Bestprofit (17/2) – Pada hari Jumat, 14 Februari 2025, harga emas sempat mengalami penurunan yang cukup signifikan, menembus level di bawah $2.900 per troy ounce. Meskipun demikian, para analis memperkirakan harga emas akan mengakhiri minggu ini dengan kenaikan solid lebih dari 0,80%. Keadaan ini disebabkan oleh para pedagang yang memutuskan untuk membukukan keuntungan mereka menjelang akhir pekan.
Dampak Data Ekonomi AS terhadap Dolar dan Emas
Salah satu faktor utama yang mempengaruhi pergerakan harga emas pada hari Jumat adalah data ekonomi dari Amerika Serikat yang beragam. Meskipun ada sejumlah data yang menunjukkan tanda-tanda kelemahan ekonomi, dolar AS mengalami penurunan tajam dan mencapai titik terendah tahunan. Selain itu, imbal hasil obligasi Treasury AS (T-note) juga merosot drastis, yang pada gilirannya mendukung harga emas.
Penurunan nilai dolar AS dan imbal hasil obligasi menciptakan lingkungan yang menguntungkan bagi logam mulia seperti emas. Dalam kondisi seperti ini, para investor cenderung beralih ke emas sebagai aset safe-haven, yang dapat mendorong harga emas lebih tinggi.
Kunjungi juga : bestprofit futures
Penurunan Penjualan Ritel AS Memicu Pelemahan Dolar AS
Salah satu data ekonomi yang mempengaruhi pasar adalah penurunan tajam dalam penjualan ritel AS pada bulan Januari. Penurunan ini menambah tekanan pada dolar AS, yang terus melemah secara keseluruhan. Data ini mengindikasikan adanya pelambatan dalam konsumsi domestik, yang menjadi salah satu pendorong utama pertumbuhan ekonomi.
Dengan penurunan tajam pada sektor ritel, investor mulai memperkirakan bahwa Federal Reserve (Fed) mungkin akan melonggarkan kebijakan moneternya, yang dapat mencakup penurunan suku bunga. Hal ini menyebabkan dolar AS semakin terdepresiasi, sementara emas yang dihargai dalam dolar semakin menarik bagi investor internasional.
Proyeksi Penurunan Suku Bunga Federal Reserve
Setelah data ekonomi yang kurang menggembirakan, spekulasi tentang kemungkinan penurunan suku bunga oleh Federal Reserve semakin menguat. Sebagian besar investor memproyeksikan lebih dari satu penurunan suku bunga pada tahun ini. Jika Fed memutuskan untuk menurunkan suku bunga, hal ini akan berdampak pada penurunan imbal hasil obligasi, yang pada gilirannya akan membuat emas lebih menarik.
Pada hari Jumat, imbal hasil obligasi Treasury AS 10 tahun turun enam basis poin menjadi 4,472%. Penurunan imbal hasil ini mencerminkan harapan pasar bahwa kebijakan moneter yang lebih longgar dari Fed dapat memberikan dukungan terhadap perekonomian yang lebih lemah.
Produksi Industri AS Membaik, Namun Tidak Cukup Untuk Menahan Tren Melemah Dolar
Sementara itu, ada berita positif mengenai sektor produksi industri AS. Pada bulan Januari, data menunjukkan adanya perbaikan pada sektor ini setelah sebelumnya mencatatkan angka yang mengecewakan. Meskipun ini memberikan sedikit dorongan positif bagi dolar AS, namun dampaknya tidak cukup kuat untuk menghentikan penurunan tajam mata uang tersebut.
Sebagai reaksi terhadap data yang beragam ini, investor mulai melihat emas sebagai aset yang lebih menarik untuk melindungi nilai kekayaan mereka. Hal ini mengarah pada peningkatan permintaan yang mendukung harga emas.
Tren Harga Emas yang Terus Meningkat
Meskipun harga emas sempat terjun ke level terendah dua hari di $2.878 pada hari Jumat, tren harga emas secara keseluruhan tetap naik. Indeks Kekuatan Relatif (RSI) emas juga menunjukkan adanya penurunan setelah sempat berada di wilayah jenuh beli selama sebagian besar bulan Februari. RSI yang keluar dari wilayah jenuh beli mengindikasikan bahwa ada kemungkinan koreksi jangka pendek, namun ini tidak mengubah prospek jangka panjang untuk harga emas.
Penurunan harga emas ini mungkin akan terhenti jika pembeli dapat menjaga harga tetap berada di atas level terendah harian pada 12 Februari di $2.864. Dalam hal ini, harga emas kemungkinan besar akan kembali menunjukkan kenaikan.
Level Support dan Resistance untuk Harga Emas
Pada saat harga emas tertekan, level support pertama yang perlu diperhatikan adalah level psikologis di sekitar $2.850. Jika level ini berhasil ditembus, maka level support berikutnya yang akan diuji adalah level tertinggi siklus yang terjadi pada 31 Oktober di sekitar $2.790. Di bawahnya, terdapat level swing low pada 27 Januari yang berada di $2.730.
Sebaliknya, jika harga emas berhasil menembus level $2.900, maka harga emas berpotensi untuk melanjutkan kenaikan. Resistance berikutnya yang perlu diperhatikan adalah level tertinggi sepanjang masa yang tercatat pada $2.942. Penembusan harga emas di atas level ini bisa membuka jalan menuju $2.950, dan kemungkinan besar akan mencapainya dalam waktu dekat.
Selain itu, para analis juga memproyeksikan bahwa harga emas bisa melanjutkan momentum kenaikannya menuju level $3.000 jika pasar terus didorong oleh ketidakpastian ekonomi dan kebijakan moneter yang lebih longgar dari Federal Reserve.
Faktor yang Mempengaruhi Pergerakan Harga Emas ke Depan
Berdasarkan kondisi pasar saat ini, ada beberapa faktor kunci yang dapat mempengaruhi pergerakan harga emas dalam beberapa minggu mendatang. Faktor utama yang perlu diperhatikan adalah kebijakan suku bunga Federal Reserve, kondisi ekonomi global, serta perkembangan politik dan keuangan yang dapat meningkatkan ketidakpastian.
Kebijakan moneter yang lebih longgar dan kemungkinan penurunan suku bunga dapat memberikan dukungan lebih lanjut bagi harga emas. Selain itu, ketidakpastian geopolitik atau geostrategis, seperti ketegangan antara negara besar atau krisis ekonomi global, juga bisa mempercepat permintaan terhadap aset safe-haven seperti emas.
Kesimpulan
Harga emas saat ini menghadapi pergerakan yang beragam, dengan penurunan yang tajam pada 14 Februari yang kemudian diikuti oleh proyeksi kenaikan lebih dari 0,80% pada akhir minggu ini. Data ekonomi yang beragam, terutama penurunan penjualan ritel AS dan spekulasi penurunan suku bunga oleh Federal Reserve, telah memberikan angin segar bagi pasar emas. Meskipun mengalami kemunduran jangka pendek, tren naik harga emas tetap utuh. Dengan level support dan resistance yang jelas, harga emas kemungkinan akan terus berfluktuasi seiring dengan perkembangan ekonomi global dan kebijakan moneter yang diambil oleh pihak berwenang.