Bestprofit (27/2) – Pada hari Rabu, 26 Februari, harga emas mengalami penurunan setelah mencapai rekor tertinggi beberapa hari sebelumnya. Penurunan ini terjadi di tengah ketidakpastian pasar yang berkaitan dengan potensi perubahan kebijakan ekonomi, terutama yang melibatkan tarif dari Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, serta data inflasi yang diharapkan akan dirilis pada akhir pekan ini.
Penurunan Harga Emas Spot
Harga emas spot turun sebesar 0,1% menjadi $2.912,51 per ons pada pukul 01:49 p.m. ET (1849 GMT). Penurunan ini terjadi setelah harga emas mencapai rekor tertinggi pada hari Senin, yaitu $2.956,15 per ons. Rekor tersebut tercatat di tengah kekhawatiran terkait perang dagang yang bisa muncul akibat ancaman tarif dari pemerintah AS. Emas dianggap sebagai salah satu lindung nilai yang aman terhadap ketidakpastian global, dan para investor cenderung beralih ke emas sebagai bentuk perlindungan terhadap potensi ketidakstabilan ekonomi dan geopolitik.
Kunjungi juga : bestprofit futures
Penyebab Penurunan Harga Emas
Penurunan harga emas pada hari Rabu tidak mengherankan banyak pihak, mengingat kondisi pasar yang cenderung stabil setelah periode volatilitas yang tinggi. David Meger, Direktur Perdagangan Logam di High Ridge Futures, mengungkapkan bahwa meskipun tren bullish untuk harga emas masih berlangsung, periode konsolidasi menjelang beberapa data penting yang akan dirilis pada akhir pekan ini dapat menyebabkan penurunan harga sementara.
“Tren bullish masih berlangsung… Kami tidak terkejut dengan periode konsolidasi menjelang beberapa data penting,” kata Meger. Konsolidasi ini merujuk pada fase di mana harga emas bergerak dalam kisaran sempit, tanpa ada pergerakan yang signifikan, hingga informasi lebih lanjut atau data yang diharapkan dapat memberikan petunjuk tentang arah pergerakan harga berikutnya.
Pengaruh Kebijakan Tarif Presiden AS
Salah satu faktor yang dapat mempengaruhi harga emas adalah kebijakan tarif yang akan diterapkan oleh Presiden AS Donald Trump. Pada hari Selasa, Trump memerintahkan penyelidikan terhadap potensi penerapan tarif baru, termasuk tarif pada impor tembaga. Tembaga adalah logam yang penting untuk berbagai sektor, mulai dari kendaraan listrik hingga perangkat keras militer, jaringan listrik, dan barang konsumen.
Keputusan ini membuka babak baru dalam ketegangan perdagangan antara AS dan negara-negara mitra dagangnya, dengan kemungkinan dampak pada harga logam lainnya. Meskipun harga emas mengalami penurunan pada hari Rabu, investor tetap fokus pada perkembangan kebijakan tarif ini, mengingat dampaknya yang dapat memengaruhi pasar komoditas global.
Fokus Investor pada Data Inflasi
Selain kebijakan tarif, investor juga menunggu data inflasi yang akan dirilis pada akhir minggu ini. Laporan Pengeluaran Konsumsi Pribadi (PCE), yang dianggap sebagai pengukur inflasi pilihan oleh Federal Reserve (Bank Sentral AS), akan dirilis pada hari Jumat. Data inflasi ini diharapkan dapat memberikan petunjuk lebih lanjut mengenai kebijakan moneter yang akan diambil oleh Federal Reserve, terutama terkait dengan potensi pemotongan suku bunga.
Jika inflasi lebih tinggi dari perkiraan, hal ini dapat menunda pemotongan suku bunga lebih lanjut, yang sebelumnya sudah diperkirakan oleh pasar. Sebagai lindung nilai terhadap inflasi, emas memiliki potensi untuk naik lebih tinggi jika tekanan inflasi meningkat. Dalam hal ini, harga emas dapat kembali menguat, seiring dengan semakin tingginya permintaan untuk emas sebagai aset yang dapat melindungi nilai dari inflasi.
Dampak Kebijakan Suku Bunga Federal Reserve terhadap Harga Emas
Pada tahun lalu, Bank Sentral AS melakukan pemotongan suku bunga sebanyak tiga kali, dengan total pemotongan sebesar 75 basis poin. Meskipun sudah ada ekspektasi bahwa suku bunga akan tetap rendah, pasar uang saat ini memprediksi adanya penurunan lebih lanjut, yakni sekitar 54 basis poin pada akhir tahun ini. Hal ini mengindikasikan bahwa pasar mengharapkan dua langkah pelonggaran suku bunga sebesar 25 basis poin, serta sekitar 20% peluang adanya penurunan tambahan.
“Perilaku bank sentral akan menjadi kunci bagi nasib emas, karena emas telah menjadi elemen penting bagi permintaan dalam beberapa tahun terakhir,” kata Frank Watson, analis pasar di Kinesis Money. Harga emas sangat sensitif terhadap perubahan kebijakan suku bunga, karena suku bunga yang lebih rendah membuat emas menjadi lebih menarik dibandingkan dengan instrumen investasi lain yang memberikan imbal hasil lebih tinggi.
Perkembangan Harga Logam Lainnya
Selain emas, harga logam lainnya juga mengalami pergerakan pada hari tersebut. Harga perak spot naik sebesar 0,3% menjadi $31,81 per ons, sementara harga platinum turun 0,1% menjadi $965,55 per ons. Paladium, yang sering dikaitkan dengan sektor otomotif, mengalami penurunan lebih besar, turun 0,9% menjadi $919,50 per ons.
Penurunan harga logam-logam ini mencerminkan perubahan dinamika di pasar logam mulia secara keseluruhan. Meskipun emas tetap menjadi perhatian utama bagi para investor, pergerakan harga logam lainnya tetap perlu dicermati, terutama bagi investor yang memiliki portofolio logam mulia yang lebih beragam.
Prospek Jangka Pendek dan Jangka Panjang
Dalam jangka pendek, harga emas mungkin akan terus mengalami konsolidasi seiring dengan menunggu data-data ekonomi yang akan datang, seperti laporan inflasi dan kebijakan yang akan diambil oleh Federal Reserve. Namun, dalam jangka panjang, ketidakpastian ekonomi dan geopolitik yang masih ada, ditambah dengan kebijakan moneter yang cenderung mendukung emas, memberikan prospek positif bagi harga emas.
Bagi investor, emas tetap menjadi salah satu instrumen yang diandalkan untuk melindungi portofolio dari ketidakpastian dan inflasi. Oleh karena itu, meskipun harga emas turun pada hari Rabu, potensi kenaikan harga emas dalam waktu dekat tetap tinggi, terutama jika data inflasi dan kebijakan moneter memperkuat posisi emas sebagai lindung nilai yang aman.
Kesimpulan
Harga emas mengalami penurunan pada hari Rabu, 26 Februari, setelah mencapai rekor tertinggi beberapa hari sebelumnya. Penurunan ini terjadi menjelang data inflasi yang akan dirilis pada akhir pekan ini dan perkembangan lebih lanjut mengenai kebijakan tarif Presiden AS Donald Trump. Meskipun ada konsolidasi dalam jangka pendek, harga emas diperkirakan akan tetap mendominasi pasar sebagai aset yang aman, dengan prospek kenaikan harga yang tinggi seiring dengan tekanan inflasi dan kebijakan moneter yang mendukung.