Bestprofit (4/8) – Harga emas mengalami pelemahan tipis di awal sesi perdagangan Asia pada Senin (4 Agustus 2025), menyusul lonjakan kuat pada penutupan minggu sebelumnya. Penurunan ini terjadi karena aksi ambil untung dan koreksi teknis, meskipun sentimen jangka menengah hingga panjang tetap didukung oleh ekspektasi penurunan suku bunga oleh Federal Reserve AS (The Fed). Di tengah kekhawatiran atas pelemahan ekonomi, emas kembali menempati posisi sebagai aset lindung nilai yang diandalkan.
Koreksi Teknis Setelah Lonjakan Harga Minggu Lalu
Emas spot tercatat turun sebesar 0,1% menjadi $3.356,81 per ons pada awal sesi Asia. Penurunan ini tergolong ringan jika dibandingkan dengan kenaikan hampir 1,7% pada Jumat sebelumnya. Lonjakan harga pada akhir pekan lalu terjadi setelah pasar mencerna data ketenagakerjaan AS yang lebih lemah dari ekspektasi, yang memicu spekulasi bahwa The Fed akan segera menurunkan suku bunga acuannya.
Koreksi teknis yang terjadi saat ini merupakan reaksi alami dari pasar setelah pergerakan naik yang tajam. Para trader dan investor cenderung melakukan aksi ambil untung setelah reli signifikan, dan hal ini dapat memicu penurunan harga sementara. Namun, pelemahan yang terjadi tidak terlalu dalam, menandakan adanya kekuatan fundamental yang mendukung harga emas tetap bertahan di kisaran tinggi.
Ekspektasi Penurunan Suku Bunga Memperkuat Daya Tarik Emas
Salah satu faktor utama yang mendukung harga emas saat ini adalah meningkatnya ekspektasi bahwa The Fed akan menurunkan suku bunga dalam waktu dekat. Data ketenagakerjaan AS yang dirilis pada Jumat lalu menunjukkan tanda-tanda pelemahan di pasar tenaga kerja. Hal ini menjadi perhatian serius bagi The Fed, mengingat mandat ganda bank sentral tersebut—yakni menjaga stabilitas harga dan memaksimalkan lapangan kerja.
“Data ketenagakerjaan hari Jumat jelas merupakan peringatan,” ujar Fawad Razaqzada, analis pasar dari City Index dan FOREX.com, melalui email. Ia menambahkan bahwa “mandat ganda The Fed mencakup ketenagakerjaan, dan data ini menunjukkan pelemahan. Para pesimis The Fed sedang berputar-putar.”
Pernyataan tersebut mengindikasikan bahwa ada kemungkinan semakin besar The Fed akan mengambil langkah pelonggaran moneter untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi. Emas, sebagai aset yang tidak memberikan imbal hasil (non-yielding asset), biasanya mendapat dorongan ketika suku bunga turun karena biaya peluang untuk memegang emas menjadi lebih rendah.
Kunjungi juga : bestprofit futures
Dampak Data Ketenagakerjaan Terhadap Sentimen Pasar
Data ketenagakerjaan AS yang lemah menjadi pemicu utama pergerakan harga emas akhir-akhir ini. Meskipun angka pengangguran tetap relatif stabil, pertumbuhan lapangan kerja dan upah menunjukkan perlambatan yang signifikan. Hal ini menimbulkan kekhawatiran bahwa kekuatan pendorong ekonomi AS mulai melemah, dan dapat menimbulkan efek domino terhadap pasar keuangan global.
Investor cenderung mencari aset yang dianggap aman (safe haven) ketika ketidakpastian ekonomi meningkat. Emas secara historis memainkan peran tersebut, dan dalam konteks saat ini, banyak pelaku pasar yang memperkuat posisi mereka di logam mulia sebagai perlindungan dari potensi gejolak ekonomi yang lebih besar.
Ketidakpastian Global dan Faktor Geopolitik Turut Berperan
Selain faktor domestik dari AS, ketidakpastian global dan tensi geopolitik juga menjadi faktor pendukung harga emas. Ketegangan di Timur Tengah, kekhawatiran terhadap perlambatan ekonomi Tiongkok, serta ketidakpastian politik di Eropa telah mendorong investor global untuk mencari lindung nilai terhadap risiko.
Dalam konteks seperti ini, emas sering dipandang sebagai aset aman yang dapat menjaga nilai ketika aset lain seperti saham dan obligasi menghadapi tekanan. Dengan latar belakang makroekonomi global yang belum pasti, permintaan terhadap emas diperkirakan akan tetap tinggi dalam waktu dekat.
Tekanan Dolar AS Menambah Sentimen Positif untuk Emas
Dolar AS, yang bergerak berlawanan arah dengan harga emas, juga mengalami tekanan setelah rilis data ekonomi yang lemah. Penurunan dolar membuat emas menjadi lebih murah bagi pembeli yang menggunakan mata uang lain, sehingga meningkatkan permintaan.
Melemahnya dolar AS biasanya beriringan dengan peningkatan harga emas karena hubungan invers yang kuat di antara keduanya. Dalam kondisi saat ini, pelemahan dolar menjadi bahan bakar tambahan bagi reli harga emas yang telah terjadi dalam beberapa minggu terakhir.
Analisis Teknikal: Level Support dan Resistance Emas
Dari sisi teknikal, harga emas saat ini menghadapi level resistance di kisaran $3.370–$3.400 per ons. Jika harga berhasil menembus level tersebut, maka potensi lanjutan menuju $3.450 terbuka lebar. Sebaliknya, level support terdekat berada di $3.340 dan $3.310 per ons. Selama harga tetap bertahan di atas area support tersebut, tren jangka menengah tetap dianggap bullish.
Indikator teknikal seperti Relative Strength Index (RSI) dan Moving Average menunjukkan bahwa harga emas masih berada dalam tren naik yang kuat, meskipun potensi koreksi jangka pendek tetap terbuka akibat kondisi pasar yang jenuh beli (overbought).
Prospek Emas dalam Jangka Menengah
Melihat keseluruhan kondisi ekonomi dan pasar global, prospek emas dalam jangka menengah hingga panjang masih positif. Kombinasi antara ketidakpastian ekonomi, tekanan terhadap dolar, dan ekspektasi pelonggaran moneter dari bank sentral utama dunia memberikan landasan yang kokoh bagi harga emas untuk terus menguat.
Para analis memperkirakan bahwa jika The Fed benar-benar mulai menurunkan suku bunga pada kuartal keempat 2025, harga emas bisa mencapai level rekor baru. Beberapa bahkan menyebut angka $3.500 sebagai target realistis dalam waktu 3–6 bulan ke depan.
Kesimpulan: Emas Tetap Menarik Meski Koreksi Sesaat
Meskipun harga emas sempat terkoreksi tipis di awal sesi Asia, fundamental pasar tetap mendukung penguatan logam mulia ini dalam jangka menengah. Aksi ambil untung yang terjadi saat ini dipandang sebagai reaksi wajar terhadap lonjakan harga yang signifikan, dan bukan sebagai tanda pelemahan tren secara keseluruhan.
Dengan meningkatnya ekspektasi penurunan suku bunga oleh The Fed, kekhawatiran atas pertumbuhan ekonomi global, serta melemahnya dolar AS, emas tetap berada di jalur yang positif sebagai aset lindung nilai utama. Para investor disarankan untuk terus memantau perkembangan data ekonomi dan pernyataan dari bank sentral guna menentukan arah pergerakan selanjutnya.
Jangan lupa jelajahi website kami di demo bestprofit dan temukan beragam informasi menarik yang siap menginspirasi dan memberikan pengetahuan baru! Ayo, kunjungi sekarang untuk pengalaman online yang menyenangkan!