Thursday, 31 July 2025

Bestprofit | Emas Naik, Tarif Trump Jadi Sorotan

 https://best-profit-futures-malang.com/wp-content/uploads/2023/08/Bestprofit-Emas-12.jpeg

Bestprofit (1/8) – Harga emas tetap mempertahankan kenaikannya pada awal perdagangan Asia, meskipun tetap berada di jalur penurunan mingguan. Langkah terbaru Gedung Putih untuk menerapkan tarif Presiden Donald Trump terhadap mitra dagang utama mulai Jumat menjadi salah satu pemicu utama pergerakan pasar. Sementara itu, perhatian investor juga tertuju pada data ketenagakerjaan AS yang akan dirilis akhir pekan ini, di tengah meningkatnya ketidakpastian ekonomi global.

Emas Bertahan di Atas $3.290: Sentimen Pasar Masih Waspada

Pada pembukaan pasar di Asia, harga emas batangan diperdagangkan mendekati $3.290 per ons, setelah menguat 0,5% di sesi sebelumnya. Pagi hari di Singapura, emas spot naik tipis 0,1% menjadi $3.291,46 per ons. Meski mengalami sedikit pemulihan, harga emas tetap melemah 1,4% sepanjang minggu ini, menunjukkan tekanan yang terus membayangi pasar logam mulia.

Pergerakan ini menandai konsolidasi harga di tengah ketidakpastian geopolitik dan ekonomi, yang menjadi karakteristik utama perdagangan emas dalam beberapa bulan terakhir. Harga emas sempat melonjak tajam pada kuartal sebelumnya, bahkan menembus rekor tertinggi sepanjang masa di atas $3.500 per ons pada bulan April. Namun sejak saat itu, pasar cenderung bergerak dalam kisaran yang sempit.

Tarif Baru Trump Picu Reaksi Tenang, Tapi Dampaknya Tidak Kecil

Gedung Putih mengumumkan bahwa tarif global minimum sebesar 10% akan diberlakukan terhadap impor, sementara negara-negara dengan surplus perdagangan terhadap Amerika Serikat akan dikenakan tarif setidaknya 15% atau lebih. Meski reaksi awal pasar tampak tenang, langkah ini tetap dipandang sebagai sinyal meningkatnya ketegangan dagang.

Para analis mencatat bahwa investor tidak terlalu terkejut dengan pengumuman ini, mengingat retorika keras Presiden Trump terhadap perdagangan global bukan hal baru. Namun, dampak jangka menengah hingga panjang dari kebijakan ini bisa sangat signifikan. Ketegangan dagang yang meningkat dapat memperlambat pertumbuhan ekonomi global, meningkatkan risiko inflasi, dan memperbesar permintaan terhadap aset safe haven seperti emas.


Kunjungi juga : bestprofit futures

Perdagangan Global dan Peran Emas Sebagai Safe Haven

Kekhawatiran terhadap eskalasi perang dagang global telah menjadi pendorong utama kenaikan harga emas dalam beberapa bulan terakhir. Logam mulia ini secara tradisional dianggap sebagai pelindung nilai (hedge) terhadap ketidakpastian geopolitik dan ekonomi. Seiring meningkatnya tensi antara AS dan mitra dagang utamanya, investor beralih ke emas untuk melindungi portofolio mereka.

Selain perang dagang, ketegangan di Timur Tengah, ketidakpastian politik di Eropa, dan perlambatan ekonomi di China turut menambah daya tarik emas. Namun, kekuatan dolar AS yang terus menguat telah menekan harga logam mulia. Dolar menutup bulan Juli sebagai bulan terbaiknya sepanjang tahun 2025, menciptakan hambatan tambahan bagi emas karena harga logam ini dihitung dalam mata uang dolar.

Tekanan dari Dolar: Mata Uang Kuat Menahan Laju Emas

Salah satu faktor utama yang membatasi kenaikan harga emas adalah penguatan dolar. Indeks Spot Dolar Bloomberg nyaris tidak berubah pada Kamis pagi, namun tetap berada di level tertingginya sejak awal tahun. Ketika dolar menguat, emas menjadi lebih mahal bagi pembeli yang menggunakan mata uang lain, sehingga permintaan global cenderung menurun.

Dalam kondisi ini, investor cenderung menahan diri dari menambah eksposur mereka terhadap logam mulia, meskipun risiko global meningkat. Ini menjelaskan mengapa harga emas tetap dalam kisaran perdagangan yang ketat selama beberapa bulan terakhir, meskipun ada sejumlah sentimen positif.

Pergerakan Logam Lain: Perak, Platinum, dan Paladium

Sementara harga emas relatif stabil, logam mulia lainnya juga menunjukkan pergerakan yang terbatas. Perak diperdagangkan hampir tidak berubah, menunjukkan pola yang mirip dengan emas. Platinum dan paladium mencatat sedikit kenaikan, tetapi belum menunjukkan lonjakan signifikan.

Pergerakan logam-logam ini mencerminkan kondisi pasar yang masih berhati-hati. Investor cenderung menunggu kepastian dari kebijakan ekonomi dan data fundamental sebelum membuat keputusan besar. Hal ini terutama berlaku menjelang rilis data ketenagakerjaan AS yang diperkirakan menjadi indikator penting bagi arah kebijakan Federal Reserve ke depan.

Fokus Investor Beralih ke Data Ketenagakerjaan AS

Data ketenagakerjaan Amerika Serikat untuk bulan Juli yang akan dirilis Jumat ini menjadi titik fokus berikutnya bagi investor. Konsensus pasar memperkirakan bahwa pertumbuhan lapangan kerja akan melambat, sementara tingkat pengangguran mungkin menunjukkan peningkatan moderat. Jika data menunjukkan pelemahan pasar tenaga kerja, ekspektasi akan pelonggaran kebijakan moneter oleh The Fed bisa meningkat.

Kebijakan suku bunga rendah cenderung mendukung harga emas, karena mengurangi opportunity cost dalam memegang aset yang tidak memberikan imbal hasil seperti emas. Oleh karena itu, data pekerjaan dapat memainkan peran penting dalam menentukan arah jangka pendek bagi harga logam mulia.

Outlook Emas: Konsolidasi atau Lonjakan Berikutnya?

Meskipun emas saat ini berada dalam fase konsolidasi, prospek jangka menengah hingga panjang tetap positif, terutama jika ketidakpastian global berlanjut. Tarif baru dari AS, potensi respons balasan dari mitra dagang, serta data ekonomi yang mengecewakan bisa mendorong permintaan lebih lanjut terhadap safe haven.

Namun, kekuatan dolar dan perubahan sentimen risiko pasar tetap menjadi penghambat utama. Jika dolar terus menguat, dan tidak ada kejutan besar dari data ekonomi atau geopolitik, harga emas mungkin akan tetap terjebak dalam kisaran sempit.

Kesimpulan: Ketegangan Dagang Masih Jadi Faktor Utama

Langkah terbaru Presiden Trump untuk memberlakukan tarif impor baru menunjukkan bahwa ketegangan dagang belum mereda. Meski pasar tampak tenang secara reaksi awal, dampak kebijakan ini terhadap perekonomian global bisa cukup dalam. Bagi emas, situasi ini menciptakan dinamika yang kompleks — dorongan dari ketidakpastian geopolitik dan tekanan dari penguatan dolar.

Dengan fokus investor beralih ke data ketenagakerjaan AS dan potensi arah suku bunga The Fed, minggu ini menjadi periode penting bagi pasar logam mulia. Apakah emas akan kembali menembus rekor baru atau tetap dalam jalur konsolidasi, akan sangat bergantung pada bagaimana pasar membaca sinyal-sinyal ekonomi dan politik global yang terus berkembang.


Jangan lupa jelajahi website kami di demo bestprofit dan temukan beragam informasi menarik yang siap menginspirasi dan memberikan pengetahuan baru! Ayo, kunjungi sekarang untuk pengalaman online yang menyenangkan!


bestprofit futures
 

Wednesday, 30 July 2025

Bestprofit | Emas Tertekan Sikap Hawkish The Fed

 https://best-profit-futures-malang.com/wp-content/uploads/2023/08/Bestprofit-Emas-2.jpg

Bestprofit (31/7) – Harga emas mencatat penurunan tajam pada hari Rabu, merosot lebih dari 1,50% setelah Federal Reserve Amerika Serikat memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuannya. Keputusan tersebut, disertai dengan pernyataan hawkish dari Ketua The Fed Jerome Powell, serta dirilisnya data Produk Domestik Bruto (PDB) yang lebih kuat dari perkiraan untuk kuartal kedua 2025, menjadi kombinasi yang membebani pasar emas secara signifikan.

Pada saat artikel ini ditulis, harga emas spot (XAU/USD) berada di bawah level $3.280, setelah sempat menyentuh puncaknya di $3.334 pada awal perdagangan minggu ini.

Fed Tahan Suku Bunga, Pasar Kecewa

Keputusan The Fed untuk mempertahankan suku bunga acuan tetap pada level sebelumnya memang bukan hal yang mengejutkan, namun nuansa dari keputusan tersebut terasa lebih ketat (hawkish) dari yang diantisipasi pasar. Keputusan diambil dengan suara terbagi 9-2 di antara anggota komite kebijakan moneter, mencerminkan perbedaan pandangan internal dalam menilai arah ekonomi dan inflasi.

Pasar sebelumnya mengharapkan setidaknya ada sinyal pelonggaran kebijakan menjelang akhir tahun, khususnya pada pertemuan bulan September mendatang. Namun pernyataan Jerome Powell dalam konferensi persnya memperjelas bahwa The Fed belum melihat alasan yang cukup kuat untuk segera memangkas suku bunga.

Powell: “Pemangkasan Bunga Belum Tepat Waktu”

Dalam konferensi pers usai keputusan kebijakan, Ketua Fed Jerome Powell mengadopsi pendekatan “pertemuan demi pertemuan” dan menegaskan bahwa masih terlalu dini untuk mempertimbangkan pemangkasan suku bunga. Ia menyoroti bahwa “penerapan tarif ke harga mungkin lebih lambat dari yang diperkirakan,” menandakan kekhawatiran bahwa inflasi bisa tetap bertahan lebih lama dari ekspektasi.

Pernyataan Powell langsung berdampak pada sentimen pasar. Selera risiko memburuk, dan investor mulai melepas aset-aset lindung nilai seperti emas, yang sebelumnya mendapat dukungan dari harapan akan pelonggaran moneter.


Kunjungi juga : bestprofit futures

Emas Anjlok di Bawah $3.300, Sentimen Berbalik Arah

Reaksi pasar terhadap komentar Powell dan keputusan suku bunga sangat cepat. Harga emas langsung turun dari area $3.300 dan mencapai level terendah harian di $3.268. Penurunan ini menghapus seluruh kenaikan harga emas yang tercatat selama beberapa hari terakhir.

Kondisi ini mencerminkan bahwa investor mulai mendiskon kemungkinan pemangkasan suku bunga dalam waktu dekat dan kembali mengantisipasi suku bunga tinggi dalam waktu yang lebih lama. Dalam lingkungan suku bunga tinggi, emas yang tidak memberikan imbal hasil (yield) menjadi kurang menarik dibandingkan aset pendapatan tetap seperti obligasi pemerintah AS.

Data PDB Kuat, Tapi Ada Tanda Pelambatan

Dari sisi data makroekonomi, Departemen Perdagangan AS merilis angka PDB kuartal kedua 2025 yang mencatat pertumbuhan yang cukup solid. Namun, laporan tersebut juga menunjukkan bahwa ada pelemahan signifikan dalam konsumsi rumah tangga dan perlambatan tajam dalam investasi bisnis.

Meskipun headline PDB memberikan kesan pertumbuhan yang masih kuat, komposisi data memberikan sinyal bahwa momentum ekonomi mulai melemah. Reuters melaporkan bahwa sebagian besar ekonom memperkirakan pertumbuhan PDB tahunan sebesar 1,5% untuk 2025, di bawah proyeksi Fed sebesar 1,8%.

Ketidakpastian Ekonomi Masih Tinggi

Dalam pernyataan resmi kebijakan moneternya, The Fed menegaskan kembali bahwa “ketidakpastian tentang prospek ekonomi tetap tinggi.” Mereka juga mencatat bahwa meskipun inflasi menunjukkan tanda-tanda moderasi, tekanan harga tetap agak tinggi, dan pasar tenaga kerja tetap kuat dengan tingkat pengangguran yang rendah.

Pernyataan ini mencerminkan sikap hati-hati dari The Fed dalam menavigasi antara risiko inflasi dan perlambatan pertumbuhan. Situasi ini membuat investor lebih berhati-hati dalam mengasumsikan arah kebijakan moneter jangka pendek.

Harapan Pasar terhadap Pemangkasan Suku Bunga Menurun

Sebelum pernyataan Fed, CME FedWatch Tool menunjukkan bahwa pasar memperkirakan peluang penurunan suku bunga sebesar 25 basis poin pada pertemuan bulan September mencapai 60%. Namun, setelah pernyataan Powell dan rilis data ekonomi, probabilitas tersebut turun ke kisaran 45% hingga 60%.

Hal ini menunjukkan bahwa keyakinan pasar terhadap langkah dovish dari Fed mulai luntur, setidaknya dalam jangka pendek. Pasar kini mulai bersiap menghadapi kemungkinan bahwa suku bunga akan tetap tinggi hingga akhir 2025 atau lebih lama.

Data Ekonomi Selanjutnya Menjadi Kunci

Untuk sisa pekan ini, pelaku pasar akan mengamati sejumlah data penting yang dapat memberikan petunjuk arah kebijakan moneter The Fed selanjutnya. Di antaranya adalah:

  • Indeks Pengeluaran Konsumsi Pribadi Inti (Core PCE) – indikator inflasi yang menjadi acuan utama bagi The Fed.

  • Klaim Pengangguran Awal – memberikan gambaran tentang kondisi pasar tenaga kerja.

  • Non-Farm Payrolls (NFP) – data pekerjaan utama bulanan yang memengaruhi ekspektasi pertumbuhan dan inflasi.

  • PMI Manufaktur ISM – memberikan gambaran aktivitas sektor manufaktur AS.

Jika data inflasi dan ketenagakerjaan masih menunjukkan kekuatan, maka tekanan pada emas bisa berlanjut. Sebaliknya, jika data mulai melemah, maka ekspektasi pelonggaran kembali bisa muncul, mendukung harga emas.

Kesimpulan: Emas dalam Tekanan, Pasar Menanti Kepastian

Harga emas menghadapi tekanan ganda dari keputusan suku bunga The Fed dan sikap hawkish yang ditunjukkan oleh Ketua Fed Jerome Powell. Ditambah lagi dengan data ekonomi AS yang menunjukkan campuran kekuatan dan kelemahan, pasar saat ini berada dalam ketidakpastian yang tinggi.

Penurunan harga emas di bawah level psikologis $3.300 mencerminkan pembalikan sentimen pasar dalam jangka pendek. Meskipun prospek jangka panjang untuk emas tetap positif dalam konteks ketidakpastian global, untuk saat ini, kebijakan moneter ketat menjadi hambatan utama.

Investor dan analis kini menantikan data ekonomi berikutnya, khususnya laporan inflasi dan ketenagakerjaan, untuk menentukan apakah The Fed akan mulai mengubah sikapnya atau mempertahankan kebijakan suku bunga tinggi lebih lama.


Jangan lupa jelajahi website kami di demo bestprofit dan temukan beragam informasi menarik yang siap menginspirasi dan memberikan pengetahuan baru! Ayo, kunjungi sekarang untuk pengalaman online yang menyenangkan!


bestprofit futures
 

Tuesday, 29 July 2025

Bestprofit | Emas Stabil Menanti Keputusan FOMC

 https://best-profit-futures-malang.com/wp-content/uploads/2023/08/Bestprofit-Emas-6.jpg

Bestprofit (30/7) – Emas, sebagai salah satu aset yang sering dianggap sebagai pelindung nilai di tengah ketidakpastian ekonomi, menunjukkan stabilitas menjelang pertemuan penting Federal Open Market Committee (FOMC) yang dijadwalkan pada hari ini. Meskipun pasar secara umum memperkirakan bahwa The Federal Reserve (Fed) tidak akan melakukan perubahan terhadap suku bunga, semua mata tertuju pada apakah Ketua Fed, Jerome Powell, akan memberikan indikasi mengenai potensi penurunan suku bunga di bulan September melalui konferensi persnya.

Pertanyaan yang kini beredar di kalangan investor adalah: apakah keputusan dan pernyataan yang akan dikeluarkan oleh Powell dapat mempengaruhi harga emas? Dalam artikel ini, kita akan mengupas lebih dalam mengenai situasi ini dan dampak potensial bagi pasar emas.

Fokus Pada Keputusan FOMC dan Pernyataan Powell

FOMC adalah badan pengambil keputusan kebijakan moneter di Amerika Serikat yang mengatur tingkat suku bunga dan kebijakan lainnya. Setiap pertemuan FOMC selalu menarik perhatian investor global, karena keputusan yang diambil dapat mempengaruhi aliran investasi dan volatilitas pasar keuangan.

Berdasarkan data terbaru, pasar saat ini tidak mengharapkan adanya perubahan signifikan terhadap suku bunga acuan yang saat ini berada pada level yang cukup tinggi, yaitu antara 5% hingga 5,25%. Akan tetapi, investor dan analis lebih tertarik untuk mengetahui pandangan Ketua Fed, Jerome Powell, tentang masa depan kebijakan suku bunga, terutama dalam pertemuan FOMC kali ini.

Dovish atau Hawkish?
Salah satu kata kunci yang sering muncul dalam analisis pasar adalah “dovish” dan “hawkish.” Istilah ini mengacu pada sikap kebijakan yang diambil oleh bank sentral. “Dovish” berarti kebijakan yang lebih longgar, yang cenderung mendukung penurunan suku bunga untuk mendorong pertumbuhan ekonomi. Sebaliknya, “hawkish” berarti kebijakan yang lebih ketat, dengan fokus pada pengendalian inflasi dan cenderung mempertahankan atau bahkan menaikkan suku bunga.

Dalam hal ini, perhatian investor terfokus pada apakah Powell akan mengisyaratkan adanya perubahan arah kebijakan, terutama apakah ia akan mengadopsi nada yang lebih dovish yang bisa mengarah pada penurunan suku bunga pada bulan September. Jika hal ini terjadi, harga emas kemungkinan akan mendapat dorongan positif karena suku bunga yang lebih rendah cenderung meningkatkan daya tarik emas sebagai aset yang tidak menghasilkan bunga.


Kunjungi juga : bestprofit futures

Dampak Kebijakan Fed Terhadap Harga Emas

Kebijakan moneter Fed memiliki pengaruh langsung terhadap harga emas. Ketika Fed menaikkan suku bunga, biaya kesempatan untuk memegang emas meningkat karena investor lebih cenderung beralih ke aset yang memberikan imbal hasil lebih tinggi, seperti obligasi pemerintah. Sebaliknya, ketika Fed menurunkan suku bunga atau bahkan mempertahankan suku bunga rendah, emas menjadi lebih menarik karena tidak ada biaya peluang untuk memegangnya.

Namun, meskipun harga emas cenderung bergerak berlawanan arah dengan suku bunga, faktor-faktor lain juga dapat memengaruhi pergerakan harga logam mulia ini. Data ekonomi AS, ketidakpastian geopolitik, dan sentimen pasar global semua memainkan peran penting dalam menentukan harga emas.

Peran Data Ekonomi dalam Memengaruhi Keputusan FOMC

Selain kebijakan suku bunga, keputusan FOMC juga dipengaruhi oleh data ekonomi yang ada. Salah satu indikator utama yang sering menjadi acuan adalah tingkat inflasi. Jika inflasi tetap tinggi, Fed mungkin merasa perlu untuk tetap mempertahankan suku bunga pada level yang lebih tinggi untuk mengekang lonjakan harga. Sebaliknya, jika data inflasi menunjukkan tanda-tanda penurunan atau jika data ekonomi lainnya menunjukkan pelemahan, Fed mungkin lebih cenderung mengadopsi kebijakan yang lebih dovish.

Tantangan Ekonomi AS
Meskipun perekonomian AS menunjukkan angka pertumbuhan yang positif, ada beberapa kekhawatiran mengenai perlambatan ekonomi yang dapat mempengaruhi keputusan FOMC. Dalam beberapa bulan terakhir, pasar tenaga kerja mulai menunjukkan tanda-tanda melambat, dengan angka pengangguran yang sedikit meningkat. Selain itu, data terkait dengan sektor manufaktur dan konsumen juga dapat memberikan gambaran mengenai daya tahan ekonomi AS dalam menghadapi tekanan inflasi yang masih berlangsung.

Jika data ekonomi AS menunjukkan tanda-tanda pelemahan yang lebih signifikan, hal ini bisa memberikan sinyal bagi Fed untuk lebih berhati-hati dalam melakukan pengetatan lebih lanjut. Hal ini dapat mendukung harga emas, karena investor cenderung mencari aset yang lebih aman ketika ada ketidakpastian ekonomi.

Peran Bas Kooijman dalam Analisis Pasar

Bas Kooijman, CEO dan manajer aset di DHF Capital, menyoroti pentingnya pertemuan FOMC dan serangkaian data ekonomi AS dalam menentukan arah pergerakan harga emas. Dalam sebuah email, Kooijman mengingatkan investor untuk tetap memantau pergeseran retorika dari Fed yang cenderung dovish. Menurutnya, setiap sinyal yang mengindikasikan penurunan suku bunga yang lebih cepat dari perkiraan dapat mendukung logam mulia seperti emas.

Sebagai seorang profesional yang berpengalaman di dunia pasar keuangan, Kooijman memberikan pandangan bahwa dalam situasi ekonomi yang penuh ketidakpastian ini, investor perlu tetap waspada terhadap data ekonomi dan pernyataan yang keluar dari Fed. “Jika ada pelemahan data yang tidak terduga, atau jika retorika Fed menjadi lebih dovish, harga emas dapat memperoleh dukungan yang signifikan,” ujarnya.

Apa yang Bisa Diharapkan dari Harga Emas?

Harga emas spot saat ini sedikit berubah di level $3.326,78 per ons, yang menunjukkan adanya stabilitas sebelum keputusan FOMC diumumkan. Namun, pasar masih sangat dipengaruhi oleh sentimen terhadap kebijakan suku bunga dan data ekonomi AS. Jika Fed menegaskan bahwa mereka tidak berniat untuk menaikkan suku bunga lebih lanjut dalam waktu dekat dan memberikan sinyal mengenai potensi penurunan suku bunga, harga emas bisa mengalami lonjakan yang signifikan.

Sebaliknya, jika Powell mempertahankan nada hawkish dan menunjukkan komitmen untuk menjaga suku bunga tinggi guna mengendalikan inflasi, harga emas mungkin akan cenderung turun atau stagnan.

Kesimpulan

Stabilitas harga emas menjelang pertemuan FOMC menunjukkan ketidakpastian yang ada di pasar. Meskipun diperkirakan bahwa Fed tidak akan mengubah suku bunga pada pertemuan kali ini, perhatian investor terfokus pada komentar Ketua Fed, Jerome Powell, yang bisa memberikan gambaran lebih jelas mengenai kebijakan suku bunga di masa depan. Pergeseran retorika menjadi lebih dovish atau adanya data ekonomi yang lebih lemah dari perkiraan dapat memberikan dorongan positif bagi harga emas.

Investor harus terus memantau perkembangan data ekonomi AS dan pernyataan dari Fed, karena ini dapat menentukan arah pasar logam mulia ke depan. Dalam kondisi ekonomi yang penuh tantangan ini, emas tetap menjadi salah satu pilihan investasi yang dianggap aman bagi banyak investor yang mencari pelindung nilai terhadap ketidakpastian ekonomi global.

 


Jangan lupa jelajahi website kami di demo bestprofit dan temukan beragam informasi menarik yang siap menginspirasi dan memberikan pengetahuan baru! Ayo, kunjungi sekarang untuk pengalaman online yang menyenangkan!


bestprofit futures
 

Monday, 28 July 2025

Bestprofit | Harga Emas Tertahan Harapan Dagang

 https://best-profit-futures-malang.com/wp-content/uploads/2023/08/Bestprofit-Emas-10.jpg

Bestprofit (29/7) – Emas, salah satu aset safe haven paling populer di dunia, memulai sesi Asia dengan kecenderungan konsolidasi harga. Pergerakan ini terjadi di tengah meningkatnya optimisme terhadap kesepakatan dagang antara Amerika Serikat dan Tiongkok. Dengan pemerintahan Trump terlibat dalam negosiasi di Swedia, pelaku pasar mulai memperhitungkan potensi perbaikan hubungan dagang antara dua ekonomi terbesar dunia ini. Harapan akan tercapainya kesepakatan telah menyebabkan aliran modal sementara menjauhi emas dan berpindah ke aset yang lebih berisiko seperti ekuitas.

Negosiasi Dagang AS-Tiongkok Menciptakan Optimisme Pasar

Negosiasi antara Amerika Serikat dan Tiongkok diadakan di Swedia, dengan diskusi lanjutan yang dijadwalkan berlangsung pada hari Selasa. Langkah diplomatik ini dianggap sebagai sinyal positif bahwa kedua negara bersedia untuk mencari solusi atas sengketa dagang yang sudah berlangsung bertahun-tahun.

Pemerintahan Trump dikenal dengan pendekatan kerasnya terhadap Tiongkok dalam hal perdagangan, termasuk penerapan tarif tinggi dan pembatasan terhadap perusahaan teknologi Tiongkok. Namun, pertemuan di Swedia tampaknya menunjukkan adanya pelunakan pendekatan tersebut dan membuka peluang bagi pemulihan kepercayaan investor global.

Sentimen pasar merespons positif terhadap perkembangan ini, tercermin dari penguatan indeks saham global dan pelemahan aset-aset safe haven termasuk emas. Para investor mulai mengalihkan dana mereka dari aset pelindung ke instrumen yang menawarkan imbal hasil lebih tinggi di tengah suasana pasar yang lebih kondusif.

Dampak Optimisme Dagang terhadap Harga Emas

Linh Tran, analis pasar dari perusahaan perdagangan global XS.com, menyatakan bahwa gelombang optimisme perdagangan ini telah menyebabkan arus keluar modal dari emas ke aset berisiko. Dalam sebuah email, ia menjelaskan bahwa emas kehilangan sebagian momentumnya karena pasar lebih memilih aset yang menunjukkan potensi pertumbuhan lebih besar.

“Dalam jangka pendek, harga emas tertekan oleh ekspektasi perbaikan hubungan dagang. Investor yang sebelumnya mencari perlindungan di emas kini mulai kembali ke pasar saham,” kata Linh.

Harga emas spot tercatat sedikit berubah pada level $3.312,54 per ounce. Ini menunjukkan bahwa meskipun ada tekanan, emas masih mempertahankan sebagian besar keuntungannya dari reli sebelumnya. Harga yang stabil ini juga mencerminkan adanya ketidakpastian di kalangan investor: apakah negosiasi ini akan menghasilkan kesepakatan konkret atau hanya menjadi manuver politik sementara?


Kunjungi juga : bestprofit futures

Emas sebagai Safe Haven: Relevansi dalam Lanskap Baru

Emas telah lama dianggap sebagai aset pelindung terhadap ketidakpastian geopolitik dan ekonomi. Ketika terjadi ketegangan dagang, konflik militer, atau gejolak keuangan, investor cenderung membeli emas untuk menjaga nilai kekayaan mereka. Namun, dalam konteks saat ini di mana dialog antara AS dan Tiongkok mulai menunjukkan titik terang, daya tarik emas sedikit memudar.

Namun demikian, bukan berarti peran emas sepenuhnya hilang. Banyak analis percaya bahwa emas masih menyimpan potensi kenaikan dalam jangka menengah hingga panjang. Ketidakpastian makroekonomi global belum benar-benar sirna. Masalah seperti inflasi yang tetap tinggi, perlambatan ekonomi Tiongkok, dan ketegangan geopolitik di beberapa wilayah dunia masih bisa mendorong permintaan emas kembali meningkat.

Kinerja Teknis: Konsolidasi di Level Kritis

Secara teknikal, emas saat ini berada dalam fase konsolidasi. Harga mendekati level $3.312 per ounce, sebuah titik resistensi minor yang telah diuji beberapa kali dalam sebulan terakhir. Konsolidasi ini menandakan bahwa pasar sedang menunggu katalis baru sebelum mengambil arah yang lebih tegas, baik naik maupun turun.

Jika negosiasi dagang menghasilkan kesepakatan konkret, harga emas kemungkinan akan mengalami koreksi lebih lanjut. Namun, jika pembicaraan gagal atau muncul isu baru yang mengguncang pasar, emas bisa dengan cepat kembali menguat karena perannya sebagai aset pelindung tetap relevan.

Analis teknikal menyarankan untuk memperhatikan level support di sekitar $3.280 dan resistance di $3.350. Breakout dari salah satu level ini bisa memberi sinyal arah pergerakan harga selanjutnya.

Sentimen Pasar Global: Campuran Optimisme dan Kewaspadaan

Meski pasar saham menunjukkan reli mini dalam beberapa sesi terakhir, sentimen global tetap dibayangi oleh kehati-hatian. Banyak investor institusi memilih untuk menjaga posisi mereka agar tetap fleksibel, mengingat masih adanya ketidakpastian mengenai arah kebijakan suku bunga bank sentral, khususnya The Federal Reserve.

The Fed sendiri belum memberikan sinyal yang jelas mengenai kapan akan menurunkan suku bunga. Selama inflasi tetap di atas target dan pasar tenaga kerja menunjukkan kekuatan, kemungkinan penurunan suku bunga masih tertunda. Situasi ini bisa memperkuat dolar AS dan menambah tekanan pada harga emas dalam jangka pendek.

Namun jika data ekonomi menunjukkan pelemahan yang signifikan, maka ekspektasi pelonggaran moneter bisa kembali meningkat, yang biasanya akan menjadi katalis positif bagi emas.

Strategi Investor: Tetap Diversifikasi Portofolio

Dalam menghadapi situasi yang penuh ketidakpastian ini, para analis menyarankan agar investor tetap mempertahankan diversifikasi portofolio. Meskipun aset berisiko tengah menikmati kenaikan harga, menjaga eksposur terhadap emas tetap penting sebagai bentuk lindung nilai.

Investor ritel dan institusional dapat mempertimbangkan untuk menggunakan instrumen seperti ETF emas, kontrak berjangka, atau bahkan kepemilikan fisik sebagai bagian dari strategi diversifikasi. Emas tidak hanya berfungsi sebagai pelindung nilai terhadap inflasi, tetapi juga sebagai penyeimbang saat terjadi guncangan pasar.

Kesimpulan: Emas Tetap Penting Meski Tertekan Sementara

Harga emas mungkin mengalami tekanan dalam jangka pendek akibat harapan tercapainya kesepakatan dagang antara Amerika Serikat dan Tiongkok. Namun, peran emas sebagai aset safe haven belum sepenuhnya pudar. Optimisme pasar bisa berubah dengan cepat tergantung pada hasil nyata dari negosiasi dan arah kebijakan ekonomi global.

Dengan kondisi teknikal yang menunjukkan konsolidasi dan sentimen pasar yang fluktuatif, investor disarankan untuk tetap waspada dan tidak mengabaikan emas sebagai bagian penting dari strategi investasi jangka panjang mereka. Dalam dunia yang terus berubah, emas tetap menjadi salah satu instrumen paling stabil dalam menjaga nilai dan ketahanan portofolio.


Jangan lupa jelajahi website kami di demo bestprofit dan temukan beragam informasi menarik yang siap menginspirasi dan memberikan pengetahuan baru! Ayo, kunjungi sekarang untuk pengalaman online yang menyenangkan!


bestprofit futures
 

Sunday, 27 July 2025

Bestprofit | Emas Melemah, Sentimen Dagang Positif

 https://best-profit-futures-malang.com/wp-content/uploads/2023/08/Bestprofit-Emas-5.jpeg

Bestprofit (28/7) – Harga emas melemah tajam pada hari Jumat seiring dengan penguatan dolar AS dan meningkatnya optimisme pasar terhadap kemajuan dalam negosiasi perdagangan antara Amerika Serikat dan Uni Eropa. Kedua faktor tersebut menekan daya tarik emas sebagai aset safe haven, yang biasanya diminati di tengah ketidakpastian ekonomi atau geopolitik.

Harga Emas Spot dan Berjangka Turun Tajam

Harga emas spot tercatat turun 0,9% menjadi $3.336,01 per ons pada pukul 14.01 ET (18.01 GMT). Sementara itu, emas berjangka Amerika Serikat ditutup melemah lebih tajam sebesar 1,1% menjadi $3.335,60. Penurunan ini menandai pelemahan harian yang signifikan bagi logam mulia tersebut, yang sebelumnya sempat mengalami kenaikan karena ketidakpastian ekonomi global.

Penurunan harga emas kali ini terutama dipicu oleh penguatan indeks dolar AS, yang naik setelah sebelumnya menyentuh titik terendah dalam lebih dari dua minggu. Ketika dolar menguat, harga emas yang dihitung dalam dolar menjadi lebih mahal bagi pembeli luar negeri, sehingga menekan permintaan global.

Dolar AS Menguat, Selera Risiko Meningkat

Kenaikan dolar AS mencerminkan pergeseran sentimen investor yang mulai meninggalkan aset-aset safe haven seperti emas dan beralih ke aset berisiko seperti saham. Menurut Peter Grant, Wakil Presiden sekaligus ahli strategi logam senior di Zaner Metals, investor kini melihat harapan atas perbaikan hubungan dagang internasional, terutama antara AS dan Uni Eropa.

“Kesepakatan Jepang itu signifikan, dan ada harapan untuk kesepakatan AS-Uni Eropa sebelum batas waktu 1 Agustus. Hal itu mengurangi permintaan aset safe haven karena meningkatnya selera risiko mendorong modal beralih ke aset berisiko,” jelas Grant.

Harapan ini muncul setelah tercapainya kesepakatan dagang antara AS dan Jepang di awal pekan. Selain itu, Komisi Eropa menyampaikan bahwa pembicaraan perdagangan dengan AS sudah mendekati tahap akhir, meskipun Uni Eropa tetap bersiap dengan tarif balasan jika kesepakatan gagal dicapai.


Kunjungi juga : bestprofit futures

Stabilitas Pasar Tenaga Kerja AS Tekan Emas

Dari sisi data ekonomi, laporan terbaru menunjukkan bahwa klaim pengangguran di Amerika Serikat turun ke level terendah dalam tiga bulan terakhir. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun perekrutan belum menunjukkan lonjakan besar, pasar tenaga kerja tetap stabil dan kuat. Data ini memperkuat ekspektasi bahwa Federal Reserve akan mempertahankan suku bunga acuan di kisaran 4,25% hingga 4,50% dalam pertemuan mereka minggu depan.

Stabilitas pasar tenaga kerja biasanya menjadi sinyal positif bagi pasar saham dan aset berisiko, tetapi menjadi tekanan tambahan bagi harga emas. Ini karena suku bunga tinggi cenderung menekan harga emas, yang tidak memberikan imbal hasil bunga.

Namun, di sisi lain, data inflasi yang menunjukkan peningkatan akibat tarif impor yang diberlakukan Presiden Donald Trump menciptakan kekhawatiran tersendiri. Jika inflasi terus meningkat, tekanan terhadap daya beli masyarakat bisa bertambah dan menciptakan ketidakpastian ekonomi jangka panjang.

Tekanan Politik terhadap The Fed Meningkat

Presiden Trump kembali menyoroti kebijakan moneter Federal Reserve. Dalam sebuah kunjungan mendadak ke bank sentral, Trump dikabarkan menekan Ketua The Fed Jerome Powell untuk segera menurunkan suku bunga. Langkah ini mencerminkan keinginan pemerintah untuk menjaga pertumbuhan ekonomi, terutama menjelang masa kampanye pemilu.

Menurut Peter Grant, situasi ini bisa membuka peluang bagi emas untuk kembali diminati, terutama jika The Fed memberikan sinyal dovish atau bahkan menurunkan suku bunga pada akhir tahun. “Emas mungkin menarik minat beli di level $3.300, tetapi mungkin tidak akan mencapai level tertinggi baru sepanjang masa hingga setelah keputusan The Fed,” ujar Grant.

Emas secara historis menunjukkan performa yang baik dalam lingkungan dengan suku bunga rendah dan ketidakpastian ekonomi, karena investor mencari lindung nilai terhadap inflasi dan potensi penurunan nilai mata uang.

Performa Logam Mulia Lain Juga Menurun

Tak hanya emas, logam mulia lain juga mencatatkan penurunan harga. Harga perak spot turun signifikan sebesar 2,3% menjadi $38,2 per ons. Meskipun demikian, perak masih berada di jalur kenaikan mingguan karena sebelumnya mencatatkan penguatan.

Sementara itu, harga platinum juga turun 0,9% menjadi $1.395,31 per ons. Paladium mengalami penurunan serupa sebesar 0,7% menjadi $1.219,07. Kedua logam tersebut tercatat mengalami pelemahan sepanjang minggu ini, seiring dengan berkurangnya minat investor terhadap komoditas safe haven secara umum.

Outlook Pasar: Ketidakpastian Masih Membayangi

Meskipun harga emas mengalami tekanan jangka pendek akibat faktor eksternal seperti penguatan dolar dan optimisme pasar terhadap negosiasi dagang, ketidakpastian global tetap menjadi faktor pendukung harga emas dalam jangka menengah hingga panjang.

Masalah geopolitik, kemungkinan kebijakan moneter longgar dari The Fed, dan ancaman inflasi global tetap berpotensi mendorong permintaan terhadap emas di masa mendatang. Selain itu, ancaman kebijakan tarif balasan antara AS dan mitra dagangnya bisa kembali meningkatkan ketidakpastian dan mendorong investor mencari perlindungan pada aset safe haven.

Peter Grant menyebut bahwa meskipun saat ini harga emas menghadapi tekanan teknikal dan fundamental, ada potensi untuk rebound jika ketegangan perdagangan meningkat kembali atau The Fed memberi sinyal pelonggaran kebijakan yang lebih agresif.

Kesimpulan: Harga Emas Terkoreksi, Tapi Tetap Menjadi Fokus Investor

Penurunan harga emas pada hari Jumat menjadi cerminan dinamika pasar global yang dipengaruhi oleh kebijakan ekonomi, perkembangan geopolitik, dan reaksi investor terhadap data ekonomi. Penguatan dolar dan optimisme terhadap perjanjian perdagangan AS-Uni Eropa menjadi pemicu utama pelemahan harga emas kali ini.

Meski demikian, ketidakpastian makroekonomi masih membayangi, dan potensi perubahan arah kebijakan moneter dari Federal Reserve tetap menjadi faktor penting yang akan mempengaruhi harga emas dalam waktu dekat.

Investor di pasar logam mulia disarankan untuk tetap waspada terhadap sinyal dari The Fed, perkembangan inflasi, serta arah negosiasi dagang global, karena semua faktor tersebut dapat dengan cepat mengubah sentimen pasar terhadap emas dan logam mulia lainnya.

 
Jangan lupa jelajahi website kami di demo bestprofit dan temukan beragam informasi menarik yang siap menginspirasi dan memberikan pengetahuan baru! Ayo, kunjungi sekarang untuk pengalaman online yang menyenangkan!


bestprofit futures

Thursday, 24 July 2025

Bestprofit | Emas Melemah, Optimisme Perdagangan Meningkat

 https://best-profit-futures-malang.com/wp-content/uploads/2024/07/c1_20240630_04500512-768x383-1.jpeg

Bestprofit (25/7) – Pada hari Kamis (25 Juli), harga emas mengalami penurunan untuk sesi kedua berturut-turut. Penurunan ini terjadi di tengah tanda-tanda meredanya ketegangan perdagangan global yang pada gilirannya mengurangi permintaan terhadap aset safe haven seperti emas. Harga emas spot tercatat turun 0,5%, mencapai $3.370,69 per ons pada pukul 13.45 ET (17.45 GMT), sedangkan harga emas berjangka AS ditutup lebih rendah 0,7%, yakni di $3.373,5.

Keputusan pasar yang optimistis terhadap perjanjian perdagangan antara AS dan negara-negara lain, terutama Jepang dan Uni Eropa, berperan besar dalam penurunan ini. Hal ini diperparah oleh sentimen positif yang mengarah pada penguatan ekuitas dan volatilitas yang lebih rendah, yang membuat daya tarik emas sebagai instrumen investasi menurun.

Faktor Utama Penyebab Penurunan Harga Emas

1. Meredanya Ketegangan Perdagangan Global

Harga emas cenderung menguat saat ada ketegangan atau ketidakpastian ekonomi dan politik. Namun, dengan adanya tanda-tanda meredanya ketegangan perdagangan global, permintaan terhadap emas sebagai aset safe haven menurun. Pasar menganggap adanya kemungkinan tercapainya kesepakatan perdagangan yang lebih luas, seperti antara AS dengan Jepang dan Uni Eropa, sebagai indikator berkurangnya risiko global.

Aakash Doshi, seorang analis dari State Street Investment Management, menjelaskan bahwa optimisme pasar terhadap kemungkinan tercapainya kesepakatan perdagangan dengan AS dan Jepang, serta potensi perjanjian dengan Uni Eropa, membuat investor lebih tertarik pada aset-aset yang lebih berisiko, seperti saham. Hal ini secara langsung mengurangi permintaan terhadap emas.


Kunjungi juga : bestprofit futures

2. Kekuatan Ekuitas dan Volatilitas yang Rendah

Selain faktor perdagangan, faktor lain yang juga berkontribusi pada penurunan harga emas adalah kekuatan pasar ekuitas dan volatilitas yang rendah. Saat pasar saham berada dalam kondisi yang positif dan stabil, investor lebih cenderung untuk menanamkan dananya di instrumen investasi berisiko lebih tinggi, seperti saham, dibandingkan dengan emas yang dikenal sebagai instrumen pelindung nilai.

Selain itu, volatilitas yang rendah di pasar juga mengurangi daya tarik emas, yang lebih sering digunakan sebagai pelindung nilai saat terjadi ketidakpastian ekonomi atau geopolitis. Tanpa adanya ancaman signifikan yang dapat mengguncang pasar, harga emas tidak mampu mempertahankan level tertingginya.

Kemajuan Kesepakatan Perdagangan AS dan Uni Eropa

Salah satu faktor yang memperburuk sentimen pasar terhadap emas adalah kemajuan yang signifikan dalam negosiasi kesepakatan perdagangan antara AS dan Uni Eropa. Pemerintah AS tengah mempersiapkan perjanjian yang berpotensi mengurangi tarif impor barang-barang dari Uni Eropa. Tarik menarik mengenai tarif tersebut, yang diperkirakan akan dikenakan 15% untuk beberapa barang dari Uni Eropa, juga mencakup potensi pengecualian, memberikan optimisme baru terhadap kondisi perdagangan global.

Menurut Doshi, perkembangan positif ini, terutama dengan adanya perjanjian dengan Jepang yang baru saja diumumkan, mengurangi ketegangan perdagangan yang sebelumnya membebani sentimen pasar. Dalam kondisi ini, emas kehilangan daya tariknya karena perasaan pasar yang lebih optimis terhadap potensi kesepakatan perdagangan yang dapat mendukung pertumbuhan ekonomi global.

Kunjungan Presiden Trump ke Federal Reserve: Mengancam Indepedensi Bank Sentral?

Langkah mengejutkan Presiden AS Donald Trump untuk mengunjungi Federal Reserve (Fed) juga menjadi faktor yang menambah ketidakpastian pada prospek kebijakan ekonomi AS. Selama beberapa waktu terakhir, Trump secara terbuka mengkritik Ketua Fed Jerome Powell karena tidak memangkas suku bunga lebih agresif untuk mendukung perekonomian. Jika Trump terus mendesak Fed untuk menurunkan suku bunga lebih lanjut, ini bisa menciptakan ketidakpastian di pasar.

Meskipun demikian, langkah semacam itu juga dapat mendukung harga emas dalam jangka menengah hingga panjang. Doshi menambahkan bahwa potensi intervensi terhadap independensi Fed, jika terjadi, akan memberikan sentimen yang lebih mendukung terhadap emas. Sebagai aset safe haven, emas cenderung menguntungkan ketika kebijakan moneter tidak stabil atau independensi bank sentral dipertanyakan.

Suku Bunga dan Proyeksi Penurunan Suku Bunga oleh The Fed

Meskipun ada perkembangan positif dalam kesepakatan perdagangan dan pasar ekuitas yang kuat, banyak investor masih memperhatikan langkah The Fed terkait suku bunga. Saat ini, pasar memperkirakan bahwa Fed akan mempertahankan suku bunga pada pertemuan mendatang yang dijadwalkan pada 29-30 Juli. Namun, pasar terus memperhitungkan kemungkinan penurunan suku bunga pada bulan September.

Dalam kondisi suku bunga rendah, emas cenderung memiliki daya tarik lebih besar. Sebab, suku bunga yang lebih rendah membuat biaya peluang untuk memegang emas lebih murah, sementara return dari instrumen investasi lainnya menjadi lebih rendah. Oleh karena itu, meskipun ada optimisme terkait perdagangan dan pasar saham yang kuat, prospek suku bunga yang rendah tetap memberikan dukungan bagi harga emas dalam jangka panjang.

Data Tenaga Kerja AS: Klaim Pengangguran yang Menurun

Di sisi lain, data pasar tenaga kerja AS juga memberikan gambaran yang menarik. Klaim pengangguran AS mengalami penurunan yang tak terduga minggu lalu, yang menunjukkan bahwa pasar tenaga kerja AS tetap stabil meskipun ada perlambatan dalam perekrutan. Meskipun penurunan klaim pengangguran mencerminkan kondisi pasar kerja yang kuat, perbaikan yang lebih lambat dalam penciptaan lapangan kerja bisa menambah tantangan bagi individu yang sedang mencari pekerjaan.

Dalam konteks ini, emas sebagai aset safe haven tetap relevan dalam menghadapi ketidakpastian ekonomi. Meski harga emas turun saat ini, potensi risiko jangka panjang seperti ketidakstabilan pasar tenaga kerja atau masalah ekonomi lainnya tetap menjadi pendorong utama untuk permintaan emas di masa depan.

Pergerakan Harga Logam Lain: Perak, Paladium, dan Platinum

Selain emas, harga logam mulia lainnya juga mengalami penurunan. Harga perak spot turun 0,7%, menjadi $39,02 per ons. Paladium, yang sempat menunjukkan performa yang mengesankan pada awal tahun, juga turun 3,5% menjadi $1.234 per ons. Sementara itu, harga platinum turun 0,5% menjadi $1.405,15 per ons.

Penurunan harga logam-logam ini mencerminkan dampak sentimen positif terhadap pasar yang lebih berisiko, yang mengurangi minat terhadap logam mulia sebagai pelindung nilai. Ini sejalan dengan tren harga emas yang turun, di mana logam mulia lainnya juga merasakan dampak dari pergerakan pasar yang optimistis.

Kesimpulan: Proyeksi Harga Emas ke Depan

Meskipun harga emas mengalami penurunan pada hari Kamis, faktor-faktor yang mempengaruhi harga emas sangat dinamis. Kemajuan kesepakatan perdagangan global, potensi penurunan suku bunga, dan kondisi pasar tenaga kerja AS merupakan faktor yang akan terus mempengaruhi pergerakan harga emas.

Secara keseluruhan, meskipun emas mungkin tidak mengalami lonjakan harga dalam waktu dekat, ketidakpastian ekonomi dan kebijakan moneter yang lebih longgar dari The Fed tetap menjadi faktor pendukung bagi emas. Investor yang mencari perlindungan nilai terhadap ketidakpastian ekonomi kemungkinan akan terus melihat emas sebagai instrumen investasi yang relevan di masa depan.


Jangan lupa jelajahi website kami di demo bestprofit dan temukan beragam informasi menarik yang siap menginspirasi dan memberikan pengetahuan baru! Ayo, kunjungi sekarang untuk pengalaman online yang menyenangkan!


bestprofit futures
 

Wednesday, 23 July 2025

Bestprofit | Emas Tertekan Isu Tarif AS-Uni Eropa

 https://best-profit-futures-malang.com/wp-content/uploads/2023/08/Bestprofit-Emas-13.jpg

Bestprofit (24/7) – Harga emas mengalami tekanan pada hari Rabu (23/7) setelah muncul laporan bahwa Amerika Serikat dan Uni Eropa hampir mencapai kesepakatan tarif sebesar 15%. Kabar ini memperkuat selera risiko di pasar keuangan dan mengurangi daya tarik emas sebagai aset safe haven. Sementara itu, harga perak sempat melonjak ke level tertinggi sejak September 2011 sebelum berbalik melemah.

Penurunan Harga Emas Spot dan Berjangka

Harga emas spot turun sebesar 1,1% menjadi $3.394,64 per ons pada pukul 14.33 ET (18.33 GMT). Penurunan ini terjadi setelah logam mulia tersebut sempat menyentuh titik tertinggi sejak 16 Juni sebelumnya. Di sisi lain, harga emas berjangka Amerika Serikat juga mencatat penurunan sebesar 1,3% dan ditutup pada level $3.397,60 per ons.

Menurut Bart Melek, Kepala Strategi Komoditas di TD Securities, “Kita melihat adanya perkembangan positif dalam negosiasi perdagangan antara AS dengan Jepang dan juga Uni Eropa. Artinya, tidak akan ada tarif balasan besar dari Eropa, dan ini telah mendorong selera risiko di pasar. Pasar ekuitas pun menunjukkan performa yang cukup baik.”

Dampak Kesepakatan Tarif terhadap Pasar

Kesepakatan tarif antara AS dan Uni Eropa yang diusulkan mencakup tarif sebesar 15% terhadap barang-barang Eropa yang diimpor ke Amerika Serikat. Dua diplomat mengungkapkan bahwa kedua belah pihak semakin dekat menuju persetujuan, mencerminkan perbaikan dalam hubungan dagang transatlantik yang selama ini tegang.

Bersamaan dengan itu, Presiden AS Donald Trump juga mencapai kesepakatan dagang dengan Jepang terkait penurunan tarif impor otomotif. Kedua perjanjian ini menjadi sinyal positif bahwa ketegangan perdagangan global bisa mereda, dan ini secara langsung mengurangi minat investor terhadap aset lindung nilai seperti emas.


Kunjungi juga : bestprofit futures

Emas sebagai Aset Safe Haven

Emas tradisionalnya dianggap sebagai tempat yang aman bagi investor saat ketidakpastian ekonomi atau geopolitik meningkat. Namun, ketika situasi membaik dan risiko perdagangan menurun, investor cenderung beralih ke aset berisiko seperti saham untuk mengejar imbal hasil yang lebih tinggi.

Kondisi suku bunga juga memengaruhi harga emas. Di lingkungan dengan suku bunga rendah, biaya peluang untuk memegang emas yang tidak memberikan imbal hasil menjadi lebih rendah, sehingga menarik bagi investor. Namun, saat ini, pasar tidak memperkirakan adanya pemangkasan suku bunga oleh Federal Reserve pada bulan Juli. Hal ini juga menekan daya tarik emas.

Lebih jauh, independensi The Fed tampaknya mulai terancam oleh campur tangan politik, menurut survei terbaru dari Reuters terhadap para ekonom. Ketidakpastian seputar arah kebijakan moneter jangka menengah juga menciptakan keraguan tambahan di pasar logam mulia.

Kinerja Logam Mulia Lainnya

Selain emas, logam mulia lainnya juga menunjukkan pergerakan harga yang signifikan. Perak spot sempat menyentuh level tertinggi dalam hampir 14 tahun pada awal sesi perdagangan, yaitu di atas $39, sebelum akhirnya melemah tipis 0,1% menjadi $39,24 per ons.

Alexander Zumpfe, seorang pedagang logam mulia di Heraeus Metals Jerman, menjelaskan bahwa reli perak baru-baru ini didorong oleh beberapa faktor. “Kombinasi dari permintaan industri yang kuat, defisit pasokan yang terus berlanjut, dan meningkatnya minat investor menjadi pendorong utama lonjakan harga perak,” ujarnya.

Menurut Zumpfe, dorongan untuk melewati batas psikologis $40 per ons bisa datang dari sejumlah faktor seperti penguatan harga emas lebih lanjut, pelemahan dolar AS, atau bukti semakin ketatnya pasokan logam mulia di pasar global, terutama jika premi fisik di pasar-pasar utama Asia mulai meningkat lagi.

Sementara itu, logam lain seperti platinum dan paladium juga mencatat penurunan. Platinum merosot 2,1% menjadi $1.411,63 per ons, sementara paladium melemah 0,2% menjadi $1.271,98.

Prospek Jangka Pendek dan Risiko Pasar

Meskipun harga emas mengalami penurunan, beberapa analis masih melihat potensi rebound dalam jangka pendek jika ketidakpastian kembali meningkat. Beberapa risiko yang bisa menghidupkan kembali minat terhadap aset safe haven termasuk ketegangan geopolitik di Asia Timur, ketidakpastian politik dalam negeri AS menjelang pemilu, atau data ekonomi yang lebih lemah dari perkiraan.

Selain itu, pelaku pasar juga akan terus mencermati arah kebijakan moneter Federal Reserve. Jika The Fed memberikan sinyal dovish atau bahkan mempertimbangkan pemangkasan suku bunga di masa depan, maka harga emas bisa kembali menguat.

Namun demikian, selama narasi pemulihan perdagangan global dan sentimen risiko yang tinggi terus mendominasi pasar, tekanan terhadap harga emas kemungkinan masih akan berlanjut.

Perak: Bintang Baru di Tengah Ketidakpastian?

Dibandingkan emas, perak menunjukkan performa yang lebih tangguh dalam beberapa pekan terakhir. Selain sebagai logam mulia, perak juga digunakan secara luas dalam industri, termasuk dalam produksi panel surya, peralatan elektronik, dan kendaraan listrik. Peningkatan permintaan industri yang signifikan mendorong kenaikan harga perak secara lebih agresif.

Defisit pasokan global juga menjadi masalah yang belum terselesaikan dalam pasar perak. Produksi tambang yang stagnan tidak mampu mengejar lonjakan permintaan, terutama dari sektor energi terbarukan.

Dengan semakin banyak investor institusional yang mulai melirik perak sebagai alternatif diversifikasi dari emas, momentum kenaikan perak bisa saja berlanjut dalam beberapa bulan mendatang, terutama jika pelemahan dolar AS berlanjut.

Kesimpulan

Penurunan harga emas pada Rabu (23/7) mencerminkan perubahan sentimen pasar yang mulai meninggalkan aset safe haven dan kembali pada aset berisiko menyusul perkembangan positif dalam negosiasi perdagangan global. Kesepakatan tarif antara AS dan Uni Eropa serta perjanjian dagang dengan Jepang telah mendorong pasar saham dan menekan logam mulia.

Namun, kondisi pasar tetap dinamis. Ancaman dari ketegangan geopolitik, ketidakpastian kebijakan moneter, dan ketidakstabilan politik bisa sewaktu-waktu mengembalikan daya tarik emas. Sementara itu, perak mulai mencuri perhatian investor berkat fundamental industri yang kuat dan tekanan pasokan yang kronis.

Dengan berbagai faktor yang saling bertentangan ini, pelaku pasar perlu terus memantau perkembangan global untuk menentukan arah selanjutnya dari harga logam mulia, terutama emas dan perak.


Jangan lupa jelajahi website kami di demo bestprofit dan temukan beragam informasi menarik yang siap menginspirasi dan memberikan pengetahuan baru! Ayo, kunjungi sekarang untuk pengalaman online yang menyenangkan!


bestprofit futures
 

Tuesday, 22 July 2025

Bestprofit | Emas Sentuh Puncak 5 Minggu

 https://best-profit-futures-malang.com/wp-content/uploads/2023/08/Bestprofit-Emas-3.jpeg

Bestprofit (23/7) – Harga emas dunia melonjak ke level tertinggi dalam lima minggu pada hari Selasa (22/7), didorong oleh meningkatnya ketidakpastian global terkait perdagangan dan pelemahan imbal hasil obligasi Amerika Serikat. Di tengah tensi geopolitik dan kebijakan moneter yang tidak menentu, investor global berbondong-bondong memburu aset safe haven seperti emas.

Emas Spot dan Berjangka Mencetak Kenaikan Signifikan

Emas spot tercatat naik 1% menjadi $3.428,84 per ons pada pukul 14.10 waktu ET (18.10 GMT), menyentuh posisi tertinggi sejak 16 Juni 2025. Sementara itu, emas berjangka AS menguat 1,1% dan mencapai $3.443,70 per ons. Lonjakan harga ini mencerminkan meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap ketidakstabilan global, terutama menjelang tenggat waktu tarif baru dari Presiden AS Donald Trump pada 1 Agustus mendatang.

Salah satu faktor utama yang mendukung kenaikan harga emas adalah turunnya imbal hasil obligasi pemerintah AS, khususnya untuk tenor 10 tahun, yang mencapai level terendah dalam hampir dua minggu. Penurunan imbal hasil ini menurunkan opportunity cost untuk memegang emas, yang tidak memberikan bunga atau imbal hasil tetap.

Ketidakpastian Perdagangan Jadi Katalis Utama

Pasar global tengah diguncang oleh serangkaian ketidakpastian perdagangan yang melibatkan Amerika Serikat, Tiongkok, dan Uni Eropa. Pemerintah AS, melalui Menteri Keuangan Scott Bessent, menyatakan akan bertemu dengan mitra dagangnya dari Tiongkok minggu depan, serta menyampaikan kemungkinan perpanjangan batas waktu tarif hingga 12 Agustus.

“Ketidakpastian perdagangan mendorong permintaan aset safe haven. AS sedang menggodok beberapa kesepakatan perdagangan dan ada rumor bahwa Uni Eropa dan AS mungkin tidak akan mencapai kesepakatan atau bahkan belum mendekati kesepakatan,” ujar Jim Wyckoff, analis senior di Kitco Metals.

Di sisi lain, para diplomat Uni Eropa mengisyaratkan bahwa blok tersebut mempertimbangkan langkah balasan terhadap AS seiring prospek kesepakatan perdagangan yang kian menipis. Hal ini memperparah kekhawatiran akan potensi eskalasi perang dagang global, yang berdampak negatif pada ekonomi dunia namun positif untuk harga emas.


Kunjungi juga : bestprofit futures

Tekanan Terhadap The Fed Tambah Ketegangan

Selain kekhawatiran perdagangan, sorotan juga tertuju pada kebijakan moneter AS. Para investor tengah menanti pertemuan Federal Reserve minggu depan, yang meski diperkirakan tidak akan mengubah suku bunga saat ini, tetap dinilai penting karena dapat memberikan sinyal mengenai arah kebijakan moneter ke depan.

Ketua The Fed, Jerome Powell, mendapat tekanan dari Presiden Trump untuk menurunkan suku bunga guna mendorong pertumbuhan ekonomi. Namun demikian, Wakil Ketua The Fed, Michelle Bowman, menegaskan pentingnya independensi bank sentral, menyiratkan bahwa tekanan politik tidak akan serta merta mengubah sikap lembaga tersebut.

Suku bunga yang rendah umumnya mendukung harga emas karena menurunkan biaya peluang untuk memegang aset yang tidak menghasilkan bunga. Oleh karena itu, kemungkinan penurunan suku bunga di bulan Oktober, seperti yang diperkirakan sebagian analis, menjadi faktor tambahan yang menopang harga emas.

Analisis Teknikal dan Sentimen Pasar

Menurut Jigar Trivedi, analis komoditas senior di Reliance Securities, sentimen pasar terhadap emas masih cenderung bullish. “Resistensi yang kuat terlihat di dekat $3.420. Di sisi lain, $3.350 merupakan level support,” ujarnya. Ini menunjukkan bahwa selama harga emas bertahan di atas level support tersebut, tren naik masih mungkin berlanjut dalam waktu dekat.

Selain itu, lonjakan emas juga menjadi bukti bahwa pasar tengah memasuki fase risk-off, di mana investor menghindari aset berisiko seperti saham dan memilih instrumen yang lebih aman. Aksi ini dapat dilihat dari meningkatnya permintaan emas batangan dan dana yang diperdagangkan di bursa (ETF) berbasis emas.

Pasar Logam Mulia Lain Mengikuti Tren Emas

Kenaikan harga emas juga diikuti oleh logam mulia lainnya. Perak spot naik 0,6% menjadi $39,16 per ons, paladium naik 1,4% menjadi $1.282,82 per ons, sementara platinum justru turun 0,5% ke level $1.431,64. Pergerakan ini mencerminkan dinamika permintaan terhadap logam industri dan logam mulia sebagai alternatif investasi.

Perak, yang juga memiliki fungsi sebagai logam industri, mendapat dorongan tambahan dari spekulasi pemulihan manufaktur global. Sementara paladium yang digunakan dalam industri otomotif mendapatkan dukungan dari harapan meningkatnya permintaan kendaraan ramah lingkungan di tengah upaya global untuk mengurangi emisi.

Kesimpulan: Emas Masih Jadi Pilihan Utama Saat Ketidakpastian Meningkat

Dengan berbagai tekanan global, mulai dari tensi perdagangan, dinamika suku bunga, hingga ketidakpastian kebijakan fiskal dan moneter, emas sekali lagi menunjukkan fungsinya sebagai lindung nilai (hedge) yang efektif. Dalam situasi seperti sekarang, ketika tidak ada jaminan kestabilan dari otoritas keuangan maupun dari politik internasional, emas menjadi tempat berlindung yang aman bagi investor.

Potensi perpanjangan tenggat tarif AS terhadap Tiongkok, peringatan dari Uni Eropa tentang kemungkinan retaliasi, dan pengaruh kebijakan Federal Reserve terhadap suku bunga menjadi tiga faktor utama yang akan terus dipantau pelaku pasar dalam beberapa minggu ke depan.

Apabila tekanan geopolitik dan ekonomi terus meningkat, bukan tidak mungkin harga emas akan menembus level resistensi berikutnya dan mencatatkan rekor baru dalam tahun ini. Sebaliknya, jika ketegangan mereda dan The Fed tetap hawkish, harga emas mungkin akan terkoreksi ke level support di kisaran $3.350.


Jangan lupa jelajahi website kami di demo bestprofit dan temukan beragam informasi menarik yang siap menginspirasi dan memberikan pengetahuan baru! Ayo, kunjungi sekarang untuk pengalaman online yang menyenangkan!


bestprofit futures
 

Monday, 21 July 2025

Bestprofit | Powell Diselidiki, Dolar Melemah

 https://best-profit-futures-malang.com/wp-content/uploads/2023/08/Dolar-4.webp

Bestprofit (22/7) – Dolar Amerika Serikat (USD) memulai pekan ini dengan catatan negatif, melemah terhadap mayoritas mata uang utama lainnya dalam perdagangan hari Senin, 22 Juli 2025. Para pelaku pasar menunjukkan sikap hati-hati seiring dengan meningkatnya ketegangan perdagangan global serta gejolak politik dalam negeri yang menambah ketidakpastian terhadap arah kebijakan moneter Federal Reserve (The Fed).

Tekanan Geopolitik dan Batas Waktu Tarif 1 Agustus

Salah satu faktor utama yang membebani dolar AS adalah kekhawatiran yang kembali mencuat terkait kemungkinan kenaikan tarif perdagangan internasional. Pemerintahan Presiden AS, Donald Trump, kembali mengisyaratkan bahwa tenggat waktu 1 Agustus bisa menjadi titik balik dalam strategi tarif, yang berpotensi melibatkan mitra dagang utama seperti Tiongkok dan Uni Eropa.

Investor pun bereaksi dengan menjual dolar dan mencari aset yang lebih aman seperti emas dan yen Jepang. Kecenderungan risk-off ini memperkuat mata uang safe haven, sementara Greenback kehilangan sebagian kekuatannya karena dinilai rentan terhadap dampak langsung dari kebijakan dagang yang agresif.

Data Ekonomi Solid, Tapi Tidak Cukup

Di tengah gejolak politik dan ketegangan tarif, data ekonomi AS secara umum menunjukkan kinerja yang masih kuat. Penjualan ritel yang lebih tinggi dari perkiraan dan pasar tenaga kerja yang tetap solid seharusnya memberikan dorongan pada dolar. Namun, kekhawatiran akan potensi intervensi politik terhadap The Fed membuat investor waspada.

Indeks Dolar AS (DXY), yang mengukur kekuatan USD terhadap enam mata uang utama, sempat turun ke level 97,90 pada sesi perdagangan Amerika. Ini terjadi setelah dua minggu berturut-turut mencatatkan kenaikan, menunjukkan bahwa faktor non-ekonomi kini mulai mendominasi arah pasar.


Kunjungi juga : bestprofit futures

Krisis Kepercayaan terhadap Independensi The Fed

Tekanan terhadap Federal Reserve datang tidak hanya dari Gedung Putih, tetapi juga dari dalam Kongres AS. Anggota Dewan Perwakilan Rakyat dari Partai Republik, Anna Paulina Luna, secara resmi melaporkan Ketua The Fed, Jerome Powell, ke Departemen Kehakiman atas dugaan memberikan kesaksian palsu. Tuduhan tersebut berkaitan dengan renovasi kantor pusat Fed senilai $2,5 miliar, yang disebut-sebut dilakukan dengan pengelolaan dana yang tidak transparan.

Meskipun belum jelas apakah tuntutan hukum ini akan berlanjut, langkah politik ini memperburuk kekhawatiran pasar mengenai independensi lembaga moneter tertinggi di AS. Jika The Fed dinilai tidak lagi independen dari tekanan politik, kredibilitasnya dalam menetapkan suku bunga bisa diragukan, yang berdampak langsung terhadap daya tarik dolar di mata investor global.

Kritik Terbuka dari Menteri Keuangan

Menambah kekacauan adalah pernyataan pedas dari Menteri Keuangan AS, Scott Bessent. Dalam wawancaranya di CNBC pada Senin pagi, Bessent menyebut bahwa sudah waktunya untuk mengevaluasi ulang peran dan kinerja The Fed secara menyeluruh. Ia juga menuding bank sentral menyebarkan ketakutan yang tidak berdasar mengenai inflasi dan dampak tarif.

Pernyataan Bessent menambah tekanan politik terhadap Fed, memperkuat narasi bahwa lembaga ini kini berada di bawah pengawasan ketat pemerintah, yang menambah ketidakpastian terhadap masa depan kebijakan moneter AS.

Sinyal Beragam dari Pejabat The Fed

Sementara itu, pernyataan yang datang dari pejabat The Fed sendiri juga tidak memberikan kejelasan. Beberapa pejabat memberi sinyal kemungkinan pemangkasan suku bunga dalam pertemuan kebijakan akhir bulan Juli, sementara yang lain masih mengedepankan pendekatan wait and see. Hal ini menciptakan ketidakpastian tambahan bagi pasar yang tengah mencari arah yang lebih jelas.

Pasar saat ini menilai kemungkinan pemangkasan suku bunga sebesar 25 basis poin sebagai langkah untuk merespons tekanan ekonomi global, sekaligus sebagai sinyal bahwa The Fed tidak kebal terhadap desakan politik. Namun, masih ada keraguan apakah pemangkasan ini benar-benar berdasar pada data atau lebih karena tekanan eksternal.

Performa DXY: Resisten Tapi Rentan

Meski sempat melemah di awal pekan, DXY masih mencatatkan kenaikan 0,62% pada pekan sebelumnya. Hal ini menunjukkan bahwa dolar tetap mampu bertahan di tengah kekacauan politik dan kebisingan kebijakan, setidaknya dalam jangka pendek. Namun demikian, tren jangka menengah menunjukkan kecenderungan pelemahan yang lebih dalam.

Kombinasi dari ketegangan politik domestik, ancaman tarif, dan ekspektasi penurunan suku bunga membuat prospek jangka panjang dolar menjadi lebih rapuh. Banyak analis kini mempertanyakan apakah reli dolar bisa berlanjut tanpa adanya kejelasan arah kebijakan moneter dan fiskal.

Kalender Ekonomi yang Sepi, Pasar Fokus pada Data PMI dan Durable Goods

Seiring mendekatnya pertemuan FOMC pada 30 Juli, The Fed memasuki periode “blackout”, di mana para pejabat tidak diizinkan memberikan komentar publik tentang kebijakan moneter. Ini berarti pasar harus mengandalkan indikator ekonomi lain untuk membaca arah kebijakan selanjutnya.

Dua data utama yang akan menjadi fokus pasar minggu ini adalah Indeks Manajer Pembelian (PMI) Global S&P pada hari Kamis dan laporan pesanan Barang Tahan Lama pada hari Jumat. Kedua data ini akan memberi gambaran lebih jelas tentang daya tahan ekonomi AS dalam menghadapi tekanan global dan domestik.

Jika data PMI menunjukkan pelemahan aktivitas manufaktur dan jasa, atau jika pesanan barang tahan lama turun signifikan, maka ekspektasi pemangkasan suku bunga oleh The Fed kemungkinan akan menguat, dan ini bisa memperpanjang pelemahan dolar.

Arah Dolar di Tengah Badai Ketidakpastian

Melihat kondisi saat ini, jelas bahwa dolar AS berada di bawah tekanan dari berbagai arah: tekanan geopolitik, gangguan politik domestik, serta ketidakpastian arah kebijakan moneter. Meski masih didukung oleh data ekonomi yang relatif solid, investor mulai mempertanyakan apakah ini cukup untuk menahan dampak dari intervensi politik terhadap The Fed.

Dengan pasar yang semakin mengantisipasi pemangkasan suku bunga dan potensi eskalasi tarif internasional, dolar bisa saja memasuki fase konsolidasi atau bahkan tren penurunan baru jika tidak ada sinyal positif dari pejabat kebijakan.

Kesimpulan: Investor Bersikap Hati-Hati

Dolar AS memulai pekan ini dengan catatan lemah, dan itu bisa menjadi indikasi dari meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap stabilitas ekonomi dan politik AS. Sementara data ekonomi memberi secercah harapan, ketegangan politik dan ancaman terhadap independensi The Fed berpotensi lebih dominan dalam memengaruhi arah mata uang ke depan.

Investor tampaknya memilih untuk bersikap hati-hati, menunggu sinyal lebih jelas dari data ekonomi mendatang dan hasil pertemuan kebijakan The Fed pada akhir bulan. Sampai saat itu, volatilitas kemungkinan akan tetap tinggi, dan dolar akan terus bergerak dalam ketidakpastian yang belum mereda.


Jangan lupa jelajahi website kami di demo bestprofit dan temukan beragam informasi menarik yang siap menginspirasi dan memberikan pengetahuan baru! Ayo, kunjungi sekarang untuk pengalaman online yang menyenangkan!


bestprofit futures
 

Sunday, 20 July 2025

Bestprofit | Emas Naik karena Komentar Waller

 https://best-profit-futures-malang.com/wp-content/uploads/2023/08/Bestprofit-Emas-6.jpg

Bestprofit (21/7) – Harga emas menguat selama sesi perdagangan Amerika Utara pada hari Jumat, ditopang oleh pelemahan Dolar AS serta komentar dovish dari salah satu Gubernur Federal Reserve. Di tengah ketidakpastian kebijakan moneter dan menjelang akhir pekan, para pelaku pasar tampak melakukan aksi ambil untung (profit taking), namun logam mulia tetap berhasil mencatatkan kenaikan yang solid.

Pada saat penulisan, harga emas spot (XAU/USD) berada di kisaran $3.353 per ons troy, naik 0,43% dibandingkan sesi sebelumnya. Pergerakan ini mencerminkan meningkatnya minat investor terhadap aset safe haven, terutama ketika dolar dan imbal hasil obligasi AS mengalami tekanan.

Pelemahan Dolar AS Dorong Permintaan Emas

Salah satu faktor utama penguatan harga emas kali ini adalah pelemahan Dolar AS. Indeks Dolar AS (DXY), yang mengukur kekuatan dolar terhadap enam mata uang utama dunia, turun sebesar 0,13% ke level 98,48.

Penurunan ini menguntungkan komoditas seperti emas yang dihargakan dalam dolar. Ketika dolar melemah, logam mulia menjadi lebih murah bagi pembeli asing, sehingga permintaan emas cenderung meningkat di pasar global. Ini adalah hubungan klasik yang telah lama diamati di antara pelaku pasar.

Selain itu, kondisi saat ini memperlihatkan dolar berada di bawah tekanan akibat ekspektasi bahwa Federal Reserve akan segera memangkas suku bunga, sesuatu yang secara historis membuat dolar kehilangan daya tariknya.


Kunjungi juga : bestprofit futures

Komentar Dovish The Fed Picu Harapan Penurunan Suku Bunga

Pasar juga merespons positif pernyataan Gubernur The Fed, Christopher Waller, yang dianggap lebih dovish dari perkiraan. Waller menyatakan bahwa bank sentral mungkin perlu melonggarkan kebijakan moneter dalam waktu dekat, dan bahkan menyebut kemungkinan penurunan suku bunga pada pertemuan bulan Juli.

Pernyataan ini berdampak langsung terhadap ekspektasi pasar. Menurut kontrak berjangka suku bunga Fed untuk Desember 2025, pelaku pasar kini memperkirakan total pemangkasan suku bunga sebesar 45 basis poin (bps) hingga akhir tahun, naik dari 42 bps sehari sebelumnya.

Penurunan suku bunga biasanya membuat emas menjadi lebih menarik karena menurunkan opportunity cost (biaya peluang) dalam memegang aset yang tidak memberikan imbal hasil seperti emas.

Optimisme Konsumen Dorong Sentimen Positif

Data terbaru dari Universitas Michigan (UoM) juga turut menyumbang pada penguatan harga emas, meskipun secara tidak langsung. Indeks Sentimen Konsumen menunjukkan bahwa masyarakat Amerika semakin optimis terhadap kondisi ekonomi dan memperkirakan penurunan inflasi dalam beberapa bulan mendatang.

Meskipun data ini umumnya memperkuat pasar saham, di sisi lain, penurunan ekspektasi inflasi membuka ruang bagi The Fed untuk lebih leluasa memangkas suku bunga. Ini sekali lagi menjadi angin segar bagi pasar emas, yang selama ini cenderung menguat ketika kebijakan moneter menjadi lebih longgar.

Isu Politik: Rumor Pemecatan Jerome Powell

Di tengah dinamika pasar, muncul pula isu politik yang sempat memicu volatilitas. Beberapa media melaporkan bahwa mantan Presiden AS Donald Trump mempertimbangkan untuk memecat Ketua The Fed, Jerome Powell, jika ia kembali menjabat pada pemilu berikutnya.

Meskipun Trump kemudian membantah rumor tersebut, spekulasi ini tetap menimbulkan ketidakpastian di pasar. Banyak investor khawatir bahwa tekanan politik terhadap bank sentral dapat mengganggu independensinya, yang pada gilirannya bisa merusak kredibilitas kebijakan moneter AS. Momen ini sempat membuat harga emas batangan gagal menembus level tertinggi mingguan pada hari Rabu, meskipun sentimen dovish The Fed mendominasi.

Tekanan Imbal Hasil Obligasi Turut Menopang

Harga emas juga mendapat dukungan dari penurunan imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS, yang terjadi bersamaan dengan ekspektasi pemangkasan suku bunga. Ketika imbal hasil turun, investor cenderung beralih ke aset alternatif yang lebih stabil seperti emas.

Hal ini terjadi karena emas, sebagai aset yang tidak memberikan bunga atau kupon, menjadi relatif lebih kompetitif ketika imbal hasil dari surat utang negara jatuh. Fenomena ini memperkuat daya tarik emas sebagai instrumen lindung nilai terhadap ketidakpastian pasar dan penurunan nilai tukar.

Prospek Minggu Depan: Fokus pada Data Ekonomi

Pasar kini mengalihkan fokus ke data ekonomi AS yang akan dirilis minggu depan. Beberapa laporan penting yang dinantikan investor antara lain:

  • Data Perumahan: Memberikan gambaran mengenai daya beli konsumen dan kesehatan pasar properti.

  • PMI Flash Global S&P: Indikator awal pertumbuhan ekonomi sektor manufaktur dan jasa.

  • Klaim Pengangguran Mingguan: Barometer penting untuk kondisi pasar tenaga kerja.

  • Pesanan Barang Tahan Lama: Mengindikasikan permintaan atas barang-barang bernilai tinggi.

Jika data-data tersebut menunjukkan pelemahan ekonomi, maka ekspektasi penurunan suku bunga akan semakin menguat, dan harga emas kemungkinan besar akan terus naik. Sebaliknya, data yang kuat bisa menunda pemangkasan suku bunga, yang akan menekan harga emas.

Kesimpulan: Emas Semakin Menarik di Tengah Ketidakpastian

Secara keseluruhan, kombinasi pelemahan dolar, penurunan imbal hasil obligasi, komentar dovish dari pejabat The Fed, dan optimisme pasar terhadap pelonggaran moneter telah menciptakan kondisi yang ideal bagi kenaikan harga emas.

Meskipun emas sempat tertahan di bawah level tertinggi mingguan, prospek jangka menengah hingga panjang tetap positif, terutama jika The Fed benar-benar mulai memangkas suku bunga dalam waktu dekat.

Dengan latar belakang fundamental yang mendukung, investor dan trader akan terus mengamati sinyal dari bank sentral serta data ekonomi utama sebagai panduan untuk pergerakan harga selanjutnya. Sementara itu, emas tetap menjadi salah satu instrumen paling dicari dalam menghadapi ketidakpastian global dan perubahan arah kebijakan moneter Amerika Serikat.


Jangan lupa jelajahi website kami di demo bestprofit dan temukan beragam informasi menarik yang siap menginspirasi dan memberikan pengetahuan baru! Ayo, kunjungi sekarang untuk pengalaman online yang menyenangkan!


bestprofit futures