah optimisme atas musim laba perusahaan.
Saham Comcast Corp menguat setelah meningkatkan pembelian kembali sahamnya. Berkshire Hathaway Inc naik 1,9% karena harga bahan bakar yang lebih rendah membantu meningkatkan keuntungan perusahaan perkeretaapian tersebut. JPMorgan Chase & Co mencapai level tertinggi 15-tahun. Cognizant Technology Solutions Corp menguat 6,2% setelah meningkatkan prospek pendapatan. Merck & Co Inc mencapai tertinggi tiga bulan, sementara McDonald Corp tergelincir seiring perusahaan raksasa makanan cepat saji tersebut mengumumkan rencana perubahan.
S & P 500 naik 0,3% menjadi 2,114.46 pada pukul 4 sore di New York, setelah Jumat membukukan 0,4% penurunan mingguan.
Anggota S & P 500 yang telah merilis laba musim ini, 73% melampaui proyeksi laba dan 49 persen melampaui perkiraan penjualan. Analis memproyeksikan penurunan kuartal pertama dari 0,4%, dibandingkan dengan 17 April menyerukan untuk penurunan 4,3%.(yds)
Sumber: Bloomberg

Sunday, 3 May 2015

Mengintip Kreasi Pesawat Terbang Tanpa Bahan Bakar

BESTPROFIT FUTURES MALANG (4/5) - Di masa lalu, balon udara berisi gas helium sempat menjadi alat angkutan udara. Karena kemampuannya menanggung beban yang cukup berat. Namun demikian, balon udara seperti itu terbang lambat.
Tapi tak demikian dengan saat ini, teknologi balon helium untuk sarana angkutan udara itu telah mendapat sentuhan teknologi terkini.
Seorang mantan pakar teknologi nuklir Robert D. Hunt dari Hunt Aviation Corp yang memperbaiki kreasi rancangan balon udara itu. Caranya: ia dengan menempatkan sejumlah balon udara elastis berukuran kecil dalam badan pesawat yang kaku namun ringan tersebut.
Ketika akan terbang, balon-balon udara itu akan diisi dengan gas helium yang memiliki berat jenis yang lebih ringan daripada gas-gas di atmosfer. Dengan demikian, pesawat terbang ini akan terangkat ke udara.
Setelah mencapai ketinggian yang cukup, pesawat terbang akan diarahkan ke tujuan dan dibiarkan bergerak dengan menggunakan daya tarik bumi.

Sumber : Liputan6

Pemimpin 3 Negara Utama Asia Bicarakan Nasib Ekonomi Mereka

BESTPROFIT FUTURES MALANG (4/5) - Gubernur bank sentral dan menteri keuangan Tiongkok, Jepang dan Korea Selatan (Korsel) mengadakan pertemuan bilateral ditengah pertemuan tahunan pemimpin ADB (Asian Development Bank) di Baku, Azerbaijan 3-4 Mei 2015. Dalam pertemuan tersebut mereka menyatakan kesepahaman dan komitmen mereka untuk mengaplikasikan kebijakan moneter yang berorientasi mendukung permintaan dalam menghadapi lemahnya pertumbuhan global yang cenderung bergerak moderat dan tidak merata.
Dalam pertemuan tersebut, mereka sepakat bahwa saat ini ekonomi global sedang berada dalam fase yang penuh tekanan sehingga mereka berkomitmen untuk terus menerapkan kebijakan makroekonomi yang tepat waktu dan efektif untuk membantu meningkatkan permintaan. Namun, reformasi struktural untuk meningkatkan pertumbuhan potensial akan tetap menjadi prioritas utama untuk memperoleh pertumbuhan yang berkelanjutan dan seimbang.
Dalam lingkungan yang serba tidak pasti sekarang ini, pengaturan kebijakan moneter dipandang harus diaplikasikan dengan lebih hati-hati dan dikomunikasikan dengan jelas dengan negara-negara lain untuk meminimalkan dampak situasi negatif yang sudah ada, terutama dalam meminimalisir terjadinya assymetric information. Sementara itu, beralih ke Amerika Serikat (AS), banyak ekonom yang menghimbau agar kenaikan suku bunga The Fed AS tidak dinaikkan tahun ini karena justru akan emmperparah kondisi ekonom global.
Informasi tentang kenaikan suku bunga The Fed akan sangat mempengaruhi kebijakan moneter di negara-negara lain. terutama jika negara tersebut berhadapan dengan risiko stabilitas makroekonomi dan keuangan yang timbul dari arus modal yang mudah keluar. Terutama negara-negara di Asia yang hampir kebanyakan masih memegang status negara berkembang. Hingga saat ini ekonomi Asia masih berusaha untuk bangkit namun sayang, belakangan impian tersebut sering terhambat. Pasalnya, pertumbuhan Tiongkok, yang memiliki ekonomi terbesar kedua di dunia saja telah merosot ke posisi terendahnya dalam enam tahun terahir dengan PDB tercatat sebesar 7,0 persen pada kuartal pertama tahun ini.
Sementara itu, Jepang, yang memiliki ekonomi terbesar ketiga, berhasil mencatat rebound dari fase resesi pada kuartal terakhir tahun lalu, dengan pertumbuhan sebesar 2,2 persen, namun persentase ini masih dinilai lemah dan gejala deflasi masih terlihat.
Menteri Keuangan Korea Selatan sendiri, Choi Kyung-hwan juga menyampaikan bahwa tingkat pertumbuhan ekonomi di negaranya tahun ini kemungkinan masih akan berada pada kisaran pertumbuhan 3,3 persen sesuai dengan proyeksi yang dibuat tahun 2014 lalu. Para pembuat kebijakan di Korsel mengkonfirmasi bahwa kemungkinan besar mereka masih akan menunggu sampai akhir Juni mendatang untuk menilai apakah diperlukan tambahan stimulus atau tidak.
Pekan lalu, berbagai rilis data dari 3 (tiga) negara utama di kawasan Asia Utara ini memenuhi tajuk utama berita internasional. Dilaporkan bahwa kinerja manufaktur Tiongkok dan Jepang memang menunjukkan kondisi yang kurang memuaskan. Sedangkan Korsel dilaporkan dapat terjebak dalam jurang deflasi. Beberapa kondisi yang cukup mengkhawatirkan pertumbuhan ekonomi ke-3 negara ini bisa menjadi alasan pertemuan bilateral ini untuk memperkuat perekonomian di negara nya.

Sumber : Vibiznews

Akibat Apresiasi Dollar Terhadap Bisnis Manufaktur AS

BESTPROFIT FUTURES MALANG (4/5) - Pekan lalu berbagai data kinerja manufaktur di negara-negara maju telah dirilis. Kinerja manufaktur di Tiongkok, Jepang dan Inggris masih menunjukkan pergerakan yang belum memuaskan, demikian juga dengan Amerika Serikat (AS). Pasalnya, laju ekspansi di sektor manufaktur AS untuk periode April yang dikeluarkan oleh Institute for Supply Management tidak mengalami perubahan skor indeks dari bulan sebelumnya.
ISM melaporkan bahwa skor PMI manufaktur AS di bulan April masih tercatat sebesar 51,5, sama dengan bulan sebelumnya. Meski tidak mengalami perubahan dari bukan sebelumnya, kinerja manufaktur di negara ini masih tercatat mengalami ekspansi karena masih mencatat skor diatas 50.
Meskipun mencatat pertumbuhan yang stagnan, mnurut laporan ISM, sekitar 15 dari 18 industri manufaktur di AS melaporkan pertumbuhan yang cukup baik pada bulan April jika dibandingkan dengan ulan sebelumnya. Hal ini terlihat dari naiknya indeks pesanan baru menjadi 53,5 pada April dari 51,8 pada bulan Maret, sementara indeks produksi juga naik menjadi 56,0 pada bulan April dari 53,8 di bulan Maret.
Namun di sisi lain, indeks kerja turun menjadi 48,3 pada bulan April dari 50,0 pada bulan sebelumnya, hal ini mencerminkan adanya kontraksi terhadap pekerjaan di sektor manufaktur. ISM juga melaporkan bahwa indeks harga naik tipis menjadi 40,5 pada bulan April dari 39,0 pada bulan Maret. Ke depan sektor manufaktur AS yang berorientasi ekspor ini diperkirakan masih harus berjuang untuk memulihkan laju ekspansinya, terutama dalam menghadapi apresiasi Dolar AS yang masih berlangsung hingga hari ini.

Sumber : Vibiznews

Belanja Konstruksi AS Merosot Tajam Duduki Posisi Terendahnya

BESTPROFIT FUTURES MALANG (4/5) - Belanja konstruksi Amerika Serikat (AS) pada bulan Maret tercatat alami penurunan yang cukup tajam sehingga menempati posisi terendahnya dalam enam bulan terakhir. Anjloknya belanja konstruksi di negara dengan ekonomi terkuat di dunia ini disebabkan oleh pengeluaran belanja konstruksi perumahan oleh swasta yang menurun tajam. Tentu saja hal ini kembali menimbulkan kekhawatiran bahwa pertumbuhan ekonomi AS di kuartal selanjutnya dapat kembali tergerus.
Belanja konstruksi AS tercatat turun 0,6 persen (yoy) menjadi sebesar $ 966.600.000.000, tingkat ini adalah yang terendah sejak September 2014 lalu, demikian berdasarkan laporan dari Departemen Perdagangan AS pada pekan lalu.
Kontraksi sebesar 0,6 persen cukup mengejutkan para ekonom, pasalnya mereka justru memperkirakan belanja konstruksi akan naik 0,5 persen pada Maret lalu. Data konstruksi dan manufaktur AS yang dirilis pekan lalu semakin menunjukkan hilangnya momentum pemulihan ekonomi yang kuat mengawali kuartal kedua tahun ini.
Beberapa hal memang cukup enjadi penghambat laju pertumbuhan ekonomi AS pada awal tahun ini seperti cuaca buruk, apresiasi dolar AS, perselisihan antarburuh di pelabuhan Pantai Barat, serta harga minyak yang lebih rendah yang akibatnya telah memangkas produksi energi dalam negeri.
Pada bulan Maret, belanja konstruksi terbebani oleh penurunan sebesar 1,6 persen terhadap pengeluaran konstruksi perumahan swasta, dimana penurunan ini adalah yang terbesar sejak Juni tahun lalu. Sedangkan pengeluaran untuk proyek-proyek konstruksi non-perumahan swasta naik 1,0 persen pada Maret.

Sumber : Vibiznews

Keren, Seniman Grafiti Pakai Drone untuk Buat Mural

BESTPROFIT FUTURES MALANG (4/5) - Drone atau pesawat tanpa awak, belakangan ini kerap muncul dalam pemberitaan di berbagai media. Salah satu drone yang cukup terkenal adalah besutan perusahaan aerospace Lockheed Martin, yang berfungsi untuk membantu menemukan orang hilang.

Kabar terbaru datang dari KATSU, seorang seniman grafiti yang memutuskan menggunakan drone untuk mencorat-coret sebuah billboard di New York City. Dan kebetulan, billboard tersebut bergambar wajah model papan atas, Kendal Jenner.

"Secara mengejutkan, ini dapat berfungsi dengan sangat baik. Ini menarik untuk melihat potensi penggunaan pertama sebagai perangkat untuk vandalisme," kata KATSU seperti dikutip dari laman Ubergizmo, Senin (4/5/2015).


Modifikasi drone ini disebutkan bakal menjadi cara baru dalam membuat street art atau mural. KATSU dikenal sebagai seniman yang eksentrik. Ia kerap menghiasi berita utama di sejumlah media.

Pada April 2014, KATSU menjadi berita utama ketika ia menemukan cara untuk melampirkan kaleng semprot ke drone DJI phantom. Pada saat itu, ia hanya menggunakan pesawat tak berawak untuk melukis di atas kanvas.

(isk/dew)

Sumber : Liputan6 

Thursday, 30 April 2015

Dolar AS Melemah Angkat Harga Minyak Dunia

BESTPROFIT FUTURES MALANG (1/5) - Dolar Amerika Serikat (AS) melemah dan pasokan minyak Amerika Serikat (AS) menurun telah mendorong harga minyak acuan dunia menguat.
 
Harga minyak jenis Brent ditutup naik 85 sen menjadi US$ 66,69 per barel. Harga minyak ini telah naik 21 persen pada April 2015. Sementara itu, harga minyak acuan Amerika Serikat (AS) menguat US$ 1,05 menjadi US$ 59,63. Harga minyak ini telah naik 25 persen sepanjang April 2015.

Kenaikan harga minyak dipicu dolar AS jatuh ke level terendah dalam dua bulan ini sehingga membuat minyak lebih murah bagi pemegang mata uang lainnya.

Selain itu, meski persediaan minyak AS terus meningkat selama berbulan-bulan tetapi mulai menurun dalam beberapa pekan terakhir. Hal itu seiring produksi dalam negeri menurun.


Harga minyak baik Brent dan West Texas Intermediate (WTI) cenderung menguat pada April 2015. Harga minyak masing-masing naik sekitar US$ 12. Ini keuntungan terbaik sejak Mei 2009. Akan tetapi, sejumlah pihak skeptis harga minyak terus reli.

Hal itu seiring pertumbuhan ekonomi AS melambat pada kuartal I 2015. Ekonomi AS hanya tumbuh 0,2 persen. Ditambah Organisai Negara Pengekspor Minyak (OPEC) juga tidak berniat untuk menurukan produksi minyak.

"Tampaknya kenaikan harga minyak ini sementara mengingat pasokan OPEC tak berhenti dan data ekonomi AS yang variatif. Ini juga berpengaruh ke dolar," kata John Kilduff, Partner New York Energy Hedge Fund Again Capital, seperti dikutip dari laman Reuters, Jumat (1/5/2015). 

(Ahm/)

Minyak Menuju Gain Bulanan Tertajam Sejak 2009


BESTPROFIT FUTURES MALANG (1/5) - Minyak menuju gain bulanan tertajam sejak Mei 2009 seiring pertumbuhan produksi minyak mentah melambat dan persediaan menurun di pusat penyimpanan terbesar Amerika tersebut.

Minyak berjangka naik 0,9% di New York, membawa gain menuju bulanan sebesar 24%. Stok minyak mentah di Cushing, Oklahoma, menyusut untuk pertama kalinya sejak November, sementara produksi mendekati enam pekan terendah, menurut EIA pada Rabu. Ini diikuti prediksi lembaga pada 13 April bahwa output dari formasi tight-rock akan menurun pada bulan Mei, yang merupakan perkiraan pertama untuk penurunan.

Minyak terus pulih dari level terendahnya enam tahun yang dicapai pada Maret seiring jumlah rig pengebor di AS mengurangi produksinya sejak Oktober 2010. Sementara reli mungkin masih goyah, dengan persediaan minyak mentah lokal berada di level tertinggi dalam 85 tahun, spekulan telah meninggalkan lindung nilai atas dana yang diperdagangkan di bursa pada rekornya.

Minyak West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Juni naik sebanyak 82 sen, atau 1,4%, ke level $ 59,40 per barel dalam perdagangan elektronik di New York Mercantile Exchange, yang merupakan harga tertinggi sejak 12 Desember. Diperdagangkan pada level $ 59,07 pada 12:04 siang waktu London . Kontrak naik $ 1,52 ke level $ 58,58 pada hari Rabu. Harga telah meningkat sekitar 11% pada tahun 2015.(yds)

Sumber: Bloomberg

Emas Melanjutkan Penurunan Dari Level 3 Pekan Tertinggi


BESTPROFIT FUTURES MALANG (1/5) - Emas melanjutkan penurunan dari level tiga pekan tertinggi terkait prospek Federal Reserve yang akan menaikkan suku bunga acuan.

Emas untuk pengiriman Juni turun 0,6% menjadi $ 1,202.70 per ons pada 6:06 di Comex New York. Harga, yang mencapai tertinggi tiga pekan pada tanggal 28 April, naik 1,6% pada April, ditetapkan untuk kenaikan bulanan pertama ketiga kalinya. Bullion untuk pengiriman segera sedikit berubah pada level $ 1,205.92, menurut harga Bloomberg.

Perak untuk pengiriman segera naik 0,3% menjadi $ 16,6125 per ons di London, dan sedikit berubah bulan ini. Platinum turun 0,2% menjadi $ 1,151.88 per ons, dan naik 0,9% pada April. Palladium turun 0,1% menjadi $ 782 per ons. Ini naik 6,2% pada April, ditetapkan untuk kenaikan bulanan tertajam sejak Juli 2013.(yds)


Sumber: Bloomberg

Emas Turun 2% Pasca Data Pekerjaan Lebih Baik dari Proyeksi


BESTPROFIT FUTURES MALANG (1/5) - Emas turun sebesar 2 persen pada perdagangan hari Kamis pasca data pekerjaan AS lebih baik dari perkiraan sehingga mendorong investor untuk menjual emas, menghidupkan kembali harapan bahwa Federal Reserve akan menaikkan suku bunga dalam waktu dekat.

Data yang dirilis pada hari Kamis menunjukkan klaim untuk tunjangan pengangguran AS turun 34.000 ke penyesuaian musiman 262.000 pada pekan lalu, terendah sejak April 2000 lalu.
Secara terpisah, belanja konsumen AS juga naik 0,4 persen bulan lalu pasca naik 0,2 persen pada Februari lalu, sedangkan Indeks Manajemen Pembelian Chicago melonjak lebih dari yang diharapkan pada bulan April.

Spot emas menuju penurunan harian terbesar sejak 6 Maret lalu, pada sesi sebelumnya emas turun sebanyak 2,3 persen ke level $1,176.80 per ons. Kemudian kembali turun sebesar 1,8 persen ke level $1,183.03 per ons pukul 2:48 EDT (1848 GMT), di jalur penurunan menuju harga penyelesaian bulan April untuk bulan ketiga secata berturut-turut.

Harga penyelesaian emas berjangka AS untuk pengiriman Juni turun $27,60 per ons, atau 2,3 persen, ke level $1,182.40. (izr)


Sumber: Reuters

Euro Lanjutkan Tren Kenaikan Sejak 2013

BESTPROFIT FUTURES MALANG (1/5) - Euro naik untuk hari keenam terhadap dolar, penguatan beruntun terpanjang sejak Desember 2013 lalu terkait tanda-tanda membaiknya ekonomi Eropa seiring melambatnya pertumbuhan ekonomi AS.

Euro menguat terhadap semua mata uang utama seiring laporan menunjukkan harga konsumen berakhir empat bulan turun dan obligasi imbal hasil Jerman meningkat untuk hari kedua, menambah daya tarik mereka. Sebuah indeks dolar naik dari level terendahnya dalam dua bulan terakhir pasca laporan pertumbuhan ekonomi AS meleset dari perkiraan pada Rabu kemarin, seiring Federal Reserve tengah mempertimbangkan kenaikan suku bunga. 

Euro menyentuh level $1,1249, level tertinggi sejak 26 Februari lalu, sebelum ditransaksikan naik sebesar 0,8 persen ke level $1,1220 pukul 16:06 di New York. Euro menguat sebesar 1,2 persen ke level 133,97 yen.

Indeks Bloomberg Dollar Spot, yang mengukur mata uang AS terhadap 10 mata uang utama, naik, pengupas penurunan bulanan pertama sejak Juni lalu. Indeks ditutup pada level terendah sejak 6 Februari lalu, kemarin. (izr)

Sumber: Bloomberg

Wednesday, 29 April 2015

Harga Minyak Sentuh Posisi Tertinggi di Tahun Ini

BESTPROFIT FUTURES MALANG (30/4) - Harga minyak mentah dunia mencapai posisi tertingg di tahun ini pada Kamis (30/4/2015) usai laporan jika kelebihan stok minyak akan mulai berkurang.
Melansir laman Reuters, harga minyak mentah berjangka AS pada April berakhir naik hampir 23 persen dan Brent hampir 20 persen lebih tinggi, yang merupakan keuntungan bulanan terbesar sejak Mei 2009 ketika ekonomi global mulai pulih dari krisis keuangan.

Akhirnya, harga minyak mentah berjangka AS ditutup naik US$ 1,52 menjadi US$ 58,58 per barel, setelah mencapai posisi tertinggi di 2015 pada posisi US$ 59,33 per barel.

Adapun harga minyak berjangka Brent patokan yang lebih banyak digunakan, berakhir naik US$ 1,20 menjadi US$ 65,84 setelah mencapai posisi tertingginya tahun ini US$ 66,72 per barel.

Kenaikan dipicu data pemerintah menunjukkan persediaan pekan lalu lebih kecil dari yang diperkirakan di seluruh Amerika Serikat juga dibantu sentimen di mana beberapa pedagang merasa pasar mengabaikan unsur-unsur seperti produksi yang lebih tinggi.

Harga minyak sudah mulai pulih di bulan ini karena aksi jual yang dimulai pada Juni tahun lalu.

Kenaikan itu sebagian didorong gagasan kekenyangan pasokan yang menyebabkan harga jatuh hingga setengahnya sejak musim panas lalu kemungkinan berkurang dengan permintaan yang lebih tinggi proyeksi.

Data pemerintah menunjukkan bahwa persediaan minyak mentah AS pekan lalu naik dan mencapai rekor tertinggi untuk minggu ke-16. Tetapi stok 1,9 juta barel lebih kecil dari perkiraan 4,2 juta barel, menurut American Petroleum Institute.
Stok minyak mentah di Cushing, titik pengiriman untuk minyak mentah berjangka AS, turun 514.000 barel, penurunan pertama sejak November.
"Persediaan di Cushing itu akhirnya menarik ke bawah karena permintaan kilang yang kuat, dan yang mendukung, karena akan menghilangkan ketakutan tentang kapasitas penyimpanan operasional dapat tercapai," kata John Kilduff, Mitra Again Capital LLC di New York. (Nrm)

Sumber : Liputan6

PBOC Kembali Renovasi Sistem Keuangan Negaranya

BESTPROFIT FUTURES MALANG (30/4) - Untuk mengatasi perlambatan ekonomi Tiongkok yang kerap melanda negara tersebut hingga hari ini, Bank sentral Tiongkok (PBOC) kembali melakukan cara untuk menumbuhkan ekonomi negaranya. Kali ini kembali bank sentral negara tersebut merenovasi sistem keuangannya dengan memperbolehkan bank-bank komersial menjadikan obligasi pemerintah daerah sebagai jaminan likuiditas.
Tindakan ini bagi PBOC diyakini  sebagai cara untuk menyalurkan lebih banyak uang ke dalam pasar uang Tiongkok. Saat ini isu tersebut sudah menyebar di pasar keuangan Tiongkok, berbagai spekulasi mulai jadi skenario pembicaraan para pelaku pasar bahwa PBOC akan menyuntikkan dana ke perekonomian Tiongkok melalui cara konvensional tersebut yang intinya menuju pada “pelonggaran kuantitatif”.
Seperti diketahui, pertumbuhan ekonomi Tiongkok telah melambat, tapi tidak seperti Eropa dan Amerika Serikat (AS), karena sebenarnya ada ruang berlimpah di Tiongkok untuk melawan tekanan ekonomi global melalui cara konvensional selain dengan mengurangi suku bunga dan pemangkasan cadanagan rasio perbankan. Hingga saat inipun Tiongkok memang terkenal dengan kebijakan yang cukup “irasiona” bagi negara lain misalnya dengan program pembelian aset yang agresif.
Jika kita telaah kebelakang beberapa kebijakan yang konvensional PBOC antara lain, pertama, pada 19 April 2014 lalu, PBOC telah memompa dana sebesar 1,2 triliun yuan ($ 196.000.000.000) menjadi 1,5 triliun yuan ke pasar uang dengan mengurangi RRR. Kedua, segera setelah RRR dipangkas, PBOC menyuntikkan sejumlah besar dana ke bank-bank, yaitu sebesar $ 32.000.000.000 ke China Development Bank (CDB) dan $ 30 miliar ke Bank Ekspor-Impor Tiongkok. Tujuannya adalah untuk meningkatkan pinjaman bank di sektor yang telah ditargetkan seperti pertanian, perumahan bersubsidi dan usaha kecil dan swasta.
Pada bulan Juli 2014, CDB kembali menerima 1 triliun yuan, yang merupakan pinjaman berjangka tiga tahun dari PBOC. Dengan adanya fasilitas ini maka memungkinkan bagi CDB untuk menggunakan pinjaman sebagai jaminan untuk mendapatkan dana yang diinvestasikan dalam proyek-proyek perumahan bersubsidi. Kali ini, CDB bisa menggunakan modal baru untuk membeli obligasi pemerintah daerah dan kemudian menggunakan efek tersebut sebagai jaminan untuk mendapatkan dana dari PBOC.
Ke depan kalangan ekonom berpendapat jika perlambatan ekonomi Tiongkok masih terus berlanjut maka bukan tidak mungkin jika PBOC kembali memangkas RRR perbankannya dan menyuntikkan dana lewat pembelian efek. Beberapa contoh diatas cukup memperkuat bagaiman adopsi kebijakan moneter Tiongkok ke depan.

Sumber : Liputan6

Inflasi Tinggi Persulit Indonesia Hadapi Kompetisi Pasar Bebas

BESTPROFIT FUTURES MALANG (30/4) - Pemerintahan Joko Widodo mematok target pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2016 mendatang diantara 6,4 persen – 6,6 persen. Target pertumbuhan ekonomi ini naik signifikan dibanding target pertumbuhan ekonomi dalam APBN Perubahan (APBN-P) 2015 yang dipatok di level 5,7 persen. 
Adapun target pemerintah pada tahun 2016 mendatang yaitu pertumbuhan ekonomi sebesar  6,4 persen – 6,6 persen, inflasi 4 persen, angka kemiskinan 9-10 persen, pengangguran 5,2 persen – 5,5 persen, rasio penerimaan pajak 13,3 persen. Untuk mengejar pertumbuhan ekonomi tersebut tentunya pembangunan infrastruktur Indonesia jelas harus dilakukan dengan cepat dan tepat sasaran.
Meski demikian, sebelum jauh melihat target di tahun 2016 mendatang, Gubernur Bank Indonesia (BI) Agus DW Martowardojo menyatakan kekhawatirannya bahwa dalam menghadapi kompetisi pasar bebas ASEAN di penghujung 2015 ini Indonesia bisa kalah bersaing dengan negara-negara di kawasan yang memiliki inflasi rendah. Yang dimaksud disini adalah produk yang dihasilkan negara dengan inflasi tinggi kemungkinan besar akan kalah saing dengan negara-negara yang inflasinya rendah.
Seperti diketahui, Indonesia memiliki indeks harga konsumen yang lebih tinggi dibanding beberapa negara di kawasan. Seperti diketahui, hingga bulan Maret lalu saja laju inflasi Indonesia sudah mencapai 6,38 persen (yoy).  Persentase inflasi ini jelas jauh lebih tinggi dibanding Filipina (0,1 persen), dan Malaysia (2,4 persen), apalagi dengan Thailand yang mengalami deflasi 0,57 persen dan juga Singapura yang deflasi 0,39 persen.
Pada dua tahun terakhir, inflasi di Indonesia telah mencapai 8,3 persen, jauh lebih tinggi dibanding Filipina yang sudah mampu mengendalikan inflasi di bawah 5 persen. Padahal, Indonesia dan Filipina merupakan sama-sama negara kepulauan. Harus dipahami bahwa inflasi yang rendah dan stabil penting untuk dicapai, karena kaitannya dengan daya saing negara lain. Dengan angka inflasi Indonesia yang di atas 5 persen maka diperkirakan akan menyulitkan posisi Indonesia dalam era MEA.

Sumber : Liputan6

Stevie Wonder Penasaran Naik Mobil "Iron Man"

BESTPROFIT FUTURES MALANG (30/4) - Tesla Model S menjadi sedan premium yang paling fenomenal beberapa waktu teakhir. Bagaimana tidak, mobil bertenaga listrik ini sanggup memamerkan performa gahar saat dikendarai.

Bahkan, keunggulan yang dimiliki Tesla Model S sanggup membuat seorang penyanyi sekaliber Stevie Wonder tergoda untuk mengendarainya. Melansir laman Autoevolution, Kamis (29/4/2015), Stevie mengungkapkan ketertarikannya tersebut dalam sebuah acara talkshow yang ingin meminjam Tesla Model S milik si pembawa acara.

Penyanyi tuna netra ini kepincut karena sempat merasakan keunggulan Tesla Model S sebagai penumpang. Cedric yang menjadi pembawa acara sebelumnya mempersilakan Stevie Wonder berkeliling beberapa blok menggunakan mobil listrik miliknya.

"Ini keren, Anda harus membiarkan saya mengemudikannya," ujar Stevie.

Cedric pun terperanjat karena Stevie menyangka jika Tesla Model S telah didukung fitur self-driving. Berhubung penyanyi jazz ini sudah menderita tuna netra sejak lahir, ia pun langsung menjelaskan jika kecanggihan pada sedan saloon ini baru sebatas motor listrik.

“Stevie, Stevie, ini mobil listrik, bukan suatu sihir,” ujar Cedric.


Sumber : Liputan6

Pernyataan The Fed Bikin Bursa AS Melemah

BESTPROFIT FUTURES MALANG (30/4) - Bursa saham Amerika Serikat (AS) ditutup turun pada Kamis (Rabu) ini usai pernyataan The Federal Reserve (Fed) yang mengatakan data ekonomi menunjukkan pertumbuhan ekonomi negara ini melambat lebih tajam dari perkiraan pada kuartal pertama.

Pernyataan The Fed ini menjadi sinyal jika mereka tidak siap untuk menaikkan suku bunga setidaknya sampai September, yang membuat pasar saham jatuh.

Dow Jones Industrial Average turun 74,61 poin atau 0,41 persen ke posisi 18.035,53. Sementara indeks S&P 500 kehilangan 7,91 poin, atau 0,37 persen menjadi 2.106,85 dan Nasdaq Composite turun 31,78 poin atau 0,63 persen ke 5.023,64.

"Kita semua tahu Fed akan senang untuk memulai normalisasi suku, tetapi fakta sederhananya data ekonomi tidak menjamin tindakan itu sekarang ini," kata Wayne Kaufman, Kepala Analis Pasar di Phoenix Financial Services di New York melansir laman Reuters.

Selain khawatir dengan pelemahan ekonomi yang akan terus berlanjut, investor AS juga khawatir tentang kemungkinan The Fed menaikkan suku bunga terlalu cepat.

Pernyataan kebijakan bank sentral ini usai menggelar pertemuan-pertemuan membahas waktu kenaikan suku bunga pertama sejak Juni 2006, membuat keputusan seperti itu semata-mata tergantung pada data ekonomi yang masuk.

Adapun saham yang mengalami penurunan antara lain, saham Twitter (TWTR.N) yang susut 8,9 persen menjadi US$ 38,49, sehari setelah perusahaan memangkas proyeksi tahunan karena permintaan iklan baru yang lemah.

Decliners lainnya termasuk Wynn Resorts (WYNN.O), yang jatuh 16,6 persen menjadi US$ 108,77 setelah operator kasino melaporkan penurunan dari perkiraan laba kuartal pertama.

Sekitar 7,2 miliar saham berpindah tangan di bursa AS, di atas 6,3 miliar rata-rata harian untuk bulan sampai saat ini, menurut BATS Global Markets.(Nrm)


Sumber : Liputan6

Tuesday, 28 April 2015

Penjualan Mobil Astra Awal Tahun Merosot, Saham ASII Masih Dalam Tekanan

BESTPROFIT FUTURES MALANG (29/4) - Tahun 2015 sudah melewati kuartal pertamanya dan tidak sedikit emiten di bursa yang sudah merilis laporan kuartalannya. Salah satu dari emiten tersebut yaitu PT Astra International, Tbk (ASII). Sepanjang Januari-Maret 2015, laba bersih ASII turun 15,46% secara year on year (yoy) menjadi 3,99 triliun. Hal tersebut dipengaruhi oleh menyusutnya pendapatan ASII kuartal I sebesar 9,29% menjadi Rp 45,19 triliun lantaran kinerja anak usaha bidang otomotif, agribisnis serta infrasktruktur, logistik dan lainnya tidak begitu baik.
Faktor melambatnya pertumbuhan ekonomi dan perang diskon turut membuat penjualan otomotif Astra menjadi merosot. Penjualan mobil Astra turun 21% menjadi 137.000 unit. Kondisi ini berbuntut penurunan pangsa pasar menjadi kendaraan roda empat dari 53% menjadi 49%. Sementara itu, penjualan sepeda motor melorot sebesar 13% menjadi 1,1 juta unit namun pangsa pasar ini naik menjadi 68%. Bisnis komponen otomotif memberikan kontribusi rendah akibat depresiasi rupiah terhadap dolar AS.
Begitu pula dengan laba bersih divisi manufaktur, logistik dan lainnya melempem sebesar 59% menjadi Rp 36 miliar. Penurunan tersebut diakibatkan oleh kerugian awal yang timbul dari pengoperasian seksi 1 jalan tol Kertosono-Mojokerto.
Di sisi lain ASII tertolong performa bisnis di sektor jasa keuangan. Laba bersih divisi ini meningkat 21 menjadi Rp 1,2 triliun. Beberapa anak usaha yang bergerak di sektor tersebut antara lain PT Asuransi Astra Buana, PT Bank Permata, Tbk (BNLI) dan PT Federal International Finance (FIF). Selain itu, sektor alat berat dan divisi teknologi informasi yang masing-masing menyumbang laba bersih sebesar Rp 983 miliar dan Rp 37 miliar turut menopang kinerja ASII yang sedang tidak begitu baik.
Melihat kinerja keuangan hingga Maret 2015, pendapatan ASII menjadi Rp 45,18 triliun atau turun 10,27% dari kuartal yang sama pada tahun lalu sebesar Rp 49,82 triliun. Total aset ASII hingga Maret 2015 mencapai Rp 244,14 triliun atau naik dari kuartal I tahun lalu Rp 222,38 triliun.
ROA dan ROE ASII pada kuartal I 2015 mengalami penurunan dibandingkan kuartal yang sama pada tahun lalu dimana ROA ASII pada kuartal pertama tahun ini menjadi 2,43%, dibandingkan kuartal yang sama pada tahun lalu sebesar 3,16% dan ROE pada kuartal pertama tahun ini menjadi 4,71% dibandingkan kuartal pertama tahun sebelumnya sebesar 6,22%.
Menilik kabar dari lantai bursa perdagangan saham pada Selasa (28/4/2015), saham ASII turun pada level 7350 setelah pada penutupan sebelumnya berada pada level 7450 dan bergerak pada kisaran 7250-7400 dengan volume perdagangan saham ASII mencapai 185760 lot saham. 
Analyst Vibiz Research Center melihat sisi indikator teknikal, harga saham ASII terpantau mengalami tren penguatan hingga mencapai level 8575 namun kemarin saham ASII terkoreksi cukup tajam ke level 7450 akibat aksi profit taking. Indikator Stochastic menunjukkan pergerakan ke area jenuh jual dan indikator ADX menunjukkan garis –DI di atas garis +DI serta garis ADX yang menanjak memperkirakan bahwa tren saham ASII akan cenderung downtrend secara terbatas. Dengan kondisi teknikalnya, ASII masih akan bergerak secara melemah terbatas dan menunggu sentimen fundamental yang menggerakkan ASII. Rekomendasi trading hingga akhir hari ini berada pada target support di level 7283 hingga target resistence di level 7433.

Sumber : Vibiznews

Tiongkok Jadi Biang Kerok Kebijakan Moneter Bank Sentral se-Asia

BESTPROFIT FUTURES MALANG (29/4) - Perlambatan ekonomi yang tengah terjadi di Tiongkok saat ini disinyalir kerap memberi tekanan pada bank-bank sentral di Asia untuk menurunkan suku bunganya. Hingga saat ini hambatan terbesar pada prospek pertumbuhan ekonomi Asia ke depan masih berada di perekonomian Tiongkok.
Seperti diketahui, PDB Tiongkok pada kuartal pertama tahun ini melambat ke level terendahnya sejak 2009. Melambatnya PDB Tiongkok ini akhirnya memaksa Bank Rakyat China (PBOC) untuk memangkas rasio cadangan kas yang harus dimiliki perbankan untuk memacu penyaluran uang ke sektor riil.
Kebijakan moneter longgar dalam bentuk apapun diperkirakan masih akan terus menghiasi pergerakan arah kebijakan bank sentral negara-negara di Asia. Bahkan ke depan kebijakan moneter longgar ini diprediksi juga akan diikuti oleh Australia, Korea Selatan, Indonesia, India, dan juga Jepang.
Sebelumnya Gubernur Bank of Japan (BOJ), Haruhiko Kuroda mengatakan bahwa rekor pembelian utang pemerintah dinilai akan berhasil dalam meningkatkan laju inflasi Jepang. Namun yang terjadi justru tidak sesuai harapan, berdasarkan data yang baru rilis hari ini dilaporkan bahwa tingkat penjualan ritel Jepang bulan Maret merosot ke level terburukanya sejak tahun 1998 silam.
Prospek kebijakan moneter bank sentral di seluruh wilayah Asia diproyeksikan akan seragam. Pertumbuhan ekonomi di kawasan Asia Pasifik pada tahun ini diprediksi akan tumbuh sebesar 5,6 persen atau tidak mengalami perubahan dari laju pertumbuhan di tahun 2014 lalu.

Sumber : Vibiznews

PDB AS Q1-2015 Diproyeksi Melambat, Kenaikan Fed Rate Terancam Lagi

BESTPROFIT FUTURES MALANG (29/4) - Realisasi wacana kenaikan suku bunga The Fed yang sudah ditunggu-tunggu investor sejak tahun lalu diperkirakan tidakakan terjadi sampai September mendatang. Adapun alasan kuat yang mendukung perkiraan ini adalah karena para pejabat The Fed masih ingin memacu inflasi agar dapat menyentuh target yang diharapkan. Pasalnya pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat (AS) di kuartal pertama tahun ini cukup tergerus akibat musim dingin yang ekstrem.
Dampak dari musim dingin tersebut cukup menghambat aktivitas jual beli terutama properti dan rally dolar yang lebih kuat juga telah berkontribusi terhadap melambatnya laju pertumbuhan ekonomi AS ke level terendahnya dalam setahun terakhir. Sebagian besar ekonom menilai The Fed belum berani menaikkan suku bunganya dalam jangka waktu dekat ini karena masih ingin melihat bagaimana laju pertumbuhan ekonomi AS di kuartal kedua tahun ini.
Pada pekan ini PDB AS untuk kuartal I-2015 akan dirilis dan sebagian besar ekonom memroyeksikan pertumbuhan ekonomi AS akan melambat ke laju tahunan sebesar 1 persen dari 2,2 persen yang berhasil dicetak pada kuartal sebelumnya. Selain karena faktor cuaca, penurunan investasi yang berhubungan dengan energi yang disebabkan oleh turunnya harga minyak juga menjadi pemicu melambatnya pertumbuhan ekonomi AS di kuartal pertama ini. 
Seperti diketahui, The Fed telah mempertahankan suku bunga rendah yang mendekati nol sejak Desember 2008 silam. Tingkat pengangguran AS yang masih cukup tinggi dinilai masih harus ditekan agar akselerasi pertumbuhan ekonomi di negara dengan ekonomi terkuat di dunia ini dapat berjalan mulus. Seperti dilaporkan sebelumnya bahwa tingkat pengangguran AS tidak berubah di bulan Maret masih tercatat sebesar 5,5 persen demikin juga dengan keuntungan di non-farm payrolls melambat menjadi 126.000.
Hingga hari ini penurunan harga minyak masih menjadi pemicu tekanan deflasi di AS padahal target inflasi yang dipatok adalah sebesar 2 persen. Laju inflasi sendiri diperkirakan tidak akan meningkat dalam waktu dekat. Melihat kondisi pasar tenaga kerja dan laju inflasi AS yang masih belum sesuai harapan, maka sangat tidak mungkin The Fed menaikkan suku bunganya dalam jangka waktu dekat.

Sumber : Vibiznews

Indeks S&P 500 Terangkat Laba IBM & Merck, Nasdaq Rontok

BESTPROFIT FUTURES MALANG (29/4) - Indeks saham S&P 500 naik ditopang cerahnya prospek laba  tahunan Merck & Co dan IBM Corp meningkatkan pembagian dividennya sebelum keputusan Bank Sentral Amerika SErikat (The Fed) pada hari ini. Indeks Nasdaq 100 turun 0,2 persen karena laporan laba Apple Inc.

Dillansir dari Bloomberg, Rabu (29/4/2015), saham Merck menguat 5 persen setelah perseroan memutuskan untuk mendongkrak proyeksi laba tahunannya.

Saham International Business Machines Corp naik 1,9 persen. Sementara Twitter Inc anjlok 18 persen setelah rilis laporan keuangan yang menunjukkan anjloknya pendapatan pada kuartal I 2015, bahkan setelah merilis produk dan fitur baru demi menarik banyak pengguna.

Apple tergelincir 1,6 persen di tengah kekhawatiran pertumbuhan iPhone yang cepat mungkin tidak akan berlanjut. Whirlpool Corp turun 7,1 persen setelah memangkas proyeksi kinerja tahunan.

Indeks S&P 500 naik 0,3 persen menjadi 2.114,76 pada pukul 4 sore waktu New York. Dow Jones Industrial Average menguat 72,17 poin atau 0,4 persen, ke 18.110,14.  Indeks Nasdaq turun 0,1 persen, sedangkan Indeks Russell 2000 naik 0,5 persen. Sekitar 6,7 miliar saham berpindah tangan di Bursa AS, sekitar 1 persen di atas rata-rata tiga bulan.

"Laporan laba emiten menjadi penentu pergerakan pasar modal saat ini," kata analis investasi senior Chemung Canal Trust Co, Tom Wirth, yang mengelola US$ 1,9 miliar.

Di tengah rilis laporan keuangan emiten pada kuartal I 2015, investor juga menunggu hasil pertemuan The Fed, yang dimulai hari ini yang akan menjadi  petunjuk lebih lanjut mengenai waktu kenaikan suku bunga acuan.

The Fed tidak akan menaikkan suku bunga sampai pertemuan September, menurut 73 persen dari 59 ekonom dalam survei Bloomberg News. Angka ini naik dari 37 persen pada survei Maret, ketika mayoritas mengatakan, kenaikan pertama kemungkinan akan datang pada bulan Juni atau Juli. (Ndw)


Sumber : Liputan6