Wednesday, 5 February 2025

Bestprofit | Emas Melonjak Melewati $2.860 per Ons

 https://best-profit-futures-malang.com/wp-content/uploads/2023/08/Bestprofit-Emas-5.jpeg

Bestprofit (6/2) – Pada bulan Februari 2025, harga emas mencatatkan lonjakan signifikan, menembus angka $2.860 per ons untuk pertama kalinya dalam sejarah. Lonjakan ini terjadi di tengah ekspektasi pasar yang berkembang tentang penurunan suku bunga di AS, ditambah dengan ketidakpastian geopolitik yang masih melingkupi hubungan internasional dan perdagangan global. Kenaikan ini juga sejalan dengan pergerakan harga obligasi AS, dengan US Treasuries mengalami kenaikan yang mencerminkan harapan pasar terhadap kebijakan moneter yang lebih longgar.

Penyebab Lonjakan Harga Emas

Salah satu faktor utama yang memicu kenaikan harga emas adalah ekspektasi terhadap kebijakan suku bunga yang lebih rendah. Pasar mengantisipasi bahwa Federal Reserve (The Fed) akan mengurangi suku bunga dua kali pada tahun ini, berdasarkan proyeksi terakhir dari Federal Open Market Committee (FOMC). Penurunan suku bunga ini diperkirakan akan memperburuk daya tarik mata uang dolar AS, yang pada gilirannya mendorong permintaan akan emas sebagai aset lindung nilai (hedge) terhadap inflasi dan ketidakpastian ekonomi. Selain itu, pergerakan pasar obligasi AS juga mencerminkan harapan tersebut. Yield obligasi AS mengalami penurunan, yang sering kali menjadi indikator bahwa pasar percaya The Fed akan mengubah kebijakan moneternya untuk meredakan ketegangan ekonomi yang ada. Aktivitas sektor jasa AS yang dilacak oleh ISM (Institute for Supply Management) juga memberikan indikasi perlambatan ekonomi, di mana laporan bulan Januari menunjukkan pertumbuhan yang lebih lambat dari yang diperkirakan.
Kunjungi juga : bestprofit futures

Dampak dari Geopolitik dan Ketegangan Perdagangan Global

Lonjakan harga emas juga tidak bisa dipisahkan dari ketidakpastian yang disebabkan oleh ketegangan geopolitik. Salah satu faktor yang mendorong kekhawatiran global adalah potensi eskalasi ketegangan di Timur Tengah. Presiden AS, Donald Trump, baru-baru ini mengindikasikan kemungkinan pengiriman pasukan AS ke Jalur Gaza, yang memicu ketegangan antara negara-negara besar dan meningkatkan risiko geopolitik di kawasan tersebut. Selain itu, China mengancam akan mengenakan tarif tambahan pada impor energi AS pada minggu depan sebagai respons terhadap tarif yang dikenakan AS terhadap produk-produk China. Langkah ini berisiko memperburuk hubungan perdagangan antara kedua negara besar dan dapat memberikan dampak negatif terhadap pertumbuhan ekonomi global. Pasar merespons dengan waspada, dan emas sering kali dianggap sebagai salah satu instrumen investasi yang lebih aman saat ketidakpastian geopolitik meningkat.

Pemotongan Suku Bunga oleh Bank Sentral

Perkembangan lainnya yang mendukung kenaikan harga emas adalah keputusan beberapa bank sentral besar untuk menurunkan suku bunga mereka. Di Eropa, European Central Bank (ECB) mengumumkan pemangkasan suku bunga, sementara Bank of Canada (BoC) juga mengikuti langkah serupa dengan menurunkan suku bunga mereka. Bahkan, BoC mengakhiri pengetatan kuantitatif (quantitative tightening), yang berarti bank sentral akan lebih banyak memasukkan likuiditas ke pasar. Keputusan ini semakin memperlihatkan bahwa banyak bank sentral mulai berfokus pada penguatan perekonomian, meskipun hal ini mungkin dapat memperburuk inflasi di masa depan. Selain itu, Reserve Bank of India (RBI) dan Bank of England (BoE) diharapkan akan mengikuti kebijakan serupa dengan memotong suku bunga mereka dalam waktu dekat. Kebijakan ini bertujuan untuk merangsang pertumbuhan ekonomi yang lebih lemah di banyak negara besar, tetapi di sisi lain, suku bunga yang lebih rendah meningkatkan daya tarik emas sebagai alternatif yang lebih aman dibandingkan dengan aset lainnya, seperti obligasi pemerintah.

Aktivitas Ekonomi AS yang Melambat

Di sisi lain, data ekonomi AS juga memberikan gambaran bahwa perekonomian negara ini sedang melambat. Laporan terbaru menunjukkan bahwa sektor jasa AS, yang merupakan salah satu pilar utama perekonomian, mengalami pertumbuhan yang lebih lambat dari ekspektasi pada bulan Januari. Aktivitas yang lebih lambat dalam sektor ini bisa menjadi indikator perlambatan ekonomi yang lebih luas. Sementara itu, harga yang dihadapi oleh perusahaan di AS juga melambat. Indeks harga yang diterima oleh perusahaan mengalami penurunan, yang menunjukkan bahwa tekanan inflasi mulai berkurang. Ini mendukung pandangan bahwa The Fed mungkin tidak perlu menaikkan suku bunga lebih lanjut dan dapat merespons dengan lebih agresif terhadap perlambatan ekonomi, yang pada gilirannya mendorong prediksi bahwa The Fed akan memangkas suku bunga.

Kebijakan Suku Bunga dan Dampaknya terhadap Emas

Penurunan suku bunga adalah salah satu faktor yang paling berpengaruh dalam mempengaruhi harga emas. Ketika suku bunga diturunkan, imbal hasil dari instrumen keuangan seperti obligasi juga cenderung menurun. Dengan demikian, investor cenderung mencari aset lain yang memberikan perlindungan terhadap inflasi, salah satunya adalah emas. Ketika suku bunga rendah, biaya peluang untuk memegang emas yang tidak memberikan bunga atau dividen menjadi lebih kecil, sehingga daya tarik emas sebagai investasi meningkat. Namun, kebijakan moneter yang lebih longgar juga bisa memperburuk ketidakstabilan ekonomi dalam jangka panjang. Terutama jika inflasi tidak terkendali, suku bunga yang rendah dapat meningkatkan harga barang dan jasa, yang mendorong permintaan terhadap emas sebagai aset lindung nilai terhadap inflasi. Oleh karena itu, para pelaku pasar akan terus memantau kebijakan dari Federal Reserve, ECB, BoC, dan bank sentral lainnya untuk memahami arah pergerakan harga emas.

Prospek Ke Depan dan Potensi Risiko

Di tengah segala ketidakpastian ini, harga emas diperkirakan akan terus menjadi fokus perhatian investor. Jika ekspektasi terhadap pemotongan suku bunga oleh Federal Reserve terus berkembang, harga emas dapat terus meningkat, bahkan melampaui rekor harga tertinggi yang tercatat saat ini. Selain itu, ketegangan geopolitik dan risiko perdagangan global juga kemungkinan besar akan terus mendukung kenaikan harga emas. Namun, di sisi lain, terdapat potensi risiko yang harus diperhatikan oleh para investor. Salah satu risiko utama adalah kemungkinan adanya perubahan kebijakan oleh bank sentral yang dapat mempengaruhi ekspektasi pasar. Misalnya, jika Federal Reserve memutuskan untuk mempertahankan suku bunga yang lebih tinggi dari yang diharapkan atau jika ketegangan geopolitik mereda, harga emas bisa mengalami penurunan.

Kesimpulan

Lonjakan harga emas yang melampaui $2.860 per ons di bulan Februari mencerminkan ketidakpastian yang melanda ekonomi global. Faktor-faktor seperti ekspektasi suku bunga yang lebih rendah, ketegangan geopolitik, dan hambatan dalam perdagangan global semuanya berperan dalam meningkatkan permintaan terhadap emas. Bank sentral besar di seluruh dunia juga mengambil langkah-langkah untuk merangsang pertumbuhan ekonomi dengan menurunkan suku bunga mereka, yang meningkatkan daya tarik emas sebagai investasi yang lebih aman. Namun, meskipun prospek emas tampak positif dalam jangka pendek, tetap ada sejumlah risiko yang harus diperhatikan. Pemantauan terhadap kebijakan moneter dan perkembangan geopolitik akan sangat penting bagi para investor dalam membuat keputusan investasi yang tepat.
Jangan lupa jelajahi website kami di demo bestprofit dan temukan beragam informasi menarik yang siap menginspirasi dan memberikan pengetahuan baru! Ayo, kunjungi sekarang untuk pengalaman online yang menyenangkan!