Bestprofit (29/8) – Dolar AS melemah terhadap mata uang utama seperti euro dan yen pada hari Kamis, seiring meningkatnya spekulasi bahwa Federal Reserve akan segera memangkas suku bunga. Sentimen pasar juga dibayangi oleh ketidakpastian politik di dalam negeri, terutama terkait intervensi Presiden Donald Trump terhadap kebijakan moneter dan upayanya untuk memecat salah satu gubernur The Fed, Lisa Cook.
Spekulasi Pemangkasan Suku Bunga Menguat
Mata uang AS berada di bawah tekanan setelah komentar dari Ketua The Fed New York, John Williams, yang menyiratkan bahwa pemangkasan suku bunga bisa menjadi langkah yang layak dipertimbangkan oleh bank sentral. Dalam wawancara bersama CNBC, Williams mengatakan bahwa kemungkinan penurunan suku bunga masih terbuka, tergantung pada data ekonomi yang akan dirilis menjelang pertemuan The Fed pada 16–17 September mendatang.
Pernyataan Williams langsung memicu reaksi pasar, di mana para pedagang meningkatkan ekspektasi bahwa pemangkasan suku bunga seperempat poin akan dilakukan. Berdasarkan alat FedWatch milik CME Group, probabilitas pemangkasan suku bunga bulan depan mencapai 87,3%.
Ketegangan Politik dan Serangan terhadap The Fed
Di tengah sentimen pasar yang sudah rapuh, dolar semakin ditekan oleh dinamika politik di AS. Presiden Donald Trump kembali mengintensifkan upayanya untuk mempengaruhi arah kebijakan moneter dengan mencoba memecat Lisa Cook, salah satu gubernur The Fed. Cook pun menanggapi langkah tersebut dengan menggugat Trump, menegaskan bahwa presiden tidak memiliki wewenang untuk memecat gubernur The Fed yang masa jabatannya ditetapkan oleh undang-undang.
Gugatan ini menimbulkan kekhawatiran mengenai independensi Federal Reserve, yang merupakan pilar penting dalam menjaga stabilitas ekonomi. Pasar keuangan global pun mencermati ketegangan ini dengan waspada.
Kunjungi juga : bestprofit futures
Euro dan Poundsterling Menguat Meski Diwarnai Ketidakpastian Politik
Menariknya, euro tetap menguat terhadap dolar meskipun Eropa juga diwarnai ketidakstabilan politik. Perdana Menteri Prancis secara tak terduga mengajukan mosi tidak percaya yang dijadwalkan bulan depan, membuka peluang jatuhnya pemerintahan minoritasnya. Namun demikian, euro justru menguat 0,38% ke $1,1682.
Poundsterling juga ikut menguat sebesar 0,19% ke level $1,3525. Penguatan mata uang Eropa ini lebih disebabkan oleh pelemahan dolar, bukan karena fundamental Eropa yang membaik. Hal ini menunjukkan bahwa sentimen terhadap dolar sedang dalam kondisi sangat rapuh.
Data Ekonomi AS Tak Mampu Menopang Dolar
Meskipun dolar berhasil memangkas sebagian kerugiannya setelah rilis data ekonomi pada hari Kamis, pemulihan tersebut tetap terbatas. Data menunjukkan bahwa klaim pengangguran mingguan meningkat, namun di sisi lain, pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) AS sedikit lebih tinggi dari perkiraan.
Data tersebut tidak mampu mengubah pandangan pasar bahwa pelonggaran moneter masih sangat mungkin dilakukan oleh The Fed.
“Saya rasa kami tidak melihat hasil nyata yang mengubah narasi dari data tersebut,” ujarnya. “Kami menantikan angka deflator PCE besok, pembacaan utama The Fed tentang inflasi.”
Data inflasi PCE (Personal Consumption Expenditures), yang akan dirilis pada hari Jumat, serta laporan penggajian bulanan minggu depan, akan menjadi kunci dalam menentukan arah kebijakan The Fed. Jika inflasi tetap lemah dan pasar tenaga kerja menunjukkan pelemahan, peluang pemangkasan suku bunga akan semakin besar.
Intervensi Politik Menekan Imbal Hasil Obligasi
Upaya Trump untuk memasukkan kandidat-kandidat dovish (cenderung mendukung pelonggaran moneter) ke dalam dewan pengambil keputusan The Fed juga turut menurunkan imbal hasil obligasi jangka pendek. Ketidakpastian hukum akibat gugatan Lisa Cook diperkirakan akan menjadi pertempuran berkepanjangan, yang dapat memengaruhi persepsi investor terhadap stabilitas lembaga keuangan AS.
Ketegangan politik ini menambah beban bagi dolar, yang sudah mengalami tekanan dari berbagai sisi.
Indeks Dolar dan Yen Jepang
Indeks dolar, yang mengukur kekuatan dolar terhadap enam mata uang utama dunia, turun 0,31% menjadi 97,862. Ini merupakan penurunan selama dua hari berturut-turut dan mencerminkan kekhawatiran pasar terhadap kondisi makroekonomi dan politik AS.
Terhadap yen Jepang, dolar juga melemah 0,35% menjadi 146,89 yen. Selain faktor domestik AS, nilai tukar ini juga dipengaruhi oleh pembatalan kunjungan mendadak dari Kepala Negosiator Perdagangan Jepang, Ryosei Akazawa, ke Washington. Penundaan ini menunda pengumuman penting terkait janji investasi Jepang senilai $550 miliar di Amerika Serikat sebagai bagian dari kesepakatan tarif.
Ketidakpastian Masih Akan Membayangi Pasar
Pasar keuangan global memasuki periode penuh ketidakpastian, di mana arah kebijakan moneter, dinamika politik, dan data ekonomi akan menjadi faktor penentu utama. Dolar AS, yang selama ini menjadi mata uang safe haven, kini justru dilanda tekanan internal yang memperlemah posisinya.
Ke depan, setiap data ekonomi dan pernyataan resmi dari pejabat bank sentral akan sangat menentukan pergerakan dolar.
Kesimpulan
Pelemahan dolar AS terhadap euro dan yen pada hari Kamis mencerminkan tekanan berlapis yang tengah dihadapi ekonomi Amerika. Dari ekspektasi pelonggaran kebijakan moneter hingga ketegangan politik domestik, pasar terus memantau setiap perkembangan dengan seksama. Dalam waktu dekat, data inflasi PCE dan laporan penggajian akan menjadi indikator penting bagi arah kebijakan The Fed.
Jangan lupa jelajahi website kami di demo bestprofit dan temukan beragam informasi menarik yang siap menginspirasi dan memberikan pengetahuan baru! Ayo, kunjungi sekarang untuk pengalaman online yang menyenangkan!