Thursday, 28 August 2025

Bestprofit | Dolar Melemah Terhadap Euro dan Yen

 https://best-profit-futures-malang.com/wp-content/uploads/2023/08/Dolar-3.webp

Bestprofit (29/8) – Dolar AS melemah terhadap mata uang utama seperti euro dan yen pada hari Kamis, seiring meningkatnya spekulasi bahwa Federal Reserve akan segera memangkas suku bunga. Sentimen pasar juga dibayangi oleh ketidakpastian politik di dalam negeri, terutama terkait intervensi Presiden Donald Trump terhadap kebijakan moneter dan upayanya untuk memecat salah satu gubernur The Fed, Lisa Cook.

Spekulasi Pemangkasan Suku Bunga Menguat

Mata uang AS berada di bawah tekanan setelah komentar dari Ketua The Fed New York, John Williams, yang menyiratkan bahwa pemangkasan suku bunga bisa menjadi langkah yang layak dipertimbangkan oleh bank sentral. Dalam wawancara bersama CNBC, Williams mengatakan bahwa kemungkinan penurunan suku bunga masih terbuka, tergantung pada data ekonomi yang akan dirilis menjelang pertemuan The Fed pada 16–17 September mendatang.

Pernyataan Williams langsung memicu reaksi pasar, di mana para pedagang meningkatkan ekspektasi bahwa pemangkasan suku bunga seperempat poin akan dilakukan. Berdasarkan alat FedWatch milik CME Group, probabilitas pemangkasan suku bunga bulan depan mencapai 87,3%.

Ketegangan Politik dan Serangan terhadap The Fed

Di tengah sentimen pasar yang sudah rapuh, dolar semakin ditekan oleh dinamika politik di AS. Presiden Donald Trump kembali mengintensifkan upayanya untuk mempengaruhi arah kebijakan moneter dengan mencoba memecat Lisa Cook, salah satu gubernur The Fed. Cook pun menanggapi langkah tersebut dengan menggugat Trump, menegaskan bahwa presiden tidak memiliki wewenang untuk memecat gubernur The Fed yang masa jabatannya ditetapkan oleh undang-undang.

Gugatan ini menimbulkan kekhawatiran mengenai independensi Federal Reserve, yang merupakan pilar penting dalam menjaga stabilitas ekonomi. Pasar keuangan global pun mencermati ketegangan ini dengan waspada.


Kunjungi juga : bestprofit futures

Euro dan Poundsterling Menguat Meski Diwarnai Ketidakpastian Politik

Menariknya, euro tetap menguat terhadap dolar meskipun Eropa juga diwarnai ketidakstabilan politik. Perdana Menteri Prancis secara tak terduga mengajukan mosi tidak percaya yang dijadwalkan bulan depan, membuka peluang jatuhnya pemerintahan minoritasnya. Namun demikian, euro justru menguat 0,38% ke $1,1682.

Poundsterling juga ikut menguat sebesar 0,19% ke level $1,3525. Penguatan mata uang Eropa ini lebih disebabkan oleh pelemahan dolar, bukan karena fundamental Eropa yang membaik. Hal ini menunjukkan bahwa sentimen terhadap dolar sedang dalam kondisi sangat rapuh.

Data Ekonomi AS Tak Mampu Menopang Dolar

Meskipun dolar berhasil memangkas sebagian kerugiannya setelah rilis data ekonomi pada hari Kamis, pemulihan tersebut tetap terbatas. Data menunjukkan bahwa klaim pengangguran mingguan meningkat, namun di sisi lain, pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) AS sedikit lebih tinggi dari perkiraan.

Data tersebut tidak mampu mengubah pandangan pasar bahwa pelonggaran moneter masih sangat mungkin dilakukan oleh The Fed.

“Saya rasa kami tidak melihat hasil nyata yang mengubah narasi dari data tersebut,” ujarnya. “Kami menantikan angka deflator PCE besok, pembacaan utama The Fed tentang inflasi.”

Data inflasi PCE (Personal Consumption Expenditures), yang akan dirilis pada hari Jumat, serta laporan penggajian bulanan minggu depan, akan menjadi kunci dalam menentukan arah kebijakan The Fed. Jika inflasi tetap lemah dan pasar tenaga kerja menunjukkan pelemahan, peluang pemangkasan suku bunga akan semakin besar.

Intervensi Politik Menekan Imbal Hasil Obligasi

Upaya Trump untuk memasukkan kandidat-kandidat dovish (cenderung mendukung pelonggaran moneter) ke dalam dewan pengambil keputusan The Fed juga turut menurunkan imbal hasil obligasi jangka pendek. Ketidakpastian hukum akibat gugatan Lisa Cook diperkirakan akan menjadi pertempuran berkepanjangan, yang dapat memengaruhi persepsi investor terhadap stabilitas lembaga keuangan AS.

Ketegangan politik ini menambah beban bagi dolar, yang sudah mengalami tekanan dari berbagai sisi.

Indeks Dolar dan Yen Jepang

Indeks dolar, yang mengukur kekuatan dolar terhadap enam mata uang utama dunia, turun 0,31% menjadi 97,862. Ini merupakan penurunan selama dua hari berturut-turut dan mencerminkan kekhawatiran pasar terhadap kondisi makroekonomi dan politik AS.

Terhadap yen Jepang, dolar juga melemah 0,35% menjadi 146,89 yen. Selain faktor domestik AS, nilai tukar ini juga dipengaruhi oleh pembatalan kunjungan mendadak dari Kepala Negosiator Perdagangan Jepang, Ryosei Akazawa, ke Washington. Penundaan ini menunda pengumuman penting terkait janji investasi Jepang senilai $550 miliar di Amerika Serikat sebagai bagian dari kesepakatan tarif.

Ketidakpastian Masih Akan Membayangi Pasar

Pasar keuangan global memasuki periode penuh ketidakpastian, di mana arah kebijakan moneter, dinamika politik, dan data ekonomi akan menjadi faktor penentu utama. Dolar AS, yang selama ini menjadi mata uang safe haven, kini justru dilanda tekanan internal yang memperlemah posisinya.

Ke depan, setiap data ekonomi dan pernyataan resmi dari pejabat bank sentral akan sangat menentukan pergerakan dolar.

Kesimpulan

Pelemahan dolar AS terhadap euro dan yen pada hari Kamis mencerminkan tekanan berlapis yang tengah dihadapi ekonomi Amerika. Dari ekspektasi pelonggaran kebijakan moneter hingga ketegangan politik domestik, pasar terus memantau setiap perkembangan dengan seksama. Dalam waktu dekat, data inflasi PCE dan laporan penggajian akan menjadi indikator penting bagi arah kebijakan The Fed.

 


Jangan lupa jelajahi website kami di demo bestprofit dan temukan beragam informasi menarik yang siap menginspirasi dan memberikan pengetahuan baru! Ayo, kunjungi sekarang untuk pengalaman online yang menyenangkan!


bestprofit futures
 

Wednesday, 27 August 2025

Bestprofit | Emas Melemah Jelang Data PCE

 https://best-profit-futures-malang.com/wp-content/uploads/2023/08/Bestprofit-Emas-13.jpg

Bestprofit (28/8) – Harga emas mengalami sedikit penurunan dalam perdagangan Asia pada Kamis, 28 Agustus, di tengah ketidakpastian geopolitik dan ekonomi yang terus membayangi pasar. Meski demikian, permintaan emas fisik di kawasan Asia tetap kuat, menunjukkan bahwa komoditas ini masih menjadi pilihan utama investor di tengah gejolak global.

Perdagangan Emas: Koreksi Ringan di Tengah Ketidakpastian

Pada pukul 08.00 WIB, harga spot emas tercatat melemah tipis sebesar 0,1% ke level $3.396,56 per ons. Pergerakan ini mencerminkan sikap hati-hati para pelaku pasar, yang saat ini tengah mencermati perkembangan terbaru dalam politik Amerika Serikat.

Pelemahan harga ini terjadi setelah beberapa hari sebelumnya logam mulia tersebut sempat menguat pasca pernyataan dovish dari Ketua The Fed Jerome Powell di simposium Jackson Hole. Namun, fokus investor kini beralih ke ketegangan politik yang melibatkan mantan Presiden Donald Trump dan Gubernur The Fed, Lisa Cook, yang menimbulkan ketidakpastian baru di pasar.

Perseteruan Hukum Trump dan Lisa Cook: Bayang-bayang Tekanan Politik

Ketegangan politik antara Donald Trump dan Lisa Cook menjadi perhatian utama pasar global. Trump diketahui melontarkan kritik keras terhadap kebijakan moneter The Fed dan secara terbuka menyalahkan Lisa Cook atas sejumlah kebijakan yang dinilainya merugikan ekonomi AS.

Saat ini, perseteruan tersebut memasuki ranah hukum setelah Trump menggugat Cook atas dugaan penyalahgunaan wewenang dalam kebijakan suku bunga dan stimulus moneter. Cook, yang baru menjabat sebagai gubernur The Fed sejak 2022, dianggap oleh pendukung Trump terlalu dovish dalam menangani inflasi yang melonjak pasca-pandemi.

Situasi ini menciptakan ketidakpastian atas independensi The Fed dan memperkuat kekhawatiran pasar bahwa kebijakan moneter bisa menjadi alat politik, terutama menjelang pemilihan presiden AS 2026. Ketidakpastian ini, meski belum berdampak signifikan pada harga emas hari ini, berpotensi menjadi katalis volatilitas dalam beberapa minggu mendatang.


Kunjungi juga : bestprofit futures

Permintaan Fisik Tetap Kuat di Asia

Di sisi lain, permintaan emas fisik di Asia menunjukkan tren positif. Menurut analis Traze.com, Osama Al Saifi, data impor bersih emas Tiongkok melalui Hong Kong pada Juli melonjak lebih dari dua kali lipat dibandingkan bulan sebelumnya.

“Kami melihat lonjakan signifikan dalam impor bersih emas ke Tiongkok via Hong Kong. Ini menunjukkan bahwa permintaan domestik, terutama dari sektor perhiasan dan bank sentral, tetap solid meskipun harga sempat menguat,” jelas Al Saifi.

Tiongkok merupakan konsumen emas terbesar di dunia, dan pergerakan permintaan di negara tersebut sering dijadikan indikator penting bagi arah harga emas global. Lonjakan impor ini menunjukkan bahwa emas tetap dipandang sebagai aset lindung nilai utama, terutama dalam menghadapi volatilitas yuan dan ketidakpastian ekonomi domestik Tiongkok.

Menanti Data Indeks PCE AS

Fokus investor kini bergeser ke rilis data Indeks Personal Consumption Expenditures (PCE) yang dijadwalkan pada Jumat waktu setempat. PCE merupakan indikator inflasi yang menjadi acuan utama bagi The Fed dalam menentukan arah kebijakan suku bunga.

Setelah pernyataan dovish dari Jerome Powell di Jackson Hole pekan lalu, pasar akan mencermati apakah data PCE akan mengonfirmasi tren inflasi yang melandai. Jika PCE menunjukkan penurunan inflasi, maka peluang The Fed untuk mempertahankan atau bahkan menurunkan suku bunga semakin terbuka.

Sebaliknya, jika data PCE masih menunjukkan tekanan inflasi yang tinggi, maka The Fed bisa kembali ke sikap hawkish, yang akan memperkuat dolar dan menekan harga emas lebih jauh.

Faktor Lain yang Mempengaruhi Harga Emas

Selain ketegangan politik dan data ekonomi, ada beberapa faktor lain yang turut memengaruhi harga emas saat ini:

1. Kinerja Dolar AS

Dolar AS cenderung menguat dalam beberapa hari terakhir, seiring kekhawatiran investor terhadap ketegangan di dalam negeri AS dan ketidakpastian arah kebijakan The Fed. Dolar yang kuat membuat emas lebih mahal bagi pemegang mata uang lain, sehingga menekan permintaan.

2. Imbal Hasil Obligasi AS

Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun juga menjadi perhatian. Kenaikan yield membuat investasi berbasis bunga menjadi lebih menarik dibanding emas yang tidak memberikan imbal hasil tetap. Saat ini, yield bergerak fluktuatif karena ekspektasi pasar terhadap arah suku bunga belum solid.

3. Ketegangan Geopolitik Global

Ketegangan di berbagai kawasan, seperti konflik Rusia-Ukraina yang belum mereda dan meningkatnya ketegangan di Laut China Selatan, menjadi pendorong permintaan safe haven. Namun, dampaknya terhadap emas belum terlalu signifikan karena pelaku pasar lebih fokus pada kondisi makroekonomi AS.

Prospek Harga Emas dalam Jangka Pendek

Dalam jangka pendek, pergerakan harga emas diperkirakan masih akan fluktuatif, dengan rentang perdagangan yang ketat menjelang rilis data inflasi PCE. Sentimen investor akan sangat dipengaruhi oleh apakah The Fed tetap pada jalur dovish atau justru kembali agresif.

Menurut analis teknikal dari Commerzbank, jika emas mampu bertahan di atas support kunci $3.380 per ons, maka ada peluang rebound menuju $3.420–$3.450 per ons. Namun, jika tekanan jual meningkat dan harga turun di bawah $3.380, maka potensi koreksi lebih dalam terbuka lebar.

Kesimpulan: Emas Masih Jadi Pilihan, Meski Tekanan Jangka Pendek Mengintai

Harga emas tergelincir tipis pada perdagangan Kamis pagi, dipengaruhi oleh ketidakpastian politik dalam negeri AS dan kehati-hatian investor menjelang rilis data penting. Meski demikian, permintaan emas fisik di Asia—khususnya di Tiongkok—masih menunjukkan kekuatan yang signifikan.

Ke depan, harga emas akan sangat bergantung pada data inflasi AS dan reaksi pasar terhadap ketegangan antara Donald Trump dan Gubernur The Fed Lisa Cook. Di tengah banyaknya ketidakpastian ini, emas tetap mempertahankan statusnya sebagai aset safe haven, meskipun pergerakannya mungkin tidak seagresif tahun-tahun sebelumnya.


Jangan lupa jelajahi website kami di demo bestprofit dan temukan beragam informasi menarik yang siap menginspirasi dan memberikan pengetahuan baru! Ayo, kunjungi sekarang untuk pengalaman online yang menyenangkan!


bestprofit futures
 

Tuesday, 26 August 2025

Bestprofit | Harga Emas Tertekan Ketidakpastian

 https://best-profit-futures-malang.com/wp-content/uploads/2023/08/Bestprofit-Emas-3.jpeg

Bestprofit (27/8) – Harga emas bergerak melemah tipis di awal perdagangan Asia pada Selasa (27/8), seiring dengan aksi penyesuaian posisi oleh investor. Meskipun demikian, pelemahan harga logam mulia ini tampaknya bersifat terbatas karena kekhawatiran pasar terhadap independensi bank sentral Amerika Serikat (The Fed) serta meningkatnya ketegangan politik di Eropa, terutama Prancis. Kombinasi faktor fundamental ini mendorong permintaan terhadap aset safe haven seperti emas.

Aksi Penyesuaian Posisi Investor Tekan Harga Emas

Di awal sesi perdagangan Asia, harga spot emas tercatat turun 0,1% menjadi $3.390,64 per ons. Penurunan ini terutama disebabkan oleh aksi ambil untung dan penyesuaian posisi yang dilakukan oleh investor menjelang rilis sejumlah data ekonomi penting serta perkembangan geopolitik global.

Aksi semacam ini adalah hal yang lazim dalam dunia investasi, terutama ketika harga emas telah mencatatkan reli dalam beberapa pekan terakhir. Investor cenderung mengambil langkah berhati-hati dengan mengamankan keuntungan mereka sebelum masuknya katalis pasar yang baru.

Namun, para analis menyebut bahwa pelemahan emas kali ini bersifat sementara. Di tengah meningkatnya ketidakpastian ekonomi dan politik global, permintaan terhadap emas sebagai instrumen lindung nilai (hedging) tetap kuat.

Ketidakpastian di The Fed: Pemecatan Lisa Cook Memicu Kekhawatiran

Salah satu faktor utama yang menjaga daya tarik emas adalah ketidakpastian yang meningkat terhadap independensi kebijakan moneter AS. Langkah kontroversial Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, yang secara mendadak mencopot Gubernur The Fed, Lisa Cook, telah memicu kekhawatiran luas di pasar keuangan.

Tindakan ini memunculkan pertanyaan serius terkait apakah The Fed masih memiliki keleluasaan dalam menentukan arah kebijakan moneternya secara independen, ataukah bank sentral tersebut akan berada di bawah tekanan politik. Para pelaku pasar khawatir bahwa pencopotan Lisa Cook bisa menjadi preseden berbahaya, yang membuka pintu campur tangan lebih lanjut dari pihak eksekutif terhadap lembaga moneter yang seharusnya bersifat netral.

Kekhawatiran ini secara otomatis meningkatkan daya tarik emas sebagai aset safe haven. Ketika pelaku pasar kehilangan kepercayaan terhadap stabilitas kebijakan ekonomi, mereka cenderung beralih ke aset yang dianggap lebih stabil seperti logam mulia.


Kunjungi juga : bestprofit futures

Risiko Politik di Eropa: Ketidakstabilan Pemerintahan Prancis

Selain dari sisi AS, pasar global juga sedang mencermati perkembangan politik di Eropa, khususnya di Prancis. Ketegangan meningkat setelah Perdana Menteri Prancis mengusulkan langkah-langkah penghematan anggaran yang kontroversial. Langkah ini tidak hanya menimbulkan penolakan di parlemen, tetapi juga memicu rencana mosi tidak percaya yang dijadwalkan akan berlangsung pada 8 September mendatang.

Ketidakpastian politik di negara ekonomi terbesar kedua di Uni Eropa ini meningkatkan kekhawatiran investor terhadap stabilitas kawasan euro secara keseluruhan. Jika pemerintahan Prancis gagal melewati mosi percaya, maka risiko keruntuhan pemerintahan semakin nyata, yang pada akhirnya dapat mengganggu pasar keuangan regional dan global.

Sebagai respons terhadap risiko ini, investor global menunjukkan peningkatan permintaan terhadap aset lindung nilai seperti emas. Logam mulia ini telah lama dipandang sebagai pelindung nilai ketika kondisi politik dan ekonomi mengalami guncangan.

Kombinasi Faktor Fundamental Topang Harga Emas

Meskipun secara teknikal emas mencatat penurunan tipis, kekuatan fundamental yang menopangnya cukup solid. Kombinasi dari risiko politik, gejolak kebijakan moneter, dan potensi melambatnya pertumbuhan ekonomi global, semua berkontribusi terhadap permintaan yang stabil terhadap emas.

Kondisi saat ini menunjukkan bahwa emas tetap berada di jalur kuat sebagai aset pelindung nilai. Setiap pelemahan jangka pendek lebih dipandang sebagai peluang beli oleh sebagian besar investor institusional.

Perspektif Analis: Apakah Emas Akan Kembali Menguat?

Banyak analis pasar melihat pelemahan harga emas saat ini sebagai fase konsolidasi. Menurut mereka, selama ketidakpastian tetap tinggi di pasar, harga emas memiliki potensi untuk kembali menguat dalam beberapa hari atau pekan ke depan.

“Ketika pasar mulai meragukan independensi The Fed, itu menciptakan ketidakpastian yang jauh lebih besar daripada sekadar data ekonomi yang fluktuatif. Ini adalah sinyal kuat bagi investor untuk berlindung pada aset yang netral secara politik, seperti emas,” ujar Analis Komoditas Senior dari Global Metals Research.

Sementara itu, dari sisi teknikal, emas masih berada di atas level support pentingnya, dan pelemahan sebesar 0,1% dianggap belum cukup signifikan untuk mengubah tren jangka menengah.

Dampak Terhadap Pasar Keuangan Lainnya

Ketidakpastian yang terjadi saat ini juga memberikan dampak terhadap pasar keuangan lainnya. Indeks dolar AS sempat mengalami volatilitas tinggi seiring dengan kekhawatiran pasar terhadap intervensi politik dalam kebijakan moneter.

Sementara itu, imbal hasil obligasi pemerintah AS juga mengalami pergerakan fluktuatif, dengan investor mulai melakukan rebalancing portofolio mereka ke instrumen yang dianggap lebih aman.

Pasar saham global pun menunjukkan pergerakan yang hati-hati. Investor cenderung wait and see sambil mencermati perkembangan baik dari AS maupun Eropa. Dalam kondisi seperti ini, peran emas sebagai aset diversifikasi menjadi semakin penting.

Kesimpulan: Emas Tetap Jadi Pilihan Utama di Tengah Ketidakpastian

Meskipun harga emas mengalami pelemahan tipis di awal perdagangan Asia, faktor-faktor fundamental yang menopang permintaan terhadap logam mulia tetap kuat. Ketidakpastian terhadap independensi The Fed, ditambah risiko politik di Eropa—terutama Prancis—menjadi alasan utama mengapa investor masih melirik emas sebagai aset pelindung nilai.

Dengan meningkatnya risiko global, investor disarankan untuk tetap memperhatikan pergerakan harga emas dan menjadikannya bagian dari strategi diversifikasi portofolio. Dalam jangka pendek, fluktuasi harga masih mungkin terjadi, tetapi dalam jangka menengah hingga panjang, prospek emas tetap positif di tengah ketidakpastian global yang berkelanjutan.


Jangan lupa jelajahi website kami di demo bestprofit dan temukan beragam informasi menarik yang siap menginspirasi dan memberikan pengetahuan baru! Ayo, kunjungi sekarang untuk pengalaman online yang menyenangkan!


bestprofit futures
 

Monday, 25 August 2025

Bestprofit | Emas Melemah Akibat Ambil Untung

 https://best-profit-futures-malang.com/wp-content/uploads/2023/08/Bestprofit-Emas-12.jpeg

Bestprofit (26/8) – Harga emas mengalami penurunan pada awal perdagangan Asia hari ini, dipicu oleh aksi ambil untung dari para investor. Meski demikian, analis pasar menekankan bahwa pelemahan ini bersifat sementara dan tidak mencerminkan perubahan mendasar dalam tren jangka panjang logam mulia.

Pelemahan Emas: Koreksi Sementara, Bukan Perubahan Tren

Harga emas spot turun 0,4% ke level $3.353,14 per ons troy pada awal perdagangan Asia, menandai koreksi ringan setelah reli yang cukup kuat dalam beberapa sesi sebelumnya. Rania Gule, analis pasar senior dari perusahaan finansial global XS.com, menjelaskan bahwa penurunan ini lebih dipicu oleh aksi profit-taking ketimbang perubahan struktural dalam pasar emas itu sendiri.

“Penurunan ini bersifat korektif terkait aksi ambil untung, bukan perubahan struktural pada tren emas yang lebih luas,” tulis Gule dalam sebuah email kepada media.

Pernyataan ini menekankan bahwa para pelaku pasar mengambil kesempatan dari kenaikan harga emas sebelumnya untuk merealisasikan keuntungan mereka. Aksi semacam ini lazim terjadi di pasar keuangan, terutama setelah periode penguatan harga yang signifikan.

Fundamental Emas Masih Kuat: Daya Tarik sebagai Safe Haven Tak Berubah

Meskipun terjadi penurunan harga, latar belakang fundamental yang menopang emas tetap kuat. Dalam pandangan Gule, faktor-faktor seperti kebijakan moneter Amerika Serikat dan ketidakpastian geopolitik global masih menjadi katalis utama bagi permintaan emas dalam jangka menengah hingga panjang.

“Latar belakang fundamental yang mendukung logam mulia tetap utuh, baik dari perspektif kebijakan moneter AS maupun risiko geopolitik global yang berlanjut,” jelasnya lebih lanjut.

Ketika pasar dihadapkan pada ketidakpastian—baik akibat konflik geopolitik, ketegangan antarnegara, maupun ketidakpastian ekonomi global—emas kerap menjadi aset pelindung nilai (safe haven). Dalam kondisi seperti ini, investor cenderung mengalihkan dana mereka ke aset-aset yang dianggap lebih aman, seperti logam mulia.


Kunjungi juga : bestprofit futures

Kebijakan The Fed dan Dampaknya terhadap Harga Emas

Salah satu pilar utama yang mendukung tren positif emas dalam beberapa bulan terakhir adalah sikap dovish dari Federal Reserve (The Fed) Amerika Serikat. Meskipun The Fed belum secara resmi memangkas suku bunga, sinyal-sinyal penundaan kenaikan suku bunga atau potensi pemangkasan di masa depan telah memberikan angin segar bagi harga emas.

Emas cenderung sensitif terhadap pergerakan suku bunga karena logam mulia tidak memberikan imbal hasil (yield). Ketika suku bunga turun, opportunity cost memegang emas menjadi lebih rendah, sehingga meningkatkan daya tariknya.

Risiko Geopolitik dan Ketegangan Global: Faktor Pendukung Lainnya

Selain kebijakan moneter, situasi geopolitik global juga memainkan peran penting dalam mendongkrak permintaan emas. Konflik yang berkepanjangan di berbagai kawasan seperti Timur Tengah, ketegangan antara Tiongkok dan Amerika Serikat, serta situasi yang tidak stabil di beberapa negara berkembang telah menciptakan lingkungan global yang tidak pasti.

Ketidakpastian inilah yang menjadi alasan kuat bagi investor untuk mencari perlindungan melalui aset safe haven seperti emas. Dalam sejarahnya, emas selalu menjadi pelabuhan aman saat krisis ekonomi atau konflik internasional memuncak.

Aksi Ambil Untung: Strategi Investor yang Wajar

Koreksi harga emas saat ini dilihat oleh banyak analis sebagai bagian alami dari dinamika pasar. Ketika harga mencapai titik tertentu setelah mengalami kenaikan tajam, wajar jika sebagian pelaku pasar memutuskan untuk mengamankan keuntungan mereka.

Aksi ambil untung bukanlah sinyal negatif dalam jangka panjang, melainkan bagian dari siklus perdagangan yang sehat. Setelah koreksi ini, banyak investor justru melihat kesempatan untuk membeli kembali emas dengan harga yang lebih rendah.

Tren Jangka Panjang Masih Bullish

Meskipun terjadi penurunan jangka pendek, banyak analis sepakat bahwa tren jangka panjang emas masih tetap naik (bullish). Permintaan global terhadap emas, baik dari investor institusional maupun individu, tetap tinggi.

Selain itu, bank sentral di banyak negara juga terus menambah cadangan emas mereka sebagai bagian dari strategi diversifikasi cadangan devisa. Fenomena ini turut memberikan dukungan fundamental yang kuat terhadap harga emas dalam jangka panjang.

Tekanan Teknis: Koreksi dalam Pola Kenaikan

Dari perspektif teknikal, koreksi emas ini bisa dilihat sebagai penurunan wajar setelah mengalami kenaikan tajam dalam beberapa minggu terakhir. Biasanya, dalam pola tren naik, harga akan mengalami beberapa kali konsolidasi atau retracement sebelum melanjutkan perjalanan ke atas.

Beberapa analis teknikal menyebutkan bahwa zona $3.300 hingga $3.350 per ons bisa menjadi support kuat, di mana harga berpotensi memantul kembali jika sentimen positif tetap bertahan.

Pandangan Jangka Pendek: Waspadai Volatilitas

Meskipun tren jangka panjang tetap positif, dalam jangka pendek investor tetap perlu mewaspadai volatilitas. Faktor-faktor seperti rilis data ekonomi AS (seperti inflasi dan pengangguran), pernyataan pejabat The Fed, serta perkembangan geopolitik bisa memicu fluktuasi tajam harga emas dalam hitungan jam.

Untuk itu, pendekatan manajemen risiko sangat penting, terutama bagi investor yang aktif di pasar komoditas.

Kesimpulan: Koreksi Sehat dalam Tren yang Masih Positif

Pelemahan harga emas pada awal perdagangan Asia ini lebih mencerminkan koreksi teknikal yang sehat ketimbang perubahan fundamental. Aksi ambil untung oleh investor setelah kenaikan harga yang signifikan merupakan hal yang wajar dalam pasar keuangan.

Didukung oleh kebijakan moneter global yang akomodatif dan meningkatnya ketidakpastian geopolitik, daya tarik emas sebagai aset safe haven masih tetap kuat. Oleh karena itu, banyak pihak menilai bahwa koreksi ini justru membuka peluang beli bagi investor yang masih optimis terhadap logam mulia ini dalam jangka menengah hingga panjang.


Jangan lupa jelajahi website kami di demo bestprofit dan temukan beragam informasi menarik yang siap menginspirasi dan memberikan pengetahuan baru! Ayo, kunjungi sekarang untuk pengalaman online yang menyenangkan!


bestprofit futures
 

Sunday, 24 August 2025

Bestprofit | Pemangkasan Suku Bunga Angkat Emas

 https://best-profit-futures-malang.com/wp-content/uploads/2023/08/Bestprofit-Emas-5.jpeg

Bestprofit (25/8) – Harga emas kembali menunjukkan kekuatannya di tengah sentimen pasar yang mengarah pada kemungkinan pemangkasan suku bunga oleh Federal Reserve pada bulan September. Ketidakpastian ekonomi, sinyal dovish dari Ketua The Fed Jerome Powell, serta penurunan imbal hasil obligasi mendukung pergerakan harga emas mendekati level tertingginya. Berikut ulasan lengkap tentang perkembangan terbaru pasar emas.

Pernyataan Powell Menjadi Katalis Positif bagi Emas

Pada simposium tahunan Jackson Hole yang dihadiri para pembuat kebijakan ekonomi dunia, Ketua The Fed Jerome Powell menyampaikan pandangan yang lebih lunak terhadap kebijakan moneter ke depan. Dalam pidatonya, Powell menyebut bahwa perekonomian Amerika Serikat tengah menghadapi situasi yang menantang, terutama dari sisi pasar tenaga kerja. Ia juga mengisyaratkan bahwa jika kondisi pasar tenaga kerja terus melemah, pemangkasan suku bunga bisa menjadi langkah yang layak pada pertemuan FOMC berikutnya.

Pernyataan tersebut langsung disambut positif oleh pasar emas. Harga emas spot mencapai hampir $3.370 per troy ounce pada Senin pagi waktu Asia, memperpanjang kenaikan 1,1% dari hari Jumat sebelumnya. Pasar melihat sinyal dari Powell sebagai indikasi kuat bahwa The Fed mungkin akan mulai menurunkan suku bunga acuan pada bulan September, sesuatu yang secara historis mendukung penguatan logam mulia.

Penurunan Imbal Hasil Obligasi dan Pelemahan Dolar AS

Salah satu faktor utama yang memperkuat harga emas adalah penurunan imbal hasil obligasi pemerintah AS, terutama tenor 2 tahun yang sensitif terhadap ekspektasi suku bunga. Imbal hasil obligasi tenor pendek tersebut turun setelah pernyataan Powell, mencerminkan ekspektasi pasar bahwa kebijakan moneter yang lebih longgar akan segera diterapkan.

Selain itu, indeks kekuatan dolar AS (DXY) juga melemah sebagai respons atas sinyal dovish dari The Fed. Karena emas dihargai dalam dolar AS dan tidak memberikan imbal hasil tetap, pelemahan dolar dan turunnya yield obligasi membuat emas menjadi lebih menarik dibandingkan aset berbunga lainnya. Kombinasi kedua faktor ini mendorong permintaan emas, baik dari investor institusional maupun individu.


Kunjungi juga : bestprofit futures

Pasar Derivatif: Probabilitas Pemangkasan Suku Bunga Meningkat

Data dari pasar derivatif menunjukkan bahwa probabilitas pemangkasan suku bunga pada bulan September kini diperkirakan lebih dari 85%. Ini merupakan lonjakan signifikan dibandingkan beberapa minggu sebelumnya ketika The Fed masih menunjukkan sikap yang lebih hati-hati.

Namun, arah kebijakan setelah pemangkasan pertama masih belum jelas. The Fed tetap berhati-hati karena inflasi inti masih berada di atas target 2% yang ditetapkan bank sentral. Di sisi lain, data ketenagakerjaan mulai menunjukkan tanda-tanda pelemahan, dengan pertumbuhan pekerjaan melambat dan tingkat partisipasi tenaga kerja menurun.

Ketidakseimbangan antara tekanan inflasi dan perlambatan pasar tenaga kerja menjadi dilema tersendiri bagi The Fed. Dalam konteks ini, emas dipandang sebagai aset lindung nilai yang menarik, karena dapat melindungi nilai kekayaan investor dalam kondisi ketidakpastian ekonomi dan kebijakan moneter yang fluktuatif.

Kekhawatiran Inflasi Masih Membayangi

Meski ekspektasi pasar terhadap pelonggaran kebijakan moneter meningkat, kekhawatiran soal inflasi belum sepenuhnya hilang. Dalam pidatonya, Powell menyinggung bahwa kebijakan tarif impor, seperti yang diterapkan di masa pemerintahan Presiden Donald Trump, berpotensi memicu inflasi lebih sistematis di masa depan jika kembali diberlakukan.

Hal ini menunjukkan bahwa The Fed masih mempertimbangkan berbagai skenario yang bisa mempengaruhi arah inflasi. Jika tekanan inflasi kembali meningkat akibat faktor eksternal seperti perang dagang atau gangguan rantai pasok, maka ruang untuk penurunan suku bunga bisa kembali tertutup. Ini membuat arah kebijakan The Fed ke depan menjadi lebih kompleks dan data-dependent.

Kinerja Emas Sepanjang Tahun: Naik Lebih dari 25%

Sejak awal tahun 2025, harga emas telah meningkat lebih dari 25%, mencerminkan kekhawatiran pasar terhadap berbagai risiko ekonomi global. Tidak hanya faktor suku bunga dan inflasi, ketegangan geopolitik seperti konflik di Timur Tengah, ketegangan antara Tiongkok dan Taiwan, serta ketidakpastian politik menjelang pemilihan presiden AS juga berkontribusi terhadap naiknya permintaan akan aset safe haven seperti emas.

Selain itu, pembelian emas oleh bank sentral, khususnya dari negara-negara berkembang seperti Tiongkok, India, dan Rusia, juga menjadi pendorong utama harga. Bank sentral cenderung menambah cadangan emas sebagai diversifikasi dari dolar AS dan lindung nilai terhadap ketidakstabilan ekonomi global.

Hedge Fund Justru Kurangi Posisi Bullish

Meskipun harga emas mengalami kenaikan signifikan, data dari Commodity Futures Trading Commission (CFTC) menunjukkan bahwa posisi bullish dari hedge fund justru mengalami penurunan ke level terendah dalam enam minggu terakhir. Hal ini mengindikasikan bahwa sebagian investor besar mulai mengambil sikap lebih hati-hati, mungkin karena mengantisipasi aksi ambil untung atau volatilitas pasar dalam waktu dekat.

Namun, pengurangan posisi tersebut belum menunjukkan pembalikan tren secara menyeluruh. Banyak analis percaya bahwa koreksi harga dalam jangka pendek justru bisa menjadi peluang akumulasi, terutama jika The Fed benar-benar mulai memangkas suku bunga dan ketidakpastian ekonomi berlanjut.

Logam Mulia Lainnya Bergerak Datar

Di samping emas, logam mulia lainnya seperti perak, platinum, dan palladium juga menunjukkan pergerakan yang relatif stabil. Perak dan platinum diperdagangkan mendatar pada Senin pagi, sementara palladium sedikit menguat.

Meskipun logam-logam ini juga dipengaruhi oleh faktor makroekonomi global, pergerakan harganya cenderung lebih volatil dan dipengaruhi oleh permintaan industri. Perak misalnya, digunakan dalam sektor elektronik dan energi surya, sedangkan platinum dan palladium banyak digunakan di industri otomotif untuk katalisator.

Kesimpulan: Emas Masih Menjadi Pilihan Favorit di Tengah Ketidakpastian

Harga emas tetap kokoh di tengah ekspektasi pelonggaran kebijakan moneter AS dan melemahnya kekuatan dolar. Meskipun ada kekhawatiran mengenai inflasi dan sikap hati-hati dari investor institusional, tren jangka menengah hingga panjang masih mendukung penguatan harga emas.

Dengan meningkatnya ketegangan geopolitik, perlambatan ekonomi global, dan kemungkinan pemangkasan suku bunga oleh The Fed, logam mulia ini tetap menjadi aset safe haven pilihan di tengah ketidakpastian. Bagi investor, emas bisa menjadi bagian penting dari strategi diversifikasi portofolio dalam menghadapi kondisi pasar yang terus berubah.


Jangan lupa jelajahi website kami di demo bestprofit dan temukan beragam informasi menarik yang siap menginspirasi dan memberikan pengetahuan baru! Ayo, kunjungi sekarang untuk pengalaman online yang menyenangkan!


bestprofit futures
 

Thursday, 21 August 2025

Bestprofit | Emas Stabil Jelang Powell

 https://best-profit-futures-malang.com/wp-content/uploads/2023/08/Bestprofit-Emas-9.jpg

Bestprofit (22/8) – Para pelaku pasar global saat ini tengah menahan napas menjelang pidato penting Ketua Federal Reserve (The Fed) Jerome Powell yang dijadwalkan berlangsung pada Jumat mendatang di simposium Jackson Hole. Dalam situasi yang penuh ketidakpastian ini, harga emas cenderung bergerak mendatar, dengan emas spot tercatat di level $3.338,31 per ounce.

Fadi Al Kurdi, pendiri dan CEO FFA Kings, mengatakan bahwa pasar tengah berada dalam posisi “menunggu dan melihat”. Menurutnya, sinyal kebijakan moneter yang akan disampaikan oleh Powell — apakah akan bersifat dovish (cenderung longgar) atau hawkish (ketat) — dapat menjadi katalis besar bagi arah pasar keuangan dalam waktu dekat.

Jackson Hole: Momen Krusial bagi Kebijakan The Fed

Simposium Jackson Hole merupakan salah satu ajang paling ditunggu oleh pelaku pasar, ekonom, dan pembuat kebijakan di seluruh dunia. Dalam forum ini, pejabat tinggi bank sentral, termasuk Ketua The Fed, biasanya memberikan wawasan mengenai arah kebijakan moneter AS ke depan.

Jerome Powell dijadwalkan akan menyampaikan pidato utama pada Jumat pagi waktu setempat, dan spekulasi pun bermunculan. Apakah ia akan menunjukkan komitmen untuk menjaga pertumbuhan lapangan kerja di tengah perlambatan ekonomi global? Ataukah ia justru akan tetap fokus dalam perjuangan menekan inflasi, yang meskipun telah mereda dari puncaknya, masih berada di atas target jangka panjang Fed sebesar 2%?

“Ketidakpastian apakah Powell akan memberi sinyal komitmen yang lebih kuat untuk mendukung lapangan kerja atau menegaskan kembali perjuangan melawan inflasi dapat memengaruhi arah pasar,” jelas Fadi Al Kurdi. Ia menambahkan bahwa sikap yang lebih dovish bisa menjadi sentimen positif bagi logam mulia seperti emas.

Dovish vs. Hawkish: Dampaknya terhadap Harga Emas

Harga emas sangat sensitif terhadap arah kebijakan suku bunga The Fed. Dalam konteks ini, istilah dovish merujuk pada kebijakan yang cenderung longgar atau akomodatif, seperti penurunan suku bunga atau penghentian kenaikan suku bunga. Sebaliknya, kebijakan hawkish menandakan sikap yang lebih ketat, seperti menaikkan suku bunga untuk menekan inflasi.

Jika Powell mengisyaratkan pendekatan dovish — misalnya, dengan menyatakan bahwa The Fed mempertimbangkan pelonggaran moneter untuk mendukung pasar tenaga kerja — maka kemungkinan besar akan terjadi penurunan imbal hasil obligasi AS, serta pelemahan dolar AS. Kedua kondisi ini ideal bagi kenaikan harga emas, yang tidak memberikan bunga dan dihargai dalam dolar.

Namun jika Powell menegaskan kembali komitmen The Fed terhadap pengendalian inflasi, termasuk kemungkinan kenaikan suku bunga lanjutan, maka harga emas bisa tertekan.


Kunjungi juga : bestprofit futures

Emas Spot Bergerak Mendatar, Pasar Menahan Diri

Hingga Kamis pagi, harga emas spot tercatat stabil di $3.338,31 per ounce, menurut data Bloomberg. Pergerakan ini mencerminkan sikap hati-hati investor yang enggan mengambil posisi besar sebelum mendengar pidato Powell.

Dalam beberapa pekan terakhir, harga emas sempat mengalami volatilitas akibat data ekonomi AS yang beragam. Data ketenagakerjaan yang solid mendukung ekspektasi suku bunga tinggi lebih lama, sementara laporan inflasi yang lebih jinak menghidupkan harapan akan jeda dalam kenaikan suku bunga.

“Pasar emas saat ini berada dalam fase konsolidasi,” kata analis komoditas dari FXStreet. “Kondisi teknikal menunjukkan ada potensi breakout setelah pidato Powell, tergantung pada arah kebijakan moneter yang akan diambil.”

Strategi Investor: Lindung Nilai di Tengah Ketidakpastian

Emas telah lama dikenal sebagai aset safe haven — yaitu aset yang dicari saat ketidakpastian meningkat. Dalam situasi seperti sekarang, emas bukan hanya menjadi alat lindung nilai terhadap inflasi, tetapi juga terhadap ketidakpastian arah kebijakan The Fed dan potensi perlambatan ekonomi global.

“Investor institusional cenderung menambah posisi pada emas saat risiko geopolitik meningkat atau saat bank sentral diperkirakan akan mengubah arah kebijakan,” ujar Fadi Al Kurdi. “Jika Powell memberi sinyal bahwa The Fed akan lebih toleran terhadap inflasi demi mendukung pertumbuhan lapangan kerja, emas kemungkinan akan mendapat dorongan besar.”

Di sisi lain, banyak analis juga mengingatkan bahwa harga emas telah naik cukup signifikan sejak awal tahun, dan koreksi jangka pendek bisa terjadi jika ekspektasi pasar tidak sejalan dengan kenyataan.

Prospek Jangka Menengah: Emas di Tengah Transisi Ekonomi Global

Terlepas dari hasil pidato Powell, banyak pihak percaya bahwa kita sedang memasuki fase baru dalam siklus ekonomi global. Ketidakpastian geopolitik, perlambatan pertumbuhan di Tiongkok, serta transisi energi global turut menjadi faktor yang mendorong permintaan terhadap emas.

Beberapa bank investasi besar, seperti UBS dan Goldman Sachs, memperkirakan bahwa harga emas bisa menembus $3.500 per ounce pada akhir tahun jika The Fed mulai melonggarkan kebijakan dan data inflasi terus menurun.

Namun, semua itu tetap bergantung pada arah komunikasi The Fed, dan Jackson Hole menjadi titik penting untuk membaca sinyal tersebut.

Penutup: Semua Mata Tertuju pada Powell

Dengan pasar yang cenderung datar dan volatilitas yang rendah menjelang simposium Jackson Hole, tampaknya pelaku pasar global memilih untuk menunggu kepastian daripada berspekulasi.

Pidato Jerome Powell akan menjadi penentu arah pasar dalam beberapa minggu ke depan, terutama bagi pasar obligasi, mata uang, dan komoditas seperti emas. Satu pernyataan saja bisa mengubah persepsi pasar secara drastis.

Jika pidato tersebut bernada dovish, emas berpotensi untuk kembali menguat dan menembus level resistensi baru. Namun jika nada hawkish yang dominan, maka tekanan pada harga emas bisa terjadi, setidaknya dalam jangka pendek.

Untuk saat ini, satu hal yang pasti: ketidakpastian adalah satu-satunya kepastian, dan emas tetap menjadi aset utama bagi mereka yang mencari perlindungan dalam dunia yang penuh gejolak.


Jangan lupa jelajahi website kami di demo bestprofit dan temukan beragam informasi menarik yang siap menginspirasi dan memberikan pengetahuan baru! Ayo, kunjungi sekarang untuk pengalaman online yang menyenangkan!


bestprofit futures
 

Wednesday, 20 August 2025

Bestprofit | Emas Melemah Jelang Jackson Hole

 https://best-profit-futures-malang.com/wp-content/uploads/2024/07/c1_20240630_04500512-768x383-1.jpeg

Bestprofit (21/8) – Harga emas melemah tipis pada awal perdagangan Asia menjelang simposium Jackson Hole tiga hari yang dimulai Kamis. Analis memperkirakan bahwa pidato Ketua The Fed Jerome Powell akan memberikan arah baru bagi kebijakan moneter Amerika Serikat, terutama terkait potensi penurunan suku bunga.

Melemahnya Harga Emas di Awal Pekan

Pada perdagangan hari Kamis pagi waktu Asia, harga emas spot turun sebesar 0,2% menjadi $3.343,43 per ons. Pelemahan ini terjadi menjelang dimulainya simposium ekonomi tahunan yang diadakan oleh Federal Reserve Kansas City di Jackson Hole, Wyoming, yang berlangsung selama tiga hari.

Simposium ini dikenal sebagai salah satu forum utama bagi para bankir sentral, ekonom, dan pelaku pasar global untuk berdiskusi mengenai arah kebijakan ekonomi dan moneter dunia. Karena itu, pelaku pasar kerap menanti-nanti pidato utama dari para pemimpin bank sentral dunia, termasuk Ketua The Fed, Jerome Powell.

Jackson Hole: Pusat Perhatian Pasar Global

Simposium Jackson Hole bukan sekadar pertemuan akademik biasa. Dalam beberapa tahun terakhir, forum ini telah menjadi ajang penting bagi Federal Reserve dalam menyampaikan sinyal-sinyal kebijakan utama kepada pasar. Pidato-pidato di Jackson Hole kadang kala menjadi katalis pergerakan besar di pasar finansial global, termasuk pasar emas.

Analis senior Kitco.com, Jim Wyckoff, mengatakan bahwa pasar menanti pidato Powell yang dijadwalkan pada hari Jumat. Menurutnya, pidato tersebut “diperkirakan akan menjadi pembaruan kerangka kebijakan moneter bank sentral.”

Ia menambahkan, “Pidato Powell bisa memberi pasar perspektif baru tentang seberapa besar dukungan FOMC untuk menurunkan suku bunga AS pada September.”


Kunjungi juga : bestprofit futures

Hubungan Antara Suku Bunga dan Harga Emas

Salah satu alasan utama mengapa pidato Powell menjadi sangat penting bagi pasar emas adalah hubungan erat antara suku bunga dan harga emas. Emas merupakan aset yang tidak memberikan imbal hasil (non-yielding asset) seperti bunga atau dividen. Karena itu, ketika suku bunga tinggi, investor cenderung lebih memilih aset berbunga seperti obligasi karena memberikan return yang lebih baik daripada menyimpan emas.

Sebaliknya, jika The Fed memberikan sinyal untuk menurunkan suku bunga, maka daya tarik emas bisa meningkat karena kesempatan return dari aset lain menjadi lebih kecil. Oleh karena itu, jika Powell mengindikasikan bahwa Federal Reserve mulai mempertimbangkan pemangkasan suku bunga, maka harga emas bisa kembali menguat.

Skenario yang Ditunggu Pasar: Dovish atau Hawkish?

Dalam konteks kebijakan moneter, pasar kini sedang berusaha membaca apakah The Fed akan bersikap dovish (mendukung pelonggaran kebijakan) atau tetap hawkish (menjaga suku bunga tinggi dalam jangka panjang). Pidato Powell akan menjadi penentu arah pasar untuk jangka menengah.

Jika pidato Powell cenderung dovish — misalnya dengan menyampaikan kekhawatiran atas perlambatan ekonomi atau inflasi yang semakin terkendali — maka pelaku pasar akan menafsirkan hal tersebut sebagai sinyal kemungkinan penurunan suku bunga dalam waktu dekat. Ini bisa menjadi sentimen positif untuk emas.

Sebaliknya, jika Powell menyatakan bahwa inflasi masih jauh dari target 2% dan membutuhkan kebijakan suku bunga tinggi lebih lama lagi, maka harga emas berpotensi melanjutkan tekanan turun.

Faktor Global yang Mempengaruhi Emas

Selain fokus utama pada The Fed, pasar emas juga dipengaruhi oleh berbagai faktor global lain, seperti:

  • Kondisi ekonomi Tiongkok yang saat ini menghadapi tantangan perlambatan pertumbuhan, yang bisa berdampak pada permintaan emas fisik.

  • Ketegangan geopolitik, seperti konflik di Timur Tengah atau ketegangan antara Tiongkok dan Amerika Serikat, yang biasanya meningkatkan permintaan emas sebagai aset safe haven.

  • Nilai tukar dolar AS, yang memiliki korelasi terbalik dengan harga emas. Ketika dolar menguat, harga emas cenderung turun karena menjadi lebih mahal bagi pembeli non-dolar.

Data Inflasi dan Ekonomi AS Menjadi Pertimbangan

Menjelang simposium ini, pasar juga mencermati data-data ekonomi Amerika Serikat seperti:

  • Data inflasi (CPI dan PCE), yang menjadi indikator utama bagi kebijakan The Fed.

  • Data ketenagakerjaan, termasuk tingkat pengangguran dan pertumbuhan upah.

  • Data konsumsi dan pertumbuhan ekonomi (PDB), yang menunjukkan daya beli masyarakat.

Jika data-data tersebut menunjukkan perlambatan, maka kemungkinan besar The Fed akan mulai mempertimbangkan pelonggaran kebijakan. Ini tentu menjadi dukungan tambahan bagi harga emas dalam beberapa bulan mendatang.

Strategi Investor Menjelang Pidato Powell

Banyak investor cenderung wait and see menjelang pidato Powell. Volume perdagangan biasanya menurun karena pelaku pasar menghindari risiko spekulatif. Namun, beberapa investor jangka panjang justru melihat kondisi ini sebagai kesempatan untuk akumulasi emas di level harga yang lebih rendah.

Emas masih dianggap sebagai aset lindung nilai terhadap ketidakpastian ekonomi dan inflasi. Oleh karena itu, meskipun harga emas mengalami pelemahan jangka pendek, prospeknya tetap menarik bagi investor yang mencari stabilitas jangka panjang.

Proyeksi Harga Emas ke Depan

Dengan harga saat ini di kisaran $3.343,43 per ons, analis memperkirakan bahwa pergerakan selanjutnya akan sangat tergantung pada:

  1. Nada pidato Powell di Jackson Hole

  2. Data inflasi AS pada bulan September

  3. Keputusan suku bunga The Fed pada FOMC bulan depan

  4. Sentimen global dan permintaan emas fisik

Jika Powell memberikan sinyal dovish, maka harga emas bisa menguji kembali level resistance di kisaran $3.400 hingga $3.450. Namun, jika sinyal hawkish yang muncul, maka emas bisa turun menuju support kuat di bawah $3.300.

Kesimpulan: Menanti Kejelasan dari The Fed

Pelemahan tipis harga emas pada awal perdagangan Asia merupakan cerminan dari ketidakpastian pasar menjelang simposium Jackson Hole. Semua mata tertuju pada pidato Jerome Powell yang bisa menjadi sinyal arah suku bunga ke depan.

Dengan hubungan yang erat antara suku bunga dan harga emas, pidato ini diperkirakan akan menjadi pemicu utama pergerakan emas dalam jangka pendek hingga menengah. Bagi investor, saat-saat seperti ini menjadi waktu yang krusial untuk mengamati, mengevaluasi, dan menyusun strategi berdasarkan arah kebijakan moneter The Fed yang akan segera terungkap.


Jangan lupa jelajahi website kami di demo bestprofit dan temukan beragam informasi menarik yang siap menginspirasi dan memberikan pengetahuan baru! Ayo, kunjungi sekarang untuk pengalaman online yang menyenangkan!


bestprofit futures
 

Tuesday, 19 August 2025

Bestprofit | Emas Stabil Jelang Pidato Powell

 https://best-profit-futures-malang.com/wp-content/uploads/2023/08/Bestprofit-Emas-3.jpeg

Bestprofit (20/8) – Harga emas tetap bertahan meskipun mencatat penurunan kecil menjelang pidato penting dari Ketua Federal Reserve, Jerome Powell, akhir pekan ini. Pidato tahunan yang akan disampaikan di Jackson Hole, Wyoming, menjadi fokus utama pasar, dengan harapan bahwa arah kebijakan suku bunga akan lebih jelas.

Harga Emas Bertahan di Tengah Penurunan Permintaan Safe Haven

Pada awal sesi perdagangan Asia, harga emas batangan diperdagangkan di kisaran $3.315 per ons, mempertahankan penurunan 0,5% dari sesi sebelumnya. Penurunan ini terjadi setelah munculnya harapan baru untuk mengakhiri konflik antara Rusia dan Ukraina, yang mengurangi permintaan terhadap aset lindung nilai seperti emas.

Namun, meskipun terjadi penurunan tersebut, posisi emas relatif stabil. Investor masih menahan diri dari aksi jual besar-besaran menjelang pidato tahunan Jerome Powell yang akan digelar Jumat ini. Pasar sangat menantikan pidato ini, yang bisa memberikan petunjuk arah kebijakan moneter Federal Reserve (The Fed) untuk beberapa bulan ke depan.

Fokus Pasar: Prospek Pemangkasan Suku Bunga

Pasar saat ini memperkirakan kemungkinan pemangkasan suku bunga sebesar 25 basis poin oleh The Fed pada pertemuan berikutnya. Ekspektasi tersebut membuat investor tetap tertarik pada emas, karena suku bunga yang lebih rendah menguntungkan emas, yang tidak menghasilkan bunga seperti obligasi.

Namun, jalur pelonggaran moneter The Fed tidak sepenuhnya jelas. Data inflasi Amerika Serikat yang dirilis pekan lalu menunjukkan kenaikan yang lebih tinggi dari perkiraan, yang membuat sebagian pelaku pasar mulai meragukan prospek pemangkasan suku bunga dalam waktu dekat.


Kunjungi juga : bestprofit futures

Powell Hadapi Tekanan Politik dan Tantangan Ekonomi

Jerome Powell kini berada di posisi sulit. Di satu sisi, ia menghadapi tekanan dari Presiden saat itu, Donald Trump, yang mendorong pemangkasan suku bunga besar-besaran demi mendukung pertumbuhan ekonomi dan meredam dampak kebijakan tarif yang agresif. Di sisi lain, Powell khawatir bahwa agenda tarif Trump dapat memicu inflasi, yang justru bertentangan dengan alasan untuk melonggarkan kebijakan moneter.

Dalam konteks ini, pidato Powell di Jackson Hole dipandang sebagai momen penting untuk mengklarifikasi posisi The Fed. Apakah mereka akan mengikuti tekanan pasar dan politik untuk menurunkan suku bunga, atau tetap bersikap hati-hati menghadapi potensi lonjakan inflasi?

Kinerja Emas Selama Tahun Ini: Didukung Faktor Global

Terlepas dari fluktuasi jangka pendek, emas tetap menjadi salah satu aset dengan kinerja paling solid sepanjang tahun ini. Harga emas telah menguat lebih dari 25%, didukung oleh beberapa faktor global:

  • Pembelian oleh bank sentral di berbagai negara, sebagai bagian dari diversifikasi cadangan devisa dan upaya de-dolarisasi.

  • Arus masuk ke Exchange Traded Funds (ETF) berbasis emas, yang menunjukkan minat kuat investor institusi.

  • Ketegangan geopolitik global, termasuk konflik Timur Tengah, Laut China Selatan, dan situasi Rusia-Ukraina.

  • Kekhawatiran atas dampak kebijakan tarif terhadap pertumbuhan ekonomi global, terutama di tengah meningkatnya proteksionisme dan perlambatan pertumbuhan Tiongkok.

Semua faktor ini berkontribusi terhadap persepsi bahwa emas adalah aset aman (safe haven) yang layak dimiliki dalam portofolio investasi.

Gerak Harga Logam Mulia Lainnya

Selain emas, logam mulia lainnya juga menunjukkan pergerakan yang relatif stabil:

  • Perak, paladium, dan platinum tercatat bergerak datar pada awal sesi Asia.

  • Bloomberg Dollar Spot Index naik 0,1%, yang sedikit menekan harga emas karena penguatan dolar biasanya membuat logam mulia menjadi lebih mahal bagi pemegang mata uang lain.

Kondisi ini mencerminkan sikap pasar yang “wait and see”, dengan semua perhatian tertuju pada potensi arah kebijakan The Fed.

De-Dolarisasi: Tantangan Jangka Panjang bagi Dolar AS

Salah satu tema penting yang juga memengaruhi harga emas dalam jangka panjang adalah tren de-dolarisasi global. Negara-negara seperti Tiongkok, Rusia, dan beberapa negara BRICS telah secara aktif mengurangi ketergantungan mereka pada dolar AS dalam perdagangan internasional dan cadangan devisa mereka.

Langkah ini tidak hanya berdampak pada posisi dolar AS sebagai mata uang cadangan dunia, tetapi juga mendorong permintaan terhadap emas sebagai alternatif penyimpan nilai global. De-dolarisasi yang meluas bisa menjadi katalis jangka panjang yang memperkuat harga emas, terutama jika ketegangan geopolitik terus meningkat.

Analisis Teknikal dan Sentimen Pasar

Secara teknikal, emas masih berada dalam tren naik jangka menengah hingga panjang, meskipun saat ini bergerak dalam rentang sempit. Level support utama berada di sekitar $3.280 per ons, sedangkan resistance jangka pendek ada di kisaran $3.340–$3.360 per ons.

Banyak analis memperkirakan bahwa, jika Powell memberikan sinyal dovish dalam pidatonya, harga emas bisa segera menembus resistance tersebut dan melanjutkan reli. Namun, jika Powell mengadopsi nada yang lebih hawkish karena kekhawatiran inflasi, emas bisa menghadapi tekanan jual sementara.

Kesimpulan: Pidato Powell Jadi Penentu Arah Emas Selanjutnya

Harga emas saat ini berada dalam posisi yang sensitif terhadap arah kebijakan moneter The Fed. Pidato Jerome Powell di Jackson Hole pada akhir pekan ini bisa menjadi penentu utama apakah harga emas akan kembali reli atau mengalami konsolidasi lebih lanjut.

Meskipun ada tekanan dari sisi data inflasi dan politik, prospek pemangkasan suku bunga tetap menjadi dukungan utama bagi emas. Selain itu, faktor-faktor seperti pembelian bank sentral, ketegangan geopolitik, dan de-dolarisasi global terus memberikan dukungan struktural terhadap permintaan emas.

Bagi investor, ini bisa menjadi waktu penting untuk memantau sinyal dari The Fed sekaligus mengevaluasi posisi portofolio, terutama dalam menghadapi ketidakpastian kebijakan dan gejolak global yang terus berlanjut.

 


Jangan lupa jelajahi website kami di demo bestprofit dan temukan beragam informasi menarik yang siap menginspirasi dan memberikan pengetahuan baru! Ayo, kunjungi sekarang untuk pengalaman online yang menyenangkan!


bestprofit futures
 

Monday, 18 August 2025

Bestprofit | Pasar Tunggu Powell, Emas Konsolidasi

 https://best-profit-futures-malang.com/wp-content/uploads/2023/08/Bestprofit-Emas-12.jpeg

Bestprofit (19/8) – Emas diperdagangkan dalam pola konsolidasi pada awal sesi Asia menjelang simposium ekonomi tahunan Jackson Hole yang akan berlangsung akhir pekan ini. Para pelaku pasar tampaknya mengambil pendekatan hati-hati, menantikan arahan lebih lanjut dari pejabat Federal Reserve terkait prospek suku bunga. Harga emas spot tercatat nyaris stagnan di kisaran $3.331,89 per ons, mencerminkan ketidakpastian pasar.

Menanti Isyarat dari Jerome Powell

Simposium ekonomi Jackson Hole yang digelar setiap tahun oleh Federal Reserve Bank of Kansas City menjadi salah satu ajang paling penting bagi pembuat kebijakan ekonomi global. Tahun ini, perhatian pasar tertuju pada pidato Ketua The Fed, Jerome Powell, yang dijadwalkan akan memberikan arahan kebijakan moneter.

Menurut laporan riset ANZ Research, para analis memperkirakan Powell mungkin memberi sinyal tentang kemungkinan pemangkasan suku bunga secepat bulan September.

“Pernyataan Powell di Jackson Hole sangat krusial karena bisa menetapkan ekspektasi pasar untuk beberapa bulan ke depan. Jika nada pidatonya dovish, harga emas berpotensi menguat signifikan,” tulis analis ANZ.

Emas dan Hubungannya dengan Suku Bunga

Harga emas sangat sensitif terhadap pergerakan suku bunga AS. Ketika suku bunga naik, daya tarik emas sebagai aset yang tidak memberikan imbal hasil (yield) menjadi berkurang. Sebaliknya, jika suku bunga dipangkas, emas menjadi lebih menarik bagi investor sebagai alat lindung nilai terhadap inflasi dan ketidakpastian ekonomi.

Dalam beberapa bulan terakhir, ekspektasi akan pemangkasan suku bunga telah meningkat, seiring dengan data inflasi yang mulai melambat dan tanda-tanda pelemahan dalam beberapa sektor ekonomi AS. Namun, hingga saat ini, The Fed masih mempertahankan kebijakan ketat, menunggu bukti lebih lanjut bahwa inflasi benar-benar telah menuju target 2%.


Kunjungi juga : bestprofit futures

Dolar AS Menahan Laju Emas

Meskipun ada potensi pemangkasan suku bunga, penguatan dolar AS justru menjadi penghambat utama bagi kenaikan harga emas. Indeks dolar tercatat naik tipis dalam beberapa sesi terakhir, yang membuat emas menjadi lebih mahal bagi pemegang mata uang lainnya.

“Dolar AS yang kuat menciptakan tekanan terhadap permintaan emas global. Ini menjadi salah satu alasan mengapa harga emas belum menunjukkan respons positif yang besar terhadap ekspektasi pemangkasan suku bunga,” ujar seorang analis pasar komoditas di Singapura.

Secara historis, harga emas memiliki korelasi terbalik dengan dolar AS. Ketika dolar menguat, investor cenderung mengalihkan dana ke aset dolar, mengurangi permintaan terhadap logam mulia.

Meredanya Ketegangan Geopolitik Melemahkan Daya Tarik Safe Haven

Selain faktor makroekonomi, harga emas juga dipengaruhi oleh dinamika geopolitik. Dalam beberapa bulan terakhir, ketegangan antara negara-negara besar seperti AS, Rusia, dan Tiongkok sempat mendorong minat terhadap aset safe haven seperti emas. Namun, saat ini ketegangan tersebut tampak mereda, setidaknya untuk sementara waktu.

Dengan tidak adanya konflik besar atau eskalasi ketegangan baru, investor tampaknya memilih untuk menahan diri daripada mengalihkan dana ke aset perlindungan seperti emas. Hal ini turut menekan harga emas untuk bergerak dalam rentang yang sempit.

Pasar Menunggu Keputusan: Konsolidasi Menjadi Strategi

Pergerakan harga emas yang cenderung mendatar menunjukkan bahwa pasar sedang dalam fase konsolidasi. Dalam dunia perdagangan, konsolidasi terjadi ketika harga bergerak dalam kisaran tertentu tanpa arah yang jelas, mencerminkan ketidakpastian dan penantian terhadap katalis besar.

“Trader saat ini memilih untuk wait and see. Mereka menunggu pidato Powell dan hasil diskusi para pembuat kebijakan di Jackson Hole. Volatilitas bisa meningkat tajam setelah simposium berlangsung,” jelas seorang trader komoditas senior di Hong Kong.

Volume perdagangan emas juga tampak menurun dalam beberapa sesi terakhir, seiring minimnya pemicu pasar yang baru. Investor tampaknya enggan mengambil posisi besar sebelum memperoleh kejelasan dari pertemuan bank sentral akhir pekan ini.

Faktor Tambahan yang Diperhatikan Pasar

Selain Jackson Hole, ada beberapa indikator ekonomi lain yang juga menjadi perhatian pelaku pasar, antara lain:

  1. Data Inflasi (CPI dan PCE) di AS
    Jika data inflasi ke depan menunjukkan tren penurunan yang konsisten, hal ini akan memperkuat peluang pemangkasan suku bunga, yang bisa mendukung harga emas.

  2. Laporan Tenaga Kerja (NFP)
    Pasar tenaga kerja yang melambat bisa menjadi sinyal bahwa perekonomian AS mulai kehilangan tenaga, memberikan alasan tambahan bagi The Fed untuk mulai melonggarkan kebijakan moneter.

  3. Permintaan Fisik dari Asia
    Negara-negara seperti Tiongkok dan India merupakan konsumen emas terbesar di dunia. Permintaan fisik dari kawasan Asia akan menjadi faktor penting yang turut membentuk harga emas dalam beberapa bulan ke depan.

Outlook Jangka Pendek dan Menengah

Dengan mempertimbangkan seluruh dinamika yang ada, outlook harga emas dalam jangka pendek masih tergantung pada arah kebijakan The Fed. Jika Powell menyampaikan pandangan dovish di Jackson Hole, harga emas bisa melonjak ke atas $3.350 per ons. Namun jika ia tetap bertahan pada pendekatan hati-hati atau hawkish, maka harga berisiko terkoreksi di bawah $3.300.

Dalam jangka menengah, potensi pemangkasan suku bunga secara bertahap, ketidakpastian politik menjelang pemilu AS 2026, serta perkembangan geopolitik global dapat menjadi faktor pendukung harga emas.

Kesimpulan

Perdagangan emas menjelang simposium Jackson Hole menunjukkan dinamika pasar yang hati-hati. Harga emas yang bergerak konsolidasi mencerminkan ketidakpastian arah kebijakan The Fed dan pengaruh dari faktor eksternal seperti penguatan dolar dan meredanya ketegangan geopolitik.

Fokus utama tertuju pada pidato Jerome Powell, yang bisa menjadi titik balik bagi arah pasar emas dalam beberapa bulan ke depan. Dengan kondisi pasar yang sensitif terhadap setiap sinyal perubahan kebijakan moneter, investor disarankan untuk mencermati perkembangan secara saksama dan bersiap menghadapi potensi volatilitas tinggi dalam waktu dekat.


Jangan lupa jelajahi website kami di demo bestprofit dan temukan beragam informasi menarik yang siap menginspirasi dan memberikan pengetahuan baru! Ayo, kunjungi sekarang untuk pengalaman online yang menyenangkan!


bestprofit futures

Thursday, 14 August 2025

Bestprofit | Emas Melemah Mingguan

 https://best-profit-futures-malang.com/wp-content/uploads/2024/03/Gold-Emas.jpg

Bestprofit (15/8) – Harga emas mengalami tekanan minggu ini setelah para pedagang mengurangi ekspektasi terhadap pemangkasan suku bunga Federal Reserve (The Fed) bulan depan. Kenaikan inflasi grosir di Amerika Serikat telah memicu penguatan dolar dan imbal hasil obligasi, yang pada akhirnya menekan harga logam mulia, terutama emas yang tidak menawarkan imbal hasil bunga.

Inflasi AS Meningkat, Ekspektasi Pemangkasan Suku Bunga Menurun

Pada bulan Juli, inflasi grosir AS tercatat mengalami kenaikan tercepat dalam tiga tahun terakhir. Data tersebut mengejutkan pasar, yang sebelumnya memperkirakan bahwa tekanan inflasi akan mereda dan membuka jalan bagi The Fed untuk memangkas suku bunga pada bulan September.

Namun, laporan inflasi terbaru justru memicu kekhawatiran bahwa The Fed akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama dari yang diantisipasi. Hasilnya, para pedagang swap kini memperkirakan sekitar 90% kemungkinan pemangkasan suku bunga akan terjadi pada September.

Situasi ini berdampak langsung terhadap harga emas, yang sangat sensitif terhadap perubahan kebijakan moneter. Ketika suku bunga tinggi, emas menjadi kurang menarik karena tidak memberikan imbal hasil, tidak seperti obligasi atau aset berbunga lainnya.

Harga Emas Tertekan, Dolar dan Imbal Hasil Obligasi Menguat

Harga emas batangan saat ini diperdagangkan mendekati $3.335 per ons, turun sekitar 0,6% pada sesi sebelumnya. Sementara itu, emas spot stabil di $3.336,45 per ons pada pukul 7:44 pagi waktu Singapura. Penurunan mingguan diperkirakan mencapai 1,8%, menjadikannya salah satu minggu terburuk sejak pertengahan tahun ini.

Penguatan dolar AS dan kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS menambah tekanan pada harga emas. Keduanya membuat emas, yang dihargai dalam dolar dan tidak memberikan bunga, menjadi relatif kurang menarik bagi investor.

Indeks Spot Dolar Bloomberg sedikit berubah, namun tetap berada di level tinggi yang mencerminkan kepercayaan pasar terhadap kekuatan ekonomi AS dan kemungkinan pengetatan kebijakan lebih lanjut.


Kunjungi juga : bestprofit futures

Kinerja Emas di Tahun Ini: Masih Naik Lebih dari 25%

Meskipun tekanan dalam jangka pendek meningkat, harga emas secara keseluruhan masih menunjukkan kinerja yang solid sepanjang tahun 2025. Sejauh ini, emas telah mencatat kenaikan lebih dari 25%, sebagian besar didorong oleh ketegangan geopolitik dan ketidakpastian ekonomi global.

Empat bulan pertama tahun ini merupakan periode pertumbuhan paling signifikan bagi emas. Permintaan terhadap aset safe haven meningkat tajam, terutama akibat konflik yang terus berlangsung di berbagai wilayah serta kekhawatiran terhadap prospek pertumbuhan ekonomi global.

Selain itu, pembelian emas oleh bank sentral di seluruh dunia juga turut menopang harga. Banyak bank sentral, terutama di negara-negara berkembang, meningkatkan cadangan emas mereka sebagai langkah diversifikasi dari dolar AS dan sebagai strategi lindung nilai terhadap inflasi.

Ketegangan Geopolitik dan Perdagangan Menambah Volatilitas

Faktor lain yang turut memengaruhi pergerakan harga emas adalah ketegangan geopolitik dan kebijakan perdagangan internasional. Minggu lalu, pasar emas dikejutkan oleh kabar bahwa emas batangan mungkin akan dikenakan tarif oleh AS.

Hal ini menyebabkan lonjakan premi untuk kontrak berjangka emas di New York dibandingkan dengan harga spot di London. Ketidakpastian tersebut memicu kekhawatiran akan terganggunya pasokan emas fisik dan mendorong permintaan dalam kontrak berjangka.

Namun, Presiden Donald Trump kemudian menyatakan bahwa tidak akan ada tarif untuk emas batangan. Masih belum ada klarifikasi formal yang berarti risiko kebijakan tetap ada dan dapat memicu volatilitas harga dalam waktu dekat.

Performa Logam Mulia Lain: Perak, Platinum, dan Paladium

Selain emas, logam mulia lainnya juga menunjukkan kinerja yang beragam pekan ini. Perak diperdagangkan datar, sementara platinum dan paladium mengalami penurunan tipis.

Pergerakan ini mencerminkan ketidakpastian yang lebih luas di pasar komoditas logam mulia. Meskipun perak memiliki penggunaan industri yang luas, harga logam ini tetap terpengaruh oleh sentimen investor terhadap dolar dan suku bunga.

Platinum dan paladium, yang banyak digunakan dalam industri otomotif untuk perangkat pengendali emisi, juga rentan terhadap perubahan kebijakan moneter dan ketegangan perdagangan global, karena permintaan industri mereka sangat sensitif terhadap kondisi ekonomi global.

Prospek Emas: Antara Ketidakpastian dan Harapan

Ke depan, pergerakan harga emas kemungkinan besar akan terus dipengaruhi oleh dua faktor utama: arah kebijakan moneter The Fed dan perkembangan ketegangan geopolitik.

Jika data inflasi AS kembali menunjukkan tren kenaikan, maka harapan untuk pemangkasan suku bunga mungkin akan semakin surut. Hal ini dapat memperpanjang tekanan terhadap harga emas. Sebaliknya, jika inflasi mulai mereda atau ada sinyal dovish dari pejabat The Fed, maka harga emas bisa kembali naik.

Selain itu, peristiwa geopolitik yang tak terduga seperti eskalasi konflik, sanksi ekonomi, atau krisis regional bisa mendongkrak permintaan terhadap emas sebagai aset pelindung nilai (safe haven).

Kesimpulan: Koreksi Jangka Pendek Bukan Akhir dari Reli Emas

Meskipun emas menuju kerugian mingguan akibat ekspektasi pemangkasan suku bunga yang berkurang dan data inflasi yang mengejutkan, logam mulia ini masih menunjukkan performa yang kuat secara tahunan. Tekanan jangka pendek saat ini mencerminkan reaksi pasar terhadap data ekonomi terbaru dan arah kebijakan moneter AS.

Namun, latar belakang ketegangan geopolitik, pembelian oleh bank sentral, dan minat investor terhadap aset safe haven tetap memberikan dukungan kuat bagi harga emas dalam jangka menengah hingga panjang.

Investor dan pengamat pasar sebaiknya tidak hanya fokus pada pergerakan mingguan, tetapi juga mempertimbangkan konteks makroekonomi dan geopolitik yang lebih luas dalam mengambil keputusan terkait investasi emas.


Jangan lupa jelajahi website kami di demo bestprofit dan temukan beragam informasi menarik yang siap menginspirasi dan memberikan pengetahuan baru! Ayo, kunjungi sekarang untuk pengalaman online yang menyenangkan!
 

bestprofit futures