Bestprofit (28/2) – Pada hari Kamis (27/2), harga emas mengalami penurunan yang signifikan, turun ke level $2.880 per ons setelah sebelumnya mencapai rekor tertinggi $2.950 pada hari Senin. Penurunan harga emas ini terjadi akibat penguatan dolar AS yang dipicu oleh pengumuman serangkaian kebijakan tarif baru oleh Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. Dalam artikel ini, kita akan membahas berbagai faktor yang memengaruhi pergerakan harga emas, termasuk kebijakan tarif baru, data ekonomi AS, dan kondisi permintaan fisik emas di pasar global.
1. Pengumuman Tarif Baru oleh Presiden Trump
Salah satu penyebab utama penurunan harga emas pada 27 Februari adalah pengumuman tarif baru yang diumumkan oleh Presiden Donald Trump. Beberapa menit setelah Menteri Keuangan Steven Mnuchin hanya memberikan indikasi tentang kemungkinan tarif baru untuk bulan April, Trump mengumumkan penerapan tarif 25% pada Kanada dan Meksiko yang akan dimulai minggu depan. Kebijakan tarif baru ini langsung menciptakan ketegangan di pasar global, yang berimbas pada penguatan dolar AS. Meningkatnya nilai dolar AS ini menyebabkan investor lebih memilih untuk membeli dolar ketimbang emas, yang pada gilirannya menyebabkan harga emas turun.
Kunjungi juga : bestprofit futures
Selain tarif terhadap Kanada dan Meksiko, Trump juga mengumumkan pembatasan perdagangan dengan Tiongkok dan menetapkan pungutan baru pada Uni Eropa. Kebijakan tersebut berfungsi untuk merugikan permintaan mata uang asing, yang pada akhirnya meningkatkan permintaan terhadap dolar AS. Dolar yang lebih kuat membuat harga emas menjadi lebih mahal bagi pemegang mata uang asing, yang juga mendorong penurunan harga emas.
2. Pengaruh Dolar AS yang Lebih Kuat
Kenaikan dolar AS merupakan faktor kunci dalam penurunan harga emas. Sejak kebijakan tarif diumumkan, dolar AS menguat signifikan terhadap sebagian besar mata uang utama dunia. Kenaikan dolar ini membuat emas, yang diperdagangkan dalam dolar, menjadi lebih mahal bagi para pembeli internasional. Sebagai komoditas yang dihargai dalam dolar, emas cenderung bergerak berlawanan arah dengan nilai tukar dolar. Ketika dolar menguat, emas biasanya mengalami penurunan harga, karena investor lebih memilih untuk membeli dolar yang lebih kuat.
Selain itu, penguatan dolar ini juga disebabkan oleh investor yang beralih ke aset-aset berisiko lebih rendah, seperti dolar, karena ketegangan perdagangan yang meningkat. Ketika ada ketidakpastian ekonomi global, dolar AS sering kali dianggap sebagai tempat yang aman untuk berinvestasi, dan ini memperburuk kondisi bagi harga emas.
3. Dampak Data Ekonomi AS
Selain kebijakan tarif dan penguatan dolar, data ekonomi AS juga memberikan dampak pada harga emas. Meskipun data ekonomi AS menunjukkan bahwa pertumbuhan tahunan pada kuartal keempat 2019 tetap stabil di angka 2,3%, kekhawatiran tentang kemungkinan melambatnya ekonomi AS tetap ada. Salah satu faktor yang menambah kekhawatiran tersebut adalah lonjakan klaim pengangguran, yang menjadi tanda bahwa pasar tenaga kerja AS mungkin mulai melemah. Sementara itu, pasar tenaga kerja yang ketat telah menjadi salah satu pendorong utama pertumbuhan ekonomi AS selama beberapa tahun terakhir.
Peningkatan klaim pengangguran dapat mengindikasikan adanya kesulitan dalam sektor tenaga kerja, yang berpotensi meredam optimisme mengenai prospek ekonomi AS ke depan. Meskipun demikian, data ekonomi yang lebih kuat dari AS biasanya akan membuat investor lebih tertarik pada aset-aset seperti saham dan dolar AS, yang dapat menekan permintaan terhadap emas sebagai aset safe-haven.
4. Penurunan Permintaan Fisik Emas
Salah satu faktor tambahan yang memengaruhi penurunan harga emas adalah tanda-tanda melemahnya permintaan fisik emas di pasar internasional. Sebagai salah satu konsumen terbesar emas, Tiongkok memainkan peran penting dalam pasar global. Namun, data terbaru menunjukkan bahwa impor emas China melalui Hong Kong mengalami penurunan yang signifikan, mencapai level terendah dalam hampir tiga tahun pada bulan Januari. Penurunan impor ini mengindikasikan bahwa permintaan fisik emas dari Tiongkok mungkin sedang melambat, yang dapat menekan harga emas di pasar global.
Selain itu, data dari Swiss juga menunjukkan penurunan yang tajam dalam ekspor emas ke China. Ekspor emas dari Swiss ke China tercatat mengalami penurunan sebesar 99% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu. Penurunan ini menunjukkan bahwa permintaan fisik emas dari pasar utama seperti Tiongkok bisa jadi lebih rendah, yang semakin memberi tekanan pada harga emas. Permintaan fisik yang lebih rendah, terutama dari negara-negara pengimpor utama, seperti China dan India, dapat menjadi faktor penting dalam penurunan harga emas dalam waktu dekat.
5. Prospek Harga Emas ke Depan
Meskipun harga emas turun pada hari Kamis (27/2), prospek harga emas di masa depan tetap bergantung pada sejumlah faktor. Salah satu faktor yang dapat mendorong harga emas naik lagi adalah ketidakpastian ekonomi global. Ketika ketegangan perdagangan meningkat dan pasar keuangan global mengalami volatilitas, permintaan terhadap emas sebagai aset safe-haven kemungkinan akan kembali meningkat. Emas sering kali dianggap sebagai pelindung nilai terhadap ketidakpastian ekonomi, dan dalam situasi yang penuh gejolak, investor sering kali beralih ke emas.
Namun, faktor lain yang harus diperhatikan adalah kebijakan moneter dari Bank Sentral AS (The Fed). Jika The Fed memutuskan untuk menurunkan suku bunga lebih lanjut atau melonggarkan kebijakan moneter guna mendukung perekonomian, maka hal ini bisa mendorong harga emas naik. Suku bunga yang lebih rendah biasanya mengurangi daya tarik dolar AS dan meningkatkan daya tarik emas, karena emas tidak memberikan hasil bunga.
6. Kesimpulan
Harga emas yang turun ke $2.880 per ons pada 27 Februari menunjukkan dampak dari serangkaian faktor yang saling berinteraksi. Pengumuman tarif baru oleh Presiden Trump, penguatan dolar AS, data ekonomi AS yang menunjukkan potensi pelambatan, dan penurunan permintaan fisik emas dari pasar utama seperti Tiongkok semuanya berkontribusi terhadap penurunan harga emas. Meskipun demikian, ketidakpastian ekonomi global dan kebijakan moneter AS tetap menjadi faktor kunci yang dapat mempengaruhi harga emas ke depan. Dalam situasi ketidakpastian ekonomi, emas tetap menjadi aset yang diminati sebagai pelindung nilai terhadap risiko global.