BESTPROFIT FUTURES MALANG (26/3) - Bursa Saham AS ditutup melemah,
mengantarkan Indeks Nasdaq Composite turun tajam dalam 11 bulan terakhir
ditengah adanya aksi jual saham perusahaan teknologi pada acuan saham
tersebut.
Indeks Nasdaq Composite turun 2.4% pukul 4 sore ini
waktu New York yang sekaligus penutupan tertajam sejak 10 April tahun
2014 kemarin. Sementara Indeks Standard & Poor 500 ambruk 1.5% ke
level 2,061.18 dengan dibawah level harga rata-rata selama kurun waktu
50 hari terakhir.
Pekan ini Indeks S&P 500, Dow Jones dan
Nasdaq Composite bergerak mendekati rekornya ditengah spekulasi bahwa
Federal Reserve tidak akan terburu-buru dalam menaikkan suku bunga.
Penurunan hari Rabu ini sekaligus menghapus kenaikan pada Dow Jones
selama tahun 2015 ini.
Tahun ini Indeks S&P 500 berada di
diantara indeks di negara maju dengan performa terburuk, akan tetapi
indeks acuan tersebut masih menorehkan kenaikan kuartalan ke-9 secara
beruntun, dengan mengalami kenaikan sebesar 0.2%. Hal tersebut menjadi
kenaikan terlama secara beruntun sejak 1998 silam dan kenaiakn ini juga
mendorong valuasi ekuitas mencapai level tertingginya dalam 6 tahun
terakhir. (bgs)
Sumber : Bloomberg
Wednesday, 25 March 2015
Pasca Dekati Rekor, Bursa Saham Eropa Ditutup Melemah 1.1%
BESTPROFIT FUTURES MALANG (26/3) - Bursa Saham Eropa mencatat penurunan tertajam dalam lebih dari 2 bulan terakhir setelah kemarin bergerak mendekati rekor.
Indeks Stoxx Europe 600 melemah 1.1% ke level 397.95 pada sesi penutupan perdagangan saham yang sejalan dengan 17 dari 19 grup industri mengalami penurunan. Selain itu saham teknologi mengalami performa terburuknya dengan memperpanjang penurunan. Saham ARM Holdings Plc dan ASML Holding NV anjlok lebih dari 5.5%.
Selasa kemarin Bursa Saham Eropa ditutup 0.7% yang menjauh dari rekornya di tahun 2000 lalu, akan tetapi sepanjang tahun 2015 ini mengalami kenaikan sebesar 18% ditengah stimulus ECB (European Central Bank). Hal tersebut mendorong Indeks Stoxx 600 ke valuasi tertingginya berdasarkan pada proyeksi laba dalam kurun waktu 10 tahun terakhir yang dibandingkan dengan pergerakan historisnya terhadap Indeks Standard & Poor 500. (bgs)
Sumber : Bloomberg
Indeks Stoxx Europe 600 melemah 1.1% ke level 397.95 pada sesi penutupan perdagangan saham yang sejalan dengan 17 dari 19 grup industri mengalami penurunan. Selain itu saham teknologi mengalami performa terburuknya dengan memperpanjang penurunan. Saham ARM Holdings Plc dan ASML Holding NV anjlok lebih dari 5.5%.
Selasa kemarin Bursa Saham Eropa ditutup 0.7% yang menjauh dari rekornya di tahun 2000 lalu, akan tetapi sepanjang tahun 2015 ini mengalami kenaikan sebesar 18% ditengah stimulus ECB (European Central Bank). Hal tersebut mendorong Indeks Stoxx 600 ke valuasi tertingginya berdasarkan pada proyeksi laba dalam kurun waktu 10 tahun terakhir yang dibandingkan dengan pergerakan historisnya terhadap Indeks Standard & Poor 500. (bgs)
Sumber : Bloomberg
Tuesday, 24 March 2015
Aussie Capai Level 2 Bulan Tertingginya
BESTPROFIT FUTURES MALANG (25/3) - Membaiknya data ekonomi AS telah gagal guna membendung dolar Australia untuk reli ke level 2 bulan tertingignya.
Pukul 7 pagi ini waktu Australia, mata uang Negeri Kangguru tersebut diperdagangkan di level US78.76c atau naik dari level kemarin sebesar US78.67c.
Dolar Australia bergerak ke level US79.38c yang sekaligus level tertingignya sejak 28 Januari lalu.
Hal tersebut terjadi meski membaiknya data ekonomi AS, dimana laju inflasi naik 1.7% dan penjualan rumah baru melonjak ke laju tercepatnya dalam kurun waktu 7 tahun terakhir.
Sementara itu, analis dari Bank of New Zealand Kymberly Martin menyatakan bahwa Aussie mencapai level tertingginya ditenga rilis data inflasi AS, meski data tersebut menunjukkan kenaikan dari market perkirakan. (bgs)
Sumber : MarketsSpectator
Pukul 7 pagi ini waktu Australia, mata uang Negeri Kangguru tersebut diperdagangkan di level US78.76c atau naik dari level kemarin sebesar US78.67c.
Dolar Australia bergerak ke level US79.38c yang sekaligus level tertingignya sejak 28 Januari lalu.
Hal tersebut terjadi meski membaiknya data ekonomi AS, dimana laju inflasi naik 1.7% dan penjualan rumah baru melonjak ke laju tercepatnya dalam kurun waktu 7 tahun terakhir.
Sementara itu, analis dari Bank of New Zealand Kymberly Martin menyatakan bahwa Aussie mencapai level tertingginya ditenga rilis data inflasi AS, meski data tersebut menunjukkan kenaikan dari market perkirakan. (bgs)
Sumber : MarketsSpectator
Outlook Suku Bunga AS Angkat Emas Ke Level Dua Minggu Tertinggi
BESTPROFIT FUTURES MALANG (25/3) - Emas
naik ke level tertinggi dalam dua minggu terakhir di tengah spekulasi
bahwa para pembuat kebijakan AS yang akan menunda kenaikan suku bunga
sampai akhir tahun ini.
Ketua Federal Reserve
Janet Yellen mengisyaratkan pada pekan lalu bahwa bank sentral tidak
terburu-buru untuk menaikkan suku bunga setelah The Fed berjanji untuk
bersabar pada pengetatan. Suku bunga yang lebih tinggi dapat mengurangi
daya tarik emas seiring logam pada umumnya menawarkan keuntungan hanya
melalui kenaikan harga.
Dolar menyentuh level
terendahnya dalam dua minggu terakhir terhadap 10 mata uang utama
setelah Wakil Ketua The Fed Stanley Fischer mengatakan pada hari Senin
bahwa sementara untuk menaikan suku bunga mungkin akan terjadi sebelum
akhir tahun ini, para pembuat kebijakan "cukup yakin" bahwa meningkatnya
inflasi menuju target mereka sebesar 2 %.
Di Comex New York,
emas berjangka untuk pengiriman bulan April naik 0,3 % untuk menetap di
level $ 1,191.40 per ons pada pukul 1:39 siang waktu setempat,
sebelumnya harga emas mencapai level $ 1,194.50, yang merupakan level
tertingginya untuk kontrak teraktif sejak 6 Maret lalu.
Holdings pada produk
yang diperdagangkan di bursa yang didukung oleh emas naik pada hari
Senin untuk pertama kalinya dalam satu bulan terakhir. (knc)
Sumber : Bloomberg
Kinerja Saham Material Angkat Saham Asia
BESTPROFIT FUTURES MALANG (25/3) - Saham
Asia menguat, dengan indeks acuan regional rebound Selasa kemarin
menuju level tertinggi dalam enam bulan terakhir, karena saham produsen
barang rumah tangga dan saham material memimpin kenaikan.
Indeks
MSCI Asia Pacific naik 0,2 % ke level 148,98 pukul 09:03 pagi di Tokyo.
Indeks tersebut naik 7,8 % tahun ini sampai Selasa kemarin, sehingga
mendorong valuasi estimasi laba sebesar 15 kali, merupakan level
tertinggi sejak Mei 2010 lalu, dibandingkan dengan 17,7 kali untuk
Indeks Standard & Poor 500.
Indeks
Topix Jepang naik 0,3 %. Indeks S&P/ASX 200 Australia naik 0,2 %.
Sedangkan Indeks NZX 50 Selandia Baru melemah 0,1 %. Sementara pasar
saham di China dan Hong Kong belum dibuka.
Indeks
Kospi Korea Selatan stagnan. Sementara pertumbuhan ekonomi negara
tersebut pada kuartal keempat direvisi turun menjadi 0,3 % dari tiga
bulan sebelumnya, dibandingkan dengan perkiraan sebelumnya sebesar 0,4
%.
Indeks
Shanghai Composite naik 0,1 % pada Selasa kemarin, sehingga menghapus
penurunan sebesar 2,4 % dan membatasi kenaikan selama 10-hari, merupakan
kenaikan beruntun terpanjang dalam hampir 23 tahun terakhir. (vck)
Sumber: Bloomberg
Saham Jepang Meningkat Untuk Hari Kedua Pekan ini
BESTPROFIT FUTURES MALANG (25/3) - Indeks
saham Jepang meningkat untuk hari kedua pekan ini seiring penguatan
saham pengembang perumahan dan produsen instrumen presisi pimpin
kenaikan.
Indeks
Topix menguat sebesar 0,3 persen ke level 1,591.92 pukul 09:03 di
Tokyo, dengan tiga saham naik untuk setiap dua saham yang jatuh. Indeks
Nikkei 225 Stock Average naik sebesar 0,3 persen ke level 19,773.97.
Indeks
kekuatan relative (RSI) indeks Topix berada pada level 75 pada hari
Selasa, di atas level 70, beberapa pedagang mengatakan saham telah
meningkat terlalu cepat dan bersiap untuk turun.
Kontrak
E-mini berjangka pada indeks Standard & Poor 500 stagnan pasca
indeks ekuitas acuan merosot sebesar 0,6 persen pada Selasa kemarin di
New York pasca laporan harga konsumen menunjukkan laju inflasi mulai
meningkat.
Biaya
hidup di AS, termasuk makanan dan bahan bakar, naik sebesar 0,2 persen
pada Februari lalu, kenaikan pertama dalam empat bulan terakhir, karena
stabilnya biaya bahan bakar. Ketua Federal Reserve Janet Yellen pekan
lalu mengisyaratkan bahwa bank sentral tidak terburu-buru dalam
menaikkan suku bunga pasca para pembuat kebijakan berkomitmen untuk
bersabar terkait pengetatan kebijakan moneter. (izr)
Sumber: Bloomberg
Penguatan Dolar & Obligasi Tekan Bursa AS Pada Sesi Penutupan
BESTPROFIT FUTURES MALANG (25/3) - Saham AS turun, sementara mata uang dolar menguat karena meningkatnya indeks harga konsumen. Obligasi naik setelah penjualan catat kenaikan selama dua tahun terkait perusahaan-perusahaan berkewajiban untuk mengajukan tawaran.
Indeks Standard & Poor 500 turun 0,6 % pada pukul 04:00 sore waktu New York, selama 25 hari berturut-turut tanpa mengalami kenaikan, yang merupakan penurunan terpanjangnya sejak 2001 lalu. Indeks Nasdaq Composite menghapus kenaikan sebelumnya untuk mengakhiri penurunan sebesar 0,3 %. Indeks Stoxx Europe 600 naik 0,4 %. Indeks Spot Dollar Bloomberg menguat 0,2 %. Imbal hasil obligasi tenor 10 tahun turun 4 basis poin menjadi 1,87 %. Sedangkan minyak mentah AS naik sebesar 6 sen untuk menetap di level $ 47,51 per barel. Emas naik ke level 2 pekan tertinggi sementara tembaga menguat untuk hari keempat.
Indeks harga konsumen di AS naik 0,2 % pada bulan Februari, diiringi dengan biaya bahan bakar yang stabil. Para pembuat kebijakan The Fed mencari inflasi untuk mempercepat dan mendekati target mereka sebesar 2 % guna menentukan waktu kenaikan suku bunga pertama sejak tahun 2006. Pembelian rumah baru di AS secara tak terduga meningkat pada bulan Februari ke level 7 tahun tertinggi. (knc)
Sumber : Bloomberg
Indeks Standard & Poor 500 turun 0,6 % pada pukul 04:00 sore waktu New York, selama 25 hari berturut-turut tanpa mengalami kenaikan, yang merupakan penurunan terpanjangnya sejak 2001 lalu. Indeks Nasdaq Composite menghapus kenaikan sebelumnya untuk mengakhiri penurunan sebesar 0,3 %. Indeks Stoxx Europe 600 naik 0,4 %. Indeks Spot Dollar Bloomberg menguat 0,2 %. Imbal hasil obligasi tenor 10 tahun turun 4 basis poin menjadi 1,87 %. Sedangkan minyak mentah AS naik sebesar 6 sen untuk menetap di level $ 47,51 per barel. Emas naik ke level 2 pekan tertinggi sementara tembaga menguat untuk hari keempat.
Indeks harga konsumen di AS naik 0,2 % pada bulan Februari, diiringi dengan biaya bahan bakar yang stabil. Para pembuat kebijakan The Fed mencari inflasi untuk mempercepat dan mendekati target mereka sebesar 2 % guna menentukan waktu kenaikan suku bunga pertama sejak tahun 2006. Pembelian rumah baru di AS secara tak terduga meningkat pada bulan Februari ke level 7 tahun tertinggi. (knc)
Sumber : Bloomberg
Monday, 23 March 2015
Dolar Lanjutkan Penurunannya pada Perdagangan Asia
BESTPROFIT FUTURES MALANG (24/3) - Dolar
mempertahankan penurunannya di tengah spekulasi Federal Reserve tidak
akan terburu-buru untuk menaikkan suku bunga. Sebagian besar saham Asia
tertekan pasca mengalami koreksi di AS, sementara tembaga naik jelang
rilis data pabrik China.
Greenback
berada di level $1,0949 per euro pukul 9:12 pagi di Tokyo, pasca anjlok
lebih dari 1 persen terhadap 19 mata uang negara dalam dua hari
perdagangan terakhir. Won Korea Selatan dan ringgit Malaysia naik
setidaknya 0,6 persen. Mayoritas saham pada indeks MSCI Asia Pacific
mengalami koreksi seiring dengan indeks Topix Jepang turun sebesar 0,3
persen. Sementera itu, indeks berjangka AS mendatar pasca indeks catat
penurunan pada akhir perdagangan hari Senin. Tembaga berjangka melonjak
sebesar 2,9 persen di New York, naik untuk hari keempat.
Presiden
The Fed San Francisco John Williams akan melakukan berdiskusi dengan
para ekonom di Sydney pada Selasa pagi pasca Stanley Fischer, wakil
ketua bank sentral AS, mengatakan tidak akan "berlama-lama untuk
menaikan" suku bunga, bahkan dengan kenaikan suku bunga pertama
berpotensi akan terjadi pada akhir 2015 mendatang. prospek ini lebih
lambat dari yang diperkirakan pengetatan telah menarik dolar dari level
tertingginya dalam satu dekade terakhir. Di Asia, China dan Jepang akan
merilis indeks manufaktur bulan Maret pada pagi ini, dan Vietnam akan
melaporkan tingkat inflasi. (izr)
Sumber: Bloomberg
Penurunan Dolar Kembali Cerahkan Emas di Sesi Penutupan
BESTPROFIT FUTURES MALANG (24/3) - Emas naik pada sesi ke-4 secara beruntun
di hari Senin waktu New York dengan mencatatkan level tertingginya dalam
lebih dari 2 pekan terakhir, kenaikan emas sebagai akibat dari dolar
yang memperpanjang penurunan dan meningkatnya ekspektasi bahwa Federal
Reserve akan menunda untuk menaikkan suku bunga hingga setidaknya bulan
September tahun ini.
Sementara Pekan lalu emas telah menurun ke level 4 bulan terendah menjelang pertemuan The Fed akibat adanya kecemasan terkait kenaikan suku bunga AS, yang mana hal tersebut akan mempengaruhi permintaan emas bullion.
Spot emas mencapai level tertingginya sejak 6 Maret lalu di level $1,190.70 per ounce dan naik sebesar 0.7% pukul 3:05 sore ini waktu New York.
Sementara emas berjangka AS untuk pengiriman bulan April ditutup naik $3.10 dengan bertengger di level $1,187.70 per ounce.
Di lain pihak dolar anjlok sebesar 0.9% terhadap mayoritas mata uang lainnya. Dolar berada dibawah tekanan setelah The Fed saat pertemuan pekan lalu menurunkan proyeksinya terkait pertumbuhan ekonomi dan inflasi, sehingga hal tersebut merupakan sinyal bahwa The Fed tidak akan menaikkan suku bunga pinjaman ke level normal.
Sedangkan di hari lainnya, Wakil Ketua The Fed Stanley Fischer menyatakan bahwa bank sentral "memperkirakan secara menyeluruh" untuk memulai menaikkan suku bunga di tahun ini, meski arah kebijakan masih terdapat ketidakpastian.
Sementara itu, Platinum naik 1.1% ke level $1,146.75 per ounce dan perak catat gain 1.4% ke level $16.96 per ounce dan palladium merosot 0.5% ke level $772.50 per ounce. (bgs)
Sumber : Reuters
Sementara Pekan lalu emas telah menurun ke level 4 bulan terendah menjelang pertemuan The Fed akibat adanya kecemasan terkait kenaikan suku bunga AS, yang mana hal tersebut akan mempengaruhi permintaan emas bullion.
Spot emas mencapai level tertingginya sejak 6 Maret lalu di level $1,190.70 per ounce dan naik sebesar 0.7% pukul 3:05 sore ini waktu New York.
Sementara emas berjangka AS untuk pengiriman bulan April ditutup naik $3.10 dengan bertengger di level $1,187.70 per ounce.
Di lain pihak dolar anjlok sebesar 0.9% terhadap mayoritas mata uang lainnya. Dolar berada dibawah tekanan setelah The Fed saat pertemuan pekan lalu menurunkan proyeksinya terkait pertumbuhan ekonomi dan inflasi, sehingga hal tersebut merupakan sinyal bahwa The Fed tidak akan menaikkan suku bunga pinjaman ke level normal.
Sedangkan di hari lainnya, Wakil Ketua The Fed Stanley Fischer menyatakan bahwa bank sentral "memperkirakan secara menyeluruh" untuk memulai menaikkan suku bunga di tahun ini, meski arah kebijakan masih terdapat ketidakpastian.
Sementara itu, Platinum naik 1.1% ke level $1,146.75 per ounce dan perak catat gain 1.4% ke level $16.96 per ounce dan palladium merosot 0.5% ke level $772.50 per ounce. (bgs)
Sumber : Reuters
Saham Jepang Bergerak Turun Untuk Pertama Kali Dalam 3 Hari
BESTPROFIT FUTURES MALANG (24/3) - Saham
Jepang bergerak turun untuk pertama kalinya dalam tiga hari terakhir
karena mata uang yen menuju kenaikan dalam dua hari di tengah spekulasi
Federal Reserve yang bersabar untuk menaikkan suku bunga.
Indeks
Topix turun 0,3 % ke level 1,587.30 pukul 09:02 pagi di Tokyo, setelah
pada penutupan kemarin berada di level tertinggi dalam tujuh tahun
terakhir. Lebih dari dua saham yang turun untuk setiap satu saham yang
naik. Indeks Nikkei 225 Stock Average turun 0,2 % ke level 19,702.42.
Sementara mata uang yen diperdagangkan pada level 119,75 per dolar
setelah Wakil Ketua Federal Reserve Stanley Fischer mengatakan tidak
akan ada " jalan mulus " untuk suku bunga AS, bahkan jika kenaikan
pertama pada akhir 2015 mendatang.
Nilai
ekuitas global naik lebih dari $ 2.4 triliun pekan lalu karena para
pembuat kebijakan The Fed mengisyaratkan kecepatan yang lebih bertahap
dalam pengetatan moneter dari perkiraan sebelumnya. Presiden San
Francisco Fed John Williams berbicara kepada para ekonom di Sydney pada
hari ini setelah komentar Fischer Senin kemarin di Economic Club of New
York.
E-mini
berjangka pada indeks Standard & Poor 500 naik 0,1 % setelah indeks
acuan ekuitas turun 0,2 % pada Senin kemain di New York. (vck)
Sumber: Bloomberg
Penurunan Saham Transportasi Tekan Bursa AS Pada Sesi Penutupan
BESTPROFIT FUTURES MALANG (24/3) - Saham
AS melemah setelah Indeks Standard & Poor 500 menguat sebesar 4
poin dari rekornya, seiring penurunan pada perusahaan transportasi
mengimbangi kenaikan pada saham konsumen.
Indeks Dow Jones
Transportation Average turun setelah perusahaan kereta api Kansas City
Southern memangkas outlook. Indeks Nasdaq Bioteknologi turun 2,2 %
setelah menetapkan rekornya pada Jumat kemarin.
Indeks S&P 500 melemah 0,2 % ke level 2,104.44 pada pukul 04:00 sore waktu New York. Indeks Nasdaq Composite merosot 0,3 %.
Indeks S&P 500 dan
Indeks Dow masing-masing turun kurang dari 1 % dari catatan yang masih
ada sampai tanggal 2 Maret. Indeks Nasdaq Composite Jumat kemarin naik
ke level 15 tahun tertinggi, hampir menghapus penurunan sejak akhir bubble dot-com.
Indeks S&P 500 pekan lalu melonjak sebesar 2,7 %, dengan melemahnya
mata uang dolar, terkait meredanya kekhawatiran tentang kenaikan suku
bunga. (knc)
Sumber : Bloomberg
Bursa Saham Eropa Ditutup Melemah 0,7% Pasca Catat Gain Mingguan
BESTPROFIT FUTURES MALANG (24/3) - Bursa Saham Eropa ditutup melemah, setelah
mencatat gain mingguan ke-7 yang sekaligus mendorong ekuitas tersebut
mendekati level tertingginya sepanjang sejarah.
Indeks Stoxx Europe 600 melemah 0.7% ke level 401.24 pada sesi pentupan perdagangan saham dengan memangkas penurunan awal sebesar 1%. Acuan ekuitas tersebut mengakhiri hari Jumat lalu naik 0.4% dari rekor penutupan pada Maret 2000 silam yang melampaui perkiraan dari 12 survei analis oleh Bloomberg pada Januari lalu. Sementara pekan lalu Indeks FTSE 100 untuk pertama kalinya naik diatas level 7,000 dan hari ini menguat 0.2%.
Pekan lalu Indeks Stoxx 600 melampaui level tertingginya seperti yang tercapai pada tahun 2007 silam terkait spekulasi bahwa Federal Reserve tidak akan terburu-buru dalam menaikkan suku bunga. Sepanjang tahun 2015 ini indeks acuan Eropa telah reli 17% ditengah optimisme bahwa stimulus dari ECB (European Central Bank) akan memulihkan perekonomian Zona Eropa, sementara pelemahan euro akan mendorong laba perusahaan. Reli bulan ini telah mendorong saham-saham perusahaan pada Bursa Eropa mencatat level tertingginya terhadap estimasi pendapatan perusahaan dalam satu dekade terakhir ini.
Sementara itu, para investor juga mengkaji pidato Presiden ECB Mario Draghi dihadapan Parlemen Eropa. Saat pembukaan pidatonya, dia mengesampingkan kekhawatiran bahwa rencana pelonggaran kuantitaif ECB akan terhambat oleh kekurangan obligasi yang ada untuk dibeli. (bgs)
Sumber : Bloomberg
Indeks Stoxx Europe 600 melemah 0.7% ke level 401.24 pada sesi pentupan perdagangan saham dengan memangkas penurunan awal sebesar 1%. Acuan ekuitas tersebut mengakhiri hari Jumat lalu naik 0.4% dari rekor penutupan pada Maret 2000 silam yang melampaui perkiraan dari 12 survei analis oleh Bloomberg pada Januari lalu. Sementara pekan lalu Indeks FTSE 100 untuk pertama kalinya naik diatas level 7,000 dan hari ini menguat 0.2%.
Pekan lalu Indeks Stoxx 600 melampaui level tertingginya seperti yang tercapai pada tahun 2007 silam terkait spekulasi bahwa Federal Reserve tidak akan terburu-buru dalam menaikkan suku bunga. Sepanjang tahun 2015 ini indeks acuan Eropa telah reli 17% ditengah optimisme bahwa stimulus dari ECB (European Central Bank) akan memulihkan perekonomian Zona Eropa, sementara pelemahan euro akan mendorong laba perusahaan. Reli bulan ini telah mendorong saham-saham perusahaan pada Bursa Eropa mencatat level tertingginya terhadap estimasi pendapatan perusahaan dalam satu dekade terakhir ini.
Sementara itu, para investor juga mengkaji pidato Presiden ECB Mario Draghi dihadapan Parlemen Eropa. Saat pembukaan pidatonya, dia mengesampingkan kekhawatiran bahwa rencana pelonggaran kuantitaif ECB akan terhambat oleh kekurangan obligasi yang ada untuk dibeli. (bgs)
Sumber : Bloomberg
Sunday, 22 March 2015
Harga Minyak Melonjak Akhiri 4 Minggu Penurunan
BESTPROFIT FUTURES MALANG (23/3) - Harga minyak mentah di bursa komoditas
Amerika Serikat di akhir perdagangan pekan lalu mengalami kenaikan
harian yang mengesankan (23/3). Harga komoditas ini melonjak kencang di
akhir perdagangan dan mengakhiri fase penurunan mingguan yang telah
terjadi selama 4 minggu sebelumnya. Dollar mengalami penurunan di tengah
kembalinya ketidakpastian mengenai pergerakan suku bunga acuan.
Melemahnya dollar mengangkat minat para investor terhadap komoditas yang
diperdagangkan dalam dollar.
Dollar mengalami pelemahan pada hari
Jumat lalu di tengah ekspektasi bahwa Fed akan menaikkan suku bunga
acuan dengan kecepatan rendah. Euro menguat terhadap dollar setelah para
pemimpin Yunani dan Jerman mencapai nota kesepakatan mengenai usaha
untuk mempertahankan Yunani di Eurozone.
Di samping melemahnya dollar kenaikan
harga minyak juga didukung oleh penurunan produksi pengeboran minyak di
Amerika Serikat. Minggu lalu jumlah kegiatan pengeboran dikurangi 41
menjadi 825, angka paling rendah sejak tahun 2011.
Harga minyak mentah berjangka jenis WTI
untuk kontrak Mei yang merupakan kontrak paling aktif saat ini ditutup
melonjak kencang. Di akhir perdagangan harga minyak WTI tersebut
mengalami kenaikan sebesar 1,76 dollar atau 4 persen pada posisi 45,72
dollar per barel. Peningkatan harian tersebut merupakan yang paling
tajam sejak tanggal 12 Februari lalu. Sementara itu secara mingguan
harga mengalami kenaikan sebesar 2,97 persen.
Harga minyak mentah Brent untuk kontrak
paling aktif yaitu Mei mengalami peningkatan sebesar 1,6 persen di level
55,20 dollar per barel. Harga sempat mengalami penurunan ke posisi
53,55 dollar. Harga minyak Brent menguat 1 persen sepanjang minggu.
Analyst Vibiz Research Center
memperkirakan bahwa pergerakan harga minyak mentah jenis WTI kontrak
paling aktif pada perdagangan hari ini berpotensi untuk bergerak menguat
terbatas. Meskipun masih tidak terlalu kuat, sentiment positif mulai
menguasai pergerakan harga minyak mentah.
Untuk perdagangan hari ini harga minyak
mentah WTI kontrak April diperkirakan akan mengalami level resistance di
47,00 dollar. Resistance selanjutnya ada di 48,00 dollar. Jika terjadi
pergerakan retreat sehingga harga melemah support akan ditemui pada
posisi 44,00 dollar dan 43,00 dollar.
Sumber : Vibiznews
Kontribusi Terhadap Perekonomian Masih Kecil, Ekspor Produk Industri Pengolahan Turun
BESTPROFIT FUTURES MALANG (23/3) - Badan Pusat Statistik (BPS) pada pekan
lalu telah merilis neraca perdagangan Indonesia bulan Februari 2015 yang
dalam laporannya berhasil kembali mencatat surplus sebesar 0,74 miliar
dolar Amerika Serikat (AS). Surplus ini relatif stabil jika dibandingkan
dengan surplus pada Januari 2015 yang tercatat sebesar 0,75 miliar
dolar AS. Pencapaian tersebut ditopang oleh surplus neraca migas maupun
nonmigas.
Ekspor nonmigas untuk industri
pengolahan pada bulan Februari lalu mencatat penurunan sebesar 8,6
persen. Dilihat dari kontribusinya terhadap ekspor keseluruhan
Januari-Februari 2015, kontribusi ekspor nonmigas produk industri
pengolahan adalah sebesar 68.43 persen.
Beberapa komoditi yang termasuk dalam
produk industri pengolahan mencatatkan penurunan ekspor yang cukup
besar, seperti mesin/peralatan listrik sebesar US$42.3juta (5.89%), alas
kaki US$64juta (16.19%), sedangkan perangkat optik mencatat kenaikan
sebesar US$7.5juta (15%).
Berdasarkan data statistik perdagangan
terkini yang dikeluarkan oleh BPS, menunjukkan bahwa peran industri
pengolahan terhadap pertumbuhan ekonomi nasional menunjukkan tren yang
terus menurun. Hal ini ditandai dengan kontribusi peran industri
pengolahan terhadap pendapatan negara yang terus menurun. Dapat
disimpulkan bahwa sektor industri belum mampu menggerakkan pertumbuhan
dan daya saing ekonomi,
Untuk saat ini produk industri
pengolahan dalam negeri yang berpotensi di ekspor seperti produk
tekstil, kayu olahan, mebel/furniture dan peralatan elektronik.
Sedangkan negara tujuan utama untuk ekspor industri pengolahan ini
antara lain AS, Tiongkok, Jepang, Jerman, Turki, Korea Selatan.
Analys Vibiz Research Center
mengemukakan bahwa kinerja saham untuk sektor terkait di Bursa Efek
Indonesia (BEI) untuk tiga bulan ini yaitu sektor industri nampak
menunjukkan kinerja yang positif dimana indeks saham untuk sektor
MISC-IND mengalami kenaikan sekitar 3.57 % dalam 3 bulan terakhir.
Sementara untuk indeks BASIC-IND menunjukkan penurunan sekitar -4.11%
dalam 3 bulan terakhir.
Sumber : Vibiznews
Saham Asia Kembali Menguat Seiring Peningkatan Harga Emas
BESTPROFIT FUTURES MALANG (23/3) - Saham
Asia naik mengirim indeks saham regional memperpanjang penguatannya ke
level tertinggi dalam enam bulan terakhir pasca meningkatnya spekulasi
bahwa suku bunga AS akan ditahan mendekati nol persen sampai pertengahan
tahun ini mendorong ekuitas global catat kenaikan mingguan terbesar
sejak 2013 lalu. Sementara itu, harga minyak mentah turun, emas naik.
Indeks
MSCI Asia Pacific naik untuk hari kelima berturut-turut, naik sebesar
0,6 persen pukul 09:19 di Tokyo. Indeks Topix Jepang naik sebesar 0,7
persen. Indeks Standard & Poor 500 berjangka menguat 0,1 persen
pasca pekan lalu indeks catat perfoma terbaik sejak awal Februari lalu.
Minyak AS anjlok sebesar 1,2 persen, setelah naik sebesar 4 persen pada
Jumat lalu, Arab Saudi mengatakan tengah mengeksplorasi minyak mendekati
rekor jumlah minyak mentah. Emas memperpanjang kenaikan mingguan
tertinggi dalam dua bulan terakhir. Indeks Bloomberg Dollar Spot jatuh,
mengirim turun untuk hari kedua menjadi 1,4 persen. Mata uang emerging
market mengalami penguatan.
Nilai
ekuitas global meningkat sekitar US$2.4 triluin pekan lalu karena
Federal Reserve mengisyaratkan memperlambat kecepatan pengetatan moneter
dari perkiraan sebelumnya di tengah ekonomi yang moderat. Hal itu cukup
member tekanan terhadap dolar, dengan indeks dolar catat penurunan
tajam sejak 2011 lalu. Minggu kemarin, China Petroleum & Chemical
Corp melaporkan laba tahunan yang terendah sejak awal krisis keuangan
global di tengah merosotnya harga minyak sebesar 46 persen. Taiwan akan
mengupdate tingkat pengangguran hari ini dan Singapura akan merilis laju
inflasi.
Indeks
Australia S&P/ASX 200 stagnan di 50 menit pertama awal perdagangan,
sedangkan indeks NZX 50 turun sebesar 0,2 persen di Wellington.
Sementara, indeks Kospi di Seoul. Kedua indeks Nasdaq Composite dan
Stoxx Europe 600 naik 0,5 persen dari rekor level tertingginya pekan
lalu. (izr)
Sumber : Bloomberg
Emas Lanjutkan Kenaikan Mingguannya Pasca Dolar Anjlok Tajam Sejak 2011
BESTPROFIT FUTURES MALANG (23/3) - Emas
menuju gain terpanjang sejak Oktober lalu, naik untuk hari keempat
berturut-turut, akibat dolar catat performa mingguan terburuk pasca
Federal Reserve menurunkan proyeksi kenaikan suku bunga AS.
Bullion
untuk pengiriman segera naik sebanyak 0,4 persen ke level $1,187.31 per
ons dan berada di level $1,186.68 pukul 8:01 di Singapura, menurut
harga generik Bloomberg. Logam meningkat sebesar 2,1 persen pekan lalu,
rebound dari level terendahnya dalam tiga bulan terakhir pada jumat
lalu, seiring dengan pelemahan indeks Dolar Bloomberg sebesar 2,2
persen.
Ketua
The Fed Janet Yellen menyarankan pekan lalu bahwa bank sentral AS tidak
akan terburu-buru dalam menaikkan suku bunga, bahkan seiring dengan
pernyataan pasca pertemuan kebijakan menunjukkan para pejabat otoritas
menjatuhkan janji untuk bersabar terkait pengetatan kebijakan moneter.
Pedagang telah melepas emas dalam mengantisipasi biaya pinjaman yang
lebih tinggi, yang biasanya mengirim investor beralih pada aset dengan
prospek hasil yang lebih baik seperti saham.
Para
Pejabat The Fed pada 18 Maret lalu menurunkan perkiraan mereka untuk
biaya pinjaman pada akhir 2015 menjadi 0,625 persen, dari perkiraan
bulan Desember yang sebesar 1,125 persen. Perdagangan emas berbanding
terbalik dengan mata uang AS.
Emas untuk pengiriman April ditransaksikan pada level $1,186.30 di Comex dari level $1,184.60 pada penutupan pada jumat lalu.
Perak
untuk pengiriman segera naik sebesar 0,5 persen ke level $16,834 per
ons, memperpanjang kenaikan menjadi 7 persen pekan lalu. Spot platinum
naik sebesar 0,1 persen menjadi $ ,140.13 per ons, sedangkan paladium
turun sebesar 0,1 persen ke level $ 776,10 per ons. (izr)
Sumber: Bloomberg
Saham Jepang Menuju Ke Level Tertingginya Dalam 7 Tahun Terakhir
BESTPROFIT FUTURES MALANG (23/3) - Saham
Jepang bergerak naik, dengan indeks Topix menuju level tertinggi dalam
tujuh tahun terakhir, karena ekuitas global yang kembali reli di tengah
ekspektasi terhadap Federal Reserve agar bersabar dalam menaikkan suku
bunga.
Indeks
Topix naik 0,2 % ke level 1,583.14 pukul 09:01 pagi di Tokyo, bersiap
untuk penutupan tertinggi sejak November 2007 lalu, setelah membatasi
kenaikan mingguan kesembilan. Indeks Nikkei 225 Stock Average naik 0,1 %
ke level 19,584.73. Sementara mata uang yen diperdagangkan pada level
119,95 per dolar setelah pekan lalu menguat sebesar 1,1 %. Lebih dari $
2,4 triliun ditambahkan ke nilai saham global dalam lima hari terakhir
sampai 20 Maret karena The Fed mengisyaratkan bersabar dalam menaikkan
suku bunga.
Indeks
Topix naik 12 % tahun ini pada pekan lalu, menjadikannya pemain terbaik
di antara pasar ekuitas Asia yang di pantau oleh Bloomberg, didukung
oleh stimulus bank sentral dan stok pembelian dan pergeseran dana
pensiun senilai $ 1.1 triliun dari obligasi ke saham negara tersebut.
Tiga dana pensiun publik Jepang lainnya senilai ¥ 30.3 triliun ($ 252
miliar) mereka mengatakan pekan lalu akan mengadopsi target aset alokasi
serupa dengan Dana Pensiun Investasi Pemerintah, menurut pernyataan
bersama di situs Web mereka.
E-mini
berjangka pada Indeks S&P 500 naik 0,1 % setelah indeks acuan
mendasari reli sebesar 0,9 % pada Jumat lalu, sementara Indeks Nasdaq
Composite menguat ke level tertinggi dalam 15 tahun terakhir. (vck)
Sumber: Bloomberg
Thursday, 19 March 2015
IHSG Berpeluang Menguat Jelang Akhir Pekan
BESTPROFIT FUTURES MALANG (20/3) - Gerak Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan melanjutkan penguatan pada perdagangan saham Jumat pekan ini.
Analis PT Asjaya Indosurya Securities, William Suryawijaya menuturkan, target IHSG untuk kembali mengukir rekor baru melampaui level resistance 5.514 kembali terbuka lebar. Hal itu dapat terjadi bila support 5.401 masih terjaga kuat.
"IHSG berpotensi melanjutkan kenaikan pasca melakukan technical rebound," ujar William dalam ulasannya, Jumat (20/3/2015).
Sementara itu, riset PT Sinarmas Sekuritas menyebutkan, IHSG bergerak menguat di kisaran level 5.435-5.478 pada perdagangan saham menjelang akhir pekan ini.
Ada sejumlah sentimen yang pengaruhi laju IHSG antara lain penguatan nilai tukar Rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Ditambah AS akan merilis data initial jobless claims yang diperkirakan naik 2.000 ke 301 ribu.
Untuk rekomendasi saham, William memilih sejumlah saham yang dapat diperhatikan pelaku pasar antara lain saham PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF), PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI), PT Jasa Marga Tbk (JSMR), dan PT Pakuwon Jati Tbk (PWON).
Sedangkan riset PT Sinarmas Sekuritas menuliskan saham-saham yang dapat diperhatikan yaitu saham PWON, PT Summarecon Agung Tbk (SMRA), PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), dan PT Charoen Phokpand Indonesia Tbk (CPIN). (Ahm/)
Sumber : Liputan6
Analis PT Asjaya Indosurya Securities, William Suryawijaya menuturkan, target IHSG untuk kembali mengukir rekor baru melampaui level resistance 5.514 kembali terbuka lebar. Hal itu dapat terjadi bila support 5.401 masih terjaga kuat.
"IHSG berpotensi melanjutkan kenaikan pasca melakukan technical rebound," ujar William dalam ulasannya, Jumat (20/3/2015).
Sementara itu, riset PT Sinarmas Sekuritas menyebutkan, IHSG bergerak menguat di kisaran level 5.435-5.478 pada perdagangan saham menjelang akhir pekan ini.
Ada sejumlah sentimen yang pengaruhi laju IHSG antara lain penguatan nilai tukar Rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Ditambah AS akan merilis data initial jobless claims yang diperkirakan naik 2.000 ke 301 ribu.
Untuk rekomendasi saham, William memilih sejumlah saham yang dapat diperhatikan pelaku pasar antara lain saham PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF), PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI), PT Jasa Marga Tbk (JSMR), dan PT Pakuwon Jati Tbk (PWON).
Sedangkan riset PT Sinarmas Sekuritas menuliskan saham-saham yang dapat diperhatikan yaitu saham PWON, PT Summarecon Agung Tbk (SMRA), PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), dan PT Charoen Phokpand Indonesia Tbk (CPIN). (Ahm/)
Sumber : Liputan6
Sentimen Suku Bunga The Fed, Antarkan Emas Pangkas Gain Dari Level 2 Pekan Tertinggi
BESTPROFIT FUTURES MALANG (20/3) - Emas memangkas gain setelah hampir
mencapai level 2 pekan tertingginya ditengah adanya kecemasan baru bahwa
Federal Reserve akan meningkatkan suku bunga AS, meskipun The Fed
sendiri memangkas outlook suku bunga pinjaman.
The Fed menurunkan komitmen bersabar terkait pengetatan kebijakan pada pernyataannya hari Rabu kemarin ditengah The Fed menurunkan proyeksi suku bunga di akhir tahun 2015 ini. Sementara dolar mengalami rebound dengan mencatatkan kenaikan sebesar 1.5% terhadap 10 mata uang lainnya terkait spekulasi bahwa suku bunga pinjaman yang akan naik ditengah ekonomi negara lainnya melakukan pelonggaran moneter.
Peningkatan suku bunga menurunkan daya tarik emas karena logam mulia secara umum memberikan return hanya dengan kenaikan harga, hal tersebut mengantarkan para investor kepada aset dengan prospek imbal hasil yang lebih baik seperti obligasi. Sedangkan kepemilikan pada ETF (exchange-traded fund) berbasis emas mencatat penurunan mingguan ke-3 secara beruntun akibat para investor yang telah meninggalkan emas terkait antisipasi kenaikan suku bunga pinjaman.
Emas untuk pengiriman segera naik sebesar 0.3% dengan ditutup di level $1,171.18 per ounce, menurut harga dari Bloomberg. Sebelumnya emas sempat naik dengan mencapai level $1,177.96 yang sekaligus level tertingginya sejak 6 Maret lalu. (bgs)
Sumber : Bloomberg
The Fed menurunkan komitmen bersabar terkait pengetatan kebijakan pada pernyataannya hari Rabu kemarin ditengah The Fed menurunkan proyeksi suku bunga di akhir tahun 2015 ini. Sementara dolar mengalami rebound dengan mencatatkan kenaikan sebesar 1.5% terhadap 10 mata uang lainnya terkait spekulasi bahwa suku bunga pinjaman yang akan naik ditengah ekonomi negara lainnya melakukan pelonggaran moneter.
Peningkatan suku bunga menurunkan daya tarik emas karena logam mulia secara umum memberikan return hanya dengan kenaikan harga, hal tersebut mengantarkan para investor kepada aset dengan prospek imbal hasil yang lebih baik seperti obligasi. Sedangkan kepemilikan pada ETF (exchange-traded fund) berbasis emas mencatat penurunan mingguan ke-3 secara beruntun akibat para investor yang telah meninggalkan emas terkait antisipasi kenaikan suku bunga pinjaman.
Emas untuk pengiriman segera naik sebesar 0.3% dengan ditutup di level $1,171.18 per ounce, menurut harga dari Bloomberg. Sebelumnya emas sempat naik dengan mencapai level $1,177.96 yang sekaligus level tertingginya sejak 6 Maret lalu. (bgs)
Sumber : Bloomberg
Outlook Suku Bunga The Fed Angkat Dolar Rebound dari Penurunan Terbesar
BESTPROFIT FUTURES MALANG (20/3) - Dolar
rebound dari penurunan terbesarnya dalam 6 tahun terakhir di tengah
spekulasi Federal Reserve yang tetap akan menaikkan suku bunga pada
tahun ini bahkan setelah memangkas proyeksi suku bunga acuan.
Mata uang Dolar AS
menguat terhadap 13 dari 16 mata uang utama pasca The Fed semakin
mendekati untuk tingkat yang lebih tinggi dengan latar belakang
pelonggaran global, yang dipimpin oleh Bank Sentral Eropa (ECB) dan Bank
of Japan (BOJ). Ketua Fed Janet Yellen tidak akan mengabaikan kenaikan
suku bunga pada awal Juni mendatang setelah bank sentral menghapus
komitmennya untuk bersabar pada pengetatan kebijakan moneter hari Rabu.
Indeks Spot Dollar
Bloomberg, yang mengukur kinerja mata uang terhadap 10 mata uang utama,
naik 1,4 % ke level 1,211.18 pada pukul 15:05 siang waktu New York,
menghentikan penurunan selama tiga hari. Indeks tersebut mencapai level
1,222.12 pada tanggal 13 Maret lalu, yang merupakan level tertingginya
berdasarkan harga penutupan untuk kembali ke tahun 2004 silam.
Mata uang AS menguat 2
% ke level $ 1,0644 per euro, kenaikan pertamanya dalam 4 hari
terakhir. Dolar naik 0,7 % ke level 120,94 yen.
Indeks Dollar
Bloomberg kemarin melemah sebesar 1,8 %, merupakan penurunan terbesarnya
sejak The Fed mengumumkan pembelian imbal hasil obligasi bulan Maret
2009, seiring ekspektasi dari bank sentral AS hampir setengahnya untuk
menaikan suku bunga pada akhir tahun ini. Perkiraan para anggota The
Fed, suku bunga di akhir tahun 2015 ini sebesar 0,625 %, dibandingkan
dengan perkiraan bulan Desember tahun lalu sebesar 1,125 %. (knc)
Sumber : Bloomberg
Melemahnya Saham Energi, Jatuhkan Bursa AS 0.5% di Sesi Penutupan
BESTPROFIT FUTURES MALANG (20/3) - Bursa Saham AS ditutup melemah, setelah
mengalami reli pada hari Rabu kemarin terkait pernyataan kebijakan
Federal Reserve, pelemahan hari ini akibat anjloknya saham perbankan dan
perusahaan energi pasca penurunan harga minyak.
Indeks Standard & Poor 500 melemah 0.5% ke level 2,089.40 pukul 4 sore ini waktu New York. Sementara Indeks Nasdaq Composite menguat 0.2% setelah sempat kembali mencapai level 5,000.
Indeks S&P 500 berada pada laju sesi ke 22 secara beruntun tanpa kenaikan yang sekaligus sesi penurunan terpanjangnya sejak pelemahan selama 23 hari pada Juni 2010 silam. Indeks acuan tersebut tidak pernah turun selama 4 hari beruntun di tahun 2014 kemarin.
Sementara itu, dolar rebound dari penurunan tertajamnya terhadap euro dalam waktu 6 tahun terakhir. Indeks Spot Dolar Bloomberg mendulang gain 1.4% yang sekaligus menghentikan penurunan selama 3 hari terakhir.
Kemarin Indeks S&P 500 menguat sebesar 1.2% setelah The Fed menyatakan bahwa rilis data mengisyaratkan pertumbuhan ekonomi telah memasuki masa moderat. Bank Sentral AS tersebut juga menyatakan bahwa kenaikan suku bunga di bulan April mendatang sepertinya tidak akan terjadi dan The Fed tidak akan melakukan pengetatan kebijakan hingga cukup yakin dengan inflasi akan kembali ke targetnya dan pasar tenaga kerja kembali membaik. (bgs)
Sumber : Bloomberg
Indeks Standard & Poor 500 melemah 0.5% ke level 2,089.40 pukul 4 sore ini waktu New York. Sementara Indeks Nasdaq Composite menguat 0.2% setelah sempat kembali mencapai level 5,000.
Indeks S&P 500 berada pada laju sesi ke 22 secara beruntun tanpa kenaikan yang sekaligus sesi penurunan terpanjangnya sejak pelemahan selama 23 hari pada Juni 2010 silam. Indeks acuan tersebut tidak pernah turun selama 4 hari beruntun di tahun 2014 kemarin.
Sementara itu, dolar rebound dari penurunan tertajamnya terhadap euro dalam waktu 6 tahun terakhir. Indeks Spot Dolar Bloomberg mendulang gain 1.4% yang sekaligus menghentikan penurunan selama 3 hari terakhir.
Kemarin Indeks S&P 500 menguat sebesar 1.2% setelah The Fed menyatakan bahwa rilis data mengisyaratkan pertumbuhan ekonomi telah memasuki masa moderat. Bank Sentral AS tersebut juga menyatakan bahwa kenaikan suku bunga di bulan April mendatang sepertinya tidak akan terjadi dan The Fed tidak akan melakukan pengetatan kebijakan hingga cukup yakin dengan inflasi akan kembali ke targetnya dan pasar tenaga kerja kembali membaik. (bgs)
Sumber : Bloomberg
Pasca Pernyataan The Fed Antarkan Saham Eropa Berakhir Menguat
BESTPROFIT FUTURES MALANG (20/3) - Saham
Eropa menguat ke level tertingginya sejak tahun 2000, terkait dengan
Federal Reserve mengakui moderasi dalam pertumbuhan ekonomi, memicu
spekulasi bahwa The Fed tidak akan terburu-buru untuk menaikkan suku bunga.
Sebanyak 16 dari 19
kelompok industri pada Indeks Stoxx Europe 600 naik, dipimpin oleh
perusahaan-perusahaan energi. Saham Royal Dutch Shell Plc naik 1,2 %,
sementara saham Premier Oil Plc melonjak sebesar 8,1 %, yang merupakan
kenaikan terbesarnya di Indeks Stoxx 600.
Indeks Stoxx 600 naik
0,6 % ke level 400,98 pada pukul 4:30 sore waktu London. Ekuitas kemarin
naik diikuti saham Inggris setelah presentasi anggaran dan saham Swedia
melonjak setelah menurunkan suku bunga acuan. Indeks Stoxx 600 telah
melonjak sebesar 17 % pada tahun ini.
The Fed memangkas
estimasi untuk suku bunga acuan AS pada akhir tahun 2015, mengurangi
kekhawatiran bahwa memperketat kebijakan moneter yang akan menghambat
permintaan untuk aset berisiko dan mengirim penguatan mata uang dolar.
(knc)
Sumber : Bloomberg
Wednesday, 18 March 2015
The Fed Pangkas Outlook Suku Bunga, Emas Mencatat Kenaikan Tajam di Sesi Penutupan
BESTPROFIT FUTURES MALANG (19/3) - Harga emas naik tajam sejak Januari
kemarin menyusul Federal Reserve menyatakan bahwa meningkatkan suku
bunga bulan depan kemungkinan tidak akan terjadi dan The Fed memangkas
outlook suku bunga pinjaman.
Pertumbuhan ekonomi AS telah memasuki Ã…“sedikit moderat dan laju inflasi telah berlanjut menurun dibawah target The Fed, hal itu disampaikan Federal Open Market Committee pada hari Rabu waktu AS. Bank Sentral AS menurunkan perkiraan rata-ratanya terkait suku bunga diakhir tahun 2015 ini sebesar 0.625%, dibandingkan dengan 1.125% pada perkiraan Desember tahun kemarin.
Sepanjang tahun 2015 ini emas telah mengalami penurunan sebesar 1,4% ini terkait kekhawatiran bahwa suku bunga yang akan dinaikkan, sehingga hal tersebut memangkas daya tarik logam mulia yang secar umum memberikan return melalui kenaikan harga. Acuan suku bunga sendiri telah mendekati 0 sejak tahun 2008 silam.
Emas untuk pengiriman segera naik sebesar 1.6% dengan ditutup di level $1,167.61 per ounce yang sekaligus mencatatkan gain tertingginya sejak 30 Januari lalu.
Sementara itu, para investor telah meninggalkan emas atas antisipasi kenaikan suku bunga pinjaman dalam waktu terdekat dan beralih ke aset dengan prospek imbal hasil yang lebih baik seperti obligasi dan ekuitas. Pada bulan Maret ini lebih dari $4 miliar telah beralih dari nilai reksadana berbasis bullion yang diperdagangkan di bursa yang juga merupakan penurunan bulanan tertajam sejak September tahun kemarin. (bgs)
Sumber : Bloomberg
Pertumbuhan ekonomi AS telah memasuki Ã…“sedikit moderat dan laju inflasi telah berlanjut menurun dibawah target The Fed, hal itu disampaikan Federal Open Market Committee pada hari Rabu waktu AS. Bank Sentral AS menurunkan perkiraan rata-ratanya terkait suku bunga diakhir tahun 2015 ini sebesar 0.625%, dibandingkan dengan 1.125% pada perkiraan Desember tahun kemarin.
Sepanjang tahun 2015 ini emas telah mengalami penurunan sebesar 1,4% ini terkait kekhawatiran bahwa suku bunga yang akan dinaikkan, sehingga hal tersebut memangkas daya tarik logam mulia yang secar umum memberikan return melalui kenaikan harga. Acuan suku bunga sendiri telah mendekati 0 sejak tahun 2008 silam.
Emas untuk pengiriman segera naik sebesar 1.6% dengan ditutup di level $1,167.61 per ounce yang sekaligus mencatatkan gain tertingginya sejak 30 Januari lalu.
Sementara itu, para investor telah meninggalkan emas atas antisipasi kenaikan suku bunga pinjaman dalam waktu terdekat dan beralih ke aset dengan prospek imbal hasil yang lebih baik seperti obligasi dan ekuitas. Pada bulan Maret ini lebih dari $4 miliar telah beralih dari nilai reksadana berbasis bullion yang diperdagangkan di bursa yang juga merupakan penurunan bulanan tertajam sejak September tahun kemarin. (bgs)
Sumber : Bloomberg
Dolar Merosot Tajam Sejak 2009 Pasca The Fed Pangkas Perkiraan Suku Bunga
BESTPROFIT FUTURES MALANG (19/3) - Dolar
merosot tajam dalam 6 tahun terakhir setelah Federal Reserve pangkas
perkiraan suku bunga AS, The Fed mencabut janji untuk tetap "bersabar"
menaikkan tingkat suku bunga.
Mata uang Dolar AS
melemah terhadap sebagian besar mata uang utama seiring pejabat bank
sentral hampir setengahnya dari mereka memperkirakan untuk target
tingkat tahun ini. Dolar berada di level terendahnya dalam 6 bulan
terakhir, dengan para pedagang meningkatkan spekulasi untuk kenaikan
lebih lanjut ke rekor tertingginya, karena The Fed mendekati pengetatan
untuk pertama kalinya dalam hampir satu dekade terakhir.
Indeks Spot Dolar
Bloomberg, yang mengukur kinerja mata uang terhadap 10 mata uang utama,
merosot sebesar 1,75 % ke level 1,194.89, yang merupakan penurunan
terbesarnya sejak The Fed mengumumkan pembelian obligasi pada Maret 2009
lalu. Pada hari Jumat, indeks tersebut mencapai level tertingginya
berdasarkan harga penutupan kembali pada tahun 2004 silam.
Dolar melemah sebesar 1 % ke level 120,11 yen dan anjlok sebesar 2,5 % ke level $ 1,0864 per euro. (knc)
Sumber : Bloomberg
The Fed Pangkas Outlook Suku Bunga, Angkat Emas Naik Tajam Sejak Januari
BESTPROFIT FUTURES MALANG (19/3) - Harga emas naik tajam sejak Januari
kemarin menyusul Federal Reserve menyatakan bahwa meningkatkan suku
bunga bulan depan kemungkinan tidak akan terjadi dan The Fed memangkas
outlook suku bunga pinjaman.
Pertumbuhan ekonomi AS telah memasuki œsedikit moderat dan laju inflasi telah berlanjut menurun dibawah target The Fed, hal itu disampaikan Federal Open Market Committee pada hari Rabu waktu AS. Bank Sentral AS menurunkan perkiraan rata-ratanya terkait suku bunga diakhir tahun 2015 ini sebesar 0.625%, dibandingkan dengan 1.125% pada perkiraan Desember tahun kemarin.
Hingga tanggal 17 Maret kemarin emas telah mengalami penurunan sebesar 3% sepanjang tahun 2015 ini terkait kekhawatiran bahwa suku bunga yang akan dinaikkan, sehingga hal tersebut memangkas daya tarik logam mulia yang secar umum memberikan return melalui kenaikan harga. Acuan suku bunga sendiri telah mendekati 0 sejak tahun 2008 silam.
Emas untuk pengiriman segera naik sebesar 1.3% ke level $1,164.39 per ounce pukul 2:37 sore ini waktu New York yang sekaligus mencatatkan gain tertingginya sejak 30 Januari lalu.
Sementara itu, para investor telah meninggalkan emas atas antisipasi kenaikan suku bunga pinjaman dalam waktu terdekat dan beralih ke aset dengan prospek imbal hasil yang lebih baik seperti obligasi dan ekuitas. Pada bulan Maret ini lebih dari $4 miliar telah beralih dari nilai reksadana berbasis bullion yang diperdagangkan di bursa yang juga merupakan penurunan bulanan tertajam sejak September tahun kemarin. (bgs)
Sumber : Bloomberg
Pertumbuhan ekonomi AS telah memasuki œsedikit moderat dan laju inflasi telah berlanjut menurun dibawah target The Fed, hal itu disampaikan Federal Open Market Committee pada hari Rabu waktu AS. Bank Sentral AS menurunkan perkiraan rata-ratanya terkait suku bunga diakhir tahun 2015 ini sebesar 0.625%, dibandingkan dengan 1.125% pada perkiraan Desember tahun kemarin.
Hingga tanggal 17 Maret kemarin emas telah mengalami penurunan sebesar 3% sepanjang tahun 2015 ini terkait kekhawatiran bahwa suku bunga yang akan dinaikkan, sehingga hal tersebut memangkas daya tarik logam mulia yang secar umum memberikan return melalui kenaikan harga. Acuan suku bunga sendiri telah mendekati 0 sejak tahun 2008 silam.
Emas untuk pengiriman segera naik sebesar 1.3% ke level $1,164.39 per ounce pukul 2:37 sore ini waktu New York yang sekaligus mencatatkan gain tertingginya sejak 30 Januari lalu.
Sementara itu, para investor telah meninggalkan emas atas antisipasi kenaikan suku bunga pinjaman dalam waktu terdekat dan beralih ke aset dengan prospek imbal hasil yang lebih baik seperti obligasi dan ekuitas. Pada bulan Maret ini lebih dari $4 miliar telah beralih dari nilai reksadana berbasis bullion yang diperdagangkan di bursa yang juga merupakan penurunan bulanan tertajam sejak September tahun kemarin. (bgs)
Sumber : Bloomberg
Saham AS Ditutup Menguat Seiring Pernyataan The Fed
BESTPROFIT FUTURES MALANG (19/3) - Saham
AS naik, menghentikan penurunan sebelumnya, setelah Federal Reserve
mengatakan data pertumbuhan ekonomi telah dimoderasi, memicu spekulasi
bahwa The Fed tidak akan terburu-buru untuk menaikkan suku bunga.
Indeks Standard &
Poor 500 menguat 1,2 % ke level 2,099.26 pada pukul 16:00 sore waktu New
York. Indeks Russell 2000 naik 0,8 % ke rekornya. Indeks Nasdaq
Composite meningkat 0,9 %, dan secara singkat naik kembali di atas level
5.000.
Bank sentral
mengatakan kenaikan suku bunga pada bulan April kemungkinan tidak akan
terjadi dan tidak akan melakukan pengetatan sampai "yakin" inflasi akan
kembali ke targetnya dan selanjutnya pasar tenaga kerja akan meningkat.
The Fed juga akan "bersabar" dalam menaikkan suku bunga.
Federal Reserve
menurunkan perkiraan rata-ratanya terkait suku bunga di akhir tahun 2015
ini sebesar 0,625 %, dibandingkan dengan 1.125 % pada perkiraan bulan
Desember tahun kemarin. Perkiraan rata-rata pada akhir tahun 2016
menurun menjadi 1.875 % dari sebelumnya sebesar 2,5 %, menurut ringkasan
triwulan Federal Open Market Committee (FOMC) dari perkiraan ekonomi.
(knc)
Sumber : Bloomberg
Bursa Eropa Berakhir Menguat Diikuti Saham Inggris
BESTPROFIT FUTURES MALANG (19/3) - Bursa
saham Eropa naik diikuti saham Inggris setelah presentasi anggaran dan
ekuitas Swedia melonjak setelah menurunkan suku bunga.
Indeks Stoxx Europe
600 naik 0,3 % ke level 398,65 pada penutupan perdagangan, menghapus
penurunan sebelumnya sebesar 0,4 %. Investor juga menunggu keputusan
kebijakan Federal Reserve untuk menetukan waktu kenaikan suku bunga.
Indeks FTSE 100
Inggris menguat 1,6 % terkait Menteri Keuangan Britania Raya George
Osborne menaikkan perkiraan pertumbuhan ekonomi Inggris untuk tahun 2015
dan 2016. Indeks OMX Stockholm 30 melonjak 1,7 % ke rekornya karena
bank sentral Swedia memangkas suku bunga acuan dan diperluas program
pelonggaran kuantitatif.
Perusahaan pembuat
mobil catat penurunan terburuknya di antara 19 kelompok industri, dengan
saham Bayerische Motoren Werke AG anjlok sebesar 4,2 % setelah
memperkirakan melambatnya pertumbuhan laba pada tahun 2015. Indeks auto
jatuh untuk hari kedua, setelah pada hari Senin naik ke rekornya. (knc)
Sumber : Bloomberg
Tuesday, 17 March 2015
Iron Man Hadiahkan Lengan Robotik
BESTPROFIT FUTURES MALANG (18/3) - Robert Downey Jr. yang memainkan peran sebagai Tony Stark dalam film
laga Iron Man tergugah hatinya untuk menghadiahi lengan robotik buatan
kepada seorang anak yang memerlukan.
Dalam suatu tayangan video yang diunggah ke YouTube, Iron Man melibatkan diri dalam menghadiahkan sebuah lengan bionik kepada Alex Pring, seorang bocah lelaki berusia 7 tahun yang memerlukannya.
Dari situs web University of Cental Florida (UCF), disebutkan bahwa kerja bersama ini melibatkan Albert Manero, seorang mahasiswa S3 bidang mekanika dari UCF.
Mahasiswa penerima beasiswa Fulbright ini memimpin Limbitless Solutions yang secara sukarela menggagas penciptaan lengan-lengan bionik dengan cetakan 3D untuk diberikan kepada anak-anak yang membutuhkan. Bocah penerima lengan buatan dari Iron Man itu dilahirkan dengan lengan kanan yang tidak tumbuh secara sempurna.
Microsoft OneNote mendukung gagasan ini melalui “The Collective Project”, yaitu kampanye yang bertujuan mempertunjukkan bagaimana teknologi menggalang upaya bersama untuk mengubah dunia.
Sumber : Liputan6
Dalam suatu tayangan video yang diunggah ke YouTube, Iron Man melibatkan diri dalam menghadiahkan sebuah lengan bionik kepada Alex Pring, seorang bocah lelaki berusia 7 tahun yang memerlukannya.
Dari situs web University of Cental Florida (UCF), disebutkan bahwa kerja bersama ini melibatkan Albert Manero, seorang mahasiswa S3 bidang mekanika dari UCF.
Mahasiswa penerima beasiswa Fulbright ini memimpin Limbitless Solutions yang secara sukarela menggagas penciptaan lengan-lengan bionik dengan cetakan 3D untuk diberikan kepada anak-anak yang membutuhkan. Bocah penerima lengan buatan dari Iron Man itu dilahirkan dengan lengan kanan yang tidak tumbuh secara sempurna.
Microsoft OneNote mendukung gagasan ini melalui “The Collective Project”, yaitu kampanye yang bertujuan mempertunjukkan bagaimana teknologi menggalang upaya bersama untuk mengubah dunia.
Sumber : Liputan6
Bursa AS Tumbang Jelang Pernyataan The Fed
BESTPROFIT FUTURES MALANG (18/3) - Bursa Amerika Serikat (AS) tumbang ditandai jatuhnya indeks saham Dow
dan S&P 500 akibat meningkatnya kegelisahan menjelang pernyataan
Federal Reserve (The Fed). Hanya indeks Nasdaq yang berakhir lebih
tinggi.
Indeks Dow Jones Industrial Average turun 128,34 poin, atau 0,71 persen ke posisi 17.849,08. Indeks S & P 500 kehilangan 6,91 poin atau 0,33 persen menjadi 2.074,28 poin dan Nasdaq Composite menambahkan 7,93 poin, atau 0,16 persen, ke level 4.937,44 melansir laman Reuters.
Pelemahan ini dipicu investor cemas menanti keputusan Komite Pasar Terbuka The Fed yang akan memulai pertemuan kebijakan dua hari, yang akan diikuti dengan pernyataan dari Ketua Fed Janet Yellen.
Sebagian besar ekonom memperkirakan Fed akan tetap menjalankan rencananya menaikkan suku bunga. Strategi pasar mengatakan dengan atau tanpa perubahan dalam bahasa, the Fed mungkin masih berada di jalur untuk menaikkan suku awal Juni.
"Orang-orang menunggu untuk Fed untuk memberikan sedikit kejelasan," kata Michael O'Rourke, Kepala Strategi Pasar JonesTrading di Greenwich, Connecticut.
Selain kecemasan tentang pernyataan Fed, opsi kadaluarsa juga telah berkontribusi terhadap volatilitas bursa AS, menurut Bruce Zaro, Kepala Strategi Teknis, Bolton Global Asset Management di Boston.
Sementara tingkat yang lebih tinggi akan menjadi tanda kekuatan dalam ekonomi AS, beberapa investor mempertanyakan apakah ekonomi cukup kuat untuk menangani peningkatan biaya pinjaman.
Sekitar 6,1 miliar saham berpindah tangan di bursa AS, di bawah rata-rata 6,6 miliar untuk bulan sampai saat ini, menurut BATS Global Markets.(Nrm)
Sumber : Liputan6
Indeks Dow Jones Industrial Average turun 128,34 poin, atau 0,71 persen ke posisi 17.849,08. Indeks S & P 500 kehilangan 6,91 poin atau 0,33 persen menjadi 2.074,28 poin dan Nasdaq Composite menambahkan 7,93 poin, atau 0,16 persen, ke level 4.937,44 melansir laman Reuters.
Pelemahan ini dipicu investor cemas menanti keputusan Komite Pasar Terbuka The Fed yang akan memulai pertemuan kebijakan dua hari, yang akan diikuti dengan pernyataan dari Ketua Fed Janet Yellen.
Sebagian besar ekonom memperkirakan Fed akan tetap menjalankan rencananya menaikkan suku bunga. Strategi pasar mengatakan dengan atau tanpa perubahan dalam bahasa, the Fed mungkin masih berada di jalur untuk menaikkan suku awal Juni.
"Orang-orang menunggu untuk Fed untuk memberikan sedikit kejelasan," kata Michael O'Rourke, Kepala Strategi Pasar JonesTrading di Greenwich, Connecticut.
Selain kecemasan tentang pernyataan Fed, opsi kadaluarsa juga telah berkontribusi terhadap volatilitas bursa AS, menurut Bruce Zaro, Kepala Strategi Teknis, Bolton Global Asset Management di Boston.
Sementara tingkat yang lebih tinggi akan menjadi tanda kekuatan dalam ekonomi AS, beberapa investor mempertanyakan apakah ekonomi cukup kuat untuk menangani peningkatan biaya pinjaman.
Sekitar 6,1 miliar saham berpindah tangan di bursa AS, di bawah rata-rata 6,6 miliar untuk bulan sampai saat ini, menurut BATS Global Markets.(Nrm)
Sumber : Liputan6
Sentimen The Fed Menekan Dolar Australia
BESTPROFIT FUTURES MALANG (18/3) - Dolar Australia melemah menyusul Federal
Reserve AS memulai melaksanakan pertemuan yang akan berlangsung selama 2
hari kedepan terkait kebijakan moneter.
Pukul 7 pagi ini waktu Australia, Aussie diperdagangkan di level US76.18c atau turun dari level US76.29c pada Selasa kemarin.
Sementara itu Dolar AS naik terhadap mata uang lainnya akibat Federal Open Market Committee The Fed mulai melaksanakan pertemuan terkait pembahasan suku bunga.
Para trader melakukan aksi wait and see terkait pengumuman resmi pada Kamis pagi besok guna mempertimbangkan apabila The Fed mengganti istilah "patience" dalam kemungkinannya menaikkan suku bunga.
Sedangkan melemahnya harga komoditas dan naiknya dolar AS juga memberikan tekanan kepada dolar Australia.
Mata uang Negeri Kangguru melemah pada hari Selasa kemarin setelah hasil pertemuan RBA (Reserve Bank of Australia) bulan Maret lalu meyakinkan para trader akan adanya pemangkasan suku bunga pada waktu terdekat ini. (bgs)
Sumber : MarketsSpectator
Pukul 7 pagi ini waktu Australia, Aussie diperdagangkan di level US76.18c atau turun dari level US76.29c pada Selasa kemarin.
Sementara itu Dolar AS naik terhadap mata uang lainnya akibat Federal Open Market Committee The Fed mulai melaksanakan pertemuan terkait pembahasan suku bunga.
Para trader melakukan aksi wait and see terkait pengumuman resmi pada Kamis pagi besok guna mempertimbangkan apabila The Fed mengganti istilah "patience" dalam kemungkinannya menaikkan suku bunga.
Sedangkan melemahnya harga komoditas dan naiknya dolar AS juga memberikan tekanan kepada dolar Australia.
Mata uang Negeri Kangguru melemah pada hari Selasa kemarin setelah hasil pertemuan RBA (Reserve Bank of Australia) bulan Maret lalu meyakinkan para trader akan adanya pemangkasan suku bunga pada waktu terdekat ini. (bgs)
Sumber : MarketsSpectator
Para Investor Jual Aset ETP Tekan Emas Berjangka Ke Level 18 Pekan Terendah
BESTPROFIT FUTURES MALANG (18/3) - Emas
berjangka turun ke level 18 pekan terendahnya terkait para investor
keluar dari dana yang berbasis logam menjelang pertemuan kebijakan
Federal Reserve.
Holdings pada produk
yang diperdagangkan di bursa emas kemarin merosot selama 14 hari
beruntun, dalam jangka waktu terpanjang di lebih dari satu tahun
terakhir. Hampir 90 % dari para ekonom yang disurvei oleh Bloomberg
memprediksikan bahwa pejabat The Fed akan bersabar untuk menaikkan suku
bunga menurut pernyataan kebijakan pada akhir pertemuan mereka pada hari
Rabu.
Logam mulia telah
jatuh sebesar 3 % pada tahun 2015 karena meningkatnya kekhawatiran,
mengirim para investor untuk aset dengan prospek hasil yang lebih baik
terkait obligasi dan saham. Manajer investasi telah menurunkan spekulasi
tingkat pembelian emas selama 6 minggu berturut-turut, dan aset ETP
berada di level terendahnya sejak 21 Januari lalu.
Emas berjangka untuk
pengiriman bulan April turun 0,4 % untuk menetap di level $ 1,148.20 per
ons pada pukul 1:43 siang di Comex New York. Harga emas menyentuh level
$ 1,141.60, yang merupakan level terendahnya sejak 7 November,
sementara logam mencapai level $ 1,130.40 merupakan level terendah dalam
4 tahun terakhir. (knc)
Sumber : Bloomberg
Saham Komoditi Melemah Antarkan Bursa AS Ditutup Menurun
BESTPROFIT FUTURES MALANG (18/3) - Saham
AS turun dari reli terbesarnya dalam lebih dari sebulan terakhir
seiring saham komoditas dan konsumen melemah jelang keputusan tingkat
suku bunga Federal Reserve.
Indeks Standard &
Poor 500 turun 0,3 % ke level 2,074.17 pada pukul 16:00 sore waktu New
York, setelah sebelumnya mengalami penurunan sebesar 0,8 %. Indeks
Nasdaq Composite naik 0,2 %, didorong oleh saham Apple Inc dan Facebook
Inc.
Indeks S&P 500
telah melemah sebesar 2 % dari rekornya sejak 2 Maret lalu terkait
munculnya kekhawatiran bahwa penguatan mata uang dolar akan mengurangi
laba perusahaan. Pejabat The Fed akan mengkaji perekonomian dan
menentukan waktu kenaikan suku bunga pertama sejak 2006 silam. The Fed
akan bersabar untuk menentukan kenaikan suku bunga. (knc)
Sumber : Bloomberg
Monday, 16 March 2015
Harga Minyak Sentuh Level US$ 43/Barel Terendah dalam 6 Tahun
BESTPROFIT FUTURES MALANG (17/3) - Harga minyak dunia merosot 2 persen pada perdagangan Senin pekan ini
dengan harga acuan minyak mentah Amerika Serikat (AS) sentuh level
terendah dalam enam tahun.
Hal itu didorong dari kenaikan hasil produksi minyak AS dan Libya. Ditambah kemungkinan kesepakatan mengakhiri sanksi nuklir terhadap Iran sehingga mendorong produksi minyak bertambah di pasar.
Harga minyak Brent ditutup melemah US$ 1,23 ke level US$ 53,44 per barel. Level ini terendah dalam enam tahun.
Sementara itu, harga minyak mentah acuan AS melemah 96 sen ke level US$ 43,88. Harga minyak itu turun mendekati 2 persen dari level terendah pada Maret 2009 sekitar US$ 42,85. Analis teknikal melihat, harga minyak bisa sentuh US$ 37.
Penyedia data memperkirakan, ada sekitar 3 juta barel minyak di Cushing, Oklahoma. Adanya kekhawatiran AS akan menyentuh produksi tertinggi telah menambah kekhawatiran di pasar.
Menurut sumber, Libya juga mencatatkan produksi minyak mencapai 490 ribu barel per hari. Kenaikan ini mencapai dua kali lipat.
Mengutip laman Reuters, Selasa (17/3/2015), AS dan Iran juga akan mencapai kesepakatan soal sanksi nuklir. Iran menyatakan akan menaikkan ekspor minyak bila sanksi telah dicabut. Hal itu menambah tekanan ke harga minyak.
"AS banjir pasokan minyak, dan produksi lain dari seluruh dunia juga belum mereview produksinya. Pertanyaannya hingga kapan penampungan minyak dapat bertahan sebelum full kapasitas," ujar Gene McGillian, Senior Market Analyst Tradition Energy.
Societe Generale memperkirakan, pasokan minyak sekitar 1,6 juta bpd, dan akan sentuh 1,7 juta bpd pada kuartal II. "Ini pertanda penurunan harga minyak," kata Analis Societe Generale, Michael Wittner. (Ahm/)
Sumber : Liputan6
Hal itu didorong dari kenaikan hasil produksi minyak AS dan Libya. Ditambah kemungkinan kesepakatan mengakhiri sanksi nuklir terhadap Iran sehingga mendorong produksi minyak bertambah di pasar.
Harga minyak Brent ditutup melemah US$ 1,23 ke level US$ 53,44 per barel. Level ini terendah dalam enam tahun.
Sementara itu, harga minyak mentah acuan AS melemah 96 sen ke level US$ 43,88. Harga minyak itu turun mendekati 2 persen dari level terendah pada Maret 2009 sekitar US$ 42,85. Analis teknikal melihat, harga minyak bisa sentuh US$ 37.
Penyedia data memperkirakan, ada sekitar 3 juta barel minyak di Cushing, Oklahoma. Adanya kekhawatiran AS akan menyentuh produksi tertinggi telah menambah kekhawatiran di pasar.
Menurut sumber, Libya juga mencatatkan produksi minyak mencapai 490 ribu barel per hari. Kenaikan ini mencapai dua kali lipat.
Mengutip laman Reuters, Selasa (17/3/2015), AS dan Iran juga akan mencapai kesepakatan soal sanksi nuklir. Iran menyatakan akan menaikkan ekspor minyak bila sanksi telah dicabut. Hal itu menambah tekanan ke harga minyak.
"AS banjir pasokan minyak, dan produksi lain dari seluruh dunia juga belum mereview produksinya. Pertanyaannya hingga kapan penampungan minyak dapat bertahan sebelum full kapasitas," ujar Gene McGillian, Senior Market Analyst Tradition Energy.
Societe Generale memperkirakan, pasokan minyak sekitar 1,6 juta bpd, dan akan sentuh 1,7 juta bpd pada kuartal II. "Ini pertanda penurunan harga minyak," kata Analis Societe Generale, Michael Wittner. (Ahm/)
Sumber : Liputan6
Jelang Pertemuan The Fed Seret Dolar Turun dari Level 12 Tahun Tertinggi
BESTPROFIT FUTURES MALANG (17/3) - Dolar
melemah dari level tertingginya terhadap euro sejak tahun 2003 seiring
data ekonomi menimbulkan keraguan terhadap luasnya pemulihan ekonomi AS
jelang pertemuan pejabat Federal Reserve pekan ini untuk menetapkan
kebijakan moneter.
Indeks mata uang
terhadap mata uang utama turun setelah catat kenaikan dalam 4 pekan
terakhir, terkait langkah manufaktur dan produksi industri menurun.
Dolar AS menguat di tengah spekulasi The Fed yang akan menghapus atau
mengubah komitmennya untuk "bersabar" pada waktu kenaikan suku bunga.
Para pembuat kebijakan memulai pertemuan selama dua hari di Washington,
dimulai hari Selasa.
Mata uang dolar
melemah 0,7 % ke level $ 1,0571 per euro pada pukul 4:04 sore waktu New
York setelah sebelumnya mencapai level $ 1,0458, yang merupakan level
tertingginya sejak Januari 2003 silam. Mata uang AS sedikit berubah pada
level 121,41 yen.
Indeks Spot Dolar
Bloomberg, yang melacak dolar AS terhadap 10 mata uang utama turun 0,4 %
ke level 1,216.70. Hari Jumat kemarin mencapai level 1,222.12, level
tertingginya berdasarkan harga penutupan untuk kembali ke tahun 2004.
(knc)
Sumber : Bloomberg
Emas Kembali Kehilangan Kemilaunya Jelang Pertemuan Federal Reserve
BESTPROFIT FUTURES MALANG (17/3) - Emas diperdagangkan dengan bergerak
mendekati level 3 bulan terendahnya menyusul aksi wait and see para
investor terhadap pertemuan Federal Reserve.
Hal utama yang menjadi perdebatan pada pertemuan The Fed pekan ini yaitu mengenai apakah perekonomian AS telah mendapatkan dukungan yang cukup untuk menjamin komitmen yang menunda kenaikan suku bunga pinjaman. Sementara itu, para manajer investasi telah menurunkan spekulasinya terkait lonjakan pembelian emas pada pekan ke-6 secara beruntun ditengah berkembangnya spekulasi bahwa AS akan menaikkan suku bunga.
Emas berjangka untuk pengiriman bulan April naik 0.1% dengan ditutup di level $1,153.20 per ounce pukul 1:37 siang ini waktu New York di Comex. Pada 11 Maret kemarin emas sempat mencapai level $1,146.50 sekaligus level terendah sejak 1 Desember tahun lalu. Logam mulia tersebut telah mencatatkan penurunan mingguan keduanya secara beruntun.
Hasil pertemuan The Fed akan diumumkan pada tanggal 18 Maret mendatang pukul 2 siang waktu Washington. Kenaikan pada pasar tenaga kerja telah meningkatkan peluang Bank Sentral AS untuk menaikkan suku bunga, sehingga memangkas daya tarik emas dan mengantarkan para investor kepada aset dengan prospek imbal hasil yang lebih baik seperti obligasi dan ekuitas.
Sementara Perak berjangka untuk pengiriman bulan Mei mendulang gain 0.8% ke level $15.617 per ounce di Comex yang sekaligus membukukan kenaikan keduanya pada sesi ke-3.
Sedangkan Platinum berjangka untuk pengiriman bulan April turun 0.7% ke level $1,107.90 per ounce di New York Mercantile Exchange. Harga platinum sempat mencapai level $1,105 yang merupakan level terendah sejak Juli 2009 silam dan Palladium berjangka untuk pengiriman bulan Juni anjlok 1.1% ke level $780.10 per ounce. (bgs)
Sumber : Bloomberg
Hal utama yang menjadi perdebatan pada pertemuan The Fed pekan ini yaitu mengenai apakah perekonomian AS telah mendapatkan dukungan yang cukup untuk menjamin komitmen yang menunda kenaikan suku bunga pinjaman. Sementara itu, para manajer investasi telah menurunkan spekulasinya terkait lonjakan pembelian emas pada pekan ke-6 secara beruntun ditengah berkembangnya spekulasi bahwa AS akan menaikkan suku bunga.
Emas berjangka untuk pengiriman bulan April naik 0.1% dengan ditutup di level $1,153.20 per ounce pukul 1:37 siang ini waktu New York di Comex. Pada 11 Maret kemarin emas sempat mencapai level $1,146.50 sekaligus level terendah sejak 1 Desember tahun lalu. Logam mulia tersebut telah mencatatkan penurunan mingguan keduanya secara beruntun.
Hasil pertemuan The Fed akan diumumkan pada tanggal 18 Maret mendatang pukul 2 siang waktu Washington. Kenaikan pada pasar tenaga kerja telah meningkatkan peluang Bank Sentral AS untuk menaikkan suku bunga, sehingga memangkas daya tarik emas dan mengantarkan para investor kepada aset dengan prospek imbal hasil yang lebih baik seperti obligasi dan ekuitas.
Sementara Perak berjangka untuk pengiriman bulan Mei mendulang gain 0.8% ke level $15.617 per ounce di Comex yang sekaligus membukukan kenaikan keduanya pada sesi ke-3.
Sedangkan Platinum berjangka untuk pengiriman bulan April turun 0.7% ke level $1,107.90 per ounce di New York Mercantile Exchange. Harga platinum sempat mencapai level $1,105 yang merupakan level terendah sejak Juli 2009 silam dan Palladium berjangka untuk pengiriman bulan Juni anjlok 1.1% ke level $780.10 per ounce. (bgs)
Sumber : Bloomberg
Indeks S&P 500 Melonjak Tajam dalam 5 Pekan Terakhir
BESTPROFIT FUTURES MALANG (17/3) - Indeks Standard & Poor 500 mengalami kenaikan terbesarnya sejak 3 Februari lalu, di tengah transaksi perusahaan dan karena para investor mempertimbangkan waktu kenaikan suku bunga setelah data ekonomi yang lebih rendah dari perkiraan.
Perusahaan perawatan kesehatan dalam Indeks S&P 500 menguat 2,2 % seiring perusahaan Salix Pharmaceuticals Ltd mengambil alih penawaran sebesar $ 11.1 miliar dari Valeant Pharmaceuticals International Inc. Saham Life Time Fitness Inc melonjak 5,2 % setelah menyetujui untuk dibeli oleh perusahaan ekuitas swasta.
Indeks S&P 500 naik 1,3 % ke level 2,081.00 pada pukul 04:00 sore waktu New York, dan bergerak di atas harga rata-rata selama 50 hari terakhir.
Imbal hasil obligasi tenor 10-tahun sebelumnya melemah lima basis poin menjadi 2,06 %, yang merupakan level terendahnya dalam dua minggu terakhir.
Indeks S&P 500 telah kehilangan 1,8 % dari rekornya pada tanggal 2 Maret, terkait penguatan mata uang dolar dapat memicu pertumbuhan laba dan meredam kekhawatiran dari proyek investor. Indeks mata uang terhadap mata uang utama turun, setelah catat kenaikan dalam 4 pekan terakhir, sebelum pejabat The Fed memulai pertemuan selama dua hari. (knc)
Sumber : Bloomberg
Perusahaan perawatan kesehatan dalam Indeks S&P 500 menguat 2,2 % seiring perusahaan Salix Pharmaceuticals Ltd mengambil alih penawaran sebesar $ 11.1 miliar dari Valeant Pharmaceuticals International Inc. Saham Life Time Fitness Inc melonjak 5,2 % setelah menyetujui untuk dibeli oleh perusahaan ekuitas swasta.
Indeks S&P 500 naik 1,3 % ke level 2,081.00 pada pukul 04:00 sore waktu New York, dan bergerak di atas harga rata-rata selama 50 hari terakhir.
Imbal hasil obligasi tenor 10-tahun sebelumnya melemah lima basis poin menjadi 2,06 %, yang merupakan level terendahnya dalam dua minggu terakhir.
Indeks S&P 500 telah kehilangan 1,8 % dari rekornya pada tanggal 2 Maret, terkait penguatan mata uang dolar dapat memicu pertumbuhan laba dan meredam kekhawatiran dari proyek investor. Indeks mata uang terhadap mata uang utama turun, setelah catat kenaikan dalam 4 pekan terakhir, sebelum pejabat The Fed memulai pertemuan selama dua hari. (knc)
Sumber : Bloomberg
Saham Eropa Memperpanjang Level 7 Tahun Tertinggi pada Sesi Penutupan
BESTPROFIT FUTURES MALANG (17/3) - Saham Eropa memperpanjang kenaikan, dengan ekuitas Jerman mencapai rekor terbarunya.
Indeks Stoxx Europe 600 naik 0,9 % ke level 400,18 pada penutupan perdagangan di London, dengan perusahaan pembuat mobil terkemuka mengalami gain. Indeks DAX Jerman menguat 2,2 %, melebihi level 12.000 untuk pertama kalinya. Indeks Swiss Market naik 0,9 %, memperoleh kembali kerugian seiring bank sentral negara tersebut memangkas saham kecil terhadap mata uang euro.
Bank Sentral Eropa memulai program pelonggaran kuantitatif yang membantu mendorong Indeks Stoxx 600 naik selama pekan keenam. Indeks tersebut pada hari Senin ditutup di level tertingginya sejak Juni 2007 lalu dan sebesar 1,3 % dari tercapai rekornya ditahun 2000.
Indeks DAX telah rally sebesar 24 % pada tahun ini, dengan K + S AG dan Merck KGaA memimpin kenaikan pada hari Senin. Indeks Swiss SMI telah menguat sebesar 17 % dari level terendahnya pada bulan Januari. Para pejabat Swiss National Bank (SNB) sedang mempersiapkan prakiraan pertumbuhan ekonomi pertama mereka untuk menilai dampak dari langkah tersebut, dan Presiden Thomas Jordan akan memberikan pandangan mereka pada tanggal 19 Maret mendatang.
Indeks Stoxx 600 naik seiring perusahaan pembuat mobil menguat lebih dari 2,2 %, diikuti saham Volkswagen AG dan Daimler AG melonjak lebih dari 2,8 %. (knc)
Sumber : Bloomberg
Indeks Stoxx Europe 600 naik 0,9 % ke level 400,18 pada penutupan perdagangan di London, dengan perusahaan pembuat mobil terkemuka mengalami gain. Indeks DAX Jerman menguat 2,2 %, melebihi level 12.000 untuk pertama kalinya. Indeks Swiss Market naik 0,9 %, memperoleh kembali kerugian seiring bank sentral negara tersebut memangkas saham kecil terhadap mata uang euro.
Bank Sentral Eropa memulai program pelonggaran kuantitatif yang membantu mendorong Indeks Stoxx 600 naik selama pekan keenam. Indeks tersebut pada hari Senin ditutup di level tertingginya sejak Juni 2007 lalu dan sebesar 1,3 % dari tercapai rekornya ditahun 2000.
Indeks DAX telah rally sebesar 24 % pada tahun ini, dengan K + S AG dan Merck KGaA memimpin kenaikan pada hari Senin. Indeks Swiss SMI telah menguat sebesar 17 % dari level terendahnya pada bulan Januari. Para pejabat Swiss National Bank (SNB) sedang mempersiapkan prakiraan pertumbuhan ekonomi pertama mereka untuk menilai dampak dari langkah tersebut, dan Presiden Thomas Jordan akan memberikan pandangan mereka pada tanggal 19 Maret mendatang.
Indeks Stoxx 600 naik seiring perusahaan pembuat mobil menguat lebih dari 2,2 %, diikuti saham Volkswagen AG dan Daimler AG melonjak lebih dari 2,8 %. (knc)
Sumber : Bloomberg
Sunday, 15 March 2015
Dolar Pertahankan Penguatan Terkait Outlook Suku Bunga AS
BESTPROFIT FUTURES MALANG (16/3) - Dolar
mempertahankan reli pada pagi ini, perdagangan berada di dekat level
tertinggi 12-tahun terhadap euro setelah investor mempertimbangkan
timeline untuk suku bunga AS yang lebih tinggi menjelang pertemuan
Federal Reserve dalam minggu ini. Minyak mentah memperpanjang
kemerosotannya.
Greenback
berada di level $ 1,0498 per euro pada pukul 8:16 pagi di Tokyo,
setelah mencapai level terkuat sejak Januari 2003. Dolar mempertahankan
gain mingguan 0,4% versus mata uang Australia dan Selandia Baru. Indeks
Standard & Poor 500 berjangka tergelincir 0,1% menyusul penurunan
0,6% dalam indeks saham AS pada hari Jumat, sementara saham-saham
Australia terkoreksi dan indeks saham berjangka Jepang berakhir mixed.
Di sektor komoditi, minyak turun lebih dari 1,7% di Amerika Serikat dan
London di tengah kekhawatiran atas berkepanjangannya kelimpahan minyak
di pasar.
Indeks
Bloomberg Dollar Spot berada pada dekade tinggi setelah prospek
kenaikan suku bunga AS menopang daya tarik relatif greenback terhadap
rekan-rekan mata uang global. Gubernur bank sentral dari Eropa hingga
Asia melakukan pelonggaran kebijakan untuk meningkatkan ekspansi, dengan
Perdana Menteri China, Li Keqiang menjanjikan dalam pidatonya di
stasiun televisi lokal pada akhir pekan untuk melakukan intervensi jika
pertumbuhan ekonomi negara tersebut tertinggal terlalu jauh. Sementara
Indonesia mencatatkan perdagangan data pada hari Senin dan India akan
melaporkan harga grosir, sebelum pertemuan The Fed pada tanggal 17-18
Maret.(frk)
Sumber: Bloomberg
Sentimen Domestik Warnai Laju IHSG
BESTPROFIT FUTURES MALANG (16/3) - Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berpotensi menguat pada perdagangan saham awal pekan ini. Hal itu seiring rilis pemerintah soal paket kebijakan ekonomi sehingga dapat menolong gerak Rupiah.
Analis PT Lautandhana Securindo, Willy Sanjaya menuturkan, pelaku pasar diharapkan dapat merespons positif paket kebijakan ekonomi untuk menstabilkan rupiah. Dengan respons positif itu diharapkan dapat mengangkat IHSG di awal pekan ini. Willy memperkirakan, IHSG akan bergerak di kisaran 5.425-5.550.
"Sentimen masih dari dalam negeri. Kami harapkan rupiah kembali menguat. Paket kebijakan ekonomi pemerintah iya pasti beri sentimen," ujar Willy saat dihubungi Liputan6.com, yang ditulis Senin (16/3/2015).
Sementara itu, Analis PT Asjaya Indosurya Securities, William Suryawijaya mengatakan, IHSG masih akan melanjutkan pola uptren yang menuju target resistance 5.547 masih terus berlangsung.
"Selama support terdekat 5.401 masih kuat menghadapi ujian, maka potensi IHSG untuk menembus target resistance 5.547 masih cukup besar," kata William.
Ia menambahkan, proses gerak IHSG itu akan ditunjang dari rilis data ekonomi seperti BI Rate, dan nilai tukar rupiah terhadap mata uang dolar Amerika Serikat (AS).
Sumber : Liputan6
Analis PT Lautandhana Securindo, Willy Sanjaya menuturkan, pelaku pasar diharapkan dapat merespons positif paket kebijakan ekonomi untuk menstabilkan rupiah. Dengan respons positif itu diharapkan dapat mengangkat IHSG di awal pekan ini. Willy memperkirakan, IHSG akan bergerak di kisaran 5.425-5.550.
"Sentimen masih dari dalam negeri. Kami harapkan rupiah kembali menguat. Paket kebijakan ekonomi pemerintah iya pasti beri sentimen," ujar Willy saat dihubungi Liputan6.com, yang ditulis Senin (16/3/2015).
Sementara itu, Analis PT Asjaya Indosurya Securities, William Suryawijaya mengatakan, IHSG masih akan melanjutkan pola uptren yang menuju target resistance 5.547 masih terus berlangsung.
"Selama support terdekat 5.401 masih kuat menghadapi ujian, maka potensi IHSG untuk menembus target resistance 5.547 masih cukup besar," kata William.
Ia menambahkan, proses gerak IHSG itu akan ditunjang dari rilis data ekonomi seperti BI Rate, dan nilai tukar rupiah terhadap mata uang dolar Amerika Serikat (AS).
Sumber : Liputan6
Hari Ini Minyak Mentah Bisa Turun Lagi, Kenaikan Pasokan Non-OPEC Penyebabnya
BESTPROFIT FUTURES MALANG (16/3) - Harga minyak mentah di bursa komoditas
Amerika Serikat kembali melemah signifikan pada akhir perdagangannya
Sabtu dini hari lalu (16/3). Harga komoditas ini terpenggal turun dan
mencapai posisi paling rendah sejak tanggal 28 Januari lalu.
Pelemahan harga minyak mentah terjadi
setelah International Energy Agency menyatakan bahwa pasokan minyak
mentah global masih tinggi dan terus bertambah. Produksi minyak mentah
di Amerika Serikat juga tidak menunjukkan tanda-tanda melambat.
Meskipun output OPEC turun di bulan
Februari pasokan global justru bertambah sebesar 1,3 juta barel per hari
dibandingkan bulan Februari tahun 2014 lalu. Tingkat produksi saat ini
menjadi 94 juta bph didorong oleh kenaikan 1,4 juta bph dari
negara-negara non-OPEC.
Harga minyak mentah berjangka jenis WTI
untuk kontrak April yang merupakan kontrak paling aktif saat ini ditutup
dengan pelemahan sebesar 2,21 dollar atau 4,7 persen di level 44,84
dollar per barel.
Sementara itu harga minyak mentah Brent
untuk kontrak bulan April terpantau turut mengalami penurunan yang
signifikan. Harga ditutup melemah sebesar 2,16 dollar menjadi 55,13
dollar per barel.
Analyst Vibiz Research Center
memperkirakan bahwa pergerakan harga minyak mentah jenis WTI kontrak
paling aktif pada perdagangan hari ini berpotensi untuk melanjutkan
pelemahannya. Dominannya sentimen negatif pembengkakan pasokan minyak
mentah global menjadi faktor utama yang menekan harga komoditas
tersebut.
Untuk perdagangan hari ini harga minyak
mentah WTI kontrak April diperkirakan akan mengalami level resistance di
48,00 dollar. Resistance selanjutnya ada di 50,00 dollar. Jika terjadi
pelemahan harga akan menemui support pada posisi 42,00 dollar dan 40,00
dollar.
Sumber : Vibiznews
Modal Nekat, Pria Ini Kini Masuk Jajaran Orang Terkaya Dunia
BESTPROFIT FUTURES MALANG (16/3) - Pantang menyerah dan tekad yang kuat merupakan dua modal utama Christos Lazari untuk menjadi salah satu miliarder terkaya di dunia. Di usia 16 tahun, dia meninggalkan keluarganya di kota kecil di Siprus dan pindah ke London.
Saat itu, Lazari yang baru berusia 16 tahun hanya berbekal 20 pound sterling di sakunya.
"Saya merasa bahwa rumput di London selalu lebih hijau dari manapun. Saya tak perlu berpikir dua kali untuk pindah ke sana meski tanpa uang," ujarnya seperti dikutip dari laman Forbes, Senin (16/3/2015).
Kala itu, demi memenuhi keperluannya, Lazari mencuci piring kotor dan melayani pengunjung restoran. Semua itu dia lakukan untuk menabung demi pendidikannya.
Setelah uangnya cukup dia lantas mendaftar ke London Fashion Design. Dia lantas membuat label fashion sendiri, Drendie Girl.
Di awal, bisnisnya tentu tak lancar dan terhalang banyak hambatan. Tapi dia akhirnya mampu menjadi salah satu riteler di High Street London.
Tapi pada 1978, dia merasa itu waktu yang tepat untuk diversifikasi. Dia lantas megnambil untung dari penjualannya dan mulai menanam saham di bisnis properti.
Lazari, yang perusahaan investasinya kini memiliki properti seluas 2,64 juta kaki persegi telah menjadi salah satu miliarder terkaya di dunia. Dia menjadi salah satu dari 290 miliarder baru tahun ini. Sebagian besar propertinya terdiri dari ruang perkantoran. (Sis/Ndw)SiskS
Sumber : Liputan6
Saat itu, Lazari yang baru berusia 16 tahun hanya berbekal 20 pound sterling di sakunya.
"Saya merasa bahwa rumput di London selalu lebih hijau dari manapun. Saya tak perlu berpikir dua kali untuk pindah ke sana meski tanpa uang," ujarnya seperti dikutip dari laman Forbes, Senin (16/3/2015).
Kala itu, demi memenuhi keperluannya, Lazari mencuci piring kotor dan melayani pengunjung restoran. Semua itu dia lakukan untuk menabung demi pendidikannya.
Setelah uangnya cukup dia lantas mendaftar ke London Fashion Design. Dia lantas membuat label fashion sendiri, Drendie Girl.
Di awal, bisnisnya tentu tak lancar dan terhalang banyak hambatan. Tapi dia akhirnya mampu menjadi salah satu riteler di High Street London.
Tapi pada 1978, dia merasa itu waktu yang tepat untuk diversifikasi. Dia lantas megnambil untung dari penjualannya dan mulai menanam saham di bisnis properti.
Lazari, yang perusahaan investasinya kini memiliki properti seluas 2,64 juta kaki persegi telah menjadi salah satu miliarder terkaya di dunia. Dia menjadi salah satu dari 290 miliarder baru tahun ini. Sebagian besar propertinya terdiri dari ruang perkantoran. (Sis/Ndw)SiskS
Sumber : Liputan6
Harga Emas Bisa Menguat ke US$ 1.400 per Ounce
BESTPROFIT FUTURES MALANG (16/3) - Pada Januari 2015, harga emas sempat menguat hingga US$ 1.300 per ounce saat harga-harga saham melemah. Namun hanya dalam dua bulan, harga emas telah merosot lebih dari 11 persen dari level tertingginya menjadi US$ 1.150 per ounce.
Semua penguatan harga emas terhapus setelah dolar Amerika Serikat (AS) menguat dalam beberapa minggu. Tapi harga emas dapat kembali ke level US$ 1.400 per ounce tahun ini.
Mengutip laman CNN Money, Senin (16/3/2015), harga emas seringkali dipandang sebagai mata uang alternatif. Emas berfungsi dengan baik saat para investor khawatir mengenai proyeksi tender yang dicetak pemerintah.
Secara mengejutkan, beberapa ahli masih yakin harga emas akan bergerak menguat. Analis perusahaan manajemen keuangan DoubleLine Jeffrey Gundlach melaporkan, harga emas dapat berbalik ke harga US$ 1.400 per ounce.
Alasannya, yield obligasi negatif di Eropa akan membuat emas tampak lebih menarik. Emas merupakan aset yang selalu tampi menakjubkan di tengah inflasi dan deflasi.
Dengan kata lain, saat para pelaku pasar takut akan sesuatu, mereka akan cenderung mencari emas. Dan rate obligasi yang negatif merupakan tanda dari kekhawatiran deflasi.
Para investor akan terdorong oleh jatuhnya harga emas dan berpikir obligasi tersebut menjadi risiko.
Gundlach tetap menganggap harga emas akan menguat terlebih setelah Bank Sentral Amerika Serikat (The Fed) menaikkan suku bunganya. Meski harga dolar akan menguat, dan berdampak buruk bagi emas dalam jangka pendek, Gundlach tetap yakin dalam jangka panjag harga emas akan pulih. (Sis/Ndw)
Sumber : Liputan6
Semua penguatan harga emas terhapus setelah dolar Amerika Serikat (AS) menguat dalam beberapa minggu. Tapi harga emas dapat kembali ke level US$ 1.400 per ounce tahun ini.
Mengutip laman CNN Money, Senin (16/3/2015), harga emas seringkali dipandang sebagai mata uang alternatif. Emas berfungsi dengan baik saat para investor khawatir mengenai proyeksi tender yang dicetak pemerintah.
Secara mengejutkan, beberapa ahli masih yakin harga emas akan bergerak menguat. Analis perusahaan manajemen keuangan DoubleLine Jeffrey Gundlach melaporkan, harga emas dapat berbalik ke harga US$ 1.400 per ounce.
Alasannya, yield obligasi negatif di Eropa akan membuat emas tampak lebih menarik. Emas merupakan aset yang selalu tampi menakjubkan di tengah inflasi dan deflasi.
Dengan kata lain, saat para pelaku pasar takut akan sesuatu, mereka akan cenderung mencari emas. Dan rate obligasi yang negatif merupakan tanda dari kekhawatiran deflasi.
Para investor akan terdorong oleh jatuhnya harga emas dan berpikir obligasi tersebut menjadi risiko.
Gundlach tetap menganggap harga emas akan menguat terlebih setelah Bank Sentral Amerika Serikat (The Fed) menaikkan suku bunganya. Meski harga dolar akan menguat, dan berdampak buruk bagi emas dalam jangka pendek, Gundlach tetap yakin dalam jangka panjag harga emas akan pulih. (Sis/Ndw)
Sumber : Liputan6
Thursday, 12 March 2015
Pasar Saham AS Menguat Ditopang Sektor Perbankan
BESTPROFIT FUTURES MALANG (13/3) - Pasar
saham AS mencetak kenaikan dibantu penjualan ritel yang lebih lemah dan
terhentinya penguatan dolar Amerika Seirkat (AS) serta prospek suku
bunga.
Kenaikan mengangkat indeks Dow dan S & P 500 kembali ke wilayah positif di tahun ini.
Melansir laman Reuters, indeks Dow Jones Industrial Average naik 259,83 poin atau 1,47 persen ke posisi 17.895,22. Sementara indeks S&P 500 naik 25,71 poin atau 1,26 persen menjadi 2.065,95.
Ini menjadi persentase keuntungan terbesar bagi Dow dan S & P 500 dalam waktu kurun satu bulan. Adapula indeks Nasdaq Composite bertambah 43,35 poin, atau 0,89 persen ke posisi 4.893,29.
Kenaikan ini dipicu rally saham perbankan setelah Federal Reserve melakukan pemeriksaan tahunan pada industri ini. Saham sektor keuangan pada indeks S & P naik 2,2 persen dan menjadi pemenang terbesar hari ini.
Penjualan ritel secara tak terduga turun untuk bulan ketiga pada Februari, yang membantu rebound euro selama 12 tahun terendah terhadap dolar.
Pelemahan saham baru-baru ini di didorong oleh data pekerjaan yang lebih kuat dari perkiraan yang menggarisbawahi pandangan Fed bisa menaikkan suku pada awal Juni.
"Bagi saya, hal itu menunjukkan mungkin itu bergerak kenaikan tarif lebih dekat memiliki potensi dampak yang berkaitan dengan dolar AS yang terus menguat, dan itu menjadi angin untuk pertumbuhan dan pendapatan bagi banyak perusahaan yang melakukan bisnis di luar AS," kata Bucky Hellwig, Wakil Presiden Senior di BB & T Wealth Management di Birmingham, Alabama.
Saham Citigroup (CN) naik 3,3 persen menjadi US$ 54,08. Namun saham Bank of America (BAC.N) tergelincir 0,1 persen menjadi US$ 16,09.
Sekitar 6,5 miliar saham berpindah tangan di bursa AS, dibandingkan dengan 6,6 miliar rata-rata untuk bulan sampai saat ini, menurut data dari BATS Global Markets.(Nrm)
Sumber : Liputan6
Kenaikan mengangkat indeks Dow dan S & P 500 kembali ke wilayah positif di tahun ini.
Melansir laman Reuters, indeks Dow Jones Industrial Average naik 259,83 poin atau 1,47 persen ke posisi 17.895,22. Sementara indeks S&P 500 naik 25,71 poin atau 1,26 persen menjadi 2.065,95.
Ini menjadi persentase keuntungan terbesar bagi Dow dan S & P 500 dalam waktu kurun satu bulan. Adapula indeks Nasdaq Composite bertambah 43,35 poin, atau 0,89 persen ke posisi 4.893,29.
Kenaikan ini dipicu rally saham perbankan setelah Federal Reserve melakukan pemeriksaan tahunan pada industri ini. Saham sektor keuangan pada indeks S & P naik 2,2 persen dan menjadi pemenang terbesar hari ini.
Penjualan ritel secara tak terduga turun untuk bulan ketiga pada Februari, yang membantu rebound euro selama 12 tahun terendah terhadap dolar.
Pelemahan saham baru-baru ini di didorong oleh data pekerjaan yang lebih kuat dari perkiraan yang menggarisbawahi pandangan Fed bisa menaikkan suku pada awal Juni.
"Bagi saya, hal itu menunjukkan mungkin itu bergerak kenaikan tarif lebih dekat memiliki potensi dampak yang berkaitan dengan dolar AS yang terus menguat, dan itu menjadi angin untuk pertumbuhan dan pendapatan bagi banyak perusahaan yang melakukan bisnis di luar AS," kata Bucky Hellwig, Wakil Presiden Senior di BB & T Wealth Management di Birmingham, Alabama.
Saham Citigroup (CN) naik 3,3 persen menjadi US$ 54,08. Namun saham Bank of America (BAC.N) tergelincir 0,1 persen menjadi US$ 16,09.
Sekitar 6,5 miliar saham berpindah tangan di bursa AS, dibandingkan dengan 6,6 miliar rata-rata untuk bulan sampai saat ini, menurut data dari BATS Global Markets.(Nrm)
Sumber : Liputan6
Korea Selatan Punya Kecepatan Internet Paling Tinggi di Seluruh Dunia
BESTPROFIT FUTURES MALANG (13/3) - Korea Selatan dinobatkan sebagai negara
dengan yang memiliki kecepatan internet tercepat di dunia. Menurut
laporan tren global online yang dikeluarkan oleh Korea Tourism
Organization pekan ini. Perusahaan riset bernama Statista, yang berbasis
di Jerman ini menempatkan Korea Selatan berada diperingkat 1 dalam hal
kecepatan internet hingga kuartal ketiga 2014.
Statista mengatakan bahwa pengguna
internet di Korea Selatan memiliki pengalaman berselancar dengan
kecepatan rata-rata 25Mbps per detik, ini berarti 5,6 kali rata-rata
kecepatan secara global. Di bawah Korea Selatan ada Hong Kong,
diikuti Jepang, Swiss, Swedia, Belanda dan Irlandia. Sedangkan di posisi
10 ditempati oleh Latvia, Republik Ceko dan Singapura.
Bukan itu saja, Korea Selatan juga
termasuk sebagai negara dengan pengguna internet terbanyak di dunia,
yang menempati urutan ke 12. Dalam hal populasi pengguna internet,
urutan teratas diduduki oleh Tiongkok dengan jumlah 641,6 juta, diikuti
oleh Amerika Serikat dengan 280 juta, India pada 240 juta, Jepang dengan
jumlah 109 juta, dan Brasil dengan jumlah 107,8 juta.
Sumber : Vibiznews
Emas Catat Gain Pertama Dalam Tiga Sesi
BESTPROFIT FUTURES MALANG (13/3) - Emas berjangka pada Kamis mencatatkan kenaikan pertama dalam tiga sesi terakhir, karena melemahnya dolar AS sehingga mendorong emas rebound dari level terendah dalam waktu sekitar empat bulan terakhir.
Emas untuk pengiriman April naik ke level US $ 1,30, atau 0,1%, untuk menetap di level $ 1,151.90 per ounce di Comex pasca menghitung-hitung penurunannya sebesar 1,4% selama dua sesi perdagangan terakhir. Harga penurtupan hari Rabu kemarin merupakan level terendah sejak awal November lalu.
Indeks Dolar pada hari Kamis turun terhadap mata uang utama lainnya terkait berita bahwa penjualan ritel AS turun untuk bulan ketiga secara berturut-turut pada bulan Februari lalu. Sementara itu, klaim pengangguran mingguan turun lebih dari yang diharapkan.
Harga emas tertekan pada Rabu kemarin ketika indeks dolar naik, karena pelemahan mata uang euro ke level hampir 12 tahun terakhir terhadap dolar. (vck)
Sumber: MarketWatch
Emas untuk pengiriman April naik ke level US $ 1,30, atau 0,1%, untuk menetap di level $ 1,151.90 per ounce di Comex pasca menghitung-hitung penurunannya sebesar 1,4% selama dua sesi perdagangan terakhir. Harga penurtupan hari Rabu kemarin merupakan level terendah sejak awal November lalu.
Indeks Dolar pada hari Kamis turun terhadap mata uang utama lainnya terkait berita bahwa penjualan ritel AS turun untuk bulan ketiga secara berturut-turut pada bulan Februari lalu. Sementara itu, klaim pengangguran mingguan turun lebih dari yang diharapkan.
Harga emas tertekan pada Rabu kemarin ketika indeks dolar naik, karena pelemahan mata uang euro ke level hampir 12 tahun terakhir terhadap dolar. (vck)
Sumber: MarketWatch
Subscribe to:
Comments (Atom)

