BESTPROFIT FUTURES MALANG (4/5) - Di masa lalu, balon udara berisi gas helium sempat menjadi alat
angkutan udara. Karena kemampuannya menanggung beban yang cukup berat.
Namun demikian, balon udara seperti itu terbang lambat.
Tapi tak demikian dengan saat ini, teknologi balon helium untuk
sarana angkutan udara itu telah mendapat sentuhan teknologi terkini.
Seorang mantan pakar teknologi nuklir Robert D. Hunt dari Hunt
Aviation Corp yang memperbaiki kreasi rancangan balon udara itu.
Caranya: ia dengan menempatkan sejumlah balon udara elastis berukuran
kecil dalam badan pesawat yang kaku namun ringan tersebut.
Ketika akan terbang, balon-balon udara itu akan diisi dengan gas
helium yang memiliki berat jenis yang lebih ringan daripada gas-gas di
atmosfer. Dengan demikian, pesawat terbang ini akan terangkat ke udara.
Setelah mencapai ketinggian yang cukup, pesawat terbang akan
diarahkan ke tujuan dan dibiarkan bergerak dengan menggunakan daya tarik
bumi.
Sumber : Liputan6
Sunday, 3 May 2015
Pemimpin 3 Negara Utama Asia Bicarakan Nasib Ekonomi Mereka
BESTPROFIT FUTURES MALANG (4/5) - Gubernur bank sentral dan menteri
keuangan Tiongkok, Jepang dan Korea Selatan (Korsel) mengadakan
pertemuan bilateral ditengah pertemuan tahunan pemimpin ADB (Asian
Development Bank) di Baku, Azerbaijan 3-4 Mei 2015. Dalam pertemuan
tersebut mereka menyatakan kesepahaman dan komitmen mereka untuk
mengaplikasikan kebijakan moneter yang berorientasi mendukung permintaan
dalam menghadapi lemahnya pertumbuhan global yang cenderung bergerak
moderat dan tidak merata.
Dalam pertemuan tersebut, mereka sepakat
bahwa saat ini ekonomi global sedang berada dalam fase yang penuh
tekanan sehingga mereka berkomitmen untuk terus menerapkan kebijakan
makroekonomi yang tepat waktu dan efektif untuk membantu meningkatkan
permintaan. Namun, reformasi struktural untuk meningkatkan pertumbuhan
potensial akan tetap menjadi prioritas utama untuk memperoleh
pertumbuhan yang berkelanjutan dan seimbang.
Dalam lingkungan yang serba tidak pasti
sekarang ini, pengaturan kebijakan moneter dipandang harus diaplikasikan
dengan lebih hati-hati dan dikomunikasikan dengan jelas dengan
negara-negara lain untuk meminimalkan dampak situasi negatif yang sudah
ada, terutama dalam meminimalisir terjadinya assymetric information. Sementara
itu, beralih ke Amerika Serikat (AS), banyak ekonom yang menghimbau
agar kenaikan suku bunga The Fed AS tidak dinaikkan tahun ini karena
justru akan emmperparah kondisi ekonom global.
Informasi tentang kenaikan suku bunga
The Fed akan sangat mempengaruhi kebijakan moneter di negara-negara
lain. terutama jika negara tersebut berhadapan dengan risiko stabilitas
makroekonomi dan keuangan yang timbul dari arus modal yang mudah keluar.
Terutama negara-negara di Asia yang hampir kebanyakan masih memegang
status negara berkembang. Hingga saat ini ekonomi Asia masih berusaha
untuk bangkit namun sayang, belakangan impian tersebut sering terhambat.
Pasalnya, pertumbuhan Tiongkok, yang memiliki ekonomi terbesar kedua di
dunia saja telah merosot ke posisi terendahnya dalam enam tahun terahir
dengan PDB tercatat sebesar 7,0 persen pada kuartal pertama tahun ini.
Sementara itu, Jepang, yang memiliki ekonomi terbesar ketiga, berhasil mencatat rebound
dari fase resesi pada kuartal terakhir tahun lalu, dengan pertumbuhan
sebesar 2,2 persen, namun persentase ini masih dinilai lemah dan gejala
deflasi masih terlihat.
Menteri Keuangan Korea Selatan sendiri,
Choi Kyung-hwan juga menyampaikan bahwa tingkat pertumbuhan ekonomi di
negaranya tahun ini kemungkinan masih akan berada pada
kisaran pertumbuhan 3,3 persen sesuai dengan proyeksi yang dibuat
tahun 2014 lalu. Para pembuat kebijakan di Korsel mengkonfirmasi bahwa
kemungkinan besar mereka masih akan menunggu sampai akhir Juni mendatang
untuk menilai apakah diperlukan tambahan stimulus atau tidak.
Pekan lalu, berbagai rilis data dari 3
(tiga) negara utama di kawasan Asia Utara ini memenuhi tajuk utama
berita internasional. Dilaporkan bahwa kinerja manufaktur Tiongkok dan
Jepang memang menunjukkan kondisi yang kurang memuaskan. Sedangkan
Korsel dilaporkan dapat terjebak dalam jurang deflasi. Beberapa kondisi
yang cukup mengkhawatirkan pertumbuhan ekonomi ke-3 negara ini bisa
menjadi alasan pertemuan bilateral ini untuk memperkuat perekonomian di
negara nya.
Sumber : Vibiznews
Akibat Apresiasi Dollar Terhadap Bisnis Manufaktur AS
BESTPROFIT FUTURES MALANG (4/5) - Pekan lalu berbagai data kinerja
manufaktur di negara-negara maju telah dirilis. Kinerja manufaktur di
Tiongkok, Jepang dan Inggris masih menunjukkan pergerakan yang belum
memuaskan, demikian juga dengan Amerika Serikat (AS). Pasalnya, laju
ekspansi di sektor manufaktur AS untuk periode April yang dikeluarkan
oleh Institute for Supply Management tidak mengalami perubahan skor indeks dari bulan sebelumnya.
ISM melaporkan bahwa skor PMI manufaktur
AS di bulan April masih tercatat sebesar 51,5, sama dengan bulan
sebelumnya. Meski tidak mengalami perubahan dari bukan sebelumnya,
kinerja manufaktur di negara ini masih tercatat mengalami ekspansi
karena masih mencatat skor diatas 50.
Meskipun mencatat pertumbuhan yang
stagnan, mnurut laporan ISM, sekitar 15 dari 18 industri manufaktur di
AS melaporkan pertumbuhan yang cukup baik pada bulan April jika
dibandingkan dengan ulan sebelumnya. Hal ini terlihat dari
naiknya indeks pesanan baru menjadi 53,5 pada April dari 51,8 pada bulan
Maret, sementara indeks produksi juga naik menjadi 56,0 pada bulan
April dari 53,8 di bulan Maret.
Namun di sisi lain, indeks kerja turun
menjadi 48,3 pada bulan April dari 50,0 pada bulan sebelumnya, hal ini
mencerminkan adanya kontraksi terhadap pekerjaan di sektor
manufaktur. ISM juga melaporkan bahwa indeks harga naik tipis menjadi
40,5 pada bulan April dari 39,0 pada bulan Maret. Ke depan sektor
manufaktur AS yang berorientasi ekspor ini diperkirakan masih harus
berjuang untuk memulihkan laju ekspansinya, terutama dalam menghadapi
apresiasi Dolar AS yang masih berlangsung hingga hari ini.
Sumber : Vibiznews
Belanja Konstruksi AS Merosot Tajam Duduki Posisi Terendahnya
BESTPROFIT FUTURES MALANG (4/5) - Belanja konstruksi Amerika Serikat (AS)
pada bulan Maret tercatat alami penurunan yang cukup tajam sehingga
menempati posisi terendahnya dalam enam bulan terakhir. Anjloknya
belanja konstruksi di negara dengan ekonomi terkuat di dunia ini
disebabkan oleh pengeluaran belanja konstruksi perumahan oleh swasta
yang menurun tajam. Tentu saja hal ini kembali menimbulkan kekhawatiran
bahwa pertumbuhan ekonomi AS di kuartal selanjutnya dapat kembali
tergerus.
Belanja konstruksi AS tercatat turun 0,6
persen (yoy) menjadi sebesar $ 966.600.000.000, tingkat ini adalah yang
terendah sejak September 2014 lalu, demikian berdasarkan laporan dari
Departemen Perdagangan AS pada pekan lalu.
Kontraksi sebesar 0,6 persen cukup
mengejutkan para ekonom, pasalnya mereka justru memperkirakan belanja
konstruksi akan naik 0,5 persen pada Maret lalu. Data konstruksi dan
manufaktur AS yang dirilis pekan lalu semakin menunjukkan
hilangnya momentum pemulihan ekonomi yang kuat mengawali kuartal kedua
tahun ini.
Beberapa hal memang cukup enjadi
penghambat laju pertumbuhan ekonomi AS pada awal tahun ini seperti cuaca
buruk, apresiasi dolar AS, perselisihan antarburuh di pelabuhan Pantai
Barat, serta harga minyak yang lebih rendah yang akibatnya telah
memangkas produksi energi dalam negeri.
Pada bulan Maret, belanja konstruksi
terbebani oleh penurunan sebesar 1,6 persen terhadap pengeluaran
konstruksi perumahan swasta, dimana penurunan ini adalah yang terbesar
sejak Juni tahun lalu. Sedangkan pengeluaran untuk proyek-proyek
konstruksi non-perumahan swasta naik 1,0 persen pada Maret.
Sumber : Vibiznews
Keren, Seniman Grafiti Pakai Drone untuk Buat Mural
BESTPROFIT FUTURES MALANG (4/5) - Drone atau pesawat tanpa awak, belakangan ini kerap muncul dalam pemberitaan di berbagai media. Salah satu drone yang cukup terkenal adalah besutan perusahaan aerospace Lockheed Martin, yang berfungsi untuk membantu menemukan orang hilang.
Kabar terbaru datang dari KATSU, seorang seniman grafiti yang memutuskan menggunakan drone untuk mencorat-coret sebuah billboard di New York City. Dan kebetulan, billboard tersebut bergambar wajah model papan atas, Kendal Jenner.
"Secara mengejutkan, ini dapat berfungsi dengan sangat baik. Ini menarik untuk melihat potensi penggunaan pertama sebagai perangkat untuk vandalisme," kata KATSU seperti dikutip dari laman Ubergizmo, Senin (4/5/2015).
Modifikasi drone ini disebutkan bakal menjadi cara baru dalam membuat street art atau mural. KATSU dikenal sebagai seniman yang eksentrik. Ia kerap menghiasi berita utama di sejumlah media.
Pada April 2014, KATSU menjadi berita utama ketika ia menemukan cara untuk melampirkan kaleng semprot ke drone DJI phantom. Pada saat itu, ia hanya menggunakan pesawat tak berawak untuk melukis di atas kanvas.
(isk/dew)
Sumber : Liputan6
Kabar terbaru datang dari KATSU, seorang seniman grafiti yang memutuskan menggunakan drone untuk mencorat-coret sebuah billboard di New York City. Dan kebetulan, billboard tersebut bergambar wajah model papan atas, Kendal Jenner.
"Secara mengejutkan, ini dapat berfungsi dengan sangat baik. Ini menarik untuk melihat potensi penggunaan pertama sebagai perangkat untuk vandalisme," kata KATSU seperti dikutip dari laman Ubergizmo, Senin (4/5/2015).
Modifikasi drone ini disebutkan bakal menjadi cara baru dalam membuat street art atau mural. KATSU dikenal sebagai seniman yang eksentrik. Ia kerap menghiasi berita utama di sejumlah media.
Pada April 2014, KATSU menjadi berita utama ketika ia menemukan cara untuk melampirkan kaleng semprot ke drone DJI phantom. Pada saat itu, ia hanya menggunakan pesawat tak berawak untuk melukis di atas kanvas.
(isk/dew)
Sumber : Liputan6
Thursday, 30 April 2015
Dolar AS Melemah Angkat Harga Minyak Dunia
BESTPROFIT FUTURES MALANG (1/5) - Dolar Amerika Serikat (AS) melemah dan pasokan minyak Amerika Serikat (AS) menurun telah mendorong harga minyak acuan dunia menguat.
Harga minyak jenis Brent ditutup naik 85 sen menjadi US$ 66,69 per barel. Harga minyak ini telah naik 21 persen pada April 2015. Sementara itu, harga minyak acuan Amerika Serikat (AS) menguat US$ 1,05 menjadi US$ 59,63. Harga minyak ini telah naik 25 persen sepanjang April 2015.
Kenaikan harga minyak dipicu dolar AS jatuh ke level terendah dalam dua bulan ini sehingga membuat minyak lebih murah bagi pemegang mata uang lainnya.
Selain itu, meski persediaan minyak AS terus meningkat selama berbulan-bulan tetapi mulai menurun dalam beberapa pekan terakhir. Hal itu seiring produksi dalam negeri menurun.
Harga minyak baik Brent dan West Texas Intermediate (WTI) cenderung menguat pada April 2015. Harga minyak masing-masing naik sekitar US$ 12. Ini keuntungan terbaik sejak Mei 2009. Akan tetapi, sejumlah pihak skeptis harga minyak terus reli.
Hal itu seiring pertumbuhan ekonomi AS melambat pada kuartal I 2015. Ekonomi AS hanya tumbuh 0,2 persen. Ditambah Organisai Negara Pengekspor Minyak (OPEC) juga tidak berniat untuk menurukan produksi minyak.
"Tampaknya kenaikan harga minyak ini sementara mengingat pasokan OPEC tak berhenti dan data ekonomi AS yang variatif. Ini juga berpengaruh ke dolar," kata John Kilduff, Partner New York Energy Hedge Fund Again Capital, seperti dikutip dari laman Reuters, Jumat (1/5/2015).
(Ahm/)
Harga minyak jenis Brent ditutup naik 85 sen menjadi US$ 66,69 per barel. Harga minyak ini telah naik 21 persen pada April 2015. Sementara itu, harga minyak acuan Amerika Serikat (AS) menguat US$ 1,05 menjadi US$ 59,63. Harga minyak ini telah naik 25 persen sepanjang April 2015.
Kenaikan harga minyak dipicu dolar AS jatuh ke level terendah dalam dua bulan ini sehingga membuat minyak lebih murah bagi pemegang mata uang lainnya.
Selain itu, meski persediaan minyak AS terus meningkat selama berbulan-bulan tetapi mulai menurun dalam beberapa pekan terakhir. Hal itu seiring produksi dalam negeri menurun.
Harga minyak baik Brent dan West Texas Intermediate (WTI) cenderung menguat pada April 2015. Harga minyak masing-masing naik sekitar US$ 12. Ini keuntungan terbaik sejak Mei 2009. Akan tetapi, sejumlah pihak skeptis harga minyak terus reli.
Hal itu seiring pertumbuhan ekonomi AS melambat pada kuartal I 2015. Ekonomi AS hanya tumbuh 0,2 persen. Ditambah Organisai Negara Pengekspor Minyak (OPEC) juga tidak berniat untuk menurukan produksi minyak.
"Tampaknya kenaikan harga minyak ini sementara mengingat pasokan OPEC tak berhenti dan data ekonomi AS yang variatif. Ini juga berpengaruh ke dolar," kata John Kilduff, Partner New York Energy Hedge Fund Again Capital, seperti dikutip dari laman Reuters, Jumat (1/5/2015).
(Ahm/)
Minyak Menuju Gain Bulanan Tertajam Sejak 2009
BESTPROFIT FUTURES MALANG (1/5) - Minyak
menuju gain bulanan tertajam sejak Mei 2009 seiring pertumbuhan
produksi minyak mentah melambat dan persediaan menurun di pusat
penyimpanan terbesar Amerika tersebut.
Minyak
berjangka naik 0,9% di New York, membawa gain menuju bulanan sebesar
24%. Stok minyak mentah di Cushing, Oklahoma, menyusut untuk pertama
kalinya sejak November, sementara produksi mendekati enam pekan
terendah, menurut EIA pada Rabu. Ini diikuti prediksi lembaga pada 13
April bahwa output dari formasi tight-rock akan menurun pada bulan Mei, yang merupakan perkiraan pertama untuk penurunan.
Minyak
terus pulih dari level terendahnya enam tahun yang dicapai pada Maret
seiring jumlah rig pengebor di AS mengurangi produksinya sejak Oktober
2010. Sementara reli mungkin masih goyah, dengan persediaan minyak
mentah lokal berada di level tertinggi dalam 85 tahun, spekulan telah
meninggalkan lindung nilai atas dana yang diperdagangkan di bursa pada
rekornya.
Minyak
West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Juni naik sebanyak 82
sen, atau 1,4%, ke level $ 59,40 per barel dalam perdagangan elektronik
di New York Mercantile Exchange, yang merupakan harga tertinggi sejak 12
Desember. Diperdagangkan pada level $ 59,07 pada 12:04 siang waktu
London . Kontrak naik $ 1,52 ke level $ 58,58 pada hari Rabu. Harga
telah meningkat sekitar 11% pada tahun 2015.(yds)
Sumber: Bloomberg
Emas Melanjutkan Penurunan Dari Level 3 Pekan Tertinggi
BESTPROFIT FUTURES MALANG (1/5) - Emas melanjutkan penurunan dari level tiga pekan tertinggi terkait prospek Federal Reserve yang akan menaikkan suku bunga acuan.
Emas
untuk pengiriman Juni turun 0,6% menjadi $ 1,202.70 per ons pada 6:06
di Comex New York. Harga, yang mencapai tertinggi tiga pekan pada
tanggal 28 April, naik 1,6% pada April, ditetapkan untuk kenaikan
bulanan pertama ketiga kalinya. Bullion untuk pengiriman segera sedikit
berubah pada level $ 1,205.92, menurut harga Bloomberg.
Perak
untuk pengiriman segera naik 0,3% menjadi $ 16,6125 per ons di London,
dan sedikit berubah bulan ini. Platinum turun 0,2% menjadi $ 1,151.88
per ons, dan naik 0,9% pada April. Palladium turun 0,1% menjadi $ 782
per ons. Ini naik 6,2% pada April, ditetapkan untuk kenaikan bulanan
tertajam sejak Juli 2013.(yds)
Sumber: Bloomberg
Emas Turun 2% Pasca Data Pekerjaan Lebih Baik dari Proyeksi
BESTPROFIT FUTURES MALANG (1/5) - Emas
turun sebesar 2 persen pada perdagangan hari Kamis pasca data pekerjaan
AS lebih baik dari perkiraan sehingga mendorong investor untuk menjual
emas, menghidupkan kembali harapan bahwa Federal Reserve akan menaikkan
suku bunga dalam waktu dekat.
Data
yang dirilis pada hari Kamis menunjukkan klaim untuk tunjangan
pengangguran AS turun 34.000 ke penyesuaian musiman 262.000 pada pekan
lalu, terendah sejak April 2000 lalu.
Secara
terpisah, belanja konsumen AS juga naik 0,4 persen bulan lalu pasca
naik 0,2 persen pada Februari lalu, sedangkan Indeks Manajemen Pembelian
Chicago melonjak lebih dari yang diharapkan pada bulan April.
Spot
emas menuju penurunan harian terbesar sejak 6 Maret lalu, pada sesi
sebelumnya emas turun sebanyak 2,3 persen ke level $1,176.80 per ons.
Kemudian kembali turun sebesar 1,8 persen ke level $1,183.03 per ons
pukul 2:48 EDT (1848 GMT), di jalur penurunan menuju harga penyelesaian
bulan April untuk bulan ketiga secata berturut-turut.
Harga penyelesaian emas berjangka AS untuk pengiriman Juni turun $27,60 per ons, atau 2,3 persen, ke level $1,182.40. (izr)
Sumber: Reuters
Euro Lanjutkan Tren Kenaikan Sejak 2013
BESTPROFIT FUTURES MALANG (1/5) - Euro
naik untuk hari keenam terhadap dolar, penguatan beruntun terpanjang
sejak Desember 2013 lalu terkait tanda-tanda membaiknya ekonomi Eropa
seiring melambatnya pertumbuhan ekonomi AS.
Sumber: Bloomberg
Euro
menguat terhadap semua mata uang utama seiring laporan menunjukkan
harga konsumen berakhir empat bulan turun dan obligasi imbal hasil
Jerman meningkat untuk hari kedua, menambah daya tarik mereka. Sebuah
indeks dolar naik dari level terendahnya dalam dua bulan terakhir pasca
laporan pertumbuhan ekonomi AS meleset dari perkiraan pada Rabu kemarin,
seiring Federal Reserve tengah mempertimbangkan kenaikan suku bunga.
Euro
menyentuh level $1,1249, level tertinggi sejak 26 Februari lalu,
sebelum ditransaksikan naik sebesar 0,8 persen ke level $1,1220 pukul
16:06 di New York. Euro menguat sebesar 1,2 persen ke level 133,97 yen.
Indeks
Bloomberg Dollar Spot, yang mengukur mata uang AS terhadap 10 mata uang
utama, naik, pengupas penurunan bulanan pertama sejak Juni lalu. Indeks
ditutup pada level terendah sejak 6 Februari lalu, kemarin. (izr)
Wednesday, 29 April 2015
Harga Minyak Sentuh Posisi Tertinggi di Tahun Ini
BESTPROFIT FUTURES MALANG (30/4) - Harga minyak mentah dunia mencapai posisi tertingg di tahun ini pada
Kamis (30/4/2015) usai laporan jika kelebihan stok minyak akan mulai
berkurang.
Melansir laman Reuters, harga minyak mentah berjangka AS pada April berakhir naik hampir 23 persen dan Brent hampir 20 persen lebih tinggi, yang merupakan keuntungan bulanan terbesar sejak Mei 2009 ketika ekonomi global mulai pulih dari krisis keuangan.
Akhirnya, harga minyak mentah berjangka AS ditutup naik US$ 1,52 menjadi US$ 58,58 per barel, setelah mencapai posisi tertinggi di 2015 pada posisi US$ 59,33 per barel.
Adapun harga minyak berjangka Brent patokan yang lebih banyak digunakan, berakhir naik US$ 1,20 menjadi US$ 65,84 setelah mencapai posisi tertingginya tahun ini US$ 66,72 per barel.
Kenaikan dipicu data pemerintah menunjukkan persediaan pekan lalu lebih kecil dari yang diperkirakan di seluruh Amerika Serikat juga dibantu sentimen di mana beberapa pedagang merasa pasar mengabaikan unsur-unsur seperti produksi yang lebih tinggi.
Harga minyak sudah mulai pulih di bulan ini karena aksi jual yang dimulai pada Juni tahun lalu.
Kenaikan itu sebagian didorong gagasan kekenyangan pasokan yang menyebabkan harga jatuh hingga setengahnya sejak musim panas lalu kemungkinan berkurang dengan permintaan yang lebih tinggi proyeksi.
Data pemerintah menunjukkan bahwa persediaan minyak mentah AS pekan lalu naik dan mencapai rekor tertinggi untuk minggu ke-16. Tetapi stok 1,9 juta barel lebih kecil dari perkiraan 4,2 juta barel, menurut American Petroleum Institute.
Stok minyak mentah di Cushing, titik pengiriman untuk minyak mentah berjangka AS, turun 514.000 barel, penurunan pertama sejak November.
"Persediaan di Cushing itu akhirnya menarik ke bawah karena permintaan kilang yang kuat, dan yang mendukung, karena akan menghilangkan ketakutan tentang kapasitas penyimpanan operasional dapat tercapai," kata John Kilduff, Mitra Again Capital LLC di New York. (Nrm)
Sumber : Liputan6
Melansir laman Reuters, harga minyak mentah berjangka AS pada April berakhir naik hampir 23 persen dan Brent hampir 20 persen lebih tinggi, yang merupakan keuntungan bulanan terbesar sejak Mei 2009 ketika ekonomi global mulai pulih dari krisis keuangan.
Akhirnya, harga minyak mentah berjangka AS ditutup naik US$ 1,52 menjadi US$ 58,58 per barel, setelah mencapai posisi tertinggi di 2015 pada posisi US$ 59,33 per barel.
Adapun harga minyak berjangka Brent patokan yang lebih banyak digunakan, berakhir naik US$ 1,20 menjadi US$ 65,84 setelah mencapai posisi tertingginya tahun ini US$ 66,72 per barel.
Kenaikan dipicu data pemerintah menunjukkan persediaan pekan lalu lebih kecil dari yang diperkirakan di seluruh Amerika Serikat juga dibantu sentimen di mana beberapa pedagang merasa pasar mengabaikan unsur-unsur seperti produksi yang lebih tinggi.
Harga minyak sudah mulai pulih di bulan ini karena aksi jual yang dimulai pada Juni tahun lalu.
Kenaikan itu sebagian didorong gagasan kekenyangan pasokan yang menyebabkan harga jatuh hingga setengahnya sejak musim panas lalu kemungkinan berkurang dengan permintaan yang lebih tinggi proyeksi.
Data pemerintah menunjukkan bahwa persediaan minyak mentah AS pekan lalu naik dan mencapai rekor tertinggi untuk minggu ke-16. Tetapi stok 1,9 juta barel lebih kecil dari perkiraan 4,2 juta barel, menurut American Petroleum Institute.
Stok minyak mentah di Cushing, titik pengiriman untuk minyak mentah berjangka AS, turun 514.000 barel, penurunan pertama sejak November.
"Persediaan di Cushing itu akhirnya menarik ke bawah karena permintaan kilang yang kuat, dan yang mendukung, karena akan menghilangkan ketakutan tentang kapasitas penyimpanan operasional dapat tercapai," kata John Kilduff, Mitra Again Capital LLC di New York. (Nrm)
Sumber : Liputan6
PBOC Kembali Renovasi Sistem Keuangan Negaranya
BESTPROFIT FUTURES MALANG (30/4) - Untuk mengatasi perlambatan ekonomi
Tiongkok yang kerap melanda negara tersebut hingga hari ini, Bank
sentral Tiongkok (PBOC) kembali melakukan cara untuk menumbuhkan ekonomi
negaranya. Kali ini kembali bank sentral negara tersebut merenovasi
sistem keuangannya dengan memperbolehkan bank-bank komersial menjadikan
obligasi pemerintah daerah sebagai jaminan likuiditas.
Tindakan ini bagi PBOC diyakini sebagai
cara untuk menyalurkan lebih banyak uang ke dalam pasar uang Tiongkok.
Saat ini isu tersebut sudah menyebar di pasar keuangan Tiongkok,
berbagai spekulasi mulai jadi skenario pembicaraan para pelaku
pasar bahwa PBOC akan menyuntikkan dana ke perekonomian Tiongkok melalui
cara konvensional tersebut yang intinya menuju pada “pelonggaran
kuantitatif”.
Seperti diketahui, pertumbuhan ekonomi
Tiongkok telah melambat, tapi tidak seperti Eropa dan Amerika Serikat
(AS), karena sebenarnya ada ruang berlimpah di Tiongkok untuk melawan
tekanan ekonomi global melalui cara konvensional selain dengan
mengurangi suku bunga dan pemangkasan cadanagan rasio perbankan. Hingga
saat inipun Tiongkok memang terkenal dengan kebijakan yang cukup
“irasiona” bagi negara lain misalnya dengan program pembelian aset yang
agresif.
Jika kita telaah kebelakang beberapa
kebijakan yang konvensional PBOC antara lain, pertama, pada 19 April
2014 lalu, PBOC telah memompa dana sebesar 1,2 triliun yuan ($
196.000.000.000) menjadi 1,5 triliun yuan ke pasar uang dengan
mengurangi RRR. Kedua, segera setelah RRR dipangkas, PBOC menyuntikkan
sejumlah besar dana ke bank-bank, yaitu sebesar $ 32.000.000.000 ke
China Development Bank (CDB) dan $ 30 miliar ke Bank Ekspor-Impor
Tiongkok. Tujuannya adalah untuk meningkatkan pinjaman bank di sektor
yang telah ditargetkan seperti pertanian, perumahan bersubsidi dan usaha
kecil dan swasta.
Pada bulan Juli 2014, CDB kembali
menerima 1 triliun yuan, yang merupakan pinjaman berjangka tiga tahun
dari PBOC. Dengan adanya fasilitas ini maka memungkinkan bagi CDB untuk
menggunakan pinjaman sebagai jaminan untuk mendapatkan dana yang
diinvestasikan dalam proyek-proyek perumahan bersubsidi. Kali ini, CDB
bisa menggunakan modal baru untuk membeli obligasi pemerintah daerah dan
kemudian menggunakan efek tersebut sebagai jaminan untuk mendapatkan
dana dari PBOC.
Ke depan kalangan ekonom berpendapat
jika perlambatan ekonomi Tiongkok masih terus berlanjut maka bukan tidak
mungkin jika PBOC kembali memangkas RRR perbankannya dan menyuntikkan
dana lewat pembelian efek. Beberapa contoh diatas cukup memperkuat
bagaiman adopsi kebijakan moneter Tiongkok ke depan.
Sumber : Liputan6
Inflasi Tinggi Persulit Indonesia Hadapi Kompetisi Pasar Bebas
BESTPROFIT FUTURES MALANG (30/4) - Pemerintahan Joko Widodo mematok target
pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2016 mendatang diantara 6,4 persen –
6,6 persen. Target pertumbuhan ekonomi ini naik signifikan dibanding
target pertumbuhan ekonomi dalam APBN Perubahan (APBN-P) 2015 yang
dipatok di level 5,7 persen.
Adapun target pemerintah pada tahun 2016
mendatang yaitu pertumbuhan ekonomi sebesar 6,4 persen – 6,6 persen,
inflasi 4 persen, angka kemiskinan 9-10 persen, pengangguran 5,2 persen –
5,5 persen, rasio penerimaan pajak 13,3 persen. Untuk mengejar
pertumbuhan ekonomi tersebut tentunya pembangunan infrastruktur
Indonesia jelas harus dilakukan dengan cepat dan tepat sasaran.
Meski
demikian, sebelum jauh melihat target di tahun 2016 mendatang, Gubernur
Bank Indonesia (BI) Agus DW Martowardojo menyatakan kekhawatirannya
bahwa dalam menghadapi kompetisi pasar bebas ASEAN di penghujung 2015
ini Indonesia bisa kalah bersaing dengan negara-negara di kawasan yang
memiliki inflasi rendah. Yang dimaksud disini adalah produk yang
dihasilkan negara dengan inflasi tinggi kemungkinan besar akan kalah
saing dengan negara-negara yang inflasinya rendah.
Seperti
diketahui, Indonesia memiliki indeks harga konsumen yang lebih tinggi
dibanding beberapa negara di kawasan. Seperti diketahui, hingga bulan
Maret lalu saja laju inflasi Indonesia sudah mencapai 6,38 persen
(yoy). Persentase inflasi ini jelas jauh lebih tinggi dibanding
Filipina (0,1 persen), dan Malaysia (2,4 persen), apalagi dengan
Thailand yang mengalami deflasi 0,57 persen dan juga Singapura yang
deflasi 0,39 persen.
Pada dua tahun
terakhir, inflasi di Indonesia telah mencapai 8,3 persen, jauh lebih
tinggi dibanding Filipina yang sudah mampu mengendalikan inflasi di
bawah 5 persen. Padahal, Indonesia dan Filipina merupakan sama-sama
negara kepulauan. Harus dipahami bahwa inflasi yang rendah dan stabil
penting untuk dicapai, karena kaitannya dengan daya saing negara lain.
Dengan angka inflasi Indonesia yang di atas 5 persen maka diperkirakan
akan menyulitkan posisi Indonesia dalam era MEA.Sumber : Liputan6
Stevie Wonder Penasaran Naik Mobil "Iron Man"
BESTPROFIT FUTURES MALANG (30/4) - Tesla Model S menjadi sedan premium yang paling fenomenal beberapa waktu
teakhir. Bagaimana tidak, mobil bertenaga listrik ini sanggup
memamerkan performa gahar saat dikendarai.
Bahkan, keunggulan yang dimiliki Tesla Model S sanggup membuat seorang penyanyi sekaliber Stevie Wonder tergoda untuk mengendarainya. Melansir laman Autoevolution, Kamis (29/4/2015), Stevie mengungkapkan ketertarikannya tersebut dalam sebuah acara talkshow yang ingin meminjam Tesla Model S milik si pembawa acara.
Penyanyi tuna netra ini kepincut karena sempat merasakan keunggulan Tesla Model S sebagai penumpang. Cedric yang menjadi pembawa acara sebelumnya mempersilakan Stevie Wonder berkeliling beberapa blok menggunakan mobil listrik miliknya.
"Ini keren, Anda harus membiarkan saya mengemudikannya," ujar Stevie.
Cedric pun terperanjat karena Stevie menyangka jika Tesla Model S telah didukung fitur self-driving. Berhubung penyanyi jazz ini sudah menderita tuna netra sejak lahir, ia pun langsung menjelaskan jika kecanggihan pada sedan saloon ini baru sebatas motor listrik.
“Stevie, Stevie, ini mobil listrik, bukan suatu sihir,” ujar Cedric.
Sumber : Liputan6
Bahkan, keunggulan yang dimiliki Tesla Model S sanggup membuat seorang penyanyi sekaliber Stevie Wonder tergoda untuk mengendarainya. Melansir laman Autoevolution, Kamis (29/4/2015), Stevie mengungkapkan ketertarikannya tersebut dalam sebuah acara talkshow yang ingin meminjam Tesla Model S milik si pembawa acara.
Penyanyi tuna netra ini kepincut karena sempat merasakan keunggulan Tesla Model S sebagai penumpang. Cedric yang menjadi pembawa acara sebelumnya mempersilakan Stevie Wonder berkeliling beberapa blok menggunakan mobil listrik miliknya.
"Ini keren, Anda harus membiarkan saya mengemudikannya," ujar Stevie.
Cedric pun terperanjat karena Stevie menyangka jika Tesla Model S telah didukung fitur self-driving. Berhubung penyanyi jazz ini sudah menderita tuna netra sejak lahir, ia pun langsung menjelaskan jika kecanggihan pada sedan saloon ini baru sebatas motor listrik.
“Stevie, Stevie, ini mobil listrik, bukan suatu sihir,” ujar Cedric.
Sumber : Liputan6
Pernyataan The Fed Bikin Bursa AS Melemah
BESTPROFIT FUTURES MALANG (30/4) - Bursa saham Amerika Serikat (AS) ditutup turun pada Kamis (Rabu) ini
usai pernyataan The Federal Reserve (Fed) yang mengatakan data ekonomi
menunjukkan pertumbuhan ekonomi negara ini melambat lebih tajam dari
perkiraan pada kuartal pertama.
Pernyataan The Fed ini menjadi sinyal jika mereka tidak siap untuk menaikkan suku bunga setidaknya sampai September, yang membuat pasar saham jatuh.
Dow Jones Industrial Average turun 74,61 poin atau 0,41 persen ke posisi 18.035,53. Sementara indeks S&P 500 kehilangan 7,91 poin, atau 0,37 persen menjadi 2.106,85 dan Nasdaq Composite turun 31,78 poin atau 0,63 persen ke 5.023,64.
"Kita semua tahu Fed akan senang untuk memulai normalisasi suku, tetapi fakta sederhananya data ekonomi tidak menjamin tindakan itu sekarang ini," kata Wayne Kaufman, Kepala Analis Pasar di Phoenix Financial Services di New York melansir laman Reuters.
Selain khawatir dengan pelemahan ekonomi yang akan terus berlanjut, investor AS juga khawatir tentang kemungkinan The Fed menaikkan suku bunga terlalu cepat.
Pernyataan kebijakan bank sentral ini usai menggelar pertemuan-pertemuan membahas waktu kenaikan suku bunga pertama sejak Juni 2006, membuat keputusan seperti itu semata-mata tergantung pada data ekonomi yang masuk.
Adapun saham yang mengalami penurunan antara lain, saham Twitter (TWTR.N) yang susut 8,9 persen menjadi US$ 38,49, sehari setelah perusahaan memangkas proyeksi tahunan karena permintaan iklan baru yang lemah.
Decliners lainnya termasuk Wynn Resorts (WYNN.O), yang jatuh 16,6 persen menjadi US$ 108,77 setelah operator kasino melaporkan penurunan dari perkiraan laba kuartal pertama.
Sekitar 7,2 miliar saham berpindah tangan di bursa AS, di atas 6,3 miliar rata-rata harian untuk bulan sampai saat ini, menurut BATS Global Markets.(Nrm)
Sumber : Liputan6
Pernyataan The Fed ini menjadi sinyal jika mereka tidak siap untuk menaikkan suku bunga setidaknya sampai September, yang membuat pasar saham jatuh.
Dow Jones Industrial Average turun 74,61 poin atau 0,41 persen ke posisi 18.035,53. Sementara indeks S&P 500 kehilangan 7,91 poin, atau 0,37 persen menjadi 2.106,85 dan Nasdaq Composite turun 31,78 poin atau 0,63 persen ke 5.023,64.
"Kita semua tahu Fed akan senang untuk memulai normalisasi suku, tetapi fakta sederhananya data ekonomi tidak menjamin tindakan itu sekarang ini," kata Wayne Kaufman, Kepala Analis Pasar di Phoenix Financial Services di New York melansir laman Reuters.
Selain khawatir dengan pelemahan ekonomi yang akan terus berlanjut, investor AS juga khawatir tentang kemungkinan The Fed menaikkan suku bunga terlalu cepat.
Pernyataan kebijakan bank sentral ini usai menggelar pertemuan-pertemuan membahas waktu kenaikan suku bunga pertama sejak Juni 2006, membuat keputusan seperti itu semata-mata tergantung pada data ekonomi yang masuk.
Adapun saham yang mengalami penurunan antara lain, saham Twitter (TWTR.N) yang susut 8,9 persen menjadi US$ 38,49, sehari setelah perusahaan memangkas proyeksi tahunan karena permintaan iklan baru yang lemah.
Decliners lainnya termasuk Wynn Resorts (WYNN.O), yang jatuh 16,6 persen menjadi US$ 108,77 setelah operator kasino melaporkan penurunan dari perkiraan laba kuartal pertama.
Sekitar 7,2 miliar saham berpindah tangan di bursa AS, di atas 6,3 miliar rata-rata harian untuk bulan sampai saat ini, menurut BATS Global Markets.(Nrm)
Sumber : Liputan6
Tuesday, 28 April 2015
Penjualan Mobil Astra Awal Tahun Merosot, Saham ASII Masih Dalam Tekanan
BESTPROFIT FUTURES MALANG (29/4) - Tahun 2015 sudah melewati kuartal
pertamanya dan tidak sedikit emiten di bursa yang sudah merilis laporan
kuartalannya. Salah satu dari emiten tersebut yaitu PT Astra
International, Tbk (ASII). Sepanjang Januari-Maret 2015, laba bersih
ASII turun 15,46% secara year on year (yoy) menjadi 3,99
triliun. Hal tersebut dipengaruhi oleh menyusutnya pendapatan ASII
kuartal I sebesar 9,29% menjadi Rp 45,19 triliun lantaran kinerja anak
usaha bidang otomotif, agribisnis serta infrasktruktur, logistik dan
lainnya tidak begitu baik.
Faktor melambatnya pertumbuhan ekonomi
dan perang diskon turut membuat penjualan otomotif Astra menjadi
merosot. Penjualan mobil Astra turun 21% menjadi 137.000 unit. Kondisi
ini berbuntut penurunan pangsa pasar menjadi kendaraan roda empat dari
53% menjadi 49%. Sementara itu, penjualan sepeda motor melorot sebesar
13% menjadi 1,1 juta unit namun pangsa pasar ini naik menjadi 68%.
Bisnis komponen otomotif memberikan kontribusi rendah akibat depresiasi
rupiah terhadap dolar AS.
Begitu pula dengan laba bersih divisi
manufaktur, logistik dan lainnya melempem sebesar 59% menjadi Rp 36
miliar. Penurunan tersebut diakibatkan oleh kerugian awal yang timbul
dari pengoperasian seksi 1 jalan tol Kertosono-Mojokerto.
Di sisi lain ASII tertolong performa
bisnis di sektor jasa keuangan. Laba bersih divisi ini meningkat 21
menjadi Rp 1,2 triliun. Beberapa anak usaha yang bergerak di sektor
tersebut antara lain PT Asuransi Astra Buana, PT Bank Permata, Tbk
(BNLI) dan PT Federal International Finance (FIF). Selain itu, sektor
alat berat dan divisi teknologi informasi yang masing-masing menyumbang
laba bersih sebesar Rp 983 miliar dan Rp 37 miliar turut menopang
kinerja ASII yang sedang tidak begitu baik.
Melihat kinerja keuangan hingga Maret
2015, pendapatan ASII menjadi Rp 45,18 triliun atau turun 10,27% dari
kuartal yang sama pada tahun lalu sebesar Rp 49,82 triliun. Total aset
ASII hingga Maret 2015 mencapai Rp 244,14 triliun atau naik dari kuartal
I tahun lalu Rp 222,38 triliun.
ROA dan ROE ASII pada kuartal I 2015
mengalami penurunan dibandingkan kuartal yang sama pada tahun lalu
dimana ROA ASII pada kuartal pertama tahun ini menjadi 2,43%,
dibandingkan kuartal yang sama pada tahun lalu sebesar 3,16% dan ROE
pada kuartal pertama tahun ini menjadi 4,71% dibandingkan kuartal
pertama tahun sebelumnya sebesar 6,22%.
Menilik kabar dari lantai bursa
perdagangan saham pada Selasa (28/4/2015), saham ASII turun pada level
7350 setelah pada penutupan sebelumnya berada pada level 7450 dan
bergerak pada kisaran 7250-7400 dengan volume perdagangan saham ASII
mencapai 185760 lot saham.
Analyst Vibiz Research Center melihat
sisi indikator teknikal, harga saham ASII terpantau mengalami tren
penguatan hingga mencapai level 8575 namun kemarin saham ASII terkoreksi
cukup tajam ke level 7450 akibat aksi profit taking. Indikator
Stochastic menunjukkan pergerakan ke area jenuh jual dan indikator ADX
menunjukkan garis –DI di atas garis +DI serta garis ADX yang menanjak
memperkirakan bahwa tren saham ASII akan cenderung downtrend secara
terbatas. Dengan kondisi teknikalnya, ASII masih akan bergerak secara
melemah terbatas dan menunggu sentimen fundamental yang menggerakkan
ASII. Rekomendasi trading hingga akhir hari ini berada pada target
support di level 7283 hingga target resistence di level 7433.
Sumber : Vibiznews
Tiongkok Jadi Biang Kerok Kebijakan Moneter Bank Sentral se-Asia
BESTPROFIT FUTURES MALANG (29/4) - Perlambatan ekonomi yang tengah terjadi
di Tiongkok saat ini disinyalir kerap memberi tekanan pada bank-bank
sentral di Asia untuk menurunkan suku bunganya. Hingga saat ini hambatan
terbesar pada prospek pertumbuhan ekonomi Asia ke depan masih berada di
perekonomian Tiongkok.
Seperti diketahui, PDB Tiongkok pada
kuartal pertama tahun ini melambat ke level terendahnya sejak 2009.
Melambatnya PDB Tiongkok ini akhirnya memaksa Bank Rakyat China (PBOC)
untuk memangkas rasio cadangan kas yang harus dimiliki perbankan untuk
memacu penyaluran uang ke sektor riil.
Kebijakan moneter longgar dalam bentuk
apapun diperkirakan masih akan terus menghiasi pergerakan arah kebijakan
bank sentral negara-negara di Asia. Bahkan ke depan kebijakan moneter
longgar ini diprediksi juga akan diikuti oleh Australia, Korea Selatan,
Indonesia, India, dan juga Jepang.
Sebelumnya Gubernur Bank of Japan (BOJ),
Haruhiko Kuroda mengatakan bahwa rekor pembelian utang pemerintah
dinilai akan berhasil dalam meningkatkan laju inflasi Jepang. Namun yang
terjadi justru tidak sesuai harapan, berdasarkan data yang baru rilis
hari ini dilaporkan bahwa tingkat penjualan ritel Jepang bulan Maret
merosot ke level terburukanya sejak tahun 1998 silam.
Prospek kebijakan moneter bank sentral di seluruh wilayah Asia
diproyeksikan akan seragam. Pertumbuhan ekonomi di kawasan Asia Pasifik
pada tahun ini diprediksi akan tumbuh sebesar 5,6 persen atau tidak
mengalami perubahan dari laju pertumbuhan di tahun 2014 lalu.
Sumber : Vibiznews
PDB AS Q1-2015 Diproyeksi Melambat, Kenaikan Fed Rate Terancam Lagi
BESTPROFIT FUTURES MALANG (29/4) - Realisasi wacana kenaikan suku bunga The
Fed yang sudah ditunggu-tunggu investor sejak tahun lalu diperkirakan
tidakakan terjadi sampai September mendatang. Adapun alasan kuat yang
mendukung perkiraan ini adalah karena para pejabat The Fed masih ingin
memacu inflasi agar dapat menyentuh target yang diharapkan. Pasalnya
pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat (AS) di kuartal pertama tahun ini
cukup tergerus akibat musim dingin yang ekstrem.
Dampak dari musim dingin tersebut cukup menghambat aktivitas jual beli terutama properti dan rally dolar
yang lebih kuat juga telah berkontribusi terhadap melambatnya laju
pertumbuhan ekonomi AS ke level terendahnya dalam setahun terakhir.
Sebagian besar ekonom menilai The Fed belum berani menaikkan suku
bunganya dalam jangka waktu dekat ini karena masih ingin melihat
bagaimana laju pertumbuhan ekonomi AS di kuartal kedua tahun ini.
Pada pekan ini PDB AS untuk kuartal
I-2015 akan dirilis dan sebagian besar ekonom memroyeksikan pertumbuhan
ekonomi AS akan melambat ke laju tahunan sebesar 1 persen dari 2,2
persen yang berhasil dicetak pada kuartal sebelumnya. Selain karena
faktor cuaca, penurunan investasi yang berhubungan dengan energi yang
disebabkan oleh turunnya harga minyak juga menjadi pemicu melambatnya
pertumbuhan ekonomi AS di kuartal pertama ini.
Seperti diketahui, The Fed telah
mempertahankan suku bunga rendah yang mendekati nol sejak Desember 2008
silam. Tingkat pengangguran AS yang masih cukup tinggi dinilai masih
harus ditekan agar akselerasi pertumbuhan ekonomi di negara dengan
ekonomi terkuat di dunia ini dapat berjalan mulus. Seperti dilaporkan
sebelumnya bahwa tingkat pengangguran AS tidak berubah di bulan Maret
masih tercatat sebesar 5,5 persen demikin juga dengan keuntungan di non-farm payrolls melambat menjadi 126.000.
Hingga hari ini penurunan harga minyak
masih menjadi pemicu tekanan deflasi di AS padahal target inflasi yang
dipatok adalah sebesar 2 persen. Laju inflasi sendiri diperkirakan tidak
akan meningkat dalam waktu dekat. Melihat kondisi pasar tenaga kerja
dan laju inflasi AS yang masih belum sesuai harapan, maka sangat tidak
mungkin The Fed menaikkan suku bunganya dalam jangka waktu dekat.
Sumber : Vibiznews
Indeks S&P 500 Terangkat Laba IBM & Merck, Nasdaq Rontok
BESTPROFIT FUTURES MALANG (29/4) - Indeks saham S&P 500 naik ditopang cerahnya prospek laba tahunan
Merck & Co dan IBM Corp meningkatkan pembagian dividennya sebelum
keputusan Bank Sentral Amerika SErikat (The Fed) pada hari ini. Indeks
Nasdaq 100 turun 0,2 persen karena laporan laba Apple Inc.
Dillansir dari Bloomberg, Rabu (29/4/2015), saham Merck menguat 5 persen setelah perseroan memutuskan untuk mendongkrak proyeksi laba tahunannya.
Saham International Business Machines Corp naik 1,9 persen. Sementara Twitter Inc anjlok 18 persen setelah rilis laporan keuangan yang menunjukkan anjloknya pendapatan pada kuartal I 2015, bahkan setelah merilis produk dan fitur baru demi menarik banyak pengguna.
Apple tergelincir 1,6 persen di tengah kekhawatiran pertumbuhan iPhone yang cepat mungkin tidak akan berlanjut. Whirlpool Corp turun 7,1 persen setelah memangkas proyeksi kinerja tahunan.
Indeks S&P 500 naik 0,3 persen menjadi 2.114,76 pada pukul 4 sore waktu New York. Dow Jones Industrial Average menguat 72,17 poin atau 0,4 persen, ke 18.110,14. Indeks Nasdaq turun 0,1 persen, sedangkan Indeks Russell 2000 naik 0,5 persen. Sekitar 6,7 miliar saham berpindah tangan di Bursa AS, sekitar 1 persen di atas rata-rata tiga bulan.
"Laporan laba emiten menjadi penentu pergerakan pasar modal saat ini," kata analis investasi senior Chemung Canal Trust Co, Tom Wirth, yang mengelola US$ 1,9 miliar.
Di tengah rilis laporan keuangan emiten pada kuartal I 2015, investor juga menunggu hasil pertemuan The Fed, yang dimulai hari ini yang akan menjadi petunjuk lebih lanjut mengenai waktu kenaikan suku bunga acuan.
The Fed tidak akan menaikkan suku bunga sampai pertemuan September, menurut 73 persen dari 59 ekonom dalam survei Bloomberg News. Angka ini naik dari 37 persen pada survei Maret, ketika mayoritas mengatakan, kenaikan pertama kemungkinan akan datang pada bulan Juni atau Juli. (Ndw)
Sumber : Liputan6
Dillansir dari Bloomberg, Rabu (29/4/2015), saham Merck menguat 5 persen setelah perseroan memutuskan untuk mendongkrak proyeksi laba tahunannya.
Saham International Business Machines Corp naik 1,9 persen. Sementara Twitter Inc anjlok 18 persen setelah rilis laporan keuangan yang menunjukkan anjloknya pendapatan pada kuartal I 2015, bahkan setelah merilis produk dan fitur baru demi menarik banyak pengguna.
Apple tergelincir 1,6 persen di tengah kekhawatiran pertumbuhan iPhone yang cepat mungkin tidak akan berlanjut. Whirlpool Corp turun 7,1 persen setelah memangkas proyeksi kinerja tahunan.
Indeks S&P 500 naik 0,3 persen menjadi 2.114,76 pada pukul 4 sore waktu New York. Dow Jones Industrial Average menguat 72,17 poin atau 0,4 persen, ke 18.110,14. Indeks Nasdaq turun 0,1 persen, sedangkan Indeks Russell 2000 naik 0,5 persen. Sekitar 6,7 miliar saham berpindah tangan di Bursa AS, sekitar 1 persen di atas rata-rata tiga bulan.
"Laporan laba emiten menjadi penentu pergerakan pasar modal saat ini," kata analis investasi senior Chemung Canal Trust Co, Tom Wirth, yang mengelola US$ 1,9 miliar.
Di tengah rilis laporan keuangan emiten pada kuartal I 2015, investor juga menunggu hasil pertemuan The Fed, yang dimulai hari ini yang akan menjadi petunjuk lebih lanjut mengenai waktu kenaikan suku bunga acuan.
The Fed tidak akan menaikkan suku bunga sampai pertemuan September, menurut 73 persen dari 59 ekonom dalam survei Bloomberg News. Angka ini naik dari 37 persen pada survei Maret, ketika mayoritas mengatakan, kenaikan pertama kemungkinan akan datang pada bulan Juni atau Juli. (Ndw)
Sumber : Liputan6
Harga Minyak Anjlok Akibat Kebanjiran Stok
BESTPROFIT FUTURES MALANG (29/4) - Harga minyak dunia masih di bawah tekanan pada penutupan perdagangan
Selasa (Rabu pagi WIB), dengan Brent menetap lebih rendah dan minyak
mentah Amerika Serikat (AS) cenderung mendatar.
Pelemahan ini akibat kekhawatiran tentang membengkaknya stok minyak mentah AS yang telah memangkas kenaikan harga di tengah memanasnya konflik di Timur Tengah dan pelemahan dolar AS.
Sempat reli di awal perdagangan, tekanan jual tumbuh karena investor khawatir tentang catatan stok minyak AS yang tinggi. Setelah pasar ditutup, American Petroleum Institute (API), sebuah kelompok industri perminyakan, melaporkan persediaan minyak mentah AS naik ke rekor tinggi untuk minggu ke-16.
Dilansir dari Reuters, Rabu (29/4/2015), harga minyak mentah AS jenis West Texas Intermediate (WTI) ditutup naik US$ 7 sen menjadi US$ 57,06 per barel, setelah menyentuh level US$ 57,83 per barel.
Minyak Brent, yang lebih banyak digunakan patokan minyak dunia, tercatat turun US$ 19 sen, atau 0,3 persen menjadi US$ 64,64 per barel, usai menguat sampai US$ 65,49 per barel.
Sebelumnya, harga minyak naik karena pasukan Iran naik kapal berbendera Marshall Islands, MV Maersk Tigris, di Teluk usai menembakkan tembakan peringatan. Televisi Al Arabiya awalnya mengatakan kapal itu adalah kapal AS.
Penurunan dolar AS ke level terendah dalam delapan minggu juga mendukung harga minyak. Pelemahan dolar AS setelah laporan keyakinan konsumen AS yang melemah pada bulan April, membuat investor berhati-hati tentang pertemuan Federal Reserve minggu ini.
Harga minyak telah naik sekitar 20 persen bulan ini untuk pemulihan terkuat sejak aksi jual minyak antara Juni 2014 dan Januari 2015. Namun kebanjiran stok minyak telah menahan kenaikan harga.
API melaporkan, persediaan minyak mentah AS naik 4,2 juta barel pekan lalu, hampir 2 juta barel lebih tinggi dari perkiraan dalam jajak pendapat Reuters, ke rekor 485,4 juta barel. (Ndw)
Sumber : Liputan6
Pelemahan ini akibat kekhawatiran tentang membengkaknya stok minyak mentah AS yang telah memangkas kenaikan harga di tengah memanasnya konflik di Timur Tengah dan pelemahan dolar AS.
Sempat reli di awal perdagangan, tekanan jual tumbuh karena investor khawatir tentang catatan stok minyak AS yang tinggi. Setelah pasar ditutup, American Petroleum Institute (API), sebuah kelompok industri perminyakan, melaporkan persediaan minyak mentah AS naik ke rekor tinggi untuk minggu ke-16.
Dilansir dari Reuters, Rabu (29/4/2015), harga minyak mentah AS jenis West Texas Intermediate (WTI) ditutup naik US$ 7 sen menjadi US$ 57,06 per barel, setelah menyentuh level US$ 57,83 per barel.
Minyak Brent, yang lebih banyak digunakan patokan minyak dunia, tercatat turun US$ 19 sen, atau 0,3 persen menjadi US$ 64,64 per barel, usai menguat sampai US$ 65,49 per barel.
Sebelumnya, harga minyak naik karena pasukan Iran naik kapal berbendera Marshall Islands, MV Maersk Tigris, di Teluk usai menembakkan tembakan peringatan. Televisi Al Arabiya awalnya mengatakan kapal itu adalah kapal AS.
Penurunan dolar AS ke level terendah dalam delapan minggu juga mendukung harga minyak. Pelemahan dolar AS setelah laporan keyakinan konsumen AS yang melemah pada bulan April, membuat investor berhati-hati tentang pertemuan Federal Reserve minggu ini.
Harga minyak telah naik sekitar 20 persen bulan ini untuk pemulihan terkuat sejak aksi jual minyak antara Juni 2014 dan Januari 2015. Namun kebanjiran stok minyak telah menahan kenaikan harga.
API melaporkan, persediaan minyak mentah AS naik 4,2 juta barel pekan lalu, hampir 2 juta barel lebih tinggi dari perkiraan dalam jajak pendapat Reuters, ke rekor 485,4 juta barel. (Ndw)
Sumber : Liputan6
Subscribe to:
Posts (Atom)








